Mantan Pilot di Demak Sulap Limbah Jadi Perhiasan yang Dilirik Miss Universe

MuriaNewsCom, Demak – Ershad, mantan pilot di salah satu maskapai penerbangan nasional membanting stir dari dunia pernerbangan ke dunia perhiasan logam. Di kampung halamannya di Mijen Barat, Demak, Ershad memanfaatkan limbah logam yang menumpuk dan disulapnya menjadi perhiasan cantik dengan harga mahal.

Mengumpulkan bahan baku logam dari limbah yang dikumpulkan pemulung, Ershad sukses menyulap limbah menjadi perhiasan dengan harga jual tinggi dan diminati pasar internasional.

Dari ketekunannya, dia berhasil mendirikan usaha logam Zem Silver sekaligus inisiator sentra kerajinan pembuatan souvenir dan perhiasan dari logam di Kabupaten Demak. Awal terjunnya Ershad ke bidang ini karena tertantang dan prihatin melihat warga kampungnya banyak yang menjadi pengangguran.

Usaha ini dimulai lima tahun lalu dengan modal Rp 1 miliar. Berbekal dengan uang modal tersebut, Ershad memulai usaha dengan memberdayakan tetangga kanan-kirinya.

Ia memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat sekitar untuk mengolah limbah logam menjadi perhiasan, wajan, canting, cap batik dan lainnya. Berawal dari usaha pemberdayaan itu, Zem Silver bisa meraup keuntungan sebesar Rp 300 juta perbulan dengan 50 orang pekerja.

Bukan hanya sukses secara usaha, Ershad juga sukses memberdayakan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Tak kurang dari 46 KK di desa ini yang sekarang bisa mandiri dengan usaha kerajinan ini. Sehingga, secara tidak langsung meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja.

“Mereka dari yang tidak punya penghasilan bisa berpenghasilan Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per hari,” beber Ershad.

Kini, proses produksi tidak hanya terpusat di rumahnya yang merangkap sebagai galeri, tetapi juga di rumah warga sekitar. Bahkan dia berharap desanya bisa dikenal sebagai sentra kerajinan logam di Demak.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi  dan UKM Kabupaten Demak Siti Zuarin menyatakan, dua dinas dari Kabupaten Demak yang melakukan pembinaan terhadap usaha logam di Mijen Barat itu. Yakni dinas yang diampunya serta Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian. Berbagai pembinaan dilakukan, termasuk dalam membantu permodalan dari perbankan.

Tidak hanya itu, pihaknya terus berupaya mengikutkan produk UMKM tersebut dalam berbagai pameran UKM. Upaya membantu pemasaran pun dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi dan UKM. Bahkan, produk Zem Silver hampir selalu ada dalam pameran UKM yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah di seluruh Indonesia.

Bahkan setelah dipamerkan pada ajang internasional di Jakarta beberapa waktu lalu, Zem Silver dilirik Galeri Nusantara Jakarta. Bahkan hasil kerajinan Zem Silver akan digunakan di ajang bergengsi Miss Universe.

Perwakilan Galeri Nusantara Jakarta, Adi Wijaya, tak menampik jika permintaan produk Zem Silver sangat tinggi, baik di pasar domestik maupun mancanegara, termasuk diminati untuk ajang Miss Universe.

Kendati begitu, pelaku usaha tersebut mesti lebih memperhatikan kemasannya, sehingga dapat lebih mendongkrak nilai jual produk tersebut.

“Kerajinan ini punya masa depan yang cerah dengan pasar yang terbuka lebar. Rencananya pada Mei dan Juni nanti kami akan ekspansi produk ke Suriname,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ibu di Demak Ini Rela Transplantasi Hati untuk Sembuhkan Anak

Bupati Demak M Natsir menjenguk Yuda, yang menderita kista hati. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Demak – Umi Ati (32), warga Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, berniat melakukan transplantasi hati. Jika cocok ia berkeinginan mencangkokkan hatinya itu kepada anak keduanya Yuda Adi Pradana (6), yang menderita kista hati.

Namun biaya untuk proses pencangkokan hati tidaklah murah, mencapai Rp 500 juta. Proses transpolantasi juga harus dilakukan di RSCM Jakarta. Sementara keluarga itu berasal dari keluarga tak mampu, dan suaminya Toso Rokhim hanya seorang sopir.

Umi mengaku jika dirinya siap lahir batin untuk transplantasi hati demi kesehatan anak keduanya tersebut. Ia menyebut, saat ini buah hatinya mengalami penurunan berat badan yang seharusnya 20 kg, kini hanya 14 kg.

“Anak saya sudah dua tahun ini divonis oleh dokter menderita kista hati dan batu empedu. Dulu sebelum sakit, yuda tubuhnya gemuk, sekarang tinggal 14 kg,” kata Umi.

Ia menyebut, anaknya mulai merasakan sakit akibat penyakit itu sejak dua tahun lalu. Awalnya hanya merasakan mules, namun lama kelamaan perutnya malah semakin membesar. Baru terdeteksi menderita kista hati, sejak satu tahun, setelah diperiksakan ke rumah sakit.

Berbagai macam upaya penyembuhan telah dilakukan. Bahkan kedua orang tuanya sudah puluhan kali keluar masuk rumah sakit membawa Yuda untuk menjalani perawatan medis.

“Yuda sudah dua kali operasi pembersihan hati.  Enam kali rawat inap.  Dan 60 kali rawat jalan di Rumah Sakit Kariadi Semarang,” ujarnya.

Menurutnya, RSUIP dr Kariadi sudah tidak sanggup melakukan tindakan lebih lanjut kepada Yuda dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk dilakukannya transplantasi hati.

Namun karena keterbatasan pembiayaan hingga saat ini kedua orang tua Yuda belum bisa membawanya ke Jakarta. “Transplantasi hati, setidaknya butuh biaya hingga 500 juta lebih.  Saya rela menukar hati ini untuk Yuda anak saya,” ucapnya.

Derita bocah ini didengar Bupati Demak M Natsir yang langsung mengunjungi di rumah bocah itu. Ia menjanjikan siap menanggung semua biaya pengobatan Yuda selama di Jakarta. Namun saat ini masih menunggu adanya donor hati dari para dermawan yang terketuk hatinya.

“Yang nanti dananya dari mana, kita akan usahakan semaksimal mungkin. Sementara ini kita masih menunggu adanya pendonor, ” terang Natsir.

Pemerintah Kabupaten Demak untuk saat ini sudah menyiapkan tempat khusus buat Yusa di Rumah Sakit Sunan Kalijaga Demak. Akan tetapi yang bersangkutan belum bersedia dan memilih untuk tinggal bersama keluarga.

” Yuda tidak mau dibawa ke rumah sakit,  katanya sudah bosan. Ya,  dirawat di rumah saja,  nanti kita minta dokter puskesmas untuk rutin memeriksa kondisi kesehatannya, ” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

34 Warga Demak Disandera di Papua, Pemprov Tak Tinggal Diam

Anggota Timsus Brimob Polda Papua dan sejumlah anggota Polres Tembagapura yang mengintai kelompok kriminal bersenjata di Tembagapura, beberapa waktu lalu. (Humas Polres Papua)

MuriaNewsCom, Semarang – Sebanyak 34 warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, dilaporkan ikut disandera kelompok kriminal bersenjata di Tembagapura, Papua. Pihak kepolisian memastikan 34 nama warga desa itu masuk dalam daftar yang disandera.

Mengetahui informasi ini, Pemprov Jateng memastikan tidak akan tinggal diam. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan, pihaknya dan Pemkab Demak siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Menurut Ganjar, saat ini proses negosiasi tengah dilakukan oleh pihak kepolisian dan TNI. Sehingga pihaknya terus memantau perkembangan yang ada.

“Kita pantau terus, kan militer sedang bertindak. Ya tentu kalau sudah posisi seperti itu militer yang maju. Tapi kita akan pantau terus,” kata Ganjar.

Tidak hanya memantau, pemerintah daerah juga akan sigap jika dibutuhkan tindakan dari daerah asal para korban penyanderaan.

Namun hingga kini pemerintah daerah belum bisa melakukan apa-apa karena aparat masih berusaha bernegosiasi, bahkan para pelaku belum mengungkapkan tuntutannya. “Jika dibutuhkan tindakan dari pemprov atau pemkab, kita akan sampaikan,” tandas Ganjar.

Warga Demak yang disandera merupakan perantauan di Banti, Tembagapura. Kontak dengan keluarga selalu terjalin dan beberapa bulan sekali pulang ke Demak. Namun sejak beredar kabar penyanderaan, pihak keluarga sudah tidak bisa menghubungi ke-34 warga tersebut.

Kepala Desa Kendondong, Sistianto, kemudian melaporkan hal itu ke Polres Demak. Kapolres Demak AKBP Sonny Irawan juga membenarkan adanya laporan itu.

“Kades Kedondong melapor ke unit intelijen karena khawatir warganya itu tidak bisa dihubungi setelah ramai pemberitaan tentang penyanderaan itu,” katanya.

Ia mengatakan laporan itu disampaikan sekitar 9 atau 10 November lalu. Petugas kemudian langsung melakukan pengecekan data terkait dengan keberadaan para warga yang bekerja di Papua itu.

Sonny menjelaskan dari pengecekan diketahui 34 orang tersebut memang masuk dalam daftar warga yang disandera. “Nama-nama warga yang dilaporkan disandera sudah lengkap,” katanya.

Selanjutnya, menurut dia, hal tersebut sudah disampaikan ke Polda Jawa Tengah untuk diteruskan ke Mabes Polri. “Karena lingkupnya nasional, sudah dikoordinasikan ke Mabes Polri,” ujarnya. 

Ramai diberitakan, KKB menyandera 1.300 orang di Desa Kimbely dan Desa Banti. Saat ini hanya perempuan yang diperbolehkan meninggalkan wilayah kampung untuk mencari kebutuhan pangan. TNI dan Polri berusaha mengedepankan cara persuasif untuk menangani kasus tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Tinjau Sungai Cabean Demak, Ganjar Harap Normalisasi Mampu Cegah Banjir 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau lokasi di Sungai Cabean Kabupaten Demak. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Demak – Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Semarang, sekitar 75 persen wilayah di Jawa Tengah saat ini sudah mulai memasuki musim hujan.

Menghadapi hal itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan pengecekan sungai yang selama ini menjadi langganan banjir di wilayah Demak, Rabu (18/10/ 2017). 

Sungai tersebut yakni Sungai Cabean di Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Pengecekan dilakukan di sela kunjungan kerjanya di wilayah Kabupaten Demak untuk meninjau pengembangan reaktor biogas kandang sapi di desa tersebut. 

Pada pengecekan itu, Ganjar menyempatkan meninjau proses pembuatan tanggul permanen di Sungai Cabean yang masuk dalam sistem saluran Jragung-Tuntang itu. Saat ini di sungai tersebut juga tengah dilakukan normalisasi. Menurut Ganjar masyarakat di wilayah tersebut lama merindukan perbaikan dan normalisasi sungai, sebab selama ini jika musim penghujan air akan meluap dan daerah sekitar menjadi langganan banjir setiap tahunnya. 

“Waktu itu saya bicara langsung dengan Menteri PU dan Alhamdulillah direspons langsung dikerjakan oleh BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai). Ini untuk mencegah banjir,” tandas Ganjar.

Ia mengatakan, di Jawa Tengah ini sebenarnya banyak sungai yang sudah mengalami sedimentasi dan butuh normalisasi agar mampu menampung air lebih banyak. Namun menurutnya pengerjaannya akan dilakukan secara bertahap. Normalisasi diawali dari sistem Jragung-Tuntang sebagai antisipasi banjir. “Memang tentu belum setinggi harapan masyarakat, tapi ini sebagai salah satu upaya antisipasi banjir,” terangnya. 

Selain itu, sejumlah hal yang bisa dilakukan sebagai antisipasi banjir yakni dengan konversi di wilayah hulu, seperti halnya penanaman pohon, penguatan tanggul serta manajemen pengelolaan sungai di bagian hulu yang mesti baik. “Yang pasti diingat, kita sendiri juga mesti disiplin. Buang sampah tidak sembarangan,” tegasnya. 

Terkait dengan musim hujan yang diprediksi curahnya akan berkapasitas tinggi, Ganjar mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari seluruh Jateng. Ia mengatakan sudah melakukan rapat dan setiap hari BPBD seluruh kabupaten/kota untuk selalu memberikan laporan dari lapangan.

“Di Jateng bagian utara masih suplai air tapi di selatan barat sudah banjir. Maka kita kemarin langsung rapat dan tiap hari kita dapat laporan dari lapangan,” katanya.

Selain sejumlah antisipasi, Ganjar mengatakan pihaknya juga sudah melakukan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana alam. Ia memastikan semua kebutuhan sudah siap, baik dari jumlah personel BPBD, logistik hingga titik-titik evakuasi. 

Editor : Akrom Hazami

Truk Terbakar di Jembatan Wonokerto Demak

Sebuah truk terbakar di jembatan Wonokerto, Kabupaten Demak, Rabu. (Facebook)

MuriaNewsCom, Demak – Insiden kebakaran kendaraan truk terjadi di jalan pantura Demak, tepatnya di jembatan Wonokerto, Rabu (4/10/2017). Belum diketahui apakah ada korban atau tidak.

Info yang dihimpun, truk mulanya menyangkut kabel listrik di tepi jalan. Truk pun langsung terbakar. Pengguna jalan dan warga berupaya memadamkan api dari kendaraan tersebut.

Akibat insiden itu, jalur pantura menjadi macet. Bahkan kemacetan sendiri terjadi sejak dari Sayung. Titik itu juga menjadi langganan kemacetan beberapa waktu terakhir. Karena adanya perbaikan jembatan.

Salah satu pengguna jalan yang melintas tak jauh dari lokasi, David A mengeluhkan kemacetan parah. “Macete nganti kudu edan,” kata David.

Akibat kebakaran truk gara-gara tersangkut kabel listrik juga berakibat padamnya arus listrik. Hal itu disampaikan oleh Manajer PLN area Demak-Grobogan Mundakir. “Memang ada truk nyangkut kabel PLN. Ada pemadaman sementara,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Kaca Mobil Dipecah, Uang Rp 100 Juta di Bawah Jok Raib di Demak

Foto Ilustrasi

MuriaNewsCom, Demak – Kaca mobil Honda CRV H 8069 BE milik Solikin (61) warga Desa Tugu, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, dipecah pencuri, di Jalan Stasiun Demak, Senin (25/9/2017). Akibatnya, uang tunai Rp 100 juta yang disimpan di dalam mobilnya raib seketika.

Baca : Sadis, Suami di Jepara Ini Tega Bakar Istri

Penuturan sejumlah warga di lokasi, saat itu ada dua orang yang dicurigai sebagai pelaku. Dua orang itu berada di lokasi kejadian. Satu orang berjalan mengelilingi lokasi, dan satu orang lain siaga di atas sepeda motor. Sedangkan, Solikin saat itu tengah bertandang ke rumah temannya.

Solikin memarkirkan mobilnya di depan rumah teman. Tak berapa lama kemudian, saat kembali ke mobil, Solikin mendapati kaca mobil depan bagian kiri pecah. “Uang di bawah jok kursi depan hilang,” kata Solikin.

Baca : Sambil Momong Putrinya, Pria Ini Jalan Kaki Salatiga-Ungaran untuk Berjualan

Sebelumnya, pria yang juga pengusaha konstruksi tersebut baru saja selesai ambil uang dari Bank Jateng. Uang tersebut, rencananya untuk membayar upah tukang, dan membeli material. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara.

Editor : Akrom Hazami 

Ibu 3 Anak Jual Narkoba Demi Bayar SPP Anaknya

Polisi saat melakukan gelar perkara ibu jual obat terlarang di Mapolres Demak. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Demak – Rini Suprianti (35) ibu tiga anak asal Mranggen, Kabupaten Demak, kesulitan membiayai anaknya sekolah. Hal terlarang pun dilakukannya, yakni menjual obat. Baru sepekan jualan obat terlarang, Satuan Narkoba Polres Demak langsung meringkusnya berikut barang bukti 1.355 pil eximer.

Kini keuntungan besar dari hasil jual obat tinggal kenangan. Sebab, Rini harus mendekam di penjara. Sedangkan biaya pendidikan anaknya kian terbengkalai. Setelah sebelumnya, Rini amat peduli dan rela mencari uang tambahan dengan menjual obat.

“Anak saya minta bayar SPP sebulan Rp 170 ribu,” kata Rini saat gelar perkara di Mapolres Demak, Senin (25/9/2017).

Baca : Sadis, Suami di Jepara Ini Tega Bakar Istri

Uang senilai SPP anaknya jelas tak dimilikinya. Mengingat, pekerjaanya merupakan buruh pencuci baju. Upah buruh cuci yang diterimanya sangat sedikit.  Sepeninggal suaminya, Rini menjadi buruh cuci dan setrika baju. Dia harus menanggung semua biaya kebutuhan keluarga.

Maka rasa tanggung jawab terhadap anaknya itulah yang membuatnya mencari uang tambahan. Kebetulan, di tempatnya mencuci di rumah Jaenuri, siap memberikan pekerjaan tambahan. Yaitu, menjual pil kuning. Setiap harinya saat menjual pil kuning, Rini mendapat uang Rp 25 ribu.

Rini sendiri tak pernah tahu jika aktivitas tambahannya sebagai penjual obat adalah terlarang. Tak butuh waktu lama, polisi cepat memburunya. Saat ini, Rini harus mempertangungjawabkan perbuatannya kepada polisi.

Baca : Sambil Momong Putrinya, Pria Ini Jalan Kaki Salatiga-Ungaran untuk Berjualan

Sementara itu, Kapolres Demak AKBP Sonny Irawan mengatakan, pil yang dijual tersangka berdampak buruk pada pengonsumsinya. Seperti menyebabkan mabuk dan teler. Sejauh ini, keterangan tersangka ke polisi, pembelinya rata-rata pemuda dan pelajar. Akibat perbuatannya, Rini melanggar undang-undang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara di atas lima tahun. “Majikannya masih buron,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Jejak Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu Pati

Batu yang diyakini peninggalan Sunan Kalijaga di Masjid Jami’ Desa Kadilangu, Trangkil, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada desa di kawasan Kecamatan Trangkil, Pati yang namanya sama dengan kompleks pemakaman Sunan Kalijaga di Demak. Namanya Desa Kadilangu, terletak di pesisir utara laut Jawa.

Kesan nuansa kolosal berbalut kampung santri cukup kental dirasakan saat berkunjung ke Desa Kadilangu. Sejumlah benda yang diyakini peninggalan Sunan Kalijaga masih dirawat dengan baik.

Salah satunya, batu dan sumur yang berada di Masjid Jami’. Belum diketahui secara jelas fungsi batu tersebut. Namun, beberapa sumber menyebut pernah dipakai untuk duduk Sunan Kalijaga.

“Masih belum jelas apakah batu itu digunakan untuk pasujudan atau duduk. Tapi yang jelas itu peninggalan beliau sewaktu berdakwah di pesisir Jawa pada sekitar abad ke-15,” ujar penduduk setempat, Irham Shodiq, Selasa (12/9/2017).

Sementara sumur peninggalan Sunan Kalijaga saat ini masih dimanfaatkan warga dan pengunjung untuk kebutuhan air bersih. Bahkan, penduduk setempat memanfaatkannya untuk usaha air isi ulang.

Masjid Jami’ sendiri juga diyakini sebagai peninggalan Sunan Kalijaga. Karena itu, masjid ini kerap menjadi jujugan pengunjung dari berbagai daerah yang ingin berwisata religi.

Irham menjelaskan, nama Kadilangu memang identik dengan sebuah perkampungan yang dulu pernah menjadi tempat persinggahan Sunan Kalijaga. Maka tidak heran bila nama sebuah desa di Trangkil itu sama dengan nama kelurahan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Sunan Kalijaga di Demak.

Editor : Ali Muntoha

Ironis, Ternyata Blora, Grobogan, Demak dan Rembang Rawan Politik Uang

money_politik

 

REMBANG – Dari data Indeks Kerawanan Pemilu ( IKP ) yang dibuat oleh Bawaslu Republik Indonesia, potensi politik uang kemungkinan terjadi di tiga daerah di Keresidenan Pati. Yaitu Blora, Grobogan dan Rembang.

Adalah Blora dengan IKP 3,0; Demak IPK 2,5; Grobogan 3,5; dan Rembang 4,5. Penilaian itu didasarkan pada indek skerawanan politik uang yang dikeluarkan oleh Bawaslu Republik Indonesia. Dari data itu, Jawa Tengah memperoleh point 2,5 dari poin maksimal 5 angka. Angka 2,5 termasuk dalam posisi rawan dan bisa jadi di Jawa Tengah tingkat politik uangnya tinggi.

Koordinator Divisi Pengawasan dan Humas Bawaslu Jateng Teguh Purnomo mengatakan, praktik politik uang bisa dikemas dalam beragam modus. “Pada pelaksanaan pilkada, kedekatan figur calon kepala daerah yang berdekatan dengan pemilih langsung membuat kemungkinan politik uang juga semakin massif dalam pilkada,” katanya dalam rilis pers yang diterima.

Faktor banyaknya jumlah penduduk miskin suatu daerah menjadi salah satu hal yang dilihat dalam memetakan potensi kerawanan pemilih yang bisa menjadi target politik uang. (AKROM HAZAMI)