Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Saridin Diyakini Pernah Tinggal di Desa Durensawit Pati

Sejumlah pengunjung tengah mendaki menuju bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung tengah mendaki menuju bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati diyakini penduduk setempat sebagai kampung yang dulu pernah ditinggali seorang tokoh legendaris, Saridin. Sebelum mendapatkan gelar Syeh Jangkung, Saridin memiliki pohon duren peninggalan orang tuanya di sana.

Satu pohon duren itu dibagi dengan Branjung, kakak iparnya. Saridin mendapatkan jatah untuk mengambil duren yang jatuh pada malam hari, sedangkan Branjung mendapatkan kesempatan pada siang hari.

“Duren sak wet, artinya duren satu pohon. Nama itu yang kemudian menjadi nama Desa Durensawit. Penduduk yakin, di desa inilah peristiwa itu terjadi. Kisah ini berkembang secara tutur tinular di tengah masyarakat,” ujar tokoh setempat, Krisno, Jumat (20/1/2017).

Branjung, lanjut Krisno, mulai berniat jahat dan ingin mengambil buah duren pada malam hari dengan menyamar sebagai macan. Dikira seekor macan betulan, Saridin yang datang hendak mengambil duren langsung menombaknya dengan bambu runcing.

Nahas, seekor macan tersebut ternyata Branjung, kakak iparnya sendiri yang mengenakan kulit macan. Saridin kemudian mendapatkan hukuman dari penguasa setempat, sebelum akhirnya mengasingkan diri dengan berguru ke Panti Kudus yang dipimpin Sunan Kudus.

“Di Desa Durensawit, ada tunggak sawit yang diyakini penduduk sebagai bekas pohon duren yang dulu pernah terjadi tragedi Saridin dan Branjung dalam kisah ketoprak. Meski bukti-bukti sejarah belum bisa membuktikannya, tetapi masyarakat yakin,” tuturnya.

Masih di Desa Durensawit, juga ada bukit pandang yang dijadikan kontak batin Ki Santa Mulya, menantu Maesura untuk melihat istrinya yang sedang mengalami masa hukuman pengasingan di Pulau Anakan. Kisah ini jauh sebelum zaman Saridin, karena Maesura adalah guru dari Suliwa pada zaman Kerajaan Malawapati dengan seorang raja, Prabu Angling Darma.

Edtitor : Kholistiono