Pejabat Dinas Pertanian dari 3 Provinsi Berkunjung ke Grobogan untuk Belajar Budidaya Kedelai

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Amrin Aziz mendapat penjelasan dari Kabid Tanaman Pangan Dipertan TPH Grobogan Ahmad Zulfa Kamal (baju batik) seputar pembuatan tempe higienis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Amrin Aziz mendapat penjelasan dari Kabid Tanaman Pangan Dipertan TPH Grobogan Ahmad Zulfa Kamal (baju batik) seputar pembuatan tempe higienis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pengembangan tanaman kedelai lokal yang dilakukan Dinas Pertanian TPH Grobogan dalam beberapa tahun terakhir ternyata mulai mendapat pengakuan dari berbagai daerah. Ini, dibuktikan dengan sudah banyaknya pejabat dari kabupaten sekitar maupun luar Jawa yang berguru masalah kedelai ke Grobogan.

Terbaru, adanya kunjungan yang dilakukan pejabat dinas pertanian dari tiga provinsi yang melangsungkan studi banding. Yakni, dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang melangsungkan kunjungannya pada Rabu (30/11/2016) kemarin. Selain pejabat, rombongan dari Sumut dan Kalsel juga menyertakan beberapa anggota DPRD Provinsi masing-masing.

Setelah rombongan dari dua provinsi ini selesai melakukan kunjungan, ada tamu lagi yang datang pada Kamis (1/12/2016). Kali ini, rombongan yang datang adalah Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Amrin Aziz bersama belasan anak buahnya.

“Kita datang ke sini bukan hanya ingin menimba ilmu masalah kedelai saja. Tetapi juga tanaman pangan lainnya, seperti Jagung dan Padi. Dari yang kita ketahui, Kabupaten Grobogan merupakan salah satu sentra penghasil padi, jagung, dan kedelai atau Pajale. Dari prestasi inilah makanya kami datang ke sini,” ungkap Amrin, saat ditemui di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) bersama Kabid Tanaman Pangan Dipertan TPH Grobogan Ahmad Zulfa Kamal. 

Menurut Amrin, salah satu hal yang ingin dikembangkan di Jambi adalah penanganan produk pascapanen. Seperti membuat aneka makanan dari hasil tanaman pangan. Salah satunya, membuat tempe dari bahan kedelai lokal.

“Apa yang sudah dilakukan Dinas Pertanian Grobogan ini sangat bagus. Jadi, tidak hanya budidaya saja tetapi juga pengembangan hingga pascapanennya. Hal inilah nantinya akan coba kita terapkan, yakni pengembangan Pajale sekaligus terintegrasi dengan pengolahan pascapanen,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, beberapa waktu sebelumnya, pejabat Dinas Pertanian dan para petani dari Nusa Tenggara Timur (NTT) juga sudah melangsungkan kunjungan. Di samping itu, sudah banyak pula dinas dan petani dari kabupaten di Jawa Tengah yang belajar pengembangan tanaman pangan, khususnya kedelai di Grobogan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dari berbagai pihak untuk saling berbagi ilmu ke sini. Selama berada di sini, kita akan bantu semaksimal mungkin apa yang dibutuhkan para  tamu yang datang. Harapan saya, apa yang didapat dari sini bisa secepatnya diaplikasikan di daerahnya masing-masing,” terang Edhie. 

Editor : Kholistiono

Kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan Dilatih Menanam Tanaman Hidroponik

Para kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan sedang mengikuti pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem tanam hidroponik, Jumat (23/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan sedang mengikuti pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem tanam hidroponik, Jumat (23/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para Kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan mendapat pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem tanam hidroponik. Pelatihan itu diberikan oleh petugas dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, pelatihan itu diberikan agar para kepala UPTD di tingkat kecamatan mendapat pengetahuan cara bertanam dengan sistem hidroponik. Yakni, cara budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Dijelaskan, setelah bisa menerapkan pola bertanam, para kepala UPTD nantinya diminta menularkan ilmu yang didapat pada kelompok tani wilayah kerjanya dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, mereka yang selama ini terkendala dalam masalah lahan tetap bisa melakukan aktivitas bertanam dengan sistem hidroponik.

Soalnya, cara ini tidak membutuhkan lahan yang luas. Kemudian, tempatnya juga tidak harus dari pipa PVC. Tetapi bisa memanfaatkan bambu atau barang bekas lain yang ada dirumah.

“Kebanyakan sistem, hidroponik ini digunakan untuk menanam komoditas sayuran. Dengan menanam melalui cara ini, nantinya kebutuhan sayuran sehari-hari bisa panen sendiri, tidak perlu beli. Untuk menanam dengan cara hidroponik ini gampang dan murah serta bisa memanfaatkan teras rumah yang tidak terlalu luas,” jelas Edhie didampingi Kabid Hortikultura Imam Sudigdo.

Beberapa waktu sebelumnya, lanjut Edhie, pihaknya sudah menyiapkan demplot atau percontohan. Total demplot hidroponik ada 40 unit yang tempat pembuatannya dari pipa PVC. Demplot itu distribusikan pada kelompok tani dan kantor kecamatan.

Editor : Kholistiono

Pengawasan Distribusi Pupuk Bersubsidi di Grobogan Diminta Diperketat

Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki sedang memamarkan mekanisme kerja tim KP3 (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki sedang memamarkan mekanisme kerja tim KP3 (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kebutuhan pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang penting dalam peningkatan produktivitas dan produksi pertanian. Untuk itu, pengawasan dalam distribusi pupuk bersubsidi harus dilakukan dengan optimal guna mencegah terjadinya penyimpangan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Grobogan Sugiyanto saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) di Pendapa Kabupaten, Selasa (23/2/2016).

“Subsidi untuk pupuk yang ditanggung pemerintah ini cukup besar. Oleh sebab itu, perlu pengawasan dan pengawalan agar penyalurannya optimal. Mulai dari produsen sampai pada pengecer dan ditingkat kelompok tani maupun petani,” tegas Sugiyanto yang juga menjabat sebagai Ketua KP3 Grobogan itu.

Sugiyanto mengharapkan, distribusi pupuk bersubsidi harus tepat sasaran. Baik itu dalam jumlah pupuk, harga pupuk, tempat, waktu dan mutunya. Jika prinsip itu dilaksanakan dengan baik oleh seluruh komponen, maka target produksi nasional ketersedian pangan dan swasembada hasil pertanian dapat tercapai.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, salah satu tujuan dari rakor adalah untuk menyamakan persepsi dan bertukar informasi antara produsen, distributor dan kios pengecer sebagai penyalur pupuk kepada kelompok tani serta tim KP3 sebagai tim verifikasi.

“Setelah rapat koordinasi ini, hendaknya dilanjutkan dengan verifikasi ke lapangan sehingga mengetahui masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono