Dinas Pertanian: Hasil Panen di Kudus Cukup untuk Penuhi Persediaan Pangan

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kudus memperkirakan, hasil panen padi di awal tahun ini mencukupi untuk persediaan pangan di Kota Kretek.

“Kalau luas lahan kita ada sekitar 8.500 hektare, dengan jumlah tersebut satu hektarnya diperkirakan bisa menghasilkan 7-8 ton gabah,” ujar Catur Sulistyanto Kepala Dispertanpangan Kudus, Kamis (18/1/2018).

Menurutnya, hasil panen kali ini terbilang bagus. Hal itu ditunjang dengan harga yang tidak anjlok. Dari sembilan kecamatan, Undaan menjadi yang paling potensial.

Hal itu diamini oleh Kepala Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kiswo. Menurutnya hasil panen pada tahun ini melimpah dan berkualitas bagus.

“Hasil panen di Desa kami lebih bagus dari tahun lalu. Dengan ini kami bisa meningkatkan kesejahteraan warga dan mencukupi kebutuhan pangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Desa Berugenjang Masmi menyebut, panen tahun ini memang lebih baik jika dibanding tahun lalu.

“Kalau tahun lalu kerapkali diseang hama, selain itu cuacanya kurang mendukung. Terkait harga gabah, saat ini gabah hasil petani di Berugenjang dihargai Rp 6.000 perkilogram,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Dinas Pertanian Grobogan Siapkan 73 Penyuluh Pertanian Swadaya  untuk Dampingi Petani

Bupati Grobogan Sri Sumarni mengukuhkan 73 penyuluh pertanian swadaya di halaman kantor dinas pertanian, Rabu (27/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 73 penyuluh pertanian swadaya (PPS) dikukuhkan keberadaannya oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Rabu (27/12/2017).

Pengukuhan yang dilangsungkan di halaman Kantor Dipertan Grobogan dihadiri sejumlah pejabat. Antara lain, Dandim 0717 Letkol Teguh Cahyadi, Asisten II Ahmadi Widodo, dan Kepala Dipertan Edhie Sudaryanto. Para penyuluh swadaya ini nantinya akan disebar ke berbagai desa untuk memberikan bimbingan pada para petani.

Menurut Sri Sumarni, keberadaan penyuluh swasta saat ini memang sangat dibutuhkan. Sebab, jumlah penyuluh lapangan yang berstatus PNS makin berkurang lantaran banyak yang sudah pensiun. Sementara formasi pengisian tenaga PNS saat ini juga terbatas kuotanya.

“Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah mengangkat penyuluh swadaya. Kita harapkan, dengan adanya penyuluh swadaya, para petani atau kelompok tani bisa lebih cepat terlayani jika ada kendala di lapangan,” tegasnya.

Dijelaskan, pengangkatan penyuluh swadaya itu dasarnya mengacu pada dengan UU No 16 tahun 2006 tentang sistem penyuluh pertanian, perikanan, dan kehutanan. Dalam peraturan itu menyatakan jika penyuluh pertanian terdiri dari unsur pemerintah, swasta dan swadaya. Kemudian, aturan lainnya yang jadi panduan adalah PP No 72 Tahun 2011 tentang Pedoman Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian.

Kadinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, penyuluh swadaya berasal dari kalangan petani sendiri. Yakni, petani yang punya kapabilitas dan kompetensi untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan secara swadaya dan mandiri.

Sebelum ada penyuluh swadaya, jumlah petugas penyuluh yang dimiliki ada 92 orang. Terdiri dari 54 penyuluh PNS dan 38 tenaga penyuluh harian lepas. Petugas sebanyak itu belum sebanding dengan jumlah desa sebanyak 280 desa.

Pada tahun 2015, pihaknya sudah mengukuhkan 70 penyuluh swadaya. Kemudian, pada tahun ini ditambah lagi ada 73 penyuluh. Dengan demikian, jumlah keseluruhan penyuluh ada 188 orang.

“Meski ada penmabahan namun kita masih kekurangan 45 tenaga penyuluh. Idealnya tiap desa ada satu orang penyuluh,” imbuh Edhie.

Lebih lanujut ia menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No 56/Permentan/RC040/11/2016, tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian, Kabupaten Grobogan ditetapkan sebagai Kawasan Pertanian untuk 7 Komoditas Strategis Nasional. Yaitu padi, kedelai, jagung, bawang merah, cabai, tebu dan sapi potong.

Selain itu ada komoditas lain yang juga menjadi tanggung jawab untuk terus dikembangkan. Yakni, komoditas prioritas daerah, seperti kacang hijau, melon, semangka, tembakau, pisang, jambu air dan kelapa.

“Besarnya tugas dan tanggung jawab tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya peran Penyuluh Pertanian Swadaya,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

Pejabat Dinas Pertanian Kalimantan Selatan Belajar Budidaya Kedelai ke Grobogan

Rombongan tamu dari Kabupaten Balangan, Kalsel melihat proses pembuatan tempe higienis di Rumah Kedelai Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganDinas Pertanian Grobogan kedatangan rombongan tamu dari wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (1/11/2017). Rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang ini berasal dari Kabupaten Balangan, Kalsel.

Rombongan dari Kalsel ini dipimpin Sekretaris Dinas Pertanian Balangan Rusdiansyah. Selain pejabat dari dinas pertanian, dalam rombongan itu juga terdapat anggota DRPD, kelompok tani dan sejumlah pelaku usaha di Balangan.

Rusdiansyah menyatakan, tujuan utama datang ke Grobogan adalah ingin menimba ilmu seputar budidaya kedelai. Namun, pihaknya juga ingin belajar budidaya tanaman pangan lainnya, seperti Jagung dan Padi. Sebab, selama ini Kabupaten Grobogan merupakan salah satu sentra penghasil padi, jagung, dan kedelai atau Pajale.

Dijelaskan, salah satu hal yang ingin dikembangkan di daerahnya adalah penanganan produk pasca panen. Yakni, membuat aneka makanan dari hasil tanaman pangan. Salah satunya, membuat tempe dari bahan kedelai lokal. Seperti yang terdapat di Rumah Kedelai Grobogan (RKG).

“Apa yang sudah dilakukan Dinas Pertanian Grobogan ini kami nilai sangat bagus. Jadi, tidak hanya budidaya saja tetapi juga pengembangan hingga pasca panennya,” terangnya.

Rombongan tamu dari Kalsel diterima langsung Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto di RKG. Selama berada di RKG, rombongan dari Kalsel sempat mendapat banyak penjelasan mengenai budidaya kedelai andalan varietas Grobogan.

Setelah itu, rombongan juga diajak melihat proses produksi tempe dan tahu higienis serta beragam makanan ringan dari bahan kedelai di lokasi tersebut.

“Terus terang, saya merasa bangga ada rombongan dari jauh yang memilih Grobogan sebagai lokasi belajar budidaya kedelai. Harapan saya, apa yang didapat dari sini membawa manfaat dan bisa secepatnya diaplikasikan di Kabupaten Balangan,” jelasnya.

Setelah dari RKG, rombongan tamu sempat diantarkan untuk melakukan kunjungan lapangan. Yakni, melihat lahan kedelai kelompok tani (Poktan) Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi. Di daerah tersebut, saat ini sudah banyak terdapat tanaman kedelai yang berumur sekitar satu bulan.

Poktan Ngudi Rejeki I menjadi tempat yang tepat untuk belajar kedelai. Soalnya, poktan itu baru saja baru saja dinobatkan jadi juara nasional dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas kedelai. 

Editor: Supriyadi

Wabup Pati Sidak di Dinas Pertanian, Ini Temuannya

 Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (baju putih) saat menanyakan perkembangan pertanian dan peternakan di Kantor Dinas Pertanian Pati, Kamis (19/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Bupati Pati Saiful Arifin menggelar inspeksi mendadak (sidak) di Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Kamis (19/10/2017).

Dalam sidak tersebut, Arifin ingin mengetahui data terkait dengan potensi pertanian dan peternakan di Pati. Pasalnya, Pati selama ini dikenal sebagai daerah yang memberikan kontribusi untuk ketahanan pangan nasional.

Menurut dia, pertanian di Pati memang sudah baik. Namun, dia melihat petani masih belum sejahtera dan masih dipandang sebelah mata.

Karena itu, dia ingin memastikan bila Dinas Pertanian harus ikut berada di garda paling depan untuk memajukan dunia pertanian, sekaligus petani itu sendiri.

“Potensi pertanian dan peternakan di Pati sangat luar biasa. Tapi tidak semua petani dan peternak memahami pengelolaan usaha di bidang itu secara profesional. Akibatnya, profesi petani dan peternak masih dianggap sebelah mata,” ujar Arifin.

Hasil sidak menunjukkan, Dinas Pertanian selama ini bekerja sudah cukup baik. Salah satunya, dukungan untuk petani berupa bantuan alat pertanian dan program indukan ternak yang rutin diberikan setiap tahun.

Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi sempat kaget dikunjungi Wabup secara mendadak. Dia langsung mengumpulkan seluruh kepala bidang dan seksi untuk memberikan penjelasan.

Sesuai dengan visi kepala daerah, Muchtar mengaku akan memberikan yang terbaik untuk petani di Pati. Berbagai program yang dicanangkan akan fokus pada pengembangan potensi pertanian, sekaligus pemberdayaan yang menyejahterakan petani sendiri.

Editor: Supriyadi

Ratusan Hektare Sawah di Undaan Kudus Terganggu Genangan Air

jalan-swah-e2

Petani melintasi jalan persawahan di Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) lahan pertanian milik petani Undaan, Kudus, terganggu genanang air. Hal itu disebabkan karena air irigasi di sawah tidak bisa dibuang. Kondisi demikian menghambat proses pertanian setempat.

Kades Wates Sirin, mengatakan sawah warga tidak memiliki aliran pembuangan air irigasi. Jadi air irigasi yang masuk ke sawah dibiarkan mengendap dan hilang dengan sendirinya.

Bila air tak juga mengendap, maka sawah penuh air. “Area sawah di sini mencapai 425 Ha. Sawah tidak memiliki saluran pembuangan. Air pun jadi mandek, dan menggenangi sawah warga,” kata Sirin, Rabu (5/10/2016).

Menurutnya, jika air bisa dibuang ke jalur irigasi di Desa Undaan Lor, maka sawah warga bisa selamat dari luberan air.  “Kalau dulu di sekitar jalan itu ada sudetan. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Praktis, air tidak bisa mengalir ke irigasi Undaan Lor,” ujarnya.

Kades Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan, saluran di desanya lebih rendah dari Desa Wates. Air dari Desa Wates untungnya tidak dibuang ke irigasi Desa Undaan Lor. “Jika itu terjadi maka air akan membanjiri persawahan warga desa kami,” kata Edy.

Dia mengatakan, luar area sawah desanya sekitar 400 Ha. Sebagian besar merupakan dataran rendah ketimbang Wates. “Kami tidak bisa mengorbankan petani di sini. Jadi air dari Wates tidak bisa dikirim ke saluran air sawah di Undaan Lor” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Kejutan Dinas Pertanian untuk Kelompok Tani di Grobogan

Kabid Hortikultura Imam Sudigdo menunjukkan demplot hidroponik yang akan diberikan pada kelompok tani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kabid Hortikultura Imam Sudigdo menunjukkan demplot hidroponik yang akan diberikan pada kelompok tani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Sejumlah kelompok tani di Grobogan bakal mendapat pengenalan sistem tanam dengan metode hidroponik. Yakni, cara menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, untuk mengenalkan pada petani, saat ini sudah disiapkan demplot atau percontohan. Total demplot hidroponik ada 40 unit yang tempat pembuatannya dari pipa PVC.

”Untuk sementara baru sekitar 40 unit demplot yang kita bikin. Demplot ini nantinya kita distribusikan pada kelompok tani dan kecamatan,” kata Edhie melalui Kabid Hortikultura Imam Sudigdo.

Dijelaskan, setelah diterima dan bisa menerapkan pola bertanam itu, kelompok tani nantinya diminta menularkan ilmu yang didapat pada masyarakat sekitar. Dengan demikian, mereka yang selama ini terkendala dalam masalah lahan tetap bisa melakukan aktivitas bertanam dengan sistem hidroponik.

Sebab, cara ini tidak membutuhkan lahan yang luas. Kemudian, tempatnya juga tidak harus dari pipa PVC. Tetapi bisa memanfaatkan bambu atau barang bekas lain yang ada dirumah.

”Kebanyakan sistem, hidroponik ini digunakan untuk menanam komoditas sayuran. Dengan menanam melalui cara ini, nantinya kebutuhan sayuran sehari-hari bisa panen sendiri, tidak perlu beli. Untuk menanam dengan cara hidroponik ini gampang dan murah serta bisa memanfaatkan teras rumah yang tidak terlalu luas,” imbuhnya. (DANI AGUS/TITIS W)

Sa’diyah : Kesejahteraan  Hewan Harus Diperhatikan

Sa’diyah, Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Selain menggelar kegiatan pengecekan hewan kurban, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus juga sering mengirimkan kegiatan pendidikan bagi seseorang penyembelih hewan. Hal itu dilakukan lantaran ingin mengupayakan agar petugas atau penyembelih hewan kurban bisa mengetahui aturan serta kondisi hewan tersebut.

Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Sa’diyah mengatakan, dalam pengiriman pendidikan untuk penyembelih hewan, biasanya pihak dinas mengirimkan satu orang setiap tahunnya ke dinas peternakan dan kesehatan hewan Jawa tengah. Yaitu Modin yang ada di desa setempat, untuk diberikan pelatihan.

”Untuk pelatihannya biasanya di gelar di Dinas Peternakan dan Kesehatan Jawa Tengah. Sedangkan untuk pelatihannya diberi pengetahuan tata cara penyembelihan yang baik. Yakni mengenai rukun dan aturan untuk menyembelih hewan, serta mampu mengetahui kesejahteraan hewan,” papar Sa’diyah.

Dia menilai, seorang Modin pastinya mengetahui rukun dan kewajiban menyembelih, mereka pasti sudah tahu. Akan tetapi yang mereka pahami ialah bagaimana bisa mensejahterakan hewan tersebut. Kesejahteraan hewan yang dimaksud ialah terkait dengan perlakuan hewan kurban yang disembelih. Seperti halnya memenggal kepala hewan serta memotongnya.

”Untuk kesejahteraan hewan kurban yang sudah disembelih, pastikan hewan tersebut sudah mati (darah mengalir dari leher) dengan tuntas. Setelah itu mereka bisa memenggal kepalanya. Namun selama ini, yang kita sering lihat hewan belum mati (sekarat) setelah di sembelih, akan tetapi para penjagal sudah memenggal kepalanya, memotong kakinya bahkan menyiram dengan air panas untuk mencabuti bulunya (kambing),” ujarnya.

Nah disitulah, para Modin diberi pendidikan. Sehingga ilmu yang didapatkan Modin tersebut bisa diinformasikan kepada masyarakat luas. Sehingga disaat penyembelihan hewan para penjagalnya dapat memperhatikan kesejahteraan hewan tersebut. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Siap Ikut Kurban di Beberapa Sekolah

Sa’diyah, Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Selain menggelar pengecekan kesehatan hewan di pasar ternak dan pasar hewan menjelang Idul Adha, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus juga akan mengecek hewan kurban di sekolah. Hal tersebut dilakukan lantaran pihak sekolah melakukan kerja sama dengan dinas tersebut untuk bisa memastikan hewan kurban layak untuk disembelih.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Busi Santoso yang diwakili oleh Kabid Peternakan Sa’diyah mengatakan, memang saat ini ada beberapa sekolah yang sudah mengirimkan surat ke dinas untuk melakukan kerja sama. Dalam kerja sama tersebut, pihak dinas mengecek kesehatan hewan kurban sebelum disembelih.

”Kami apresiasi sekali dengan sekolah yang menggelar kerja sama tersebut. Sebab secara otomatis pihak sekolah mempunyai tanggung jawab tinggi terhadap kondisi hewan kurbannya,” paparnya.

Pihaknya menambahkan, karena dinas juga tidak bisa melakukan pengecekan satu persatu terhadap instansi atau masyarakat yang mengadakan penyembelihan kurban. Sehingga sangat diperlukan perhatian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat untuk membantu pengecekan kondisi hewan kurban sebelum dilakukan penyembelihan. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)