Pamit Nonton Dangdut, Warga Kalangdosari Grobogan Ditemukan Tewas di Sungai Lusi

MuriaNewsCom, GroboganMayat seorang pria ditemukan tersangkut rubuhan pohon bambu di pinggiran Sungai Lusi yang masuk wilayah Desa Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan, Rabu (21/3/2018). Korban diketahui merupakan warga setempat yang bernama Doni Irawan (21).

Informasi yang didapat menyebutkan, penemuan mayat terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Mayat tersebut kali pertama diketahui oleh dua warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan Rubiyanto (29) dan Sudaryanto (28).

Saat itu, keduanya sedang mencari ikan dialiran sungai lusi yang kondisi airnya sedang surut. Saat sampai di Dusun Dumpil, Desa Kalangdosari, keduanya melihat ada sosok orang yang tersangkut rumpun bambu dipinggiran sungai.

Ketika didekati, sosok orang itu sudah dalam kondisi meninggal dunia. Selanjutnya, kedua pencari ikan mengabarkan peristiwa itu pada warga sekitar dan diteruskan hingga pihak kepolisian. Kabar ditemukannya mayat tak ayal langsung membikin geger warga setempat.

Kapolsek Ngaringan AKP Sumardi ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bersama tim inafis Polres Grobogan dan puskesmas, tidak ditemukan bekas penganiayaan. Korban dinyatakan meninggal karena tenggelam.

“Tidak ada bekas kekerasan. Meninggalnya korban, murni akibat tenggelam,” jelasnya.

Menurutnya, dua hari sebelumnya, Senin (19/3/2018) malam, korban sempat pamit pada keluarganya kalau mau nonton dangdut di kampung seberang sungai. Hingga dua hari, korban tidak kunjung pulang sehingga pihak keluarga sempat mencari ke beberapa tempat. Namun, keberadaan korban tetap tidak ditemukan.

“Korban pergi dari rumah berjalan kaki lewat pinggiran sungai. Kemungkinan saat itu korban terpeleset dan akhirnya tenggelam,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Penegakan Perda Lemah, Ormas Sebut Pengusaha Karaoke di Pati Kebal Hukum

Sejumlah perwakilan ormas melakukan audiensi dengan Bupati Pati Haryanto terkait dengan penegakan Perda. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan organisasi masyarakat (ormas) meminta penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2013 yang mengatur karaoke dipertegas. Hal itu disampaikan mereka dalam audiensi dengan Bupati Pati Haryanto di Pendapa Pati, Kamis (23/11/2017).

Ketua Forum Kerukunan Antarumat Beragama Ahmad Khoiron mengatakan, sampai saat ini masih ada pengusaha karaoke yang kebal hukum. Pasalnya, masih banyak karaoke di Pati yang melanggar Perda belum berhasil ditertibkan.

“Para pengusaha menyalahi Perda yang sudah menjadi produk hukum warga Pati. Mereka tidak mau taat pada hukum dan masih melawan,” ujar Khoiron.

Dia menuturkan, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah Pati siap mendukung penegakan Perda. Bila diizinkan, mereka akan terjun ke lapangan untuk melakukan eksekusi.

Bupati Pati Haryanto menjelaskan, pihak Pemkab selama ini sudah melakukan penegakan yustisi. Jika hal itu dilakukan secara terus-menerus, Haryanto menilai akan memberikan efek jera kepada pengusaha karaoke.

“Perda ini dibuat bukan atas inisiatif eksekutif, tetapi murni dari legislatif yang menampung aspirasi dari masyarakat. Tapi waktu Perda disidangkan di Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, hasilnya menang sehingga Perda sah untuk ditegakkan,” tuturnya.

Dia menambahkan, sebagian besar para pemandu karaoke yang bekerja di Pati berasal dari daerah lain, mulai dari Bandung, Jepara, Semarang hingga Tasikmalaya. Lebih dari 90 persen pemandu karaoke merupakan warga dari luar daerah.

Editor: Supriyadi

Helmi Salsa Anggara, Bocah 10 Tahun Asal Kudus yang Jago Main Gendang Sejak TK

Helmi Salsa Anggara saat manggung di acara sosialisasi Pilkada KPU Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Helmi Salsa Anggara, warga Desa Besito Gang VI, Kecamatan Gebog, Kudus ini bisa dibilang bukan anak biasa. Di usianya yang baru 10 tahun, ia sudah sangat dikenal di kalangan pencinta musik dangdut sebagai penabuh gendang profesional.

Angga, begitu ia biasa dipanggil mengaku, sudah mengenal gendang sejak kecil. Bahkan sebelum masuk dunia sekolah ia sudah biasa bermain alat musik yang berbahan baku kulit lembu tersebut.

Hal itu tak lepas dari darah seniman yang diturunkan sang ayah. Maklum saja, ayahnya merupakan penabuh gendang salah satu orkestra terkemuka di Kudus. Setiap hari ia melihat sang ayah bermain gendang dan mulai kepincut sejak usia kurang dari tiga tahun.

“Sàya belajar dari ayah. Rasanya senang saat bermain gendang, ada kepuasan tersendiri. Makanya sampai kini masih memainkan” katanya kepada MuriaNewsCom usai manggung di acara jalan sehat KPU Kudus.

Siswa SD 2 Besito itu mengatakan, bermain kendang merupakan hal yang gampang. Tak jarang, karena kepiawaiannya itu dia beberapa kali manggung dalam pentas orkes memegang musik kendang.

Supriyadi, ayah Angga mengatakan kalau anaknya itu merupakan anak ketiga dari tiga bersuara. Semuanya suka bermain musik, termasuk juga dengan dua kakaknya. 

“Kalau kakaknya bermain orgen, hanya dia (Angga) saja yang suka bermain gendang,” ungkapnya.

Sebenarnya, lanjut dia, Angga memang berbakat bermain musik gendang. Bakat itu sudah muncul sejak berusia tiga tahun yang suka nonton ketoprak. Terlebih saat memainkan kendang, anaknya sangat suka memperhatikannya.

Dari sanalah anaknya mulai berlatih kendang kepadanya. Setelah itu, saat berada di bangku taman kanak-kanak ia sudah berani manggung. Dari situlah banyak yang kagum melihat anak kecil sudah pandai bermain kendang.

Editor: Supriyadi

Pulang Nonton Dangdut, Warga Bulumanis Lor Pati Babak Belur Dikeroyok Gerombolan Pemuda

Irfan, korban pengeroyokan di Desa Cebolek Kidul saat dirawat di RSI Margoyoso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nasib naas menimpa Irfan (19), pemuda Bulumanis Lor, Margoyoso, Pati. Dia harus dilarikan ke rumah sakit, lantaran dihajar segerombolan pemuda usai menonton konser dangdut di Cebolek Kidul, Rabu (27/9/2017) malam.

Beruntung, nyawa korban berhasil diselamatkan setelah sebelumnya nyaris kehabisan darah. Saat tergeletak, korban mendapatkan pertolongan dari warga.

“Ada warga yang menolong. Saya sempat dibawa ke Puskesmas, kemudian dirujuk ke RSI Margoyoso,” ungkap Irfan, Jumat (29/9/2017).

Baca Juga: Gara-gara Dangdut, Warga Ngurenrejo Pati Dikeroyok Hingga Babak Belur

Dari penuturan korban, saat itu dia sedang menonton konser dangdut di Cebolek Kidul. Saat pulang, dia dikejar dan dihajar segerombolan pemuda Cebolek Kidul.

Irfan mengetahui orang-orang yang menghajarnya, tapi dia enggan menyebutnya. Sebab, persoalan tersebut sudah diserahkan kepada petugas kepolisian.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Pati AKP Ari Sulistyawan membenarkan adanya laporan tentang pengeroyokan warga Bulumanis Lor di Desa Cebolek Kidul.

Saat ini, kasus tersebut sedang dalam penyelidikan. “Kami sudah memeriksa saksi-saksi untuk mengumpulkan barang bukti,” kata AKP Ari.

Pihaknya mengaku sudah mengantongi nama pelaku penganiayaan. Namun, dia enggan menyebutnya karena masih dalam tahap pendalaman kasus.

Editor: Supriyadi

Gara-gara Dangdut, Warga Ngurenrejo Pati Dikeroyok Hingga Babak Belur

Seorang Petugas sedang mengamankan kericuhan saat konser dangdut belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Pati – Nasib sial menimpa Ratawi (41), warga Desa Ngurenrejo RT 5 RW 3, Wedarijaksa. Dia dihajar tiga orang yang merupakan tetangganya sendiri lantaran persoalan dangdut.

Ketiga pelaku berinisial HR (28), DPS (22) dan AE. HR dan DPS sudah ditangkap polisi dan ditetapkan tersangka, sedangkan AR masih buron.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum menjelaskan, kasus dugaan penganiayaan itu terjadi saat korban tidak memperbolehkan pelaku masuk ke pagar pertunjukan dangdut. Pelaku hendak menanyakan hal itu kepada korban.

“Pelaku mendatangi rumah korban untuk menanyakan alasan tidak boleh masuk ke pagar pertunjukan dangdut. Tapi korban tidak berada di rumah. Saat berpapasan di jalan, korban dicegat dan ditanya masalah tersebut. Sempat terjadi percekcokan sebelum korban dianiaya,” ungkap AKP Rochana, Rabu (13/9/2017).

Korban mengalami luka robek pada bagian pelips kiri dan memar pada bagian dahi, serta mata sebelah kiri. Korban lantas melaporkan kejadian itu kepada petugas Polsek Wedarijaksa.

Petugas kepolisian yang mendapatkan laporan pada 3 September 2017 lalu itu, kemudian menangkap pelaku pada Selasa (12/9/2017) sore. Dua pelaku dibekuk Unit Reserse dan Kriminal Polsek Wedarijaksa.

“Pelaku dikenakan Pasal 170 KUHP subsidair 351 KUHPidana, karena secara bersama-sama di muka umum telah melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap orang,” pungkas AKP Rochana.

Editor: Supriyadi

Via Vallen Siap Hibur Warga Kudus, Ini Jadwalnya

Via Vallen siap menghibur warga Kudus selama dua hari. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pedangdut Via Vallen bakal menggoyang Kabupaten Kudus selama dua hari, Sabtu – Minggu, 9-10 September 2017. Rencananya, selama dua hari itu, Via akan manggung di dua tempat, yakni di Kecamatan Bae dan Jati.

Manager Branch Semarang Telkomsel, Arief Hidayatus Sefian mengatakan, untuk hari ini, Via akan menghibur pencinta dangdut di lapangan Peganjaran, Kecamatan Bae. Sedangkan, untuk Minggu besok, Via akan nyanyi di Lapangan Tanjung, Jati.

”Via Vallen akan manggung pada sore hari, yaitu mulai jam 16.00 WIB – 18.00 WIB. Waktu sore kami pilih lantaran terkendala masalah aturan yang melarang manggung malam,” katanya saat konferensi pers Panggung Asik, di @home, Sabtu (9/9/2017).

Menurut dia, sebelum ini, Via  sudah manggung di Kudus pada 8 September kemarin. Saat itu, Via menghibur penonton di lapangan Bola Gebog sore hari.

”Konser berlangsung aman. Karena itu kami harap di duat tempat nanti juga bisa aman dan terkendali,” terangnya

Arif menambahkan, kedatangan Via Vallen merupakan bagian dari kegiatan tahunan Kartu AS. Dan Kudus, merupakan kota kedelapan dari 16 kota yang dikunjungi dalam progam panggung asik.

Kudus dipilih, lantaran banyak pelanggan kartu AS. Karena itu konser ini sekaligus jadi bentuk apresiasi kepada masyarakat. Sedangkan untuk artisnya, yaitu Via Vallen, dipilih lantaran di Kudus juga banyak Vyanisty.

Sementara itu, Via Vallen mengaku sangat senang bisa datang ke Kudus. Selain asri, para penggemar dan warga di Kudus juga sangat ramah.

”Saya sangat bisa manggung di Kudus. Orangnya nyenengin. Karena itu, nanti sore jangan lupa nonton. Saya akan bawakan lagu-lagu yang asik dan disukai masyarakat,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Pengisi Acara Parade Musik Dangdut di Grobogan Siap Suguhkan Penampilan Jos

Pertunjukkan parade musik dangdut tahun lalu di alun-alun Purwodadi berlangsung meriah. (ISTIMEWA)

Pertunjukkan parade musik dangdut tahun lalu di alun-alun Purwodadi berlangsung meriah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perhelatan Parade Musik Dangdut pada malam tahun baru nanti dipastikan akan berlangsung semarak. Sebab di even yang didukung Sukun Premiere itu, grup dangdut yang bakal tampil siap total menghibur warga Grobogan.

Jadi rugi besar jika tidak hadir dalam momen istimewa yang akan digelar di Stadion Kuripan, Purwodadi, Sabtu (31/12/2016).

“Malam tahun baru merupakan momen istimewa karena datangnya setahun sekali. Oleh sebab itu, kami akan menyuguhkan penampilan terbaik buat masyarakat Grobogan. Saat ini, kami sudah melakukan persiapan untuk mengisi acara malam tahun baru nanti,” ungkap Jack Parlan, pimpinan grup dangdut Cobolo yang jadi salah satu pengisi acara Parade Musik Dangdut tersebut, di Grobogan, Kamis (29/12/2016).

Sementara itu, situasi Stadion Kuripan di jalan A Yani Purwodadi, sampai sore tadi belum terlihat ada persiapan yang dilakukan pihak panitia. Di tempat itu, masih dipakai puluhan orang untuk bermain bola.

“Malam ini, kita akan mulai persiapan menata panggungnya. Ini, perlengkapan panggung masih dalam perjalanan dari Solo. Kemungkinan, nanti jam 19.00 WIB sudah sampai Purwodadi. Untuk perlengkapan panggung dan sound system kita datangkan dari Solo,” kata Ketua Panitia Parade Dangdut Prasetyo petang tadi.

Dijelaskan, awalnya, lokasi parade akan dilangsungkan di halaman Stadion Krida Bhakti. Namun, dengan berbagai pertimbangan pihak keamanan, lokasinya dialihkan ke Stadion Kuripan. Acara ini juga bekerjasama dengan, PAMMI, pemkab, kepolisian dan instansi terkait lainnya.

Menurutnya, dalam parade nanti akan menampilkan empat grup dangdut lokal. Yakni, Patimura, Cobolo, Mahkota, dan Nuansa 97. Kemudian, ada sekitar 12 penyanyi yang ambil bagian.
“Total musisnya sekitar 40 orang yang terlibat. Baik penyanyi dan pemain music. Acara parade dangdut juga akan dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni, jajaran FKPD dan para pejabat,” jelas Sekretaris PAMMI Grobogan itu.

Ditambahkan, pada pergantian tahun baru 2016 lalu, juga digelar acara serupa di alun-alun Purwodadi. Tahun lalu ada tujuh grup dangdut yang ambil bagian.

“Parade dangdut tahun lalu diselenggarakan oleh PAMMI Grobogan bekerjasama dengan pemkab dan isntansi terkait lainnya. Acara tahun lalu tidak ada sponsornya karena rencana untuk mengadakan kegiatan agak mendadak,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Pelaku Musik Dangdut Pertanyakan Kredibilitas Tim Verifikasi Grup Dangdut

Jas-DC

Jas-DC

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pelaku musik dangdut di Kabupaten Jepara mempertanyakan kredibilitas tim yang melakukan verifikasi yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersama dengan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Jepara. Menurut mereka mayoritas personel yang ada dalam tim verifikator tersebut juga merupakan pelaku maupun pemilik grup musik dangdut.

Baca juga : Pelaku Dangdut Jepara Ingin Jam Pentas Dikembalikan Semula

”Hampir semua orang yang ada di dalam tim punya grup musik dangdut. Sehingga ini tidak fair bagi yang lain,” ujar Ketua Jepara Insan Dangdut Community (Jas-DC), Masrikan kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/3/2016).

Menurut dia, hal itu yang kemudian membuat para pemilik grup musik dangdut bertanya-tanya. Sebab, kondisi seperti itu, dia samakan dengan sebuah lomba namun sang juri juga ikut sebagai peserta lomba.
”Ada beberapa yang belum dinyatakan lolos verifikasi, tapi bagaimana dengan mereka yang menjadi verifikator apakah benar-benar sudah bisa dinilai lolos. Ini patut dipertanyakan,” katanya.

Selain itu, ada yang dianggap ganjal dalam pelaksanaan verifikasi grup musik dangdut ini. Salah satunya, grup-grup dangdut yang saat ini diverifikasi sebetulnya sudah memiliki legalitas dari pemerintah sebagai grup musik dangdut, dan legalitas tersebut masa berlakunya baru berakhir pada tahun 2017 nanti.

”Tapi sekarang kok ada verifikasi lagi, dulu kan sudah ada legalitas yang harus dimiliki sebagai salah satu persyaratan untuk mengajukan izin pentas,” ungkapnya.

Dia menambahkan, semestinya verifikasi dilakukan setelah surat legalitas sebelumnya masa berlakunya habis. Kalau seperti saat ini, kata dia, tumpang tindih dan justru melanggar aturan.

”Alangkah baiknya jika verifikator berasal dari para guru seni yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan musik dangdut di Jepara, sehingga lebih fair,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh beberapa pelaku dan pemilik orkes dangdut, yaitu Mr Black Lukito, pemilik orkes Savala, Corong Mahendra serta player kendang Tanjos Sungkar. Menurut mereka, proses verifikasi harus lebih fair agar tidak semakin memberatkan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pelaku Dangdut Jepara Ingin Jam Pentas Dikembalikan Semula

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Para pelaku dangdut di Kabupaten Jepara, terutama yang tergabung dalam Jepara Insan Dangdut Comunity (Jas-DC) menginginkan jam pementasan dikembalikan seperti semula, yakni mulai pukul 20.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Mereka keberatan dengan aturan yang diberlakukan mengenai jam tayang yang diharuskan dimulai dari pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB. Sebab, dalam praktiknya di lapangan, kerap berbenturan dengan masyarakat jika aturan pementasan dimulai pukul 19.00 WIB.

”Kalau diharuskan mulai jam tujuh malam, banyak benturan di lapangan. Misalnya, pementasan dimulai jam tujuh tepat, otomatis persiapan sudah harus dimulai sekitar jam setengah tujuh. Di sela-sela waktu itu, ada azan salat isya, belum lagi masih ada kegiatan di masyarakat seperti beribadah, pengajian, tahlilan dan sebagainya,” ujar Ketua Jas-DC, Masrikan kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/3/2016).

Kondisi itu membuat pelaku dangdut di Jepara dilematis. Di satu sisi ingin mematuhi aturan, namun di sisi lain berbenturan dengan masyarakat sekitar tempat pentas. Beberapa kali, lanjutnya, pelaku orkes dangdut juga mendapatkan teguran dari tokoh masyarakat ketika mulai pentas di jam-jam tersebut.

”Itu yang jadi masalah. Apalagi kalau sudah kontrak dengan pihak yang punya hajat, tentu saja mereka tidak ingin rugi karena jam pementasan harusnya tiga jam, tapi karena ada benturan dengan masyarakat sekitar menjadi molor setengah jam bahkan lebih tapi jam berakhirnya tidak boleh lebih dari jam sepuluh malam,” ungkapnya.

Pihaknya mengingkan agar kebijakan pembatasan pementasan dangdut tersebut dikaji ulang. Sebab, dampaknya bagi bisnis hiburan di Kota Ukir sangat besar. Banyak pelaku orkes dangdut yang kehilangan job karena kasus-kasus tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh beberapa pelaku dan pemilik orkes dangdut, yaitu Mr Black Lukito, pemilik orkes Savala, Corong Mahendra serta player kendang Tanjos Sungkar. Menurut mereka, dampak diberlakukannya aturan pembatasan jam pementasan memang cukup dirasakannya. Dia mengaku banyak job yang hilang gara-gara aturan yang memberatkan itu.

”Sekarang ini job sepi. Dengan aturan-aturan yang memberatkan itu, semua pelaku orkes dangdut mengeluh. Tak hanya itu, tapi pemilik tratak, sound system, dan semua yang ada kaitannya dengan pementasan merasakannya,” ungkap Lukito.

Pihaknya juga mengaku sangat keberatan jika orkes dangdut dijadikan kambing hitam ketika ada kasus kriminal. Dia ingin antara tindakan kriminal dan orkes dangdut dibedakan karena memang berbeda.
”Kasus kriminal bisa terjadi di mana saja, tidak hanya saat ada pementasan dangdut. Layaknya peristiwa kecelakaan antara bus dengan bus, bukan kemudian semua penumpang disalahkan,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Catat! Tak Boleh Ada Pentas Dangdut di Jepara pada Detik-detik Pergantian Tahun Baru

Kembang api pada malam pergantian tahun 2014 ke 2015 di Alun-alun Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kembang api pada malam pergantian tahun 2014 ke 2015 di Alun-alun Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Detik-detik pergantian tahun di Kabupaten Jepara tak diperbolehkan ada pertunjukan musik modern. Larangan tersebut sebagaimana aturan dari pihak kepolisian, bahwa pertunjukan musik modern hanya diizinkan sampai pukul 22.00 WIB saja.

“Saat pergantian tahun nanti, aturan sampai pukul 22.00 WIB saja tetap berlaku. Jadi, acara ramai-ramai tetap boleh, tapi tidak boleh ada musik modern seperti dangdut maupun band modern,” ujar Kabag. Ops Polres Jepara Kompol Slamet Riyadi kepada MuriaNewsCom, Rabu (23/12/2015).

Menurutnya, Polres Jepara telah mengeluarkan intruksi larangan pentas musik hingga tengah malam. Larangan itu, diperuntukan pentas musik modern, seperti musik dangdut dan band. Pada perayaan malam pergantian tahun, larangan tersebut tetap diberlakukan.

Lebih lanjut dia mengemukakan, bagi penyelenggara hiburan dalam rangka menyambut tahun baru, jika ingin menggelar kegiatan hingga detik-detik pergantian tahun, maka disarankan untuk menampilkan kesenian tradisional atau relegi. Pasalnya, hanya kesenian tersebut yang diperbolehkan pentas hingga tengah malam.

“Misalnya, pentas musik dangdut sampai pukul 22.00 WIB, setelah itu dilanjutkan dengan rebana atau kesenian tradisional sampai detik-detik pergantian tahun masih boleh,” katanya.

Dia menambahkan, batasan jam pentas musik modern tersebut diberlakukan untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diinginkan. Itu seperti perkelahian antarkelompok penonton atau tindakan kriminal lainnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Larangan Ada Pentas Malam Hari Disebut untuk Menciptakan Suasana Kondusif Jelang Pilkada

 

Anggota PAMMI saat melakukan audiensi dengan DPRD Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota PAMMI saat melakukan audiensi dengan DPRD Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Menanggapi aspirasi dari PAMMI terkait adanya larangan pentas malam hari, Kasat Intekam Polres Grobogan AKP Sutamto menyatakan, pada akhir Juli lalu memang ada imbauan dari Kapolres kepada Kapolsek mengenai pembatasan kegiatan hiburan.

Namun, imbauan itu sifatnya sementara. Adapun tujuannya untuk menciptakan suasana kondusif seiring bakal digelarnya Pilkada serentak 9 Desember mendatang.

”Kami berterima kasih atas masukan dari PAMMI dan hasil pertemuan ini secepatnya akan kami laporkan pada Kapolres yang saat ini masih ada tugas di Mabes Polri. Pekan depan, kita harapkan sudah ada jawaban yang akan disampaikan pada PAMMI,” terangnya.

Sementara itu, HM Nurwibowo berharap agar keluhan dari para seniman itu bisa mendapatkan solusi terbaik. Untuk itu, dia meminta kepada anggota PAMMI bersabar karena dalam waktu dekat sudah dijanjikan jawaban dari pihak kepolisian. Apapun nanti yang diputuskan, dia meminta agar semua pihak bisa mematuhi karena hal itu demi kepentingan bersama. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Dilarang Goyang Malam Hari, Pedangdut Grobogan Wadul ke DPRD

Anggota PAMMI saat melakukan audiensi dengan DPRD Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota PAMMI saat melakukan audiensi dengan DPRD Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

GROBOGAN – Belasan seniman dan musisi yang tergabung dalam anggota Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Grobogan siang tadi menggelar audensi dengan wakil rakyat dan pihak kepolisian setempat. Audensi yang dilangsungkan di Ruang Rapat Paripurna II itu dipimpin Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo.

Hadir pula dalam kesempatan itu Kasat Intekam Polres Grobogan AKP Sutamto, Pasi Intel Kodim 0717 Purwodadi Kapten Budi Purwanto dan Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo. Sejumlah anggota Komisi A dan D ikut hadir pula dalam audensi tersebut.

Ketua DPC PAMMI Grobogan HM Misbah mengungkapkan, audensi itu dilakukan berkaitan dengan adanya larangan pentas pada malam hari yang dikeluarkan pihak kepolisian. Kondisi itu menyebabkan ratusan anggotanya resah karena tidak bisa tampil seperti biasanya.

”Bulan Agustus saat ini merupakan masa panen bagi anggota kami karena banyak orang punya hajatan dan membuat pentas untuk acara tujuh belasan. Kalau pentas malam hari dilarang, maka mereka akan kesulitan dapat job,” ungkap Misbah yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Grobogan itu.

Terkait kondisi itu, Misbah meminta agar kebijakan tersebut ditinjau ulang. Sebab, di beberapa daerah lainnya tidak ada pembatasan menggelar hiburan seperti di Grobogan.

”Kami berharap pentas malam hari ini tetap diizinkan. Minimal, kami bisa tampil menghibur tamu undangan hingga pukul 21.00 WIB,” imbuh Didik dan Edi, anggota PAMMI yang juga pemilik grup dangdut. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)