Cak Nun Merasa Takjub saat Lihat Temuan Benda Purbakala di Desa Banjarejo Grobogan

Cak Nun saat melihat koleksi benda purbakala di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Selasa (24/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Budayawan kondang Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab dipanggil Cak Nun menyatakan kekagumannya terhadap banyaknya penemuan benda purbakala yang di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Hal itu disampaikan saat Cak Nun setelah menyempatkan waktu sekitar 20 menit untuk melihat koleksi benda purbakala yang ada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Selasa (24/10/2017) malam.

“Temuan benda purbakala di Desa Banjarejo ternyata sudah banyak sekali. Ini merupakan sebuah karunia yang tidak ternilai harganya dan harus terus dilestarikan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Taufik yang menjadi pemandu sempat memberikan penjelasan singkat pada Cak Nun tentang temuan benda purbakala yang sudah didapatkan dalam beberapa tahun terakhir. Sampai saat ini, jumlah temuan benda purbakala sudah lebih dari 500 biji. Baik yang berukuran kecil maupun raksasa.

“Benda purbakala berupa fosil hewan purba ini berasal dari belasan spesies. Usianya, berkisar 1 jutaan tahun,” jelasnya.

Usai melihat koleksi benda purbakala, Cak Nun kemudian begeser menuju ke panggung utama acara ngaji bareng yang ditempatkan di lapangan sepakbola di sebelah timur tempat penyimpanan fosil purbakala tersebut. Saat menyampaikan tausiyah, Cak Nun juga sempat menyinggung tentang banyaknya penemuan benda purbakala di Desa Banjarejo.

“Masyarakat Banjarejo hendaknya selalu bersyukur karena memiliki potensi benda purbakala yang luar biasa banyaknya. Dengan adanya balung (fosil) inilah, kita akhirnya bisa bersilaturahmi pada malam ini. Selain itu, di Desa Banjarejo ini juga terdapat peninggalan cagar budaya masa lalu yang sebagian diantaranya sudah ditemukan,” cetusnya.

Cak Nun berharap agar benda purbakala maupun cagar budaya itu dirawat dengan baik dan dilestarikan. Adanya peninggalan benda masa lalu itu selain bisa jadi bahan pembelajaran juga bisa mendatangkan wisatawan untuk berkunjung ke Desa Banjarejo.

“Saya doakan semoga dalam waktu dekat sudah berdiri sebuah museum purbakala di Banjarejo,” katanya

Editor: Supriyadi

Meriah, Ribuan Orang Ngaji Bareng Cak Nun di Desa Wisata Banjarejo Grobogan

Cak Nun sedang menyampaikan tausiyah dihadapan ribuan jamaah di lapangan sepak bola Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Selasa (24/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Acara ngaji bareng Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab dipanggil Cak Nun di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan berlangsung meriah, Selasa (24/10/2017) malam. Animo masyarakat yang menghadiri acara ngaji bareng dalam rangka peringatan setahun Desa Wisata Banjarejo diluar perkiraan.

Jumlah orang atau jamaah yang hadir dalam acara ngaji bareng diperkirakan lebih 7 ribu orang. Selain warga dari Grobogan, jamaah yang hadir ternyata juga datang dari berbagai kota di Jateng, DIY dan Jatim.

Bahkan, ada beberapa orang dari Samarinda, Kaltim yang menyempatkan datang ke Banjarejo hanya sekedar untuk menghadiri acara tersebut. Acara ngaji bareng juga dihadiri Sekda Grobogan Moh Sumarsono dan Kepala Disporabudpar Grobogan dan beberapa staf dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

”Pengunjungnya luar biasa dan ini diluar prediksi kami. Malam ini, Desa Banjarejo kedatangan banyak tamu dari berbagai daerah. Saya merasa bangga. Tak lupa, saya sampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi dan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan acara ini,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Cak Nun sedang menyampaikan tausiyah dihadapan ribuan jamaah di lapangan sepak bola Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Selasa (24/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Acara ngaji bareng ditempatkan di lapangan sepak bola di sebelah timur Rumah Fosil Banjarejo. Meski kondisi lapangan agak becek akibat guyuran hujan deras sehari sebelumnya, namun ribuan jamaah tetap betah duduk lesehan beralaskan tikar plasik atau kardus bekas.

Cak Nun dan rombongan Kiai Kanjeng naik ke atas panggung sekitar pukul 20.30 WIB. Sesuai ciri khasnya selama ini, Cak Nun selalu menyampaikan tausiyah diselingi humor segar dan nyanyian dengan iringan Kiai Kanjeng.

Saat menyampaikan tausiyah, Cak Nun sempat melontarkan berbagai persoalan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini dan meminta agar semua itu disikapi dengan bijaksana. Cak Nun juga meminta agar warga Banjarejo terlebih para pemuda untuk tidak mudah goyah dan selalu berfikir matang sebelum bersikap. 

”Mari kita rapatkan rasa persatuan dan persaudaraan dan jangan mudah dipecah belah. Jangan membedakan orang berdasarkan ras, suku dan agama karena semua ini ciptaan Allah SWT. Jadilah orang yang bisa mengayomi seluruh golongan dengan mengutamakan toleransi dalam perbedaan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Cak Nun juga sempat menggelar dialog interaktif dengan beberapa jamaah. Ribuan jamaah baru beranjak meninggalkan lokasi setelah acara ngaji bareng ditutup doa dari ulama Banjarejo KH Moh Syafi’i pada pukul 01.30 WIB. (NAK)

Editor: Supriyadi

Sejak Subuh Penggemar Cak Nun Mulai Berdatangan ke Desa Banjarejo Grobogan

Panitia peringatan setahun Desa Wisata Banjarejo masih sibuk mempersiapkan panggung yang akan digunakan untuk acara ngaji bareng Cak Nun malam ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puncak acara peringatan setahun Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan baru dilangsungkan Selasa (24/10/2017) malam nanti. Meski demikian, sejak subuh, sudah ada banyak penggemar Cak Nun yang mulai berdatangan di Desa Banjarejo.

“Saya datang berempat ke Desa Banjarejo. Kami ke sini untuk menghadiri acara ngaji bareng Cak Nun nanti malam,” kata Anwar, penggemar Cak Nun yang mengaku berasal dari Gresik, Jawa Timur.

Ia dan rombongan sengaja datang lebih awal, karena ingin melihat suasana Desa Banjarejo. Selain itu, mereka juga ingin melihat potensi wisata cagar budaya dan purbakala yang banyak ditemukan di Banjarejo.

“Kalau datangnya pagi-pagi, kami punya banyak waktu untuk keliling Desa Banjarejo. Setelah itu, baru nanti malam ikut ngaji bareng Cak Nun,” jelasnya.

Anwar mengaku mengetahui ada acara ngaji bareng Cak Nun di Banjarejo lewat situs berita online. Kemudian, ia menghubungi beberapa temannya untuk diajak berangkat bersama ke Banjarejo.

Baca : Peringatan Setahun Desa Wisata Banjarejo Grobogan Bakal Hadirkan Cak Nun

Sementara itu, pihak panitia masih terlihat sibuk mempersiapkan panggung dan menata dekorasi untuk kegiatan ngaji bareng. Puncak acara peringatan setahun Desa Wisata Banjarejo ditempatkan di lapangan sepakbola di sebelah timur rumah fosil.

“Persiapan panggung sudah mulai kita lakukan sejak kemarin. Sekarang tinggal mengecek kalau ada yang masih kurang. Kita harapkan acara nanti malam berjalan lancar,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Editor : Ali Muntoha

Peringatan Setahun Desa Wisata Banjarejo Grobogan Bakal Hadirkan Cak Nun

Baliho besar yang menginformasikan even ngaji bareng Cak Nun di Desa Banjarejo sudah terpasang di depan kantor Disporabudpar Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemerintah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan bakal menggelar acara ngaji bareng, Selasa (24/10/2017) mendatang. Budayawan kondang Emha Ainun Najib atau lebih akrab disapa Cak Nun dijadwalkan jadi pengisi acara yang akan dihelat di lapangan sepak bola di sebelah timur Rumah Fosil Banjarejo tersebut.

”Kita sudah dapat kepastian kalau Cak Nun bisa hadir lengkap dengan Kiai Kanjeng. Kemungkinan, Ibu Novia Kolopaking juga akan hadir. Mudah-mudahan, acaranya nanti berjalan lancar,” ungkap Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (12/10/2017).

Menurut Taufik, acara ngaji bareng bersama Cak Nun dilangsungkan dalam rangka memperingati setahun Desa Wisata Banjarejo. Setahun lalu, Desa Banjarejo secara resmi sudah ditetapkan sebagai desa wisata oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni. Launching Desa Wisata Banjarejo dilangsungkan secara meriah, Kamis (28/10/2016) lalu.

”Saat launching acaranya sangat meriah. Nah, pada ulang tahun pertama Desa Wisata Banjarejo kami juga ingin agar suasananya meriah. Kali ini, kami pilih bikin acara ngaji bareng dengan Cak Nun,” jelasnya.

Taufik menyatakan, berbagai persiapan sudah dilakukan untuk menggelar gawe besar itu. Antara lain, koordinasi dengan aparat keamanan dan pembentukan panitia.

Agar even itu bisa menjangkau masyarakat luas, pihaknya juga sudah melakukan publikasi maksimal. Terutama, memasang baliho diberbagai kecamatan, termasuk di depan kantor Disporabudpar Grobogan.

”Sudah banyak baliho dan poster yang kita pasang supaya diketahui masyarakat. Selain itu, publikasi lewat medsos juga gencar kita lakukan,” sambungnya.

Taufik menambahkan, beberapa hari lalu, pihak manajemen Cak Nun juga sudah berkunjung ke Banjarejo. Selain koordinasi, mereka juga mengecek lokasi yang akan dipakai untuk menggelar acara. (SER)

Editor: Supriyadi

Pesan Cak Nun untuk Pengamen Jalanan

Cak Nun mengimbau kepada generasi muda untuk terus berusaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas jika menginginkan hasil terbaik. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun menegaskan agar umat Islam jangan melakukan kejahatan untuk bisa mengetahui kebenaran. Melakukan hal-hal baik, kata Cak Nun, bukan berarti harus melakukan hal-hal buruk terlebih dahulu.

Hal itu dikatakan Cak Nun untuk menanggapi pertanyaan seorang buruh perusahaan rokok yang memiliki sampingan sebagai pengamen jalanan. Si pengamen kebetulan datang dengan berpakaian lusuh apa adanya plus gitar kecil yang sudah butut. ’’Jujur saja saya sering melakukan hal-hal yang buruk,’’ kata si pengamen.

Cak Nun lantas mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah memandang manusia dari apa yang dia kenakan, tapi apa yang sudah dilakukannya. ’’Maka teruslah berbuat baik sebisa kita tanpa perlu melakukan hal-hal yang buruk terlebih dahulu. Tapi kalau sudah terlanjur ya sudah. Minta maaf kepada Allah SWT dan cobalah untuk tidak mengulanginya lagi,’’ kata Cak Nun mengingatkan.

Menurut Cak Nun, Allah SWT memang menciptakan segala sesuatunya berpasangan, termasuk baik dan buruk. Namun demikian, Cak Nun mengingatkan semua yang hadir untuk tetap menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal buruk.

’’Seperti kisah pelacur yang dinaikkan ke surga oleh Allah SWT karena keikhlasannya menolong seekor anjing yang kehausan. Kita tidak perlu kemudian menjadi pelacur, kemudian pergi ke tempat panas dan mencari anjing di sana agar kita juga bisa naik ke surga. Tidak perlu seperti itu,’’ ujarnya disambut hujan tawa pengunjung.

Cak Nun kemudian meminta kepada pengamen tersebut untuk tetap bersyukur atas apa yang sudah dikerjakan dan dihasilkannya. Cak Nun juga berpesan kepada pengamen untuk bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam mencari rezeki. ’’Aja mung keplok-keplok tah nyanyi angger-anggeran. Kudu temenanan. (Jangan hanya bertepuk tangan atau menyanyi asal-asalan. Harus sungguh-sungguh, Red),’’ pesan Cak Nun. 

Editor: Kholistiono

Ditanya Bagaimana Caranya Mencintai Rasulullah SAW, Begini Jawaban Cak Nun

Banyak cara untuk mengenal Rasulullah, salah satunya dengan membaca banyak sekali literatur mengenai sejarah Kanjeng Nabi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun memberikan doa kepada pengunjung agar dapat mencintai Rasulullah SAW secara khusus. Itu dilakukannya usai pengunjung bertanya tentang cara mencintai Rasulullah.

’’Bagaimana mencintai Rasulullah, sedangkan bertemu saja belum pernah? Saya ingin menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, sehingga saya bisa ikut gondelan klambine Kanjeng Nabi’’ tanya seorang pengunjung.

Cak Nun kemudian mengatakan, cinta adalah perasaan. Dia menggambarkan kalau Kanjeng Nabi adalah orang yang top. Orang yang istimewa. Tapi untuk itu, warga diminta untuk lebih mengenal Rasulullah SAW.

’’Cara yang paling mudah adalah dengan banyak membaca sejarah beliau. Bisa juga dengan bertanya kepada kiai, ulama, atau juga dengan browsing internet. Saya doakan semoga kamu mendapat berkah dan bisa mencintai Rasulullah SAW. Saya hanya bisa mendoakan saja,’’ beber Cak Nun.

Cak Nun menambahkan, hanya dengan mempelajari sejarah Rasulullah SAW, seseorang diharapkan dapat lebih mengenal sosok Kanjeng Nabi. ’’Bagaimana sikap beliau. Bagaimana tutur kata beliau. Bagaimana perilaku beliau. Jika sudah kenal, pasti akan timbul rasa cinta terhadap Rasulullah SAW. Karena tidak ada manusia yang sesempurna Rasulullah SAW. Makanya Kanjeng Nabi itu sudah yang paling top lah,’’ tambah Cak Nun.

Cak Nun kemudian mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah marah dan menyalahkan orang lain. Ketika dua orang tentara Rasulullah SAW tertangkap musuh dan kemudian salah satunya mati dieksekusi sementara yang lain dibiarkan bebas setelah mengaku kafir, Rasulullah SAW tidak memarahi yang kembali kepadanya dalam keadaan hidup.

’’Kata Kanjeng Nabi, yang mati insha Allah langsung masuk surga karena keteguhan hatinya akan Islam. Sementara yang hidup Kanjeng Nabi memujinya dan mengatakan dia diberi waktu yang panjang oleh Allah SWT untuk masuk surga. Ini hanyalah salah satu contoh saja. Banyak sekali contoh sikap, tutur kata, dan perilaku Kanjeng Nabi yang sungguh terpuji,’’ ujar Cak Nun. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun: Jadilah Abdullah, Bukan Insan

Allah SWT tidak menciptakan segala sesuatu dengan percuma, maka Cak Nun mengingatkan agar umat Islam senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun mengajak seluruh umat Islam agar menjadi Abdullah atau abdinya Allah SWT. Sebab, cara yang demikian akan mendatangkan rasa ikhlas, sehingga mendekatkan untuk dicukupi semua yang menjadi kebutuhannya.

Cak Nun mengatakan, orang yang mengerjakan semuanya demi Allah, maka Allah bakal memberikan ridlo-Nya kepada hamba. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya menderita apalagi sampai ditelantarkan. Hal itulah yang selama ini dipraktikkan olehnya selama ini, dengan menjadikan diri sebagai hamba Allah.

’’Misalnya saja kita diminta mengantarkan barang ke Solo dari Kudus. Jika yang memerintahkan adalah bos, maka semuanya akan dicukupi, mulai makan, transportasi bahkan keselamatan juga dijamin. Namun jika mengerjakan sendiri, maka bos tentunya tidak mau nanggung,’’ katanya.

Lebih jauh dikatakan, bahwa selama ini banyak yang kurang pas dalam hal menjalankan ibadah salat dengan niat ingin masuk surga. Padahal, jika melakukan ibadah seperti salat karena Allah, maka Allah menjamin hamba-Nya untuk menjadi penghuni surga. Tanpa adanya niatan masuk surga.

Dia mencontohkan, jika seorang mendapatkan surga namun tidak diperhatikan oleh Allah, itu akan lebih menyakitkan bagi hamba-Nya. Lain halnya jika Allah sendiri yang menaruh hambanya di surga, maka Allah menjamin memperhatikan hambanya tersebut. ’’Karena Allah itu pasti tanggung jawab, jadi tidak usah khawatir,’’ ujarnya.

Dia juga mengatakan, menjalankan ibadah bisa dilakukan sepanjang waktu. Sebab selama 24 jam lamanya, seorang yang hidup adalah sejatinya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Karena statusnya merupakan status hamba, sehingga harus mendekatkan diri kepada Allah setiap waktu.

’’Saat berdoa, sebagai hamba berperilaku manja-manja sedikit tidak apa-apa. Karena sebagai hamba bisanya juga meminta agar diperhatikan,’’ imbuhnya. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun: Aja Lali Karo Jowomu!

Nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal luhur, menjadi lengkap dengan kedatangan Islam di tanah Jawa yang dibawa Walisanga. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun mengingatkan kepada warga Kudus dan sekitarnya agar senantiasa mengingat jati diri masing-masing. Jika kita lahir di Jawa, kita harus berbangga jadi orang Jawa. Jangan kemudian jadi malu atau minder karenanya.

Menurut Cak Nun, sekarang ini banyak yang salah kaprah tentang cara berpikir dalam berbangsa. ’’Banyak yang karena alasan NKRI kemudian mengatakan Indonesia itu bukanlah Jawa, Aceh, Sumatera, dan lain sebagainya. Ini keliru!’’ sergahnya.

Indonesia, kata Cak Nun, itu ibarat gado-gado. Di dalamnya ada unsur lontong, sayuran, kentang, dan bumbu kacangnya yang khas. ’’Indonesia ini juga ada Jawa, Aceh, Sumatera, dan lain sebagainya,’’ beber Cak Nun.

Bangga menjadi orang Jawa, lanjut Cak Nun, berarti sudah bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah membuat seseorang lahir sebagai orang Jawa. ’’Dadi aja lali karo Jowomu, rek!’’ lanjut Cak Nun dengan nadanya yang khas.

Islam memang dilahirkan di tanah Arah. Tapi Cak Nun mengingatkan warga yang hadir bahwa umat Islam tidak perlu berperilaku seperti orang Arab. ’’Kita adalah orang Jawa. Bukan orang Arab. Jadi berperilakulah seperti orang Jawa,’’ katanya lagi.

Cak Nun menambahkan, ora Jawa sejak dahulu kala sebenarnya sudah melakukan hal-hal yang baik secara manusia. Ibarat sebuah botol, orang Jawa itu tinggal membutuhkan tutupnya saja. Jadi ketika Islam masuk ke tanah Jawa, hal itu menjadi pelengkap nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal tinggi.

Jawa dan Islam, imbuh Cak Nun, menjadikan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Hal-hal baik yang dimiliki orang Jawa, menjadikannya kian sempurna dengan ajaran Islam yang dibawa Walisanga.

Editor: Kholistiono

Habib Anis: Yakinlah Allah Akan Menempatkan Kita di Tempat Terbaik

Habib Anis mengingatkan jika keikhlasan dalam segala hal menjadi kunci bagi manusia untuk mendapatkan ridla dari Allah SWT. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus ­­– Habib Anis Sholeh Ba’asyin dari Pati mengajak semua pihak untuk ikhlas dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu doa siapakah yang akan dipenuhi oleh Allah SWT.

’’Meski berlian itu berada di sebuah kubangan comberan, yakinlah suatu ketika akan ditemukan orang dan ditempatkan di tempat terbaik. Begitu juga dengan kita. Ikhlas lah dalam hidup ini dan yakinlah bahwa Allah SWT akan menempatkan kita di tempat yang sepantasnya,’’ bebernya.

Habib Anis lantas menceritakan sebuah kisah di tanah Arab tentang seorang pemuda yang selalu bikin onar dan mabuk-mabukan. Tiap malam si pemuda selalu menganggu dan meresahkan warga sekitar. Hingga akhirnya datanglah seorang warga yang meminta bantuan untuk menegur pemuda tersebut.

Singkat cerita, keesokan paginya seorang warga keluar rumah dengan niat untuk menegur pemuda yang meresahkan masyarakat. Hanya tiba-tiba terdengar suara yang berkata kalau jangan menggangu kekasihnya. Lantaran penasaran, dia kemudian memberanikan diri untuk datang dan bertanya kenapa dia disayangi oleh Allah.

’’Namun pemuda yang suka membuat onar tersebut menangis, dan berkata kalau sebelumnya sudah mendapatkan tulisan Allah dalam jalan yang sudah lusuh. Dia kemudian mengambil dan menyimpannya di dalam kopiahnya, dengan setiap hari dikasih minyak wangi. Dia mengira itulah sebabnya,’’ ujarnya.

Selang beberapa waktu, pemuda yang buat onar menghilang. Dan ketika warga tadi pergi ke Mekkah, bertemulah dia dengan pemuda tersebut. Tapi kemudian dikisahkan pemuda itu akhirnya meninggal di Mekkah. ’’Pada akhirnya Allah SWT menempatkannya di tempat terbaik. Ini semua karena keikhlasan si pemuda tadi, meski dia tukang onar dan suka mabuk-mabukan,’’ tambah Habib Anis. 

Editor: Kholistiono

Camat Mejobo: Teruslah Belajar, Belajar, dan Belajar

Cak Nun sependapat dengan Camat Mejobo agar generasi muda di Kudus tidak berputus asa dalam mengejar ilmu dan tidak terbatas pada pendidikan formal saja. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Mejobo Harso Widodo mengatakan, kalau dalam belajar jangan sampai putus di tengah jalan. Karena, tugas belajar itu tidak akan selesai sampai dengan kapanpun juga akan tetap dilaksanakan.

’’Kami meminta semuanya, khususnya masyarakat di Mejobo dapat lebih rajin lagi dalam belajar. Jangan sampai berhenti belajar dengan alasan apapun juga,’’ katanya seraya mengingatkan bahwa Rasulullah SAW sudah memberikan contoh kepada umatnya agar tidak pernah lelah belajar.

Menurutnya, pembelajaran juga dikhususkan pada kalangan pemuda di kawasan Mejobo. Terus belajar sangat penting dilakukan dalam hal apapun, terlebih pendidikan formal. Selain itu, dalam belajar juga bisa dilakukan dengan siapapun.

’’Seperti kepada kiai, guru, atau juga kepada teman sendiri,’’ tambahnya seraya mengatakan, belajar juga bisa dilakukan bukan saja di sekolah, tapi juga di majelis-majelis pengajian seperti kegiatan Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng tersebut.

Dia mengajak Pemuda Mejobo agar tak berhenti belajar. Selain itu, ajakan juga dilakukan untuk menciptakan suasana yang aman dan tertib di lingkungan Mejobo, yang ujungnya memberikan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Sementara Cak Nun mengatakan, belajar bisa di mana saja. Karena, sebenarnya spirit Alquran itu bisa ditemukan di tiga tempat. Pertama di alam, kedua di diri sendiri, dan ketiga di dalam kitab Alquran sendiri. Sehingga sebenarnya setiap manusia sudah memiliki Alquran di dalam dirinya masing-masing. ’’Itulah mengapa dibutuhkan belajar. Namun jika ingin mempelajari Alquran secara utuh, maka dapat dilakukan dengan cara meniru Rasulullah SAW,’’ ungkapnya. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun: Pusat Toleransi Beragama Indonesia Ada di Kudus

Cak Nun mengajak warga Kudus untuk meneladani Sunan Kudus yang berdakwah tanpa kekerasan dan pemaksaan kehendak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus ­– Cak Nun mengakui jika Kudus adalah kota yang menyimbolkan toleransi beragama sejak didirikan oleh Sunan Kudus. Hal tersebut dikatakan Cak Nun untuk menanggapi penggiat Jagong Kamulyan yang juga pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Gus Abdul Jalil terkait dengan temuan prasasti di Masjid Menara Kudus.

Menurut Gus Jalil, Sunan Kudus dalam menjalankan dakwahnya tidak pernah menggunakan cara kekerasan dan pemaksaan kehendak. Justru Sunan Kudus selalu menggunakan cara-cara pendekatan kultural. ’’Pada saat masyarakat Kudus saat itu menyucikan sapi, Sunan Kudus pun kemudian memelihara sapi di depan masjid dan melarang untuk menyembelihnya,’’ ujarnya.

Gus Jalil pun kemudian mengajak seluruh warga untuk meneladani cara berdakwah Sunan Kudus yang dilakukan dengan penuh damai dan toleransi yang tinggi terhadap umat beragama lain. ’’Dan dengan cara damai, justru masyarakat sampai sekarang masih melaksanakan ajaran Kanjeng Sunan Kudus,’’ imbuhnya.

Caknun pun mengamini pernyataan Gus Jalil. Sunan Kudus, kata Cak Nun, menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ’’Dan hebatnya, apa yang kemudian diajarkan Sunan Kudus, bertahan sampai sekarang. Padahal Sunan Kudus sudah tidak ada lagi,’’ katanya.

Tidak mengherankan jika Kudus hingga kini terkenal dengan kuliner daging kerbau, bukan daging sapi. Di saat Idul Adha pun, mayoritas warga Kudus hingga kini masih memilih untuk menyembelih kerbau, daripada sapi. Sebuah tradisi yang berawal dari penghormatan Sunan Kudus terhadap masyarakat Kudus yang saat itu memeluk Hindu kuno. 

Editor: Kholistiono

Cara Menangkal Berita Hoax Bagi Cak Nun

Cak Nun mengingatkan masyarakat untuk bisa memfilter informasi dengan cara melihat kembali apakah informasi itu berhubungan dengan dirinya sendiri atau tidak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Belakangan di masyarakat, banyak bermunculan kabar atau berita yang tak semestinya atau hoax. Dan berita tersebut dapat menyesatkan jika terus dikonsumsi oleh masyarakat karena menang tak benar.

Deka Hendratmanto, pendiri MuriaNewsCom mengungkapkan, sekarang ini marak berita hoax. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dari pembaca agar dapat melihat sumber berita yang dapat dipercaya ataukah tidak.

’’Saat ini kita terlalu mudah mendapatkan informasi, khususnya dari internet. Apalagi keberadaan media sosial ternyata memberikan dampak yang luar biasa terhadap penyebaran informasi. Sehingga kita harus bisa memfilternya dengan bijak. Apakah itu bermanfaat untuk kita atau tidak,’’ katanya.

Menanggapi hal tersebut, Cak Nun mengatakan dirinya sudah cara sendiri untuk memfilter informasi yang saat ini sudah beredar cukup cepat. Cak Nun mengaku tidak terlalu aktif mencari informasi melalui internet.

’’Saya hanya buka internet untuk mencari informasi yang saya butuhkan saja. Selain itu tidak. Itu cara saya. Saya tidak tertarik untuk mencari informasi yang tidak saya butuhkan atau tidak ada hubungannya dengan saya,’’ katanya lagi.

Cak Nun juga mengakui dirinya tidak memiliki akun di media massa seperti facebook. ’’Ada sekitar 26 akun facebook yang menggunakan nama Cak Nun. Ya nggak apa-apa. Biarkan saja. Tapi saya tidak punya akun facebook,’’ ujarnya.

Melihat dahsyatnya dampat media sosial dalam membantu penyebaran sebuah informasi, Cak Nun pun mengajak semua warga untuk kembali meneladani Rasulullah SAW. ’’Aja ngurusi urusane wong liya. Direwangi tukaran karo kancane dhewe barang. (Jangan suka ikut campur urusan orang. Sampai harus bertengkar dengan teman, Red),’’ pesannya. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun Ajak Masyarakat Kembali ke Kanjeng Nabi

Cak Nun mengingatkan masyarakat bahwa hanya Rasulullah SAW yang mampu dan bisa memberikan syafaat kepada seluruh umatnya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Emha Ainun Nadjib atau yang biasa dikenal dengan Cak Nun, mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengingat kembali dan meneladani sikap, ucapan, dan perilaku Nabi Muhammad SAW.

Hal itu disampaikan Cak Nun dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang mengambil tema ’’Gondelan Klambine Kanjeng Nabi’’ di Lapangan Sepak Bola Pancasila Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Jumat (28/4) malam.

Kegiatan yang diprakarsai MuriaNewsCom dengan dukungan sepenuhnya dari PR Sukun itu digelar dalam rangka menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hadir dalam kesempatan tersebut, Deka Hendratmanto (pendiri MuriaNewsCom), Gus Abdul Jalil (penggiat Jagong Kamulyan), Gus Romli (budayawan), dan Habib Anis Sholeh Ba’asyin (Pati). Turut hadir pula Camat Mejobo Harso Widodo, Kapolsek Mejobo AKP Suharyanto, dan Danramil Mejobo Kapten Inf Bambang Sunarto.

Di hadapan ribuan warga, Cak Nun mengingatkan, hanya Rasulullah SAW yang mampu dan bisa memberikan syafaat. ’’Hanya beliau yang bisa ngenyang jumlah rekaat salat dalam sehari kepada Allah SWT,’’ katanya.

Ditegaskan, di dunia ini tak ada yang lain yang bisa menolong manusia kecuali sang Rasul. ’’Makanya kita harus gondelan Kanjeng Nabi. Tidak bisa gondelan yang lainnya. Namun kita juga harus tahu bagaimana sifat-sifat beliau,’’ ujarnya.

Rasulullah, lanjut Cak Nun, tidak tega melihat umatnya menderita. Jadi, dengan mengetahui sifatnya itu, umat bisa meminta pertolongan kepada Rasul dengan sungguh-sungguh agar dimintakan kepada Allah SWT. ’’Karena beliau lah Kholifah,’’ imbuhnya. 

Editor: Kholistiono

Santri Diharapkan Bisa Menjadi Panutan

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menyampaikan sambutannya pada acara Ngaji Kebangsaan pada Minggu (23/10/2016) malam di Alun-alun Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menyampaikan sambutannya pada acara Ngaji Kebangsaan pada Minggu (23/10/2016) malam di Alun-alun Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz menyampaikan, jika santri itu memiliki ciri khas yang baik, sederhana dan memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap sesama serta suka membantu orang lain.

Untuk itu, keberadaan santri saat ini juga diharapkan bisa menjadi panutan karena perilaku sifatnya yang terpuji. “Santri itu harus sederhana meskipun punya segalanya, tetapi tidak pamer, tidak sombong. Jika ada santri yang adigang-adigung dan sombong, itu namanya bukan santri,” ujar Hafidz saat menghadiri acara Ngaji Kebangsaan bersama Cak Nun  dan Gus Mus serta beberapa ulama serta tokoh di Alun-alun Rembang, Minggu (23/10/2016) malam.

Lanjutnya, hal yang patut ditiru dari santri yakni, tidak memiliki budaya meminta. Jikapun tak memiliki apa-apa tetap siap menjalankan tugas,seperti apa yang pernah dialami bupati ketika nyantri di Sarang.”Santri biasanya tidak punya cita-cita, tetapi kehidupannya bisa melebihi yang punya cita-cita. Seperti saya yang sudah mengalami,” imbuhnya.

Sementara itu, KH Ahmad Musthofa Bisri atau akrap di sapa Gus Mus ini, mengingatkan agar para santri tahu tentang sejarah Hari Santri.

“santri harus tau sejarahnya, kenapa ada peringatan Hari Santri Nasional. Meski ditetapkannya Hari Santri itu sudah terlambat. Akan tetapi Resolusi Jihad harus menjadi pengingat bagi santri, bagaimana peran santri untuk berjuang demi bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Gus Mus berpesan kepada para santri, untuk tidak menonjol-nonjolkan jasa. Meski tidak dibukukan peranan santri, tetapi peranan santri dapat dilihat melalui Resolusi Jihad oleh Hadrotus Syeh Hasyim As’ary, yang merupakan perwujudan sumbangsih santri kepada negara Indonesia.

Editor : Kholistiono

Cak Nun Puji Warga yang Hadiri Pengajian di Purwodadi Meski Hujan

Cak Nun saat mengisi kegiatan Sinau Bareng Meretas Korupsi di Alun-alun Purwodadi, Kamis (11/2/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Cak Nun saat mengisi kegiatan Sinau Bareng Meretas Korupsi di Alun-alun Purwodadi, Kamis (11/2/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Budayawan kondang Emha Ainun Najib atau lebih populer dengan sebutan Cak Nun sempat melontarkan pujian pada warga Grobogan yang hadir dalam acara Sinau Bareng Meretas Korupsi di Alun-alun Purwodadi, Kamis (11/2/2016) malam.

Pujian itu dilontarkan lantaran ribuan warga itu tetap bersedia menghadiri pengajian kendati hujan terus mengguyur Kota Purwodadi sejak sore hingga acara dimulai.
“Kalian semua yang datang ke acara ini merupakan orang-orang pilihan. Soalnya, kondisi ini membuktikan jika  kalian ini punya tekat kuat untuk sinau bareng di sini. Hujan ini merupakan rahmat dan ujian buat kita semua,” kata Cak Nun.

Dalam kesempatan itu, Cak Nun juga mengajak semua yang hadir untuk selalu belajar. Untuk belajar harus dimulai dari yang dekat dilanjutkan ke level tinggi dan selanjutnya kembali lagi ke level dekat. Satu hal lagi, dalam belajar yang paling penting adalah bisa mendatangkan manfaat dan menambah keimanan kita pada Allah SWT.

Selain ribuan warga, acara sinau bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng juga dihadiri Bupati Grobogan Bambang Pudjiono berserta para pimpinan FKPD setempat. Hadir pula, calon Bupati Grobogan terpilih Sri Sumarni dan wakilnya Edy Maryono.

“Acara yang digelar malam ini sangat positif dan perlu kita dukung. Kita berharap, semua yang hadir bisa memetik pelajaran berharga dari acara sinau bareng meretas korupsi bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng,” ungkap Bambang Pudjiono saat menyampaikan sambutan.

Acara malam itu, juga digunakan Bambang untuk menyampaikan kata pamitan. Sebab, sebulan lagi, ia bakal mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Grobogan periode 2011-2016.

“Dalam kesempatan ini, perkenankan saya meminta maaf atas kesalahan baik secara pribadi maupun saat menjabat sebagai bupati. Demikian pula saya juga memohonkan maaf buat istri dan semua anggota keluarga,” kata Bambang.

Editor : Akrom Hazami

Yuk, Sinau Masalah Korupsi Bareng Cak Nun di Alun-alun Purwodadi

Kru Kiai Kanjeng tengah melangsungkan cek sound di Alun-alun Purwodadi, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kru Kiai Kanjeng tengah melangsungkan cek sound di Alun-alun Purwodadi, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom,Grobogan – Budayawan Emha Ainun Najib atau lebih akrab disapa Cak Nun, Kamis (11/2/2016) malam akan hadir di Alun-alun Purwodadi.

Rencananya, Cak Nun bakal hadir dengan Kyai Kanjeng serta Novia Kolopaking.
Acara yang dikemas dalam tema “Sinau Bareng Cak Nun” itu digelar oleh LSM Forum Lintas Pelaku (FLP) Grobogan bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Purwodadi.

Ketua FLP Grobogan Rahmatullah mengatakan, sebenarnya acara ini akan digelar Desember tahun lalu. Yakni berkaitan dengan Hari Anti Korupsi Se-dunia. Namun, lantaran waktu itu ada perhelatan pilkada maka acara tertunda.

“Setelah tertunda cukup lama akhirnya malam ini Cak Nun bisa kita hadirkan disini. Bersama Cak Nun kita akan sinau bareng meretas budaya korupsi,” katanya.

Dalam acara ini, pihaknya mengundang berbagai komponen masyarakat. Mulai warga biasa, pejabat dan wakil rakyat. Melalui acara ini masyarakat akan dapat pemahaman soal korupsi dari sudut pandang lain.

Editor : Akrom Hazami