Tak Hanya Anak SD, Kapolres Blora dan Istrinya yang Cantik Juga Disuntik Imunisasi

MuriaNewsCom, Blora – Suntikan imunisasi biasanya diberikan kepada anak-anak. Tapi di Blora, jajaran kepolisian juga ikut diimunisasi. Bahkan Kapolres Blora AKBP Saptono dan istrinya Putri Saptono juga ikut disuntik di depan anggotanya.

Mereka diberi suntikan difteri untuk mencagah anggota polisi terserang penyakit ini. Suntikan ini diberikan saat Polres Blora melangsungkan acara sosialisasi terkait penyakit difteri pada angggota dan pengurus cabang Bhayangkari.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dokkes Polres Blora bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat.

Usai sosialisasi, kegiatan dirangkai dengan pemberian vaksin difteri yang diawali oleh Kapolres Blora dan istrinya yang merupakan ketua Bhayangkari. Setelah itu, pemberian vaksin difteri dilanjutkan pada para Kabag, Kasat, perwira, anggota dan Bhayangkari.

“Sedikitnya ada 150 personel Polri dan Bhayangkari yang mengikuti kegiatan ini,” kata Kapolres usai mendapat suntikan vaksin difteri tersebut, Kamis (18/1/2018).

Ia mengatakan, kegiatan penyuntikan vaksin pada anggota Polri dan Ibu-ibu Bhayangkari di jajaran Polres Blora tersebut dilakukan agar mereka tidak terkena difteri. Terutama, pada kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini.

“Harapannya dengan vaksin ini, mereka tidak tidak mudah terserang penyakit, termasuk difteri. Penyakit difteri ini bisa menular sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan,” lanjutnya.

Ketua Bhayangkari Cabang Blora Putri Saptono mengimbau, agar anggota bhayangkari tetap menjaga diri dan lingkungan. Selain itu, ia juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.

Editor : Ali Muntoha

Dicurigai Terjangkit Difteri, 2 Bocah di Grobogan Dirawat di Ruang Isolasi RSUD

Ilustrasi

MuriaNewsCom, GroboganDua orang yang masih kategori anak-anak mendapat perawatan khusus di ruang isolasi RSUD dr R Soedjati Purwodadi, Grobogan. Ditempatkannya kedua anak itu diruang isolasi karena dicurigai terkena penyakit difteri. Kedua anak itu masing-masing berinisial BK (3), warga Kecamatan Purwodadi dan AN (8), warga Kecamatan Toroh.

Sekretaris Dinas Kesehatan Grobogan Slamet Widodo ketika dikonfirmasi membenarkan adanya dua anak yang dirawat di ruang isolasi RSUD Purwodadi sejak beberapa hari lalu itu. Dari pemeriksaan yang dilakukan, kedua anak itu masih dicurigai atau suspect difteri. Hal ini berdasarkan gejala dan kondisi fisik yang dialami kedua anak tersebut.

“Jadi statusnya masih suspect atau dicurigai terkena penyakit difteri. Sesuai prosedur, suspect difteri memang harus ditempatkan dalam ruang perawatan khusus untuk langkah pengamanan,” jelasnya, Selasa (19/12/2017).

Untuk menentukan apakah keduanya positif mengidap difteri masih perlu dilakukan pemeriksaan laborat lebih lanjut. Pemeriksaan perlu dilakukan di laborat Dinas Kesehatan Provinsi Jateng karena di Grobogan belum memiliki peralatan lengkap.

“Setelah dilakukan pemeriksaan di Semarang nanti baru bisa diketahui hasilnya. Apakah positif atau negatif difteri,” tegasnya.

Kasi Imunisasi, Surveilan dan Kejadian Luar Biasa Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko menambahkan, beberapa waktu lalu ada sekitar enam orang yang dicurigai menderita difteri. Namun, setelah diperiksa laborat di Semarang melalui pengecekan kultural, hasilnya negatif semua.

Menurut Djatmiko, kondisi kedua anak yang masih dirawat di RSUD sudah berangsung membaik. Pihaknya, sudah memberikan Anti Difteri Serum (ADS)‎ pada kedua pasien yang ditempatkan di ruang isolasi.

“Difteri ini bisa menular. Oleh sebab itu, untuk pencegahannya kedua anak itu ditempatkan di ruang isolasi,” jelasnya.

Ditambahkan, ia sudah mengambil sampel swab tenggorokan kedua anak itu untuk diuji laborat di Dinkes Jateng. Biasanya, dalam beberapa hari lagi sudah akan dikirimkan hasilnya.

Editor: Supriyadi

Seluruh Bocah di Desa Balita Korban Difteri Asal Kendal Diimunisasi Ulang

Ilustrasi (Pixabay)

MuriaNewsCom, Semarang – Pascameninggalnya balita penderita difteri asal Kabupaten Kendal, Rabu (13/12/2017) kemarin, pihak keluarga dan orang-orang dekat korban langsung diperiksa.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kendal memeriksa kondisi kesehatan warga di sekitar korban, termasuk teman sekolah korban yang pernah melakukan kontak dengan pasien. Antara Jateng melansir, pemeriksaan dilakukan untuk menghindari mewabahnya penyakit tersebut.

“Kami lakukan penyelidikan epidemologis (PE) menindaklanjuti adanya pasien difteri di Kendal,” kata Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kendal Muntoha, Kamis (14/12/2017).

Hal tersebut diungkapkannya di sela rapat koordinasi dengan dinas-dinas kesehatan kabupaten/kota dan stakeholder terkait mengenai difteri yang berlangsung di Kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Ia menyebut, langkah PE dilakukan, lantaran korban mempunyai latarbelakang mobilitas yang tinggi. sehingga seluruh orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien diperiksa kesehatanya.

“Kebetulan, mendiang anak ini mobilitasnya tinggi. Jadi, kami lakukan pemeriksaan juga di PAUD tempatnya sekolah untuk mengantisipasi risiko terpapar,” katanya.

Namun, kata dia, hanya yang melakukan kontak dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum pasien meninggal. Jika kontak sudah dilakukan lewat dari dua pekan tergolong aman dari paparan bakteri difteri.

Selain itu, Muntoha mengatakan, imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) juga dilakukan kepada seluruh anak yang ada di desa tersebut untuk melindungi dari potensi terpapar difteri.

Baca : Balita Pasien Difteri Meninggal di RS Kariadi Semarang

Diakuinya, selama ini memang belum semua anak di Kendal mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Sebab ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak imunisasi.

Sementara itu, Kepala Dinkes Jateng Dokter Yulianto Prabowo mengatakan, dengan imunisasi dasar secara lengkap setidaknya bisa melindungi anak dari paparan penyakit, seperti difteri.

“Kalau toh terkena pun bersifat ringan dan bisa diatasi. Dari tiga kasus difteri yang kami temukan di Jateng, semuanya status imunisasi dasarnya tidak lengkap,” ujarnya.

Mengenai ORI, ia mengatakan sejauh ini hanya dilakukan di satu desa yang ada di Kendal. Itu karena menindaklanjuti temuan kasus difteri di kabupaten tersebut yang pasiennya akhirnya meninggal dunia.

“Jadi, tidak dilakukan pada all population, melainkan dalam populasi terbatas yang mempunyai risiko tinggi. Meski dibanding daerah lain kasus difteri di Jateng lebih sedikit, kami tetap waspada,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang pasien difteri berusia empat tahun asal Sambungsari, Kendal, Jateng, meninggal dunia karena kondisinya yang sudah parah ketika dirujuk ke rumah sakit.

Berbagai langkah penanganan sudah dilakukan, termasuk memberikan antidifteri serum (ADS) dan merencanakan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan.

Editor : Ali Muntoha

Balita Pasien Difteri Meninggal di RS Kariadi Semarang

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Satu dari tiga pasien difteri yang ditangani di RSUP dr Kariadi Semarang, meninggal dunia. Pasien yang meninggal merupakan balita laki-laki berusia 4 tahun, dari Kabupaten Kendal.

Balita itu dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang, pada Selasa (12/12/2017) malam dalam kondisi parah. Tim dokter langsung melakukan penanganan di ruang isolasi IGD. Namun bocah tersebut tak bisa diselamatkan.

”Pasien meninggal pagi tadi pukul 02.00 WIB,” kata dokter sepesialis anak RSUP dr Kariadi Semarang, dr Hapsari SpA (K), kepada wartawan.

Ia mengatakan, pasien tersebut merupakan rujukan dari RSI Kendal. Saat dirujuk ke RS Kariadi, kondisi bocah tersebut sudah sangat parah.

”Saat datang keadaan sudah komplikasi, mengalami sesak nafas berat. Pembesaran kelenjar, ditengarai komplikasi jantung,” ujarnya.

Ia menyebut, tim medis sudah melakukan penanganan serius. Termasuk memberikan serum anti difteri. Selain itu, tim medis juga sudah merencanakan untuk melakukan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan. Namun anak tersebut meninggal dunia dini hari tadi.

Menurutnya, korban sudah terserang diferi sejak 5-6 hari. Namun kemungkinan karena ketidaktahuan tentang gejalan difteri oleh pihak keluarga, sehingga penanganan terlambat.

“Sudah 5 atau 6 hari (menderita Difteri). Demam tidak tinggi, nyeri saat menelan, ngorok, kemudian dibawa ke RSI Kendal. Kemungkinan ketidaktahuan. Ini meninggalnya karena sumbatan pernafasan,” terang Hapsari. 

Selain pasien dari Kendal yang meninggal dunia, ada dua pasien difteri lagi yang tengah dirawat di RSUP dr Kariadi. Dua pasien ini saat ini kondisinya sudah mengalami perkembangan.

Hapsari menyebut, dua pasien itu dirujuk ke RSUP dr Kariadi pada Senin (11/12/2017) lalu. Satu pasien perempuan usia 6 tahun, berasal dari Kabupaten Batang yang dirujuk RSI Kendal. Dan satu pasien laki-laki usia 15 tahun dari Demak.

Dua pasien itu menurut dia, menderita difteri ringan dan bisa ditolong. Saat ini keduanya berada di ruang isolasi bangsal anak.

“Keduanya sudah Difteri. Kriteria Difteri yang perempuan tadi di tonsil, amandel. Yang laki-laki di faring, tenggorokan. Difteri ringan,” ujarnya. 

Ia menyebut, kedua pasien dalam kondisi baik, dan tinggal memberikan antibiotik selama 10 hari. Sebelum keluar dari ruang isolasi, tim medis akan melakukan pencarian kuman difteri selama dua kali.

Dalam dua kasus tersebut, pasien anak perempuan sudah menjalankan vaksinasi lengkap, sehingga difteri yang diderita ringan dan bisa segera diobati. Namun untuk pasien laki-laki ada vaknisasi yang terlewat.

Editor : Ali Muntoha

Warga Karanganyar Terserang Difteri Karena Tak Pernah Imunisasi

Seorang siswa tengah menjalani imunisasi di sekolah. Imunisasi disebut sebagai salah satu cara untuk menghindari penyakit difteri. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Karanganyar – Satu warga Kabupaten Karanganyar tercatat pernah terinveksi penyakit difteri. Kasus ini terjadi pada Juni 2017 lalu. Beruntung korban dapat diselamatkan setelah dilakukan penanganan yang intensif.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karanganyar, Rita Sari Dwei kepada wartawan, Selasa (12/12/2017) menyebut, jika korban yang tererang difteri tak pernah diimuniasi.

Beruntung menurut dia, karena saat merasakan gejalan sakit korban langsung berobat. Sehingga tim medis bisa langsung mendeteksi jika korban terinveksi difteri.

Ia menyebut, saat itu Dinas Kesehatan langsung berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk melakukan penanganan. Pasalnya, untuk menangani kasus ini cukup rumit dan mahal.

”Untuk menangani harus disuntik serum antidifteri. Serumnya saat itu di Solo Raya tidak ada, hanya ada di pusat, provinsi juga tidak punya,” katanya.

Ia menyebut, satu serum untuk disuntikkan pada korban harhanya sekitar Rp 2,5 juta. Padahal yang dibutuhkan tidak cukup satu serum. Untuk penanganan korban waktu itu, menurut dia, tim medis harus menyuntikkan empat serum sekaligus.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga melakukan pemeriksaan kepada orang-orang di sekitar korban, untuk memeriksa apa ada yang tertular atau tidak.

”Kami periksa orang-orang di dekatnya, keluarganya, gurunya, teman sekolah, ada nggak kuman difteri. Lalu kita kasih obat profilaksis agar kuman tidak merajalela,” ujarnya.

Saat ini menurutnya, Dinkes Karanganyar semakin gencar menyosialisasikan imuniasi. Karena imunisasi bisa membentengi anak dari penyakit difteri.

“Dari kasus itu, saya minta orang tua jangan egois. Karena anaknya tidak pernah imunisasi jadi terkena difteri. Bahayanya bisa menyebabkan kematian dan menular,” terangnya.

Dia mengatakan, corynebacterium diphtheriae atau bakteri penyebab difteri menyebar melalui udara. Daya tahan tubuh menjadi kunci utama untuk menangkal bakteri tersebut.

“Udara itu bakterinya komplet, kalau dalam kondisi tidak imun, orang pasti bisa sakit. Intinya jangan sampai nggak imunisasi, udah itu saja, kalau kebal nggak akan kena,” paparnya.

Menurut dia, gejala terkena difteri bisa dikenali sejak awal. Yakni ada keluhan panas, sulit menelan, sakit tenggorokan, dan agak sesak napas. Jika menemukan tanda-tanda itu masyarakat diimbau segera berobat.

”Karena selaput putih lama-lama bisa memenuhi amandel lalu tidak bisa bernapas, terpaksa leher dibolong agar bisa bernapas. Yang bahaya racunnya bisa menyebar ke jantung dan otak,” katanya menjelaskan.

Difteri adalah salah satu jenis penyakit menular dan cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Difteri, akan menyumbat saluran pernapasan atas atau toksinnya yang bersifat “pathogen” yang bisa menimbulkan komplikasi seperti gagal nafas. 

Bagi penderita difteri biasanya masa inkubasi yaitu antara 2 hingga 6 hari. Oleh karena hal yang tidak kalah penting mengantisipasi difteri adalah melakukan imunisasi DPT yang kurang dari satu tahun selama tiga kali, boster umur 2 tahun, masuk SD, dan kelas lima.

Editor : Ali Muntoha

Apa Itu Penyakit Difteri? Ini Penjelasan Dinkes Jepara

Ekspresi salah satu anak saat disuntik imunisasi . (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Temuan kasus difteri di 20 provinsi meningkat. Provinsi Jawa Tengah menjadi satu di antara wilayah yang melaporkan temuan penyakit tersebut. Di Jepara tahun ini belum ditemukan kasus difteri positif. 

Meskipun demikian, Bumi Kartini pernah punya riwayat temuan kasus difteri pada tahun 2014. Satu orang positif terkena difteri, walaupun diketahui selanjutnya orang tersebut bukan berasal dari Jepara. 

Baca: Tak Ditemukan Kasus Difteri, Dinkes Jepara Tetap Siaga

Lalu apa sebenarnya penyakit difteri itu? Dan Bagaimana pencegahannya?

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jepara M. Fakhrudin mengemukakan, penyakit itu menyerang sistem pernapasan. Adapun penyebabnya adalah kuman Corynebacterium diptheriae. 

Tanda-tanda penyakit ini adalah demam, munculnya selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan. 

Disamping itu, disertai kesulitan waktu menelan, dan terkadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembekakan jaringan lunak leher. Gejala lain yang dapat muncul ialah sesak napas dan suara mengorok.

“Penyakit ini acapkali menyerang anak-anak. Maka dari itu lengkapilah tahapan imunisasinya,” katanya, Selasa (5/12/2017). 

Sementara itu untuk menghindari penularan, ia menyarankan memai masker. Hal itu karena penyakit itu menular melalui udara. 

“Selain itu jagalah kesehatan dan kebersihan. Makan makanan yang bergizi dan disertai dengan olahraga,” urainya.

Tahun 2017, Dinkes Jepara belum menemukan kasus Difteri. Akan tetapi, pihaknya sempat mendapat laporan akan warga yang diduga difteri. 

“Akan tetapi saat diperiksa, yang bersangkutan tak terbukti terkena difteri. Terakhir ada temuan kasus positif tahun 2014, yang bersangkutan mondok di Jepara, tapi aslinya orang Surabaya. Nah saat pulang dan kembali ke pondok ia sudah terkena difteri” tutup Fakhrudin. 

Editor: Supriyadi

Tak Ditemukan Kasus Difteri, Dinkes Jepara Tetap Siaga

Salah seorang petugas kesehatan melakukan suntik imunisasi, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus Difteri dilaporkan meningkat di 95 Kabupaten/Kota dari 20 Provinsi di Indonesia. Hal ini sesuai dengan data yang dimiliki Kementrian Kesehatan RI. Diantara provinsi yang melaporkan adanya temuan difteri, satu diantaranya adalah Jateng, lalu bagaimana di Kabupaten Jepara?

Hal tersebut MuriaNewsCom, konfirmasikan kepada M. Fakhrudin Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakita Dinas Kesehatan Jepara. Ia menyatakan hingga dengan bulan Desember, belum ada temuan dan laporan warga yang terjangkit Difteri.

“Di Jepara tak ada kasus Difteri, terakhir ada kasus positif difteri pada tahun 2014. Itupun bukan warga asli Jepara. Yang bersangkutan adalah santri asal Surabaya. Nah ketika ia pulang ke daerahnya, dan kembali lagi ke pondok pesantrennya ia sudah terkena difteri,” ujarnya, Selasa (5/12/2017). 

Meskipun demikian, pada tahun 2015 dan tahun 2017, Dinas Kesehatan Jepara sempat menemukan orang yang terduga terserang difteri. Namun setelah dilakukan pemeriksaan intensif yang bersangkutan dinyatakan negatif. 

Terkait meningkatnya kasus difteri di Indonesia. Pihaknya pun tak tinggal diam. Dinkes Jepara memastikan menyiagakan petugas lapangan untuk menemukan atau menerima laporan terkait penyakit tersebut. 

Hal itu karena, meskipun imunisasi terhadap penyakit yang disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae itu telah dilakukan, akan tetapi masih muncul celah. Diantaranya warga pendatang dari luar Jepara. 

“Tahun 2015 ada satu terduga begitupula tahun ini (2017) ada satu terduga, warga Mayong. Namun semuanya dinyatakan negatif. Untuk Jepara imunisasi khususnya balita sudah dilakukan dan mencapai tingkat Universal Coverage (capaian keseluruhan). Namun masih dimungkinkan terjadi bilamana ada faktor pendatang dari luar. Atau warga Jepara yang waktu diadakan imunisasi berada di luar daerah,” tuturnya.

Terakhir ia meminta warga Jepara untuk senantiasa waspada dan menjaga kesehatan. Selain menjaga pola hidup sehat, hendaknya memakai masker jika sedang batuk atau berdekatan dengan orang yang sakit. 

“Selain itu lakukanlah imunisasi dengan lengkap termasuk DPT dan DT,” pungkas Fakhrudin.

Editor: Supriyadi