Travelers Pati yang Ngabuburit di Sini Dijamin Betah

Seorang pengunjung tengah menikmati suasana Ramadan di rumah pohon Bukit Pandang Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto) 

MuriaNewsCom, Pati – Salah satu tempat ngabuburit di Kabupaten Pati yang paling asyik, antara lain kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya. Terletak di bukit Gunung Kendeng, Desa Durensawit, Kayen, kawasan wisata ini banyak dimanfaatkan untuk ngabuburit.

Tia Sisca Herawati, Duta Wisata Kabupaten Pati 2016 adalah satu di antara pengunjung yang sempat menghabiskan waktu ngabuburit di sana. Dia bersama temannya menghabiskan waktu selama tiga jam untuk mengelilingi dan nongkrong di berbagai spot yang ditawarkan.

Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini berangkat dari rumahnya, Kelurahan Parenggan, Pati Kota sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan berkendara sepeda motor, dia menghabiskan waktu sekitar 30 menit dari Pati Kota hingga Bukit Pandang.

Sampai di kawasan wisata pukul 14.30 WIB, dia langsung menjelajah ke berbagai spot yang ditawarkan. “Saya lebih suka rumah pohon bertingkat. Suasananya teduh, pemandangan indah, tempatnya cukup ekstrem karena di bawah merupakan jurang,” ucap Sisca.

Setelah memasuki pukul 17.00 WIB, Sisca memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya salat Ashar di musala setempat yang disediakan pengelola wisata. Menurutnya, kawasan Bukit Pandang menjadi lokasi paling tepat untuk ngabuburit.

Sementara itu, pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, ada penurunan pengunjung yang cukup drastis selama Ramadan. Dari pengunjung yang semula berkisar 500 sampai 700 orang di luar hari libur, saat ini hanya 200 sampai 300 pengunjung.

“Pengunjung reguler rata-rata 200 sampai 300 orang selama Ramadan. Tapi pada hari libur, pengunjung bisa lebih dari seribu selama Ramadan. Waktu paling banyak dikunjungi, antara pukul 13.00 sampai 17.00 WIB,” kata Krisno.

Pengunjung diperkirakan akan membeludak dari H-7 sampai H+7 Lebaran. Karena itu, dia sudah mempersiapkan sejumlah spot baru, seperti jembatan cinta dan penambahan gazebo-gazebo yang dipasang di berbagai titik.

Editor : Kholistiono

TNI AD dan Polisi Hutan Bersihkan Sampah di Kawasan Wisata Kayen

Anggota TNI AD, polisi hutan, pedagang dan Duta Wisata Pati berfoto bersama, seusai menggelar aksi bersih sampah di kawasan wisata Bukit Pandang, Durensawit, Kayen, Pati, Jumat (9/6/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Belasan anggota TNI AD dari Kodim 0718/Pati dan polisi kehutanan (polhut) menggelar aksi bersih-bersih sampah di kawasan objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati, Jumat (9/6/2017).

Aksi mereka dibantu sejumlah ibu-ibu pedagang yang berjualan di kawasan wisata tersebut. Sampah organik dan anorganik yang menumpuk dibersihkan, kemudian dibakar di tempat.

Danramil Kayen Kapten Kav Koko Sarjono mengatakan, kegiatan bersih sampah di kawasan wisata bukan sekadar aksi seremonial belaka. Namun, pihaknya sudah memberikan pemahaman kepada puluhan pedagang yang berjualan di kawasan wisata untuk menjaga kebersihan di warung masing-masing.

Selain itu, pengelola diminta aktif mengingatkan pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya melalui teguran maupun papan atau spanduk. Sebab, sebagian besar pengunjung masih belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.

“Menjelang Lebaran, banyak perantauan yang mudik dan diprediksi akan membanjiri sejumlah objek wisata di Kayen, seperti Bukit Pandang, Gua Pancur, hingga Lorotan Semar. Karena itu, kawasan wisata harus bebas dari sampah,” kata Kapten Kav Koko.

Sementara itu, Duta Wisata Kabupaten Pati 2016 Tia Sisca Herawati yang hadir dalam kegiatan tersebut mengaku simpatik dengan aksi anggota TNI AD dan polisi hutan. Mereka tidak hanya memungut sampah, tetapi mengedukasi sejumlah pedagang dan pengunjung yang tengah berwisata.

“Keberadaan bukit pandang ini, seolah kosmik telah mengumpulkan energi untuk menggerakkan orang-orang yang peduli pada dunia wisata tanpa ada yang meminta. Mereka datang untuk membantu, mulai bersih-bersih sampah, tanam pohon, hingga penelitian tentang pengembangan potensi wisata,” tuturnya.

Sebagai duta wisata, dia meminta kepada travelers untuk membuang sampah pada tempatnya. Sebab, kawasan Bukit Pandang sudah dibekali tempat sampah khusus sampah organik, anorganik, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sesekali, dia masih menjumpai botol plastik yang dibuang di lereng perbukitan. Selain merepotkan pengelola, buang sampah sembarangan disebut membahayakan lingkungan bila posisinya tidak dapat dijangkau dalam setiap aksi bersih sampah.

Editor : Kholistiono

Wisata Bukit Kendeng Pati Dilengkapi Hammock Warna-warni

Sejumlah pengunjung tengah berfoto di hammock warna-warni, spot baru bukit pandang Ki Santa Mulya, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satu lagi fasilitas yang ditambahkan di objek wisata perbukitan Gunung Kendeng Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. Yaitu hammock warna-warni yang cocok dijadikan ajang untuk selfie.

Empat hammock dengan warna berbeda disusun dari atas ke bawah, dikaitkan dua pohon jati. Beberapa hari setelah dipasang, fasilitas hammock ramai jadi rebutan pengunjung yang ingin mengabadikan gambar di atas hammock.

Pengelola destinasi Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno, mengungkapkan, penambahan fasilitas hammock warna-warna bermula dari gagasan pengunjung luar daerah. Dirasa cukup bagus, masukan dari pengunjung tersebut direalisasikan.

“Kita selalu terbuka dengan ide, gagasan, saran dan masukan. Kalau memang dirasa cocok, kami akan upayakan. Ini dalam rangka mengembangkan kawasan wisata bukit pandang, ternyata di sini ada semua fasilitas yang lagi digemari traveler muda,” ucap Krisno.

Fasilitas hammock warna-warni di kawasan objek wisata diakui menjadi satu-satunya dan pertama kali ada di Kabupaten Pati. Dia berharap, fasilitas yang lengkap membuat traveler asal Pati tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke luar daerah, karena di Pati sendiri sudah ada.

“Awalnya, kami ingin membuat 15 hummock yang tersusun dari bawah ke atas. Namun, atas pertimbangan keselamatan, kami akhirnya memutuskan empat saja cukup. Nggak usah jauh-jauh ke luar daerah, di Pati saja sudah sangat lengkap,” tuturnya.

Tercatat, ada banyak spot yang ditawarkan pengelola bukit pandang. Mulai dari spot kupu-kupu raksasa, sarang burung Gogik, rumah pohon, spot Cinta, hammock, dan gazebo di atas bukit dengan panorama perbukitan Gunung Kendeng yang hijau menghampar begitu luas.

Jumi, salah satu pengunjung asal Jaken mengaku terkesan dengan destinasi wisata tersebut. Kendati masih sederhana, tetapi konsep pengembangan wisatanya disebut sangat bagus karena memadukan kelestarian alam dan spot wisata kekinian.

Terlebih, akses jalan menuju kawasan wisata sangat mudah dengan kondisi jalan yang bagus. “Saya panasaran dengan objek ini, karena tersebar viral di media sosial. Ini kedua kalinya saya berkunjung, ternyata ada penambahan fasilitas-fasilitas baru,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Pengelola Bukit Pandang Pati Suguhkan Pagelaran Wayang Ucul

Pagelaran wayang ucul dipentaskan di kawasan wisata Bukit Pandang Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pengelola objek wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati terus mengembangkan inovasi untuk menyuguhkan satu destinasi wisata yang lengkap tanpa meninggalkan unsur alam dan budaya.

Tak hanya menawarkan sejumlah spot yang menarik untuk selfie, kini pengelola menyuguhkan pagelaran wayang ucul dengan lakon petruk angon laler. Wayang itu diperankan oleh pengelola bukit pandang.

Uniknya, pagelaran wayang ucul mengisahkan sebuah bukit yang ramai dikunjungi pengunjung. Bukit pandang diibaratkan sebagai bangkai ikan. Kendati ikan sudah mati dan menjadi bangkai, tetapi tetap disukai manusia.

“Pengunjung dikiaskan sebagai lalat. Petruk angon laler, artinya Petruk memelihara lalat. Wayang ucul berkisah tentang bagaimana pengelola sebagai petruk bertugas memelihara bukit agar selalu dikunjungi lalat atau wisatawan,” ucap penggagas Bukit Pandang Pati, Krisno, Selasa (18/4/2017).

Menurutnya, pagelaran wayang ucul menjadi salah satu upaya untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa di tengah destinasi wisata alam berkonsep kekinian. Wayang digelar di batu gedek yang lokasinya berada di kawasan bukit pandang.

Saat dilaunching, pementasan wayang ucul melibatkan sejumlah mahasiswa Passa Unissula, IMP Unnes, Kompi yang meliputi Undip, Polines dan Politekes, KMPP UIN Walisongo Semarang, Kommpas Unwahas dan Pampa Upgris. Mereka ikut mendukung upaya pelestarian budaya di tengah destinasi wisata alam di Pegunungan Kendeng.

“Rencananya, pagelaran wayang ucul kami gelar setiap hari. Jadi, pengunjung tidak cuma foto selfie dan menikmati pemandangan alam yang indah di Pegunungan Kendeng, tetapi juga bisa menikmati wayang ucul,” imbuhnya.

Saat ini, kawasan wisata Bukit Pandang tak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tetapi juga luar daerah seperti Gresik, Lumajang, Surabaya, Pemalang, hingga Bandung. Pengunjung dari luar kota biasanya mengaku sebagai backpacker, sekadar ingin menyaksikan salah satu pesona alam di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Sarang Burung Raksasa jadi Spot Selfie Baru di Pati

Dua orang pengunjung tengah berfoto di spot sarang burung Gogik di kawasan wisata Bukit Pandang, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sarang burung raksasa saat ini menjadi salah satu spot menarik untuk selfie di kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. Spot itu baru ditambahkan dan mulai digunakan pada Selasa (18/4/2017).

Pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, sarang burung yang bisa menampung dua hingga tiga orang tersebut dinamakan sarang burung Gogik. Pemberian nama itu tidak lepas dari sebuah legenda keberadaan burung raksasa di Pegunungan Kendeng pada zaman itu.

“Kami akan terus berinovasi untuk mengenalkan eksotisme Pegunungan Kendeng sebagai destinasi wisata. Sarang burung Gogik menjadi salah satu inovasi kami untuk menarik minat pengunjung dari kalangan anak muda,” ujar Krisno, Rabu (19/4/2017).

Sarang burung sendiri dibuat dari ranting kayu yang disusun secara melingkar dengan kerangka dari besi. Ranting-ranting kayu yang diambil dari hutan setempat itu membentuk lingkaran mirip sarang burung, menjadi spot yang paling banyak diburu.

Pengelola menyarankan kepada pengunjung untuk bergantian menggunakan spot baru itu untuk berfoto. Pasalnya, pengunjung wisata bukit pandang saat ini mencapai lebih dari 500 orang setiap harinya, lebih dari 2.000 orang pada Weekend dan hari libur.

Krisno mengaku, spot semacam sarang burung baru pertama kali ada di Pati. Karenanya, dia tidak heran bila spot baru itu menjadi rebutan pengunjung untuk berfoto selfie. “Ini satu-satunya dan baru pertama kali di Pati ada semacam ini,” ucap Krisno.

Wida, salah satu pengunjung asal Pati kota mengaku takjub dengan kawasan wisata tersebut. Dia menyebut pengelola cukup kreatif memanfaatkan potensi pemandangan alam yang indah dengan sesuatu yang kekinian.

“Sarang burung semacam ini sepertinya sudah pernah saya lihat di Instagram. Kalau di Pati ada seperti ini, sangat bagus. Cocok buat selfie dengan latar belakang perbukitan Gunung Kendeng yang hijau,” jelas Wida.
Editor : Kholistiono

Objek Wisata Bukit Pandang Dongkrak Ekonomi Desa Durensawit Pati

Sejumlah pengunjung tengah beristirahat di warung kawasan wisata bukit pandang Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Objek wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati yang baru dibuka awal pertengahan Januari 2017, ternyata mampu mendongkrak ekonomi masyarakat setempat. Saat ini, ada sekitar sepuluh warung yang buka di sana.

Mereka menjajakan aneka makanan dan minuman kepada wisatawan yang mengunjungi bukit pandang. Rata-rata, satu warung mampu mendapatkan penghasilan antara Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta setiap harinya.

Praktis, sejumlah warga yang biasa bekerja sebagai buruh tani beralih profesi menjadi penjual di kawasan wisata tersebut. Seniwati (54) adalah satu di antara warga Durensawit yang berjualan di bukit pandang.

Ibu dua anak ini mengaku mendapatkan penghasilan antara Rp 200 ribu hingga Rp 600 ribu setiap harinya. “Paling sedikit Rp 200 ribu, kalau hari-hari biasa dan lagi sepi. Kalau pas ramai seperti hari libur atau weekend bisa dapat Rp 600 ribu setiap hari,” kata Seniwati, Selasa (28/3/2017).

Baca juga : Spot Kupu-kupu Percantik Kawasan Wisata Bukit Pandang Pati

 
Awalnya, dia bekerja sebagai buruh tani dan jualan sayuran keliling. Sejak bukit pandang dibuka sebagai objek wisata, dia mencoba berjualan dan hasilnya melebihi ekspektasi lantaran kawasan tersebut dikunjungi ribuan wisatawan setiap harinya.

Karena itu, dia berharap kawasan bukit pandang selalu ramai agar ekonomi warga setempat terbantu. “Kami berharap, bukit pandang selalu ramai biar ekonomi masyarakat setempat bisa ikut terbantu,” harap Seniwati.

Sementara itu, pengelola bukit pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengatakan, kawasan tersebut dibuka sebagai objek wisata atas kesadaran masyarakat. Sebelum dibuka, dia bersama pemuda karang taruna membenahi lokasi hingga akhirnya menjadi kawasan wisata yang ramai dikunjungi.

Saat ini, pengelola terus berupaya mengembangkan bukit pandang Ki Santa Mulya. Sejumlah  fasilitas penunjang seperti musala dan toilet sudah mulai dibangun secara swadaya. Dalam waktu dekat, kawasan tersebut juga dilengkapi kolam renang, flying fox, jembatan goyang dan outbond.

Editor : Kholistiono

Spot Kupu-kupu Percantik Kawasan Wisata Bukit Pandang Pati

Seorang pengunjung tengah mengambil foto di spot kupu-kupu, kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Durensawit, Kayen, Pati, Senin (27/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati saat ini terus menambahkan sejumlah fasilitas untuk memanjakan pengunjung. Sejumlah spot foto menarik ditambahkan untuk menarik minat pengunjung.

Salah satunya, spot kupu-kupu warna biru yang berada di kawasan puncak, sebelah atas spot I Love U dan rumah pohon. Terbukti, spot kupu-kupu yang baru, ramai dijadikan ajang foto selfie pengunjung.

Pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengungkapkan, spot I Love U saat ini kalah popularitas dengan spot kupu-kupu. Namun, kedua spot tersebut diakui paling sering digunakan sebagai tempat untuk berfoto.

“Spot kupu-kupu dibuat agar lebih selaras dengan alam. Kita desain seperti itu, pengunjung yang berfoto di tengah spot seolah-olah seperti kupu-kupu beneran yang punya sayap. Dari pantauan pengelola, spot itu paling banyak digunakan setelah I Love U dan rumah pohon,” ujar Krisno, Senin (27/3/2017).

Selain penambahan spot selfie baru, pengelola juga menambah sejumlah fasilitas seperti rumah pohon baru dengan view hamparan pegunungan Kendeng yang hijau. Satu gazebo juga ditambahkan, mengingat banyaknya pengunjung yang berdatangan setiap hari.

Kini, pengelola sudah membangun dua fasilitas baru yang akan semakin memanjakan pengunjung, yaitu toilet dan kolam renang. “Ini akan menjadi kolam renang yang unik, karena berada di ketinggian perbukitan Gunung Kendeng yang asri dan hijau,” imbuhnya.

Sementara itu, penambahan wahana baru seperti flying fox, jembatan goyang dan outbond sudah direncanakan. Hanya saja, pihaknya butuh waktu untuk mempersiapkan dana yang dihimpun dari tiket masuk dan parkir, termasuk persiapan keterampilan outbond.

Editor : Kholistiono

Warga Jerman Tanam Pohon di Kawasan Wisata Bukit Pandang Pati

Seorang ahli dari Senior Experten Service (SES) Jerman ikut menanam pohon di kawasan wisata Bukit Pandang, Durensawit, Kayen, Pati, Senin (27/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Daya tarik kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati membuat Joachim Jordens, warga asal Jerman menanam bibit pohon buah-buahan di kawasan tersebut, Senin (27/3/2017).

Tak sendirian, Jordens menanam bibit pohon bersama sejumlah siswa SMK Tunas Harapan dan SD Negeri Slungkep 02 Kayen. Mereka didampingi pengelola wisata Bukit Pandang, Krisno, Kepala Resort Pemangku Hutan Jember Kayen Gunadi, dan petugas Polsek Kayen.

Kepala SMK Tunas Harapan Eny Wahyuningsih mengatakan, aksi tanam pohon buah-buahan menjadi bagian dari agenda sekolah Adiwiyata untuk menghijaukan berbagai daerah di Kabupaten Pati. Kehadiran Jordens di SMK Tunas Harapan sebagai expert ikut mendukung program lingkungan, termasuk aksi tanam pohon.

“Kami membawa 30 bibit pohon buah-buahan, mulai dari nangka, durian, mangga, matoa, jambu citra dan kristal, sawo dan rambutan. Pohon keras itu ditanam untuk menghijaukan kawasan wisata Bukit Pandang, sekaligus buahnya bisa dimanfaatkan kalau sudah besar dan berbuah,”ujar Eny.

Sementara itu, Jordens mengaku takjub dengan view di bukit pandang yang masih sangat hijau, menghampar dan melintang di kawasan Pegunungan Kendeng. Dia menjelaskan, keberadaan pohon buah memiliki peran yang besar pada lingkungan.

Pertama, akarnya yang kuat bisa mengikat air dan tanah sehingga mengurangi risiko longsor sekaligus penyimpan cadangan air yang baik. Kedua, pohon keras menyediakan oksigen yang baik di udara bebas. Ketiga, buahnya bisa dimanfaatkan sebagai wahana wisata petik buah yang baru.

Krisno sendiri menyambut baik upaya penghijauan yang dilakukan SMK Tunas Harapan dan warga asing yang ikut peduli pada lingkungan di Kabupaten Pati. “Kami ikut senang, ada warga asing yang ikut peduli lingkungan di sini,” ucapnya.

Kepala SDN Slungkep 02 Kayen Subadi sengaja mengajak puluhan siswanya untuk mengenalkan aksi cinta lingkungan. Sebagai sekolah adiwiyata pemula, SDN Slungkep 02 diharapkan bisa membentuk karakter murid untuk mencintai lingkungan sejak dini.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang Gunung Kendeng Pati Bakal Dilengkapi Jembatan Goyang dan Flying Fox

Sejumlah pengunjung tengah berada di spot “I Love U” dan rumah pohon di Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banyaknya minat wisatawan yang berkunjung di Bukit Pandang Ki Santa Mulya, kawasan Pegunungan Kendeng Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, membuat pengelola akan menambahkan fasilitas baru. Salah satu yang akan ditambahkan, antara lain jembatan goyang, flying fox dan outbond.

“Sejak kita buka 18 Januari 2017 lalu, pengunjung setiap hari makin banyak. Bahkan, kita hampir kewalahan untuk menempatkan parkir sepeda motor dan mobil. Namun, kita akan tetap gunakan sistem membanjar dan mengutamakan keamanan karena ini kerja bareng dengan pemuda karang taruna,” kata pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno, Senin (6//3/2017).

Beberapa pengunjung diakui meminta untuk menambah fasilitas berupa kegiatan wisatawan. Karena itu, Krisno rencananya dalam waktu dekat akan menambah fasilitas outbond, jembatan goyang, dan flying fox yang menghubungkan dua bukit gunung.

Namun, Krisno mengaku masih terkendala dua hal, yaitu dana dan pengetahuan untuk membuka fasilitas flying fox dan jembatan goyang. Soal dana, ia masih menunggu dana dari biaya parkir Rp 2 ribu per sepeda motor dan donasi dari berbagai pihak untuk melengkapi fasilitas baru.

Baca juga : Bukit Pandang di Durensawit Pati Dibanjiri Ribuan Wisatawan

Terkait teknis flying fox dan jembatan goyang, ia akan menyekolahkan pemuda karang taruna agar memiliki bekal untuk mengurus teknis penggunaan flying fox dan jembatan goyang. “Ini memang dana pribadi dan dikelola pemuda karang taruna. Jadi, kalau mau menambah fasilitas, kita andalkan pemasukan dari parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil,” ucap Krisno.

Tak hanya soal penambahan wahana baru, penambahan fasilitas berupa kamar kecil dan musala juga masih terkendala dana. Sementara dari pemerintah daerah, Krisno mengaku masih belum ada perhatian. Padahal, keberadaan bukit pandang dinilai tidak hanya mendongkrak potensi wisata di Kecamatan Kayen, tetapi juga Kabupaten Pati seluruhnya.

Dia berharap, keberadaan bukit pandang tidak hanya mendongkrak potensi pariwisata di Kabupaten Pati, tetapi juga perekonomian masyarakat setempat. Saat ini saja, sudah ada sekitar sepuluh warung yang berjualan di sepanjang jalan setapak menuju puncak bukit pandang.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang di Durensawit Pati Dibanjiri Ribuan Wisatawan

Pengunjung tengah berfoto di spot “I Love U” Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati saat ini memiliki destinasi wisata berupa bukit pandang yang elok dipandang. Adalah Bukit Pandang Ki Santa Mulya di kawasan perbukitan Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati yang saat ini dibanjiri ribuan wisatawan, khususnya di hari libur.

Pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengatakan, banyaknya pengunjung yang datang disebabkan adanya penambahan sejumlah fasilitas berupa spot-spot cantik untuk selfie. Salah satunya, spot berbentuk “I Love U” yang terbuat dari bambu dan rumah pohon yang paling sering digunakan untuk selfie.

“Pada saat awal dibuka, memang pengunjungnya baru dari warga sekitar. Setelah ada penambahan fasilitas berupa tempat-tempat yang nyaman untuk menikmati pemandangan hamparan Kabupaten Pati dan pegunungan Kendeng, saat ini dikunjungi rata-rata 500 orang setiap hari. Pada weekend dari Jumat hingga Minggu, pengunjung bisa lebih dari seribu,” ungkap Krisno kepada MuriaNewsCom, Senin (6/3/2017).

Akses jalan untuk menuju kawasan wisata ini sangat mudah. Dari jalan beraspal menuju Desa Durensawit, pengunjung tinggal naik ke kawasan perbukitan Pegunungan Kendeng yang sudah diberikan tangga batu. Butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke puncak bukit pandang.

Di sana, wisatawan disuguhkan satu panorama Pegunungan Kendeng yang masih sangat hijau dan hamparan tanah Kabupaten Pati pada bagian bawah, serta cakrawala Laut Utara Jawa. Di puncak bukit, ada sekitar tiga gerdu untuk duduk santai menikmati udara segar, serta beberapa tempat duduk terbuat dari kayu.

Pada bagian bawah puncak, ada tiga spot cantik untuk berfoto, yakni tempat duduk dari kayu, spot “I Love U” dan rumah pohon. Sebagian besar pengunjung berasal dari anak-anak muda, beberapa di antaranya pasangan yang sudah berkeluarga.

Tak tanggung-tanggung, beberapa pengunjung berasal dari luar daerah seperti Kudus, Brebes, Boyolali, Semarang, Yogyakarta, dan Tuban. Beberapa mahasiswa yang datang juga berasal dari Medan. Kendati begitu, sebagian besar pengunjung masih berasal dari Kabupaten Pati.

Shinta Kristiani, misalnya. Pelajar asal Desa Karang Gempol, Kayen ini sudah beberapa kali mengunjungi bukit pandang. Dia selalu memilih hari libur dan weekend untuk mengunjungi bukit pandang. Menurutnya, Bukit Pandang Ki Santa Mulya menjadi satu-satunya spot paling menarik untuk selfie.

Editor : Kholistiono

Saridin Diyakini Pernah Tinggal di Desa Durensawit Pati

Sejumlah pengunjung tengah mendaki menuju bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung tengah mendaki menuju bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati diyakini penduduk setempat sebagai kampung yang dulu pernah ditinggali seorang tokoh legendaris, Saridin. Sebelum mendapatkan gelar Syeh Jangkung, Saridin memiliki pohon duren peninggalan orang tuanya di sana.

Satu pohon duren itu dibagi dengan Branjung, kakak iparnya. Saridin mendapatkan jatah untuk mengambil duren yang jatuh pada malam hari, sedangkan Branjung mendapatkan kesempatan pada siang hari.

“Duren sak wet, artinya duren satu pohon. Nama itu yang kemudian menjadi nama Desa Durensawit. Penduduk yakin, di desa inilah peristiwa itu terjadi. Kisah ini berkembang secara tutur tinular di tengah masyarakat,” ujar tokoh setempat, Krisno, Jumat (20/1/2017).

Branjung, lanjut Krisno, mulai berniat jahat dan ingin mengambil buah duren pada malam hari dengan menyamar sebagai macan. Dikira seekor macan betulan, Saridin yang datang hendak mengambil duren langsung menombaknya dengan bambu runcing.

Nahas, seekor macan tersebut ternyata Branjung, kakak iparnya sendiri yang mengenakan kulit macan. Saridin kemudian mendapatkan hukuman dari penguasa setempat, sebelum akhirnya mengasingkan diri dengan berguru ke Panti Kudus yang dipimpin Sunan Kudus.

“Di Desa Durensawit, ada tunggak sawit yang diyakini penduduk sebagai bekas pohon duren yang dulu pernah terjadi tragedi Saridin dan Branjung dalam kisah ketoprak. Meski bukti-bukti sejarah belum bisa membuktikannya, tetapi masyarakat yakin,” tuturnya.

Masih di Desa Durensawit, juga ada bukit pandang yang dijadikan kontak batin Ki Santa Mulya, menantu Maesura untuk melihat istrinya yang sedang mengalami masa hukuman pengasingan di Pulau Anakan. Kisah ini jauh sebelum zaman Saridin, karena Maesura adalah guru dari Suliwa pada zaman Kerajaan Malawapati dengan seorang raja, Prabu Angling Darma.

Edtitor : Kholistiono

Bukit Pandang di Durensawit Pati Jadi Saksi Bisu Kerinduan Ki Santa Mulya

Sejumlah pengunjung berada di Bukit Pandang Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung berada di Bukit Pandang Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bukit Pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati yang saat ini dijadikan destinasi wisata baru di Pati selatan ternyata menyimpan nilai sejarah pada zaman Kerajaan Angling Darma. Bukit tertinggi di desa tersebut menjadi saksi bisu kerinduan Ki Santa Mulya, menantu Maesura, guru Angling Darma.

Tokoh setempat, Krisno kepada MuriaNewsCom menuturkan, istri Ki Santa Mulya saat itu berbuat kesalahan sehingga mendapatkan hukuman dari mertuanya, Maesura. Dia diasingkan di Pulau Anakan yang diduga saat ini bernama Pulau Seprapat, Juwana.

Suaminya, Ki Santa Mulya merasa rindu dengan istrinya lantaran saat itu tengah hamil. Namun, dia tidak bisa berbuat sesuatu karena ayahnya sendiri yang menghukumnya dengan mengasingkan di Pulau Anakan.

“Ki Santa Mulya kemudian melakukan kontak batin di puncak tertinggi di perbukitan Durensawit. Di sana, dia juga bisa melihat pulau anakan dari atas sehingga bisa sedikit mengobati rindunya kepada sang istri,” ujar Krisno, Kamis (19/1/2017).

Kisah tersebut, kata Krisno, diambil dari cerita tutur yang berkembang di Durensawit. Kisah itu terjadi pada zaman Kerajaan Malawapati yang dipimpin Prabu Angling Darma. Namun, kisah itu mulai pudar dari ingatan.

Sejak dibuka untuk dikunjungi, kawasan tersebut mulai ramai diserbu muda-mudi yang ingin melihat keindahan hamparan daratan Kabupaten Pati, serta pegunungan yang hijau. Warga yang rindu dengan atmosfer udara sejuk bisa berkunjung ke sana setiap hari, hanya dengan biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang Durensawit Jadi Destinasi Wisata Baru di Pati Selatan

Pengunjung sedang menikmati pemandangan di kawasan bukit pandang Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengunjung sedang menikmati pemandangan di kawasan bukit pandang Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah bukit kecil setinggi lima meter yang berada di kawasan perbukitan setinggi 200 meter di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati saat ini menjadi daya tarik wisata. Di sana, pengunjung bisa melihat pemandangan alam yang indah berupa hamparan daratan Kabupaten Pati dengan cakrawala laut utara Jawa.

Koordinator Pengelola Bukit Pandang Durensawit, Krisno mengatakan, pengunjung bisa memanjakan mata dengan alam bebas yang masih sangat asri di sana. Di sebuah bukit kecil seluas empat meter, pengunjung bisa melihat pegunungan di wilayah Lasem pada bagian timur dan Kota Pati pada bagian barat.

“Kawasan ini baru kita buka untuk umum, setelah melakukan pembangunan jalan setapak menuju lokasi, pemberian pagar besi dan tangga pada bukit pandang. Semuanya dikelola pemuda setempat yang ingin memajukan desanya melalui potensi wisata,” ujar Krisno, Rabu (18/1/2017).

Saat ini, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk masuk ke bukit pandang. Mereka cukup membayar biaya parkir untuk keamanan kendaraan senilai Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Dari Alun-alun Kayen, pengunjung mesti menempuh perjalanan sekitar 3,5 kilometer menuju Desa Durensawit. Akses jalannya cukup bagus, sehingga tidak menghambat pengunjung yang ingin datang ke sana.

Sebagian besar pengunjung yang datang ke sana berasal dari kalangan muda-mudi yang penasaran dengan keindahan bukit pandang. Selfie menjadi cara berwisata muda-mudi untuk mengabadikan momen terbaik saat berkunjung dengan latar belakang hamparan wilayah Pati yang luas.

Nia, salah satu pengunjung menuturkan, bukit pandang punya sensasi wisata baru yang tidak ditemukan di daerah lainnya. Atmosfer udara yang sejuk di perbukitan Pati selatan setinggi 200 meter dinilai menjadi nilai plus berkunjung ke bukit pandang Durensawit.

Editor : Kholistiono