Petani Pati Mirip di Amerika, Bisa Kembangkan Paprika Ungu

Tanaman paprika ungu milik Muryati yang ditanam berjajar di samping rumah sudah mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tanaman paprika ungu milik Muryati yang ditanam berjajar di samping rumah sudah mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sayuran paprika (Capsicum annuum L ) biasanya tumbuh subur di dataran tinggi, terutama di negara-negara barat terutama Benua Amerika. Namun, paprika saat ini mulai dikembangkan di Indonesia.

Di Jawa Tengah, paprika tumbuh subur di daerah Wonosobo yang memiliki kelembapan cukup. Tapi, paprika ternyata tak hanya bisa dibudidayakan di dataran tinggi. Di Pati, misalnya. Daerah yang dikenal memiliki suhu panas ini ternyata bisa untuk mengembangkan budi daya paprika.

Hal itulah yang saat ini ditekuni Muryati, petani sayuran asal Desa Kudungbulus, Kecamatan Gembong, Pati. Setelah sukses mengembangkan beragam sayuran seperti sawi, bayam merah dan slada, Muryati saat ini getol merawat paprika ungu yang baru saja ia kembangkan.

“Saat ini, saya baru memiliki sekitar 30 polybag tanaman paprika. Setelah sekitar enam minggu, akhirnya tanaman paprika ungu saya berbuah. Sementara ini, kami gunakan untuk kebutuhan dapur sendiri,” kata Muryati saat bincang-bincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (13/1/2016).

Ke depan, rencananya ia akan mengembangkan budi daya paprika dengan membuka lahan di belakang rumahnya sendiri. Meski diakui atau tidak, sayur paprika saat ini belum cukup familiar bagi masyarakat Pati.

“Kalau sudah ada peluang, baru saya memperluas lahan. Sementara ini, baru saya tanam di samping rumah dan untuk kebutuhan dapur sendiri,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Urine Ikan Lele Bawa Berkah di Kedungbulus Pati

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele memang sudah biasa ditemui di berbagai daerah, karena menjadi potensi bisnis yang menjanjikan. Namun, hal itu menjadi luar biasa ketika urine lele beserta dengan limbah dalam kolam dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Pemanfaatan itulah yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba memanfaatkan air kolam lele untuk pupuk organik. Lima tahun menggeluti budi daya lele, ide pemanfaatan air kolam untuk pupuk baru terpikirkan sekarang.

Sontak, Rusmani kemudian menanam berbagai jenis sayuran di pinggiran kolam lele, mulai dari sawi, bayam, seledri, selada, hingga daun bawang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bisnis lele jalan, panen sayuran setiap hari pun lancar.

“Iseng-iseng saja. Tidak sengaja, ternyata air kolam lele bisa membuat tanaman subur. Akhirnya, saya buat tanaman sayur di sekitar kolam lele. Semuanya subur. Saya pikir, air kolam lele bisa jadi pupuk cair organik yang baik untuk tanaman,” kata Rusmani. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelapa Kopyor Pati Jadi Rebutan Pasar Nasional, Petani Kuwalahan

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kelapa kopyor berkualitas yang hanya bisa dijumpai di wilayah Kecamatan Dukuhseti, Tayu dan Margoyoso menjadi rebutan pasar nasional, terutama Jakarta, Bandung, Bogor, dan Semarang.

Di Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti saja, sedikitnya ada 2.558 pohon kelapa kopyor yang siap panen setiap hari. Namun, permintaan di pasar nasional yang begitu banyak membuat petani kuwalahan.

”Pengepul banyak yang rebutan untuk disetorkan ke sejumlah pasar di kota-kota besar. Padahal, puluhan ribu pohon kelapa kopyor yang tersebar di tiga kecamatan siap panen setiap hari,” ujar Suratman, Ketua Perkumpulan Petani Kelapa Kopyor dan Pengusaha Benih Sidodadi Makmur Alasdowo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (10/10/2015).

Ia mengaku, kelapa kopyor memang banyak diburu di kota-kota besar. Di Jakarta, satu buah kelapa kopyor dihargai Rp 150 ribu. Sementara itu, harga dari petani, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung besar kecilnya buah. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Pati Kawinkan Konsep Hidroponik dan Organik dengan Bambu

Sejumlah pengunjung stand tengah menonton pringponik buatan Muslikun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung stand tengah menonton pringponik buatan Muslikun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Muslikun, warga Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo berhasil mengawinkan konsep menanam holtikultura dengan cara hidroponik dan organik menggunakan bambu.

”Ide bambu sebagai modul ini sebetulnya dari kawan-kawan pencinta hidroponik, yaitu menanam dengan media air. Saya sadar bahwa seni menanam tidak ada aturan baku atau batas-batas yang mengikat. Kita bebas berekspresi,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/10/2015).

Ia mengatakan, pegiat tanaman bisa mengadopsi sistem apa pun dalam menanam holtikultura. Karena itu, kreativitas dituntut dalam hal ini.

”Cara kerjanya, ada pompa menaikkan air. Setelah sampai pada bambu bagian atas, mengalir ke bawah, ke atas lagi, begitu juga seterusnya. Kalau hidroponik biasanya pakai peralon, ini kita ganti dengan bambu,” imbuhnya.

Atas ide kreatif itu, Muslikun bersama dengan tim organik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati meraih juara pertama sebagai stand paling unik dalam Festival Organik se-Jawa Tengah di Java Supermall, Semarang, Senin (5/10/2015) lalu. (LISMANTO/TITIS W)

Pertama di Dunia, Warga Pati Ciptakan Seni Bertanam Holtikultura Organik “Pringgondani”

Sejumlah pengunjung tengah melihat pringponik buatan warga Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung tengah melihat pringponik buatan warga Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Untuk kali pertama di dunia, seni bertanam holtikultura organik “pringgondani” diciptakan warga Pati. Konsep itu pertama dideklarasikan dalam festival organik tingkat Jawa Tengah di Java Supermall, Semarang, Senin (5/10/2015).

”Pring itu bahasa Jawa. Artinya bambu. Jadi, pringgondani itu seni menanam menggunakan modul bambu,” ujar Muslikun, warga Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo yang menjadi penggagas pringgondani saat dimintai keterangan MuriaNewsCom, Selasa (6/10/2015).

Pada dasarnya, kata dia, bambu ditempati tanaman dengan mengadopsi sistem hidroponik, vertikultur, dan konvensional. Artinya, itu bersifat universal, menyeluruh dan secara madani.

”Metode ini saya namakan pringgondani yang diambil dari kata pring artinya bambu, panggoni berarti tempat, dan madani artinya menyeluruh. Pola tanam di modul bambu yang mengadopsi semua sistem, media tanamnya bisa air, tanah dan lain-lain. Pringgondani disetujui dari pembina organik Kabupaten Pati,” imbuhnya.

Ia berharap, temuan seni bertanam holtikultura menggunakan bambu dan air tersebut menjadi ikon dan maskot Kota Pati di bidang holtikultura organik. (LISMANTO/TITIS W)

Jangan Anggap “Cokra-Cakri” Tanaman Pengganggu, Ini Sejuta Manfaatnya

Radif Aditya tengah memindah bibit tanaman cokra-cakri dari tempat persemaian. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Radif Aditya tengah memindah bibit tanaman cokra-cakri dari tempat persemaian. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tanaman kenikir dengan nama latin Tagetes Erectabe atau orang Pati mengenalnya “Cokra-cakri” tumbuh subur di berbagai tempat, mulai dari pekarangan rumah, ladang, hingga hutan. Sebagian orang menganggap tanaman ini bersifat mengganggu tanaman lainnya.

Padahal tidak. Cokra-cakri justru punya sejuta manfaat yang baik. Salah satunya, tanaman ini bersifat racun jika didekati dengan hama, karena memang antinematoda.

”Cokra-cakri kita tanam sebagai tanaman sela untuk mengusir hama. Selain itu, daun cokra-cakri bisa dimakan untuk lalapan, buat kuluban atau urap, bisa juga dibuat sayur pecel. Rasanya enak, kok,” ujar Radif Aditya, pegiat tanaman Pati saat ditemui MuriaNewsCom, Jumat (25/9/2015).

Ia mengatakan, cokra-cakri dalam dunia kesehatan juga bisa digunakan untuk memperlancar peredaran dan mencuci darah, mengobati lambung dan menguatkan tulang. ”Kalau ada tanaman cokra-cakri, sebaiknya jangan dicabut dan dibuang, tetapi dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tanaman itu juga bisa berfungsi sebagai antioksidan seperti buah pome, jambu biji dan jeruk,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ini Rahasia Pegiat Tanaman Pati Usir Hama Tanpa Pestisida

Radif Aditya tengah menyemai bibit tanaman kenikir untuk mengusir hama tanaman yang ia tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Radif Aditya tengah menyemai bibit tanaman kenikir untuk mengusir hama tanaman yang ia tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Menanam beragam tanaman mulai dari sayuran hingga buah-buahan memang berisiko berhadapan dengan hama. Ini hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Namun, manusia memang harus berupaya untuk mengatasi masalah tersebut. Jika bahan pestisida selama ini digunakan untuk mengusir hama, berbeda halnya dengan Radif Aditya (30), warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa.

Ia lebih memilih menghadirkan tanaman kenikir di sela-sela puluhan tanaman yang ia tanam. “Tanaman kenikir bisa digunakan sebagai pestisida alami. Cukup tanam di antara tanaman lain, hama akan takut mendekat. Orang Pati menyebut tanaman ini cokra-cakri yang bisa digunakan untuk membuat kuliner sayur,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Jumat (25/9/2015).

Ia menambahkan, kenikir punya fungsi efektif sebagai penghalang yang bersifat “menolak” datangnya hama di lokasi kenikir. Dengan begitu, cukup menghadirkan kenikir sebagai tanaman sela, ia tak perlu membeli pestisida berbahan kimia. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ini Rahasia Menanam Strawberry di Dataran Rendah Bersuhu Panas

Adi menunjukkan tanaman strawberry yang mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Adi menunjukkan tanaman strawberry yang mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ada cara khusus untuk menanam ragam tumbuhan yang mestinya hidup di dataran tinggi, seperti selada, strawberry dan ragam tanaman lainnya. Salah satunya, dengan merekayasa kondisi seperti media tanah, kelembaban, termasuk nutrisi tanaman.

Adi Arifianto, warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati Kota mencoba untuk menanam strawberry. ”Ada cara tersendiri untuk menanam strawberry di daerah bersuhu panas. Misalnya, penggunaan media tanah yang berbeda, mengatur kelembaban suhu dengan menaruhnya di tempat mudah terjangkau angin, dan rajin menyiram,” bebernya kepada MuriaNewsCom, Senin (14/9/2015).

Selain itu, kata dia, ada cara ampuh yang mungkin tidak banyak disadari orang banyak. Yakni, berkomunitas. Dengan ikut komunitas, banyak hal yang tidak tahu menjadi tahu.

”Dengan ikut komunitas, saya bisa belajar dan berbagi. Kebetulan, saya ikut komunitas hidroponik Pati. Di sana, saya bisa saling sharing, membahas masalah terkait tanaman, belajar, dan berbagi,” imbuhnya.

Dari komunitas itulah, muncul inspirasi dan solusi jika ada masalah pada tanaman yang ia tanam. ”Ini strawberry saya mulai berbuah dan rencana saya akan membuat kebun strawberry untuk wisata agrowisata kecil-kecilan,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Pati Mulai Kembangkan Budidaya Strawberry

Tanaman strawberry milik Adi mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tanaman strawberry milik Adi mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tanaman strawberry yang identik hidup di dataran tinggi atau yang bersuhu rendah kini bisa ditanam di daerah dataran rendah yang notanebe bersuhu panas. Tentu dengan cara dan rekayasa tertentu.

Di Pati, misalnya. Tanaman strawberry mestinya tidak bisa hidup. Namun, tidak bagi Adi Arifianto, warga Desa Sidoharjo RT 2 RW 2, Kecamatan Pati Kota.

Ia mencoba untuk membudidayakan strawberry di Pati dan berhasil. ”Harus ada rekayasa tanaman agar menyerupai hidup di dataran tinggi. Salah satunya dengan cara hidroponik,” ujar Adi kepada MuriaNewsCom, Senin (14/9/2015).

Kelembaban, kata dia, menjadi salah satu kunci untuk menanam tumbuhan yang tidak bisa hidup di daerah bersuhu panas. ”Kalau kita bisa membuat suhu lembab dengan kapasitas angin yang cukup, saya kira bisa untuk menanam tumbuhan yang mestinya hidup di dataran tinggi ditanam di daerah kawasan rendah,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Petani Selada Ini Bisa Hasilkan Uang Melimpah Setiap Akan Mandi

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Lahan kosong di pekarangan rumah bisa disulap menjadi lahan produktif yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Salah satunya, Darmono (30), warga Desa Pagendisan, Kecamatan Winong, Pati, yang menyulap lahannya menjadi ladang selada.

Satu gerombol selada saja, Darmono biasa menjualnya dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 2.000 ke pedagang sayur keliling. Jika seladanya tidak laku, akan dikembalikan ke Darmono dan menjadi konsumsi pribadi.

“Selama ini, selada yang saya titipkan ke pedagang sayur keliling tak pernah kembali. Pasti habis terjual. Dalam sehari, saya bisa mengantongi Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu dari sayuran yang saya tanam untuk mengisi waktu luang,” ujarnya saat ditemui MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan sayuran merupakan hobi untuk mengisi waktu saat mandi. “Ini bukan pekerjaan utama. Hanya untuk mengisi waktu saat mandi saja. Tiap pagi sebelum mandi, saya selalu sirami. Demikian juga saat sore,” imbuhnya.

Ia mengaku, belum bisa mengembangkan budidaya selada dalam jumlah yang besar dalam areal pertanian yang luas. Selain terbentur modal, hal tersebut dibutuhkan tenaga ekstra untuk fokus dalam budidaya selada. “Kondisi pertanian di Pati masih susah untuk ditanami selada. Karena itu, butuh esktra tenaga, modal dan pikiran untuk membuatnya dalam skala pertanian yang lebih luas,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Hebatnya Budi Daya Selada Organik di Pati. Mau Tahu?

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Selama ini, tanaman selada tidak mendapatkan ruang di hati petani Pati. Ini wajar, mengingat tanah dan suhu di daerah Pati tidak cocok untuk ditanami selada.

Padahal, selada menyimpan agrobisnis yang menjanjikan. Betapa tidak, nilai jual selada jauh lebih mahal berlipat-lipat ketimbang sawi.

Hal inilah yang mulai digarap Darmono (30), warga Desa Pagendisan, Kecamatan Winong. Ia mencoba untuk mengembangkan budidaya selada yang selama ini belum dilirik petani di Pati.

Tak tanggung-tanggung, ia budidaya selada organik tanpa melibatkan bahan kimia dalam penanamannya. “Lahannya memang harus direkayasa, yaitu terbuat dari pupuk kotoran sapi yang sudah menjadi tanah. Ini mulai saya kembangkan di Pati,” kata Darmono. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)