Ini 3 Tuntutan Warga untuk Pemerintah Desa Pasucen Pati

Sejumlah warga melakukan orasi di Balai Desa Pasucen, Kamis (25/8/2016), menuntut agar Pemdes Pasucen transparan dalam menggunakan anggaran dan tidak nepotisme dalam pemilihan sekdes. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga melakukan orasi di Balai Desa Pasucen, Kamis (25/8/2016), menuntut agar Pemdes Pasucen transparan dalam menggunakan anggaran dan tidak nepotisme dalam pemilihan sekdes. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan warga Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati menggelar aksi demo di Balai Desa Pasucen, Kamis (25/8/2016). Aksi tersebut menjadi luapan kemarahan warga karena pemerintah desa dianggap tidak transparan dalam mengelola anggaran, termasuk pemilihan sekretaris desa.

Ada tiga tuntutan yang diajukan warga untuk Pemdes Pasucen. Pertama, mereka menuntut agar pemdes tidak menghilangkan tradisi sedekah bumi atau bersih desa yang sudah lama dilakukan warga secara turun temurun.

Kedua, warga menuntut agar pemdes transparan dalam mengelola dana desa, mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan dan pengawasan dana desa.Ketiga, warga meminta kejelasan pengangkatan sekretaris desa yang ditutup-tutupi dan cenderung nepotisme.

“Kami warga desa yang tergabung dalam Aksi Damai Aliansi Pasucen Bersama melihat secara seksama berbagai permasalahan yang ada di desa kami, mulai dari hilangnya tradisi sedekah bumi, tidak ada transparansi dana desa, serta ketidakjelasan pengangkatan sekdes,” kata Wiwik Hadiyanto, orator aksi damai.

Menanggapi hal itu, Kades Pasucen Ikhwan Rosyadi mengaku akan mempertimbangkan kembali dana untuk sedekah bumi dan pos anggaran untuk Desa Pasucen. Pasalnya, dana yang tidak dicairkan masuk dalam dana Sisa Lebih Pemakaian Anggaran (Silpa).

“Saya sudah tahu karakter warga, kalau sudah diberi penjelasan tentu menerima. Sebab, saya tidak merasa membohongi warga, saya juga transparan, dan bekerja keras demi rakyat. Saya tidak mendzolimi warga,” kata Ikhwan.

Menurutnya, apa yang sudah dilakukan pemdes sudah sesuai dengan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dan tidak menyalahi RAB. Karena itu, bila ada yang perlu dikoreksi, pihaknya mempersilahkan. Hanya saja, dia mengimbau supaya warga tidak menyalahkan semua kinerja pemdes.

Editor : Kholistiono

Tuntut Transparansi Desa, Ratusan Warga Pasucen Pati Demo

Sejumlah warga yang bersiap melakukan aksi demo menuju Balai Desa Pasucen, Trangkil, Kamis (25/8/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga yang bersiap melakukan aksi demo menuju Balai Desa Pasucen, Trangkil, Kamis (25/8/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan warga Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati menggelar aksi demo di Balai Desa Pasucen, Kamis (25/8/2016). Aksi tersebut untuk menuntut transparansi anggaran desa dan mekanisme pengangkatan perangkat desa.

Dalam aksinya, warga memakai alat peraga seperti poster, baner, dan pengeras suara. “Aksi damai, jangan hilangkan tradisi sedekah bumi. Dana anggaran bukan untuk dikorupsikan. Rakyat Sucen berdikari, kami tidak mau dibohongi,” begitu bunyi salah satu tuntutan warga yang ditulis pada alat peraga baner.

Selain itu, warga membawa bendera merah putih dari titik kumpul di pertigaan jalan Desa Pasucen RW IV, kemudian bergerak menuju Balai Desa Pasucen dengan mengendarai kendaraan bermotor. Selama perjalanan, warga berorasi dengan diiringi lagu-lagu perjuangan hingga di balai desa.

Selanjutnya, belasan orang yang mewakili warga masuk ke balai desa untuk melakukan audiensi dengan pemerintah desa. “Kami menuntut keadilan, karena kebijakan pemdes yang tidak seimbang. Selain soal transparansi anggaran desa, kami juga menuntut keadilan karena promosi jabatan sekdes sarat dengan nepotisme. Pemilihan sekdes tidak melalui proses ujian tertulis dan tidak ada sosialisasi,” ujar Koordinator aksi, Adis Sulistyo.

Sedikitnya 37 personel dari kepolisian dan 18 personel anggota TNI diterjunkan untuk melakukan pengamanan terhadap aksi protes warga tersebut. Mereka tampak berjaga-jaga di berbagai sudut untuk mengantisipasi bila ada kemungkinan kerusuhan.

Editor : Kholistiono