Malam Ini, FASBuk Gelar Monolog Nindya Karya Yudhi MS

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus dan MuriaNewsCom akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya.

Kali ini FASBuk akan menampilkan pertunjukan monolog dan diskusi dengan naskah “NINDYA” karya Alm.Yudhi MS (Sastrawan dan tokoh pendiri FASBuK) di Auditorium Universitas Muria Kudus pukul 19.30 WIB, malam nanti.

Nindya sendiri diangkat dari cerpen ’Senja Nindya’ yang ditulis Yudhi MS pada akhir tahun 2013. Alur ceritanya menceritakan sebuah perjalanan kisah cinta tokoh Nindya dari remaja hingga dia berumur 38 tahun.

Pada akhirnya dia (Nindya) menyesali dengan hidup yang dia jalani. Akan tetapi dia berusaha mempertahankan apa yang sudah dia yakini selama berpuluh-puluh tahun.

Setelah pertunjukan usai, akan ada dialog interaktif dan diskusi bareng tentang proses kreatif penggarapan sebuah pertunjukan. Nah, jangan sampai terlewatkan ya.

Editor: Supriyadi

Wabup Jepara Janji Fasilitasi Seni Budaya Tahun Depan

Wabup Jepara Dian Kristiandi bersama seniman ukir Roni (kiri) memperhatikan karya yang dipamerkan di Aula Museum Kartini, Senin malam (13/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi berjanji akan lebih memperhatikan kehidupan kesenian di Bumi Kartini. Menurutnya, seni merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pariwisata yang menjadi visi misinya bersama pasangannya Ahmad Marzuqi. 

“Kita akan mendorong dan memfasilitasi warga Jepara yang bergerak dalam seni apapun itu, khususnya seni ukir. Agar seni ukir menjadi sesuatu yang bisa dipahami dan dimengerti khususnya oleh generasi muda,” tutur Dian, saat membuka pameran tunggal Seni Ukir bertajuk Eksistensi di Aula Museum Kartini, Senin malam (13/11/2017). 

Baca: Seniman di Jepara Ini Bikin Pameran Tunggal Gara-gara Risau Ukir ”Disepelakan” Anak Muda

Terkait seni ukir, Dian mengakui saat ini terjadi degradasi minat dari generasi penerus. Saat ini, menurutnya, kesenian tersebut semakin kehilangan daya tarik karena kurangnya pemahaman akan seni itu sendiri. 

Oleh karena itu, ia meminta agar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jepara untuk terus melakukan kampanye dan reinterpretasi seni ukir. Dengan hal itu, ia berharap semakin banyak generasi muda yang memahami akan makna ukir-ukiran. 

“Tahun 2018 akan kita fasilitasi seni dan budaya. Sudah kita persiapkan, karena hal itu merupakan visi dan misi dari Pak Bupati dalam pengembangan sektor pariwisata. Seni ukir menjadi salah satu bagian yang tak lepas dari hal tersebut,” janji Wakil Bupati Jepara. 

Editor: Supriyadi

Sukamah, Nenek 60 Tahun yang Setia Geluti Kerajinan Payung Kertas Brantaksekarjati Khas Jepara

Sukamah saat memamerkan produknya, di depan rumahnya Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan, Sabtu (11/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan dulu kondang dengan kerajinan payung kertas. Hampir semua warganya menggantungkan pemasukannya dari usaha tersebut. Namun kini, perajin payung kertas hanya tinggal seorang saja. 

Adalah Sukamah (60) yang masih menekuni bisnis tersebut. Ditemui di rumahnya, RT 3 Desa Brantaksekarjati, perempuan beruban itu sedang menyelesaikan pesanan payung kertas di halaman samping yang bersebelahan dengan masjid setempat. 

Ia bercerita, telah memulai usahanya sejak umurnya 18 tahun. Waktu itu tahun 1975, ia dan suaminya telah menggeluti pembuatan payung kertas. 

“Anak saya waktu itu masih kecil-kecil. Suami dan saya sudah mulai membuat payung kertas. Nanti bagian saya yang memoles kertas dengan kanji dan melukisnya,” kata Sukamah, Sabtu (11/11/2017). 

Bahan-bahan yang dipakai saat itu masih sangat tradisional, berikut lem perekat yang menggunakan sari buah kleco. Untuk membuatnya kaku digunakan pati kanji. Sementara bahan baku utamanya adalah kertas semen yang membalut rangka dari bambu.


Sukamah menunjukkan cara membuat payung kertas brantaksekarjati yang digelutinya sejak remaja, Sabtu (11/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Seingatnya, dulu sewaktu masih jaya di desa tersebut banyak sekali pohon Kleco yang digunakan perajin payung kertas. Namun kini, untuk menemukannya, ia harus menuju desa sebelah, Kalipucang untuk menemukan bahan baku.

“Dulu sepanjang jalan desa ini banyak pohon kleco, namun kini sudah ditebangi. Sehingga kalau mau mengelem kertas semen dengan rangka bambu harus cari buah kleco dari Kalipucang. Dulu perajinnya pun banyak, namun kini sudah pada meninggal dunia,” kata dia. 

Kini, ia menjadi satu-satunya perajin payung kertas yang tersisa di desa itu. Selain berproduksi secara reguler ia juga melayani pemesanan untuk warga luar Jepara seperti Demak dan Semarang. 

Kini kerajinan tersebut kebanyakan digunakan untuk pelengkap pertunjukan tari atau sekedar hiasan. Dalam waktu sehari Sukamah bisa membuat tiga hingga lima payung, bergantung pada pesanan dan tenaga yang dipunyai.

“Kalau buat ini satu jam paling dapat dua. Tapi itupun saya sela dengan kegiatan keseharian seperti masak. Pesanan kebanyakan untuk tari ataupun untuk hiasan atau untuk upacara pemakaman,” urainya.

Di masa senjanya, ia tak berharap banyak kerajinan itu akan diteruskan oleh anak-anaknya.

“Kini dibantu anak saya Rahman, namun ia juga tidak fokus karena mengurus bengkelnya. Ya mungkin kalau saya sudah tak ada, maka tidak ada lagi yang meneruskan kerajinan payung kertas,” ujar Sukamah sambil tersenyum penuh makna. 

Editor: Supriyadi

Modernisasi Tak Terbendung, Sanggar Dewi Arimbi Pati Kampanyekan Budaya Tradisional

Salah satu pementasan seni dalam pembukaan Sanggar Dewi Arimbi di Pundenrejo, Tayu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sanggar Dewi Arimbi yang baru saja dilaunching di Pundenrejo, Tayu mulai mengkampanyekan seni dan budaya tradisional di tengah gempuran modernisasi yang tidak terbendung.

Pemilik Sanggar Dewi Arimbi, Novie Iskandar mengaku prihatin kebudayaan tradisional mulai tergeser dengan modernisasi yang menyebar ke berbagai lini kehidupan tanpa filter.

Dia khawatir, kemajuan modernisasi yang tidak dibarengi dengan akomodasi kearifan lokal akan membawa petaka bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, sanggar seni dan budaya yang ia kelola siap mengkampanyekan kebudayaan tradisional.

“Tidak muluk-muluk, kami hanya ingin agar seni dan budaya di Pati terus berjalan di tengah arus modernisasi yang terus berkembang ke segala lini kehidupan,” ujar Novie, Selasa (31/10/2017).

Salah satu upaya yang ia lakukan, antara lain menampung kreativitas seni dan budaya untuk anak-anak tidak mampu. Menurutnya, setiap anak punya bakat di bidang kesenian.

Tapi, tidak semua anak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan seni. Hal itu yang menjadi alasan Novi untuk mendirikan Sanggar Dewi Arimbi.

“Kami ingin menampung kreativitas seni dan budaya anak-anak, terutama yang tidak mampu tapi punya bakat yang tinggi. Mereka hanya membayar Rp 2 ribu setiap kali datang sebagai donasi saja,” papar Novie.

Pembukaan Sanggar Dewi Arimbi sendiri melibatkan banyak pihak, terurama seniman dan masyarakat. Tari Pencak Silat dan Campursari ditampilkan untuk menghibur masyarakat.

Editor: Supriyadi

Mbah Parmo Tak Ingin Seni Kentrung di Jepara Terkubur Bersama Dirinya

Mbah Parmo memraktekan kebolehannya bermain terbang atau rebana, Sabtu (23/9/2017). (MuriaNewsCom/Padang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Seni Kentrung mendarah daging pada diri Parmo (65), namun di usia senjanya ia merasa was-was kalau-kalau seni bertutur itu akan ikut mati bersamanya.

Ketakutannya itu seolah nyata, karena hingga kini belum ada murid yang mau diwarisi seni khas pesisir utara Jawa itu. Dan faktanya di Jepara, seni itu tinggal dua orang yang menguasainya yakni Parmo dan Madi

Ketika MuriaNewsCom, menyambangi rumah Mbah Parmo di Gang Kentrung Desa Ngabul-Tahunan, Sabtu (23/9/2017), pria berkumis putih itu mengaku sedang mengurus kambing-kambing peliharaannya. Sambil menyesap rokok kretek tanpa filter, ia bersedia bercerita tentang apa itu seni kentrung dan bagaimana ia bisa menceburkan diri didalamnya.

Kepulan asap putih dari mulutnya tak berhenti menyembur. Mbah Parmo menguraikan kentrung adalah seni bercerita diiringi tabuhan terbang (rebana). 

Ceritanya sendiri berasal dari hikayat ataupun legenda mengenai suatu daerah.

“Kesenian kentrung niku nabuh terbang karo ngomel, diseseli parikan kanggo senggakan. Biasane dimainke wong loro, sing siji cerita sejarah, sijine nyenggaki (Kesenian kentrung adalah menabuh terbang sambil bercerita, kemudian diselipkan pantun sebagai penjeda. Biasanya dimainkan dua orang, yang satu bercerita tentang sejarah dan yang satu berpantun),” katanya yang mengaku tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Ia sendiri bisa Ngentrung karena belajar secara otodidak tanpa panduan dari ayahnya, Subari pada sekitar tahun 1964. Lantas pada tahun 1970 ia dipercaya tampil satu panggung dengan ayahnya. Tugasnya adalah nyenggaki, atau berpantun. Sementara itu ia diminta oleh ayahnya untuk memelajari dan mengingat setiap hikayat yang dituturkan oleh gurunya itu.

Ceritane Kentrung iku babagan sejarah, kayata Angling Dharma, Jalak Mas, Murtosiyah, Juwarsah, lan Joharmanik. Mbiyen pa’e duwe catetane pakem, tapi disilih uwong ora balik. Dadi saiki aku ora duwe pakem tulis, pakemku iki ya saka ngelmu rungok saka bapaku Subari (Cerita kentrung berkisah tentang sejarah, seperti Angling Dharma, Jalak Mas, Murtosiyah, Juwarsah, dan Joharmanik. Dulu ayah saya punya catetan pakem tentang lakon itu, tapi bukunya dipinjam orang dan tidak kembali. Jadi sekarang aku tak punya panduan secara tertulis, cerita yang kini ku ceritakan berasal dari ilmu mendengarkan dari bapak saya),” kenangnya.

Dulu saat zaman keemasan kentrung di Jepara, setidaknya tercatat ada delapan orang yang memainkan seni tersebut. Namun sekarang hanya tinggal dua orang yang masih ngentrung.

Mbiyen ana Pak Rus, Sumo, Suhari, Kamsi, Paidi dan Karisan, klebu kula Parmo kaliyan Madi. Tapi saki kari aku karo Madi,( Dulu ada seniman kentrung seperti Rus, Sumo, Suhari, Kamsi, Paidi dan Karisan, termasuk aku Parmo dan Madi. Namun sekarang tinggal saya dan Madi yang masih ngentrung),” ujarnya.

Kini ia memang hanya bermain dengan Madi, saudara satu guru. Menurutnya, hingga kini belum ada orang yang benar-benar tertarik memelajari kesenian itu. Banyak orang yang melakukan penelitian, namun untuk memelajari dan mementaskannya tidak ada.

Mbah Parmo sangat menyayangkan hal tersebut, karena menurutnya seni tersebut tak hanya hiburan dan mata pencaharian, namun didalamnya mengandung pembelajaran. Sementara anak-anaknya hingga kini belum mau mempelajari seni kentrung itu dengan serius.

 “Sinau Ngentrung iku ora gampang, kejaba kudu isa nabuh terbang kudu cerdas ngapalake sejarah lan paling penting kuat mental ngadepi wong akeh (Belajar ngentrung itu tidak gampang, selain bisa memukul terbang tapi harus cerdas menghapalkan sejarah dan paling penting mentalnya harus kuat menghadapi orang banyak),” ungkap Mbah Parmo.

Ia mengatakan, telah mengumumkan bahwa dirinya sanggup untuk mengajari seni kepada siapa saja yang berminat. Itupun akan diajarinya tanpa biaya, namun hingga kini belum ada satupun yang mau.

Eman-eman yen ilang, kula siap upami wonten ingkang ngregem ilmune kula ngentrung, kula nggih pun sepuh.  Sedaya niku mboten usah mbayar (Sayang kalau seni ini sampai hilang, saya siap menerima murid yang mau dan tidak usah membayar),” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Meriah, Kirab Sendang Widodari Desa Menawan Kudus Diikuti Ratusan Warga

Kegiatan teatrikal dalam kirab Sendang Widodari Desa Menawan jadi tontonan warga, Kamis (21/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga Desa Menawan, Kecamatan Gebog mengelar kirab Sendang Widodari, Kamis (21/9/2017). Kirab dimulai dari Balaidesa, dengan final di lapangan bumi perkemahan Menawan.

Kades Menawan Sholihin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan tutin yang dilakukan setiap tanggal 1 Muharrom. Meski begitu, peserta kirab tak pernah surut. Buktinya, dalam kirab kali ini, setidaknya ada 500 peserta yang berpartisipasi.

“Ini merupakan kali kedua diselenggarakan. Dan tahun ini jauh lebih meriah lagi ketimbang tahun lalu. Karena kini terdapat teatrikal di ujung acaranya,” katanya kepada MuriaNewsCom usai kegiatan.

Menurut dia, sebelum mencapai finish, para peserta kirab harus berjalan sekitar 1,5 kilometer. Selama perjalanan, banyak warga yang menonton, lantaran termasuk event yang ditunggu-tunggu.

Dalam pertunjukan teatrikal, yang diangkat adalah kekeringan yang melanda kawasan Menawan puluhan tahun lalu. Saat itu, hanya sendanglah yang masih memiliki air, dan menyelamatkan warga setempat.

Ditambahkan, yang diangkat adalah sendang widodari, yang terdapat di dalam desanya untuk kebutuhan masyarakat. Sendang tersebut diketahui tak pernah kering dan hingga kini digunakan untuk kebutuhan warga.

Editor: Supriyadi

Fasbuk Akan Gelar Kegiatan Tari Karya Sanggar Seni Ciptoning Asri Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Info terbaru, Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerja sama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya. Kali ini menampilkan pertunjukan tari dan diskusi budaya dengan menghadirkan judul “Nitik Sasmaya” di auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Sabtu (19/8/2017) pukul 19.30 WIB.

Ketua Badan Pekerja Fasbuk Arfin mengatakan, edisi Agustus 2017 mengangkat sebuah pertunjukan tari karya dari Sanggar Seni Ciptoning Asri Kudus, dengan judul ” Nitik Sasmaya ” (Keindahan dari Gabungan Titik-titik). “Sebuah pertunjukan yang akan menggambarkan keindahan karya batik yang telah ada secara turun temurun dan dilestarikan sampai sekarang. Membatik merupakan salah satu pembelajaran pengendalian diri, mempererat tali persaudaraan dan persatuan,” katanya dalam rilis pers ke MuriaNewsCom.

Proses pembuatan batik dari mulai menggambar pola, nyanting, hingga nglorot yang dilakukan dengan bekerja sama, akan menghasilkan karya yang indah sebagai bukti keindahan dari negeri ini. Dalam pengkaryaan tersebut terdapat nilai-nilai luhur pembelajaran tentang makna dan nilai-nilai kehidupan. Semua itu akan dirangkai dalam sebuah rangkaian koreografi yang akan dimainkan oleh para penari dari Sanggar Seni Ciptoning Asri. Selain pertunjukan nantinya juga akan dilanjutkan dengan sesi bincang-bincang bersama tentang proses penciptaan karya Nitik Sasmaya.

Tentang Fasbuk, adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinyu untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Editor : Akrom Hazami

Fasbuk Sukses Adakan Kegiatan Sastra “Kreatif itu Keren”

Salah satu penyair muda membacakan karya puisi dalam perhelatan Fasbuk di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam. (ISTIMEWA)

Salah satu penyair muda membacakan karya puisi dalam perhelatan Fasbuk di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, bekerjasama dengan KSR PMI Universitas Muria Kudus,  akhirnya sukses menggelar diskusi serta pertunjukan dengan tema “Kreatif Itu Keren” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam.

Panitia Arfin AM mengatakan, kegiatan Fasbuk edisi Januari 2017 menghadirkan Sastrawan Aceh dan Tangerang. Selain diskusi, digelar pertunjukan pembacaan puisi dari  penyair muda Kudus yang mengapresiasi atas karya kedua narasumber, Mustafa Ismail dan Iwan Gunadi.

“Mereka merupakan dua sosok sastrawan atau penulis yang mempunyai ciri  khas dalam karyanya. Keduanya mempunyai bekal pengalaman perjalanan yang hampir sebanding dalam hal “menulis”, Mustafa Ismail seorang penulis kelahiran Aceh, sekarang tinggal di Jakarta aktif  di majalah Tempo sebagai Direktur Seni / Budaya. Banyak karyanya yang dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional,” katanya.

Sedangkan Iwan Gunadi  seorang penulis yang mempunyai  pengalaman menjadi seorang “pendidik” ini sejak tahun 2008 merupakan seorang penulis dan penyunting lepas bagi organisasi dan perusahaan. “Kejujuran dan semangat yang membuat keduanya sekarang bertahan sebagai penyair,” ujarnya.

Diskusi  dimoderatori oleh salah satu satrawan Kudus Jumari HS. Kegiatan berjalan meriah. Fasbuk mengadakan acara rutin setiap bulannya. 

Editor : Akrom Hazami

Bina Budaya Jawa, Ini yang Dilakukan Permadani Blora

Para peserta sedang melakukan pendidikan kursus oleh Permadani Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Para peserta sedang melakukan pendidikan kursus oleh Permadani Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pemberdayaan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Kabupaten Blora merekrut 34 peserta didik Angkatan VIII (Bregade VIII) tahun 2016. Mereka dididik untuk lebih faham dan detail perihal budaya leluhur tanah Jawa, melalui kursus pranatacara.

Mereka dididik selama enam bulan, dengan tempo sepekan dua kali, yakni setiap Jumat sejak pukul 14.00 WIB dan setiap Minggu pukul 09.00 WIB di Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora.

Suntoyo, Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI mengungkapkan, Permadani merupakan organisasi yang melestarikan budaya nasional Indonesia. Tujuannya antara lain adalah menggali, membuka dan melestarikan kebudayaan peninggalan para leluhur.

Kelas kursus Pranatacara dibuka untuk melestarikan adat budaya Jawa. Para peserta didiknya datang dari berbagai kalangan. Di antaranya dari mahasiswa, pegawai kantoran, anggota Polri dan TNI hingga pensiunan.

Para peserta mendapatkan berbagai materi dari sejumlah pakar budaya Jawa di Blora. Yaitu mengenal tata cara busana khas Jawa dalam ngedi busana, kemudian gendhing Jawa dalam sekar dan gendhing kepranatacaraan.

”Dan yang tidak ketinggalan subasita atau budi pekerti. Materi yang diberikan, 60 persen praktik dan 40 persen teori,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kegiatan Budaya yang Disisipi Bazar Bikin Acara Kian Wow

Kegiatan expo yang diadakan di Loram, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan expo yang diadakan di Loram, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Maraknya kegiatan budaya yang di dalamnya disisipi bazar atau pameran produksi, memang membuat acara kian menarik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Sunardi mengatakan kegiatan kebudayaan yang ada expo atau bazar memang mampu menarik minat warga untuk datang.

“Tapi harapannya itu tidak membuat masyarakat menjadi konsumtif,” kata Sunardi. Adanya kegiatan expo sedikit banyak sangat mampu meningkatkan kreativitas atau kreasi dalam berwiraswasta. Sehingga peningkatan ekonomi masyarakat akan bisa tercapai.

Dia mencontohkan, untuk acara terbaru yang menyisipkan bazar beberapa waktu terakhir adalah Ampyang Maulid dan karnaval Patiayam di Terban, Jekulo.

“Yang penting kegiatan expo itu bisa bermanfaat secara luas serta berjangka panjang. Yakni masyarakat bisa ikut berperan aktif serta menambah pengetahuan berkreativitas menonjolkan produk buatannya untuk dipasarkan,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Kenalkan Sejarah, Pemuda Terban Adakan Festival Pati Ayam

Festival Pati Ayam (e)

Segenap panitia dan warga saat mengikuti kirab Pati Ayam yang termasuk dalam serangkaian acara Festival Pati Ayam, Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Minggu (20/12/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Guna mengenalkan sejarah purbakala kepada masyarakat, para pemuda Desa Terban, Jekulo mengadakan Festival Pati Ayam. Kegiatan yang didukung oleh pihak desa, kecamatan serta kabupaten tersebut bertujuan memberikan pendidikan tersendiri kepada masyarakat luas supaya bisa bersama-sama menjaga serta merawat sejarah.

Ketua kegiatan Festival Pati Ayam Terban Khoris Roviadi mengatakan, meskipun Situs Pati Ayam ini sudah dikenal sebagian kalangan masyarakat sekitar. Namun pihaknyajuga perlu untukmengangkat atau mengenalkan tempat ditemukannya fosil manusia purba ini kepada khalayak yang lebih luas lagi dengan cara yang berbeda.

Sebelumnya acara semacam ini juga pernah terselenggara, yaitu pada tahun 2014. Dan ini merupakan kali kedua dan bertempat di lapangan Desa Terban, Jekulo. Kegiatan ini diharapkan sebagai sarana mengeksplorasi pengetahun para pengunjung. Baik itu dari wilayah Kudus ataupun sekitarnya.

”Acara yang kali kedua ini kami tambahkan dengan kirab Pati Ayam, yang diikuti oleh siswa SD serta warga,” paparnya.

Dengan adanya kirab tersebut, bisa menarik perhatian masyarakat. Dan kedepan, membuat masyarakat lebih antusias untuk selalu berkunjung serta ingin tahu terhadap peninggalan sejarah purbakala tersebut di Situs Pati Ayam. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Empat Seni Kebudayaan ini Bisa Punah Jika Tidak Dilestarikan Pemuda Rembang

ilustrasi

ilustrasi

 

REMBANG – Kabupaten Rembang memiliki sejumlah seni kebudayaan yang cukup unik. Berikut beberapa seni kebudayaan khas Kabupaten Rembang versi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Rembang.

1. Emprak
Emprak merupakan bentuk seni trasional drama yang masih eksis di Kwangsan, Kecamatan Kaliori, Rembang. Kesenian tradisonal ini mirip dengan seni kethoprak. Tapi pada awal penyajian acara ditampilkan atraksi yang membawa tari Remong Anak diiringi gamelan dan rebana.
Para pemain emprak, biasa pentas di emper rumah dan lesehan (nglemprak). Akhirnya lama kelamaan disebut dengan seni emprak. Cerita dalam kesenian Emprak ini mengambil cerita sejarah dalam kehidupan di kerajaan Majapahit.

2. Rodhad
Rodhad merupakan sejenis kesenian tradisional yang semula tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren di Rembang. Seni tari dan dendang lagunya syarat dengan syair petuah, gerakan tarinya pun konon sebuah runutan seni bela diri yang terbungkus dalam indahnya gerak.
Kesenian ini merupakan seni gerak dan vokal diiringi tabuhan rebana. Syair-syair yang dinyanyikan bernafaskan keagamaan, yakni puja-puji yang mengagungkan Allah SWT dan Rasulullah. Selain bernafaskan keagamaan, biasanya syair yang dinyanyikan berkisah tentang pengorbanan para Kiai dan rakyat menentang penjajahan kompeni Belanda saat Indonesia belum merdeka.

3. Gandario
Tari Gandario merupakan kesenian khas Rembang yang berasal dari Desa Kedungtulup, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. Kesenian tradisional masyarakat khas Kabupaten Rembang ini berbentuk drama atau sandiwara dengan mengangkat cerita rakyat yang legendaris yaitu ande-ande lumut.
Awalnya tari Gandario adalah penggambaran pengungkapan perasaan cinta dua insan sehingga gerakannya erotis yang dilambangkan dengan kekuatan otot pria dan lemah gemulainya wanita.

4. Pathol Sarang
Pathol Sarang merupakan kesenian tradisional yang berkembang di lingkungan pesisir pantai terutama di Kecamatan Sarang Rembang. Kesenian ini mempertunjukan adu kekuatan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.

Tiap-tiap kelompok mempunyai algojo atau jago kepruk. Selain itu, setiap kelompok juga mempunyai satu orang landang (promotor) yang bertugas menunjukan atau memamerkan kekuatan jagonya dalam adu kekuatan yang sangat akrobatik.

Kepala Disbudparpora Rembang, Sunarto menyatakan pihaknya sangat mendukung keberlangsungan seni tradisional di Rembang. Menurutnya kalau tidak masyarakat Rembang sendiri, siapa lagi yang akan melestarikan warisan leluhur. ”Jangan sampai masyarakat Rembang justru tidak tahu seni kebudayaan di daerahnya sendiri,” tandasnya ketika ditemui MuriaNewsCom, Senin (13/12/2015). (AHMAD WAKID/TITIS W)

Tahukah Anda, Jika Pohon Langka Ini Cuma Ada di Kaliwungu Kudus

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Di sekitar Sendang Kaliwungu yang berada di Dukuh Kaliwungu, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, terdapat pohon langka yang tumbuh, dan hanya ada di situ. Jumlahnya pohon langka tersebut ada dua.

Kedua pohon ini diyakini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Meski jenisnya berbeda, namun kedua pohon tersebut  memiliki ukuran yang sama besar.

”Ada dua pohon yang terdapat di sekitar sendang, yakni pohon gempol dan pohon wungu,” kata Roni, pengurus Sendang Kaliwungu kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kedua pohon tersebut hanya terdapat disana. Bahkan, lingkungan desa dan disekitar desa tidak dijumpai pohon serupa seperti di sekitar sendang.

Namun belakangan, muncul bibit pohon tersebut disekitar sendang. Beberpa warga, perangkat desa dan petugas kecamatan juga hendak menanam pohon tersebut, namun dari warga belum memperbolehkan.”Nanti sajalah, kalau sudah musim hujan. Soalnya pohonnya bagus, kalau berbunga  warnanya ungu,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Sendang Bersejarah di Desa Kaliwungu Kembali Dihidupkan

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sendang bersejarah di Desa Kaliwungu, Kudus, yakni Sendang Kaliwungu kembali dihidupkan warga. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan kepada masyrakat tentang sejarah desa tersebut yang berhubungan pada sendang.

Roni, pengurus Sendang Kaliwungu mengatakan, sendang tersebut sebenarnya sudah lama ingin dibuka kembali, hanya karena awalnya tanah tersebut milik seorang warga, maka tidak dapat dilakukan pengembangan untuk perawatan sendang.

”Sekarang sudah milik desa, jadi sudah dapat dilakukan pembenahan terkait sendang yang terdapat di Dukuh Kaliwungu, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu tersebut,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Sekretaris Desa Kaliwungu Zunakha mengatakan, sendang tersebut berpengaruh pada keberadaan dan nama desa Kaliwungu. Untuk versi pertama, penamaan Desa Kaliwungu tak lepas dari cerita pertarungan Arya Penangsang, yang darahnya mengalir di sugai desa tersebut dan mengakibatkan airnya berwarna ungu.

“Kemudian, untuk versi kedua juga ada yang menyebutkan bahwa nama Desa Kaliwungu berasal dari sendang yang mengalir air yang jernih dan deras bagaikan sungai.Di mana, di sekeliling sendang tersebut tumbuh pohon wungu, yakni pohon yang getah dan bunganya berwarna ungu. Dari situlah nama Desa Kaliwungu berasal,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Ada Tradisi Unik Jamaah Salat Idul Adha di Desa Bangoan Usai Salat

Sejumlah jamaah usai salat Idul Adha di masjid Al Mutaqin bersiap untuk menyantap nasi tumpeng bersama-sama. Hal itu merupakan tradisi sejak dahulu di desa Bangoan setiap usai salat ied. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah jamaah usai salat Idul Adha di masjid Al Mutaqin bersiap untuk menyantap nasi tumpeng bersama-sama. Hal itu merupakan tradisi sejak dahulu di desa Bangoan setiap usai salat ied. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Hari ini sebagian umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Begitu juga masyarakat di Desa Bangoan, Dukuh Banyubang, Kecamatan Jiken, yang sebagian besar melaksanakan salat ied Adha hari ini di masjid Al Mutaqin. Namun jamaah yang hadir tidak sebanyak ketika salat Idul Fitri beberapa waktu lalu.

”Salat hari raya Idul Adha tahun ini tidak bersamaan, ada yang sudah merayakannya kemarin. Namun meskipun tidak bersamaan, di sini tetap rukun dan berjalan lancar,” jelas salah satu tokoh Agama Sujono, Kamis (24/9/2015).

Ia menjelaskan, salat Idul Adha dimulai pukul 06.00 WIB. Diperkirakan jamaahnya berkurang hampir 20 persen. ”Jamaahnya lebih sedikit, dikarenakan banyak warga yang merantau tidak pulang ke kampung halaman. Berbeda pada saat hari raya Idul Fitri mereka pulang semua dan halaman masjid penuh. Sebagian besar para pelajar juga mengikuti salat ied di sekolahnya,” ungkapnya.

Susanto sebagai khotib mengajak para jamaah salat ied, untuk bisa memaknai hari raya kurban ini dengan mengingat dan belajar dari keikhlasan Nabi Ibrahim AS. ”Mari kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah, agar nantinya kita dapat syafaat di akhir yaumil nanti,” jelasnya.

Pihaknya juga tak lupa mengajak jamaah untuk berkurban bagi yang mampu dan mengajak mulai hari ini untuk bisa lebih mendekatkan diri pada sang kuasa. Sehingga makna untuk selalu mengenang ketika Nabi Ibrahim AS harus menyembelih putranya Ismail AS untuk berkurban, demi kecintaan Ibrahim kapada Allah harus dijadikan tauladan bagi semua umat Islam, bahwa apa yang menjadi kehendak Allah harus kita lakukan dengan ikhlas.

Sekedar diketahui usai salat ied sebagian jamaah tak lekas pulang. Mereka membawa tumpeng untuk dimakan bersama. Hal ini sudah menjadi tradisi di desa tersebut, untuk mempererat rasa persaudaraan antar warga. (PRIYO/TITIS W)

Saat Anak Seusianya Gemari JKT 48, Elvia Asyik  Memainkan Wayangnya di Blora

Elvia Trisnawati, satu-satunya dalang cilik perempuan yang ada di Blora. (MuriaNews/Priyo

Elvia Trisnawati, satu-satunya dalang cilik perempuan yang ada di Blora. (MuriaNews/Priyo

 

BLORA- Elvia Trisnawati, Siswi SD Kemiri II Jepon, Blora merupakan satu-satunya dalang wanita yang berada di Kabupaten Blora.

Dia mulai menggeluti dunia wayang pada kelas 5 SD semester II. Gadis yang lahir pada tanggal 4 Februari 2004 itu sudah mahir memainkan wayang.

”Awalnya ya sering lihat bersama bapak kok kayaknya menarik jadi lama kelamaan menjadi suka,” kata Elvia, Sabtu (8/8/2015).

Selain itu juga, dia tertarik karena sering mendapat dorongan dari orang tua dan guru.

“Ndak malu, awalnya sebelum punya wayang latihannya menggunakan kardus, dan sekarang latihan di sanggar Yudistiro di Desa Kemiri Rt 5/4 Kecamatan Jepon,” ungkapnya.

Dalang yang suka dengan tokoh perwayangan Gatot Kaca dan Srikandi ini mengaku senang bisa tampil di acara wayangan rutin malam Jumat Pon di Blora.

Sementara itu pengasuh dari Elvia, yang juga pemilik sanggar dalang Yudistiro , Hartono Gondomartono mengatakan daya semangat dan jiwa seni yang dimiliki oleh Elvia sangat tinggi sehingga tak heran belum ada satu tahun dia sudah terampil memainkan wayang dan sudah berani tampil di depan umum.

“Peningakatannya sangat cepat, ia juga sering latihan di rumah dengan wayang yang dimilikinya. Dan dia juga hanya satu-satunya dalang wanita yang ada di Blora. Bahkan hanya satu-satunya dalang wanita yang ada di eks Karesidenan Pati,” ujar Hartono.

Dia berharap nantinya akan ada srikandi- srikandi Blora bisa ikut melestarikan seni wayang yang ada di wilayah setempat.

“Mudah-mudahan dengan adanya dalang cilik wanita. Supaya tidak tergerus dengan budaya-budaya lainya yang mulai bermunculan” harapnya. (PRIYO/AKROM HAZAMI)

Inilah Urutan Acara Kirab Parade Sewu Kupat Desa Colo

Taman Ceria Colo yang menjadi lokasi atau tempat finish Kirab Parade Sewu Kupat yang diselenggarakan Jumat (24/7/2015), dan dibuka oleh Bupati Kudus Musthofa pada pukul 07.00 WIB. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Taman Ceria Colo yang menjadi lokasi atau tempat finish Kirab Parade Sewu Kupat yang diselenggarakan Jumat (24/7/2015), dan dibuka oleh Bupati Kudus Musthofa pada pukul 07.00 WIB. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Kirab Parade Sewu Kupat yang diadakan setiap hari ke tujuh Lebaran di Desa Colo, Kecamatan Dawe, telah terkonsep matang. Acara tersebut diselenggarakan Jumat (24/7/2015), yang akan menyedot perhatian masyarakat Kudus maupun luar Kota Kudus. Lanjutkan membaca

BBGRM ke –XII & HKG PKK ke-43 Dicanangkan

Bupati Jepara Ahmad Marzuki membuka Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-XII dan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-43 tingkat Kabupaten Jepara yang ditandai dengan pemukulan kentongan di lapangan Desa Bendanpete, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Rabu (6/5/2015). (MURIANEWS / WAHYU KZ)

JEPARA – Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-XII dan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-43 tingkat Kabupaten Jepara dicanangkan.

Lanjutkan membaca