Ombak Besar, 5 Kapal Nelayan Terbalik di Laut Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Cuaca buruk yang melanda perairan di sekitar Semarang memakan korban. Lima kapal nelayan terbalik saat berlayar di perairan Mangkang, Kota Semarang, Kamis (11/1/2018). Peristiwa terbaliknya kapal ini terjadi sekitar pukul 10.00 WIB.

Beruntung sejumlah nelayan berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke daratan. Kapal-kapal nelayan yang terbalik merupakan milik warga Tanggulsari, Mangunharjo, Kota Semarang. Lima nelayan yang berhasil diselamatkan yakni Parno, Busro, Yaman, Asrofi dan Sarjono.

Staff Humas Basarnas Kantor Semarang, Zulhawary mengatakan, lima kapal tersebut terbalik setelah diterjang ombak besar. Tak hanya lima kapal ini, pihaknya juga tengah melakukan pencarian terhadap sejumlah perahu lain yang masih hilang.

“Beberapa perahu masih hilang, namun penumpangnya berhasil diselamatkan,” ujar Zul, panggilan akrab Zulhawary.

Sejumlah nelayan yang masih berada ditengah laut, kemudian diminta untuk berlindung dulu di sisi kapal besar, seperti kapal tanker atau kapal peti kemas. Ini dilakukan agar kapal mereka tidak dihantam ombak besar dan ikut terbalik.

Editor : Ali Muntoha

Cuaca Buruk, Kapal Penyebrangan ke Karimunjawa Tak Berlayar

Deburan ombak mendekati Dermaga Kartini, dimana KMP Siginjai bersandar, Senin (18/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kondisi perairan Jepara yang bergelombang juga memengaruhi pelayaran komersial ke Pulau Karimunjawa. Dua kapal penyebrangan (KMC Express Bahari dan KMP Siginjai) ke pulau eksotis itu, hari ini tidak diberangkatkan. 

Kepala UPP Syahbandar  Jepara Syahbandar mengatakan, tinggi gelombang di sekitar perairan utara Jateng berkisar 1,25-2,5 meter. Sedangkan kecepatan angin berkisar 25 knot. 

“Hal itu sesuai dengan prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG, yang menyatakan kondisi cuaca dan gelombang laut tidak aman untuk pelayaran terutama untuk kapal penumpang, Ro-Ro dan kapal lain dengan freeboard kurang dari dua meter,” tuturnya, Senin (18/12/2017).

Oleh karenanya, Syahbandar mengeluarkan surat terkait peringatan cuaca buruk, untuk pelayaran. Surat bernomor UM.003/5/7/UPP.Jpr.2017, itu ditujukan kepada pemilik, operator dan nahkoda kapal. 

Lebih lanjut, angin dan gelombang tinggi mulai melanda sejak Senin dini hari. Oleh karenanya, Syahbandar tidak mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar. 

Editor: Supriyadi

Cuaca Buruk, Status Grobogan Jadi Siaga Darurat Bencana

Bupati Grobogan Sri Sumarni (dua dari kanan) beserta jajaran pimpinan FKPD dan pejabat terkait sedang mengecek peralatan yang digunakan dalam penanganan bencana, Kamis (7/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta warganya supaya bersikap waspada terhadap kemungkinan munculnya bencana alam. Baik berupa banjir, tanah longsor atau angin topan. Seruan itu disampaikan Sri Sumarni dalam apel siaga bencana di alun-alun Purwodadi, Kamis (7/12/2017).

”Saya minta warga supaya waspada. Namun, jangan sampai panik atau dicekam ketakutan yang berlebihan,” ujarnya.

Acara apel siaga bencana juga dihadiri sejumlah pimpinan FKPD Grobogan. Antara lain, Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, dan Kajari Edi Handojo. Hadir pula Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Menurut Sri, dalam sebagai antisipasi dalam menghadapi ancaman bencana di musim hujan, pada tanggal 1 Nopember 2017 lalu telah ditetapkan status siaga darurat bencana. Status tersebut akan berlaku selama 92 hari, hingga 31 Januari 2018.

”Penetapan status siaga darurat bencana ini kita lakukan berdasarkan informasi dari BMKG pusat. Yakni, masih adanya ancaman hujan dengan intensitas tinggi disertai angin hingga akhir Januari 2018 mendatang,” jelas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Ia menyatakan, berdasarkan peta geografis, Kabupaten Grobogan memang cukup rentan bencana. Sebab, letaknya berada di daerah cekungan perbukitan (lembah). Yakni, perbukitan Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan.

Meski demikian, Pemkab akan berupaya untuk meminimalkan terjadinya bencana alam di wilayahnya. Sejauh ini, sudah cukup banyak langkah yang diambil dalam kaitannya dengan penanganan bencana tersebut. Misalnya, pembuatan embung, reboisasi, normalisasi sungai dan perbaikan tanggul.

Disamping meminta warga untuk waspada, Sri meminta kepada pihak BPBD untuk lebih sigap dalam penanganan bencana. Upaya monitoring kondisi lapangan perlu terus dilakukan setiap saat. Harapannya, jika terjadi bencana bisa meminimalisir korban, baik jiwa maupun harta benda.

”Datangnya bencana alam ini tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Untuk itu, sikap waspada selalu kita lakukan agar bisa mempercepat upaya penanganan. Tidak lupa, koordinasi dengan instansi terkait lainnya juga rutin diperlukan,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Musim Hujan Tiba, Petani di Pati Disarankan Ikut Asuransi

Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi menunjukan peta lahan pertanian di Pati yang rawan terkena bencana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Pati disarankan untuk mengikuti asuransi menjelang musim hujan. Pasalnya, sejumlah lahan pertanian di Pati rawan terkena banjir saat musim penghujan tiba.

Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi mengatakan, asuransi tani perlu diambil sebagai langkah untuk mengurangi risiko ketika terjadi bencana banjir. Karena itu, asuransi tani dinilai penting untuk petani maupun kelompok tani supaya tidak terjadi kerugian secara total.

“Asuransi tani bisa dilakukan perorangan maupun kelompok tani, nanti Dinas Pertanian sifatnya mengetahui. Selanjutnya diajukan ke Jasindo,” ujar Muchtar.

Sejauh ini, asuransi tani hanya mengover untuk tanaman padi. Sementara tanaman pertanian lainnya seperti palawija belum ada program asuransi tani.

Prosedurnya, petani membayar premi asuransi sebesar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawah. Biaya premi itu sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar Rp 144 ribu.

“Biaya premi asuransi tani sebetulnya Rp 180 ribu per hektare, tapi dapat subsidi dari pemerintah. Petani tinggal bayar 30 persen saja. Ini peluang bagus untuk dimanfaatkan petani,” jelas Muchtar.

Saat ini, sedikitnya ada 2.500 hektare sawah yang didaftarkan program asuransi tani. Sebagian besar petani yang ikut asuransi tani dari kawasan Pati selatan.

Adapun pengajuan klaim asuransi, syaratnya harus ada kerusakan tanaman minimal 75 persen. Padi yang ditanam juga harus berusia minimal 30 hari.

Satu hektare sawah bisa diklaim hingga Rp 6 juta. “Lumayan, daripada rugi total. Ini sifatnya hanya antisipasi saja, tentu kita berharap tidak ada musibah dan bisa panen,” pungkas Muchtar.

Editor: Supriyadi

Pengukuran Sertifikat Tanah Program PTSL di Pati Terkendala Cuaca

Seorang pegawai tengah menggarap sertifikasi tanah program PTSL di Kantor BPN Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Musim penghujan yang mulai tiba ternyata menjadi kendala tersendiri bagi pegawai untuk melakukan pengukuran sertifikat tanah program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL).

Padahal, mereka ditarget untuk bisa menyelesaikan 40.000 sertifikat tanah PTSL pada akhir 2017 yang dibiayai APBN. Namun, BPN Pati tetap melakukan upaya agar target itu bisa diselesaikan dengan baik.

“Kendalanya cuaca yang sudah mulai sering turun hujan. Akibatnya, proses pengukuran tanah terganggu. Solusinya ya dilakukan keesokan harinya,” ujar Kepala BPN Pati Yoyok Hadimulyo Anwar, Senin (9/10/2017).

Baca Juga: BPN Pati Targetkan 40.000 Sertifikat Tanah Gratis Rampung Akhir 2017

Bahkan, pegawai BPN banyak yang menginap di rumah perangkat desa untuk menyelesaikan program PTSL dengan tepat waktu. Mereka beristirahat sejenak bila ternyata hujan tiba saat pengukuran tanah akan dilakukan.

Sebab, proses pengukuran tanah memakai catatan dan kertas sehingga tidak bisa dilakukan jika hujan turun. “Pengukuran tanah itu kan bawa catatan-catatan, kertas dan sebagainya. Kalau hujan, ditunda dulu dan dilanjutkan besok,” jelas Yoyok.

Beberapa waktu lalu, ia menceritakan bila petugas BPN Pati sempat melaporkan kendala cuaca, karena Pati selatan kerap hujan pada siang hari. Namun, dia meminta untuk terus melanjutkan proses pengukuran bila cuaca sudah membaik.

Menurutnya, program PTSL harus diselesaikan sesuai dengan taget karena sudah menjadi instruksi Presiden Jokowi. Jatah 40.000 sertifikat tanah PTSL untuk warga Pati tersebut akan dibagikan setelah mendapatkan instruksi dari pemerintah pusat.

“Pembagiannya menunggu instruksi dari Menteri Agraria, karena saat ini masih menunggu dari Presiden. PTSL ini program dari Presiden yang pendanaannya dari APBN,” tandas Yoyok.

Editor: Supriyadi

Cuaca Buruk, Harga Ikan di Jepara Melambung

Penjual ikan di TPI Jepara menunjukkan ikan tangkapannya yang menurun karena cuaca yang tak bersahabat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Cuaca buruk di laut berimbas pada hasil tangkapan ikan nelayan. Otomatis harga komoditas satu ini pun ikut terkatrol. 

Suriah seorang pedagang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu Jepara mengatakakan beberapa jenis ikan mengalami penurunan persediaan. Hal itu menyebabkan harganya melambung. 

“Di laut tangkapannya sepi karena cuacanya sedang tidak baik, anginnya besar. Beberapa ikan mengalami kenaikan harga, cenderung tidak stabil lah,” katanya, Senin (2/10/2017). 

Ia menyebut, beberapa jenis ikan yang mengalami kenaikan harga adalah dorang, tengiri, kakap merah, tunul, kembung dan banyar. Suriah mengatakan, tangkapan untuk jenis ikan tersebut mengalami penurunan dari nelayan. 

“Untuk ikan tunul harganya dari Rp 20 ribu per kilogram menjadi Rp 30 ribu per kilogram, ikan kembung dari Rp 20 ribu per kilogram menjadi Rp 25 ribu, ikan banyar dari Rp 25 ribu per kilogram menjadi Rp 30 ribu per kilogram,” urainya. 

Hal serupa diungkapkan oleh Fatimah, sejak 10 hari terakhir cuaca yang tak menentu menyebabkan pasokan ikan dari nelayan menurun. Di saat normal, pasokan ikan dapat mencapai dua basket (50 kilogram). 

“Kalau sekarang, nelayan rata-rata hanya mendapatkan setengah basket,” ungkapnya. 

Peagang lain Suyati mengatakan, sebagian ikan memang mengalami kenaikan harga. Namun beberapa diantaranya tetap stabil, seperti cumi-cumi yang menjadi barang jualannya. 

“Kalau cumi-cumi harganya stabil, yang kecil itu dijual sekilonya Rp 25 ribu, kalau yang besar Rp 55 ribu,” terangnya. 

Editor: Supriyadi

Cuaca Ekstrim di Jepara Telan Korban, Warga Harus Lebih Waspada

Salah satu korban tersambar petir di Jepara berada di RSUD Kartini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu korban tersambar petir di Jepara berada di RSUD Kartini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Cuaca ekstrim belakangan yang melanda Kabupaten Jepara, telah menelan korban. Sedikitnya dua orang sudah menjadi korban hingga tewas akibat tersambar petir, dalam sepekan terakhir ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo mengemukakan, sepekan terakhir sudah ada dua warga yang tewas akibat tersambat petir.

“Hari Minggu kemarin, Joko Riyadi (35) warga Desa Langon meninggal dunia akibat tersambar petir. Kemudian Kamis kemarin Abdul Mutholib juga meninggal tersambar petir,” ujar Pujo kepada MuriaNewsCom, Jumat (7/10/2016).

Menurutnya, awal musim hujan memang selalu diwarnai hujan deras disertai petir dan angin kencang. Hal itu juga dikuatkan dengan data prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG. “Kita memang tak bisa memrediksi petir menyambar di titik mana. Sehingga kami imbau warga yang beraktivitas di luar rumah lebih baik segera menghentikan aktivitas. Khususnya aktivitas di tanah lapang seperti sawah, pantai dan laut,” terang Pujo.
Lebih lanjut Pujo mengatakan, warga diminta untuk menghindari aktivitas yang bisa memicu petir menyambar. Semisal melakukan aktivitas dengan gadget saat sudah mulai mendung. Hujan disertai petir kemungkinan akan sering terjadi hingga November mendatang. “Kita terus melakukan early warning melalui call centre untuk memberikan imbauan ke masyarakat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Cuaca Buruk Perairan Karimunjawa Diprediksi Sampai Sepekan ke Depan

Kapal KMP Siginjai tak berani berlayar karena cuaca buruk. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kapal KMP Siginjai tak berani berlayar karena cuaca buruk. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Jalur transportasi laut di Jepara – Karimunjawa kembali tersendat lantaran cuaca di laut buruk. Bahkan, dalam prediksi Badan Metorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) cuaca buruk bakal terjadi selama sepekan ke depan.

”Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung selama sepekan ke depan. Namun, setiap hari tinggi gelombang dan kecepatan angin dapat berubah-ubah, naik atau turun,” ujar Kepala Syahbandar Jepara, Suripto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (12/9/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, mengingat wilayah perairan Jepara termasuk jalur perlintasan transportasi laut dari Pulau Jawa ke Kalimantan dan Sulawesi, hingga saat ini, menurut Suripto, belum ada kapal besar, seperti tongkang, yang berlindung di Pulau Panjang. Biasanya, jika kondisi gelombang laut di perairan laut Jepara tinggi, banyak tongkang yang berlindung di pulau di sisi barat Pantai Kartini itu.

”Biasanya, selain di Pulau Panjang, tempat berlindung kapal tongkang di Pantai Bandengan. Jadi nahkoda kapal sengaja mengaramkan kapalnya. Tapi sampai saat ini belum ada laporan masuk kapal tongkang berlindung,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)