Khawatir Pondasi Kuno Ditutup, Ribuan Warga Bergegas Datang ke Desa Banjarejo

Pondasi Kuno (e)

Ribuan warga berbondong-bondong mengunjungi lokasi penemuan bangunan kuno dari tatanan batu bata di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kabar bakal ditutupnya lokasi penemuan bangunan kuno dari tatanan batu bata di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus ternyata mendapat respon luar biasa. Indikasinya, sepanjang hari tadi, Minggu (8/11/2015) ribuan orang dari berbagai daerah berdatangan ke lokasi penemuan bangunan yang diyakini ada hubungannya dengan Kerajaan Medang Kamulan itu.

”Saya baca berita bakal ditutupnya lokasi bangunan kuno lewat facebook. Makanya, hari ini saya sempatkan ke sini bersama keluarga untuk melihat bangunan kuno yang kabarnya merupakan pagar batas Kerajaan Prabu Dewata Cengkar,” ungkap Budiman, warga Semarang saat ditemui di lokasi bangunan kuno di areal sawah Dusun Nganggil itu.

Dibandingkan hari-hari sebelumnya, jumlah orang yang datang untuk melihat penemuan benda bersejarah hari Minggu tadi barangkali mencapai puncaknya. Sebab, sejak subuh hingga menjelang senja, masih banyak kendaraan, baik roda empat maupun sepeda motor yang keluar masuk Desa Banjarejo. Selain dari arah Kecamatan Kradenan, pengunjung juga datang dari arah Kecamatan Ngaringan.

”Suasana Desa Banjarejo hari ini benar-benar rejo alias ramai. Kalau dihitung, lebih dari seribu orang yang datang sepanjang hari ini. Kondisinya ramai seperti biasanya hanya terjadi saat lebaran saja,” terang Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Selain melihat lokasi penemuan bangunan mirip pondasi, pengunjung juga melihat beberapa lokasi penemuan benda kuno lainnya. Yakni, yoni batu yang ada di utara lokasi bangunan kuno dan peti mati kayu di sisi timur.

Disamping itu, tempat lain yang juga didatangi pengunjung adalah bekas pasujudan Prabu Aji Saka di Dusun Medang Kamulan. Lokasi ini pasti dilalui pengunjung yang akan melihat pondasi kuno dari arah Dusun Medang Kamulan. Sementara pengunjung yang melihat bangunan kuno dari arah Dusun Nganggil tidak melewati bekas Pasujudan Aji Saka, karena terhalang areal sawah.\

”Sejak ada penemuan bangunan kuno, tempat pasujudan Aji Saka juga ikut ramai pengunjung. Karena satu rute maka sebagian pengunjung memang menyempatkan mampir kesini sekalian,” ujar Busroni, Juru Kunci pasujudan Aji Saka. (DANI AGUS/TITIS W)