Budi Daya Sayur di Atas Kolam Lele Dikembangkan di Gembong Pati

Rusmani tengah menyirami tanaman sayur yang ia tanam di atas kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyirami tanaman sayur yang ia tanam di atas kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele dan tanaman holtikultura sekaligus tak harus menggunakan dua lahan yang berbeda. Kolam lele pun, bisa dijadikan tempat untuk menanam tumbuhan holtikultura.

Ini yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa Kedungbulus, Gembong, Pati. Sejumlah kayu dibentuk semacam rakit dengan posisi menjorok ke dalam kolam lele.

Di atas tempat itulah, Rusmani meletakkan ratusan polibag yang ditanami beragam sayuran, mulai dari sawi, bayam, daun bawang, seledri, hingga slada yang identik sulit hidup di daerah bersuhu panas. Tak ayal, sayuran yang ditanam benar-benar subur karena kelembaban bisa terjaga dari kolam lele.

“Selain bisa memanfaatkan lahan sempit, sayuran yang ditaruh di atas kolam lele bisa mendapatkan kelembaban lebih sehingga membuat tanaman subur. Terlebih, air kolam lele juga bisa menyuburkan tanaman,” ujar Rusmani kepada MuriaNewsCom, Kamis (22/10/2015).

Selain sayuran, pada bagian tengah kolam juga ditanami jeruk pamelo yang bisa hidup subur di kawasan Gembong. “Sementara ini, kami manfaatkan satu kolam lele saja. Ke depan, kami akan kembangkan tanaman sayuran di enam kolam lele lainnya,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Urine Ikan Lele Bawa Berkah di Kedungbulus Pati

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele memang sudah biasa ditemui di berbagai daerah, karena menjadi potensi bisnis yang menjanjikan. Namun, hal itu menjadi luar biasa ketika urine lele beserta dengan limbah dalam kolam dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Pemanfaatan itulah yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba memanfaatkan air kolam lele untuk pupuk organik. Lima tahun menggeluti budi daya lele, ide pemanfaatan air kolam untuk pupuk baru terpikirkan sekarang.

Sontak, Rusmani kemudian menanam berbagai jenis sayuran di pinggiran kolam lele, mulai dari sawi, bayam, seledri, selada, hingga daun bawang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bisnis lele jalan, panen sayuran setiap hari pun lancar.

“Iseng-iseng saja. Tidak sengaja, ternyata air kolam lele bisa membuat tanaman subur. Akhirnya, saya buat tanaman sayur di sekitar kolam lele. Semuanya subur. Saya pikir, air kolam lele bisa jadi pupuk cair organik yang baik untuk tanaman,” kata Rusmani. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelapa Kopyor Pati Jadi Rebutan Pasar Nasional, Petani Kuwalahan

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kelapa kopyor berkualitas yang hanya bisa dijumpai di wilayah Kecamatan Dukuhseti, Tayu dan Margoyoso menjadi rebutan pasar nasional, terutama Jakarta, Bandung, Bogor, dan Semarang.

Di Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti saja, sedikitnya ada 2.558 pohon kelapa kopyor yang siap panen setiap hari. Namun, permintaan di pasar nasional yang begitu banyak membuat petani kuwalahan.

”Pengepul banyak yang rebutan untuk disetorkan ke sejumlah pasar di kota-kota besar. Padahal, puluhan ribu pohon kelapa kopyor yang tersebar di tiga kecamatan siap panen setiap hari,” ujar Suratman, Ketua Perkumpulan Petani Kelapa Kopyor dan Pengusaha Benih Sidodadi Makmur Alasdowo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (10/10/2015).

Ia mengaku, kelapa kopyor memang banyak diburu di kota-kota besar. Di Jakarta, satu buah kelapa kopyor dihargai Rp 150 ribu. Sementara itu, harga dari petani, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung besar kecilnya buah. (LISMANTO/TITIS W)

Hebatnya Budi Daya Selada Organik di Pati. Mau Tahu?

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Selama ini, tanaman selada tidak mendapatkan ruang di hati petani Pati. Ini wajar, mengingat tanah dan suhu di daerah Pati tidak cocok untuk ditanami selada.

Padahal, selada menyimpan agrobisnis yang menjanjikan. Betapa tidak, nilai jual selada jauh lebih mahal berlipat-lipat ketimbang sawi.

Hal inilah yang mulai digarap Darmono (30), warga Desa Pagendisan, Kecamatan Winong. Ia mencoba untuk mengembangkan budidaya selada yang selama ini belum dilirik petani di Pati.

Tak tanggung-tanggung, ia budidaya selada organik tanpa melibatkan bahan kimia dalam penanamannya. “Lahannya memang harus direkayasa, yaitu terbuat dari pupuk kotoran sapi yang sudah menjadi tanah. Ini mulai saya kembangkan di Pati,” kata Darmono. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Trik Petani Winong Pati Pelihara ‘Gadis Cantik Bolivia’

Tanaman cabai Bolivian Rainbow yang ditanam Simon, petani asal Desa Pagendisan, Kecamatan Winong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tanaman cabai Bolivian Rainbow yang ditanam Simon, petani asal Desa Pagendisan, Kecamatan Winong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Trik petani asal Winong, Pati, mempunyai cara memelihara ‘gadis cantik Bolivia’.

Ini adalah budi daya tanaman yang diimpor dari luar negeri untuk ditanam di Indonesia memang tidak semudah yang dibayangkan. Ada cara tersendiri yang mengakali agar tanaman impor bisa beradaptasi hidup di Indonesia.

Seperti halnya cabai jenis Bolivian Rainbow dan Black Royal yang dibudidayakan Simon (30), petani asal Desa Pagendisan, Kecamatan Winong, Pati.

Kedua cabai yang ia peroleh dari luar negeri tersebut harus disesuaikan dengan karakter tanah dan cuaca di Pati.

“Kalau mau budi daya tanaman dari luar negeri, pertama kali kita harus cari di situs online internasional yang menjual bibit. Setelah dikirim, kita coba budidayakan. Tapi, kita harus bisa memahami karakter tanaman tersebut,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Caranya, kata dia, pahami karakter tumbuhan dengan belajar kepada yang sudah menanam atau bisa baca di buku maupun internet.

“Saya beli cabai dari situs luar negeri. Dari satu paket bibit yang saya beli, 50 persen di antaranya mati,” imbuhnya.

Hal tersebut wajar, mengingat biji tersebut ada yang kuat beradaptasi dengan suhu baru dan ada yang tidak kuat. “Nah, bibit yang kuat bertahan hiduplah yang kemudian melahirkan tanaman impor yang sudah menyesuaikan dengan media tanah dan suhu lokal,” tuturnya.

 

Ia menambahkan, cabai Bolivian Rainbow dan Black Royal tidak boleh telat dari penyiraman. “Telat sehari dua hari saja, tumbuhan tersebut bisa cepat layu dan akhirnya mati,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)