Bunuh Diri, Mayat Kakek di Parenggan Pati Ditemukan Membusuk

Polisi melakukan olah TKP di rumah Tulus, Kelurahan Parenggan, Pati, Sabtu (27/5/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang kakek berusia 72 tahun bernama Tulus Widodo ditemukan meninggal dunia di kamarnya dalam keadaan gantung diri, Sabtu (27/5/2017).

Tulus merupakan warga Kelurahan Parenggan RT 3 RW 1, Kecamatan Pati. Diperkirakan, pelaku meninggal dunia tiga hari yang lalu sejak ditemukan.

Susilowati, anak pelaku mengungkapkan, saat itu dia mencium bau busuk dalam rumah pada Jumat (26/5/2017). Namun, bau itu dianggap bau ikan yang membusuk dalam kulkas.

Pagi harinya, dia membersihkan kulkas tetapi bau busuk tidak hilang dan justru semakin menyengat. Dia curiga, bau busuk itu berasal dari tikus yang mati.

Setelah dicari, sumber bau busuk ternyata berada dalam kamar pelaku. Dia mencoba untuk membuka pintu, tetapi tidak bisa.

Sabarudin, menantu Tulus kemudian mencoba melihat dari atap. Hal mengejutkan terjadi, karena dia melihat mertuanya sudah meninggal dunia dalam keadaan gantung diri.

Polisi yang mendapatkan informasi langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sebelum bunuh diri, sang kakek ternyata sempat bercerita kepada sejumlah keluarga.

Dari pengakuan keluarga, pelaku sudah pernah dibawa ke rumah sakit, tapi tak kunjung sembuh. Korban juga sering berhalusinasi dan mengaku dikucilkan paguyuban Makam Sunan Makdum.

Editor : Kholistiono

Ini yang Diduga Jadi Penyebab Seorang Ibu di Sarirejo Pati Nekat Gantung Diri

Petugas medis memeriksa jenazah pelaku gantung diri di Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas medis memeriksa jenazah pelaku gantung diri di Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu bernama Retno Nawang Sari (54), warga Desa Sarirejo, Kecamatan Pati ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di sebuah teralis jendela rumah, Selasa (20/12/2016).

Dari informasi yang dihimpun, pelaku nekat gantung diri karena mengalami sakit pada kaki akibat terjatuh saat naik kendaraan sekitar tiga bulan yang lalu. Lantaran tak kunjung sembuh, pelaku frustasi hingga mengakhiri hidupnya.

“Setelah jatuh dari kendaraan sekitar tiga bulan yang lalu, paha kaki sebelah kiri patah dan tidak kunjung sembuh. Mungkin karena itu yang membuat istri saya mengakhiri hidupnya,” ucap Eko Suwarno, suami korban.

Untuk memastikan penyebab kematian pelaku, polisi bersama dengan tim medis dari Puskesmas Pati II melakukan pemeriksaan medis. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dr Sri Mukti, pelaku meninggal karena jeratan pada leher yang mengalami asfeksi atau kekurangan oksigen.

“Tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Saat kami periksa, korban meninggal sekitar dua jam yang lalu. Lidah tergigit, tidak ada pendarahan pada bagian mata, tangan mengepal, dan terdapat luka jeratan leher,” ungkap dr Sri Mukti.

Pada saat ditemukan, petugas menemukan tali dari kain jarik bermotif batik warna hitam putih sekitar 60 cm. Pada meja rias, suami menemukan secarik kertas bertuliskan sebuah wasiat yang berbunyi, “Aku titip anak-anak ibu.”

Baca juga : Sebelum Bunuh Diri, Ibu Paruh Baya di Sarirejo Pati Ini Tulis Surat Wasiat, Begini Isinya

Editor : Kholistiono

Sebelum Bunuh Diri, Ibu Paruh Baya di Sarirejo Pati Ini Tulis Surat Wasiat, Begini Isinya

 Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara di rumah korban, Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara di rumah korban, Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu berusia sekitar 54 tahun, Retno Nawang Sari yang merupakan warga Desa Sarirejo RT 5 RW 2, Kecamatan Pati, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya, Selasa (20/12/2016) pagi.

Eko Suwarno, suami pelaku saat memberikan keterangan kepada polisi mengatakan, dirinya bangun pada pukul 06.30 WIB dan mengeluarkan anjing piaraannya. Setelah itu, dia masuk untuk membangunkan istrinya.

Namun, istrinya ternyata sudah tidak berada di atas tempat tidur. Eko langsung mencari keberadaan istri dan menemukannya berada di bawah jendela kamar dalam posisi tergantung tali yang mengikat leher.

“Setelah pelaku ditemukan, suami memanggil tetangga dan melaporkannya kepada polisi. Petugas langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengamankan TKP, menghubungi tim medis, menurunkan korban dari jeratan tali yang tergantung di teralis jendela, mencatat para saksi, dan mendampingi tim medis untuk melakukan pemeriksaan jenazah,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Di sebuah meja rias, suami menemukan wasiat yang tertulis pada selembar kertas. Bunyi wasiat tersebut, “Aku titip anak-anak ibu.” Pihak keluarga sudah menerima kepergian korban. Jenazah langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat, setelah dilakukan autopsi.

Editor : Kholistiono

Siswanti Nekat Bunuh Diri Diduga Depresi Sepulang jadi TKW di Arab Saudi

Jenazah Siswanti dipulangkan, usai dirawat intensif di RS Keluarga Sehat setelah menenggak cairan pembasmi rumput. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jenazah Siswanti dipulangkan, usai dirawat intensif di RS Keluarga Sehat setelah menenggak cairan pembasmi rumput. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Siswanti (40), pelaku bunuh diri yang meninggal dunia karena menenggak cairan pembasmi rumput di Desa Bermi, Kecamatan Gembong, Pati diduga karena depresi, sepulang menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi.

Rofiah, anak korban mengaku, ibunya tersebut mengalami depresi selama sepuluh tahun, sepulang menjadi TKW dari Arab Saudi. Sebelumnya, korban diakui pernah berupaya bunuh diri dengan cara yang sama.

Hanya saja, upaya korban diketahui keluarga dan warga, sehingga berhasil digagalkan. Namun, kali ini nyawa korban tidak bisa ditolong lantaran cairan pembasmi rumput yang ditenggak sudah terlanjur merusak organ vital dalam tubuh.

Belum diketahui secara pasti penyebab Siswanti depresi sepulang dari Arab Saudi. Namun, pihak keluarga mengakui bila Siswanti mengalami depresi dan pernah mencoba bunuh diri beberapa waktu lalu.

“Pada saat kejadian, anak korban mengetahui ibunya sudah dalam kondisi muntah-muntah. Sontak, anak korban berteriak meminta tolong kepada saudara dan tetangga, korban akhirnya dilarikan ke RS Keluarga Sehat. Nahas, nyawa korban tidak tertolong setelah bertahan selama 12 jam dengan dirawat di RS Keluarga Sehat,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Selasa (01/11/2016).

Duka mendalam tampak menyelimuti keluarga, karena korban terbilang masih muda. Jenazah korban dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) pada Senin (30/10/2016) sekitar pukul 10.00 WIB.

Baca juga : Tenggak Cairan Pembasmi Rumput, Perempuan Asal Bermi Pati Tewas

Editor : Kholistiono

Tenggak Cairan Pembasmi Rumput, Perempuan Asal Bermi Pati Tewas

Jenazah korban dipulangkan ke rumah duka di Desa Bermi, Kecamatan Gembong, usai meninggal dunia karena menenggak cairan pembasmi rumput. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jenazah korban dipulangkan ke rumah duka di Desa Bermi, Kecamatan Gembong, usai meninggal dunia karena menenggak cairan pembasmi rumput. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang perempuan bernama Siswanti (40), warga Desa Bermi RT 1 RW 10, Kecamatan Gembong, Pati, tewas setelah menenggak cairan pembasmi rumput merek Gramoxone.

Siswanti dinyatakan meninggal dunia, 12 jam setelah menenggak Gramoxone. Korban sempat dilarikan ke RS Keluarga Sehat, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, Siswanti meminum cairan pembasmi rumput pada Minggu (30/10/2016) sekitar pukul 06.45 WIB. Saat itu, dua anak Siswanti berada di rumah.

“Setelah meminum cairan itu, korban langsung muntah-muntah dan dibawa ke RS Keluarga Sehat. Setelah mendapatkan perawatan intensif dan pengobatan di rumah sakit, nyawa korban tidak tertolong dan meninggal dunia sekitar pukul 19.50 WIB,” ungkap Kompol Sundoyo, Selasa (01/11/2016).

Nyawa korban tidak tertolong, karena cairan pembasmi rumput terlanjur merusak organ-organ vital tubuh. Kesimpulan dari hasil pemeriksaan laboratorium RS Keluarga Sehat, korban meninggal karena ada cairan racun yang merusak sejumlah organ vital tubuh dan tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

“Ini murni karena ada cairan racun yang masuk dan merusak organ vital tubuh, sehingga nyawa korban tidak tertolong pada pukul 19.50 WIB. Korban masih bertahan 12 jam, setelah cairan racun masuk ke tubuh,” imbuh dr Arumbiana.

Editor : Kholistiono

Seorang Kakek di Desa Tanjunganom Pati Bunuh Diri di Jembatan

Petugas kepolisian dan warga tengah menunggu proses evakuasi jenazah yang meninggal karena gantung diri di jembatan di Desa Tanjunganom, Gabus, Pati, Selasa (27/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian dan warga tengah menunggu proses evakuasi jenazah yang meninggal karena gantung diri di jembatan di Desa Tanjunganom, Gabus, Pati, Selasa (27/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang kakek bernama Sudadi (75) asal Dukuh Paras, Desa Tanjunganom, Kecamatan Gabus nekat bunuh diri di bawah jembatan desa setempat, Selasa (27/09/2016).

Sukono (53), warga setempat mengaku melihat ada pakaian di atas jembatan, tetapi tidak ada orang sama sekali. Saat didekati, ternyata terdapat seutas tali plastik berwarna biru terikat di jembatan.

“Penasaran dengan tali itu, saya kemudian menariknya. Bebannya sangat berat. Ternyata ada orang tenggelam dengan posisi lehernya terikat tali yang saya tarik. Saya berteriak minta tolong pada warga sekitar. Kami kemudian melapor polisi,” ungkap Sukono.

Enam personel polisi yang dipimpin Wakapolsek Gabus Iptu Kadisa bersama dengan tim kesehatan Puskesmas setempat mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP. “Saat diperiksa, ada bekas memar di leher bekas jeratan tali. Panjang tali sendiri 5 meter berdiameter sekitar satu cm,” kata Iptu Kadisa.

Belum diketahui motif secara pasti penyebab korban bunuh diri. Pihak keluarga sendiri sudah merelakan kepergian korban. Usai dievakuasi, jenazah kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat.

“Dari hasil pemeriksaan. Kasus ini murni bunuh diri. Korban mengikat leher pada seutas tali yang diikat pada jembatan, kemudian korban menceburkan diri ke sungai. Keluarga sudah merelakan kematian korban,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Motif Siswa MI di Pati yang Bunuh Diri Masih Simpang Siur

Petugas medis tengah memeriksa kondisi korban, usai diturunkan dari jeratan tali di kamarnya, Senin (19/09/2016) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas medis tengah memeriksa kondisi korban, usai diturunkan dari jeratan tali di kamarnya, Senin (19/09/2016) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Entah apa yang ada di benak MSFA (12), siswa MI Taris Tambahmulyo, hingga membuatnya nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri di rumahnya, Senin (19/09/2016) malam.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, ada banyak versi yang menyebut motif di balik bocah asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan itu mengakhiri hidup dengan cara menjerat lehernya sendiri menggunakan tali pramuka.

Ada yang mengatakan, bocah malang itu minta gadget, tetapi dijanjikan dalam waktu dekat. Ada pula yang menyebut, MSFA dituduh mencuri uang Rp 20 ribu oleh teman-temannya.

Namun, kabar itu diakui Sutaji, tokoh desa setempat masih simpang siur. “Kabar yang beredar memang dia dituduh mencuri uang Rp 20 ribu sampai akhirnya memutuskan bunuh diri. Tapi, ini masih kabar simpang siur. Belum bisa dipastikan sebagai motif yang sebenarnya,” ucap Sutaji.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi saat konfirmasi mengungkapkan, MSFA dilarang orang tuanya untuk adu balap burung merpati. Warga setempat akrab menyebutnya “keplek doro”. Pasalnya, MSFA sudah kelas VI dan akan mengikuti ujian. Hal itu yang membuat orangtuanya meminta untuk rajin belajar dan tidak lagi bermain adu balap merpati.

“Itu sebatas informasi yang masuk kepada kami. Namun, laporan secara resmi terkait dengan motif yang membuat anak itu bunuh diri belum diketahui. Yang jelas, dari hasil visum yang dilakukan tim medis menunjukkan, kejadian itu murni bunuh diri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono