Puluhan Guru Sejarah SMA di Grobogan Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo, Ini Komentar Mereka

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyampaikan penjelasan kepada guru sejarah SMA saat melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di tempatnya, Kamis (17/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyampaikan penjelasan kepada guru sejarah SMA saat melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di tempatnya, Kamis (17/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan-Luar Biasa. Itulah ungkapan yang dilontarkan para guru sejarah SMA di Grobogan usai melihat langsung beragam penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kamis (17/11/2016).

“Koleksi yang ada di Banjarejo memang luar biasa. Kami dapat banyak pengetahuan dari kunjungan yang kita lakukan bersama rekan-rekan hari ini di Banjarejo,” kata Ketua MGMP Sejarah SMA Prayitno Slamet.

Menurut Prayitno, sebenarnya jumlah guru sejarah SMA yang jadi anggota MGMP sebanyak 50 orang akan ikut semuanya. Tetapi, karena ada tugas lain yang tidak bisa ditinggalkan, hanya 27 orang ikut dalam kunjungan ke Banjarejo.

“Teman-teman yang lainnya nanti akan ke sini di lain kesempatan. Sementara baru 27 orang yang bisa ikut ke sini hari ini,” kata guru sejarah di SMAN 1 Godong itu.

Prayitno menyatakan, koleksi yang ada di Banjarejo dinilai cukup komplit. Selain jumlahnya banyak dan jenisnya beragam, koleksi di tempat tersebut berasal dari berbagai zaman. Mulai prasejarah, Hindu-Budha dan awal masuknya Islam.

Di samping itu, penataan koleksi juga sudah dilakukan dengan baik. Sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat karena benda purbakala dan cagar budaya sudah dipisahkan tempatnya.

Selain itu, pendataan tentang benda penemuan juga dinilai sangat bagus. Dengan adanya data ini, pengunjung bisa dengan mudah mengetahui informasi tentang benda tersebut.

“Satu lagi, penjelasan yang disampaikan Pak Kades Ahmad Taufik juga makin melengkapi informasi yang dibutuhkan. Kami mengucapkan terima kasih pada Pak Kades atas perhatian dan kerja samanya,” kata Prayitno.

Menurutnya, banyaknya penemuan di Banjarejo itu dinilai suatu aset dan karunia yang tidak ternilai harganya. Dengan adanya penemuan itu, di sisi lain memang bisa dijadikan sarana edukasi bagi banyak pihak. Terutama para pelajar.

“Koleksi di Banjarejo bisa kita jadikan pelengkap dari pelajaran teori. Apa yang kita dapat dari sana akan kita aplikasikan pada anak didik. Ke depan, kita juga akan mengupayakan untuk mengajak siswa berkunjung sekaligus belajar di Banjarejo,” cetusnya.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku bangga dengan adanya kunjungan guru sejarah SMA untuk melihat aneka koleksi benda peninggalan masa lampau tersebut. Sebelumnya, Taufik memang berharap agar koleksi yang saat ini tersimpan di rumahnya bisa jadi sarana edukasi para pelajar. Selain koleksinya banyak ragamnya, keberadaan benda bersejarah seperti itu juga jarang ditemukan didaerah lainnya.

“Koleksi benda penemuan yang ada saat ini sudah memadai karena jumlahnya lebih dari 500. Ini bisa jadi sarana untuk pendidikan siswa tentang adanya sebuah kehidupan maupun peradaban di masa lampau. Salah satu pihak yang pas untuk melakukan upaya edukasi ini adalah sekolah-sekolah. Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan istimewa dari para guru sejarah ini,” katanya.

Sejauh ini, sambung Taufik, memang sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang berkunjung ke ‘Museum Banjarejo’ untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah. Namun, sebagian besar masih sekolah di sekitar wilayah Banjarejo. Diharapkan, langkah ini juga bisa diikuti oleh sekolah lainnya yang ada di wilayah Grobogan. Baik dari level SD, SMP, SMA dan SMK.

“Banyaknya penemuan benda bersejarah di sini merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal, rasanya eman-eman (sayang),” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Pihak Sekolah Diminta Manfaatkan Benda Purbakala yang Ditemukan di Banjarejo untuk Sarana Edukasi

Kades Banjarejo Ahmad Taufik (kiri) saat bertemu dengan Kepala Sekolah SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat (tengah) dan Kepala Sekolah SMAN 1 Karangrayung Denny Rachmadi, kemarin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik (kiri) saat bertemu dengan Kepala Sekolah SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat (tengah) dan Kepala Sekolah SMAN 1 Karangrayung Denny Rachmadi, kemarin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya untuk mengembangkan Banjarejo yang sudah ditetapkan jadi desa wisata terus dilakukan. Salah satunya dengan menjajaki kerja sama dengan sekolah supaya bisa memanfaatkan koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang sudah ditemukan, sebagai sarana edukasi siswa.

“Koleksi benda penemuan yang ada saat ini sudah memadai karena jumlahnya lebih dari 500. Ini bisa jadi sarana untuk pendidikan siswa tentang adanya sebuah kehidupan maupun peradaban di masa lampau. Salah satu pihak yang pas untuk melakukan upaya edukasi ini adalah sekolah-sekolah,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik saat bertemu dengan Kepala SMAN 1 Purwodadi Amin Hidayat, Senin (7/11/2016).

Sejauh ini, memang sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang berkunjung ke ‘Museum Banjarejo’ untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah. Namun, sebagian besar masih sekolah di sekitar wilayah Banjarejo.

“Untuk itulah, mumpung tadi ada rapat di pemkab, saya sempatkan silaturahmi sekalian ke SMAN 1 Purwodadi. Kita harapkan, sekolah-sekolah dari kota juga bersedia mengajak siswanya ke Banjarejo. Nantinya, selain langsung dengan sekolah, kita juga akan berkoordinasi lebih lanjut dengan dinas pendidikan,” jelas Taufik.

Dalam kesempatan itu, Taufik juga sempat menunjukkan foto dokumentasi benda bersejarah yang untuk sementara tersimpan di rumahnya. Mulai benda zaman megalitikum dan peninggalan masa lalu yang diyakini jadi warisan Kerajaan Medang Kamulan. Kemudian, foto benda purbakala dari ukuran kecil sampai raksasa juga diperlihatkan.

Harapan yang disampaikan Taufik tersebut mendapat respon positif dari Amin Hidayat. Menurut Amin, pihaknya sangat mendukung upaya edukasi terhadap aneka koleksi benda bersejarah di Banjarejo tersebut.

“Meski belum sempat ke sana, tetapi saya sering menyimak pemberitaan masalah penemuan benda bersejarah di Banjarejo. Saya rasa, cukup pantas kalau benda bersejarah itu dijadikan sarana edukasi bagi siswa,” kata Amin.

Selain Amin, dukungan untuk menjadikan benda bersejarah di Banjarejo sebagai sarana edukasi juga dilontarkan Kepala SMAN 1 Karangrayung Denny Rachmadi. Kebetulan, Taufik dan Denny datang hampir berbarengan untuk bertemu Amin Hidayat di ruang kerjanya.

“Koleksi benda bersejarah di sana ternyata sangat banyak dan beragam jenisnya. Ini, memang cukup layak untuk dijadikan sarana edukasi bagi para pelajar,” kata Denny.

Editor : Kholistiono

Desanya jadi Destinasi Wisata, Kades Banjarejo Digeruduk Nenek-nenek, Lho Ada Apa?

Sejumlah ibu-ibu di Desa Banjarejo sedang berlatih tradisi kotekan lesung dengan semangat, Jumat (21/10/2016) (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah ibu-ibu di Desa Banjarejo sedang berlatih tradisi kotekan lesung dengan semangat, Jumat (21/10/2016) (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Ada cerita menarik dengan ditetapkannya Desa Banjarejo sebagai salah satu desa wisata di Grobogan. Ada belasan nenek-nenek yang mendadak mendatangi rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Jumat (21/10/2016).

Tujuannya mereka bukan untuk unjuk rasa. Tetapi meminta agar mereka dilibatkan dalam melestarikan tradisi kotekan lesung yang saat ini sedang digagas oleh kepala desanya.

“Jadi ceritanya, saya memang dalam dua hari terakhir meminta beberapa ibu-ibu untuk berlatih kotekan pakai lesung. Ternyata, simbah-simbah ini antusias untuk ikut berpartisipasi karena mereka dulunya sudah biasa melakukan tradisi ini. Tentu saja, saya sangat senang dengan antusias masyarakat yang mendukung dijadikannya desa ini sebagai desa wisata,” kata Taufik.

Menurut Taufik, sebagai salah satu upaya mendukung desa wisata, beberapa kesenian tradisional rencananya akan dihidupkan lagi. Tradisi ini salah satunya akan diperlihatkan ketika nanti ada pengunjung dari luar daerah yang datang ke Banjarejo.

Lantaran sudah lama menghilang, maka untuk mempertontonkan tradisi tersebut perlu dilakukan latihan lagi. “Saat launching desa wisata, tradisi ini rencananya akan kita suguhkan. Acara launching dijadwalkan 27 Oktober di Balai Desa Banjarejo,” jelasnya.

Upaya untuk melestarikan tradisi kotekan lesung sempat menemui sedikit kendala. Sebab, Taufik sempat kesulitan untuk mendapatkan peralatan pendukungnya. Yakni, lesung dan seperangkat alu atau tongkat penumbuk.

“Setelah cari beberapa hari akhirnya ada warga yang masih punya. Kalau dulu hampir semua rumah punya lesung dan alu. Setelah ada ricemill atau selep, keberadaan lesung dan alu ini sudah susah dicari karena banyak yang sudah dijual pada pencari barang antik,” sambung Taufik.

Taufik menambahkan, proses latihan kotekan lesung ini hasilnya sudah terlihat menjanjikan. Irama yang keluar sudah lebih enak didengar. Padahal, dalam latihan itu tidak ada instruktur khusus yang memberikan bimbingan.“Doakan saja latihannya bisa lancar dan siap ditampilkan saat launching nanti,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Begini Sikap Bupati Grobogan Terkait Upaya Pengembangan Desa Wisata Banjarejo

Kades Banjarejo Ahmad Taufik memperlihatkan foto dan video koleksi penemuan benda bersejarah yang tersimpan di handphonenya pada Bupati Grobogan Sri Sumarni (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik memperlihatkan foto dan video koleksi penemuan benda bersejarah yang tersimpan di handphonenya pada Bupati Grobogan Sri Sumarni (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni mendukung penuh dijadikannya Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sebagai salah satu desa wisata. Sebab, potensi yang ada di sana memang layak dipromosikan untuk mendatangkan wisatawan.

“Potensi di Banjarejo, khususnya penemuan benda purbakala dan cagar budaya memang luar biasa. Ini, layak dijadikan salah satu andalan pariwisata Grobogan pada masa mendatang. Oleh sebab itu, saya mendukung penuh dijadikannya Banjarejo sebagai desa wisata,” kata Sri Sumarni, saat mengadakan pertemuan dengan Kades Banjarejo Ahmad Taufik di ruang kerjanya, Rabu (12/10/2016).

Selain Taufik, ada dua pejabat lainnya yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Yakni, Staff Ahli Bupati Bidang Pembangunan Wiku Handoyo dan Kabag Humas Ayong Muctarom.

Dalam kesempatan itu, Sri berjanji akan membantu menyiapkan sarana pendukung. Terutama, perbaikan akses jalan menuju Desa Banjarejo supaya memudahkan bagi pengunjung yang akan datang ke sana.

“Beberapa ruas jalan menuju Banjarejo masih ada yang kurang bagus kondisinya. Nanti, perbaikan jalan itu akan kita prioritaskan untuk meningkatkan roda perekonomian sekaligus menunjung desa wisata,” katanya.

Mantan Ketua DPRD Grobogan itu juga berpesan kepada Ahmah Taufik agar merawat penemuan benda bersejarah dengan baik. Sri juga meminta agar selalu berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya terkait pengembangan desa wisata. Seperti dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Balai Arkeologi Jogjakarta, Tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Sri sempat diperlihatkan foto dan video koleksi penemuan benda bersejarah yang tersimpan di handphone Ahmad Taufik. Sri terlihat serius menyimak puluhan foto dan beberapa dokumen video penemuan benda bersejarah tersebut.

Sementara itu, usai bertemu dengan orang nomor satu di Pemkab Grobogan tersebut, Kades Ahmad Taufik mengaku lega. Sebab, dengan adanya dukungan itu membuatnya makin bersemangat untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di desanya.

“Setelah mendengar penjelasan bupati tadi, saya merasa plong. Semoga saya bisa mengemban amanah untuk mengembangkan potensi wisata di Banjarejo. Mohon dukungannya juga dari rekan-rekan media,” katanya.

Editor : Kholistiono

Sendang Biru di Banjarejo Belum Bisa Dimaksimalkan Potensinya, Ini Kendalanya

Sejumlah pekerja sedang membuat tembok di sekeliling lokasi sendang biru Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pekerja sedang membuat tembok di sekeliling lokasi sendang biru Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Fenomena munculnya sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata belum bisa dimaksimalkan untuk bidang pariwisata. Hal itu disampaikan Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, ada beberapa kendala yang menyebabkan potensi sendang biru itu tidak bisa digarap lebih lanjut. Yakni, soal lahan di kawasan sendang yang milik perorangan. Sendang ini berada di lahan sawah milik Karno, warga yang tinggal Dusun Peting.

“Sebenarnya, kalau sendang biru ini bisa diperluas, maka jadi tambah indah dan menarik. Namun, hal ini cukup sulit kita lakukan, karena lahannya milik perorangan. Kalau lahannya milik desa, barangkali agak mudah kalau mau kita bikin inovasi lebih lanjut,” katanya.

Menurut Taufik, ada alternatif lain yang bisa dilakukan agar sendang itu bisa dimaksimalkan potensinya. Yakni, melakukan proses tukar guling lahan sendang dengan banda desa.

Namun, proses ini tidak bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Sebab, banyak tahapan yang harus dilakukan dan prosesnya sampai ke level Pemprov Jateng untuk urusan tukar guling lahan.

Upaya yang dilakukan saat ini adalah memperlebar lokasi sendang. Yakni, dari ukuran semula 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter sekarang jadi 4 x 8 meter dengan kedalaman hampir 5 meter. Kemudian, membuat tembok di sekeliling sendang.

Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air khususnya untuk menghadapi musim kemarau. Sebab, wilayah Desa Banjarejo termasuk tandus dan sulit mendapatkan air saat kemarau datang. Nantinya, air yang ada di sendang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan warga dan mengairi tanaman di sawah.

“Untuk tahap awal, baru ini yang bisa kita lakukan. Mengenai rencana jangka panjang nanti kita pikirkan lebih lanjut dan kita akan berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya,” katanya.

Seperti diketahui, sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting. Mata air sebelumnya ukurannya hanya 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air khususnya untuk menghadapi musim kemarau.

Proyek pelebaran mata air yang berada di sawah milik Karno (30), dimulai Jumat (16/09/2016). Untuk mempercepat pekerjaan, pelebaran mata air dilakukan menggunakan dua alat berat jenis backhoe.

Selama sehari penuh, komplek mata air berhasil diperlebar dengan ukuran 4 x 8 meter membujur dari arah barat ke timur. Selain diperluas, kedalamannya juga ditambah jadi 5 meter.Keesokan harinya, Sabtu (17/9/2016), baru terjadi kehebohan. Hal ini terjadi setelah kolam yang diperlebar itu terisi air yang warnanya kebiru-biruan.

Editor : Kholistiono