Desa Banjarejo Akhirnya Resmi Ditetapkan jadi Desa Wisata di Grobogan

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama perwakilan FKPD memukul lesung sebagai tanda diresmikannya Banjarejo sebagai Desa Wisata, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama perwakilan FKPD memukul lesung sebagai tanda diresmikannya Banjarejo sebagai Desa Wisata, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya berbagai pihak untuk menjadikan Banjarejo sebagai salah satu desa wisata di Grobogan akhirnya terwujud. Penetapan Desa Wisata Banjarejo ini dilakukan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Kamis (27/10/2016). Acara grand launching Desa Wisata Banjarejo ini dilangsungkan di balai desa setempat.

Selain bupati, peresmian desa wisata juga dihadiri Wakapolres Grobogan Kompol Wahyudi, Ketua DPRD Agus Siswanto dan perwakilan FKPD lainnya. Acara peresmian juga dihadiri hampir semua kepala SKPD, Muspika Gabus, Muspika Ngaringan dan Kepala Desa se-Kecamatan Gabus. Terlihat pula pejabat dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dalam kesempatan itu.

Acara peresmian Desa Wisata Banjarejo ditandai dengan pemukulan drum oleh Sri Sumarni. Kemudian dilanjutkan dengan pemukulan lesung oleh bupati dan jajaran FKPD yang hadir dalam acara tersebut.

Saat menyampaikan sambutan, Sri Sumarni menyatakan, selaku bupati, dia mendukung penuh dijadikannya Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sebagai salah satu desa wisata. Sebab, potensi yang ada di sana memang layak dipromosikan untuk mendatangkan wisatawan.

“Potensi di Banjarejo, khususnya penemuan benda purbakala dan cagar budaya tidak terdapat di desa lainnya di Grobogan. Oleh sebab itu, potensi tersebut sangat layak dijadikan salah satu andalan pariwisata Grobogan pada masa mendatang. Oleh sebab itu, saya mendukung penuh dijadikannya Banjarejo sebagai desa wisata,” kata Sri Sumarni.

Dalam kesempatan itu, Sri berjanji akan membantu menyiapkan sarana pendukung. Terutama, perbaikan akses jalan menuju Desa Banjarejo supaya memudahkan bagi pengunjung yang akan datang ke sana.

“Beberapa ruas jalan menuju Banjarejo masih ada yang kurang bagus kondisinya. Nanti, perbaikan jalan itu akan kita prioritaskan untuk meningkatkan roda perekonomian sekaligus menunjung desa wisata,” katanya.

Editor : Kholistiono

Desanya jadi Destinasi Wisata, Kades Banjarejo Digeruduk Nenek-nenek, Lho Ada Apa?

Sejumlah ibu-ibu di Desa Banjarejo sedang berlatih tradisi kotekan lesung dengan semangat, Jumat (21/10/2016) (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah ibu-ibu di Desa Banjarejo sedang berlatih tradisi kotekan lesung dengan semangat, Jumat (21/10/2016) (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Ada cerita menarik dengan ditetapkannya Desa Banjarejo sebagai salah satu desa wisata di Grobogan. Ada belasan nenek-nenek yang mendadak mendatangi rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Jumat (21/10/2016).

Tujuannya mereka bukan untuk unjuk rasa. Tetapi meminta agar mereka dilibatkan dalam melestarikan tradisi kotekan lesung yang saat ini sedang digagas oleh kepala desanya.

“Jadi ceritanya, saya memang dalam dua hari terakhir meminta beberapa ibu-ibu untuk berlatih kotekan pakai lesung. Ternyata, simbah-simbah ini antusias untuk ikut berpartisipasi karena mereka dulunya sudah biasa melakukan tradisi ini. Tentu saja, saya sangat senang dengan antusias masyarakat yang mendukung dijadikannya desa ini sebagai desa wisata,” kata Taufik.

Menurut Taufik, sebagai salah satu upaya mendukung desa wisata, beberapa kesenian tradisional rencananya akan dihidupkan lagi. Tradisi ini salah satunya akan diperlihatkan ketika nanti ada pengunjung dari luar daerah yang datang ke Banjarejo.

Lantaran sudah lama menghilang, maka untuk mempertontonkan tradisi tersebut perlu dilakukan latihan lagi. “Saat launching desa wisata, tradisi ini rencananya akan kita suguhkan. Acara launching dijadwalkan 27 Oktober di Balai Desa Banjarejo,” jelasnya.

Upaya untuk melestarikan tradisi kotekan lesung sempat menemui sedikit kendala. Sebab, Taufik sempat kesulitan untuk mendapatkan peralatan pendukungnya. Yakni, lesung dan seperangkat alu atau tongkat penumbuk.

“Setelah cari beberapa hari akhirnya ada warga yang masih punya. Kalau dulu hampir semua rumah punya lesung dan alu. Setelah ada ricemill atau selep, keberadaan lesung dan alu ini sudah susah dicari karena banyak yang sudah dijual pada pencari barang antik,” sambung Taufik.

Taufik menambahkan, proses latihan kotekan lesung ini hasilnya sudah terlihat menjanjikan. Irama yang keluar sudah lebih enak didengar. Padahal, dalam latihan itu tidak ada instruktur khusus yang memberikan bimbingan.“Doakan saja latihannya bisa lancar dan siap ditampilkan saat launching nanti,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Biar Dapat Wawasan Baru, 2 Kades di Grobogan Diajak Nglencer ke Desa Wisata

Staf Ahli Bupati Grobogan Bidang Pembangunan Wiku Handoyo (baju kuning) memimpin rombongan studi banding desa wisata di Sleman dan Magelang, Rabu (21/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Staf Ahli Bupati Grobogan Bidang Pembangunan Wiku Handoyo (baju kuning) memimpin rombongan studi banding desa wisata di Sleman dan Magelang, Rabu (21/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana Pemkab Grobogan untuk menetapkan Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, dan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sebagai desa wisata terus dimantapkan. Sebelum ditetapkan jadi desa wisata, aparat pemerintahan desa setempat diajak studi banding ke dua desa wisata. Yakni, di Desa Petingsari, Sleman dan Desa Wanurejo, Magelang.

“Kepala Desa Tarub dan Banjarejo hari Rabu (21/09/2016) kemarin, kita ajak studi banding ke desa wisata di Sleman dan Magelang. Kunjungan di sana kita lakukan dari pagi sampai malam,” kata Staf Ahli Bupati Grobogan Bidang Pembangunan Wiku Handoyo.

Menurut Wiku, melalui studi banding itu diharapkan kedua kades bisa mendapat gambaran langsung cara penanganan dan pengelolaan desa wisata. Kemudian, dari kegiatan itu, mereka juga akan mendapatkan ilmu baru dan saling bertukar informasi dengan pengelola desa wisata di Sleman dan Magelang.

“Potensi yang ada di tiap-tiap desa wisata itu kan tidak sama. Jadi, dari studi banding ini diharapkan bisa dapat ide untuk pengembangan desa wisata,” kata mantan Plt Kadisporabudpar Grobogan itu.

Menurut Wiku, kedua desa di Grobogan tersebut akan dijadikan desa wisata, lantaran dinilai punya potensi pariwisata yang bisa diandalkan. Untuk Desa Tarub misalnya, punya potensi wisata religi, karena di situ ada makam tokoh terkenal Ki Ageng Tarub atau semasa mudanya dikenal dengan nama Jaka Tarub.

Selain wisata religi, di desa ini juga punya potensi agrowisata. Sebab, tidak jauh dari lokasi makam tersebut ada perkebunan belimbing yang cukup luas milik warga setempat.

Sedangkan potensi di Desa Banjarejo adalah wisata cagar budaya dan purbakala. Hal ini seiring sudah banyaknya penemuan benda cagar budaya masa lampau dan fosil binatang purba yang usianya jutaan tahun.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku sudah mendapatkan banyak manfaat dari studi banding yang dilakukan di Sleman dan Magelang tersebut. Menurutnya, banyak hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

“Saya senang sekali diajak studi banding ke desa wisata karena banyak ilmu baru yang didapat. Terlebih, pengelola desa wisata di Magelang ternyata suami dari teman saya sewaktu SMA. Jadi, ke depan saya bisa lebih mudah menjalin koordinasi dan minta masukan untuk mengembangkan potensi wisata di Banjarejo,” katanya.

Editor : Kholistiono

Maksimalkan Potensi Pariwisata, 2 Desa di Grobogan Bakal Dijadikan Desa Wisata

Tim pembentukan desa wisata saat meninjau aneka benda purbakala di Desa Banjarejo beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim pembentukan desa wisata saat meninjau aneka benda purbakala di Desa Banjarejo beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dua desa di Grobogan rencananya bakal dijadikan desa wisata. Yakni, Desa Tarub di Kecamatan Tawangharjo, dan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Hal itu disampaikan Staf Ahli Bupati Grobogan Bidang Pembangunan Wiku Handoyo, Rabu (21/09/2016).

Menurut Wiku, kedua desa tersebut akan dijadikan desa wisata, lantaran dinilai punya potensi pariwisata yang bisa diandalkan. Untuk Desa Tarub misalnya, punya potensi wisata religi, karena di situ ada makam tokoh terkenal Ki Ageng Tarub atau semasa mudanya dikenal dengan nama Jaka Tarub.

Selain wisata religi, di desa ini juga punya potensi agrowisata. Sebab, tidak jauh dari lokasi makam tersebut ada perkebunan belimbing yang cukup luas milik warga setempat. “Selama ini, peziarah yang datang ke makam Ki Ageng Tarub maupun ke lokasi agrowisata di situ sudah cukup banyak. Nantinya, potensi ini akan kita kembangkan lebih lanjut agar pengunjung makin bertambah,” kata mantan Plt Kadisporabudpar tersebut.

Sedangkan potensi di Desa Banjarejo adalah wisata cagar budaya dan purbakala. Hal ini seiring sudah banyaknya penemuan benda cagar budaya masa lampau dan fosil binatang purba yang usianya jutaan tahun.

Sejak dua tahun terakhir, nama Banjarejo memang sudah dikenal banyak orang lantaran penemuan aneka benda kuno tersebut. Indikasinya, sejak dua tahun terakhir, sudah ada ribuan pengunjung yang datang ke sana untuk melihat penemuan benda bersejarah yang tersimpan di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

“Potensi wisata cagar budaya di Banjarejo ini sangat luar biasa. Sebab, dari keterangan para ahli, ada banyak peradaban yang pernah hidup di situ. Oleh sebab itu, potensi ini juga layak kita kembangkan,” jelasnya.

Masih dikatakan Wiku, saat ini, Grobogan baru punya satu desa wisata yang baru diresmikan awal September lalu. Yakni, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan yang punya potensi wisata alam.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, pihaknya sudah didatangi tim pembentukan desa wisata beberapa hari lalu. Pada prinsipnya, dia menyambut positif jika Desa Banjarejo ditetapkan jadi desa wisata cagar budaya.

“Selaku kepala desa, saya sangat mendukung kebijakan tersebut karena inilah yang kita harapkan. Hanya saja, konsep desa wisata nanti harus dibuat sebaik mungkin sehingga potensi wisata di sini bisa dimaksimalkan,” katanya.

Editor : Kholistiono