Perempuan Bunuh Diri di Pinggir Sungai di Kebumen

Pelaku bunuh diri tampak di pinggir sungai di Kebumen. (Sorot.co)

MuriaNewsCom, Kebumen – Perempuan paruh baya, Lasinah (50),  warga Desa Kalipoh, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, ditemukan tewas bunuh diri, di titian bambu Sungai Penguyon, desa setempat, Sabtu (25/11/2017).

Salah seorang warga, Sintar, kali pertama menemukan pelaku bunuh diri itu. Saat itu, Sintar hendak beraktivitas di dekat lokasi bunuh diri. Saat itu, Sintar terkejut melihat adanya pelaku sudah tergantung.

“Saksi terus memberitahukannya ke warga lain dan melaporkannya ke polisi,” kata Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti melalui Kassubag Humas AKP Willy Budiyanto.

Tim medis tidak menemukan adanya tanda kekerasan di tubuh pelaku. Pelaku diduga gantung diri karena depresi. Polisi berharap agar keluarga lebih peduli jika ada anggota yang mengalami depresi.   

Editor : Akrom Hazami

Kakek di Grobogan Ini Pilih Mati Daripada…

Ilustrasi MuriaNewsCom

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan, Rabu (14/11/2017). Seorang kakek berusia 91 tahun bernama Kadi ditemukan gantung diri di rumahnya sendiri.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Samin (55) sekitar pukul 06.00 WIB. Pagi itu, Samin bermaksud mengantarkan sarapan.

Saat masuk ke dalam rumah, ia mendapati tubuh Kadi sudah tergantung di bawah belandar rumah dengan leher terjerat tali plastik. Melihat kenyataan itu, Samin sontak kaget dan selanjutnya berteriak minta pertolongan warga.

Mendengar teriakan tersebut, puluhan warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Kradenan AKP Abas menyatakan, berdasarkan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Usai Cekcok dengan Istri, Suami Ini Pilih Lilitkan Lehernya di Kebumen

Polisi melakukan olah TKP di Mirit, Kebumen. (Humas/Polres Kebumen)

MuriaNewsCom, Kebumen – Bagaimana tidak sedih, Saripah (45) warga Mirit, Kabupaten Kebumen, melihat suaminya, MR (52) gantung diri. Sebelumnya, pasangan suami dan istri itu cekcok.   

Polisi melakukan olah TKP di rumahnya, Rabu (8/11/2017) siang.  Setelah suaminya MR  ditemukan tewas dengan kondisi leher terjerat seutas tali plastik di rumahnya sekira pukul 10.30 WIB.

Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti, melalui Kasubbag Humas Polres Kebumen AKP Willy Budiyanto membenarkan informasi peristiwa tersebut. Kasus kematian korban ditangani langsung oleh Sat Reskrim Polres Kebumen dengan menerjunkan Tim Inafis nya dengan dibantu oleh Polsek Mirit Polres Kebumen.

Dari hasil olah TKP, korban meninggal dunia karena kehabisan nafas akibat terlilit tali. Di sekitar TKP, polisi tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan, yang mengarah ke tindak pidana.

Berdasarkan informasi yang berhasil ditelusuri, dua jam sebelum ditemukan tewas, korban sempat cekcok mulut dengan istrinya.

“Berdasarkan keterangan saksi yang kami kumpulkan, sebelum ditemukan tewas, korban sempat cekcok dengan istrinya,” terang Willy, mengutip keterangan tim olah TKP.

Saksi Sulasno (25) warga Desa Tlogodepok, Kecamatan Mirit, yang saat itu akan menemui anak korban, sempat melihat korban cekcok mulut dengan istri korban. Merasa tidak enak, Sulasno pilih meninggalkan rumah itu.

“Namun, dua jam kemudian karena suasana sudah sepi, saksi kembali lagi ke rumah itu. Saat ketuk ketuk pintu tidak ada yang menjawab, saksi ini masuk ke rumah dan melihat korban sudah dalam keadaan menggantung,” kata Willy.

Panik melihat korban menggantung, Sulasno mencari Saripah. Karena pada saat kejadian, Saripah tidak ada di rumah. Namun, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan.

Korban menggantung pada seutas tali yang disimpulkan di pasak rumahnya. Berdasarkan keterangan para saksi dan barang bukti yang ditemukan di TKP, polisi menyimpulkan bahwa korban meninggal dunia akibat bunuh diri.

Polisi menduga ketidakharmonisan dalam berumah tangga menjadi pemicu aksi nekad MR. Korban diketahui berprofesi sebagai petani dan memiliki dua orang anak. “Kami sangat menyayangkan peristiwa tersebut, tidak seharusnya korban mengambil.keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri apapun alasan nya,” pungkas Willy.

Editor : Akrom Hazami

Tenggak Air Putih, Ibu Muda Ini Tewas di Kebumen

Polisi melakukan olah tkp di Kabupaten Kebumen, Senin malam. (tribratanews polres kebumen)

MuriaNewsCom, Kebumen – Setelah menenggak air putih, Aminah Susanti (33) seorang ibu rumah tangga, warga Gombong, Kebumen, kejang dan meninggal dunia. Kematiannya yang tidak wajar tersebut akhirnya diusut Polres Kebumen untuk mengetahui motifnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin (09/10/2017) sekitar pukul 22.00 WIB, dan disaksikan langsung oleh Delik (55) ibu mertuanya yang tinggal serumah dengan korban. Saat ini kasusnya ditangani Polsek Gombong Polres Kebumen dan Inafis Sat Reskrim Polres Kebumen.

Penuturannya kepada polisi yang datang untuk melakukan oleh TKP, sebelum kejang dan meninggal, korban sempat membuat minuman.

“Setelah diminum, korban masuk kamar dan menangis. Mengetahui korban menangis, mertuanya mengahmpiri korban dan sempat menyuruhnya mengucapkan Istigfar. Namun tidak lama kemudian korban kejang dan dibawa ke RS PKU Muhamadiyah Gombong untuk mendapatkan perawatan. Namun tidak tertolong dan meninggal di rumah sakit,” kata Kapolsek Gombong AKP Hendrie S Liquisa didampingi Kanit Reskrim Polsek Gombong IPTU Suwarto dilansir dari tribratanews polres kebumen.

Dari hasil penyelidikan, sebelum meninggal, korban meminum air putih yang dicampur dengan obat kimia potasium. “Korban meninggal karena keracunan minuman yang dibauatnya. Korban mencampurkan minumannya dengan potasium. Korban sengaja mengakhiri hidupnya,” katanya.

Pernyataan itu diperkuat dari hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas medis RS PKU Muhamadiyah Gombong, korban meninggal karena keracunan minuman. Pada tubuh korban tidak ditemukan tanda yang mengarah ke penganiayaan.

Selain itu, penuturan dari pihak keluarga, korban saat ini sedang terlilit hutang. Sedangkan suaminya merantau bekerja di Bandung Jabar. Korban memiliki tiga anak yang masih kecil.

Kapolsek Gombong sangat menyayangkan sekali peristiwa tersebut. Meninggalnya Aminah menambah panjang deretan korban meninggal bunuh diri akibat himpitan ekonomi di Kebumen.

Editor : Akrom Hazami

(humas/polres kebumen)

8 Orang Bunuh Diri di Kebumen

Salah satu lokasi gantung diri di Kabupaten Kebumen, beberapa waktu lalu (Humas Polres Kebumen)

MuriaNewsCom, Kebumen – Angka bunuh diri dengan cara gantung diri di Kabupaten Kebumen akhir – akhir ini tergolong cukup tinggi. Hal ini tampak jelas saat melihat angka bunuh diri pada dua bulan terakhir ini.

Pada bulan Agustus lalu, ada 5 orang yang nekat melakukan aksi gantung diri, yaitu pada tanggal 6 Agustus warga Kecamatan Klirong, 11 Agustus warga Puring, 16 warga Kecamatan Rowokele, 22 warga Kecamatan Buayan, 30 Agustus warga Kecamatan Kutowinangun” beber AKP Willy Bidiyanto, Kasubag Humas Polres Kebumen, dilansir dari tribratanews-polreskebumen.com.

BacaSendang Doro Grobogan Telan Korban, Warga Terpaksa Menguras Sendang untuk Cari Mayat

Menurut data yang dapat dihimpun oleh Polres Kebumen sejak Agustus hingga September ini, tercatat ada delapan warga dari berbagai kecamatan yang ada di Kebumen nekat melakukan aksi bunuh diri dengan cara gantung diri.

Sementara pada September ini, lanjut Willy, tercatat ada 3 orang yang nekat melakukan hal serupa, yakni pada tanggal 5, 15 dan 25 September lalu. Tiga orang tersebut yakni warga Kecamatan Sempor, Karanggayam dan Karanganyar.

BacaPemuda 22 Tahun di Kudus Tewas Gantung Diri di Kamar Tidur

Dari 8 korban yang nekat melakukan aksi tersebut mayoritas dilatarbelakangi karena depresi berat, baik akibat penyakit menahun yang tak kunjung sembuh maupun gangguan jiwa.

BacaMemilukan! Seorang Nenek di Godong Grobogan Tewas Terbakar Saat Terlelap Tidur

Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti menghimbau agar jangan mencari jalan pintas yang sesat untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. “Kita harus sadar bahwa perbutan bunuh diri merupakan perbutan yang keji dan tidak dibenarkan oleh agama.

Editor : Akrom Hazami

 

Aneh, Pria Ini Pilih Bunuh Diri di Kandang Kambing di Kebumen

Warga membawa mayat pria yang gantung diri di kandang kambing di Kebumen. (Humas Polres Kebumen)

MuriaNewsCom, Kebumen – Aksi bunuh diri dilakukan di kandang kambing di Kebumen. Tepatnya di Desa Ginandong, Kecamatan Karanggayam, Jumat (22/9/2017) pagi. Peristiwa itu dilakukan oleh Rasmun (27) warga setempat.

Pria yang kesehariannya sebagai peternak sapi tersebut memanfaatkan kandang kambing serta seutas tali plastik. Dijelaskan Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti peristiwa itu pertama kali diketahui warga sekira pukul 05.00 WIB tadi pagi. Seketika, kejadian membuat warga sekitar geger. “Itu terjadi pada pagi hari tadi,” katanya.

Baca : Ditangkap Polisi, Pengedar Pil Dextro Ini Ngaku Konsumennya Guru dan Pelajar di Jepara

Keterangan isteri, Nurwahyuni (27), tadi pagi sekitar pukul 01.00 WIB, suami meninggalkan rumah. Hingga pukul 04.00 WIB, pelaku tidak kunjung pulang. Isteri yang mulai gelisah akhirnya menanyakan ke tetangganya.

Nurwahyuni juga sempat berkeliling ke sekitar rumah, tapi kondisi yang gelap membuat keberadaan suami saat itu sulit ditemukan.

“Merasa ada yang aneh, isterinya gelisah dan menanyakan tetangganya, barangkali menginap di rumah tetangganya tersebut. Sekitar pukul 05.00 WIB, suami ditemukan sudah dalam keadaan menggantung di lokasi kandang,” terang Titi.

BacaTiga Warga Undaan Kudus Nyaris Terpanggang Hidup-hidup di Dalam Rumahnya

Pelaku sering mengeluh penyakit hernia yang diderita korban sejak lama. “Ya, informasi yang kami peroleh, korban lama mengidap penyakit hernia. Bahkan, karena kondisi ekonominya korban tidak sanggup untuk berobat. Korban memiliki satu peliharaan sapi, namun tidak dijual alasannya untuk tabungan,” tandasnya.

Kasusnya telah ditangani Inafis Polres Kebumen dan Polsek Karanggayam Polres Kebumen. Dari hasil olah TKP, polisi tidak menemukan tanda tanda yang mengarah ke tindak kejahatan.

Editor : Akrom Hazami

Perempuan Muda Bertato Gantung Diri di Brebes            

Tubuh perempuan muda tergantung di Brebes. (Grup WhatsApp)

MuriaNewsCom, Brebes – Perempuan muda bertato, Lia Herlina (20), ditemukan tewas gantung diri di rumah kosnya di Jalan Tentara Pelajar, Kota Baru IV, Brebes, Kamis (21/9/2017) malam. Jenazah korban kali pertama diketahui oleh suaminya, Renda Indrawan (20).

BacaGara-gara Kambing Ribut, Pemilik Rumah di Tambirejo Grobogan Ini Selamat dari Kebakaran

Info yang dihimpun, Renda saat itu baru pulang kerja sekitar pukul 20.00 WIB. Sesampainya di rumah kos, Renda membuka pintu rumah. Dirinya kaget mendapati tubuh istri tercintanya tergantung terikat seutas tali tambang jemuran warna hijau sekitar 1,5 meter. Tali itu terikat di kayu penyekat atas ruangan.

Renda panik dan berteriak meminta pertolongan kepada warga sekitar. Sejumlah warga datang ke lokasi. Warga lainnya melaporkan hal itu  ke polisi. “Saya mendengar ada teriakan minta tolong. Saya bergegas mendatangi sumber suara,” kata salah satu tetangga, Sakila (40).

BacaTragis, Bocah Empat Tahun di Jepara Meninggal Tercebur Sumur

Beberapa saat kemudian petugas kepolisian tiba di lokasi kejadian dan langsung melakukan olah TKP. Hasilnya, polisi menduga jika korban bunuh diri.Untuk kepentingan penyelidikan, polisi membawa jenazah  ke RSUD Brebes.

Editor : Akrom Hazami

Jeritan Menyayat Istri Lihat Suaminya Tergantung di Rumahnya di Sragen

Polisi berada di rumah korban bunuh diri di pedukuhan Kadipiro, Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Senin (18/9/2017) dini hari. (Humas Polres Sragen)

MuriaNewsCom, Sragen – Hati siapa yang tak teriris saat melihat pasangan setia meninggal dunia. Hal itulah yang dirasakan salah satu warga pedukuhan Kadipiro, Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Senin (18/9/2017) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.

Adalah Painah. Perempuan berusia sekitar paruh baya tak kuasa menahan tangisnya saat melihat suaminya Mitro Ngadimin (67) sudah dalam kondisi tewas tergantung. Teriakan paraunya membuat warga yang masih terlelap, sontak terjaga.

Warga pun geger. Mereka langsung terbangun menuju sumber suara. Warga berduyun-duyun menuju kediaman Painah. Tidak sedikit dari mereka yang mencoba menghibur Painah. Ada juga yang menghubungi Polsek Mondokan.

Pasangan yang telah menemaninya selama ini, telah pergi selama-lamanya. Painah masih tak percaya dengan kejadian. Terakhir dia bicara dengan suami saat Minggu (17/9/2017) pukul 21.00 WIB. Saat itu, tak ada yang berbeda dengan sosok Mitro.

Pada Senin dini hari, dirinya hendak ke dapur. Pandangannya terhenti pada tubuh yang dikenalinya. Dia melihat suaminya telah tewas menggantung di blandar ruang dapur. Suaminya menggantung menggunakan seutas tali berwarna oranye.

“ Posisinya korban saat menggantung menghadap ke arah selatan, dan berada disamping sumur saat kami evakuasi, “ kata Kapolsek Mondokan AKP Kabar Bandianto.

Dalam evakuasinya bersama tim inafis Polres Sragen, dan tim medis Puskesmas Kecamatan Mondokan, petugas tidak mendapati adanya tanda kekerasan. “ Ada luka jeratan di atas jakun sebesar 1 cm, dan terdapat pula tanda-tanda lain akibat bunuh diri dengan cara menggantung, “ terangnya.

Sementara dari keterangan pihak keluarganya, selama ini korban memang sering mengeluh sakit jimpe (nyeri ) pada kedua kakinya, dan hingga saat jelang peristiwa bunuh diri, korban mengeluh penyakitnya tengah kambuh.

Saat ini jenazah korban telah diserahkan kembali kepada keluarganya untuk dimakamkan.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Kandung Lihat Anaknya Gantung Diri di Banyumas

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Banyumas – Peristiwa gantung diri terjadi di Kabupaten Banyumas. Diketahui korban bernama Sarijo (47) warga Desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Banyumas, Minggu pagi (10/9/2017).

Kapolres Banyumas AKBP Azis Andriansyah secara langsung menjelaskan Sutrima, ibu kandungnya, menemukan mayat Sarijo. Menurut keterangan saksi Rapi (50), ketika itu dirinya akan membayar korban, namun rumahnya terlihat sepi. Kemudian Rapi meminta Sutrima ikut mencari korban.

Baca : Omzet Santri Ganteng Asal Pati ‘Musuh’ Jonru Ini Capai Ratusan Juta per Bulan

Ternyata Sutrima menemukan korban dalam keadaan tergantung dengan mengikatkan leher menggunakan tali.“Setelah dilakukan pemeriksaan medis kepada korban, diketahui korban sudah meninggal dunia lebih dari 6 jam,” kata Azis.

Dari keterangan para saksi dan keterangan medis tidak ditemukan adanya bekas luka pada tubuh korban dan tidak ada unsur pidana. Sementara belum diketahui penyebab korban melakukan gantung diri.

Editor : Akrom Hazami

 

Miris, Kakek di Taruman Grobogan Ditemukan Gantung Diri 

Polisi memeriksa lokasi gantung diri yang dilakukan warga Dusun Lengki, Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Grobogan. (MuriaNewsCom /Dani Agus)

MuriaNewsCom,  Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Dusun Lengki, Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Grobogan, Jumat (11/8/2017). Seorang kakek berusia 83 tahun bernama Rusban ditemukan gantung diri di kamar tidur.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Ari (39). Ceritanya, menjelang magrib Ari tidak mendapati ayahnya di rumahnya. Sebelumnya, Rusban memang berada di rumahnya sejak siang hari.

Selanjutnya, Ari menuju ke rumah ayahnya yang berada di sebelah utara tempat tinggalnya. Saat dipanggil, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Selanjutnya, ia mencoba mencari ayahnya ke dalam kamar.

Saat membuka tirai, Ari sontak kaget. Sebab, ia mendapati tubuh ayahnya tergantung di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kenyataan itu, Ari selanjutnya berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Klambu AKP Asep Priyana menyatakan, saat petugas tiba di lokasi, posisi korban sudah diturunkan dan ditempatkan di meja ruang tamu. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Klambu dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya, Sabtu (12/8/2017).

Editor : Akrom Hazami 

Kakek Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong Karangasem Grobogan

Tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan melakukan pemeriksaan pada pelaku gantung diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)iri

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Dusun Sarip, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jumat (28/7/2017). Seorang kakek berusia 72 bernama Ngadimin ditemukan gantung diri di rumah kosong milik anaknya usai Jumatan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Wagimin (43). Selepas salat Jumat, Wagimin tidak mendapati ayahnya di rumah. Namun, orang yang dicari tidak ditemukan.

Selanjutnya, ia mencoba mencari ke rumah adiknya yang sudah lama kosong. Saat mencari ke dalam salah satu kamar, Wagimin mendapati tubuh ayahnya tergantung di bawah belandar rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kenyataan itu, Wagimin sontak kaget dan selanjutnya berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, masih terdapat denyut nadi pada tubuh korban. Selanjutnya, warga berupaya melarikan korban menuju puskesmas. Namun, ketika hendak dibawa untuk mendapatkan pertolongan, korban sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Plh Kapolsek Wirosari Iptu Eko Bambang menyatakan, saat petugas tiba di lokasi, posisi korban sudah diturunkan dan ditempatkan di meja ruang tamu. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Reaksi Balita Lihat Ibunya Gantung Diri Pakai Selendang Batik di Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan  – Peristiwa orang gantung diri lagi-lagi terjadi di Grobogan. Seorang ibu rumah tangga bernama Lestari (25), warga Dusun Krajan, Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri, Senin (22/5/2017).

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui menjelang magrib. Ironisnya, orang yang pertama kali mengetahui kejadian itu adalah anak korban yang baru berusia 5 tahun.

Saat itu, anak korban yang hendak masuk rumah sontak kaget dan langsung berteriak histeris. Sebab, ia mendapati tubuh ibunya sudah tergantung di bawah belandar ruang tamu dengan leher terlilit selendang.

Warga sekitar yang mendengar teriakan tersebut berhamburan ke lokasi kejadian. Beberapa orang di antaranya kemudian mengecek kondisi korban yang diketahui masih bernafas.

Selanjutnya, korban diturunkan dari belandar rumah dan dilarikan ke Puskesmas Ngaringan. Namun, nyawa korban akhirnya tidak tertolong meski sempat mendapat perawatan medis.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Suwasana ketika dimintai komentarnya membernarkan adanya peristiwa gantung diri itu. Dari olah TKP dan pemeriksaan yang dilakukan, korban dinyatakan murni bunuh diri.

“Tidak ada tanda kekerasan. Korban gantung diri pakai selendang motif batik yang difungsikan sebagai tali. Untuk motif bunuh diri diduga faktor ekonomi,” jelasnya pada wartawan, Selasa (23/5/2017).

Editor : Akrom Hazami

Lihat Ayahnya Bunuh Diri, Ini Reaksi Sang Anak di Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk kesekian kalinya, peristiwa gantung diri terjadi di Grobogan. Peristiwa terbaru terjadi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Selasa (21/2/2017). Pelaku bunuh diri diketahui bernama Parjo, warga yang tinggal di Dusun Krajan.

Informasi yang didapat menyebutkan, tindakan bunuh diri yang dilakukan kakek 67 tahun itu dirasa cukup mengejutkan warga setempat. Pasalnya, sejak pagi hingga menjelang tengah hari, korban masih terlihat bekerja di sawah. Bahkan, saat pulang korban masih sempat mampir ke rumah salah satu anaknya yang berada tidak jauh dari sawahnya.

Peristiwa bunuh diri itu diketahui anak korban bernama Fitrianingsih (26), sekitar pukul 13.00 WIB. Ceritanya, saat itu anak korban yang hendak masuk dalam rumah sontak dibikin kaget. Sebab, ia melihat sosok ayahnya sudah terkulai lemas di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kejadian itu, ia langsung berteriak minta pertolongan warga. Tidak lama kemudian, warga bergegas berdatangan ke lokasi kejadian.

Beberapa warga sempat memeriksa kondisi korban dan diketahui sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Selanjutnya, peristiwa itu langsung dilaporkan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya informasi peristiwa bunuh diri tersebut. Adapun latar belakangnya, korban diduga putus asa karena mengidap berbagai penyakit yang tidak kunjung sembuh dalam beberapa tahun terakhir.

“Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda kekerasan. Korban murni bunuh diri. Dugaannya disebabkan sakit yang diderita selama ini,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

Bunuh Diri di Grobogan Marak Seperti di Korea Selatan

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan –  Kasus orang mati lantaran tindakan bunuh diri masih sering terjadi di Grobogan. Setiap tahun, peristiwa orang bunuh diri tidak pernah nihil. Dibandingkan daerah lain, kasus orang bunuh diri di Grobogan ini boleh dibilang termasuk cukup tinggi.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 memperlihatkan Korea Selatan menempati urutan pertama sebagai negara dengan kasus bunuh diri tertinggi.  Di dunia, 800.000 orang bunuh diri setiap tahun. Angka bunuh diri di Korsel yaitu 36,8 dari 100.000 penduduk. Di urutan kedua adalah Guyana dengan 34,8 dan Lituania 33,5. 

MuriaNewsCom menghimpun data, dari Kesra Pemkab Grobogan, dan kepolisian, tindakan orang bunuh diri itu menyebar di berbagai kecamatan. Adapun jumlah pelaku bunuh diri itu berkisar 20 sampai 30 kasus per tahun.

Dalam satu minggu terakhir di awal Februari ini, ada dua kasus bunuh diri. Dua kasus terjadi di Kecamatan Grobogan dan satunya di Kecamatan Tanggungharjo. Ada beberapa cara yang dilakukan pelaku bunuh diri tersebut. Ada yang memilih gantung diri, minum racun dan terjun ke sungai.

Mengenai motifnya juga beragam. Kebanyakan adalah soal ekonomi. Disusul penyebab lainnya masalah penyakit yang tidak kunjung sembuh, depresi dan soal-soal sepele. Seperti tidak dibelikan HP atau sepeda motor, hingga dilarang menikah dengan pujaan hati.

Ironisnya, pelaku bunuh diri ini tidak hanya melibatkan orang tua. Tetapi juga dilakukan remaja dan orang dewasa. Di antara pelaku ini ada pula yang mengenyam pendidikan tinggi dan punya banyak pengalaman organisasi.

“Kasus bunuh diri yang terjadi di Grobogan memang cukup banyak dan kondisi ini memang sangat memprihatinkan. Kami sedang mencari berbagai upaya untuk bisa menekan angka bunuh diri ini,” kata Kabag Kesra Pemkab Grobogan Moh Arifin.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk memberikan penyuluhan. Rencananya, organisasi Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) akan diajak untuk membahas masalah ini. Selain itu, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga akan digandeng.

Sejauh ini, pihaknya sudah menaruh perhatian terhadap masalah bunuh diri tersebut. Namun, untuk menekan kasus tersebut dinilai bukan pekerjaan mudah. Sebab, latar belakang kasus bunuh diri itu cukup kompleks. Sehingga perlu melibatkan berbagai komponen untuk bersama-sama menangani masalah bunuh diri itu.

“Selain dari pemkab, banyak elemen masyarakat termasuk LSM yang menaruh perhatian pada masalah ini. Sejauh ini, hasilnya memang sudah cukup baik meski belum bisa menghilangkan kasus bunuh diri secara keseluruhan,” imbuh mantan Camat Purwodadi itu.

Masih adanya warga yang nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga mendapat perhatian dari Kepala Kantor Kemenag Grobogan Moh Arifin. “Adanya warga yang melakukan bunuh diri ini sangat memprihatinkan. Ini, menjadi persoalan yang butuh perhatian serius dari banyak pihak,” tegasnya.

Sejauh ini, latar belakang paling tinggi yang jadi penyebab orang bunuh diri adalah soal ekonomi. Namun, sebenarnya ada faktor lain yang mendorong orang nekat melakukan tindakan tersebut. Yakni, minimnya pemahaman masalah keagamaan.

Menurut Arifin, sejauh ini pihaknya sudah melakukan upaya untuk menekan angka bunuh diri. Salah satunya dengan menyiarkan ke masyarakat umum tentang ruginya melakukan bunuh diri. Seruan itu disampaikan melalui beragam kegiatan yang dilakukan kemenag ke berbagai elemen masyarakat.

“Satu-satunya jalan untuk menekan angka bunuh diri adalah pembinaan akidah bagi masyarakat. Jalur yang dilakukan bisa melalui pendidikan agama di sekolah atau madrasah dan pengajian yang bersifat umum. Ini sangat perlu dilakukan agar seseorang tidak membuang umurnya dengan sia-sia melalui tindakan bunuh diri,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Anak Ini Antarkan Nasi Bungkus untuk Ibunya yang Sedang Bunuh Diri di Grobogan

gantung

Polisi dan warga melihat lokasi bunuh diri ibu rumah tangga, Wardiyem di Dusun Tegal, Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus orang bunuh diri kembali terjadi di Grobogan, Kamis (26/1/2017). Pelakunya, seorang ibu rumah tangga bernama Wardiyem, warga Dusun Tegal, Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan. Perempuan 53 tahun itu ditemukan gantung diri di rumahnya sekitar pukul 07.00 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui oleh Sulasih (32), salah satu anak korban yang tinggal tidak jauh dari rumah korban. Saat itu, Sulasih bermaksud mengantar nasi bungkus ke rumah orang tuanya.

Saat sampai di rumah tersebut, pintu masih dalam keadaan tertutup. Semula, rumah diduga dalam kondisi kosong. Setelah diperiksa ternyata pintunya hanya tertutup saja tetapi tidak dikunci. Selanjutnya, Sulasih membuka pintu dan bermaksud mencari ibunya di dalam rumah.

Namun, begitu menginjakkan kaki dalam rumah, Sulasih langsung kaget bukan kepalang. Sebab, dia mendapati tubuh Wardiyem sudah tergantung di bawah blandar rumah dengan leher terjerat tali plastik warga biru.

Selanjutnya, Sulasih berteriak minta pertolongan warga sekitar. Tidak lama kemudian, warga berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat dipegang, tubuh Wardiyem masih terasa hangat. Beberapa warga kemudian memotong tali sepanjang 3 meter yang menjerat leher dan menurunkan tubuh korban. Ketika diperiksa lebih lanjut, korban ternyata sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kapolsek Kradenan AKP Toni Basuki ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan adanya info kejadian tersebut. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban. Selanjutnya, jenazah korban diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan.

“Dari hasil pemeriksaan, korban murni bunuh diri. Penyebabnya diduga korban depresi dengan kondisi perekonomian yang dialaminya. Dari keterangan saksi, korban sering cerita tentang hidupnya yang miskin tidak seperti orang lain,” ungkap Toni.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Bunuh Diri Cebur Sumur di Gulang Kudus

Polisi mendatagi lokasi bunuh diri menceburkan diri ke sumur di Desa Gulang, Mejobo, Kudus. (Tribratanewskudus)

Polisi mendatagi lokasi bunuh diri menceburkan diri ke sumur di Desa Gulang, Mejobo, Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang ibu Yasmi (46), warga Desa Gulang RT 06 RW 04,  Mejobo, Kabupaten Kudus, diduga nekat menceburkan diri ke sumur rumahnya, Senin (5/12/2016).

Pelaku diduga bunuh diri itu tewas dan ditemukan sudah dalam keadaan mengambang di sumur yang berkedalaman sekitar 2 meter.

Kapolsek Mejobo AKP Suharyanto mengatakan, kronologinya adalah Akhmad Ridwan B Mursid yang merupakan anak kandung pelaku tiba-tiba datang saat mendengar teriakan pamannya Sutrisno dari rumahnya.

Teriakan itu muncul saat Sutrisno melihat tubuh pelaku sudah mengambang di sumur. Warga dan polisi bersatu mengangkat tubuh pelaku ke permukaan sumur. “Akhirnya jenazah dibawa ke Puskesmas Jepang,” kata Suharyanto dikutip dari situs resmi Polres Kudus.

Dari pemeriksaan luar tubuh korban oleh Dokter dari Puskesmas Jepang dr Imam Purwanto menyatakan, medis tidak menemukan luka di tubuh pelaku bunuh diri itu. “Tidak diketemukan bekas luka di tubuhnya,” kata Imam.

Selanjutnya jenazah dikembalikan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan karena pihak keluarga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak dilaksanakannya autopsi. Dugaan pelaku bunuh diri karena frustasi penyakit yang diderita yaitu batu empedu selama 2 tahun tidak sembuh.

Editor : Akrom Hazami

Bocah Polos Kaget Lihat Neneknya Gantung Diri di Jepara

Polisi memeriksa kondisi lokasi kejadian nenek tewas bunuh diri di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi memeriksa kondisi lokasi kejadian nenek tewas bunuh diri di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polsek Kembang Jepara mendatangi lokasi orang meninggal dunia karena gantung diri di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, setelah mendapat laporan dari warga.

Korban bernama Turipah (65) warga Rt 05 Rw 8, Dukuh Jerukrejo Ngrancah, Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, diketahui meninggal dunia dengan cara gantung diri di blandar rumah korban.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Donorojo Iptu Kusnadi menjelaskan, sekitar pukul 05.25 WIB di Desa Banyumanis telah terjadi orang meninggal dunia karena gantung diri.

Asal mula kejadian sekitar pukul 05.25 WIB,  bocah yang juga cucu pelaku Ardi Wijayanto (12) ke belakang rumah untuk mengambil pakaian sekolah di jemuran belakang. Sesampainya di belakang melihat pelaku sudah dalam keadaan tergantung, kemudian berteriak minta tolong dan selanjutnya anak pelaku, Gunawan (46) dan Sri Mulyati (38) melihat k ebelakang.

Setelah sampai di belakang kemudian saksi berusaha menurunkan pelaku namun tali yang mengait di kayu blandar tidak dapat dilepas oleh Gunawan sehingga tali tersebut dipotong oleh Sri Mulyati.

Dari keterangan pihak keluarga, pelaku selama ini sering mengeluh sakit setelah melaksanakan operasi mata, yang tidak kunjung sembuh. Pelaku juga sering mengeluh kepada anaknya lebih baik mati saja dari pada sakit tidak sembuh.

Hasil pemeriksaan medis oleh bidan Desa Banyumanis, Noor Afni Rosita bahwa pelaku murni bunuh diri dan tidak ditemukan tanda tanda kekerasan pada tubuhnya.

Atas peristiwa tersebut, keluarga  menerima atas musibah tersebut dengan membuat surat pernyataan penolakan autopsi yang ditandatangani oleh anak. Selanjutnya jenazah n diserahkan kepada pihak keluarga dengan dibuatkan berita acara untuk dimakamkan.

Editor : Akrom Hazami