Ibu yang Lompat di Hotel Safin Pati Teryata Sering Mencoba Bunuh Diri

MuriaNewsCom, Pati – Sulistyani (31), warga Kecamatan Pati yang meninggal bersama bayinya dengan cara meloncat dari lantai 11 ternyata sudah sering melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali. Namun aksinya selalu digagalkan oleh orang terdekat.

KBO Reskrim Polres Pati Iptu Gunarso mengatakan, dari hasil penelusuran yang dilakukan petugas, korban memang sudah sering mencoba bunuh diri. Namun, pihak keluarga selalu berhasil mencium gelagat pelaku dan berhasil digagalkan.

“Percobaan bunuh diri yang dilakukan selalu ketahuan keluarganya. Makanya selalu gagal,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom, Selasa (9/1/2018).

Baca: Ibu Ajak Bayi Bunuh Diri Terjun Dari Lantai 11 Hotel Safin Pati

Menurut KBO, saat melakukan terjun bebas, Senin (8/1/2018) kemarin, tidak disadari oleh pihak keluarga. Karena, saat pergi dari rumah, korban hanya pamit untuk membeli bubur.

Disebutkan, korban murni melakukan bunuh diri di Hotel Safin. Itu terungkap dari hasil rekaman CCTV, yang menceritakan korban datang pagi hari untuk melakukan bunuh diri.

Sayangnya, hingga kini petugas belum menemukan alasan percobaan bunuh diri beberapa kali dan kenapa sampai bunuh diri. Sebab, petugas tak menemukan pesan apapun dari keluarga korban. Bahkan pesan dari almarhumah juga tidak ada.

Editor: Supriyadi

Baca: Kapolres Pati: Pelaku Bunuh Diri Di Hotel Safin Bukan Pengunjung Hote

Kapolres Pati: Pelaku Bunuh Diri di Hotel Safin Bukan Pengunjung Hotel

MuriaNewsCom, Pati – Sulistyani (31), warga Kecamatan Pati yang diduga bunuh diri dengan mengajak anaknya yang masih bayi di Hotel Safin, Senin (8/1/2018) ternyata bukan seorang pengunjung hotel. Dia, merupakan warga Pati yang diduga datang hanya untuk bunuh diri.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, setelah mengumpulkan beragam informasi, terduga pelaku bunuh diri ternyata tidak terdaftar dalam buku pengunjung hotel. Karena itu, pihak kepolisian menduga kalau pelaku sengaja datang untuk bunuh diri.

”Sepertinya ada unsur kesengajaan. Dia (pelaku) datang, naik lift lalu bunuh diri dengan terjun bebas. Namun kepastiannya masih didalami petugas,” kata Kapolres kepada awak media.

Baca: Ibu Ajak Bayi Bunuh Diri Terjun Dari Lantai 11 Hotel Safin Pati

Atas kejadian itu, Kapolres meminta fungsi keamanan hotel harus lebih ditingkatkan. Apalagi, saat melihat gerak-gerik yang mencurigakan yang bukan pengunjung hotel harus lebih interaktif.

Selain itu, fungsi pengamanan internal hotel harus lebih cermat dan selektif melihat gelagat tamu yang datang.

”Itu berlaku untuk semua hotel, tak hanya Safin. Apalagi ada kejadian seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu, jenazah kedua pelaku bunuh diri sudah berada di rumah duka. Kedua jenazah bahkan sedang dalam persiapan pemakaman. Sayangnya, dalam lingkungan rumah duka enggan memberikan komentar. Bahkan tentangganya juga menolak berkomentar soal almarhumah.

Editor: Supriyadi

Ternyata Karini Sempat Dirawat di RSJ Semarang, Sebelum Gemar Menceburkan Diri ke Sumur

Karini diberi selimut setelah epilepsinya kumat usai dievakuasi dari sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Karini diberi selimut setelah epilepsinya kumat usai dievakuasi dari sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Karini (39), seorang janda asal Desa Semirejo RT 2 RW 5, Kecamatan Gembong, Pati ternyata sudah lama stres, sebelum akhirnya punya kegemaran untuk menceburkan diri ke sumur.

Karini terkena gangguan jiwa, lantaran penyakit epilepsinya yang tak kunjung sembuh. Bahkan, ia pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Semarang.

Namun, hasilnya nihil. Karini masih sering kambuh dan sudah enam kali mencoba melakukan bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur.

“Karini memang terkena gangguan jiwa sejak 2002, karena penyakit epilepsi yang diderita tak kunjung sembuh. Pernah juga dirawat di RSJ Semarang, tapi masih sering kambuh setelah dipulangkan,” kata Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho kepada MuriaNewsCom, Selasa (23/2/2016).

Ia mengatakan, Karini sempat dirawat inap di puskesmas setempat karena mengalami luka robek pada pergelangan tangan kanan dengan panjang hingga 4 cm dan lebar 0,5 cm.

Sementara itu, jempol kaki bagian bawah mengalami luka robek sepanjang 3 cm. Janda yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya itu juga sangat pucat dan lemas, karena berada di dalam sumur selama satu jam dan tidak makan selama lima hari.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Disebut-sebut Ditempeli Makhluk Halus, Janda Ini Jadi Stres dan Sering Ingin Bunuh Diri

Disebut-sebut Ditempeli Makhluk Halus, Janda Ini Jadi Stres dan Sering Ingin Bunuh Diri

Polisi dan warga tengah mengevakuasi Karini yang mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi dan warga tengah mengevakuasi Karini yang mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pengakuan mengejutkan muncul dari Suminah, bibi Karini. Ia mengatakan, Karini sempat ditempeli makhluk gaib sebelumnya akhirnya depresi bertahun-tahun hingga berulang kali mencoba bunuh diri.

“Karini mengalami stres, setelah ketempelan makhluk gaib sejak duduk di bangku SMP. Kondisi stres semakin parah ketika anaknya meninggal dan diceraikan suaminya,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Senin (22/2/2016).

Sebetulnya, kehidupan Karini sehari-hari wajar. Bahkan, Karini dikenal dengan pribadi yang baik, rajin bersih-bersih rumah, dan tekun salat. Namun, Karini berulang kali mencoba bunuh diri dan beberapa kali hilang saat depresi itu kumat.

“Sebelum mencebur sumur tadi, Karini sempat salat. Bahkan, saya dengar dia mengucapkan istigfar saat mencebur sumur. Menurut saya, itu di luar kendalinya,” paparnya.

Tak hanya itu, Karini juga diketahui belum makan selama lima hari sebelum akhirnya menceburkan diri di sumur. “Kondisinya memprihatinkan. Dia betul-betul tidak mau makan selama lima hari ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Janda Asal Semirejo Pati Ini Sudah 6 Kali Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Janda Asal Semirejo Pati Ini Sudah 6 Kali Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Karini berhasil dievakuasi dan dibawa ke ruang tamu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Karini berhasil dievakuasi dan dibawa ke ruang tamu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati- Karini (39), seorang janda asal Dukuh Gembol, Desa Semirejo, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba bunuh diri dengan mencebur ke sumur ternyata sudah mengalami kejadian serupa hingga lima kali. Tak hanya itu, Karini diketahui pernah minum obat serangga untuk mengakhiri hidupnya.

“Dia sudah sering coba bunuh diri dengan mencebur ke sumur. Waktu saya ajak merantau ke Sumatra, dia juga sempat menenggak racun serangga. Terhitung, dia sudah enam kali mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. Tapi, dia selalu selamat,” ujar Sumiati, kerabat Karini kepada MuriaNewsCom, Senin (22/2/2016).

Sumiati mengaku, Karini memang sudah lama mengalami depresi dan sering kejang seperti terkena penyakit epilepsi. Masalah keluarga dan himpitan ekonomi ditambah dengan kondisi diceraikan suami, dinilai sebagai penyebab Karini semakin depresi.
“Masalah bertubi-tubi yang mendera, membuatnya depresi. Saat ini, dia hanya tinggal di rumah bersama ayah dan ibu tirinya, karena ibu kandungnya sudah meninggal. Anaknya juga sudah meninggal dunia waktu masih dua tahun. Suaminya menceraikannya. Kondisinya benar-benar memprihatinkan,” tuturnya.
Sementara itu, Karyatun yang merupakan tetangga dekat, sempat memergoki Karini mencoba mencari sumur-sumur tetangga sekitar pukul 07.30 WIB, sebelum akhirnya menceburkan diri di sumur miliknya sendiri. Namun, aksinya tersebut diketahui tetangga dan dilarang untuk mendekati sumur.
“Pagi hari, Karini sempat mencari-cari sumur tetangga. Berhubung dilarang warga, dia kembali pulang. Tidak tahunya malah menceburkan diri di sumur miliknya sendiri,” ungkapnya.
Saat dievakuasi dari sumur, Karini pada awalnya gagal dikeluarkan dari sumur karena memberontak dan akhirnya tercebur lagi. Evakuasi berhasil untuk yang kedua kalinya, setelah dibujuk dan diikat menggunakan kain selendang dengan dikerek tali plastik sepanjang 25 meter.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Heboh! Warga Desa Semirejo Gembong Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Heboh! Warga Desa Semirejo Gembong Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Petugas kepolisian dan warga sempat berhasil mengevakuasi Karini yang mencoba bunuh diri di sumur miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian dan warga sempat berhasil mengevakuasi Karini yang mencoba bunuh diri di sumur miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Dukuh Gembol RT 2 RW 5, Desa Semirejo, Kecamatan Gembong, Pati bernama Karini (39) mencoba untuk bunuh diri dengan mencebur ke sumur di rumahnya, Senin (22/2/2016).

Beruntung sumur miliknya hanya memiliki kedalaman kurang dari dua meter, sehingga Karini masih bisa diselamatkan oleh penduduk setempat dan petugas kepolisian. Setelah dievakuasi selama 40 menit, Karini akhirnya bisa diangkat dari sumur menggunakan tangga dengan dibantu tali plastik sepanjang 25 meter.

“Kami bersama warga setempat mencoba melakukan evakuasi sekitar 40 menit dengan menggunakan tangga dan tali plastik. Kami sempat kesulitan, karena Karini tidak mau diangkat dari sumur,” ujar Kapolsek Gembong AKP Sugino kepada MuriaNewsCom.

Suara jeritan dari dalam sumur sempat beberapa kali mewarnai aksi evakuasi petugas. Setelah kaki dan tangannya diikat menggunakan kain selendang, Karini berhasil diangkat dan dibawa ke ruang tamu.

Usai dievakuasi, penyakit Karini yang diduga epilepsi kumat. Setelah kumatnya reda, Karini kemudian dibawa ke puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan medis.

Beberapa bagian tubuh seperti jari jempol kaki dan pergelangan tangan mengalami luka lecet. Sementara itu, tubuh Karini tampak menggigil dengan wajah yang sangat pucat.

Editor : Kholistiono

Polisi Sita Keris yang Menghabisi Tuannya Sendiri

f-bunuh diri 2 (e)

 

PATI – Warga Desa Soko RT 6 RW 2 digemparkan dengan meninggalnya Sariban (90) dengan kondisi terbujur kaku di kamar tidurnya, Rabu (13/1/2016). Sariban meninggal, setelah kehabisan darah karena sebilah keris menancap hingga meninggalkan luka robek selebar 3 cm dengan kedalaman 2 cm.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Pati Sri Sutati kepada MuriaNewsCom mengatakan, sebilah keris sepanjang 50 cm yang membawa malapetaka bagi tuannya sendiri itu disita petugas kepolisian untuk dijadikan barang bukti.

“Keris itu berukuran cukup panjang. Untuk keamanan dan barang bukti, kami langsung sita benda itu. Bentuk kerisnya lurus dan meruncing pada bagian ujung. Tidak ada luknya,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebetulnya keris tersebut sudah lama dan berkarat. Berhubung ujungnya meruncing sehingga bisa mencelakai orang.

“Selain mengamankan keris, kami juga mengamankan sarung keris yang digunakan sebagai rumah bagi keris. Semuanya kami jadikan barang bukti,” tambahnya.

Sebelumnya, pihak keluarga tidak tahu jam berapa Sariban mengakhiri hidup dengan sebilah keris yang merobekkan lehernya itu. “Kami sekeluarga tidak tahu jam berapa. Pagi-pagi jam 06.00 WIB ketika saya mau memberi makan, sudah terbujur kaku dengan leher yang bersimbah darah,” ucap Suparlan (65), saudara korban.

Setelah Polsek Gabus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan puskesmas setempat melakukan visum, kematian Sariban memang dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Sariban diduga mengakhiri hidup setelah menderita penyakit stroke menahun. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Keris Sepanjang 50 Cm Tusuk Kakek hingga Tewas di Gabus Pati

ILustrasi

ILustrasi

 

PATI – Keris sepanjang 50 Cm tusuk kakek hingga tewas di Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Kejadian ini membuat geger warga setempat karena mereka tidak menyangka akan kejadian itu.

Adalah seorang kakek Sariban (90), warga Desa Soko RT 6 RW 2, Kecamatan Gabus, Pati nekat mengakhiri hidupnya dengan menggorokkan sebilah keris pada bagian lehernya sendiri, Rabu (13/1/2016). Aksi nekat itu diduga karena stres, akibat penyakit stroke yang menahun dan tak kunjung sembuh.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, Sariban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia dengan sebilah keris yang menusuk lehernya. Saat itu, Suparlan, salah satu anggota keluarga ingin memberikan sarapan pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

“Informasi yang kami terima dari kepolisian sektor setempat, waktu masuk kamar untuk memberikan makan, korban sudah meninggal dunia dengan sebilah keris yang masih tertusuk pada lehernya,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Polisi dan warga membawa jenazah Sariban ke Puskesmas Gabus untuk diperiksa, guna kepentingan pemeriksaan polisi. Sementara itu, dr Wahib Hasyim yang memimpin tim medis Puskesmas Gabus mengatakan, hasil visum yang dilakukan menunjukkan tidak ada luka lebam pada tubuh korban. “Pada leher terdapat luka tusuk dengan lebar 3 cm dan kedalaman 2 cm hingga mengenai pembuluh darah arteri,” tutur Wahib.

Ia menambahkan, korban dengan tinggi badan 161 cm tersebut mengeluarkan sperma pada alat kelamin. “Dari hasil visum, korban memang bunuh diri. Panjang keris yang digunakan untuk menusuk lehernya sendiri itu sekitar 50 cm,” tambahnya.

Sontak, insiden tersebut sempat menggemparkan warga setempat. Pihak keluarga tidak menyangka jika kakek yang sudah berusia lanjut itu mengakhiri hidup dengan menggorokkan leher dengan sebilah keris.

Jenazah korban kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat siang hari, usai dimandikan pihak keluarga. (LISMANTO/KHOLISTIONO)