Ini Trobosan Baru Dinas Pertanian Kudus Berantas Tikus di Lahan Pertanian

Plt Kepala dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan, Edy Suprayitno. (MuriaNewsCom)

Plt Kepala dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan, Edy Suprayitno. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemberantasan tikus bagi para petani memang tidak akan ada habisnya. Untuk itu, guna membantu petani, Pemkab Kudus menggagas adanya pagar yang tidak dapat dilalui tikus sawah.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Edy Suprayitno mengatakan, tahun ini pihaknya akan mengupayakan pembuatan pagar sawah. Tujuannya membuat tikus tidak mampu memanjat ke areal persawahan.

”Kita akan usulkan pada perubahan nanti. Jadi, pagar tersebut memang bertujuan untuk membuat tikus tidak bisa memasuki area persawahan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hal itu merupakan terobosan baru dinas yang ditujukan untuk petani. Sebelumnya cara tersebut belum dilakukan, lantaran pengendalian hama tikus difokuskan menggunakan gropyokan, racun tikus, hingga menggunakan setrum listrik.

Model penggunaan nanti, menggunakan pagar seng. Pagar Seng akan ditanam dengan jarak yang agak dalam. Selain itu, pagar juga agak tinggi sehingga tikus tak mampu memanjat.

”Kami akan menjadikan beberapa daerah sasaran. Beberapa petak sawah untuk diterapkan. Sebab untuk membuatnya jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Nantinya, kata dia, jika memang dianggap efektif akan dilakukan dengan secara rutin. Sehingga akan mampu membuat hasil pertanian berlimpah dan petani juga diuntungkan.

Hanya, pemberantasan hama tikus semacam itu terdapat kelemahan. Seperti aliran air yang terganggu. Sehingga di sawah yang dipagar seng harus dibutakan pintu air.

”Cara ini sedang kami kaji. Termasuk kelemahan dan kelebihannya,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

 

Petani di Kudus Diminta Tak Lengah Hadapi Hama Tikus

Imbauan waspada listrik terpampang jelas di salah satu sawah yang dialiri listrik untuk membunuh tikus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Imbauan waspada listrik terpampang jelas di salah satu sawah yang dialiri listrik untuk membunuh tikus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski menjadi hama tahunan, namun hama tikus pada tahun ini nampaknya tidak seganas tahun-tahun lalu. Terlihat selama masa tanam (MT) I dan memasuki MT II ini gangguan akibat tikus cenderung sedikit.

Plt Kepala dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Edy Suprayitno mengatakan, saat ini laporan kerusakan akibat gangguan tikus masih belum terlihat. Meski demikian diharapkan petani tidak lengah untuk membiarkannya.

”Kalau kerusakan akibat gangguan tikus masih belum ada. Namun mengenai gangguan tikus, merupakan hama yang menyangkut secara tahunan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hama tikus memang menjadi hantu bagi petani selama masa tanam. Bukan hanya dengan cara memakan hasil tanaman, melainkan juga dengan merusak tanaman itu sendiri.

Selain itu, tikus juga cenderung merusak saluran air. Kondisi itu membuat petani makin resah lantaran air yang digunakan sebagai irigasi persawahan harus habis terkuras.

Berkurangnya hama tikus selama MT I dan memasuki MT II lantaran tikus kekurangan tempat. Sebab lokasi hunian dibanjiri dengan air, sehingga tikus lebih memilih ke tanggul atau daerah tinggi.

”Makanya pada masa banyak air seperti ini digunakan untuk Gropyokan. Sebab tikus mudah ditemukan di tanggul tanggul,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

2016, Jatah Pupuk di Kudus Turun

Muttaqin, petugas pendataan pupuk Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Muttaqin, petugas pendataan pupuk Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kebutuhan pupuk bersubsidi, bagi para petani di Kudus, menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumya. Hal itu disebabkan pupuk yang diberikan jatah untuk Kudus, sesuai dengan usulan dari Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso melalui petugas pendataan pupuk Muttaqin mengatakan, pihaknya sudah menerima surat resmi jatah pupuk untuk Kudus selama 2016. Dan hasilnya, jatah yang diterima Kudus berkurang dari sebelumya.

”Meski jumlahnya berkurang, namun kami yakini jumlahnya mampu mencukupi kebutuhan para petani di Kudus selama setahun,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pada tahun ini pemerintah mendapatkan pupuk jenis Urea sejumlah 10 ribu ton. Padahal, 2015 lalu untuk jenis pupuk yang sama, Kudus mendapatkan 11.800 ton. Jumlah tahun lalu juga, tidak sesuai dengan usulan pemkab, yang mengusulkan 12.130.83 ton.

Selain itu, untuk ZA juga mengalami hal serupa. Selama 2016, Kudus mendapatkan jatah pupuk 4260 ton. Sama halnya Urea, ZA juga mengalami jumlah pupuk yang lebih sedikit, sebab 2015 mendapatkan jatah 4.750 ton saja.

Sedangkan untuk jenis SP 36, jumlah yang diterima adalah 1.490 ton, jumlahnya meningkat ketimbang tahun sebelumnya yang hanya 1000 ton saja. Sedangkan NPK mendapatkan 6885 ton, NPK mengalami penurunan dari 7000 ton. Dan pupuk Organik 4300 ton, sama seperti tahun sebelumya.

”Tidak apa-apa, meskipun dibawah tahun sebelumya, namun masih ada sisa dari tahun sebelumnya di 2015 sebanyak 15 persen. Jadi tidak menjadi kendala meski yang kami dapat dibawah usulan,” ujarnya.

Menurut dia, meski lebih sedikit, namun pihaknya memastikan harganya tidak akan berubah atau menjadi lebih mahal. Hal itu mengingat pupuk merupakan jenis subsidi, jadi harganya diatur dari pusat. Sehingga jika pemerintah pusat tidak merubah harganya, maka di daerah juga sama.

Dia menambahkan, jatah pupuk selama setahun nanti akan cukup. Baik untuk sektor pertanian, perikanan, perkebunan maupun kehutanan. Mengingat usulan juga dipertimbangkan dari semua aspek tersebut. ”Awalnya usulan kan mendata dari kelompok tani. Jadi semua sudah mendapat jatah pupuk bersubsidi,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Harusnya Beras di Kudus Melimpah karena Hasil Panen Padi Lampaui Target

Petani menggarap sawahnya di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani menggarap sawahnya di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Target panen padi selama 2015, yakni sejumlah 159.000 ton, dipastikan tercapai. Bahkan, Pemkab Kudus malahan memastikan kalau target tersebut bakal melebihi hingga akhir tahun ini.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kudus Budi Santoso. Menurutnya, panen padi tahun ini tergolong baik, sehingga hingga akhir tahun bakal melampaui dari target.

“Hingga kini, kami sudah panen dengan jumlah 166.400 ton. Meski demikian, kami akan memenuhi target tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Hal itu diyakini, lantaran sekarang di beberapa daerah masih mengalami panen. Seperti halnya di Tenggeles, Gondoharum, Jekulo, Jati dan beberapa daerah lainnya. Sehingga kalau dijumpai akan mencapai target.

Dia menambahkan, lahan yang sedang dipanen saat ini sekitar 1.000 hektare. Sehingga pasti akan mendapatkan jumlah yang jauh lebih banyak lagi dari target.

Target tiap tahun selalu cenderung naik. Seperti halnya di 2014 lalu, Kudus ditargetkan sekitar 127 ribu ton saja. Sedangkan di 2016 mendatang. Target juga kembali dinaikkan menjadi 169 ribu ton.

Selama 2015 nantinya, Kudus memiliki luasan tanam sebesar 26.559 hektare. Jumlah tersebut meliputi dari MT I, MT II dan MT III. Pilihan hektare tersebut juga tersebar di sembilan kecamatan di Kudus.

Dengan luasan tersebut, kata dia, paling banyak menanam padi pada MT I dan MT III. Hal itu dibuktikan memasuki pada MT II ini, petani yang menanam padi hanyalah seluas 14 ribuan hektare saja. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)