Penyaluran Bansos Rastra di Grobogan untuk Bulan April Diajukan

MuriaNewsCom, Grobogan – Penyaluran bantuan sosial beras sejahtera (Bansos Rastra) di Grobogan untuk alokasi bulan April diajukan. Hal itu disampaikan Kepala Dinsos Grobogan Andung Sutiyoso saat melakukan pemeriksaan kualitas beras untuk program rastra di Gudang Bulog 104 Purwodadi, Selasa (27/3/2018).

Menurut Andung, pada penyaluran bansos rastra untuk alokasi bulan Januari-Maret dilakukan sesuai bulannya. Namun, khusus penyaluran bulan April dilakukan pada akhir Maret hingga awal April.

“Penyaluran alokasi bansos rastra bulan April rencananya kita lakukan mulai Rabu besok sampai 6 April. Hal ini kita lakukan berkaitan dengan adanya instruksi dari Bulog pusat agar penyaluran bansos rastra bulan April diajukan waktunya,” imbuh Andung didampingi Kabid Sosial Kurniawan.

Disinggung soal kualitas beras yang akan disalurkan pada penerima, Andung menyatakan, cukup bagus. Menurutnya, jika ada penerima yang berasnya ternyata tidak bagus maka pihak bulog akan menggantinya.

“Kami sudah berkomitmen dengan bulog untuk langsung mengganti beras apabila kualitasnya tidak sesuai ketentuan. Kami beri toleransi waktu 2 x 24 jam untuk mengganti berasnya. Jika beras yang diterima kurang bagus maka cepat laporkan,” tegasnya.

Menurut Andung, jumlah penerima Bansos rastra se-kabupaten ada 124.178 keluarga penerima manfaat (KPM). Porgram bansos rastramerupakan peralihan dari bantuan Raskin.

Selain perubahan nama, jumlah beras yang diterima KPM juga berubah. Yakni, dari semula 15 Kg beras dengan harga penebusan Rp 1.600 per kilo, menjadi 10 kg per KPM secara gratis.

Dalam waktu dekat, penyaluran beras rastra akan diganti dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Kementerian Sosial. Dijelaskan, BPNT adalah bantuan pangan dari pemerintah yang diberikan kepada KPM setiap bulannya.

Mekanisme penggunaan BPNT melalui akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di e-Warong atau pedagang bahan pangan yang bekerjasama dengan Bank yang ditunjuk. Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran serta memberikan nutrisi yang lebih seimbang kepada KPM secara tepat sasaran dan tepat waktu.

“Untuk program BPNT ini sudah kita sosialisasikan pada camat dan kepala desa beberapa hari lalu. Mengenai pelaksanaan BPNT masih menunggu surat resminya dari Kementerian Sosial,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Serapan Beras Oleh Bulog di Kudus Masih Nihil

MuriaNewsCom, Kudus – Serapan beras oleh Bulog di Kabupaten Kudus pada MT I masih nihil. Hingga Selasa (6/3/2018) pagi, baru ada kerjasama serap dari mitra kepada Bulog sebesar 50 ton.

Hal itu diakui oleh Kepala Perum Bulog Subdivre Pati, Muhammad Taufiq saat mengunjungi sebuah gudang di Desa Wates, Kecamatan Undaan. Bersamanya, Komandan Kodim 0722 Kudus Letkol Inf. Sentot Dwi Purnomo dan pemilik gudang beras Yudho Prasetyo.

“Hari ini mitra baru membuka kontrak beras sebanyak 50 ton.Mitra lain kabarnya akan buka kontrak, tapi kita tunggu saja. Kalau untuk se Divre Pati kontraknya 3.500 ton beras, realisasinya 1.500 ton beras. Sudah (menyerap beras) semua (eks karisidenan Pati) yang belum Kudus,” kata Taufiq.

Menurutnya, angka penyerapan beras sebesar 1.5000 ton termasuk tinggi, jika dibandingkan dengan wilayah lain di Jateng. Menurutnya, untuk penyerapan beras di Kudus bergantung pada mitra.

“Kalau untuk itu (kontrak) yang mengadakan itu mitra tidak ada besarannya, nanti terserah mereka,” tambahnya.

Yudho Prasetyo pemilik gudang beras menuturkan, stok gabah di Kabupaten Kudus telah habis. Selain karena diserbu pedagang-pedagang asal Jawa Barat, harga jual gabah juga meningkat dari semula Rp 5.000 per kilogram menjadi Rp 5.500 per kilogram.

Sementara itu, Dandim 0722 Kudus Letkol Inf. Sentot Dwi Purnomo menyebut akan meningkatkan sinergitas antar lembaga untuk meningkatkan serapan gabah petani.

“Pertama harus ada sinergitas. Kalau tidak maka panen itu akan surplus tapi serapan kurang. Maka dari itu harapannya, agar pada MT (Musim Tanam) II hasilnya lebih berlipat-lipat dari yang ada sekarang,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Gelar Operasi Pasar di Pecangaan, Dua Ton Beras Ludes Dalam Satu Jam

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Urusan Logistik (Bulog) menggelontor Pasar Pecangaan dengan dua ton beras. Dalam kurun waktu satu jam, beras kualitas medium langsung tandas dibeli warga.

Hal tersebut dilakukan Bulog bersama Pemkab Jepara dalam operasi pasar, guna menstabilkan harga beras, Rabu (7/2/2018).

Kepala Gudang Bulog Jepara Ahmad mengatakan, beberapa saat lalu harga beras kualitas medium dapat mencapai Rp 11 ribu perkilogram. Dalam operasi pasar tersebut, beras dijual dengan harga Rp 8.400 perkilogram, lebih rendah dari harga pasaran yakni, Rp 9.300 per kilogram.

“Operasi pasar ini merupakan rangkaian yang dilakukan Bulog dan Pemkab Jepara guna menstabilkan harga beras. Ada tiga pasar yang menjadi sasaran, yakni Pasar Bangsri, Pasar Jepara Dua dan terakhir di Pasar Pecangaan. Kegiatan sudah dilakukan sejak hari Senin (5/2/2018), sampai dengan hari ini,” ungkapnya.

Dirinya merinci, ada lima ton beras kualitas medium yang digelontorkan di tiga pasar itu. Untuk Pasar Bangsri dan Jepara Dua masing-masing dijatah 1,5 ton beras. Sementara dua ton sisanya, digelontorkan untk Pasar Pecangaan.

Menurutnya, dengan operasi pasar yang dilakukan oleh pemkab dan Bulog berharap dapat menekan harga beras. “Kedepan harga beras akan semakin turun, mengingat bantuan beras sejahtea (Rastra) sejumlah 770.360 kilogram akan segera didistribusikan Senin pekan depan,” tuturnya.

Editor: Supriyadi

Bulog Pati Wajibkan Karyawannya Beli Bawang Merah dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Bulog Pati menginstruksikan kepada seluruh karyawan wajib membeli bawang merah dari kalangan petani. Itu dilakukan sebagai langkah partisipasi Bulog atas murahnya harga bawang merah.

Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati Rindo Saputra mengatakan, partisipasi semacam itu dilakukan untuk membantu petani menjual bawang merah. Cara seperti itu dapat membantu sambil menunggu usulan penyerapan bawang merah petani.

“Seluruh karyawan kami sudah kami instruksikan membeli bawang merah dari petani. Dan saat ini masih berlangsung,” katanya saat ditemui.

Baca: Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

Menurut dia, tiap karyawan diharuskan untuk membeli bawang sejumlah dua kilogram. Tiap kilo, mereka diharuskan membayar sebanyak Rp 15 ribu. Harga tersebut dianggap pas untuk memenuhi kebutuhan bawang karyawan.

Disebutkan, jumlah karyawan Bulog memang tak banyak. Tercatat, karyawan hanya 46 orang saja. Kendati demikian, diharapkan akan membantu petani meski sedikit.

“Kalau ada yang mau membeli lebih dari itu kami persilakan. Namun minimal adalah lima kilogram,” ungkap dia.

Sebelumnya, aksi serupa juga dilakukan Pemkab Pati untuk membeli bawang merah petani. Bedanya, tiap PNS Pati harus membeli sebanyak dua kilogram.

Editor: Supriyadi

Stabilkan Harga, Bulog Gelontorkan 1,5 Ton Beras ke Pasar Bitingan

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Pati menggelontor 1,5 ton beras kualitas medium ke Pasar Bitingan Kudus. Hal itu dilakukan untuk menyetabilkan harga beras di Kota Kretek yang terus melambung beberapa saat ini.

Mohammad Taufiq, Kepala Bulog Sub Divre Pati menyebut, beras yang dipasok ke Pasar Bitingan langsung habis diborong pedagang. Harga yang dipatok untuk beras dari Bulog adalah Rp 8 ribu perkilogram.

“Harapannya lonjakan harga beras dapat segera teratasi. Untuk harga jual (dari pedagang ke pembeli) kami membebaskan, asal tidak melebihi harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 9.450 perkilogram,” tuturnya.

Perlu diketahui, saat ini untuk beras kualitas medium di Kudus dijual dengan harga Rp 10.500 perkilogram.

Sementara itu, Kholiq (37) seorang pedagang di Pasar Bitingan mengaku, kualitas beras yang didroping oleh Bulog, kurang bagus. Meskipun harga yang dipatok dari badan tersebut jauh dibawah HET. “Kualitasnya kurang bagus, sehingga ketika kami jual peminatnya kurang,” kata dia.

Ia berharap, agar beras yang nantinya dipasok oleh Bulog dapat lebih bagus. Hal itu untuk memastikan konsumen puas akan beras yang telah mereka beli.

Editor : Ali Muntoha

Bulog Jepara Tunggu Pemkab Ajukan Pencairan Beras Cadangan Pemerintah

Tumpukan beras di kios yang ada di pasar Jepara 1, Selasa (19/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Stok beras cadangan di Kecamatan Karimunjawa mulai dibagikan, karena musim baratan (angin kencang dan gelombang tinggi).Lalu bagaimana kesiapan Badan Urusan Logistik (Bulog) Jepara untuk memenuhi pasokan beras di Bumi Kartini pada kondisi seperti ini?

“Untuk hal itu (droping) cadangan beras kami menunggu permintaan dari pemerintah kabupaten,” ujar Staf Bulog Jepara, Hartono, Selasa (19/12/2016).

Menurutnya, cadangan beras di Gudang Bulog Jepara saat ini mencapai 1.980 ton. Hal itu menurutnya cukup untuk memenuhi kebutuhan di Kota Ukir. 

Berdasarkan pengalaman di tahun lalu, droping beras cadangan bisa dikucurkan ketika sekretaris daerah Pemkab Jepara mengajukan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Adapun setiap tahunnya, dialokasikan sebanyak 100 ton beras untuk satu kabupaten. 

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 8 ton stok beras di Pulau Karimunjawa mulai dibagikan kepada warga. Hal ini seiring dengan musim baratan yang mulai melanda di pertengahan Desember 2017.

Adapun, rincian beras cadangan di Karimunjawa adalah 3 ton untuk Desa Karimun, sebanyak 2,5 ton untuk Desa Kemujan, 1,5 ton untuk Desa Parang dan Desa Nyamuk 1 ton. 

Editor: Supriyadi

Panggil DPN APTRI, KPPU Tindak Lanjuti Dugaan Monopoli Gula yang Dilakukan Bulog

Sekjen DPN APTRI, M Nur Khabsyin saat berada kantor KPPU Jalan Juanda No 36 Jakarta Pusat, Selasa (26/9/2017). (DPN APTRI)

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memanggil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Andalan Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen bersama Sekjen DPN APTRI, M Nur Khabsyin, Selasa (26/9/2017).

Pemanggilan tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan dugaan monopoli yang dilakukan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam pembelian dan penjualan gula tani produksi tahun 2017.

Melalui surat elektronik yang diterima MuriaNewsCom, pemanggilan DPN APTRI tersebut dilakukan sekitar pukul 11.00 -12.00 WIB di kantor KPPU Jalan Juanda No 36 Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut keduanya diminta menjelaskan kronologis dugaan monopoli yang akan dilakukan Bulog.

”Dalam pertemuan tersebut kami diminta menjelaskan kronologis adanya aturan bulog akan memonopoli pembelian dan penjualan gula tani dan melengkapi berkas serta data data yg diperlukan,” kata Ketua Umum DPN APTRI Soemitro Samadikoen.

Ia menjelaskan, sesuai surat Menteri Perdagangan (Mendag) dan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN), Bulog  akan memonopoli pembelian dan penjualan gula tani tahun 2017.

Dugaan monopoli tersebut, lanjutnya, karna hanya bulog yang boleh membeli gula dengan harga Rp 9.700 per kilogram dan hanya Bulog yang boleh menjual gula ke pasar secara curah/karungan.   Sedangkan pedagang hanya bisa membeli gula dari Bulog dan menjualnya secara kiloan.

”Dalam prakteknya seperti itu. Itu fakta di lapangan,” tulisnya.

Sekjen DPN APTRI, M Nur Khabsyin menambahkan, dengan peran tersebut Bulog hanya sebagai makelar saja dimana pedagang disuruh beli gula tani melalui Bulog dengan harga Rp 9.900/kg. Lalu Bulog meneruskan pembayaran gula dari pedagang kepada petani dengan harga Rp 9.700/kg.

”Dengan cara itu, Bulog mendapatkan keuntungan Rp 200/kg tanpa mengeluarkan modal,” kesalnya.

Atas dasar itu, Aptri meminta KPPU untuk mencegah praktek monopoli tersebut dan membatalkan surat menteri perdagangan no 885/M-DAG/SD/8/2017 dan surat dirjen perdagangan dalam negeri no 465/PDN/SD/8/2017.

”KPPU juga berjanji setelah memanggil pihak pelapor maka KPPU akan memanggil pihak terlapor dan pihak terkait dalam kasus ini. Kami harap monopoli itu bisa dihentikan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

600 Ton Beras di Gudang Bulog Randugarut Dikorupsi, Kejati : Pemerintah Rugi Rp 6 Miliar

Sejumlah pekerja tengah beraktivitas di Gudang Bulog. Kejati Jateng tengah menyelidiki dugaan korupsi beras di gudang Bulog Subdivre I Randugarut. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Dugaan kasus korupsi pengadaan beras di gudang Bulog Subdivre I Cabang Randugarut, Mangkang, Kota Semarang, tengah diselidiki Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah. Tak tanggung-tanggung. sekitar enam ton beras di gudang Bulog raib diduga dikorupsi oleh oknum pegawai.

Kerugian negara yang ditimbulkan akibat kasus ini pun ditaksir mencapai Rp 6 miliar. Asisten Intelijen Kejati Jateng Jacob Hendrik Pattipeilohy mengatakan, saat ini pihaknya tengah memperdalam penyelidikan di gudang Bulog tersebut.

“Diprediksi kerugian Rp 6 Miliar lebih dan sedang diselidiki oleh tim penyidik kami di lapangan,” katanya dikutip Metrojateng.com, Selasa (22/8/2017).

Sementara menurut Kasipenkum Kejati Jateng Sugeng Riyadi, pihaknya memperkirakan ada 600 ton beras yang raib dari gudang. Oknum pegawai Bulog ditengarai melakukan korupsi itu dengan memproses pemindahan beras dari dalam ke luar gudang.

Saat ini, Kejati Jateng telah memeriksan lima saksi. Keterangan para saksi sangat dibutuhkan karena dianggap mengetahui persoalan yang terjadi.

“Keterangan para saksi masih dikaji dan penyidik masih mencari titik terang siapa yang bertanggungjawab atas dugaan penyimpangan tersebut,” ujarnya.

Penyelidikan dugaan kasus korupsi beras tersebut menurut dia, merupakan tindaklanjut dari laporan masyarakat. Informasi yang diterima menyebut jika praktik korupsi beras itu terjadi sejak Juni 2016 hingga 2017.

”Artinya sudah terjadi setahun terakhir. Dugaannya bekerja sama dengan pihak luar, mengambil beras yang ada di stapel. Di gudang itu kan ada pekerja dari luar yang bantu bongkar dan menata beras di stapel,” terangnya.

Modusnya yakni membuat gorong-gorong di staple, sehingga terkesan tumpukan beras penuh. “Kalau dilihat sepertinya tumpukannya tinggi, padahal itu dalamnya kosong,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Akibat Gabah Basah, Bulog Tak Sembarangan Beli Gabah Petani

Petugas dari Bulog saat melihat gabah di Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus –  ‎Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub-Divre Pati, mulai membeli gabah petani di Kudus, khususnya wilayah Undaan. Pembelian dimulai dari Senin (20/2/2017) dengan lebih selektif.

Ketua Satuan Kerja (Satker) Pengadaan 3, dengan wilayah kerja Kudus dan Jepara Bulog Nur Hardiansyah, mengatakan Bulog lebih dahulu melihat kondisi padi saat hendak dibeli. “Ada ketentuan tersendiri, yaitu kadar air maksimal 25 persen, serta kadar kotoran tak lebih dari 10 persen. Jika mencakup itu, maka  bisa membeli sesuai standar yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 3.700 per kg,” katanya saat melihat padi di Undaan Lor, Kecamatan Undaan.

Hanya, kondisi saat ini berbeda. Padi yang dipanen memiliki kualitas yang kurang bagus, karena terendam air. Pihaknya tak dapat membeli keseluruhan padi tersebut. Namun, pihaknya tetap akan membeli padi yang basah, dengan jumlah satu ton saja. Jumlah tersebut dibeli dengan harga Rp 330 ribu per kuintalnya.

Meski basah, namun kadar air sudah sampai ambang batas. Yang menjadi permasalahan adalah gabah yang lengket, sehingga tidak bisa dipisahkan antara gabah dengan jerami maupun sampah yang masuk dalam gabah. Untuk itulah harganya berbeda 

Pihaknya juga masih menelusuri sepanjang wilayah di Undaan Lor untuk mencari gabah lainnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Petani Blora Jerit Akibat Harga Gabah Jeblok

Petani melakukan penyemprotan cairan untuk melindungi sawahnya di salah satu wilayah di Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom)

Petani melakukan penyemprotan cairan untuk melindungi sawahnya di salah satu wilayah di Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Blora – Jeritan petani Blora akibat jebloknya harga gabah direspons Bulog dan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat, yakni dengan menggelar rapat koordinasi “satu meja” antara pemkab dengan Bulog Subdivre Pati di ruang pertemuan gudang Dolog Jepon, Blora, Selasa (7/2/2017).

Dalam rapat koodinasi (rakor) yang dikemas dalam sosialisasi pengadaan dalam negeri Subdivre Pati Tahun 2017, salah satu peserta Singgih Hartono, membeberkan bahwa banyak petani Blora yang saat ini sedang menjerit karena gabah kering panen (GKP) hanya laku dijual Rp 2.500 hingga Rp Rp 2.900 per kilogram (kg).

Padahal GKP yang dipatok pemerintah dari petani seharga Rp 3.700 per kg. Selain itu, dia juga mengungkapkan, cuaca buruk, hujan, angin, dan matahari sering tertutup mendung, membuat gabah petani rusak, dan tidak laku dijual. “Jika Bulog tidak segera turun menyerap gabah/beras ke bawah, petani bisa bangkrut,” tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora Reni Miharti, juga mendesak Bulog turun menyerap gabah/beras petani baik melalui mitra kerja Bulog atau satgas yang ada. “Puncak panen padi segera tiba, dan padi yang siap panen pada Februari-Maret 2017 mencapai 41.000 hektar,” tandas mantan Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) setempat.

Di forum itu, Bupati Blora Djoko Nugroho mendesak Bulog segera melangkah menyerap padi petani, agar realisasi pengadaan di Blora lebih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sebab target penyerapan gabah/padi pada 2016 sebanyak 15.000 ton, terelasasi 22.000 ton. “Produksi beras Blora terbesar di wilayah Subdivre Pati, sehingga harus dikirim ke Kedu, Pekalongan, Kalimantan, dan Sumatra,” tandasnya.

Demikian juga dengan target 2017 yang sebanyak 21.630 ton, Djoko optimistis realisasinya akan lebih tinggi dibanding 2016, yakni sekitar 25.000 sampai 26.000 ton. Hal ini berdampak pada gudang Dolog yang ada di Blora tidak mampu menampung, dan harus dikirim ke luar daerah. Untuk itu Djoko mendesak Bulog untuk merealisasi usulan penambahan gudang, karena fasilitas yang ada saat ini tempatnya hanya mampu menampung 8.500 ron beras, sehingga harus menyewa pada pihak ketiga (swasta).

Mendapat desakan agar segera turun menyerap gabah/beras petani agar harga membaik, Kepala Bulog Subdivre Pati dengan wilayah kerja Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, A. Kholisun, menegaskan satgas bersama mitra kerja Bulog (MKB) segera melakukan pengadaan penyerapan mulai pekan depan. “Maka kami gelar sosialisasi ini untuk persiapan penyerapan gabah/beras petani, pekan depan kami segera turun,” jelasnya.

Soal gudang Dolog Blora yang sudah tidak lagi mampu menampung gabah/beras petani, diakuinya sudah diusulkan ke Bulog pusat, tapi sampai saat ini belum direalisasi. Solusi sementara yang ditawarkan adalah menyewa gudang milik swasta, karena gudang yang ada hanya mampu menampung 8.500 ton.

Editor : Akrom Hazami

Bulog Targetkan Kudus Mampu Serap Gabah 20 Ribu Ton

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri panen raya di Undaan Lor, Kecamatan Undaan, kabupaten Kudus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri panen raya di Undaan Lor, Kecamatan Undaan, kabupaten Kudus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Sub-Divre II Pati  menargetkan  untuk wilayah Kabupaten Kudus, serapan komersil gabah kering panen (GKP) pada 2017 sebesar 20 ribu ton atau setara dengan 10 ribu ton beras. Target tersebut merupakan target minimal yang harus dipenuhi.

Kepala Perum Bulog Sub-Divre Pati Akhmad Kholisun mengatakan, target tersebut merupakan di bawah realisasi dari 2016 lalu yang terealisasi 32 ribu ton GKP atau setara 16 ribu ton beras. untuk itu dia yakin kalau akan mencapai target.

“Kami yakin akan terserap dengan baik, pada MT I ini sebagian besar sudah dipanen sehingga aman. Dan sepertinya kualitas juga cukup baik,” ungkapnya.

Pihaknya sudah menerjunkan satuan kerja (satker) untuk melakukan pembelian GKP milik petani, termasuk yang ada di Kudus sesuai HPP Rp 3.700. Harga itu mengikuti ketentuan kadar air gabah tidak lebih dari 25 persen dan derajat kesehatan maksimal 10 persen.

Untuk memenuhi target serapan gabah,kata dia, di Kudus tidak masalah. Bahkan dia optimistis tak hanya mencapai target, namun juga mampu hingga di atas target yang akan dijalani tahun ini.

Terkait kendala yang dihadapi, dikatakan terdapat beberapa hal. Seperti halnya keberadaan gudang penyumbang yang terbatas. Selain itu, banyak pula tengkulak atau penebas yang juga bersaing dengan bulog.

Dalam mengejar target, pihaknya siap menjalin kerja sama dengan paramitra, seperti KTNA, Gapoktan serta mitra pengadaan gabah yang ditunjuk Bulog. Sementara untuk memaksimalkan pembelian gabah dari petani, Bulog bekerjasama dengan TNI dan pihak dinas.

Komandan Kodim (Dandim) 0722 Kudus Letkol (CZi) Gunawan Yudha Kusuma menambahkan,  pihaknya siap membantu memaksimalkan hasil panen. Hal itu sesuai dengan progam yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

“Sejak awal TNI sudah membantu pemerintah dalam upaya meningkatan produksi padi. Kami juga membantu  untuk memenuhi target swasembada pangan tahun 2017,” ungkapnya.

Dia menambahkan kalau TNI siap membantu penyerapan gabah petani. Dan juga bersiap membantu para petani dalam kebutuhan para petani untuk hasil yang maksimal. Bahkan, membentuk satuan tugas  tim penyerapan gabah petani (tim sergap).

Editor : Akrom Hazami

 

Bulog Klaim Stok Beras di Blora Aman Hingga Akhir Tahun

 

Salah satu toko di Blora yang menyediakan beras. Bulog menjamin beras di Blora aman hingga akhir tahun (MuriaNewsCom)

Salah satu toko di Blora yang menyediakan beras. Bulog menjamin beras di Blora aman hingga akhir tahun (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Blora – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre II Pati menjamin ketersedian beras selama Ramadan dan lebaran. Bulog mengklaim punya stok yang banyak, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terkati ketersediaan beras.

Refianto, Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati memastikan, ketersediaan beras yang ada saat ini, cukup hingga tujuh bulan ke depan . Bahkan menurutnya, untuk ketersediaan pangan yang di luar dari apa yang telah direncanakan dipastikan juga bisa teratasi. “Seperti kebutuhan ketersediaan pangan ketika ada bencana, dipastikan bisa teratasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada bulan Juni kali ini, alokasi pendistribusian beras miskin (raskin) oleh Perum Bulog akan dilakukan dua kali. Hal itu, untuk mensuplai kebutuhan bagi warga yang kurang mampu atas kebutuhan pangan sehari-hari menjelang lebaran. “Untuk yang Juni sudah kami distribusikan di awal Juni, sedang untuk yang Juli bakal kami distribusikan akhir Juni,” ujar Refianto.

Menurutnya, dengan dua kali pendistribusian dalam satu bulan Juni ini, dirasa bisa meringankan beban yang alami oleh warga kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan. Karena, menurutnya, kebutuhan pangan menjelang lebaran memang dipastikan meningkat.

 

Editor : Kholistiono

 

Petani Pati Diimbau Jual Hasil Penen Masa Tanam Kedua ke Bulog

Babinsa Desa Tlogomojo, Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Babinsa Desa Tlogomojo, Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Komandan Koramil 15/Batangan Kapten Inf Muhammad Sofi’i mengimbau kepada petani di Kecamatan Batangan, Pati untuk menjual hasil panennya kepada Bulog. Hal itu diharapkan agar petani bisa membantu pemerintah dalam menyokong ketahanan pangan nasional.

“Pada masa tanam kedua, sejumlah petani di Desa Tlogomojo, Batangan rencananya akan menyimpannya sebagai cadangan kebutuhan pada musim kemarau mendatang karena sawahnya bersifat tadah hujan, sehingga sulit ditanami. Dari luas sawah 52 hektare, 37 hektare sawah di antaranya belum dipanen,” kata Sofi’i kepada MuriaNewsCom, Selasa (14/6/2016).

Karena itu, ia memerintahkan kepada Babinsa desa setempat, Serda Darmanto untuk memantau, mencatat, dan menjalin kerja sama dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan kelompok tani (Poktan). Bila ada petani yang akan menjual hasil panen, kata dia, maka diarahkan untuk diserap Bulog.

“Masih ada 37 hektare sawah di Desa Tlogomojo yang belum dipanen pada masa tanam kedua. Kalau ada yang mau jual, memang kami arahkan supaya diserap Bulog. Bulog sendiri representasi dari pemerintah. Serapan gabah ke Bulog diharapkan bisa menopang ketahanan pangan,” imbuhnya.

Menanggapi perintah tersebut, Darmanto menuturkan, saat ini sudah mulai melakukan pendataan kepada petani yang belum memanen padinya. “Kami berharap petani bisa bekerja sama untuk menjual hasil panennya kepada pemerintah, yaitu Bulog,” harapnya.

Editor : Akrom Hazami

Musim Baratan di Jepara Diprediksi Mundur

Gelombang air laut nampak masih stabil. Diperkirakan musim baratan dimulai pada akhir Desember. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Gelombang air laut nampak masih stabil. Diperkirakan musim baratan dimulai pada akhir Desember. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Beberapa tahun terakhir musim Baratan yang ditandai dengan ombak besar di perairan laut Jawa termasuk di Jepara, terjadi pada pertengahan bulan Desember. Tetapi, seiring dengan molornya musim hujan, musim Baratan pun ikut mundur. Diprediksi musim Baratan dimulai sekitar akhir bulan Desember nanti.

Hal itu seperti yang dikatakan Kepala Syahbandar Jepara, Suripto. Menurutnya, hingga memasuki pekan kedua Desember saat ini belum nampak tanda-tanda datangnya musim Baratan. Saat ini ketinggian gelombang laut di wilayah perairan laut Jepara di bawah satu meter.

”Melihat kondisi yang ada, diperkirakan musim Baratan tahun ini mundur. Meski sudah memasuki pekan kedua, ketinggian gelombang riil masih bagus di bawah satu meter,” ujar Suripto kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, mundurnya musim Baratan disebabkan anomali perubahan cuaca yang terjadi tahun ini. Diperkirakan, musim Baratan akan melanda wilayah perairan Jepara pada akhir tahun.

”Jika biasanya pertengan Desember hingga Februari, tahun ini belum bisa diprediksi apakan baratan apakah akan berlangsung lebih lama atau cepat,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jelang Musim Baratan, 9,5 Ton Beras Dikirim Ke Karimunjawa

asih ada stok beras di salah satu gudang penyimpanan beras di Jepara. Menjelang musim Baratan, Karimunjawa disuplai beras. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

asih ada stok beras di salah satu gudang penyimpanan beras di Jepara. Menjelang musim Baratan, Karimunjawa disuplai beras. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Memasuki musim hujan menjadi momen bersiap-siap sejumlah warga untuk menghadapi musim Baratan di perairan Jepara. Sebab, biasanya ketika musim Baratan aktivitas perairan laut Jepara menjadi mandek. Akibatnya, wilayah terluar Kabupaten Jepara yakni Kecamatan Karimunjawa menjadi terisolir.

Untuk menghadapi musim Baratan, Pemkab Jepara menyalurkan sedikitnya 9,5 ton beras untuk mencukupi kebutuhan pangan di sana. Terutama selama musim baratan yang berdampak keterisoliran Karimunjawa nanti.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Jepara, Adi Nugroho mengemukakan, beras sebanyak itu merupakan stok dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Semua beras itu sudah dikirimkan pada akhir November lalu, melalui Dermaga Kartini Jepara.

”Semua beras dikirim sekaligus dalam sehari melalui Dermaga Kartini. Saat ini sudah tersimpan di dalam gudang beras di Karimunjawa,” ujar Adi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (12/12/2015).

Menurut dia, diperkirakan beras sebanyak itu diproyeksikan akan cukup dikonsumsi warga selama musim Baratan yang dipresiksi berlangsung mulai akhir Desember hingga April. Kemungkinan sampai saat ini beras tersebut belum digunakan lantaran distribusi logistik dari Jepara ke Karimunjawa masih lancar, sejalan dengan masih lancarnya arus transportasi. (WAHYU KZ/TITIS W)

Terungkap Alasan Bulog Pati Tolak Beras Lokal

Kepala Bulog Sub Divre II Pati Khozin saat dimintai keterangan awak media. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Kepala Bulog Sub Divre II Pati Khozin saat dimintai keterangan awak media. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Kepala Bulog Sub Divre II Pati Khozin menanggapi keluhan salah satu rekanan yang menyesalkan sikap Bulog, karena mengembalikan beras serapan dari Pati.

Ia mengatakan, pihaknya akan mengembalikan beras yang kualitasnya di bawah standar. “Memang benar, dalam beberapa kesempatan, kami mengembalikan beras dari rekanan. Kami akan menolak beras yang masuk dari rekanan jika tingkat kerusakan atau patah dari butir beras mencapai lebih dari 10 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Siapa pun rekanannya, lanjutnya, jika berasnya di bawah standar kualitas yang ditetapkan Bulog, maka tidak bisa diterima. “Kami bekerja sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku,” tuturnya.

Ia menambahkan, sejak April 2015 lalu sampai saat ini serapan beras mencapai 53.000 ton. “Sampai sekarang, tidak ada kendala dalam penyerapan di Bulog Sub Divre II Pati,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

DPRD Pati ‘Marah-Marah’ soal Beras Lokal Ditolak Bulog

Sejumlah pekerja tengah beraktivitas di Gudang Bulog Sub Divre II Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pekerja tengah beraktivitas di Gudang Bulog Sub Divre II Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati Sismoyo menyesalkan adanya beras serapan asal Pati yang justru dilempar ke luar daerah. Ia mengatakan, mestinya ada jalan kompromi antara Bulog Sub Divre II Pati dengan rekanan agar beras yang diserap dari Pati tidak dipasok ke luar daerah.

“Kalau kondisi beras serapan asal Pati sendiri memang demikian, mestinya ada toleransi. Harus ada kompromi dan penyelesaian yang baik antara pihak Bulog dan rekanan. Hal itu agar beras serapan asal Pati bisa diedarkan di wilayah sekitarnya sendiri,” tutur Sismoyo kepada MuriaNewsCom.

Kendati begitu, ia membenarkan langkah Bulog yang menjalankan penyerapan beras melalui prosedur yang ketat dan sesuai dengan ketentuan. Namun begitu, lagi-lagi mestinya ada kebijakan kompromi dengan melihat persoalan dari aspek yang lebih fleksibel.

“Itu sudah menjadi kewajiban Bulog untuk memilih mana beras yang layak diserap atau tidak. Tapi, dalam kondisi tertentu, Bulog juga harus lebih luwes, fleksibel dan bijaksana dalam menyerap beras,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Bulog Pati Malah Tolak Beras Lokal, Piye Leh?

Sejumlah pekerja tengah beristirahat di Gudang Bulog Sub Divre II Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pekerja tengah beristirahat di Gudang Bulog Sub Divre II Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Ribuan ton beras asal Pati terpaksa dikirim ke luar daerah, salah satunya Bulog Sidoarjo. Hal ini disebabkan penolakan dari pihak Bulog Sub Divre II Pati, lantaran tingkat kerusakan beras terlalu tinggi.

“Kami terpaksa mengirim beras asal Pati ke Bulog Sidoarjo untuk mengantisipasi kerugian. Padahal, setiap pengiriman melibatkan biaya transportasi dan kuli. Dalam sekali jalan, beras yang dikirim mencapai 35 ton,” keluh Tanto, salah seorang rekanan Bulog Sub Divre II Pati kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pihak Bulog tidak memberikan toleransi sehingga saat ini banyak beras yang dikembalikan dari rekanan. Karena itu, ia berharap agar pihak Bulog bisa meningkatkan komunikasi agar tidak merugikan pihak rekanan.

“Kondisi ini sudah terjadi sejak pengadaan awal beras tahun ini. Terhitung, sejak Maret sampai Agustus, pengembalian masih sering terjadi sehingga terus terang kami sangat pusing,” tuturnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

LPMD Mustika Andong Jadi Percontohan Lumbung Pangan Kabupaten Blora

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melihat kualitas beras yang dihasilkan oleh Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMD) Mustika Andong di Desa Andongrejo, Kecamatan Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Kepala KKP Blora Mashudi, menjelaskan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMD) di Desa Andongrejo, Kecamatan Blora merupakan salah satu contoh ketahanan pangan masyarakat desa yang perlu dicontoh.

”Para petani di sini mengumpulkan hasil panennya jadi satu untuk dikelola bersama di lumbung pangan, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat desa. Selebihnya dijual sudah dalam bentuk kemasan, sehingga harga keekonomiannya naik,” katanya.

Sekedar diketahui Gubernur Jawa Tengah melihat sistem pengelolaan LPMD Mustika Andong yang kini menjadi salah satu percontohan lumbung pangan di Kabupaten Blora. Ia juga melihat gudang penyimpanan beras milik para petani, proses pengolahan gabah menjadi beras menggunakan mesin modern hingga pengepakan untuk siap jual. Dan di akhir acara kunjungan, Ganjar Pranowo pun turut membeli beras hasil produksi LPMD Mustika Andong sebanyak 20 kg. (PRIYO/TITIS W)

Tingkatkan Hasil Pangan Blora Rencanakan Gandeng Bulog

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melihat kualitas beras yang dihasilkan oleh Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMD) Mustika Andong di Desa Andongrejo, Kecamatan Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Dalam kunjungan kerja, Selasa (12/8) kemarin, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama para pejabat terkait menyempatkan diri mengecek ketersediaan bahan pangan di Kabupaten Blora. Ganjar mendatangi Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMD) Mustika Andong di Desa Andongrejo, Kecamatan Blora, Kabupaten Kota.

”Lumbung pangan ini sudah bagus, maka produksi pertaniannya harus ditingkatkan. Pengolahannya lebih mekanis, nanti bisa diupayakan agar digandengkan dengan Bulog agar semua beras produksi petani bisa diserap Bulog,” jelas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Ganjar Pranowo mengaku lumbung pangan milik warga Desa Andongrejo ini lebih mekanis dan efektif. Sedangkan untuk masalah peningkatan produksi pertanian, di Blora sangat tergantung pada air. Dirinya menyatakan, membangun banyak embung di Jateng termasuk Blora agar saat musim kemarau tetap ada air dan produktivitas pertanian tidak terganggu.

”Saya targetkan 1000 embung di Jateng, hasilnya nanti pasti kita rasakan tahun berikutnya ketika kemarau datang,” imbuhnya . (PRIYO/TITIS W)