Seorang Kakek di Kalangdosari Grobogan Tewas Bunuh Diri di Sungai Lusi

MuriaNewsCom, GroboganMayat seorang pria kembali ditemukan tersangkut sampah dipinggiran sungai Lusi yang masuk wilayah Desa Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan, Kamis (22/3/2018). Korban diketahui merupakan warga setempat yang bernama Mbah Wiharjo (73).

Sehari sebelumnya, peristiwa penemuan mayat juga terjadi di aliran sungai lusi di desa tersebut. Korbannya juga warga setempat yang bernama Doni Irawan (21).

Informasi yang didapat menyebutkan, penemuan mayat Mbah Wiharjo terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Mayat tersebut kali pertama diketahui oleh dua orang kerabat korban. Yakni Muh Komari (20) dan Mustajab (22).

Saat itu, keduanya memang sedang mencari keberadaan korban karena sejak semalaman tidak pulang ke rumah. Saat dicari didalam rumah, ditemukan tulisan diatas meja berbunyi “Timbang panas, luwih becik mati’ yang ditulis menggunakan arang. Selama beberapa waktu terakhir, korban tinggal sendiri karena istrinya berada di Samarinda.

Pencarian Mbah Wiharjo sengaja dilakukan dengan menyusuri aliran sungai Lusi disebelah timur Bendung Dumpil. Tindakan itu dilakukan karena diduga korban bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai.

Setelah menyusuri sungai hampir dua jam, mereka akhirnya menemukan tubuh korban tersangkut sampah dipinggiran sungai. Selanjutnya, peristiwa itu dikabarkan pada warga sekitar dan diteruskan hingga pihak kepolisian.

Kabar ditemukannya mayat tak ayal langsung membikin geger warga setempat. Setelah berada dilokasi, warga kemudian mengevakuasi mayat karena khawatir terseret arus sungai.

Kapolsek Ngaringan AKP Sumardi ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bersama tim inafis Polres Grobogan dan puskesmas, tidak ditemukan bekas penganiayaan. Korban dinyatakan meninggal tenggelam akibat tindakan bunuh diri.

“Tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Korban bunuh diri ke dalam sungai,” jelasnya.

Menurutnya, selain pesan yang ada di meja rumahnya, tindakan bunuh diri itu diperkuat dengan penemuan barang bukti yang melekat pada tubuh korban. Yakni, sarung berisi tiga buah batu cukup besar yang diikatkan pada bagian leher korban.

“Jadi, korban dengan sengaja mengaitkan sarung berisi batu ke lehernya. Setelah itu, korban menyeburkan diri ke sungai dan akhirnya meninggal. Korban sudah kita serahkan pada pihak keluarganya untuk dimakamkan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Warga Muraharjo Blora Gorok Lehernya Sendiri Sampai Tewas

MuriaNewsCom, Blora – Peristiwa orang bunuh diri yang menggegerkan warga terjadi di Desa Muraharjo, Kecamatan Kunduran, Blora, Minggu (18/3/2018). Pelaku bunuh diri yang dilakukan di rumahnya sendiri itu diketahui bernama Suwarni (50).

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri diketahui sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, anak korban Muryanti (27) hendak memasukkan pakaian dari jemuran ke dalam kamar orang tuanya. Namun, kondisi pintu kamar ternyata terkunci dari dalam.

Selanjutnya, Muryanti memanggil ayahnya Wagiman (60) yang ada di pekarangan. Kedua orang itu kemudian mencoba memanggil nama korban beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.

Merasa curiga, Wagiman kemudian mendobrak pintu kamar tersebut. Setelah pintu terbuka, keduanya sontak kaget. Soalnya, mereka mendapati tubuh korban sudah bersimbah darah di atas tempat tidurnya. Pada kursi plastik di samping tempat tidur terdapat parang berlumuran darah.

Melihat kondisi itu, keduanya kemudian berteriak minta perlongan warga. Mendengar teriakan ini, warga sekitar langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa warga, korban ternyata sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Kunduran, AKP Untung Hariyadi ketika dimintai komentarnya menyatakan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Kemudian, polisi bersama dengan tim medis memeriksa kondisi korban.

Saat diperiksa, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Pada leher korban mengalami luka sobek sepanjang 15 cm dan dalamnya  2 cm.

“Dari hasil pemeriksaan yang kita lakukan, tidak ditemukan bekas penganiayaan atau tanda kekerasan. Korban meninggal akibat bunuh diri. Luka pada leher terjadi akibat goresan sebuah parang yang dilakukan korban sendiri,” kata mantan Kapolsek Klambu, Grobogan itu.

Menurutnya, mengenai penyebab tindakan bunuh diri, diduga disebabkan sakit glukoma selama dua tahun yang tidak kunjung sembuh. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, hampir setiap hari, korban sering mengeluhkankan penyakit pada kedua matanya yang tidak kunjung sembuh.

Editor : Ali Muntoha

Gegerkan Warga, Pria di Rejosari Grobogan Sayat Perut Sendiri dengan Sabit

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan yang biasanya tenang berubah jadi gempar, Minggu (11/3/2018) dinihari tadi. Hal ini terjadi menyusul adanya peristiwa percobaan bunuh diri yang dilakukan Ahmad Muchsin, warga yang tinggal di wilayah RT 03, RW 01.

Pria berusia 32 tahun itu nekat menyayat perutnya sendiri dengan sebilah sabit. Beruntung, nyawanya masih tertolong. Saat ini korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD Purwodadi karena menderita luka parah dibagian perutnya.

Informasi yang didapat menyebutkan, percobaan bunuh diri kali pertama diketahui istri korban Siti Sofia (28). Yakni, saat pulang selepas magrib, ia mendapati kondisi pintu rumah dalam keadaan terkunci.

Dari kaca terlihat korban memegang sabit dan mengatakan mau bunuh diri. Melihat kondisi itu, Siti kemudian meminta tolong pada tetangga sekitar. Tetangga yang berdatangan meminta korban agar tidak melakukan tindakan itu.

Hingga tengah malam, upaya untuk mencegah korban bunuh diri terus dilakukan tetapi korban terlihat tidak mau melepaskan sabit dari genggaman tangannya. Akhirnya, warga melaporkan kejadian itu ke Polsek Grobogan sekaligus meminta bantuan polisi.

Percobaan bunuh diri mencapai puncaknya sekitar pukul 01.30 WIB. Korban akhirnya nekat menyayat perutnya dengan sabit yang dipegang ditangan kanannya. Beberapa saat kemudian, korban yang terlihat bersimbah darah itu jatuh tersungkur ke lantai.

Selanjutnya, polisi langsung bergerak cepat dengan membuka pintu dan langsung melarikan korban ke RSUD Purwodadi. Sebelumnya, sebilah sabit yang digunakan untuk menyayat perut korban sudah berhasil diamankan.

Kapolsek Grobogan AKP Sucipto menyatakan, upaya untuk mencegah supaya korban tidak bunuh diri sudah dilakukan cukup lama. Namun, korban tidak menghiraukan permintaan itu.

“Mengenai penyebab tindakan percobaan bunuh diri itu masih kita dalami. Dugaan sementara, korban mengalami depresi karena masalah ekonomi sehingga nekat mau bunuh diri. Saat ini, korban masih dirawat di rumah sakit,” katanya.

Editor: Supriyadi

Diduga Tak Tahan Menjomblo, Pemuda di Pekalongan Nekat Gantung Diri

MuriaNewsCom, Pekalongan – Seorang pemuda di Kelurahan Kuripan Lor, Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Jumat (26/1/2017) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dapur rumahnya.

Pemuda yang gantung diri itu diketahui bernama Ma’ruf (27). Dikabarkan, pemuda ini nekat mengakhiri hidupnya lantaran frustasi karena telalu lama hidup melajang.

Pemuda itu kali pertama ditemukan gantung diri oleh kakak perempuannya bernama Ariswati (29), sekitar pukul 05.00 WIB. Saat ditemukan Ma’ruf sudah tergantung di dapur dengan leher terikat tali berwarna cokelat.

Sontak saja, Ariswati yang mendapati adiknya sudak tak bernyawa langsung histeris dan membuat warga sekitar berduyun-duyun mendatangi lokasi. Kasus itu pun langsuing dilaporkan ke Polsek Pekalongan Selatan.

”Petugas kami langsung datang ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Dokter puskesmas dan tim Inafis juga kami datangkan untuk memeriksa kondisi jenazah,” kata Kapolsek Pekalongan Selatan, Kompol Junaedi.

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika kasus itu murni bunuh diri. Meski demikian, polisi juga melakukan pendalaman motif yang melatarbelakangi aksi tersebut.

Dari keterangan sejumlah saksi pada polisi, diketahui jika Ma’ruf cukup depresi karena sudah cukup lama hidup melajang. Namun polisi masih mendalami kemungkinan motif lain.

Setelah dilakukan pemeriksaan, jenazah langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan.

Editor : Ali Muntoha

Warga Dokoro Grobogan Ditemukan Gantung Diri di Pinggir Hutan

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri kembali terjadi di Grobogan, Kamis (18/1/2018). Seorang warga Dokoro, Kecamatan Wirosari, ditemukan gantung diri di sebuah pohon nangka, sekitar pukul 11.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Karno (50), warga yang tinggal di Dusun Pagergunung.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh Rudi Hartono (31), warga setempat. Ceritanya, ia waktu itu dalam perjalanan menuju ke ladang. Ketika sampai di pinggiran kawasan hutan, ia melihat ada sosok orang tergantung pada pohon nangka yang membuatnya sempat merasa kaget dan ketakutan.

Tidak lama kemudian, ada warga lainnya bernama Jadi (47) yang kebetulan sudah sampai ditempat itu. Saat itu, Jadi juga bermaksud hendak pergi ke ladang.

Setelah itu, keduanya segera mendekati sosok orang yang tergantung dibawah pohon nangka tersebut. Sosok orang yang tergantung diketahui adalah tetangga mereka sendiri. Akhirnya peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Wirosari AKP Toni Basuki ketika dikonfirmasi membenarkan adanya orang gantung diri di Desa Dokoro tersebut. Menurutnya, perbuatan gantung diri dilakukan menggunakan potongan kain sarung yang dibuat jadi tali dan dikaitkan dahan pohon nangka.

Setelah dapat laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa kondisi korban. Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

”Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan. Diduga korban melakukan tindakan itu karena mengalami sakit menahun tidak kunjung sembuh,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Sebelum Gantung Diri, Janda 3 Anak di Grobogan Sempat Tulis Wasiat, Ini Isinya

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebelum melakukan bunuh diri, Sri Mulyati (45) Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo ternyata sempat membuat sebuah surat wasiat untuk saudaranya. Surat dengan Bahasa Jawa yang ditulis menggunakan pensil itu dituangkan dalam selembar kertas bergaris.

Isi tulisan dalam surat itu berbunyi “kagem sederek sederek sedoyo kulo. Kulo sekeluarga nyuwun pangaputen, nyuwun tulong ponakan jenengan dekek panti, lan genduk ampon kebebanan nopo2 nggih pakde, bude, bulik, om. matur nuwun”.

Dari keterangan yang dihimpun, surat wasiat tersebut ditemukan di dalam saku pelaku. Kuat dugaan, wasiat tersebut sengaja ditulis untuk kelangsungan anak-anaknya. Seperti diketahui, pelaku bunuh diri adalah janda beranak tiga.

Kades Mayahan Saerozi mengatakan, kejadian memilukan ini memang sempat membuat warga gempar. Hanya dari hasil pemeriksaan polisi, korban meninggal karena bunuh diri dan tidak ditemukan tanda penganiayaan.

”Murni bunuh diri, tak ada tanda-tanda penganiayaan sama sekali,” katanya.

Baca: Janda 3 Anak di Grobogan Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong

Sebelumnya, suasana Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo mendadak jadi heboh. Hal ini menyusul adanya teriakan minta tolong karena ada orang yang ditemukan gantung diri sekitar pukul 15.30 WIB.

Tak ayal, teriakan ini langsung menyebabkan puluhan warga setempat berhamburan ke lokasi kejadian. Tempat terjadinya peristiwa bunuh diri berada di sebuah rumah kosong yang selama ini digunakan untuk menyimpan pakan ternak.

Pelaku bunuh diri diketahui bernama Sri Mulyati (45), warga setempat. Janda tiga anak itu gantung diri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan belandar bagian tengah.

Saat ditemukan, sudah tercium bau menyengat. Diperkirakan, korban sudah melakukan bunuh diri beberapa hari lalu.

”Saya terakhir ketemu hari Sabtu sore kemarin. Waktu itu, dia masih jualan lontong di rumahnya,” kata Susilo (65), kakak kandung korban, saat ditemui di kamar jenazah RSUD Purwodadi petang tadi.

Susilo merupakan orang yang pertama kali mengetahu peristiwa bunuh diri tersebut. Ceritanya, ia sore tadi hendak mengambil pakan ternak berupa kulit kacang hijau yang sudah dikemas dalam karung dan disimpan di rumah kosong tersebut.

Saat sampai di depan pintu, ia sempat mencium bau menyengat. Ketika pintu dibuka, Susilo kaget bukan main. Ia mendapati tubuh adiknya sudah terlihat kaku dengan leher terjerat tambang plastik.

Editor: Supriyadi

Janda 3 Anak di Grobogan Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo mendadak jadi heboh, Rabu (17/1/2018). Hal ini menyusul adanya teriakan minta tolong karena ada orang yang ditemukan gantung diri sekitar pukul 15.30 WIB.

Tak ayal, teriakan ini langsung menyebabkan puluhan warga setempat berhamburan ke lokasi kejadian. Tempat terjadinya peristiwa bunuh diri berada di sebuah rumah kosong yang selama ini digunakan untuk menyimpan pakan ternak.

Pelaku bunuh diri diketahui bernama Sri Mulyati (45), warga setempat. Janda tiga anak itu gantung diri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan belandar bagian tengah.

Saat ditemukan, sudah tercium bau menyengat. Diperkirakan, korban sudah melakukan bunuh diri beberapa hari lalu.

”Saya terakhir ketemu hari Sabtu sore kemarin. Waktu itu, dia masih jualan lontong di rumahnya,” kata Susilo (65), kakak kandung korban, saat ditemui di kamar jenazah RSUD Purwodadi petang tadi.

Baca: Sebelum Gantung Diri, Janda 3 Anak di Grobogan Sempat Tulis Wasiat, Ini Isinya

Susilo merupakan orang yang pertama kali mengetahu peristiwa bunuh diri tersebut. Ceritanya, ia sore tadi hendak mengambil pakan ternak berupa kulit kacang hijau yang sudah dikemas dalam karung dan disimpan di rumah kosong tersebut.

Saat sampai didepan pintu, ia sempat mencium bau menyengat. Ketika pintu dibuka, Susilo sontak kaget. Soalnya, ia mendapati tubuh adiknya sudah terlihat kaku dengan leher terjerat tambang plastik.

”Saya kaget sekali ketika buka pintu. Saya tidak menyangka terjadi peristiwa menyedihkan ini,” katanya.

Kades Mayahan Saerozi menyatakan, pihaknya langsung melaporkan kejadian itu pada Polsek Tawangharjo. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban meninggal karena bunuh diri dan tidak ditemukan tanda penganiayaan.

Editor: Supriyadi

Kasus Bunuh Diri Kian Marak di Grobogan, Begini Gerak Cepat Polisi

MuriaNewsCom, Grobogan  – Jajaran Polres Grobogan menaruh perhatian cukup serius dengan masalah sosial yang muncul di wilayahnya. Sebagai upaya penanganan, pihak Polres Grobogan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah-masalah sosial yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan, Selasa (16/1/2018).

Rakor dipimpin Kabag Sumda Kompol Budi Yuwono. Hadir pula, Asisten II Pemkab Grobogan Ahmadi Widodo, Kepala Satpol PP Bambang Panji, psikiater RSUD Purwodadi Sutarno dan Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Sudarsi. Rakor juga dihadiri jajaran muspika se-kabupaten Grobogan.

Kompol Budi Yuwono menyatakan, akhir-akhir ini makin marak masalah sosial di berbagai daerah. Antara lain, banyaknya kasus bunuh diri, orang stress yang menyebabkan musibah pada orang lain.

”Masalah-masalah seperti itu perlu dapat perhatian serius. Kita harapkan, masalah sosial itu bisa ditekan bahkan kalau perlu jangan sampai terjadi lagi,” tegasnya.

Untuk menanggulangi masalah sosial, bukan pekerjaan mudah. Pihak kepolisian tidak bisa menangani masalah tersebut sendirian. Namun, butuh dukungan dari berbagai komponen masyarakat untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi masalah sosial tersebut.

”Hal ini hendaknya jadi perhatian bersama. Mari kita saling bahu membahu untuk menangani masalah sosial ini. Penyebab masalah sosial ini cukup banyak sehingga harus melibatkan berbagai komponen masyarakat untuk mengatasi,” sambungnya.

Asisten II Achmadi Widodo mengapresiasi kegiatan yang diprakarsai Polres Grobogan. ”Saya mengapresiasi adanya rakor ini. Kita harapkan, dari rakor ini bisa mendatangkan manfaat dan semangat bagi semua untuk lebih peduli pada masalah sosial,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Rematik Tak Kunjung Sembuh, Warga Patalan Blora Gantung Diri

MuriaNewsCom, Blora – Warga di sekitar RT 02/RW 01, Desa Patalan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora dihebohkan dengan sesosok mayat yang dalam posisi mengantung di kandang sapi belakang rumahnya sendiri.

Setelah didekati ternyata diketahui bahwa mayat itu adalah merupakan Subaji (62), warga setempat. Diduga korban nekad mengakhir hidupnya lantaran mengalami sakit rematik yang tak kunjung sembuh.

Korban pertama kali diketahui oleh istrinya sendiri, Mukti Warni (63), Senin (08/01/2018) siang. Saat itu ia baru pulang dari mencari pakan ternak dan menuju ke belakang (kandang sapi).

Hanya sesampainya di kandang, ia kaget bukan main melihat suami tercintanya tergantung di depan pintu belakang. Mukti pun langsung berteriak histeris dan meminta tolong pada sejumlah tetangganya.

”Mendengar teriakan istri korban, sontak Warga tadi ya kaget, karena mengantung di kandang sapi,” ujar Riswati salah satu tetangganya seperti dikutip dari laman Polres Blora.

Mengetahui hal itu warga langsung melaporkan kejadian itu kepada pihak Kepolisian Polsek Blora. Polisi yang mendapatkan laporan tersebut langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan identifikasi mayat pria tua itu dan mengevakuasinya.

”Hasil dari olah TKP (tempat kejadian perkara) tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada korban. Sehingga penyebab kematian dari korban adalah murni bunuh diri,” terang Kapolsek Blora, AKP Sudarno.

Sebelumnya di pagi hari tidak ada kejanggalan pada perilaku korban dan sempat beraktifitas biasa pergi ke pasar. Ternyata siang hari disayangkan korban ditemukan telah menggantung di pintu kandang sapi belakang rumahnya sendiri.

Setelah dilakukan visum oleh Tim Identivikasi Polres Blora dan Tim Medis jenazah korban kemudian langsung diserahkan kepada pihak keluarga korban untuk segera dimakamkan. Menurut keluarga selama ini korban diketahui menderita sakit rematik yang yang kunjung sembuh.

”Usai memeriksa jenazah korban, kami mengamankan seutas tali tampar warna biru sepanjang 1,5 meter sebagai barang buktinya bahawa korban murni bunih diri.” pungkas AKP Sudarno.

Editor: Supriyadi

Kapolres Pati: Pelaku Bunuh Diri di Hotel Safin Bukan Pengunjung Hotel

MuriaNewsCom, Pati – Sulistyani (31), warga Kecamatan Pati yang diduga bunuh diri dengan mengajak anaknya yang masih bayi di Hotel Safin, Senin (8/1/2018) ternyata bukan seorang pengunjung hotel. Dia, merupakan warga Pati yang diduga datang hanya untuk bunuh diri.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, setelah mengumpulkan beragam informasi, terduga pelaku bunuh diri ternyata tidak terdaftar dalam buku pengunjung hotel. Karena itu, pihak kepolisian menduga kalau pelaku sengaja datang untuk bunuh diri.

”Sepertinya ada unsur kesengajaan. Dia (pelaku) datang, naik lift lalu bunuh diri dengan terjun bebas. Namun kepastiannya masih didalami petugas,” kata Kapolres kepada awak media.

Baca: Ibu Ajak Bayi Bunuh Diri Terjun Dari Lantai 11 Hotel Safin Pati

Atas kejadian itu, Kapolres meminta fungsi keamanan hotel harus lebih ditingkatkan. Apalagi, saat melihat gerak-gerik yang mencurigakan yang bukan pengunjung hotel harus lebih interaktif.

Selain itu, fungsi pengamanan internal hotel harus lebih cermat dan selektif melihat gelagat tamu yang datang.

”Itu berlaku untuk semua hotel, tak hanya Safin. Apalagi ada kejadian seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu, jenazah kedua pelaku bunuh diri sudah berada di rumah duka. Kedua jenazah bahkan sedang dalam persiapan pemakaman. Sayangnya, dalam lingkungan rumah duka enggan memberikan komentar. Bahkan tentangganya juga menolak berkomentar soal almarhumah.

Editor: Supriyadi

Ibu Ajak Bayi Bunuh Diri Terjun dari Lantai 11 Hotel Safin Pati

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu bersama bayinya ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di kompleks Safin Hotel, Pati, Senin (8/1/2018) pagi. Diduga ibu dan bayi tersebut meninggal karena bunuh diri dengan loncat dari lantai 11 hotel tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban diketahui bernama Sulistyani warga Kecamatan Pati, Kabupaten Pati dan bayinya yang berumur 10 bulan. Ada juga yang menyebut anak korban yang ikut jatuh sudah berumur 2 tahun.

Peristiwa bunuh diri ini diketahui sekitar pukul 06.00 WIB. Informasi yang beredar sang ibu melompat dari atas hotel sambil menggendong bayinya. Kondisi ini sempat membuat geger hotel.

Sayangnya, saat awak media yang mencoba meliput ke lokasi kejadian dihalang-halangi oleh pihak keamanan hotel.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan membenarkan aksi bunuh diri itu. Menurutnya, polisi masih melakukan penyelidikan terkait motif aksi bunuh diri tersebut.

“Keduanya merupakan warga Pati, seorang ibu dan anak. Saat ini petugas masih mendalami kasus tersebut,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Kapolres Pati: Pelaku Bunuh Diri di Hotel Safin Bukan Pengunjung Hotel

Kasus Bunuh Diri di Grobogan Tinggi, Ternyata Ini Penyebabnya

MuriaNewsCom, Grobogan – Angka kasus bunuh diri di Kabupaten Grobogan tiap tahun masih sangat tinggi. Dan hal ini akan bagi jadi salah satu PR serius bagi Pemkab Grobogan.

Kabag Kesra Pemkab Grobogan Moh Arifin menyatakan, pihaknya juga merasa prihatin dengan maraknya kasus bunuh diri itu. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk memberikan penyuluhan.

Rencananya, organisasi Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) akan diajak untuk membahas masalah ini. Selain itu, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga akan digandeng.

Sejauh ini, pihaknya sudah menaruh perhatian terhadap masalah bunuh diri tersebut. Namun, untuk menekan kasus tersebut dinilai bukan pekerjaan mudah.

Sebab, latar belakang kasus bunuh diri itu cukup kompleks. Sehingga perlu melibatkan berbagai komponen untuk bersama-sama menangani masalah bunuh diri itu.

“Selain dari pemkab, banyak elemen masyarakat termasuk LSM yang menaruh perhatian pada masalah ini. Sejauh ini, hasilnya memang sudah cukup baik meski belum bisa menghilangkan kasus bunuh diri secara keseluruhan,” kata mantan Camat Purwodadi itu.

Masih adanya warga yang nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga mendapat perhatian dari Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali.

“Adanya warga yang melakukan bunuh diri ini sangat memprihatinkan. Ini, menjadi persoalan yang butuh perhatian serius dari banyak pihak,” ujarnya.

Sejauh ini, latar belakang paling tinggi yang jadi penyebab orang bunuh diri adalah soal ekonomi. Namun, sebenarnya ada faktor lain yang mendorong orang nekat melakukan tindakan tersebut. Yakni, minimnya pemahaman masalah keagamaan.

Menurut Arifin, sejauh ini pihaknya sudah melakukan upaya untuk menekan angka bunuh diri. Salah satunya dengan menyiarkan ke masyarakat umum tentang ruginya melakukan bunuh diri. Seruan itu disampaikan melalui beragam kegiatan yang dilakukan kemenag ke berbagai elemen masyarakat.

“Satu-satunya jalan untuk menekan angka bunuh diri adalah pembinaan akidah bagi masyarakat. Jalur yang dilakukan bisa melalui pendidikan agama di sekolah atau madrasah dan pengajian yang bersifat umum. Ini sangat perlu dilakukan agar seseorang tidak membuang umurnya dengan sia-sia melalui tindakan bunuh diri,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Kakek di Sumberjatipohon Grobogan Gantung Diri di Kamar Mandi Tetangga

Polisi sedang memeriksa lokasi yang digunakan gantung diri warga Dusun Kuncen, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan, Jumat (29/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri kembali terjadi lagi di Grobogan. Jumat (29/12/2017) seorang kakek berumur 85 tahun ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tergantung.

 Pelaku gantung diri diketahui bernama Warto (85), warga Dusun Kuncen, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan. Korban diketahui gantung diri sekitar pukul 02.00 WIB. Perbuatan gantung diri itu dilakukan di kamar mandi tetangganya Suhartono (62).

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelumnya korban sempat bertamu di rumah Suhartono untuk menonton televisi. Sekitar pukul 22.30 WIB, korban pamit dan selanjutnya tuan rumah langsung beranjak tidur.

Sekitar pukul 02.00 WIB, Suhartono terbangun karena ingin buang air kecil. Selanjutnya, ia bergegas menuju kamar mandi di belakang rumahnya.

Saat hendak masuk kamar mandi, Suhartono langsung dibikin kaget bukan kepalang. Soalnya, ia mendapati sosok tetangganya sudah tergantung dengan leher terjerat tali yang dikaitkan ke blandar kamar mandi.

Melihat kejadian ini, ia pun langsung berteriak minta pertolongan. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berhamburan menuju lokasi kejadian. Saat diperiksa, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Belum diketahui, motif utama korban gantung diri. Selanjutnya, warga melalui perangkat desa melaporkan kejadian gantung diri itu pada pihak Polsek Grobogan.

Kapolsek Tawangharjo AKP Sucipto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa bunuh diri tersebut. Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri. Jenazah korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” katanya. 

Editor : Ali Muntoha

Kakek di Pati Gantung Diri Setelah Cekcok dengan Istri

Petugas Polsek Jakenan melakukan olah TKP di lokasi dimana korban gantung diri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang kakek bernama Sukarno (69), warga Dukuh Tambak Kapas, Kecamatan Tambahmulyo, Pati, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri, Jumat (22/12/2017).

Korban meninggal dunia di tempat penyimpanan di sebelah rumahnya sendiri. Warga setempat yang mengetahui kondisi korban langsung menurunkan jenazah kakek itu.

Dari informasi yang dihimpun, Sukarni sudah sepekan tidak pulang ke rumah. Ia juga kerap terlibat cekcok dengan istrinya dalam beberapa hari terakhir.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga sudah menerima kematian korban. Sementara polisi yang mengetahui informasi tersebut lantas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa kondisi korban bersama petugas medis.

Menurut keterangan dr Sutini, terdapat luka lecet pada bagian leher, lebam di punggung dan jari kaki sudah menjamur.

“Korban meninggal dunia karena kehabisan napas karena terjerat tali plastik tampar sepanjang satu meter dengan ketinggian dua meter,” jelas dr Sutini.

Kapolsek Jakenan AKP Suyatno menambahkan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban, sehingga jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan.

Editor : Ali Muntoha

Perempuan Paruh Baya di Tegalarum Pati Gantung Diri, Ini Penyebabnya

Polisi dan tim medis tengah memeriksa warga Tegalarum, Margoyoso yang meninggal akibat gantung diri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang perempuan paruh baya bernama Ngatini (50), warga Desa Tegalarum RT 6 RW 1, Margoyoso ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sendiri, Senin (20/11/2017).

Kejadian itu pertama kali diketahui Ria Fitriana (25), puterinya setelah pulang mengajar di TK Dharma Wanita. Saat itu, Ria masuk ke rumah dan melihat Ngatini sudah dalam keadaan tergantung di kusen pintu kamar belakang.

Dia lantas memotong tali yang digunakan untuk menjerat leher Ngatini. Setelah turun, Ria meminta tolong kepada warga sekitar.

Baca: Astaga, Gerombolan Rampok di Bae Kudus Juga Gasak Uang Kas Musala

Namun, saat diperiksa bersama-sama, Ngatini ternyata sudah tidak bernapas. Perangkat desa yang mengetahui informasi tersebut melaporkannya kepada petugas kepolisian.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan polisi dan tim medis, korban mengalami luka jeratan pada leher dan tidak bisa bernapas sehingga meninggal dunia. “Tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Ini murni karena bunuh diri,” kata Kapolsek Margoyoso AKP Amlis Chaniago.

Dari keterangan yang diperoleh dari pihak keluarga, korban sebelumnya sudah dua kali mencoba bunuh diri tapi gagal. Dia mengalami depresi dan putus asa, sehingga nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Editor: Supriyadi

Warga Kudus Ini Syok Lihat Mayat Tergantung di Pintu Kamar Kosnya

Polisi dan warga tengah mengevakuasi mayat yang tergantung di pintu kamar kos di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. (Foto : Polsek Bae)

MuriaNewsCom, Kudus – Penghuni rumah kos milik Ngadiran (47) di Desa Dersalam RT 04 RW 01, Gang 9, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, dibuat syok setelah mendobrak kamar yang dihuni Johan Rudianto (23), Selasa (22/8/2017) dini hari tadi.

Bagaimana tidak, setelah pintu didobrak, pemilik dan penghuni kos mendapati Johan sudah tak bernyawa dengan kondisi tergantung di pintu. Johan yang merupakan warga Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, itu ditemukan meninggal dunia dengan tubuh sudah kaku.

Sebelumnya mereka memang sudah memperkirakan ada sesuatu yang terjadi dengan Johan, namun tak menyangka jika pemuda itu gantung diri. Awalnya penghuni kos lain merasa curiga lantaran sejak Senin (21/8/2017) pagi Johan tak kelihatan, sementara kamar dalam posisi terkunci.

Dari kecurigaan itu, akhirnya penghuni kos dan warga melapor ke polisi. Setelah polisi dan pemilik kos datang, pintu kamar Johan akhirnya dibuka dengan cara didobrak. Dari sinilah diketahui jika Johan sudah meninggal dunia.

“Diduga sudah meninggal pagi sebelum atau malamnya. Karena saat petugas datang, kondisi mayat sudah dalam keadaan kaku,” kata Kapolsek Bae AKP Sardi, saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, saaat ditemukan tubuh korban tergantung dengan tali warna hijau terikat di lehernya. Mayat Johan pun sudah dilakukan pemeriksaan oleh dr Dewi Aprilia, tim medis dari Puskesmas Dersalam.

Dari hasil pemeriksaan diindakasi Johan meninggal dunia karena bunuh diri. Karena di tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan.

Editor : Ali Muntoha

Diduga Frustasi Sakit Tak Kunjung Sembuh, Seorang Kakek di Blora Nekat Gantung Diri

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Blora – Seorang kakek bernama Rahman (80), warga Dukuh Patinan RT 1 RW 5, Kelurahan Jepon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, pada Minggu (16/4/17).

Pelaku bunuh diri tersebut, ditemukan pertama kali oleh istinya yaitu Sarmi (75). Ketika itu, Sarmi sedang menghitung persediaan air di dalam jeriken yang terdapat di dapur rumah sekitar pukul 05.30 WIB.

Ketika itu, Sarmi melihat kaki suaminya dalam posisi membungkuk, dan kemudian dirinya memanggil suaminya. Namun, begitu taka da jawaban dari kakek tersebut. Karena tidak ada jawaban, kemudian Sarmi berdiri mendekati korban. Alangkah terkejutnya, karena suaminya sudah tergantung dengna seutas tali plastik warna biru.

Mendapati suaminya telah gantung diri, Sarmi kemudian berteriak meminta tolong kepada tetangga. Tak ayal, tetangga yang mendengar teriakan Sarmi langsung berhamburan. “Setelah saya mendengar teriakan Mbah Sarmi, saya bersama tetangga yang lain langsung ke sini,” ujarnya.

Warga kemudian melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Jepon. Mendapatkan laporan tersebut, petugas kepolisian bersama tim Medis Puskesman Jepon langsung datang ke lokasi kejadian untuk memeriksa korban.

Dari lokasi kejadian, disita tali yang dipergunakan untuk gantung diri.”Setelah mendapat laporan, kami langsung menuju lokasi untuk memeriksa pelaku,” jelas Kapolsek Jepon  AKP Sutarjo, seperti dikutip dari laman polresblora.com.

Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan. “Karena tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, jenazah kami serahkan kepada keluarga untuk segera dimakamkan. Dugaan sementara, pelaku nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi menderita sakit selama bertahun-tahun,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Dengan Mudahnya Remaja Membunuh, Salah Siapa?

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

PUBLIK  di Kudus dibuat terperanjat dengan kasus penemuan mayat yang sudah membusuk di ladang tebu di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus, beberapa waktu lalu. Kasus ini sudah terungkap, dan ternyata mayat itu merupakan korban pembunuhan.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan polisi diketahui jika pemuda bernama Yusrul Hana itu dibunuh dengan cara keji. Korban dikeroyok, dibantai dan dibacok oleh beberapa orang. Bukan penemuan mayatnya yang membuat orang-orang mengernyitkan dahi, melainkan orang yang membunuh pemuda ini.

Polisi yang melakukan pendalaman kasus ini menemukan pelakunya merupakan lima orang anak-anak baru gede (ABG) yang masih bau kencur. Dan ini yang membuat orang jadi berpikir sangat keras, yakni motif yang melatarbelakangi para bocah bau kencur ini membunuh orang yang lebih tua dari mereka.

Motifnya adalah asmara. Salah satu pelaku yang umurnya baru 17 tahun cemburu dan merasa tak terima pacarnya diganggu oleh korban. Pelaku kemudian mengajak empat kawannya yang juga berusia belasan tahun untuk menghajar korban secara membabi buta. Mungkin awalnya kawanan bocah ini hanya ingin memberi pelajaran pada korban, namun pelajaran yang diberikan kebablasan, dan mereka terlalu kalap hingga akhirnya korban dibantai hingga kehilangan nyawa.

Kenekatan bocah-bocah bau kencur ini sampai bisa membunuh orang memang membuat orang terhenyak. Di masa umur mereka yang seharusnya digunakan untuk menggali ilmu, justru disalahgunakan, sehingga mereka harus menjalani kehidupan di sel tahanan penjara.

Kenekatan bocah-bocah ini tak lepas dari pergaulan mereka, dan dampak dari perkembangan teknologi informasi. Bocah-bocah pada masa sekarang, sudah sejak kecil dicekoki dengan berbagai macam informasi yang tak terkontrol.

Televisi menjadi sumber utama, dan belakangan media sosial yang ikut memberi andil sangat kuat terhadap perkembangan watak generasi muda.

Kisah percintaan anak-anak belia yang semakin salah kaprah ini juga dampak dari dua media tersebut. Sinetron, film, dan dan media sosial sering mempertontonkan cerita-cerita percintaan, yang kemudian diadaptasi secara mentah-mentah oleh bocah-bocah kita. Mereka semakin berani mengumbar kemesraan di muka umum, padahal umur mereka tak habis jika dihitung dengan seluruh jari yang ada di tubuh manusia.

Bahkan yang sangat miris, di kalangan anak muda saat ini muncul stigma jika “jomblo” itu sebuah kutukan yang harus dihindari. Sehingga mereka berlomba-lomba mencari pacar, kekasih, dan ujungnya juga berbuat hal-hal yang tak senonoh, maksiat dan segalanya.

Di sekolah-sekolah juga muncul geng-geng, yang mengikuti perkembangan saat ini, istilah mereka “kekinian”. Ini juga mengadaptasi dari massifnya gempuran budaya pop yang disajikan sinetron-sinetron, seperti sinetron “Anak Jalanan”.

Semakin liarnya pergaulan anak muda ini yang menjadikan mereka tak segan-segan melakukan tindakan di luar nalar, bahkan tindakan keji seperti membunuh. Terlebih tidak sedikit dari bocah-bocah ini yang mulai ketagihan dengan minuman keras, sehingga membutakan akal sehat.

Fenomena seperti ini bukan terjadi belakangan ini saja, tapi sudah sangat menahun. Dan kejadian seperti ini juga bukan kali ini saja terjadi. Bahkan intensitasnya bukan menurun, justru semakin banyak setiap tahunnya.

Tak ada yang bisa disalahkan memang, karena jika dirunut banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja semakin menjadi seperti ini. Yang harus dilakukan saat ini dan terus ke depan, yakni dengan semakin meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak kita.

Yang terpenting yakni dari sisi keluarga dan sekolah. Orang tua harus semakin peka dengan perkembangan emosional anak dan pergaulannya. Pihak sekolah juga harus terus berupaya memberikan pendampingan dan pengawasan terhadap murid-muridnya.

Terlebih waktu anak paling banyak terdapat di sekolah dan di lingkungan pergaulan. Jika melihat kondisi seperti ini, wacana one day school layak untuk dicermati kembali. Kebijakan sekolah sehari penuh itu, dengan melihat kondisi saat ini, setidaknya bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan kenakalan remaja.

Waktu anak akan dihabiskan untuk belajar dan mendapat pendampingan oleh guru di sekolah. Sehingga waktu bagi mereka untuk keluyuran dan lainnya akan semakin sedikit. Meski demikian, konsepnya harus dibuat lebih ramah dengan anak, sehingga nantinya tidak ada kejenuhan, dan efek lainnya. (*)

Memprihatinkan, Sepekan Ada 2 Orang di Grobogan Nekat Gantung Diri

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Grobogan – Kasus orang bunuh diri di Grobogan tampaknya perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Hal ini terkait banyaknya pelaku bunuh diri akhir-akhir ini. Dalam pekan ini saja, sudah ada dua kasus bunuh diri yang terjadi pada waktu dan lokasi berbeda.

Kasus bunuh diri pertama terjadi terjadi di Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Jumat (3/2/3017) sekitar pukul 10.00 WIB. Pelaku bunuh diri diketahui bernama Ngatmin (57), warga setempat.

Korban ditemukan gantung diri di ruang tamunya sendiri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan dengan pasak rumah yang terbuat dari cor. Peristiwa itu selanjunya dilaporkan warga pada perangkat desa dan diteruskan ke pihak kepolisian.

Kapolsek Grobogan AKP Sucipto menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas, tidak ditemukan tanda pemeriksaan. Berdasarkan kondisi fisik, pelaku dinyatakan murni meninggal karena gantung diri.

“Korban murni bunuh diri dari hasil pemeriksaan tim medis. Jenazah sudah kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Dua hari sebelumnya, Rabu (1/2/2017), peristiwa orang bunuh diri juga terjadi di Desa Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo. Pelakunya diketahui bernama Kasbi (64), warga setempat. Pelaku diketahui gantung diri di pintu dapur rumahnya sekitar pukul 11.00 WIB.

Editor : Kholistiono

Sebelum Bunuh Diri di Kamar Mandi Masjid, Ternyata Remaja Ini Sempat…..

Masjid Nurul Huda Desa Ngeluk Grobogan. Di dalam kamar mandi masjid ini seorang remaja nekat bunuh diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Masjid Nurul Huda Desa Ngeluk Grobogan. Di dalam kamar mandi masjid ini seorang remaja nekat bunuh diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Purwodadi, jenazah Dendi Saputra selanjutnya diserahkan pada keluarganya. Kemudian, pada Senin (26/12/2016) jenazah remaja 17 tahun itu dikebumikan di pemakaman Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan.

Sebelum nekat mengakhiri hidupnya, remaja yang hanya tamat SD itu sempat tersandung masalah. Yakni, melakukan tindak pencurian HP di Desa Wolo, Kecamatan Penawangan beberapa hari sebelumnya.

Namun, HP yang harganya sekitar Rp 1 juta itu sudah dikembalikan pada pemiliknya. Kemudian, pemilik HP juga sudah memaafkan perbuatan itu lantaran sebelumnya sudah mengenalnya.

Kasus tersebut juga sudah diselesaikan dengan disaksikan pihak Polsek Penawangan. Meski tidak diproses lebih lanjut karena masih di bawah umur, pelaku sempat dikenakan wajib lapor di Polsek.

“Kasus yang dilakukan pelaku sudah kita diselesaikan. Namun, pelaku kita minta wajib lapor sebagai bagian dari pembinaan,” kata Kapolsek Penawangan AKP Wakijo.

Sementara itu, Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo menambahkan, sebelum meninggal bunuh diri, warganya tersebut sudah sempat membersihkan rumahnya. Saat ditanya ibunya, ia menjawab kalau rumahnya sengaja dibersihkan karena kemungkinan akan banyak tamu datang.

Menurut Joko, selama ini, Dendi yang berasal dari keluarga kurang mampu itu belum pernah terlibat masalah. Meski usianya baru 17 tahun, namun anak kedua dari tiga bersaudara itu sudah punya banyak pengalaman hidup. Remaja itu sudah pernah merantau jadi pekerja bangunan di Papua, Kalimantan dan Padang.

Dikatakan, sehari sebelum ditemukan bunuh diri di kamar mandi Masjid Nurul Huda Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, ia sempat ngobrol cukup lama dengan Dendi di rumahnya. Saat itu, dia bahkan bermaksud meminta Dendi untuk membantunya bekerja menanam bawang merah.

“Saat di rumah, saya nasehati banyak hal pada anak itu. Makanya, saya kaget sekali ketika dapat kabar kalau yang bersangkutan bunuh diri,” katanya.

Baca juga : Kamar Mandi Masjid Ini Dipilih Remaja 17 Tahun Jadi Tempat Diduga Bunuh Diri

Editor : Kholistiono

Sebelum Bunuh Diri, Ibu Paruh Baya di Sarirejo Pati Ini Tulis Surat Wasiat, Begini Isinya

 Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara di rumah korban, Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara di rumah korban, Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu berusia sekitar 54 tahun, Retno Nawang Sari yang merupakan warga Desa Sarirejo RT 5 RW 2, Kecamatan Pati, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya, Selasa (20/12/2016) pagi.

Eko Suwarno, suami pelaku saat memberikan keterangan kepada polisi mengatakan, dirinya bangun pada pukul 06.30 WIB dan mengeluarkan anjing piaraannya. Setelah itu, dia masuk untuk membangunkan istrinya.

Namun, istrinya ternyata sudah tidak berada di atas tempat tidur. Eko langsung mencari keberadaan istri dan menemukannya berada di bawah jendela kamar dalam posisi tergantung tali yang mengikat leher.

“Setelah pelaku ditemukan, suami memanggil tetangga dan melaporkannya kepada polisi. Petugas langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengamankan TKP, menghubungi tim medis, menurunkan korban dari jeratan tali yang tergantung di teralis jendela, mencatat para saksi, dan mendampingi tim medis untuk melakukan pemeriksaan jenazah,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Di sebuah meja rias, suami menemukan wasiat yang tertulis pada selembar kertas. Bunyi wasiat tersebut, “Aku titip anak-anak ibu.” Pihak keluarga sudah menerima kepergian korban. Jenazah langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat, setelah dilakukan autopsi.

Editor : Kholistiono

Pesan Aneh Pelaku Bunuh Diri yang Bikin Merinding di Jepara

Kondisi pelaku bunuh diri tak lama setelah beraksi di pos kamling di Jepara. (Tribratanewsjepara)

Kondisi pelaku bunuh diri tak lama setelah beraksi di pos kamling di Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Kakek Joyo Legimin (77) warga Desa Cepogo, RT 05/RW 10, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, tewas dengan gantung diri di pos kamling tak jauh dari rumahnya, Selasa (18/10/2016) pagi.

Dari informasi yang dikutip dari Tribratanewsjepara.com, pada Senin (17/10/2016) pukul 17.30 WIB, pelaku bunuh diri itu pamit dengan keponakannya, Purwati. Kepada Purwati, pelaku menyampaikan pesannya yang bikin merinding.

“Nak, ini uang Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) tolong dibawa, nanti kalau saya mati bisa digunakan, kata Kapolsek Kembang AKP Budi Wiyono menirukan keterangan Purwati saat dimintai keterangan polisi.

Kemudian, pelaku juga mengatakan kepada keponakannya yang lain, Nurudin.  Pesannya adalah, apabila  meninggal, supaya Nurudin yang memikulnya. Mendapatkan pesan yang aneh, semua keluarga curiga pelaku akan melakukan sesuatu dan malam hari semua anggota keluarga menjaga korban di rumah.

Namun saat Azan Subuh, pelaku pamit akan melaksanakan salat berjamaah di musala. Keluarga mengizinkannya. Tapi setelah salat, pelaku tak juga kembali ke rumah. Keluarga pun curiga. Ternyata, pelaku meninggal dunia dengan cara gantung diri di pos kamling yang ada di dekat rumah.

Selanjutnya, dibantu warga sekitar, pelaku diturunkan dan dibawa ke rumah duka. Korban gantung diri menggunakan tali nilon warna kuning dengan panjang 1,7 meter, berdiameter 0,5 cm dan handuk warna putih.

Polisi tiba di lokasi usai mendapatkan laporan warga setempat. Atas peristiwa tersebut, keluarga korban menerimakan atas musibah tersebut dengan membuat surat pernyataan penolakan autopsi yang ditandatangani oleh keluarga korban. Selanjutnya jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga dengan dibuatkan berita acara untuk dimakamkan.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Kakek Gantung Diri di Pos Kamling di Jepara

Ibu Bunuh Diri di Undaan, Kapolsek : Ini Baru Pertama

Polisi memperlihatkan obat serangga yang ditenggak seorang ibu, di Undaan, Kudus. (Tribratanewskudus)

Polisi memperlihatkan obat serangga yang ditenggak seorang ibu, di Undaan, Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Guna mengantisipasi adanya kejadian bunuh diri lagi, Polsek Undaan melakukan program pembinaan. Hal itu menjadi langkah, guna mengantisipasi adanya hal yang serupa.

Kapolsek Undaan AKP Suparji mengatakan, melihat adanya korban, maka progam pembinaan nantinya akan ditingkatkan. Seperti, polisi melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait.

“Ini merupakan kasus pertama yang melakukan bunuh diri dengan minum racun. Bahkan dalam setahun baru kali pertama ada  kejadian,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pembinaan juga diharapkan dapat dilakukan oleh tokoh agama dan juga tokoh masyarakat. Dengan demikian maka warga dapat sadar kalau bunuh diri bukanlah hal yang baik.

Dia menambahkan, kejadian tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebab semua masalah dapat diselesaikan meskipun sangat berat. Selain itu, bunuh diri juga hanya menambah masalah.

“Kalau ada yang mencurigakan dapat segera lapor ke polsek setempat. Kami pastikan akan menindaklanjuti laporan dari masyarakat sekecil apapun laporan tersebut,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Bunuh Diri di Depan  Mata Anaknya di Undaan Kudus

Polisi menunjukkan obat serangga yang ditenggak pelaku di Undaan Kudus. (Tribratanewskudus)

Polisi menunjukkan obat serangga yang ditenggak pelaku di Undaan Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Siti Mariyanti (33) warga Desa Kutuk RT 1 RW 2, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, bunuh diri di depan mata anaknya, Rabu (12/10/2016) pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

Dikutip dari  Tribratanewskudus.com, kejadian nahas bermula saat suami pelaku pergi ke sawah guna kirim makanan. Pelaku berada di rumah bersama anaknya sekitar pukul 05.30 WIB.

Tak lama kemudian sekitar pukul 06.00 WIB, pelaku mengambil obat serangga merek Spontan. Persis di depan mata anaknya, Riske Ayu Febriyani (13), pelaku membuka tutup botol obat serangga. Obat serangga itu diminum pelaku hingga beberapa tegukan.

Riske seketika histeris. Dia berteriak minta tolong memanggil tetangganya. Dua orang tetangga tiba di rumah pelaku, yakni Sukarno dan Mundakir. Kondisi pelaku tampak parah. Mereka segera membawa pelaku ke Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.

Nyawa korban tak tertolong di rumah sakit tersebut. Polsek Undaan bersama Paur Kesehatan Polres Kudus segera mendatangi TKP guna melakukan penyelidikan.

Hingga berita ini diturunkan, Kapolsek Undaan AKP Suparji, belum memberikan keterangan. MuriaNewsCom masih mencoba menghubunginya beberapa kali tapi belum juga diangkat.

Editor : Akrom Hazami

Kronologi Nenek Konangan Bunuh Diri Nyemplung Sumur di Keling Jepara

nenek-2

Sejumlah petugas dari BPBD Jepara dan lainnya berada di lokasi nenek bunuh diri di Desa Keling, Kecamatan Keling, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Ngatini, nenek berusia 80 tahun, warga Desa Keling RT 03 RW 05, Kecamatan Keling, Jepara, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke dalam sumur dengan kedalaman 16 meter lebih. Ia diduga stres akibat penyakit stroke yang diderita tak kunjung sembuh.

Salah satu anak mantu Ngatini, Budi Mulyono (55) menceritakan, setelah Salat Subuh, ia berpamitan kepada korban untuk pergi ke pasar. Setelah sampai di pasar, ia mendapatkan informasi dari kerabatnya bahwa korban di dalam sumur, dan diduga melakukan bunuh diri. “Sebelumnya saya tidak tahu, dapat informasi dari saudara,” kata Budi.

Menurutnya, korban memang menderita penyakit stroke sudah lama, lebih dari lima tahun namun tak kunjung sembuh. Kondisi badan korban sebelumnya sebagian sudah lumpuh, terutama bagian tangan sebelah kiri.

“Setelah mendapatkan informasi itu, saya langsung pulang ke rumah. Kondisinya sudah ramai. Sesaat kemudian sekitar pukul 07.00 WIB datang dari petugas untuk melakukan evakuasi,” ucapnya.

Salah satu petugas evakuasi dari BPBD Jepara, Zainudin mengatakan, korban berhasil diangkat sekitar pukul 07.45 WIB bersama dengan tim evakuasi gabungan dan para relawan.

Setelah korban berhasil dievakuasi dari dalam sumur, dilakukan pemeriksaan oleh petugas puskesmas setempat. Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban meninggal karena kehabisan oksigen dan tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

“Diduga kuat korban memang bunuh diri karena stres mengidap penyakit stroke sudah lama dan tidak kunjung sembuh. Tidak ada tanda-tanda bekas penganiayaan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Nenek Nekat Nyemplung Sumur di Keling Jepara