Duh, Pengajuan Peserta Diklat Pengukuran Kapal dari Dishubkominfo Jepara Tak Direspons Kementerian

Sejumlah kapal bersandar di Dermaga Kartini, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah kapal bersandar di Dermaga Kartini, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Jepara ternyata sudah beberapa kali mengajukan staf atau petugasnya untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) pengukuran kapal. Namun, hingga saat ini belum ada respon dari pihak Kementerian Perhubungan.

Kasi Teknik Sarana dan Prasarana Bidang Perhubungan Laut pada Dishubkominfo Jepara Suroto mengatakan, petugas pengukur kapal harus yang memiliki sertifikat keahlian, dan telah mengikuti Diklat.

”Penertiban pas kapal untuk ukuran kappa dibawah 7 GT menjadi ranah kami di Dishub. Tapi kami belum memiliki petugas ahli yang bersertifikat untuk pengukuran kapal. Sehingga, untuk pengukuran kapal saat ini masih dilakukan oleh Syahbandar yang memiliki petugas ahli,” terangnya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, di Jepara, petugas ukur kapal di bawah 7 groston hanya ada satu, itu pun dari Syahbandar. Padahal seharusnya, Dishubkominfo juga bisa melakukan pengukuran kapal karena kapal dibawah 7 GT menjadi ranah Dishubkominfo.

”Kami sudah beberapa kali mengajukan staf untuk mengikuti Diklat ke Kemneterian. Tetapi sampai saat ini belum ada panggilan. Tahun ini juga kami mengajukannya lagi,” ungkapnya.

Suroto mengatakan, tanpa mengikuti diklat tersebut, tidak tidak punya kewenangan untuk mengkur kapal. Di sisi lain, dikatakan Suroto, pihak nelayan meminta agar pengukuran dilakukan tukang. Namun, pihak Dishubkominfo tidak bisa mengabulkannya. Itu karena tidak sesuai dengan surat di kementrian.

Dia menambahkan, sejauh ini proses mendapat surat legalitas kapal di bawah 7 groston sangat mudah dan tidak ada biaya. Berbeda dengan kapal di atas 7 groston yang membutuhkan dana dan persiapan sejumlah dokumen.

Editor: Supriyadi

Dishubkominfo Jepara: Abrasi Pulau Panjang Murni Gelombang Tinggi Musim Baratan

Petugas dari Dishubkominfo menganalisis gelombang air laut yang diakibatkan kapal cepat yang melintas di depan pulau panjang. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas dari Dishubkominfo menganalisis gelombang air laut yang diakibatkan kapal cepat yang melintas di depan pulau panjang. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Abrasi Pulau Panjang telah lama menjadi sorotan publik dan pemerintah. Sebab, setiap tahun pulau terdekat dengan daratan Jepara it uterus tergerus.

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Jepara menilai bahwa abrasi bukan diakibatkan gelombang yang ditimbulkan dari kapal cepat yang melintas. Melainkan karena murni gelombang tinggi ketika musim baratan tiba.

”Dapat dibuktikan bahwa saat ini koordinat bibir pantai yang terkena abrasi berada di S.06.47725, E.110.63097. Nanti menjelang musim baratan dapat dipastikan masih tetap. Tetapi setelah musim baratan berubah. Perubahannya tidak sedikit, bisa bergeser sampai satu meter,” ungkap Kepala dishubkominfo Jepara Basuki Wijayanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (13/5/2016).

Menurut dia, meskipun musim baratan. Bukan berarti angin dan gelombang kea rah tertentu dan berasal dari darat ke laut. Tetap saja, gelombang mengarah ke daratan sehingga menggerus bibir pantai yang ada didaratan, seperti di pulau panjang.

”Dari manapun arah gelombang, tetap saja akan mengarah ke darat. Itu yang mengakibatkan abrasi menjadi sangat parah di pulau panjang. Bukan karena kapal cepat yang melintas,” terangnya.

Hal itu telah dibuktikan saat kapal cepat Express Bahari melintas dari Dermaga Kartini menuju Karimunjawa dan melintas di depan pulau panjang. Dari hasil pembuktiannya, gelombang yang dihasilkan dari kapal cepat masih rendah dan tidak ada dampak ketika gelombang sampai di bibir pantai pulau panjang.

”Itu dapat dilihat sendiri, tidak ada perubahan yang signifikan. Gelombang naik hanya sekitar seperempat hingga setengah meter saja. Tetapi kalau musim baratan gelombang naik sampai tiga hingga empat meter,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Dishubkominfo Jepara Bantah Abrasi Pulau Panjang akibat Kapal Cepat

Ini Lho Segitiga Bermudanya Perairan Jepara

Petugas di Radio Pantai Jepara menunjukkan letak segitiga bermudanya Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Petugas di Radio Pantai Jepara menunjukkan letak segitiga bermudanya Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya di wilayah Samudera Atlantik yang terdapat titik atau area berbentuk segitiga yang berbahaya dan dikenal sebagai segitiga bermuda. Ternyata di wilayah perairan Jepara juga terdapat area yang cukup berbahaya seperti layaknya segitiga bermuda.

Wilayah segitiga bermudanya Jepara tersebut terletak di segitiga antara daratan Jepara, Pulau Karimunjawa dan Pulau Mandalika. Di sana diyakini terdapat Tanjung Goro-goro, namun secara administratif tidak terlihat di dalam peta.

Kepala Bidang (Kabid) Perhubungan Laut pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Jepara Sutana menjelaskan, di wilayah tersebut sering terjadi kecelakaan laut. Sehingga bagi kapal maupun perahu yang mendekati area tersebut harus ekstra hati-hati. Sebab, di area tersebut dipercaya terdapat pusaran besar yang membahayakan.

“Apalagi ketika musim baratan terjadi, karena arah angin berasal dari arah Barat. Tepatnya, dari arah antara Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaya dan Pulau Sumatera. Angin yang begitu kencang kerap menghasilkan badai dan menciptakan pusaran besar. Akibatnya, gelombang di perairan Utara Jawa Tengah dan Karimunjawa juga tinggi,” terang Sutana kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/4/2016).

Menurut Sutana, tak hanya kapal dan perahu nelayan yang ekstra hati-hati ketika mendekati area segitiga tersebut. Tetapi juga kapal penumpang yang melayani rute Jepara-Karimunjawa. Semua kapal biasanya berhati-hati saat mendekati area tersebut, dan ketika sudah melewatinya, nahkoda kapal pun lega.

Hal senada juga dikatakan Kepala Radio Pantai Jepara Edi Pitono. Menurutnya, wilayah perairan paling bahaya bagi nelayan dan pelayaran Jepara terdapat di Tanjung Goro-goro, tepatnya di Takak Seruni. Wilayah tersebut terletak di segitiga antara daratan Jepara, Pulau Karimunjawa dan Pulau Mandalika.

“Kecelakaan laut sering terjadi di sana. Maka, nelayan sendiri yang menamainya Tanjung Goro-goro. Secara administratif, nama Tanjung Goro-goro tak ada dalam peta,” ungkapnya.

Sedikit mengingatkan, sekitar tahun 2006 lalu, terjadi kecelakaan laut menimpa Kapal Laut Senopati Nusantara yang mengangkut ratusan penumpang,dan diduga tenggelam dan menghilang di jarak beberapa mil dari Pulau Mandalika, Perairan Karimunjawa, Jepara.

Tak hanya itu, beberapa peristiwa kecelakaan laut juga terjadi di sana. Sehingga banyak yang menyebut area di perairan Jepara-Karimunjawa-Mandalika merupakan segitiga bermudanya Jepara.

Editor : Kholistiono