Mau Salat Subuh, Saeful Justru Temukan Mayat di Depan Musala

MuriaNewsCom, Brebes – Saeful (37), warga Desa Pasarbatang, Brebes, Kamis (8/3/2018) sangat terkejut sat mendapati seseorang tergeletak di depan musala di dekat rumahnya. Ia yang hendak mengaji sebelum salat subuh itu langsung memeriksa, dan betapa kagetnya ternyata pria tersebut sudah tak bernyawa.

Laki-laki tanapa identitas itu ditemukan sudah tak bernyawa di depan Musala Baitul Muhtadin, Kelurahan Pasarbatang, Brebes, sekitar pukul 03.30 WIB. Pria itu tergeletak di pinggir jalan dalam kondisi telungkup menghadap ke timur.

Petugas Polres Brebes yang mendapat laporan langsung mendatangi lokasi tersebut selang beberapa menit kemudian.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto melalui PJS Kapolsek Brebes AKP Sapari menyatakan, petugas langsung mendatangi TKP setelah ada laporan dari warga. ”Tim gabungan dari Identifikasi Polres Brebes dan Sat Reskrim Polsek langsung melakukan olah TKP di tempat tersebut,” ujar Sapari.

Dari hasil pemeriksaan sementara tidak ada indikasi korban mengalami luka ataupun tanda-tanda penganiayaan.

Saat ini jenazah telah berada di RSUD Brebes untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Petugas di lapangan juga mengamankan beberapa barang bukti. Di antaranya pakaian yang korban kenakan dan sarung warna cokelat termasuk beberapa batang dalam bungkus rokok dan sejumlah uang.

Editor : Ali Muntoha

Hingga Hari Keenam, 7 Korban Masih Terpendam Longsor Salem Brebes

MuriaNewsCom, Brebes – Hingga hari keenam, Selasa (27/2/2018), jumlah korban longsor di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes yang belum ditemukan masih tujuh orang. Sejak pagi hari, tim Satgas Tanggap Bencana kembali melakukan pencarian di berbagai titik longsor.

Lamanya proses evakuasi korban karena terkendala hujan dan terbatasnya alat berat. Selain itu, di lokasi tersebut juga potensi longsor susulan masih sangat tinggi.

Bersadarkan rilis BNPB, lebar mahkota longsor sekitar 120 meter. Panjang landaan longsor sekitar 1 km. Tebal longsor antara 5-20 meter. Volume tanah longsor sekitar 1,5 juta meter kubik.

Mahkota longsor berasal dari Perbukitan Gunung lio yang berpenutupan lahan sangat baik. Hutan dengan kerapatan tinggi. Sesuai peruntukan hutan. Tidak ada permukiman di bagian hulu. Lahan sawah ada di bagian bawah.

“Penyebab longsor adalah kemiringan lereng curam, struktur tanah sarang yang gembur dan remah, batuan napal di bagian bawah sebagai bidang peluncur, dan hujan sebagai pemicu longsor. Jadi ini murni bencana alam,”kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Selasa pagi, sebanyak 750 personel tim gabungan Tanggap Bencana masih mencari korban. Hingga saat ini, Posko Tanggap bencana 7 orang yang dilaporkan hilang belum ditemukan.Sebanyak 751 orang mengungsi dibeberapa titik tempat yang aman.

Sebanyak tujuh korban itu, adalah Marsui (64), Suwirso (55), Wastim Wahyu (48), Darsip (55), Sujono (57), Rustam Rusyadi, dan Haryanto.

Selama proses penanganan bencana alam tersebut, tim gabungan juga menemukan sejumlah benda milik para korban, antara lain tiga sepeda motor, serta sejumlah bagian dari tubuh para korban.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Lokasi longsor agar mengungsi di tempat aman, mengingat potensi terjadinya longsor susulan karena curah hujan yang masih cukup tinggi.

”Kami kerahkan semua kemampuan Polri untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban. Lebih dari 500 anggota kita belum termasuk BKO dari jajaran polres sekitar dan Polda Jateng terjun ke lapangan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Bantu Penanganan Banjir Brebes, 6 Personel BPBD Grobogan Dikirim ke Lokasi Bencana

MuriaNewsCom, Grobogan – Dukungan penanganan bencana alam yang melanda wilayah Brebes sejak beberapa hari lalu datang dari berbagai pihak. Termasuk diantaranya adalah dukungan personel Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, ada enam petugasnya yang dikirim ke Brebes untuk membantu menangani bencana dikabupaten tersebut. Tim pendukung diberangkatan Jumat (23/2/2018) malam.

“Enam petugas BPBD sudah berangkat ke Brebes, Jumat malam. Petugas yang mendukung penanganan bencana juga membawa peralatan cukup lengkap,” kata Agus, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/2/2018).

Menurutnya, pengiriman personel ke Brebes dilakukan menyusul instruksi dari BPBD Jateng. Yakni, daerah-daerah yang kondisinya relatif aman diminta mengirimkan tim untuk membantu penanganan bencana di Brebes dan sekitarnya.

“Dari instruksi ini, kita kirimkan enam petugas kesana. Kebetulan, saat ini, intensitas bencana di wilayah Grobogan tidak begitu tinggi sehingga sebagian petugas bisa kita perbantukan ke Brebes,” sambungnya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrcihan menambahkan, tim pendukung sudah tiba di Brebes pagi tadi. Setelah itu, tim bergabung dengan personel lainnya untuk melakukan penanganan bencana.

“Ada dua jenis bencana yang terjadi di Brebes, yakni banjir dan longsor. Kita diminta mendukung penanganan bencana banjir. Khususnya, untuk membantu evakuasi warga,” kata Masrichan yang ikut bergabung ke Brebes itu.

Editor: Supriyadi

Potongan Tangan dan Kepala Ditemukan dari Longsor Brebes

MuriaNewsCom, Brebes – Tim SAR gabungan, hingga Sabtu (24/2/2018) masih terus melakukan pencarian terhadap korban longsor di Desa Panjirpanjang, Kecamatan Salem, Brebes. Hingga kini dilaporkan masih ada 13 orang yang belum ditemukan.

Proses pencarian melibatkan tim SAR Polri dan TNI. Polda Jateng juga mengerahkan dua anjing pelacak K9 untuk mendeteksi mayat.

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, pagi tadi mengunjungi lokasi longsor. Ia menyebut, untuk melakukan pencarian dan evakuasi ada berbagai kendala yang ditemui tim SAR di lapangan.

“Kesulitan dan kendala dalam mengevakuasi korban adalah material-material longsor ini. Luas areal longsoran kurang lebih 4 km dan panjangnya 2 km, serta tebalnya sekitar 5-8 meter,” katanya.

Ia menyebut, dalam proses pencarian tim di lapngan menemukan sejumlah potongan tubuh. Yakni tangan dan kepala. Bagian tubuh yang diduga korban longsor ini diangkat dari sekitar aliran sungai di Desa Pasirpanjang yang berjarak 2 km dari titik longsor.

Temuan ini berawal dari laporan warga yang ikut melakukan pencarian di lokasi aliran Sungai Cipangurudan. Mereka kemudian menemukan potongan kepala yang tertimbun lumpur. Dari temuan ini, mereka melaporkan ke posko bencana.

“Untuk korban hingga saat ini masih dinyatakan berjumlah 13 yang belum ketemu. Dan juga di temukan potongan-potongan tubuh berupa tangan, kaki dan kepala di timbunan longsor,” ujar Kapolda Jateng.

Polisi juga melakukan pencarian korban longsoran di aliran sungai. (Polda Jateng)

Potongan-potongan tubuh ini nantinya akan dicocokkan dengan bagian tubuh lain yang ditemukan. Polda Jateng telah mengirimkan tim DVI dari Biddokkes Polda Jateng. Tim DVI ini nantinya akan melakukan identifikasi para korban longsor.

Condro juga menghimbau kepada masyarakat yang tinggal di lereng gunung agar tetap waspada apabila hujan turun. Selain itu, pihaknya juga meminta Bhabinkamtibmas, Babinsa hingga lurah dan camat untuk menggiatkan patroli siaga bencana.

“Saya mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di lereng- lereng gunung agar tetap waspada bencana,” imbaunya.

Laporan terbaru, longsor yang terjadi di kawasan Gunung Lio, Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem ini membuat puluhan orang tertimbun. Delapan korban meninggal telah ditemukan terkubur material longsor.

Sementara 13 orang dinyatakan masih hilang dan dalam proses pencarian. Longsor itu juga menyebabkan satu orang mengalami luka berat dan 12 orang lain mengalami luka ringan.

Pemprov Jateng memastikan, korban bencana ini akan mendapat jaminan pengobatan dan santunan. Untuk keluarga korban meninggal akan diberi santunan sebesar Rp 10 juta dan korban luka-luka diberi santunan Rp 7,5 juta.

Editor : Ali Muntoha

Baca juga : 

18 Korban Longsor Salem Brebes Masih Tertimbun, Polda Kirim Brimob dan Anjing K9

MuriaNewsCom, Brebes – Proses pencarian korban tertimbun longsor yang terjadi di Pegunungan Lio, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, hingga Jumat (23/2/2018) terus dilakukan tim gabungan. Sejak peristiwa longsor itu terjadi Kamis (22/2/2018) kemarin, baru enam jenazah korban yang ditemukan.

Sementara dari pendataan, diperkirakan masih ada belasan korban yang masih tertimbun. Untuk melakukan pencarian ini, tim SAR gabungan dari berbagai instansi dikerahkan. Bahkan Polda Jateng juga mengirimkan pasukan Brimob dan anjing pelacak K9.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono mengatakan, pasukan Brimob yang diterjunkan mempunyai kualifikasi SAR. Selain itu juga menurunkan pasukan K9 dan anjing pelacak untuk mendeteksi mayat.

“Kami terjunkan pasukan Brimob untuk membantu proses evakuasi para korban dan pasukan K9 Ditsabhara dengan anjing pelacak mayat, untuk melacak para Korban yang diduga masih tertimbun material longsoran,” katanya.

Selain perkuatan dari Pasukan Brimob dan K9 Sabhara Polda Jawa Tengah, pihaknya juga menerjunkan Tim DVI dari Biddokkes Polda Jateng. Tim DVI ini nantinya akan melakukan identifikasi para korban longsor.

“Selain perkuatan dari Polda Jateng, proses evakuasi ini juga akan melibatkan perkuatan dari Polres Pemalang, Polres Pekalongan dan Polres Pokalongan Kota. Pasukan perkuatan ini akan dibekali dengan peralatan dan perlengkapan SAR,” ujarnya.

Seluruh pasukan perbantuan sudah diberangkatkan menuju Polres Brebes dan akan segera melaksanakan evakuasi.

”Evakuasi longsor ini rencana akan dilaksanakan selama 6 hari mulai tanggal 22 Februari sampai dengan tanggal 27 Februari 2018. Ini merupakan keprihatinan bagi kita semua, mohon doanya semoga proses evakuasi ini berjalan lancar,” pungkas Kapolda Jateng.

Sementara itu, dari proses pencarian yang dimulai pagi tadi ditemukan potongan dua kaki korban. Namun diketahui potongan kaki ini merupakan milik korban bernama Casto yang jenazahnya ditemukan, Kamis kemarin.

Baca : Puluhan Petani di Salem Brebes Tertimbun Longsor, Masih Ada yang Hilang

Kedua kaki ini ditemukan warga dalam kondisi terbenam dalam lumpur yang berjarak 2 km dari lokasi bencana. Sepasang kaki ini juga ditemukan di tempat terpisah. Yakni di daerah aliran sungai Cipangurudan Pasirpanjang.

“Kemungkinan besar milik Casto, karena pada saat dievakuasi, jenazah Casto tidak lengkap, hanya badan dan kepala. Jadi baru 5 jenazah yang sudah dievakuasi. Ini masih terus melakukan pencarian,” ujar dr Nani Yulia, Kepala Urusan Kesehatan Polres Brebes.

Dengan begitu sebanyak 18 orang masih dilaporkan hilang. Sedangkan 6 orang sudah ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (22/2). Sebanyak 14 korban lainnya mengalami luka.

Camat Salem, Apriyanto Sudarmoko nengatakan, korban yang ditemukan meninggal dan telah teridentfikasi masing masing Hj Karsini (56) alamat Desa Pasirpanjang, Wati (65) Pasirpanjang, Karto Pasirpanjang, Radam (50) Pasirpanjang dan Siswan (40) warga Pasirpanjang.

Satu orang yang sebelumnya ditemukan masih bernyawa, atas nama Caski (50) juga akhirnya meninggal setelah dirawat di RSUD Majenang. Sehingga total korban meninggal dunia sebanyak enam orang

“Yang selamat dan luka luka ada 14 dan hilang ada 18 orang. Kami masih terus melakukan pencarian,” kata Apriyanto.

Editor : Ali Muntoha

Puluhan Petani di Salem Brebes Tertimbun Longsor, Masih Ada yang Hilang

MuriaNewsCom, Brebes – Bencana tanah longsor terjadi di Pegunungan Lio, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, Kamis (22/2/2019). Longsor terjadi pada pagi hari saat petani tengah beraktivitas di sawah.

Akibatnya, puluhan petani tertimbun material longsor. Laporan sementara ada 21 warga yang tertimbun longsor. Dari jumlah itu, belasan orang berhasil dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka, sementara korban lainnya masih belum ditemukan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, Eko Andalas, memastikan ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlahnya.

“Ada korban jiwa, namun jumlahnya belum dipastikan karena ini sedang pendataan. Ini kami mau ke lokasi,” ucap Eko kepada wartawan.

Longsor di daerah perbukitan itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Berdasarkan data sementara, ada 14 orang yang terluka yang saat ini dirawat di Puskesmas Bentar Salem.

Lokasi longsoran yang menimbun puluhan warga di Kecamatan Salem, Brebes. (istimewa)

Camat Salem, Apriyanto Sudarmoko juga membenarkan ada 17 warga yang dirawat di puskesmas. Selain itu, ada tujuh wrga lain yang dirawat di rumah penduduk setelah berhasil ke luar dari longsoran.

“Tanah perbukitan di Pasirpanjang longsor tadi pagi. Sebelah timur menimbun persawahan dan sebelah barat menimbun jalan utama Gunung Lio,” kata Apriyanto Sudarmoko.

Menurut dia, material longsoran selain menumbun petani juga menimbun dua pengendara motor yang tengah melintas. Dua pengendara itu berhasil diselamatkan dan dirujuk ke Rumah Sakit Majenang.

Jalan yang tertimbun longsor merupakan jalur utama dari Brebes menuju Majenang Cilacap melalui Kecamatan Banjarharjo dan Salem.

Ia juga menyebut, pihaknya belum bisa mendata secara pasti jumlah korban dalam peristiwa itu. Karena menurutnya, personel masih sibuk melakukan pencarian warga yang masih tertimbun.

“Kemungkinan ada yang masih tertimbun, ini kami masih mendata semua. Terakhir ada 11 yang belum diketemukan. Para relawan juga belum bisa terjun ke lokasi karena masih ada pergerakan tanah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Sering Dimarahi dan Dihina Jadi Motif Tarmuji Bunuh Istri dan Gorok Bayinya

MuriaNewsCom, Brebes – Aksi pembunuhan keji yang dilakukan Tarmuji (35) warga Desa Luwungragi, Kecamatan Bulukamba, Brebes, kepada istri dan bayinya yang berumur 1 tahun ternyata hanya disebabkan masalah sepele. Tarmuji kalap karena sering dimarahi dan diejek oleh istrinya.

Pengakuannya, pelaku yang hanya bekerja serabutan sering diumpat dengan kata-kata kotor oleh istrinya. Penyebabnya, karena tersangka tak punya pekerjaan tetap. Sementara Koniti (35) istri yang dihabisi nyawanya oleh tersangka bekerja sebagai buruh pemelihara bawang.

”Motifnya lantaran permasalahan ekonomi keluarga. Mereka sering cekcok (adu mulut). Tak jarang pelaku sering dimarahai dan diejek oleh istri karena masalah yang tidak punya pekerjaan tetap. Pelaku merupakan buruh serabutan,” kata Kapolres Brebes AKBP Sugiarto.

Ia menyatakan, pelaku diamankan oleh polisi pada Selasa (13/2/2018) usai membunuh istri dan bayinya. Tarmuji diamankan di rumah orang tuanya di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Brebes.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto memberi keterangan soal motif pelaku pembunuhan

Dalam pemeriksaan polisi, Tarmuji juga mengakui membunuh istrinya dengan menghantamkan cobek ke kepala korban. Saat dibunuh korban dalam kondisi tertidur. Ia juga mengakui membunuh bayinya yang masih berumur 12 bulan dengan menyayat lehernya.

Bayi yang dibunuh baru diketahui tiga jam setelah penemuan tubuh ibunya. Bayi tersebut ditemukan di tempat pembuangan sampah di belakang rumah, dengan kondisi mengenaskan. Tubuh bayi itu juga ditutup dengan batang pohon pisang.

“Pelaku saat ini masih dalam pemeriksaan intensif petugas. Kami juga dengan mendatangkan psikiater untuk memeriksa kejiwaannya,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan ibu dan bayinya di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018) bikin geger warga. Pasalnya, pelaku pembunuhan ibu dan bayi tersebut adalah suami korban.

Baca juga : 

Tarmuji (35) yang sehari-hari bekerja serabutan dengan sadis membunuh istrinya Koniti (35) dengan cara menghantam kepalanya menggunakan batu cobek. Tak hanya itu, bayi mereka yang masih berumur satu tahun juga ikut dibunuh.

Bayi laki-laki bernama Dimas itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Lehernya nyaris putus diduga digorok bapaknya. Bayi malang itu ditemukan dengan bersimbah darah di tempat sampah belakang rumah. Tubuh bayi itu ditutup dengan gedebog (pohon pisang).

Tubuh bayi Dimas ditemukan saat polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan Koniti. Awalnya, polisi tak menduga jika korban pembunuhan dua orang. Namun saat memeriksa lokasi kejadian diketahui jika bayi korban juga ikut jadi korban.

Kapolsek Bulakamba, AKP Harti, menyebut korban Dimas ditemukan saat tim olah TKP sedang memeriksa bagian dapur rumah. Karena kondisi ruangan cukup gelap, polisi berinisiatif membuka pintu belakang agar ada cahaya masuk.

“Saat melihat keluar, ada mayat anak kecil bersimbah darah yang ditutupi pohon pisang,” katanya pada wartawan.

Diduga mayat bayi ini sengaja ditutup batang pohon pisang agar tidak diketahui orang. Bayi ini ditemukan berselang tiga jam setelah penemuan jasad Koniti.

Saat pemeriksaan lokasi kejadian, polisi juga menemukan pecahan cobek dan pisau dapur. Sementara di dalam kamar, petugas menemukan lagi bagian cobek lainnya.

Editor : Ali Muntoha

Bayi yang Digorok Bapaknya Dibuang di Tempat Sampah Ditutup Gedebog Pisang

MuriaNewsCom, Brebes – Kasus pembunuhan ibu dan bayinya di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018) bikin geger warga. Pasalnya, pelaku pembunuhan ibu dan bayi tersebut adalah suami korban.

Tarmuji (35) yang sehari-hari bekerja serabutan dengan sadis membunuh istrinya Koniti (35) dengan cara menghantam kepalanya menggunakan batu cobek. Tak hanya itu, bayi mereka yang masih berumur satu tahun juga ikut dibunuh.

Bayi laki-laki bernama Dimas itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Lehernya nyaris putus diduga digorok bapaknya. Bayi malang itu ditemukan dengan bersimbah darah di tempat sampah belakang rumah. Tubuh bayi itu ditutup dengan gedebog (pohon pisang).

Tubuh bayi Dimas ditemukan saat polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan Koniti. Awalnya, polisi tak menduga jika korban pembunuhan dua orang. Namun saat memeriksa lokasi kejadian diketahui jika bayi korban juga ikut jadi korban.

Kapolsek Bulakamba, AKP Harti, menyebut korban Dimas ditemukan saat tim olah TKP sedang memeriksa bagian dapur rumah. Karena kondisi ruangan cukup gelap, polisi berinisiatif membuka pintu belakang agar ada cahaya masuk.

“Saat melihat keluar, ada mayat anak kecil bersimbah darah yang ditutupi pohon pisang,” katanya pada wartawan.

Diduga mayat bayi ini sengaja ditutup batang pohon pisang agar tidak diketahui orang. Bayi ini ditemukan berselang tiga jam setelah penemuan jasad Koniti.

Saat pemeriksaan lokasi kejadian, polisi juga menemukan pecahan cobek dan pisau dapur. Sementara di dalam kamar, petugas menemukan lagi bagian cobek lainnya.

“Dengan melihat kondisi korban yang mengalami luka memar di bagian kepala sampai menghitam, kemungkinan Koniti dipukul pakai cobek itu sampai meninggal,” terangnya.

Baca : SADIS! Suami di Brebes Bunuh Istri dengan Cobek, Bayinya Juga Digorok

Dilansir dari detik.com, tetangga korban mengaku tidak menduga Tarmuji bakal setega itu. Sukanto, salah satu tetangga, mengaku sekitar pukul 06.00 WIB melihat Tarmuji ke luar rumah. Bahkan dia sempat terlibat pembicaraan ringan.

Sukanto juga mengatakan semasa hidupnya, Koniti pernah menikah dua kali. Pertama menikah dengan Wiryo dikaruniai seorang anak bernama Parto dan Dwi Anjeli. Setelah bercerai dia menikah dengan Tarmuji dan dikaruniai satu anak bernama Dimas.

Dwi Anjeli lah yang kali pertama memergoki kasus pembunuhan itu. Saat hendak berangkat sekolah setelah menginap di rumah neneknya, Anjeli masuk ke kamar ibunya dan melihat ibunya sudah tidak bernyawa. Dia kemudian meminta tolong pada warga.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Dwi Anjeli pulang dan mendapati ibunya telentang di tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.

“Saya kira ibu masih tidur tertutup bantal, setelah saya buka ternyata ibu meninghal,” kata Anjeli,” yang tak bisa menghentikan tangisnya.

Editor : Ali Muntoha

SADIS! Suami di Brebes Bunuh Istri dengan Cobek, Bayinya Juga Digorok

MuriaNewsCom, Brebes – Tindakan sadis dilakukan seorang suami bernama Tarmuji (35), warga Desa Luwungragi, Kecamatan Bulukamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018). Seperti kesetanan, pria ini tega membunuh istri dan bayinya yang masih berumur satu tahun.

Istrinya bernama Koniti (35), dibunuh dengan luka menganga di bagian kepala yang diduga dihantam pelaku menggunakan batu cobek. Tak hanya membunuh istrinya, pria ini juga membunuh sang bayi dengan cara digorok.

Bayi tak berdosa itu ditemukan tergeletak di belakang rumah. Jasad bayi mungil ini ditemukan tiga jam berselang setelah jasad Koniti ditemukan. Diperkirakan, dua korban dihabisi pelaku pada dini hari.

Kasus ini terungkap saat anak pertama korban, Dwi Anjeli (11) mau berangkat sekolah, setelah menginap di rumah neneknya. Sekitar pukul 05.30 WIB, Dwi Anjeli pulang dan mendapati ibunya telentang di tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.

“Saya kira ibu masih tidur tertutup bantal, setelah saya buka ternyata ibu meninghal,” kata Anjeli, yang tak bisa menghentikan tangisnya.

Mengetahui ibunya sudah tak bernyawa, Ajeli syok dan histeris. Ia berlari ke luar rumah dan memanggil tetangganya. Warga yang kaget juga langsung berlarian mendatangi rumah korban.

Polisi memasang police line saat olah TKP untuk menghalangi warga masuk ke lokasi kejadian. (kumparan)

Salah satunya Sutikno (44). Mendengar teriakan dari Anjeli, Sutikno langsung bergegas lari ke dalam rumah dan melihat Koniti sudah tak bernyawa.

Sutikno bersama warga lain langsung melaporkan kasus ini ke perangkat desa dan Polsek bulukamba. Aparat kepolisian yang datang langsung mengamankan pelaku dan mengevakuasi korban.

Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP) warga kembali dikejutkan dengan penemuan bayi yang sudah meninggal di belakang rumah. Bayi yang merupakan anak pelaku dan korban itu meninggal dengan sejumlah luka. Yakni luka sayatan pada bagian leher, yang diduga digorok oleh pelaku.

Baca : Bayi yang Digorok Bapaknya Dibuang di Tempat Sampah Ditutup Gedebog Pisang

Kapolsek Bulukamba, AKP Harti membenarkan peristiwa ini. Ia menyatakan, peristiwa pembunuhan diperkirakan terjadi pada pukul 02.00 WIB. ”Namun baru diketahui oleh anaknya sekitar pukul 05.30 WIB,” katanya pada wartawan.

AKP Harti menjelaskan, korban menghembuskan napas terakhirnya setelah dihantam dengan benda tumpul di bagian jidat. “Diduga dibunuh dengan cobek. Dihantamkan di bagian jidat. Di lokasi juga ditemukan cobek terbelah dua,” ucapnya.

Diduga, motif pembunuhan itu dilatarbelakangi masalah ekonomi. Namun untuk memastikannya, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan.

Tim Inafis Polres Brebes juga menggali bukti-bukti di lokasi kejadian untuk mengungkap kasus ini. Selama proses olah TKP lokasi pembunuhan dipadati ratusan warga yang penasaran dengan kejadian ini.

Editor : Ali Muntoha

Bayi di Brebes Tewas Setelah Ditolak Puskesmas Bikin Gubernur Marah

Bupati Brebes Idza Priyanti saat menjenguk ibunda Icha, bayi yang meninggal setelah ditolak puskesmas. (istimewa)

MuriaNewsCom, Brebes – Kasus meninggalnya seorang bayi berusia tujuh bulan, Icha Selfia, warga Desa Sidamulya, Kabupaten Brebes, membuat banyak pihak prihatin dan geram. Pasalnya, bayi tersebut meninggal setelah ditolak puskesmas untuk berobat,

Bahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga marah dengan kasus ini. Ganjar meminta secara tegas agar peristiwa itu tidak terulang lagi.

Sebab dikabarkan, kematian putri dari ibu bernama Emiti (32) itu akibat ditolak oleh puskesmas saat akan berobat karena kurangnya syarat administrasi.

“Sudah, saya sudah minta bupati kesana. Saya meminta jangan sampai ada menolak pasien,” tandasnya, Rabu (13/12/2017).

Seperti diketahui, Icha sakit sejak Jumat (8/12/2017). Balita itu mengalami gejala muntah dan berak (muntaber) secara terus menerus. Sebelum dibawa ke puskesmas, Icha dibawa ke tukang urut. Dan oleh tukang urut disarankan untuk dibawa ke puskesmas saja.

Keesokan paginya Sabtu (9/12/2017), sang ibu membawa Icha ke puskesmas Sidamulya dengan berjalan kaki sepanjang 1,5 kilometer. Namun sampai di puskesmas tidak ada penanganan karena alasan kelengkapan administrasi.

Balita itu akhirnya meninggal dunia pada Minggu (10/12/2017) pagi. Peristiwa ini lalu banyak menjadi sorotan media dan juga warganet. 

Mneurut Ganjar, peristiwa harus menjadi pengingat bagi semua pihak agar di masa mendatang tak ada kejadian serupa.

Terlebih lagi Kabupaten Brebes, ungkap Ganjar, baru saja mendapatkan penghargaan Hak Asasi Manusia (HAM) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun bersamaan dengan itu justru terjadi pelanggaran HAM di bidang kesehatan.

“Saya minta Dinas kesehatan tolong dicek betul agar mereka bisa berobat dengan cepat, administrasi dipermudah, mereka dilayani dengan prima, itu penting,” tegasnya lagi.

Melalui akun twitter resminya @pemkab_brebes, Pemkab Brebes juga memberikan penjelasan terkait kejadian itu. Melalui akun itu disebutkan bahwa Bupati Brebes Idza Priyanti langsung berkunjung ke rumah keluarga pasien dan berjanji akan mengevaluasi pelayanan kesehatan di wilayahnya.

Editor : Ali Muntoha

Penganut Sapta Darma Ditolak Dimakamkan di TPU, Pemkab Brebes Ambil Sikap

Penganut Kepercayaan Sapta Darma, Darto (baju batik) menunjukkan lokasi makam warga Sapta Darma di Dukuh Kalenpandan, Desa Pamulihan, Kecamatan Larangan,Kabupaten Brebes. (Foto : elasaonline.com)

MuriaNewsCom, Brebes – Pemakaman penghayat kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Brebes masih menjadi permasalahan yang cukup pelik. Warga melarang penghayat Sapta Darma memakamkan keluarganya di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat.

Kasus penolakan terus terjadi, sehingga tak sedikit penghayat kepercayaan ini yang akhirnya memakamkan keluarga mereka di tanah pekarangan.

Catan Pemkab Brebes saat ini ada sekitar 200 orang yang menganut aliran kepercayaan Sapta Darma di Brebes. Mereka tersebar di beberapa kecamatan yakni di Larangan, Tanjung, Losari, dan Kecamatan Brebes.

Pemkab  Brebes mulai mengambil sikap untuk mengatasi masalah ini. Dikutip dari Tribunjateng.com, Asisten 1 Bidang Pemerintahan, Athoillah, akan menyiapkan lahan pemakaman untuk warga Satpa Darma. Pihaknya akan mengomunikasikan wacana ini dengan pemerintah desa terkait.

“Kami ingin adar desa yang ada penganut kepercayaan disediakan lahan pemakaman. Siapa tahu bisa dicarikan dari tanah bengkok yang tidak terpakai dijadikan pemakaman khusus warga Sapta Darma,” kata Athoillah, Senin (4/12/2017).

Menurutnya, jika pemdes tak bisa memenuhi, pemkab dalam hal ini Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperwaskim) akan menyiapkan lahan. Hanya saja menurut dia, lahan yang dimiliki pemkab lokasinya cukup terpencil, sehingga dikhawatirkan justru akan menimbulkan masalah baru.

“Ada tanah pemkab, tapi lokasinya sangat jauh dari keramaian, di pelosok, misalnya di Maribaya, Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu. Nanti malah jadi persoalan baru lagi karena warga Sapta Darma harus menempuh jarak yang jauh untuk memakamkan kerabatnya,” ujarnya.

Pihaknya menginginkan, agar di tiap desa yang ada penganut aliran kepercayaan diberi lahan khusus pemakaman. Sehingga lokasi pemakamanan tidak terpusat di satu titik saja. Sehingga ia berharap pemerintah desa berlapang dada mau menyediakan lahan pemakaman.

Editor : Ali Muntoha

Pakai GPS, Mobil Rombongan Hajatan Malah Masuk Jurang di Brebes

Minibus yang mengalami ringsek parah di bagian depan usai masuk jurang di Banjarharjo Brebes. (Facebook)

MuriaNewsCom, Brebes – GPS atau navigasi penunjuk jalan tidak selamanya menunjukkan arah yang benar. Satu buktinya adalah, mobil minibus rombongan hajatan dari Cilacap malah masuk jurang di Brebes.

Minibus B-1865-NMO masuk jurang di turunan Simpur Gunung Lio Desa Bandungsari, Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jumat (17/11/2017) dini hari. Tidak ada korban jiwa meninggal dunia. Hanya lima orang penumpang mengalami luka. Tiga di antaranya megalami patah tulang kaki.

Info yang dihimpun, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Mobil rombongan hajatan melaju dari Cilacap hendak ke Tangerang Banten. Seluruh penumpang taka da yang tahu dengan medannya.

Mereka melintas jalan alternatif dengan melalui Bantarkawung dan Salem. Mereka pun memanfaatkan GPS sebagai penunjuk jalan. Pengemudi melintas secara hati-hati mengingat medannya berliku dan masuk zona rawan lalu lintas.

GPS menunjukkan arah yang paling pendek.  Pengemudi mengandalkan GPS dan saat itu menujukkan jalan yang paling cepat.

Kapolres Brebes, AKBP Sugiarto, mengatakan, dalam kondisi medan seperti itu, rem kendaraan malah blong. “Sopir banting stir ke arah kanan dan masuk ke jurang. Mobil pun menabrak pohon di jurang itu,” kata Sugiarto.

Mobil pun dievakuasi sekitar pukul 05.00 WIB.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Guru Madrasah Dibegal di Tonjong Brebes

Naili Inayati (35) warga Blok Tabet RT 02 RW 03 Desa Linggapura, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes saatm menjalani perawatan di Puskesmas Tonjong. (Facebook)

MuriaNewsCom, Brebes –  Naili Inayati (35) warga Blok Tabet RT 02 RW 03 Desa Linggapura, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, dibegal saat melintas jalur nasional Tegal-Purwokerto, Kamis (2/11/2017) malam. Tepatnya di blok Makam Dawa, Dukuh Karangjati, Desa Tonjong, Kabupaten Brebes.

Akibat aksi pembegalan itu, guru Madrasah Ibtidaiyah Mauhamadiyah (MIM) Linggapura, Brebes, ini harus menjalani perawatan. Sebelumnya, korban dirawatt di Puskesmas Tonjong. Saat ini, suaminya Agus Munawar (36) membawanya ke RS Margono Purwokerto.

Mulanya, korban sedang berboncengan dengan suami mnggunakan sepeda motor matik dari Larangan ke wilayah kota Brebes. Saat tiba di jalur Makam Dawa,  tiba-tiba dari arah belakang, muncul dua orang pemotor berboncengan memepetnya.

Kedua pemotor itu langsung merebut tas yang dipegang korban. Aksi rebutan tas antara pelaku dan korban terjadi. Pelaku menggunakan pisau cutter untuk motong tali tas. Akhirnya, tas bisa dipertahankan. Pelaku pun melarikan diri.

BacaDua Siswi SMA Asal Semarang Terciduk Operasi Zebra di Kudus

Korban lama-lama menyadari adanya darah yang terus mengucur dari tangan kirinya. Tangan itu dipergunakannya untuk mempertahankan tasnya.  Suami membawanya ke Puskesmas Tonjong.

“Benar, ada warga desa kami yang jadi korban pembegalan. Saat ini korban sedag menjalani perawatan di RS Margono (Purwokerto,” kata Kepala Desa Linggapura, Zaenal Asikin, Jumat (3/11/2017).

Polsek Tonjong telah menerima adanya laporan kasus pembegalan. Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan.

Editor : Akrom Hazami

Perempuan Muda Bertato Gantung Diri di Brebes            

Tubuh perempuan muda tergantung di Brebes. (Grup WhatsApp)

MuriaNewsCom, Brebes – Perempuan muda bertato, Lia Herlina (20), ditemukan tewas gantung diri di rumah kosnya di Jalan Tentara Pelajar, Kota Baru IV, Brebes, Kamis (21/9/2017) malam. Jenazah korban kali pertama diketahui oleh suaminya, Renda Indrawan (20).

BacaGara-gara Kambing Ribut, Pemilik Rumah di Tambirejo Grobogan Ini Selamat dari Kebakaran

Info yang dihimpun, Renda saat itu baru pulang kerja sekitar pukul 20.00 WIB. Sesampainya di rumah kos, Renda membuka pintu rumah. Dirinya kaget mendapati tubuh istri tercintanya tergantung terikat seutas tali tambang jemuran warna hijau sekitar 1,5 meter. Tali itu terikat di kayu penyekat atas ruangan.

Renda panik dan berteriak meminta pertolongan kepada warga sekitar. Sejumlah warga datang ke lokasi. Warga lainnya melaporkan hal itu  ke polisi. “Saya mendengar ada teriakan minta tolong. Saya bergegas mendatangi sumber suara,” kata salah satu tetangga, Sakila (40).

BacaTragis, Bocah Empat Tahun di Jepara Meninggal Tercebur Sumur

Beberapa saat kemudian petugas kepolisian tiba di lokasi kejadian dan langsung melakukan olah TKP. Hasilnya, polisi menduga jika korban bunuh diri.Untuk kepentingan penyelidikan, polisi membawa jenazah  ke RSUD Brebes.

Editor : Akrom Hazami

2 Pemilik Akun FB yang Menyebut Grinting Brebes Desa Pengemis Ditangkap Polisi

Warga berada di depan gapura Desa Grinting, Bulakamba, Brebes. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Brebes – Polres Brebes akhirnya bertindak usai laporan warga Desa Grinting ihwal penyebutan kampung tersebut sebagai desa pengemis oleh pemilik akun Facebook. Tercatat, ada tiga pemilik akun. Saat ini, polisi telah mengamankan dua pemilik akun. Mereka adalah Bagus Berani Mati dan Tri Oktaviani.

Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Arwansa mengatakan, polisi telah mengamankan dua orang pemilik akun FB. “Mereka kami amankan setelah ada laporan dari warga Grinting,” ujar Arwansa, Sabtu (9/9/2017).  Keduanya ditangkap di rumahnya yakni di Desa Kubangpari dan Sidamulya, Jumat malam. Saat ini, mereka berdua dibawa ke ruang Reskrim Polres Brebes.

Sementara itu, Kepala Desa Grinting, Suhartono, mengatakan, polisi telah menangkap dua orang pemilik akun FB yang menjelekkan nama kampungnya. Sebab, apa yang mereka unggah di FB amat menyakitkan warga desanya. 

Info yang dihimpun, para pemerintah desa yang terkait seperti Desa Grinting, Sidamulya dan Kubangpari melakukan pertemuan guna menyelesaikan masalah. Sebelumnya, gara-gara ulah dari warganet pengguna Facebook, masyarakat Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Brebes, meradang. Mereka akan melaporkan ulah warganet kepada polisi karena dugaan melanggar UU ITE terkait ujaran kebencian di media sosial.

Warga telah beraudiensi dengan pemerintah desa bersama Muspika Kecamatan Bulakamba dan perwakilan Polres Brebes. Mereka marah atas ungkapan pelaku ujaran kebencian di media sosial. Lantaran pelaku menyebut Grinting adalah desa pengemis, Jumat (9/9/2017).

Salah seorang warga, Bagus Handoko mengatakan ada tiga pengguna Facebook yang melontarkan hal tersebut. Warga desa sudah menunggu itikad baik pelaku tapi masih diabaikan. Audiensi dilakukan guna menghindari tindakan persekusi warga ke pelaku.

Editor : Akrom Hazami

Baca : Gara-gara Disebut Desa Pengemis di Facebook, Warga Grinting Brebes Marah

 

Gara-gara Disebut Desa Pengemis di Facebook, Warga Grinting Brebes Marah

Tangkapan layar Facebook

MuriaNewsCom, Brebes – Gara-gara ulah dari warganet pengguna Facebook, masyarakat Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Brebes, meradang. Mereka akan melaporkan ulah warganet kepada polisi karena dugaan melanggar UU ITE terkait ujaran kebencian di media sosial.

Sebelumnya, warga beraudiensi dengan pemerintah desa bersama Muspika Kecamatan Bulakamba dan perwakilan Polres Brebes. Mereka marah atas ungkapan pelaku ujaran kebencian di media sosial. Lantaran pelaku menyebut Grinting adalah desa pengemis, Jumat (9/9/2017).

Salah seorang warga, Bagus Handoko mengatakan ada tiga pengguna Facebook yang melontarkan hal tersebut. Warga desa sudah menunggu itikad baik pelaku tapi masih diabaikan. Audiensi dilakukan guna menghindari tindakan persekusi warga ke pelaku.

“Ada tiga pelaku yang kami anggap menghina Desa Grinting dengan mengungkapkan kata-kata yang memancing kemarahan warga. Karenanya, kami minta mereka untuk meminta maaf secara terbuka dan mengunggah berita positif Desa Grinting selama satu bulan,” kata Bagus.

Baca : Bebas dari Penjara, Tamzil Kini Nyalon Lagi jadi Bupati Kudus

Kepala Desa Grinting Suhartono mengaku kecewa atas perlakukan pemilik akun medsos itu. Saat ini, pihak desa terus membenahi diri dan memulihkan stigma sebagai kampung pengemis. Pihaknya sudah melakukan pembenahan ekonomi warga.

“Kami juga memberdayakan usaha kecil menengah (UKM), sudah punya BUMDes, dan punya banyak prestasi seperti kemarin menjadi juara lomba desa di tingkat kabupaten. Karena itu kami kecewa jika ada julukan-julukan yang tidak baik dengan desa kami,” paparnya.

Kabag Ops Polres Brebes Kompol Supriyadi mengingatkan masyarakat melapor ke pihak berwenang. Polisi minta warga jangan sampai terjebak dan terprovokasi oleh akun-akun media sosial.

“Jika memang melanggar Pasal 45 ayat (2) UU No 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, kami akan menindak pelaku,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Truk Seruduk 6 Kendaraan di Jalur Nasional Tegal-Purwokerto, 10 Orang Luka

Warga mengerumuni truk dan mobil yang mengalami kecelakaan di Bumiayu, Brebes. (Facebook)

MuriaNewsCom, Brebes – Truk gandeng H 1317 PF muatan puluhan ton gandum mengalami rem blong, dan berakibat terjadinya kecelakaan lalu lintas. Truk itu menabrak enam kendaraan di jalur nasional Tegal-Purwokerto, tepatnya di Jalan Lingkar Bumiayu, Pagojengan, Paguyangan, Brebes, Kamis (7/9/2017).

Tabrakan melibatkan truk, bus,  mobil boks, mobil bak terbuka, serta dua sepeda motor. Tidak ada korban yang meninggal dunia dalam musibah tersebut. Namun ada sekitar 10 orang yang mengalami luka-luka. Korban luka dilarikan ke RSUD Bumiayu.

Baca : Begini Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Rames Pati 

Keterangan Kepala Pos Lantas Bumiayu, Aiptu Sus Gundhi Atmika, mulanya truk gandeng melaju di jalan menurun. Sopir truk mencoba menginjak rem guna mengontrol kendaraan. Namun rem tak berfungsi. Truk pun melaju turun hingga menabrak kendaraan di depannya.

Warga mengerumuni bus yang guling di Bumiayu, Brebes. (Facebook)

 

Truk menabrak mobil boks, kemudian menabrak dua sepeda motor parkir, dan menabrak bus PO Dedy Jaya. Tidak berhenti di situ, sopir truk banting kemudi ke sebelah kiri arah terminal lama Bumiayu. Di terminal lama, truk menabrak mobil bak terbuka pengangkut gas elpiji, hingga akhirnya menabrak mobil pemadam kebakaran (damkar) yang tengah parkir.

“Truk yang melaju dari selatan remnya tidak berfungsi dan menabrak beberapa kendaraan yang di depannya sampai akhirnya menabrak mobil Damkar dan truk baru berhenti,” kata Sus.

Baca : Listik 5 Desa di Pati Kota Akan Dipadamkan 8 Jam, Ini Penjelasannya

 

Warga mengerumuni mobil yang mengalami kecelakaan di Bumiayu, Brebes. (Facebook)

 

Akibat tabrakan, bus sampai terguling dan melintang di tengah jalan. Sementara sepeda motor ringsek. Kendaraan lain yang ditabrak juga mengalami ringsek di beberap bagian.

Akibat kecelakaan, arus lalu lintas macet total lebih dari setengah jam. Sejumlah polisi mendatangi lokasi dan melakukan pengaturan arus.

Editor : Akrom Hazami

Nenek Kutuk Kampung di Brebes Ini jadi Daerah Sulit Air Bersih

Foto Ilustrasi. Warga berebut air bersih yang dibagikan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Brebes – Musim kemarau telah melanda beberapa wilayah. Termasuk di Kabupaten Brebes. Meski demikian, selain faktor musim, ternyata ada juga yang mengaitkan kekeringan dengan kutukan seorang nenek.

Yaitu di Dukuh Wangon, Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan. Di dukuh itu beredar cerita, kekeringan yang terjadi sampai sekarang merupakan bentuk dari kutukan. Dulunya, warga Pedukuhan Wangon memiliki sumber air seperti kampung pada umumnya. Tapi semuanya berubah akibat adanya kutukan.

Baca : Begini Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Rames Pati 

Kepala Desa Kubangsari, Tarlan Kurniawan, Kamis (7/9/2017), mengatakan, warga masih mempercayai adanya kekeringan di dukuh juga karena kutukan. “Pedukuhan ini konon dikutuk sehingga tidak memiliki kandungan air di dalam tanahnya,” kata Tarlan.

Semua itu akibat kutukan seorang nenek. Ketika itu, ada seorang nenek yang sedang melakukan perjalanan. Setibanya di Wangon, nenek merasa lelah. Nenek juga merasa sangat dahaga. Dengan langkah lemahnya, nenek mendatangi sejumlah rumah warga untuk minta air.

Dari rumah-rumah yang didatangi itu, pemilik tak juga memberikan air barang setetes kepada si nenek. Nenek pun kesal. Dari mulutnya terucap jika tempat ini tak akan ada air sampai kapan pun. Jadilah sampai sekarang, krisis air bersih masih belum hilang dari dukuh tersebut. Bahkan, sejumlah bantuan untuk menemukan sumber air telah dilakukan pemerintah. Tapi lagi-lagi sumber air tak juga dilakukan.

Baca : Listik 5 Desa di Pati Kota Akan Dipadamkan 8 Jam, Ini Penjelasannya

Beberapa tahun lalu ada pihak swasta yang pengalaman menggarap proyek air bersih ingin membantu warga mengebor, biar dapat air bersih. Bahkan dengan lantang, penyedia jasa pencari sumber air itu rela tak dibayar bila belum menemukan air.

Di lapangan, alat canggih dan pekerja telah dikerahkan. Hingga kedalaman 120 meter, air bersih tak juga muncul. Aksi pengeboran yang dilakukan itu juga bukan kali pertama di Wangon. Tapi sudah ada beberapa perusahaan pencari sumber air yang lebih dulu, dan hasilnya gagal.

Camat Ketanggungan, Laode Aris Vindar mengatakan, sumber air tidak ada sama sekali di Wangon. Padahal di daerah tetangga terdapat sumber air. Maka, pemerintah membangun instalasi air di desa tetangga, Luwung Gede. Dari desa itu, warga bisa mendapatkan pasokan air. Setelah sebelumnya dibuatkan pipa yang menyalurkan air dari Luwung Gede ke Wangon dengan panjang sekitar 3 km.

“Warga Wangon yang ingin menikmati air bersih harus membayar Rp 500 per jeriken. Uang yang terkumpul nantinya untuk biaya perawatan instalasi, dan kebutuhan bahan bakar mesin penyedot air, “ ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Tol Brebes-Gringsing Tak Bisa Dipakai untuk Pemudik pada Idul Adha 

Foto Ilustrasi (Tibratanewspolda Jateng)

MuriaNewsCom, Brebes – Polri menyatakan bahwa tol Brebes-Gringsing, yang menjadi jalur darurat saat libur Lebaran lalu, tidak akan bisa digunakan saat libur Idul Adha nanti. Sebab, ada perbaikan di jalan di tol tersebut.

“Karena kita sudah tidak bisa lagi lewat tol, jalannya sudah dikeraskan, jadi tidak bisa kita pakai lagi,” kata Asisten Operasi Kapolri Inspektur Jenderal Mochammad Iriawan di flyover Klonengan, Tegal, dikutip dari detik.com.

Ia mengatakan di libur Idul Adha ini, kenaikan volume kendaraan sekitar 20 persen atau lebih sedikit jika dibandingkan dengan Lebaran. Polisi juga melakukan rekayasa lalu lintas sebelum keluar dari Tol Brebes.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan menyatakan jalur tol Brebes-Gringsing saat ini dalam proses perbaikan setelah digunakan untuk jalur darurat ketika arus mudik Lebaran. Perbaikan ini ditargetkan hingga 2018.

Iriawan meninjau tol darurat Brebes-Gringsing.”Saat ini saya berada di tempat yang disebut dulu pintu Tol Kaligangsa di mana ada tol dari sini ke Gringsing sejauh 110 km,” kata Iriawan di pintu Tol Kaligangsa, Brebes, Selasa (29/8/2017).

Iriawan mendapat penjelasan dari petugas bahwa tol ini yang menuju ke Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Terpantau jalanan di Kaligangsa belum sepenuhnya selesai lantaran masih banyak pasir-pasir di sekelilingnya.

 “Saat ini tidak bisa digunakan dulu tol fungsional karena situasional. Saat ini sedang dalam tahap penyelesaian sehingga kira-kira akan selesai akhir tahun. Jadi masalah karena membantu sekali bagi pemecah atus lalin yang tidak stuck di Brexit,” kata Iriawan.

Meski begitu, dia berharap dengan skema-skema pengaturan lalu lintas yang telah direncanakan kepolisian dapat memecah kemacetan. Dia berharap tidak terjadi lagi macet horor di Brexit seperti sebelumnya. “Saya harapkan tidak terjadi permasalahan khususnya di Brebes Timur atau pintu keluar Brexit ini,” kata Iriawan.

Editor : Akrom Hazami

Mayat Perempuan Penuh Tato Asal Cilacap Ditemukan di Paguyangan Brebes

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Brebes – Mayat perempuan penuh tato ditemukan di pinggir jalan arah Tuk Sirah Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Minggu (20/8/2017). Identitas mayat baru berhasil ditemukan Polres Brebes, Senin (21/8/2017). Perempuan tersebut diduga tewas karena dibunuh.

Data yang dikantongi Polsek Paguyangan, korban bernama Desti Pratika (27) warga jalan Salam RT 05 RW 03, Kelurahan Kepudang, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Korban saat ini diautopsi di RSUD Brebes. Dari tubuh korban, tampak darah keluar dari hidung, mulut berbusa dan lidah menjulur akibat cekikan serta luka memar di bagian ketiak.

Adapun ciri-ciri korban di antaranya bertubuh gempal, kulit putih dan rambut ikal panjang dengan tinggi badan sekitar 150 sentimeter. Ketika korban ditemukan mengenakan celana jeans biru dan kaos warna merah muda serta jaket jeans biru. Pada tubuh korban juga ada beberapa tato, di antaranya di lengan kanan bergambar kepala tengkorak dan tulisan warna “DESTY” serta di bawah perut bergambar Love bersayap.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto melalui Kapolsek Paguyangan AKP Bowo Ciptohadi mengatakan, polisi masih melakukan penyelidikan kasus ini. Polisi mengungkapkan dari identitas yang ditelusuri diketahui korban merupakan ibu rumah tangga. “Untuk lebih lanjut, kita masih akan terus selidiki,” kata Bowo.

Sejumlah saksi mata yang melihat korban, Karso (30) warga Dukuh Benda Winduaji,  melihat hal yang mencurigakan sebelum korban dibuang. Pada Sabtu (19/8/2017)  sore, Karso melihat mobil Kijang warna gelap di lokasi penemuan mayat. Tak lama kemudian, Karso melihat mayat tersebut. Mulanya, Karso menganggap jika itu boneka bekas karnaval yang dibuang pemiliknya.

Editor : Akrom Hazami

Peserta Kemah Pramuka Tewas saat Main di Sungai Ciraja Brebes

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Brebes – Ini menjadi pelajaran bagi pengawas kegiatan kemah. Terutama untuk mereka yang menggelar kemah di Hari Pramuka. Sebab akibatnya adalah akan berujung fatal. Seperti yang terjadi di Kabupaten Brebebs. Seorang peserta kemah meninggal dunia karena tenggelam di sungai.

Adalah Dani Azam (10) warga Dukuh Secang, Desa Terlaya, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, tewas setelah tenggelam di Sungai Ciraja, Senin 14 Agustus 2017 sekira pukul 11.30 WIB.

Dikutip dari Panturanews.com, informasi yang diperoleh, korban yang merupakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahus Salam tersebut tengah mengikuti kegiatan Perkemahan Pramuka yang dilaksanakan di Lapangan Garuda kecamatan setempat.

Kejadiannya bermula saat korban bersama empat temannya peserta kegiatan perkemahan Pramuka, pergi ke Sungai Ciraja tanpa sepengetahuan dari pembinanya. Kelima siswa tersebut tenggelam bagian kedung sungai yang cukup dalam dan tidak dapat berenang.

Warga setempat yang mengetahui peristiwa itu langsung memberikan pertolongan, namun Dani Azam tak dapat diselamatkan, sementara empat teman lainnya berhasil diselamatkan warga.

Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Bantarkawung untuk mendapatkan pemeriksaan dan dinyatakan telah meninggal dunia.

Kapolsek Bantrkawung, Aiptu Hasari membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas peristiwa yang merenggut nyawa anak peserta kegiatan Perkemahan Pramuka tersebut.

 

Editor : Akrom Hazami