Warung Dihancurkan Oknum PNS, Perempuan Asal Semirejo Pati Kehilangan Pekerjaan

Kondisi bangunan warung makan Astuti yang hanya tinggal puing-puing dan digaris polisi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi bangunan warung makan Astuti yang hanya tinggal puing-puing dan digaris polisi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sudah jatuh, tertimpa tangga. Begitulah nasib Sri Astuti (44), warga Desa Semirejo RT 2 RW 7, Kecamatan Gembong, Pati. Di saat suaminya sakit-sakitan, warung makan miliknya dibongkar paksa oknum pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Pati.

Pembongkaran bukan karena ada pelanggaran yang dilakukan Astuti. Sebab, waktu sewa lahan yang digunakan sebagai warung makan belum habis. Namun, oknum PNS yang merupakan anak dari pemilik lahan ingin warungnya segera dibongkar.

Tanpa ada persetujuan, oknum PNS berinisial H yang merupakan pejabat di Dinas Pendidikan Pati membongkar warung milik Astuti. Tak sekadar membongkar, semua barang dagangan Astuti juga disembunyikan.

Tak lama setelah pembongkaran, suami Astuti meninggal dunia pada 2 September 2016. Padahal, Astuti memiliki dua orang anak. Satu anak hampir menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi, sedangkan satu anaknya lagi baru masuk SMA.

Sementara, warung makan yang menjadi satu-satunya harapan Astuti untuk mengais rezeki sudah dibongkar, kendati masa sewa belum habis. Wajah Astuti tampak pucat dan bingung. Begitulah kondisi Astuti ketika MuriaNewsCom menyambangi rumahnya, Sabtu (17/09/2016).

“Saat dibongkar, warung itu masih lengkap. Ada barang dagangan dan peralatan seperti kulkas, kompor gas, dan perabotan lainnya. Sekarang sudah tidak ada. Bangunan warung juga sudah rata dengan tanah. Saya bingung. Itu satu-satunya harapan untuk mencari nafkah. Suami saya sudah tiada,” ungkap Astuti, sembari meneteskan air mata mengenang mendiang suaminya.

Pascaperusakan warung makan, tiga orang ditetapkan polisi sebagai tersangka. Ketiga pelaku adalah anak dari pemilik tanah yang menyewakan lahannya kepada Astuti. Mereka dikenakan pasal berlapis, karena merusak barang sekaligus dianggap mencuri barang-barang dagangan Astuti.

Kini, Astuti hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada polisi. Dia berharap, pelaku diberikan ganjaran seadil-adilnya. “Saya sudah serahkan sepenuhnya kepada polisi. Saya percaya pada polisi,” ucap Astuti.

Editor : Kholistiono

IPM di Pati Anjlok, Disdik Pati Pertanyakan Validitas Data BPS

Kepala Dinas Pendidikan Pati Sarpan sedang menjelaskan kualitas pendidikan di Pati di atas rata-rata nasional. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Dinas Pendidikan Pati Sarpan sedang menjelaskan kualitas pendidikan di Pati di atas rata-rata nasional. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kepala Dinas Pendidikan Pati Sarpan membantah jika bidang pendidikan menjadi penyebab turunnya indeks pembangunan manusia (IPM) di Pati dari angka 12 menjadi 22.

Pasalnya, kualitas pendidikan di Pati sampai saat ini diakui sebagai penyangga prestasi di Jawa Tengah. ”Angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni pendidikan di Pati rata-rata sudah di atas nasional,” kata Sarpan, Rabu (30/12/2015).

Karena itu, pihaknya mempertanyakan data yang disuguhkan Badan Pusat Statistik (BPS) jika pendidikan di Pati menjadi penyebab turunnya indeks pembangunan manusia. ”Kalau data dari BPS seperti itu, perlu dicek kepada kami. Metode yang digunakan seperti apa?,” tuturnya.

Senada dengan itu, pengamat pendidikan UNNES Prof Dr Teguh Supriyanto juga mempertanyakan data yang disuguhkan BPS. ”Dari pengamatan saya, Pati memang barometernya pendidikan di Jawa Tengah. Ini kok ada rilis, BPS menunjukkan gejala yang sebaliknya?,” imbuhnya.

Ia berharap agar hubungan antarlembaga harus saling berkoordinasi dan saling koreksi untuk menyuguhkan satu data yang benar-benar valid. Karena, data tersebut yang dijadikan pijakan untuk melakukan pembangunan ke depan. (LISMANTO/TITIS W)

Jika Tahun Depan Masih Ditemukan Pungutan di Sekolah, Ombudsman Minta Uang  Dikembalikan Kepada Wali Murid

Jajaran Ombudsman Jawa Tengah mendatangi Dinas Pendidikan Pati beberapa waktu lalu terkait dengan pungutan di SMPN 1 Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jajaran Ombudsman Jawa Tengah mendatangi Dinas Pendidikan Pati beberapa waktu lalu terkait dengan pungutan di SMPN 1 Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kepala Perwakilan Ombudsman Jawa Tengah Achmad Zaid mengancam akan meminta dengan tegas pihak SMPN 1 Jakenan untuk mengembalikan uang hasil pungutan kepada wali murid, jika tahun depan masih ditemukan adanya pungutan.

“Kami masih memberikan toleransi untuk berbenah. Kalau tahun depan masih ada pungutan lagi, jangan salahkan kami kalau memaksa pihak sekolah untuk mengembalikan seluruh uang pungutan kepada wali murid,” ujarnya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Hal itu diharapkan agar upaya menyelesaikan masalah pungutan di dunia pendidikan tidak sampai ke ranah hukum. Namun, puncak penyelesaian terpaksa akan menempuh jalur hukum, jika kasus tersebut masih dilakukan secara terus menerus.

“Hal itu tidak hanya berlaku untuk SMPN 1 Jakenan saja, tetapi seluruh sekolah di Kabupaten Pati. Kalau tahun depan di Pati masih ditemukan pungutan, kami akan kembali turun. Ini tugas kami. Tidak ada toleransi,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Disdik Pati Lakukan Mediasi, KN Kembali Bersekolah

KN sudah kembali beraktivitas belajar di kelas SMPN 7 Pati, Sabtu (26/9/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

KN sudah kembali beraktivitas belajar di kelas SMPN 7 Pati, Sabtu (26/9/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kasus penamparan terhadap siswa yang terjadi di SMP Negeri 7 Pati pada Selasa (22/9/2015) mendapatkan sorotan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pati. Kabid Pendidikan Dasar Disdik Pati Sariyono langsung turun di SMPN 7 Pati untuk melakukan mediasi, Sabtu (26/9/2015).

“Kami sudah datang ke SMPN 7 Pati dan duduk bersama dengan kepala sekolah, KN, orangtua dan kakaknya. Dari pembahasan itu, kami tahu kejadian sebenarnya tidak sebesar yang diberitakan sebelumnya. KN lebam pada bagian mata, karena disengat tawon waktu bermain di kandang sapi milik tetangga,” ujar Sariyono saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Ia mengaku sudah melakukan klarifikasi dan kedua belah pihak sudah sepakat untuk lebih meningkatkan komunikasi antara pihak sekolah dan siswa. “Ini soal komunikasi yang harus lebih ditingkatkan lagi. Kami juga sudah meminta kepada dewan guru untuk tidak mengancam atau mem-bully KN,” imbuhnya.

Sementara itu, Ira Yuliana, kakak KN mengaku sudah lega karena sudah ada teguran dari Dinas Pendidikan. “Kami sudah rembugan dan duduk bersama. Masalah sudah selesai, KN sudah kembali belajar pada Sabtu ini,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)