Soal Penutupan Lokalisasi, Pemdes Dorokandang Minta Semua Pihak Berperan

Suasana lokalisasi yang berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom,Rembang – Rencana penutupan lokalisasi yang berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang yang semula dijadwalkan pada 27 Juni lalu, hingga kini belum terealisasi. Aktivitas di tempat tersebut masih berjalan seperti biasa. Beberapa pekerja seks komersial (PSK) yang ada di tempat tersebut terlihat masih beraktivitas.

Terkait hal ini, Sekretaris Desa Dorokandang Arianto mengatakan, jika pihak desa juga masih belum bisa untuk melakukan penutupan lokalisasi tersebut.

“Seharusnya semua pihak harus berperan aktif. Dan jangan hanya dipasrahkan saja ke pihak desa. Bila dipasrahkan ke desa, kita juga tak mampu untuk menutupnya,” katanya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai apakah ada PSK yang pulang atau pindah ke tempat lain, pihaknya sejauh ini belum mendapatkan laporan mengenai hal itu.

“Sampai saat ini kita belum mendapatkan laporan mengenai PSK yang sudah pindah tempat atau pulang, atau dipindahkan ke panti sosial. Misalkan kok ada, pastinya kita akan dilapori akan hal itu,” paparnya.

Dia melanjutkan, untuk melakukan penutupan lokalisasi tersebut, diminta semua pihak yang turun, agar  benar-benar tuntas. “Kalau beberapa waktu lalu PSK dapat bantuan pelatihan, namun jika  saat ini penutupan itu tidak berjalan baik, maka bantuan itu justru akan sia-sia,” imbuhnya.

Dengan adanya aktivitas seperti biasanya di lokalisasi itu, ia mengutarakan, bahwa akan bisa membuat kenyamanan warga sering terganggu.

Editor : Kholistiono

Usai Lebaran, Sebagain PSK dan Mucikari Dorokandang Bakal Dikirim ke Balai Rehabilitasi

Susasana lokalisasi yang berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Usai Lebaran, sebanyak 20 pekerja seks komersial (PSK) dan 14 mucikari yang berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem bakal dikirim ke Balai Rehabilitasi “Wamodyatama” Surakarta.

Hal ini dilakukan supaya para eks PSK dan mjcikari tersebut dapat dibina secara keterampilan dan kreatifitasnya.

Bagian rehabilitasi Dinsos-PPKB Rembang Prapto mengatakan, pengiriman sejumlah PSK dan mucikari itu nantinya setelah Lebaran.

“Ini salah satu upaya untuk membekali keterampilan bagi mereka. Sebab, di sana akan diajarkan berkreatifitas. Sehingga di saat kembali ke tengah masyarakat akan bisa berbaur, bekerja seseuai dengan masyarakat luas,” paparnya.

Di sisi lain saat disinggung mengenai hanya sebagian PSK yang dikirim ke balai rehabilitasi, menurutnya atas kesedian dari PSK dan mucikari untuk diberikan pelatihan.

“Yang jelas saat ini kita sudah menggelar latihan membatik di Desa Dorokandang. Namun setelah Lebaran, sebagian PSK dan mucikari akan kita bawa balai rehab. Selain itu sebagian lainnya memilih pulang ke alamatnya asal,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia katakana, untuk penutupan lokalisasi itu nantinya tanggal 27 Juni. “Sehingga kita akan terus berupaya memberikan pelatihan-pelatihan yang baik, supaya mereka nantinya bisa bekerja dengan baik pula,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pemdes Dorokandang Sudah Siapkan Anggaran untuk Pelatihan Membatik Bagi Mucikari

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Sehubungan akan ditutupnya lokalisasi di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang, sebanyak 14 mucikari bakal diikutkan pelatihan membatik. Terkait hal ini, pemerintah desa setempat sudah mengalokasikan angaran sebesar Rp 10 juta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Plt Sekdes Dorokandang Arianto mengatakan, untuk keterampilan yang diajarkan pada mucikari sengaja dipilihkan membatik. Sebab, Lasem merupakan sentra batik, sehingga dinilai tepat untuk memberikan bekal keterampilan kepada mucikari.

“Untuk pelatihannya nanti akan mengundang para pengusaha atau pengrajin batik yang ada di Lasem. Sehingga nantinya di saat lokalisasi ini ditutup, maka mucikari bisa mempunyai pekerjaan lainnya,” paparnya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai ke-14 mucikari tersebut, ia mengutarakan bahwa rata-rata dari mereka merupakan perempuan. “Dari 14 mucikari itu, 11 di antaranya perempuan dan  lainnya laki laki. Sehingga latihan keterampilan, sengaja dipilihkan membatik,” imbuhnya.

Dirinya juga berharap kepada keluarga mucikari supaya bisa mendukung apa yang dilakukan oleh pihak desa. Sehingga, mereka nantinya juga bisa menerima pekerjaan baru yang akan dilakukannya ke depan.

Sementara itu, salah satu mucikari yang berinisial S mengaku, bahwa dengan ditutupnya lokalisasi ini, pihaknya akan beradaptasi dengan pekerjaaan yang baru. “Ya, gimana lagi, kita harus hadapi bersama-sama. Kita akan beradaptasi dengan pekerjaan lagi. Apakah nantinya akan jadi pembatik atau menjadi karyawan swasta kita juga belum tahu,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Penutupan Lokalisasi Dorokandang Berdampak Positif Terhadap Psikologis Anak

Suasana kampung lokalisasi Dorokandang yang tidak beroperasi selama Ramadan ini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Tidak beroperasinya lokalisasi di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang, selama Ramadan ini, dinilai berdampak positif terhadap warga setempat, khususnya anak-anak. Warga bisa lebih nyaman dalam melaksanakan puasa.

Hal itu diungkapkan oleh Arianto, Plt Sekdes Dorokandang. Lokalisasi yang berada di area perkampungan warga, dinilai dapat memengaruhi mental dan psikologis anak.

“Anak-anak terkadang juga bermain atau sekadar melewati wilayah itu. Secara langsung, terkadang anak-anak melihat bagaimana gaya hidup yang terjadi di lokalisasi, meski hanya dari luar. Namun, hal itu jelas berdampak terhadap psikologis anak,” ungkapnya.

Dengan tidak beroperasinya tempat tersebut selama Ramadan dan dilanjutkan dengan penutupan yang bakal dilakukan pada 27 Juni mendatang, hal itu dinilai sangat positif. Anak-anak, diharapkan tidak lagi melihat gaya hidup yang terjadi di lokalisasi tersebut.

Dirinya juga mengatakan, jika pada Ramadan ini, pihaknya terus melakukan pantauan terhadap tempat tersebut. Jika ada yang masih nekat buka, pihak desa maupun kecamatan akan bertindak tegas.

Editor : Kholistiono

Melihat Perjuangan Guru Privat di Dekat Lokalisasi Dorokandang Rembang

Anak-anak sedang mengikuti les privat di rumah Ria Sanjaya di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Bagi Ria Sanjaya (23), pendidikan adalah segalanya. Dengan pendidikan yang baik, seseorang bisa semakin berilmu. Melalui pendidikan yang baik, seseorang bisa semakin berpikir kritis dan berdampak positif bagi orang lain. Melalui pendidikan, seseorang bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Melalui pendidikan pula, seseorang bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Semangat itulah, yang kemudian membuat gadis asal Desa Dorokandang RT 12 RW 5 Kecamatan Lasem, Rembang, mencurahkan sebagian waktunya untuk mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan.Karena baginya, pendidikan adalah sangat penting.

Ia rela membagi waktu untuk anak-anak di sekitar kampungnya untuk memberikan les privat, dengan bayaran seikhlasnya atau suka rela. Ia tak mematok berapa biaya yang harus dibayar oleh orang tua yang anaknya ikut les privat.

“Seikhlasnya. Semampu mereka, kalau tidak punya ya tidak apa-apa. Yang penting saya bisa memberi apa yang saya punya, dalam hal ini ilmu. Saya buka les privat di rumah, dan yang ikut mulai dari anak-anak TK hingga SD,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Biasanya, Ria membuka les privat mulai Senin hingga Jumat. Yakni, mulai pukul 15.00-21.00 WIB. Untuk anak-anak TK pukul 15.00-16.00 WIB, dan untuk anak SD mulai pukul 16.00-21.00 WIB.

Saat ini, katanya, yang ikut les privat di rumahnya ada sebanyak 15 anak. Mereka adalah anak-anak kampung sekitar, yang nota bene, sangat dekat dengan area lokalisasi Dorokandang, yang dalam waktu dekat rencananya akan ditutup oleh pemerintah daerah setempat.

Gadis yang masih duduk di semester akhir di Universitas Terbuka (UT) jurusan PGSD ini juga menceritakan, bahwa aktivitasnya tersebut, sempat mendapatkan pertentangan dari orang tuanya. Sebab, dirinya tak pernah mematok harga untuk memberikan les pada anak-anak. Padahal, jika dikomersilkan, seharusnya bisa mendapatkan uang.

“Orang tua awalnya kurang setuju, karena anak-anak hanya bayar seikhlasnya. Padahal, listrik kan bayar. Namun, setelah saya berikan pemahaman, akhirnya orang tua pun lambat laun mengerti apa yang saya lakukan ini adalah untuk pengabdian di dunia pendidikan,” katanya.

Bukan hanya itu saja, awalnya juga sempat kurang fokus untuk memberikan les privat kepada anak-anak, karena masih ada tugas mengajar di SD Pancur. Namun, setelah dirinya mengundurkan diri pada 2016 lalu, kini dirinya bisa lebih memiliki waktu untuk memberikan les.

Di rumahnya, dirinya juga secara bertahap menyediakan perpustakaan mini yang bisa diakses anak-anak. Sehingga mereka tidak jenuh. Bukan hanya itu saja, Ria juga memiliki cara unik agar anak-anak anak menjadi betah. “Kalau mereka sudah jenuh, kadang saya memutarkan film edukasi, sehingga anak-anak bisa lebih santai dan bisa juga memetik pelajaran dari film tersebut,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono