Wajib Dibaca, Rahasia Budi Daya Paprika di Pati

Paprika ungu milik Muryati mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Paprika ungu milik Muryati mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya tanaman yang hidup subur di dataran tinggi tidak mudah untuk ditanam di daerah dataran rendah. Karena itu, butuh pengetahuan pertanian yang cukup untuk menanam tumbuhan tersebut.

Tanaman paprika (Capsicum annuum L), misalnya. Tanaman jenis sayuran ini biasanya hanya tumbuh di dataran tinggi. Namun, dengan rekayasa kelembapan, tanaman ini bisa dikembangkan di dataran rendah seperti Pati.

“Kelembapan itu menyangkut dua hal utama, yaitu lingkungan sekitar dan media tanam. Kalau kedua hal itu bisa direkayasa, tanaman paprika yang biasanya tumbuh subur di dataran tinggi bisa hidup di dataran rendah,” kata Muryati, petani paprika asal Desa Kedungbulus, Gembong, Pati kepada MuriaNewsCom, Rabu (13/1/2016).

Untuk media tanam, kata dia, wajib hukumnya menggunakan pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan dari kotoran hewan atau pemanfaatan sampah tanaman yang membusuk. “Media tanam akan lebih subur jika diberikan air dari limbah sisa cucian beras atau ikan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, intensitas cahaya matahari harus direkayasa sedemikian rupa agar tidak berlebihan atau kurang. Penyiraman untuk menjaga kelembaban media tanam dan daun juga perlu diperhatikan. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Petani Pati Mirip di Amerika, Bisa Kembangkan Paprika Ungu

Tanaman paprika ungu milik Muryati yang ditanam berjajar di samping rumah sudah mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tanaman paprika ungu milik Muryati yang ditanam berjajar di samping rumah sudah mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sayuran paprika (Capsicum annuum L ) biasanya tumbuh subur di dataran tinggi, terutama di negara-negara barat terutama Benua Amerika. Namun, paprika saat ini mulai dikembangkan di Indonesia.

Di Jawa Tengah, paprika tumbuh subur di daerah Wonosobo yang memiliki kelembapan cukup. Tapi, paprika ternyata tak hanya bisa dibudidayakan di dataran tinggi. Di Pati, misalnya. Daerah yang dikenal memiliki suhu panas ini ternyata bisa untuk mengembangkan budi daya paprika.

Hal itulah yang saat ini ditekuni Muryati, petani sayuran asal Desa Kudungbulus, Kecamatan Gembong, Pati. Setelah sukses mengembangkan beragam sayuran seperti sawi, bayam merah dan slada, Muryati saat ini getol merawat paprika ungu yang baru saja ia kembangkan.

“Saat ini, saya baru memiliki sekitar 30 polybag tanaman paprika. Setelah sekitar enam minggu, akhirnya tanaman paprika ungu saya berbuah. Sementara ini, kami gunakan untuk kebutuhan dapur sendiri,” kata Muryati saat bincang-bincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (13/1/2016).

Ke depan, rencananya ia akan mengembangkan budi daya paprika dengan membuka lahan di belakang rumahnya sendiri. Meski diakui atau tidak, sayur paprika saat ini belum cukup familiar bagi masyarakat Pati.

“Kalau sudah ada peluang, baru saya memperluas lahan. Sementara ini, baru saya tanam di samping rumah dan untuk kebutuhan dapur sendiri,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Pegiat Hidroponik Pati Kenalkan Anak-anak dengan Dunia Buah dan Sayuran

Cinta dan Loveta bersama ayahnya berkunjung ke kebun mini milik sejumlah pegiat tanaman hidroponik Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Cinta dan Loveta bersama ayahnya berkunjung ke kebun mini milik sejumlah pegiat tanaman hidroponik Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Untuk mengenalkan anak-anak dengan dunia sayuran, pegiat hidroponik Pati membuat kebun mini yang berisi tanaman buah dan sayur-sayuran. Hal itu diharapkan agar anak-anak suka makan sayur dan buah melalui pengenalan kebun.

Didit, Koordinator Hidroponik Pati kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015) mengatakan, anak-anak saat ini dihadapkan pada makanan dan minuman cepat saji yang kurang baik untuk petumbuhan dan perkembangan anak.

Karena itu, pengenalan terhadap buah dan sayuran dinilai penting yang menarik minat anak-anak. ”Anak-anak biasanya suka dengan kebun. Dari kebun yang menarik, anak akan suka untuk makan buah dan sayuran yang bagus untuk pertumbuhan anak,” ujar Didit.

Sementara itu, Cinta (9) dan Loveta (5), dua anak bersaudara dari Desa Muktiharjo, Margorejo mengaku senang berkunjung ke kebun buah dan sayuran. ”Saya suka strawberry. Lebih suka lagi, kalau metik buahnya dari tanaman langsung,” katanya. (LISMANTO/TITIS W)

Urine Ikan Lele Bawa Berkah di Kedungbulus Pati

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele memang sudah biasa ditemui di berbagai daerah, karena menjadi potensi bisnis yang menjanjikan. Namun, hal itu menjadi luar biasa ketika urine lele beserta dengan limbah dalam kolam dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Pemanfaatan itulah yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba memanfaatkan air kolam lele untuk pupuk organik. Lima tahun menggeluti budi daya lele, ide pemanfaatan air kolam untuk pupuk baru terpikirkan sekarang.

Sontak, Rusmani kemudian menanam berbagai jenis sayuran di pinggiran kolam lele, mulai dari sawi, bayam, seledri, selada, hingga daun bawang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bisnis lele jalan, panen sayuran setiap hari pun lancar.

“Iseng-iseng saja. Tidak sengaja, ternyata air kolam lele bisa membuat tanaman subur. Akhirnya, saya buat tanaman sayur di sekitar kolam lele. Semuanya subur. Saya pikir, air kolam lele bisa jadi pupuk cair organik yang baik untuk tanaman,” kata Rusmani. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelapa Kopyor Pati Jadi Rebutan Pasar Nasional, Petani Kuwalahan

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kelapa kopyor berkualitas yang hanya bisa dijumpai di wilayah Kecamatan Dukuhseti, Tayu dan Margoyoso menjadi rebutan pasar nasional, terutama Jakarta, Bandung, Bogor, dan Semarang.

Di Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti saja, sedikitnya ada 2.558 pohon kelapa kopyor yang siap panen setiap hari. Namun, permintaan di pasar nasional yang begitu banyak membuat petani kuwalahan.

”Pengepul banyak yang rebutan untuk disetorkan ke sejumlah pasar di kota-kota besar. Padahal, puluhan ribu pohon kelapa kopyor yang tersebar di tiga kecamatan siap panen setiap hari,” ujar Suratman, Ketua Perkumpulan Petani Kelapa Kopyor dan Pengusaha Benih Sidodadi Makmur Alasdowo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (10/10/2015).

Ia mengaku, kelapa kopyor memang banyak diburu di kota-kota besar. Di Jakarta, satu buah kelapa kopyor dihargai Rp 150 ribu. Sementara itu, harga dari petani, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung besar kecilnya buah. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Pati Kawinkan Konsep Hidroponik dan Organik dengan Bambu

Sejumlah pengunjung stand tengah menonton pringponik buatan Muslikun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung stand tengah menonton pringponik buatan Muslikun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Muslikun, warga Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo berhasil mengawinkan konsep menanam holtikultura dengan cara hidroponik dan organik menggunakan bambu.

”Ide bambu sebagai modul ini sebetulnya dari kawan-kawan pencinta hidroponik, yaitu menanam dengan media air. Saya sadar bahwa seni menanam tidak ada aturan baku atau batas-batas yang mengikat. Kita bebas berekspresi,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/10/2015).

Ia mengatakan, pegiat tanaman bisa mengadopsi sistem apa pun dalam menanam holtikultura. Karena itu, kreativitas dituntut dalam hal ini.

”Cara kerjanya, ada pompa menaikkan air. Setelah sampai pada bambu bagian atas, mengalir ke bawah, ke atas lagi, begitu juga seterusnya. Kalau hidroponik biasanya pakai peralon, ini kita ganti dengan bambu,” imbuhnya.

Atas ide kreatif itu, Muslikun bersama dengan tim organik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati meraih juara pertama sebagai stand paling unik dalam Festival Organik se-Jawa Tengah di Java Supermall, Semarang, Senin (5/10/2015) lalu. (LISMANTO/TITIS W)

Jangan Anggap “Cokra-Cakri” Tanaman Pengganggu, Ini Sejuta Manfaatnya

Radif Aditya tengah memindah bibit tanaman cokra-cakri dari tempat persemaian. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Radif Aditya tengah memindah bibit tanaman cokra-cakri dari tempat persemaian. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tanaman kenikir dengan nama latin Tagetes Erectabe atau orang Pati mengenalnya “Cokra-cakri” tumbuh subur di berbagai tempat, mulai dari pekarangan rumah, ladang, hingga hutan. Sebagian orang menganggap tanaman ini bersifat mengganggu tanaman lainnya.

Padahal tidak. Cokra-cakri justru punya sejuta manfaat yang baik. Salah satunya, tanaman ini bersifat racun jika didekati dengan hama, karena memang antinematoda.

”Cokra-cakri kita tanam sebagai tanaman sela untuk mengusir hama. Selain itu, daun cokra-cakri bisa dimakan untuk lalapan, buat kuluban atau urap, bisa juga dibuat sayur pecel. Rasanya enak, kok,” ujar Radif Aditya, pegiat tanaman Pati saat ditemui MuriaNewsCom, Jumat (25/9/2015).

Ia mengatakan, cokra-cakri dalam dunia kesehatan juga bisa digunakan untuk memperlancar peredaran dan mencuci darah, mengobati lambung dan menguatkan tulang. ”Kalau ada tanaman cokra-cakri, sebaiknya jangan dicabut dan dibuang, tetapi dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tanaman itu juga bisa berfungsi sebagai antioksidan seperti buah pome, jambu biji dan jeruk,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ini Rahasia Pegiat Tanaman Pati Usir Hama Tanpa Pestisida

Radif Aditya tengah menyemai bibit tanaman kenikir untuk mengusir hama tanaman yang ia tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Radif Aditya tengah menyemai bibit tanaman kenikir untuk mengusir hama tanaman yang ia tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Menanam beragam tanaman mulai dari sayuran hingga buah-buahan memang berisiko berhadapan dengan hama. Ini hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Namun, manusia memang harus berupaya untuk mengatasi masalah tersebut. Jika bahan pestisida selama ini digunakan untuk mengusir hama, berbeda halnya dengan Radif Aditya (30), warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa.

Ia lebih memilih menghadirkan tanaman kenikir di sela-sela puluhan tanaman yang ia tanam. “Tanaman kenikir bisa digunakan sebagai pestisida alami. Cukup tanam di antara tanaman lain, hama akan takut mendekat. Orang Pati menyebut tanaman ini cokra-cakri yang bisa digunakan untuk membuat kuliner sayur,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Jumat (25/9/2015).

Ia menambahkan, kenikir punya fungsi efektif sebagai penghalang yang bersifat “menolak” datangnya hama di lokasi kenikir. Dengan begitu, cukup menghadirkan kenikir sebagai tanaman sela, ia tak perlu membeli pestisida berbahan kimia. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ini Rahasia Menanam Strawberry di Dataran Rendah Bersuhu Panas

Adi menunjukkan tanaman strawberry yang mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Adi menunjukkan tanaman strawberry yang mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ada cara khusus untuk menanam ragam tumbuhan yang mestinya hidup di dataran tinggi, seperti selada, strawberry dan ragam tanaman lainnya. Salah satunya, dengan merekayasa kondisi seperti media tanah, kelembaban, termasuk nutrisi tanaman.

Adi Arifianto, warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati Kota mencoba untuk menanam strawberry. ”Ada cara tersendiri untuk menanam strawberry di daerah bersuhu panas. Misalnya, penggunaan media tanah yang berbeda, mengatur kelembaban suhu dengan menaruhnya di tempat mudah terjangkau angin, dan rajin menyiram,” bebernya kepada MuriaNewsCom, Senin (14/9/2015).

Selain itu, kata dia, ada cara ampuh yang mungkin tidak banyak disadari orang banyak. Yakni, berkomunitas. Dengan ikut komunitas, banyak hal yang tidak tahu menjadi tahu.

”Dengan ikut komunitas, saya bisa belajar dan berbagi. Kebetulan, saya ikut komunitas hidroponik Pati. Di sana, saya bisa saling sharing, membahas masalah terkait tanaman, belajar, dan berbagi,” imbuhnya.

Dari komunitas itulah, muncul inspirasi dan solusi jika ada masalah pada tanaman yang ia tanam. ”Ini strawberry saya mulai berbuah dan rencana saya akan membuat kebun strawberry untuk wisata agrowisata kecil-kecilan,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ingin Penghasilan Tetap dengan Budidaya Kangkung? Begini Caranya

Bati tengah mencabuti rumput di antara tanaman kangkung yang ia tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bati tengah mencabuti rumput di antara tanaman kangkung yang ia tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Banyak petani mengatakan, menanam kangkung itu mudah dan bisa dikatakan 80 persen dipastikan berhasil. Kendati begitu, ada beberapa cara mengembangkan dan budidaya kangkung yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Bati (50), petani kangkung asal Desa Babalan, Kecamatan Gabus mengatakan, pertama yang harus dipersiapkan menanam kangkung adalah lahan gembur dengan kapasitas air yang cukup. Selanjutnya, siapkan benih kangkung yang bisa didapatkan di sentra atau toko pertanian.

”Tebarkan benih di media tanah yang gembur dan airnya cukup tadi, nanti akan tumbuh sendiri. Jangan lupa, jaga kondisi kelembaban media tanah dengan cara menyiramnya hingga tanaman kangkung besar,” kata Bati membeberkan cara menanam kangkung kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, media tanah dengan campuran pupuk kompos organik akan menghasilkan kualitas yang lebih baik. Setelah besar dan dirasa cukup untuk panen, segera panen dengan memotongnya.

”Jangan dicabut, karena kangkung bisa tumbuh berkali-kali sampai tanaman itu jenuh sendiri. Dan, itu bisa berpuluh-puluh kali panen,” bebernya.

Salah satu hal yang harus dipersiapkan, kata dia, di antaranya pembeli. Dalam menyediakan kangkung, kita bisa melayani pembeli dari kalangan masyarakat yang membutuhkan satu ikat atau dua ikat dengan harga antara Rp 700 hingga Rp 1.000 per ikat.

”Kalau kita punya pembeli langganan yang disetok di pasar tradisional, biasanya diambil setiap dua pekan sekali dalam sekali panen,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Budidaya Kangkung, Tanam Sekali Omzet Berkali-kali

Bati, petani asal Desa Babalan, Kecamatan Gabus, tengah memetik sedikit tanaman kangkung di sawahnya untuk dimasak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Siapa sangka budidaya kangkung yang harganya murah meriah di pasar, tetapi justru bisa menghasilkan penghasilan tambahan yang menggiurkan. Dalam sekali tanam saja, omzet datang berkali-kali tanpa harus menanam lagi.

Bati (50), misalnya. Warga Desa Babalan, Kecamatan Gabus, ini menyisihkan lahan sawahnya seluas 12×6 meter untuk menanam sayur kangkung. Sementara itu, lahan yang lain digunakan untuk menanam palawija.

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan penghasilan tambahan di tengah kesibukannya menanam palawija. Meski terkesan sambilan, kangkung Bati dihargai Rp 250 ribu sekali panen dalam waktu dua pekan.

Tak ayal, Bati bisa meraup untung Rp 500 ribu per bulan hanya dalam sekali tanam. ”Menanam kangkung itu mudah. Kita menebar benih satu kali, kita bisa panen berkali-kali sampai tanaman itu jenuh sendiri. Setelah kita panen, kangkung bisa tumbuh lagi dan itu berulang-ulang tidak ada habisnya,” tuturnya saat ditemui MuriaNewsCom, Selasa (8/9/2015).

Dengan memanfaatkan lahan kecil itu, Bati bisa panen palawija sekaligus panen kangkung dua pekan sekali. Menggiurkan, bukan? (LISMANTO/TITIS W)