Banjarejo Grobogan, Desa Fosil yang Terus Ngehits

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

PERSOALAN pariwisata yang kurang tergarap, atau setengah hati dipedulikan, kerap terjadi di sejumlah daerah. Biasanya, ribuan alasan mengemuka dan akan dibenturkan dengan keterbatasan. Khususnya cara dan bagaimana suatu objek wisata bisa dikembangkan.

Tapi itu tidak berlaku bagi wilayah yang pintar. Wilayah yang cerdas mengembangkan potensinya menjadi nilai wisata dan menguntungkan. Untung untuk warga, untung untuk pengelola, dan untung pula bagi pemerintah kabupatennya.

Di antaranya adalah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Berkat kreativitas yang tiada henti, Banjarejo menjelma menjadi desa wisata yang bikin penasaran masyarakat. Pentolan warganya adalah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Lewat tangan dinginnya, dan dukungan warga, upaya pengembangan wisata nan kreatif pun dilakukan. Selain desa ini punya potensi yang menjual, pengemasan menarik pun juga ditempuh.

Alhasil, nama desa ini kian diperhitungkan sebagai objek wisata kekinian. Desa Banjarejo dulunya tak begitu dikenal. Beberapa waktu terakhir, di desa ini kerap ditemukan benda purbakala. Satu di antaranya adalah ditemukannya fosil gajah purba stegodon. Gajah purba yang diperkirakan pernah hidup di Banjarejo dua juta tahun lalu pun meninggalkan jejaknya.

Stegodon adalah gajah purba raksasa yang hidup di masa Pleistosen. Fosil gajah purba yang ditemukan adalah kepala, rahang, kaki, dan gading. Fosil itu tersimpan rapi di rumah milik Taufik. Rumah kades tersebut kini jadi museum dadakan. Fosil gading berukuran 2,83 meter jadi hal yang mengundang perhatian. Selain juga ada fosil kepala kerbau raksasa, yang ukurannya bikin penasaran warga.

Lantas, apakah warga puas punya museum dadakan? Tidak. Warga mengemas wisata dengan elegan. Kades melakukan survei ke sejumlah tempat, seperti di Magelang dan Sleman DIY. Hasilnya, ide cerdas pun dibawa. Singkatnya, warga menyediakan areal cantik untuk berfoto. Dengan segala modifikasi ciamik, mereka ingin memanjakan wisatawannya. Tentu ini jadi surga bagi mereka yang berhobi foto selfie atau swafoto.

Selain ditempatkan di rumahnya yang jadi museum, photobooth juga disediakan di lokasi wisata alam bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran. Tempat pengeboran minyak tersebut, sekarang ini jadi salah satu favorit pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo. Lokasi lainnya adalah di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda. Lokasi Buran ini menarik dan unik. Sekarang, banyak pengunjung yang minta diantar kesana setelah melihat koleksi benda bersejarah di museum.

Tak heran jika masa libur tiba, Desa Wisata Banjarejo selalu mengundang daya tarik pengunjung. Seperti libur Imlek, beberapa hari lalu, wisatawan mencapai sekitar 500 orang. Saat Natal dan Tahun Baru 2017 lalu, jumlah wisatawannya mencapai 1.000 orang. Mereka datang dari dalam kota, dalam provinsi, hingga luar provinsi.

Apa yang dilakukan Banjarejo, bisa ditiru dan dimodifikasi di daerah lain. Tanpa bantuan pemerintah, wisatanya tetap bisa maju. Semangat pantang menyerah, dan terus berinovasi, membuat desa wisata dikenal dengan sendirinya. (*)