Harga Anjlok, Bulog Pati Usulkan Pembelian Bawang dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Harga bawang merah yang anjlok di kalangan petani di Bumi Mina Tani membuat Perum Bulog Subdivre II Pati bergerak cepat. Salah satunya memberikan usulan ke Bulog Pusat untuk melakukan pembelian. Tujuannya, supaya petani tak terlalu rugi dan bisa melakukan tanam kembali.

Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati Rindo Saputra mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan pembahasan internal terkait langkah tersebut. Dalam waktu dekat, usulan tersebut akan diberikan ke tingkat Jateng dan pusat.

“Sebenarnya untuk kebijakan membeli atau menyerap merupakan kewenangan dari pusat. Jika pusat menginstruksikan membeli maka kami akan beli. Makanya kami usulkan,” katanya, Jumat (19/1/2018).

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Menurut dia, upaya membeli bawang petani merupakan upaya membantu petani. Terlebih saat harganya anjlok seperti sekarang ini, petani sangat membutuhkan uluran tangan untuk menekan kerugian.

Namun, kata dia, pihak Bulog tidak bisa membeli secara keseluruhan bawang milik petani. Karena, Bulog sendiri memiliki masalah penyimpanan bawang. Lain halnya untuk beras, yang banyak memiliki gudang.

“Kalaupun membeli bawang maka kami harus menyimpan di PT Pura Kudus. Di sana terdapat alat untuk menyimpan dalam jumlah besar. Jika tidak, maka bawang merah hanya bertahan beberapa pekan saja,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya mengaku masih memiliki cadangan bawang merah sebanyak 18 ton. Semuanya disimpan di gudang milik PT Pura Kudus.

Editor: Supriyadi

Para Jenderal TNI dan Polri Datangi Produsen Beras di Pati, Ada Apa?

Kunjungan Mayjend TNI Bambang Suharyanto dan Irjen Pol Eko Hardi di UD Wahyu Abadi, Sembaturagung, Jakenan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dua jenderal dari Mabes TNI dan Mabes Polri mendatangi Kabupaten Pati. Lokasi yang dituju para jenderal itu yakni produsen beras, yang selama ini menjadi mitra Bulog.

Kedua jenderal itu yakni Staf Kasad dari Tim Khusus Pangan Mayjend TNI Bambang Suharyanto dan Irjen Pol Eko Hadi Sutejo dari Analisis Kebijakan Utama Bidang Jianstra Slog Polri. Kedatangan mereka ternyata terkait dengan program untuk ketahanan pangan nasional.

Kunjungan dipusatkan di salah satu mitra Bulog, UD Wahyu Abadi di Sembaturagung, Jakenan, Pati. Staf khusus Kementerian Pertanian Sam Harodian turut hadir dalam kesempatan tersebut.

“Kunjungan dilakukan untuk memastikan stok beras yang tersimpan di gudang UD Wahyu Abadi sebagai salah satu mitra Bulog. Pati diharapkan bisa ikut menyukseskan program swasembada pangan nasional,” ujar Dandim Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Rabu (20/9/2017).

Sementara Mayjend TNI Bambang ingin memastikan jika serapan gabah yang masuk ke Bulog sudah memenuhi target atau belum. Dia juga ingin memastikan apakah upaya pemerintah dalam mendampingi petani sudah tepat sasaran atau tidak.

“Kami ingin tahu kendala dan solusi yang dihadapi antara petani dan rekanan Bulog,” jelas Mayjend Bambang.

Dia menegaskan, petani mesti ikut memberikan kontribusi dalam menyukseskan program swasembada pangan. Selain itu, mitra Bulog harus berkelanjutan dalam bekerja sama dengan Bulog.

Pasalnya, dalam beberapa kasus, banyak mitra Bulog yang enggan menjual beras ke Bulog lantaran harganya murah. Sementara saat harga naik, mereka beramai-ramai menjadi mitra Bulog.

Editor : Ali Muntoha

Bulog Ditarget Mampu Serap 30 Ribu Ton Gabah Petani Jepara

Sejumlah petani saat melakukan panen padi. Tahun ini Bulog ditarget mampu menyerap gabah petani Jepara sebanyak 30 ribu ton. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Jepara – Tahun ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) ditargetkan bisa menyerap gabah petani di Jepara sebanyak 30.665 ton ton. Jumlah tersebut naik dari tahun sebelumnya sebanyak 25.286 ton.

Wakil Kepala Bulog Subdivre II Pati Fauzan Dipo mengatakan, dengan adanya Program Serab Gabah Petani (Sergap), pihaknya berharap, target tersebut mampu tercapai. “Tahun lalu hanya ditarget sebanyak 25.286 ton, tapi mampu terealisasi sebanyak 36.552 ribu ton lebih. Dari target itu, hingga 10 Maret lalu, sudah ada 2.167 ton gabah yang kami serah,” ujar Fauzan, seperti yang dikutip dari website resmi Pemkab Jepara.

Dalam hal ini, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi meminta agar padi hasil panen petani yang tiap tahunnya naik, dibeli dengan harga yang sesuai dan stabil. Pasalnya, petani di Jepara tidak cukup memiliki ketahanan untuk bisa mendapatkan harga yang pantas.

Ahmad Marzuqi mencontohkan, memasuki musim panen padi MT I (Januari – Maret) kemarin, harga gabah di tingkat petani mengalami penurunan dari kisaran Rp 3.400 – Rp 4.600/kilogram, menjadi hanya Rp 3.000 – Rp 3.500/kilogram. Bahkan pada pertengahan Februari kemarin, harganya sempat terjun bebas ke angka Rp 2.000/kilogram.

“Saya meminta kepada Bulog Subdivre II Pati untuk dapat menyerap panen padi di beberapa tempat di Jepara dengan harga yang wajar, minimal Rp 3.700/kilogram, sesuai amanat Permentan Nomor 03 tahun 2017 tentang Harga Pembelian Gabah oleh Bulog di Luar Kualitas,” kata Ahmad Marzuqi.

Sementara itu, Komandan Kodim 0719/Jepara Letkol Inf Ahmad Basuki melalui Kepala Staf Kodim Mayor Inf Kadarusman menuturkan, sebagai mitra dalam program penyerapan gabah ini, pihaknya sudah membagi tugas hingga di tingkat koramil.

Untuk Maret ini, tiap koramil harus berhasil menyerap gabah sebanyak 24,2 ton/hari. “Untuk April dan Mei, ditargetkan mampu menyerap 16,8 dan 16,4 ton/hari untuk tiap koramil,” kata Kadarusman.

Editor : Kholistiono

Bulog Pati Baru Serap Gabah Petani 40 Persen

uplod jam 18 serap gabah (e)

Tim Sergap Pusterad Mabes TNI AD bertemu dengan petinggi Kodim 0718/Pati membahas serapan gabah petani di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bulog Subdivre II Pati sampai saat ini baru menyerap gabah dari petani berkisar di angka 40 persen. Padahal, Tim Serap Gabah Petani (Sergap) dari Pusterad Mabes TNI AD meminta agar Bulog meningkatkan serapan gabah kepada petani hingga 75 persen.

Kendati begitu, Bulog Subdivre II Pati dianggap sudah cukup baik ketimbang Bulog Sub di daerah lainnya yang hanya mencapai angka 33 persen saja. Penyerapan gabah dari petani dinilai penting untuk stok pangan nasional.

“Bulog Subdivre sudah cukup baik ketimbang sub di daerah lainnya yang hanya berada di angka 33 persen dalam menyerap gabah dari petani. Kalau bisa, semua gabah dari petani diserap Bulog semua. Bila belum mampu, kita targetkan bisa menyerap minimal 75 persen,” ujar Ketua Tim Sergap Pusterad Mabes TNI AD Brigjen Basuki Abdullah kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, TNI sekarang diberi mandat untuk mendampingi Bulog terkait dengan serapan gabah dari petani. Hal itu diharapkan agar stok pangan nasional bisa terpenuhi sehingga impor beras dari luar negeri dapat diantisipasi.

“Operasi Sergap akan selesai hingga akhir Mei 2016 mendatang. Dalam waktu sekitar 30 hari ke depan, Bulog harus bisa menyearap gabah dari petani minimal 75 persen. Masih perlu kerja keras agar target itu bisa tercapai untuk stok beras nasional,” ungkapnya.

Stok beras dari Bulog tersebut akan dikeluarkan bila sejumlah hal yang tidak diinginkan, seperti harga beras melonjak tajam dan bantuan bencana. “Stok beras nasional itu nantinya digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Misalnya, saat harga beras naik atau bencana yang tidak diduga yang membutuhkan stok beras,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Mabes TNI Minta Hasil Panen Gabah di Pati Diserap Bulog 75 Persen 

Mabes TNI Minta Hasil Panen Gabah di Pati Diserap Bulog 75 Persen

uplod jm 12.30 TNI hasil gabah (e).

Rombongan dari Mabes TNI AD mengunjungi Kodim 0718/Pati untuk membahas masalah serapan gabah petani di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tim Serap Gabah Petani (Sergap) dari Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) Mabes TNI AD meminta agar hasil panen gabah di Pati diserap Bulog minimal 75 persen. Hal itu diharapkan agar gabah dari petani tidak jatuh di tangan tengkulak atau pebisnis yang kerap mempermainkan harga gabah.

“Saat ini, kita masih perlu kerja keras. Setidaknya, 75 persen hasil panen harus diserap Bulog. Jangan sampai lepas ke tengkulak atau pebisnis,” ujar salah Tim Sergab Pusterad Mabes TNI AD Kol Czi Hilda Risman kepada MuriaNewsCom.

Bahkan, pihaknya menyatakan bila tengkulak sudah bisa dikatakan sebagai musuh bersama. Karena itu, ia meminta agar jajaran Kodim 0718/Pati bisa bekerja sama dengan lintas sektor untuk membenahi masalah tersebut.

“Serapan gabah petani ke Bulog saat ini masih belum terorganisir dengan baik. Kami meminta agar Danramil di masing-masing kecamatan bisa memetakan masalah tersebut. Komunikasi dengan Bulog, Dinas Pertanian, dan mitra bulog mesti ditingkatkan,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma akan mengerahan Bintara Pembina Desa (Babinsa) agar segera berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), gabungan kelompok tani (gapoktan), dan kepala desa.

“Kita akan tingkatkan komunikasi terkait dengan hasil panen dan kapan ditebasnya padi, termasuk komunikasi dengan pihak Bulog. Kita juga selalu mencari informasi apakah masih ada hasil panen yang dijual tengkulak atau tidak,” katanyaa

Ia menambahkan, Bulog merupakan representasi dari pemerintah. Karenanya, pemerintah mesti dikawal untuk mengamankan swasembada pangan yang pada akhirnya diharapkan bisa menyejahterakan masyarakat.

Editor : Akrom Hazami

Bulog Pati Targetkan Pengadaan Beras Tahun 2016 Sebesar 97 Ribu Ton

Kepala Bulog Sub Divre II Pati Ahmad Kholisun saat ditemui di ruang kerjanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Bulog Sub Divre II Pati Ahmad Kholisun saat ditemui di ruang kerjanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kepala Bulog Sub Divre II Pati Ahmad Kholisun menargetkan pengadaan beras pada 2016 mencapai angka 97 ribu ton, setelah tahun sebelumnya pihak Bulog berhasil menyerap beras 105 ribu ton dari target 80 ribu ton beras.

”Tahun kemarin, target penyerapan beras berkisar di angka 80 ribu ton. Namun, kenyataannya kami berhasil menyerap beras mencapai 105 ribu ton. Tahun ini, kami menargetkan serapan bisa tembus di angka 97 ribu ton. Itu bisa lebih,” kata Kholis saat bincang-bincang dengan MuriaNewsCom di ruang kerjanya, Selasa (19/1/2016).

Dari target kisaran angka 97 ribu ton tersebut, rencananya serapan Kabupaten Pati ditarget 44.600 ton, Kudus 8.610 ton, Jepara 11.325 ton, Rembang 15.665 ton, dan Blora 16.800 ton.

Pihaknya optimistis bisa mencapai target 97 ribu ton pada 2016. Pada Februari hingga April, sejumlah daerah di wilayah karesidenan Pati akan panen raya pada masa tanam pertama. Itu yang akan digunakan untuk menyuplai kebutuhan beras pada awal tahun.

Sampai berita ini diturunkan, Bulog masih bisa memenuhi penyaluran beras sampai Maret 2016 mendatang. ”Sampai saat ini, ketersediaan beras kami masih sekitar 18.300 ton. Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran hingga sekitar tiga bulan mendatang,” tandasnya.

Editor: Titis Ayu Winarni

Ingin Hidup Sehat, Warga Pati Ini Olah Kentang Jadi Pestisida

Sejumlah warga Pati diajari membuat pestisida alami dari pemanfaatan kentang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga Pati diajari membuat pestisida alami dari pemanfaatan kentang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Warga Pati yang tergabung dalam komunitas lingkungan dan organik seperti Gagego Organik, Kader Peduli Lingkungan Hidup, dan Taman Belajar Organik diajari membuat pestisida alami yang memanfaatkan bahan dasar kentang di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tumbuhan (PHPT) Wilayah Pati, Kamis (10/12/2015).

Pelatihan itu diharapkan bisa membekali pegiat organik untuk menggunakan pestisida pengusir hama secara alami, dengan memanfaatkan hasil sumber daya alam (SDA) yang melimpah di lingkungan pertanian.

”Selama ini, petani masih banyak menggunakan pestisida dari bahan kimia. Padahal, hasil pertanian seperti kentang juga bisa digunakan untuk membasmi hama,” ujar Tri Adji, Penganalisis Diagnosis Organisme Pengganggu Tumbuhan Lab PHPT Pati kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, Muslikun, Pendiri Taman Belajar Organik (TBO) yang menjadi peserta mengaku senang dengan adanya pelatihan itu. ”Kita bisa memanfaatkan pestisida ramah lingkungan, organik, dan bebas bahan kimia. Meski ini bukan temuan baru, tetapi bisa dicoba oleh masyarakat luas,” tuturnya.

Ia menambahkan, penggunaan pestisida dan pupuk alami tidak meninggalkan residu pada hasil pertanian seperti padi. Karena itu, kampanye organik perlu digalakkan untuk mengawal hidup sehat melalui hasil pertanian yang bebas bahan kimia. (LISMANTO/TITIS W)

Serikat Petani di Pati Tolak Pemerintah Impor Beras

 

as di Gudang Bulog Subdivre II Pati masih melimpah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

as di Gudang Bulog Subdivre II Pati masih melimpah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Rencana impor beras yang dilakukan pemerintah mendapatkan penolakan dari Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah. Pasalnya, kebijakan tersebut dinilai membuat petani merugi.

”Kami menolak impor beras. Seperti biasa, pemerintah dan kartel beras selalu impor beras dengan alasan dampak elnino. Itu tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fakta lapangan,” ujar Ketua SPI Jawa Tengah Edi Sutrisno saat ditemui MuriaNewsCom di kediamannya, Kamis (15/10/2015).

Ia menambahkan, pemerintah banyak beralasan bahwa stok beras nasional sangat minim. Padahal, kata dia, pemerintah hanya melihat data dari Bulog.

”Pemerintah itu keliru kalau hanya melihat data dari Bulog. Padahal, beras petani di lapangan yang diserap Bulog hanya 30 hingga 40 persen saja. Itu tidak bisa jadi acuan,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

DPRD Pati Segera Panggil Kepala Bulog Terkait Temuan Beras Berkutu

Anggota Komisi B DPRD Pati menemukan beras berkutu di Desa Mojomulyo, Kecamatan Tambakromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota Komisi B DPRD Pati menemukan beras berkutu di Desa Mojomulyo, Kecamatan Tambakromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Komisi B DPRD Kabupaten Pati rencananya akan memanggil Kepala Bulog Sub Divre II terkait dengan adanya temuan beras berkutu dan tak layak konsumsi di Desa Mojomulyo, Kecamatan Tambakromo, Senin (5/10/2015) kemarin.

“Dari hasil koordinasi dengan internal Komisi B, kami sepakat untuk memanggil pihak Bulog Pati sebagai penyalur beras miskin. Masalah ini tidak terjadi sekali dua kali di Pati. Karena itu, kami rasa perlu untuk menanyakan pihak Bulog,” ujar Ketua Komisi B DPRD Pati Soetarto Oentersa kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/10/2015).

Rencananya, pemanggilan itu akan dilakukan dalam waktu dekat dengan pembahasan rawannya raskin berkualitas di bawah standar yang didistribusikan Bulog. “Kami akan meminta pertanggungjawaban dari pimpinan Bulog,” imbuhnya.

Ia mengatakan, pemanggilan itu diharapkan agar temuan beras berkutu tidak terjadi lagi di Kabupaten Pati. “Kalau ada temuan beras berkutu, lalu ditarik dan diganti, maka nantinya akan terjadi lagi. Harus ada solusi yang lebih tepat,” tuturnya.

Ia mengaku, penyelesaian masalah tersebut akan dilakukan dengan cara persuasif. Karena itu, keterangan dari pihak Bulog akan menjadi pertimbangan ke depan untuk meningkatkan kualitas raskin yang disalurkan kepada masyarakat. (LISMANTO/KHOLISTIONO)