1 Spesies Hewan Purba Baru Ditemukan Tim Ahli BPSMP Sangiran di Banjarejo

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain jumlah koleksinya tambah banyak, jenis hewan purba yang pernah hidup di kawasan Banjarejo, Kecamatan Gabus juga makin beragam. Hal ini menyusul adanya potongan fosil hewan purba terbaru yang ditemukan tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, dari 8-19 Maret lalu.

Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta menyatakan, sepanjang kegiatan penelitian, ada 100 lebih fosil yang ditemukan dalam berbagai ukuran. Di antara fosil yang ditemukan itu, terdapat fragmen baru yang diindikasikan merupakan beberapa bagian gigi dari jenis babi hutan purba. Fosil ini ditemukan dalam kotak eskavasi yang bertempat di Dusun Kuwojo, sekitar 300 meter di sebelah utara Museum Lapangan Banjarejo.

Babi hutan itu kita perkirakan hidup satu zaman dengan hewan yang ditemukan di lokasi museum lapangan. Seperti gajah, banteng dan buaya. Perkiraan usia hidupnya 700 ribu hingga 1 juta tahun lalu.

Hasil dari temuan Tim dari BPSMP Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Sayang sekali, fosil gigi babi hutan yang berhasil kita temukan jumlahnya hanya beberapa biji saja. Meski begitu, ini jadi temuan penting karena sebelumnya belum ada penemuan bagian tubuh fosil babi hutan tersebut,” kata Wahyu.

Wahyu menyatakan, saat melangsungkan penelitian di Banjarejo bulan Februari 2017 lalu, pihaknya juga menemukan fosil dari jenis hewan baru yang belum ditemukan sebelumnya. Yakni, bagian dari sirip ikan sejenis patin atau lele dengan nama latin Spina Pectorale Siluriformes. Diperkirakan jenis ikan ini dulunya hidup di perairan rawa.

Potongan hewan purba ini ukurannya relatif kecil, hampir seukuran kacang tanah. Panjangnya sekitar 3 cm dan lebar 0,7 cm.  Fosil ini ditemukan dalam kotak eskavasi yang bertempat di tegalan Dermo di sebelah utara Dusun Nganggil.

Sebelumnya, jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan selama ini berasal dari sekitar 12 spesies binatang. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, antelope, menjangan, hiu dan ikan laut.

Editor: Supriyadi

Belasan Tim Ahli BPSMP Sangiran Lakukan Penelitian di Desa Banjarejo

MuriaNewsCom, GroboganTim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran kembali datang ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kamis (8/3/2018). Kedatangan tim sebanyak belasan orang ini bertujuan untuk melangsungkan penelitian lanjutan.

”Menjelang magrib tadi, sebagian tim dari BPSMP sudah tiba di Banjarejo. Tim lainnya rencananya akan datang Jumat besok,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, begitu sampai di Banjarejo, rombongan dari Sangiran itu langsung menuju ke rumahnya. Soalnya, semua koleksi benda purbakala yang ditemukan selama beberapa tahun terakhir kebetulan disimpan di rumahnya.

Penelitian yang dilakukan tim ahli BPSPM kali ini merupakan lanjutan kegiatan serupa pada tahun 2016 dan 2017 lalu. Rencananya, kegiatan penelitian akan dilangsungkan selama dua pekan, hingga 19 Maret mendatang.

Taufik mengaku sangat lega sekaligus gembira dengan datangnya para pakar purbakala dari BPSMP Sangiran yang akan melangsungkan penelitian lanjutan. Dengan kegiatan itu, setidaknya akan bisa mengungkap lebih banyak lagi misteri yang ada didesanya.

”Masyarakat Banjarejo sudah menantikan kedatangan ahli purbakala yang akan melangsungkan penelitian di sini. Mudah-mudahan, pelaksanaan penelitian nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir yang ada di bumi Banjarejo ini,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

BPSMP Sangiran Sebut Museum Purbakala Bisa Berdiri di Desa Banjarejo Grobogan

Tim BPSMP berkunjung ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk melihat koleksi fosil yang ditemukan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim BPSMP berkunjung ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk melihat koleksi fosil yang ditemukan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Harapan masyarakat Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus agar didirikan sebuah musem disitu tampaknya bukan suatu hal yang mustahil diwujudkan. Hal itu berdasarkan pernyataan dari Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi sebelum melangsungkan sosialisasi di Desa Banjarejo siang tadi.

“Soal pendirian museum di Banjarejo bisa saja dilakukan dalam jangka panjang. Nanti, kita lihat dulu seberapa besar potensi benda purbakala yang ada disini,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Sukronedi juga mengapresiasi upaya Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik untuk mengumpulkan benda purbakala yang sudah ditemukan selama ini. Untuk sementara, benda-benda berharga itu bisa disimpan dulu di rumah kades dan nantinya dibuatkan tempat khusus untuk penampungan.

Pihak BPSMP Sangiran akan membantu masalah ini dalam hal pembuatan desain rumah penampungan. Selain itu, pihaknya juga akan membantu memberikan bekal pengetahuan tata cara merawat fosil-fosil yang umurnya ratusan ribu tahun tersebut.

“Tidak masalah jika fosil-fosil yang ditemukan tetap berada di Desa Banjarejo. Hanya saja, fosil ini perlu ditempatkan dalam ruangan tersendiri agar terjaga keamananannya dan koleksinya terdata dengan baik. Adanya tempat penyimpanan itu juga bisa meminimalisasi penjualan benda purbakala pada pedagang fosil,” ungkap Sukron.

Lebih lanjut Sukron menyatakan, proses pendirian Museum Sangiran juga dilakukan cukup panjang. Berawal dari penemuan-penemuan benda purba sejak tahun 1934 yang disimpan di rumah kepala desa. Setelah banyak, baru dibuatkan tempat tersendiri dan akhirnya didirikan sebuah museum. Kemudian, pada tahun 2007 museum itu dirombak total dan dibangun sangat besar seperti yang terlihat saat ini.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik merasa lega dengan dibolehkannya fosil yang ditemukan tetap berada di Desa Banjarejo. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan untuk mempertahankan supaya belasan fosil yang sudah ditemukan tersebut tetap ada didesanya.

“Alhamdulillah, dalam sosialisasi ini hasilnya lebih dari yang kita harapkan. Selain tetap berada disini, penemu fosil juga dikasih imbalan dari Museum Sangiran,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Tim BPSMP Sangiran Bekali Warga Banjarejo Mengenai Cara Pengangkatan Fosil

Sosialisasi tim BPSMP Sangiran di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus (Istimewa)

Sosialisasi tim BPSMP Sangiran di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus (Istimewa)

 

GROBOGAN – Tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran hari ini, Rabu (25/11/2015) menepati janjinya untuk memberikan sosialisasi pada warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Sekitar 50 orang hadir dalam sosialisasi yang dilangsungkan di Pendopo Balaidesa Banjarejo.

Acara sosialisasi dipimpin langsung Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi didampingi sejumlah staf. Hadir pula dalam acara itu, Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Marwoto dan pejabat dari Disbudpar Jawa Tengah.

Menurut Sukronedi, ada beberapa hal yang perlu disampaikan pada masyarakat terkait dengan banyaknya penemuan benda purbakala atau cagar budaya di Desa Banjarejo dalam beberapa tahun terakhir. Antara lain soal Undang-undang No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Penyampaikan materi ini sangat penting agar masyarakat bisa paham dengan masalah tersebut.

Selanjutnya, masalah penyelamatan terhadap temuan yang terjadi disana juga disampaikan pada masyarakat. Utamanya, perihal pengangkatan fosil yang terpendam di dalam tanah.

“Idealnya, kamilah yang melakukan pengangkatan, namun karena kondisi tertentu, warga boleh melakukan pengangkatan fosil. Meski demikian, tata cara pengangkatan itu perlu kita berikan agar tidak terjadi kesalahan atau kerusakan,” kata Sukronedi.

Selain kehati-hatian, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengangkatan fosil. Misalnya, peralatan yang perlu disiapkan, dokumen foto posisi fosil sebelum diangkat dari berbagai sudut.

Tidak kalah penting yang perlu dilakukan adalah mencatat data terkait pengangkatan fosil. Seperti, arah mata angin dari posisi fosil yang ditemukan, ukuran kedalaman tanah atau penggalian.

Kemudian, sebelum ditutup lagi lokasi penemuan, perlu diberi tanda dengan plastik atau bahan lainnya pada tempat fosil berada. “Ini penting jika suatu saat dilakukan lagi penggalian untuk memeriksa sampel tanah yang ada disitu. Dengan adanya tanda maka penelitian bisa dilakukan dengan tepat,” ungkapnya.

Satu hal lagi, katanya, setelah ditutup atau diuruk, lokasi penemuan hendaknya diberi tanda. Misalnya, dikasih tiang pancang dari kayu atau bambu untuk memudahkan mencari lokasi tersebut dikemudian hari. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)