Pasutri Tukang Maling Ini Modusnya Cari Kontrakan Lalu Mijiti Pemilik Rumah

MuriaNewsCom, Boyolali – Sebagai pasangan suami istri (pasutri) memang harus kompak, biar biduk rumah tangga yang dijalani berjalan harmonis. Namun bagi pasutri Supri (38) dan Yunita Rhisna (38) ini, kekompakan yang mereka tunjukkan benar-benar beda.

Mereka benar-benar kompak satu sama lain, terutama saat menjalankan aksi kejahatan. Pasangan ini punya tugas masing-masing saat menjalankan aksinya menguras rumah korbannya.

Tak hanya satu atau dua kali, pasangan yang tercatat sebagai warga Cinderejo Lor, Gilingan, Banjarasari, Solo ini, telah beberapa kali menguras barang berharga dari rumah-rumah korbannya. Modusnya, mencari rumah kontrakan dan si istri (Yunita) beraksi dengan kemampuan memijatnya.

Aksi terakhir, pasangan ini beraksi di rumah Pardji (70) di Ngadirejo, Mojosongo, Boyolali, pada Selasa (12/3/2018) lalu. Mereka datang ke rumah ini dengan berpura-pura mencari kontrakan.

Saat berbincang-bincang, pelaku mengaku bisa memijat. Korban pun langsung kepincut dan meminta Yunita memijat istri Pardji di dalam kamar. Sementara Supri mengalihkan perhatian Pardji agar istrinya bebas beraksi.

”Para pelaku pura-pura mencari kontrakan, kemudian memijat korban. Saat korban lengah pasangan ini langsung beraksi,” kata Kasat Reskrim Polres Boyolali, AKP Willy Budiyanto, dalam jumpa pers, Jumat (16/3/2018).

Setelah melakukan pemijatan, kemudian istri korban disuruh mandi. Saat itulah, tersangka Yuvita beraksi mencuri barang-barang berharga milik korban di dalam kamar tersebut.

Pasangan ini berhasil menggasak HP Samsus J5, uang tunai Rp 1,5 juta, serta beberapa perhiasan. Setelah berhasil mencuri barang-barang tersebut, kedua tersangka langsung berpamitan pulang dan kabur.

Pencurian ini baru diketahui saat istri korban selesai mandi. Saat itu, ia kaget saat mencari HP miliknya yang ternya sudah raib. Saat diperiksa ternyata beberapa barang berharganya juga hilang. Kasus itu pun langsung dilaporkan ke Polsek Mojosongo.

Dari laporan itu, Tim Sapu Jagat Satreskrim Polres Boyolali bersama Unit Reskrim Polsek Mojosongo, langsung melakukan penelusuran. Pasutri ini pun berhasil ditangkap di daerah Nayu, Banjarsari, Solo.

“Pengakuannya mereka beraksi di 3 TKP. Tapi masih kami dalami untuk TKP lainnya. Tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, ancaman hukumannya 7 tahun penjara,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Kades Teras Boyolali Ditahan Karena Pungli, Jabatannya Langsung Dicopot

MuriaNewsCom, Boyolali – Kepala Desa (Kades) Teras, Boyolali, Heri Dwi Widianto terjerat kasus pungutan liar (pungli) dalam proyek perumahan. Kejaksaan Negeri (Kejari) Boyolali telah menetapkan kades itu sebagai tersangka dan dilakukan penahanan.

Heri diduga telah melakukan pungli terhadap seorang pengusaha pengembang perumahan yang berinvestasi di desanya. Selama kurun waktu 2016-2017 kades bersangkutan diduga telah memaksa PT Adi Propertindo untuk membayar izin mendirikan bangunan (IMB), kompensasi jalan, dan transportasi senilai Rp57,8 juta.

Biaya itu untuk mendirikan Griya Teras Asri 2 dan 3. Tak berselang lama, April 2017, kades tersebut diduga kembali meminta uang senilai Rp120 juta dengan alasan untuk membayar kompensasi makam dan jalan tanpa didasari aturan yang berlaku.

Dilansir solopos.com, Kasi Intel Kejari Solo, Surya Firmansyah, mengatakan Kades Teras langsung ditahan bersamaan dengan pelimpahan berkas tahap II oleh Tim saber Pungli, Senin (12/3/2018) lalu. Penahanan tersangka dilakukan untuk memperlancar proses hukum lebih lanjut dan mencegah hilangnya barang bukti. “Tersangka langsung kami tahan di LP,” katanya.

Penetapan tersangka dan penahanan terhadap kades itu langsung direspon cepat oleh pemerintah. Pemkab Boyolali langsung mencopot sementara jabatan Heri Dwi Widianto sebagai Kades Teras. Pemkab juga tengah menyiapkan pelaksana tugas (plt) untuk mengisi kekosongan jabatan kades.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Boyolali, Purwanto, menjelaskan siapa pun kades atau perangkat desa yang sudah berstatus tersangka harus diberhentikan sementara. Hal itu menurut dia, sesuai dengan aturan yang berlaku.

Soal waktu pemberhentian resminya, pihaknya masih berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan setempat. Dalam waktu dekat, setelah pemerintah kecamatan mengirimkan surat tentang status Kades Teras, saat itu juga surat pemberhetian secara resmi langsung turun. “Saya sedang menanti surat dari Pak Camat dulu,” tambahnya.

Saat ini, Purwanto mengaku masih menggodok pengganti sementara Heri Dwi Widianto. Menurutnya, pengganti kades harus dari unsur PNS, baik dari kecamatan atau Pemkab Boyolali.

Editor : Ali Muntoha

Begini Nasibnya Jika Pajero Nekat Tabrak Truk Pengangkut Tank TNI

MuriaNewsCom, Boyolali – Sebuah mobil mewah Pajero Sport yang ditumpangi empat orang, menabrak truk berat pengangkut tank milik TNI di  Daerah Ampel, Boyolali. Akibatnya, mobil itu hancur tak berbentuk, dan satu penumpangnya tewas di tempat.

Peristiwa yang tersebut terjadi di depan Warung Makan Sido Mampir, Dukuh Kali Puyang, Desa Kali Gentong, Kecamatan Ampel, Boyolali, akhir pekan lalu. Tabrakan terjadi sekitar pukul 03.45 WIB.

Saat itu truk pengangkut tank bernopol B 9250 QZ yang tengah parkir di depan warung diseruduk Pajero nopol AD 8181 T yang melaju kencang. Mobil itu disopiri Nugroho Adi Pradana (27) warga Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali.

Sang sopir selamat meski bagian depan mobil hancur. Namun satu penumpang bernama M.R Pramudita Kusuma Wardani (24) warga Perum Pringgolayan, Tipes, Kecamatan Serengan, Solo, langsung meninggal di lokasi kejadian.

“Seorang penumpang meninggal. Pengemudi dan dua penumpang lainnya selamat,” kata Kanit Laka Polres Boyolali, Ipda Utomo.

Menurutnya, dari keterangan sejumlah saksi sebelum kejadian mobil Pajero itu melaju dari arah Semarang-Solo dengan dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di depan warung Sido Mampir, mobil Pajero oleng ke kiri.

Seketika itu, mobil pajero menabrak trafick cone yang ada di pinggir jalan. Truk yang tengah mengangkut tank milik TNI pun tak luput jadi korban mobil tersebut.

“Akibat kejadian itu satu penumpang meningga karena luka di kepala belakang, dan tangan kiri patah. Satu penumpang lain mengalami luka cukup parah, namun sopir Pajero dan satu penumpang lain hanya luka ringan,” terangnya.

Kecelakaan itu langsung ditangani Satlantas Polres Boyolali. Kesimpulan sementara, penyebab kecelakaan ini dikarenakan kekurang hati-hatian pengemudi mobil Pajero saat melintasi jalur tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Portal Dirusak, Truk Pasir Tetap Nekat Lewat Jembatan Darurat Grawah

MuriaNewsCom, Boyolali – Jembatan darurat Grawah di Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali, beberapa waktu lalu telah dipasangi portal untuk menghalau truk pasir dan kendaraan tonase besar melintas. Namun portal itu kini dirusak dan truk-truk pasir nekat melintas.

Padahal jembatan darurat itu kekuatannya telah berkurang. Karena jembatan itu dipasang Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jateng untuk sementara.

Jembatan darurat itu untuk mempermudah akses masyarakat di jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB). Portal itu kini kondisinya miring, karena dirusak oleh oknum tak bertanggungjawab.  “Mungkin ada yang memiringkan (portal),” terang Pengawas Jalur SSB, Sumarwan.

Pemasangan portal itu untuk membatasi kendaraan yang melintas dijembatan bailey yang bersifat sementara. Pembatasan itu dimaksudkan agar jembatan tetap kuat. karena tedapat satu besi yang patah dan sejumlah besi telah berkarat.

“Kekuatan jembatan darurat itu juga sudah berkurang dari sebelumnya,” kata Sumarwan.

Meskipun ada pelanggaran yang dilakukan oleh sopir truk dan warga sekitar, namun pihaknya tak bisa melakukan penindakan. Sebab yang memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan dari pihak kepolisian.

Untuk itu, pihaknya berharap dari jajaran Polres Boyolali dapat melakukan penindakan aksi nekat para supir truk tersebut. “Kami bisanya cuma meluruskan kembali portal yag sudah dimiringkan itu,” ujarnya.

Petugas jasa pengatur lalu lintas di jembatan, Muhammad, menyatakan pihaknya bukan yang memiringkan portal tersebut. Pihaknya justru merasa kerepotan karena harus mengatur ratusan truk yang melintasi jembatan setiap hari.

“Kami malah khawatir kalau jembatan ini runtuh karena dilalui truk muatan setiap hari,” katanya.

Namun dia menilai pemasangan portal ini tak ada gunanya. Sebab truk masih bisa melintas karena ada pihak yang melegalkan truk untuk melintas di jembatan darurat.

Editor : Ali Muntoha

Mayat Wanita Telanjang Dibuang di Pinggir Sawah, Ada Bekas Jeratan di Leher

MuriaNewsCom, Boyolali – Warga dikeujutkan dengan penemua mayat perempuan telanjang di pinggir sawah, tak jauh dari Waduk Cengklik, Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Senin (22/1/2018). Perempuan berumur sekitar 20 tahun itu diduga sebagai korban pembunuhan.

Hal ini terlihat dari adanya bekas jeratan tali di leher korban. Hingga kini belum diketahui identitas mayat tersebut.

Mayat ini kali pertama ditemukan warga bernama Jiyem (55), warga Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, saat jalan-jalan pagi, sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu ia melihat ada sesok yang menyerupai boneka yang tertutup selimut. Karena curiga dan takut, ia pun lantas pergi dan memberitahu suaminya.

Paino (56), suaminya Jinem langsung datang ke lokasi untuk memeriksa. Saat selimut dibuka ternyata sesosok mayat. Temuan itu akhirnya dilaporkan ke perangkat desa, dan diteruskan ke polisi.

Aparat dari Polsek Ngemplak dan Polres Boyolali langsung merapat ke lokasi, untuk memeriksa jenazah dan lokasi penemuan. Tubuh korban dibawa ke RSUD Moewardi Solo untuk proses autopsi.

Saat ditemukan kondisi mayat dalam kondisi memprihatinkan. Dan dengan adanya bekas luka jeratan di leher, polisi mengambil kesimpulan mayat tersebut adalah korban pembunuhan. Hal ini juga dipastikan Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi. ”Ini jelas korban pembunuhan,” katanya.

Tim medis dari Puskesmas Ngemplak, Diah Widya Susilowati yang memeriksa mayat itu juga memastikan ada sejumlah tanda-tanda bekas kekerasan pada tubuh korban. Saat ditemukan tubuh korban pun sudah mulai kaku. ”Ada bekas jeratan di leher. Dari hidungnya keluar darah,” ujarnya.

Hingga saat ini polisi masih mendalami kasus ini. Polisi memeriksa sejumlah saksi yang menemukan mayat tersebut. Polisi juga mencoba mengungkap identitas korban untuk mengejar pelaku pembunuhan.

Editor : Ali Muntoha

Kedapatan Bawa Sabu, Warga Boyolali Ditangkap Polisi di Grobogan

MuriaNewsCom, GroboganAnggota Satresnarkoba Polres Grobogan berhasil menangkap seorang pria yang kedapatan membawa narkoba jenis sabu. Tersangka yang diamankan berinisial DON (37), warga Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali.

”Tersangka kita amankan beberapa hari lalu. Saat ini kasusnya masih kita kembangkan,” kata Kasat Narkoba Polres Grobogan AKP Abdul Fattah pada wartawan, Kamis (18/1/2017).

Dari penangkapan tersebut, berhasil ditemukan barang bukti 1 paket plastik klip kecil yang diduga berisi narkotika golongan I jenis sabu sebanyak kurang lebih 0,49 gram. Kemudian, petugas juga mengamankan satu  buah handphone dan sepeda motor Yamaha Jupiter warna hijau milik tersangka sebagai barang bukti.

Fattah menyatakan, pengungkapan ini tak lepas dari informasi dari masyarakat yang mengabarkan ada indikasi transaksi narkoba di wilayah Kecamatan Karangrayung.

”Info masyarakat kami tindak lanjuti dengan menurunkan tim untuk menyisir wilayah tersebut. Akhirnya, setelah melakukan penyelidikan, kami berhasil menangkap tersangka DON berikut barang bukti sabu seberat 0,49 gram,” jelasnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, tersangka DON mengakui barang tersebut didapat dari seseorang yang saat ini berada di Lapas Semarang. Barang itu dipesan melalui telepon dan diambil pada tempat yang telah ditentukan. Pengambilan dilakukan setelah tersangka mengirim sejumlah uang melalui transfer.

”Menurut pengakuan tersangka, sabu ini akan dipakai sendiri,” sambungnya.

Beberapa tahun lalu, tersangka ternyata pernah diringkus aparat Polres Grobogan dengan kasus serupa. Fatah menyatakan, pihaknya akan mengembangkan kasus tersebut dengan berkoordinasi bersama lapas di Semarang untuk mengungkap jaringan yang lebih besar.

Editor: Supriyadi

Orok Digugurkan Dikubur Samping Sumur, Ibu dan Bidan Ditangkap Polisi

MuriaNewsCom, Boyolali – Orok yang diperkirakan baru berumur 6 bulan kandungan ditemukan warga terkubur di samping sumur belakang rumah Reni (19) di Dukuh Tegalsari, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Boyolali, Rabu (3/1/2018) petang. Orok tersebut dikubur setelah digugurkan.

Penemuan ini sontak membuat geger warga sekitar. Polisi yang mendapat laporan langsung memeriksa lokasi dan melakukan penyelidikan.

Tak butuh waktu lama, polisi langsung mengamankan Reni, yang diketahui sebagai ibu orok malang tersebut. Tak hanya itu, polisi juga mengamankan Airin Sugesti (33) warga Kecamatan Sambi, Boyolali.

Airin merupakan seorang bidan di salah satu rumah sakit di Solo. Airin diketahui membantu menggugurkan kandungan Reni.

Kapolres Boyolali AKBP Aries Andhi mengatakan, dua orang ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia menyebut, Airin langsung dimintai keterangan tim penyidik, sementara Reni belum dilakukan pemeriksaaan karena menunggu kondisinya stabil.

Polisi mengamankan lokasi penemuan orok bayi di belakang rumah warga.(Foto : detik.com)

Reni masih menjalani perawatan di RS Assyifa, setelah mengalami pendarahan setelah melakukan proses pengguran kandungan. ” Dua orang kami tetapkan sebagai tersangka, dan saat ini kasus masih terus dikembangkan,” katanya dalam jumpa pers, Kamis (4/1/2018).

Penemuan orok hasil pengguguran ini kali pertama diketahui oleh tetangga Reni. Rio Pujianto (29), yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Reni merasa curiga, karena malam-malam Reni meminjam cangkul dengan alasan menanam bunga.

Ia menceritakan, Selasa (2/1/2018) malam sekitar pukul 21.20 WIB, Reni yang hanya tinggal sendirian di rumah, kedatangan seorang tamu perempuan. Lima menit kemudian Reni meminjam cangkul untuk menanam bunga kepada Rio.

“Tadi malam Reni kedatangan tamu terus pinjam cangkul ke saya. Saya tanya cangkulnya buat apa, kata Reni untuk menanam bunga,” ujarnya kepada wartawan di rumah Reni.

Namun, karena Rio tidak punya cangkul, Reni lalu pergi meminjam cangkul ke tetangganya yang lain. Keesokan harinya saat Reni pergi bekerja, Rio mengamati sekitar rumah Reni untuk mencari bunga apa yang ditanam.

“Sambil bersih-bersih lingkungan rumah, saya iseng-iseng mencari tanaman apa yang ditanam Reni. Saya lihat ada gundukan di belakang rumah Reni,” terangnya.

Karena curiga ia lalu menggali gundukan itu dan menemukan orok yang terbungkus kain putih. Saat ditemukan ari-ari orok itu masih ada, dan orok dalam kondisi tak bernyawa.Orok itu hanya dikubur dengan kedalaman sekitar 30 cm.

Ia pun langsung mengabari warga lain tentang penemuannya. Dan warga lain akhirnya melaporkan ke polisi. Setelah melakukan penyelidikan tak lama kemudian Reni ditangkap.

Editor : Ali Muntoha

1 Kuintal Daging Gelonggongan Diamankan Petugas di Grobogan

Daging gelonggongan yang berhasil disita tim gabungan dari pemasok asal Boyolali. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan, didukung instansi terkait lainnya kembali melangsungkan razia daging gelonggongan, Kamis (21/12/2017) dinihari. Dalam kegiatan ini petugas berhasil mengamankan lebih dari 100 kg daging gelonggongan.

Daging gelonggongan yang difatwakan haram oleh MUI itu, ditemukan dari seorang pemasok asal Boyolali bernama Samsaini, di Pasar Pagi Jalan Gajah Mada, Purwodadi, sekitar pukul 04.00 WIB. Daging tersebut dibawa pemasok dengan sepeda motor untuk dikirimkan pada pedagang daging di Purwodadi.

Kadinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan Riyanto menyatakan, total daging yang diamankan sebanyak 131,35 kg. Terdiri dari daging merah, tulang, dan iga.

“Kami berhasil mengamankan satu orang pemasok daging gelongongan. Total daging   sebanyak 131,35 kilogram. Dalam kegiatan ini kita juga didukung pihak Polres, Dinkes, dan Satpol PP,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui kadar air daging tersebut mencapai 81,6 persen. Sementara kadar air daging yang normal angkanya di bawah 77 persen. Setelah diamankan, daging tersebut selanjutnya dibawa petugas ke kantor Disnakkan untuk dimusnahkan.

“Dari hasil pemeriksaan, daging itu dinyatakan semi basah dari proses penyembelihan yang kurang sempurna. Oleh sebab itu, daging tersebut tidak layak diedarkan pada masyarakat,” jelas Riyanto.

Menurutnya, selama ini wilayah Grobogan memang jadi salah satu incaran pedagang  daging gelonggongan dari luar daerah.

Di antara pemasok ini, merupakan pemain lama yang sudah beberapa kali terkena razia. Daging gelonggongan itu biasanya dijual lebih murah sekitar Rp 15-25 ribu per kilo dibandingkan harga daging sehat.

Editor : Ali Muntoha

2 Orang Tewas saat Minibus Guling di Boyolali

Warga mengerumuni lokasi bus guling di Boyolali. (FACEBOOK)

MuriaNewsCom, Boyolali – Kecelakaan lalu lintas tunggal terjadi di Boyolali, Selasa (31/10/2017). Insiden melibatkan minibus ‘Sayur  Nggunung’ jurusan Selo-Cepogo AD 1672 AD di jalur wisata Solo-Selo-Borobudur, di turunan Kecamatan Cepogo. Akibat kecelakaan, dua orang tewas.

Dua korban meninggal ini yakni Ny Slamet (60), warga Dusun Sambungrejo, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo; dan Siti Munjazanah (55), warga Dusun Bendosari, Desa/Kecamatan Cepogo. Keduanya dibawa ke RSU Pandan Arang Boyolali. Sejumlah penumpang lainnya mengalami luka-luka.

Dari informasi yang dihimpun, penyebab kecelakaan diduga karena kendaraan dengan 14 penumpang mengalami rem blong di jalan turunan dari Selo menuju Cepogo. Rohmat (42), warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, sopir minibus membanting setir ke kanan saat di tikungan Dusun Bendo akibat rem blong. Tapi karena benturan keras antara bodi bus dengan tebing perkebunan warga, bus guling.

Warga dan penguna jalan memberikan pertolongan. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Editor : Akrom Hazami

Perempuan Muda Kasir Rumah Makan di Boyolali Dibunuh

Polisi memeriksan jenazah kasir rumah makan di Boyolali. (Facebook)

MuriaNewsCom, Boyolali – Perempuan muda yang merupakan kasir Rumah Makan Dapur Kalimi di Jalan Pandanaran, Boyolali, dibunuh secara keji. Perempuan itu bernama Siti Munawarotun (17), warga Dukuh Sambo, Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Selain nyawa korban melayang, sejumlah uang jutaan rupiah dan ponsel di rumah makan milik korban itu juga raib. Polisi masih  memeriksa kasus pembunuhan perempuan.

Warga menemukan korban tewas di depan rumah makan, pada Sabtu (28/10/2017) sekitar pukul 05.00 WIB. Dari tubuh korban, tampak luka-luka. Di antaranya luka sayatan di leher kiri dan luka tusuk di pundak kiri. Polisi masih melakukan olah TKP dan meminta keterangan sejumlah saksi termasuk pemilik rumah makan.

Keterangan pemilik rumah makan, Andri, korban setiap hari tidur di rumah makan. “Korban menunggui sendiri rumah makan,” kata Andri.

Sampai saat ini, belum diketahui motif pembunuhan tersebut, murni pembunuhan, perampokan ataupun pencurian dengan kekerasan (curas).  Polisi menemukan sejumlah barang bukti dari lokasi, yaitu kasur berlumuran darah yang digunakan korban tidur. Polisi juga masih mencari senjata tajam yang digunakan untuk menyayat leher dan menusuk pundak kiri korban.

 “Uang milik rumah makan hilang Rp 2.188.000 ditambah uang modal belanja Rp. 300.000. Jadi total Rp 2.488.000 dan dua unit HP,” kata Kapolres Boyolali AKBP Aries Andhi.

Saat ini petugas Polres Boyolali masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti-bukti. Polisi juga memintai keterangan saksi-saksi. Rencananya korban akan dibawa ke RSUD dr Moewardi Solo, untuk dilakukan otopsi. Namun, saat ini masih menunggu keluarga korban.

Saat ini jenazah korban masih berada di kamar mayat RSUD Pandanaran, Boyolali. Polisi dari Polsek Boyolali Kota berjaga di kamar mayat sembari menunggu keluarga korban dari Sawangan, Magelang.

Editor : Akrom Hazami

Bus Peziarah Asal Pati Kecelakaan di Boyolali

Penumpang tampak berada di lokasi bus rombongan peziarah asal Pati yang mengalami kecelakaan di Boyolali. (Facebook)

MuriaNewsCom, Boyolali – Bus Kawan Lama yang mengangkut 62 anggota rombongan peziarah asal Desa Sinoman, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, terguling di Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari, Boyolali, Sabtu (21/10/2017). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Dari solopos.com, rombongan berangkat dari desa mereka Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB menumpang bus berpelat AA 1400 BD tersebut. Mereka akan menuju tempat ziarah di Bayat (Klaten) dan Yogyakarta.

Bus yang dikemudikan Markum (41), itu mengambil jalan alternatif melalui Nogosari, Boyolali. Sesampainya di lokasi kejadian sekitar pukul 07.00 WIB, di depan bus dari arah berlawanan ada anak-anak sekolah mengendarai sepeda sambil bercanda. Saat itu, salah satu anak tiba-tiba kehilangan kendali dan oleng ke kanan.

 

Penumpang tampak berada di lokasi bus rombongan peziarah asal Pati yang mengalami kecelakaan di Boyolali. (Facebook)

 

“Di depan bus ada anak-anak sepedaan sambil gojek-gojek. Salah satunya kok oleng ke kanan sehingga saya refleks menghindar agar tidak menabrak. Kalau tidak menghindar, mereka kena [tertabrak bus],” ujar Markum.

Saat menghindar itulah Markum refleks mengambil keputusan banting setir ke arah kiri sehingga bus masuk ke ladang warga. Namun nahas, ketinggian antara jalan dan ladang berbeda sehingga bus akhirnya terguling. “Kebetulan laju bus kami pelan, sekitar 40 km/jam. Tapi karena ada perbedaan ketinggian, ya akhirnya [bus] terguling,” imbuhnya.

Salah satu penumpang bus yang saat itu duduk di barisan bangku depan, Sarbini, mengatakan hal senada dengan sopir. “Tadi di depan [bus] ada anak-anak naik sepeda sambil gojek. Terus salah satunya oleng ke kanan sehingga bus menghindar ambil kiri dan akhirnya terguling,” ujarnya.

 

Penumpang tampak berada di lokasi bus rombongan peziarah asal Pati yang mengalami kecelakaan di Boyolali. (Facebook)

 

Rombongan peziarah itu pun memutuskan kembali ke kampung halaman, urung melanjutkan perjalanan ziarah mereka. Sementara itu, pengguna sepeda dikabarkan terjatuh dan dilarikan ke rumah sakit di Kartasura, Sukoharjo.

Kasat Lantas Boyolali AKP Marlin S Payu mewakili Kapolres AKBP Aries Andhi mengatatakan pengendara sepeda tidak mengalami luka. “Sudah saya cek langsung ke rumah sakit, anaknya tidak apa-apa. Lecat pun tidak,” kata Marlin.

Editor : Akrom Hazami

Kisah Ibu Negara Iriana Jokowi yang Diragukan Perajin Kulit Ikan di Boyolali

Iriana Jokowi saat mendatangi tempat kerajinan galeri kulit pari di Dukuh Sambon RT 08/02 Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. (detik.com)

MuriaNewsCom, Boyolali – Pemilik galeri kerajinan dompet dan tas kulit ikan pari di Boyolali kedatangan tamu istimewa, yaitu Iriana Jokowi. Tapi siapa sangka jika pemilik galeri, Wawan Purnomo tak tahu jika yang datang adalah ibu negara.      

Iriana Jokowi membeli dompet dan memesan tas di sebuah galeri kerajinan kulit ikan pari di Boyolali. Iriana datang tanpa pengawal dan tampil sederhana, sampai-sampai pemilik galeri meragukan tamunya adalah Ibu Negara.

Dari foto yang ditunjukkan pemilik galeri tersebut, Wawan Purnomo, Iriana tampak mengenakan jilbab abu-abu tanpa make up tebal. Wawan berccerita, Iriana yang datang pada Jumat (15/9) sekitar pukul 10.00 WIB datang hanya bersama sopirnya.

Meski dalam hati Wawan merasa yang datang tersebut adalah Iriana, tapi dia sempat ragu untuk memastikannya.  Hanya, hal itu tak berani dia ungkapkan langsung kepada Iriana. Selain itu dia juga tidak mengira sama sekali Iriana akan datang langsung ke rumahnya untuk membeli tas hasil kerajinannya.

Di awal-awal kedatangan Iriana, Wawan sempat menanyakan tentang pekerjaan kepada tamunya tersebut. Namun dijawab Iriana Jokowi, kalau dirinya hanya merupakan ibu rumah tangga. “Saat itu Ibu Iriana hanya mengaku kalau dari Solo, ibu rumah tangga,” terang pemilik Zalfa Leather ini, Senin (18/9/2017) dikutip dari detik.com.

Sekitar satu jam di tempat tersebut, di sela-sela Iriana memilih tas dan dompet akhirnya Wawan memberanikan diri untuk memastikan bahwa yang datang tersebut benar Iriana Jokowi.

“Baru di akhir-akhir baru saya tanya. ‘Maaf Ibu mirip ibu Iriana’. Terus dijawab, ‘Iya pak saya ibu Iriana’. Setelah itu saya mau tanya-tanya lebih jauh malah takut. Seperti nggak percaya kerawuhan (kedatangan) ibu Presiden. Yang bikin ragu itu karena tidak ada pengawalan,” kata Wawan.

Iriana saat itu langsung membeli 4 dompet kulit ikan pari. Harganya per buah dibanderol Rp 350 ribu. Selain itu, Iriana juga memesan sebuah tas jinjing kulit ikan pari berwarna hitam. Saat ini para pengrajin sedang mengerjakan tas kulit ikan pari pesanan Iriana Jokowi. Wawan meminta waktu satu pekan untuk menyelesaikan tas seharga Rp 1 jutaan ini.

“Untuk tas yang dipilih tas jinjing. Modelnya sudah setuju, Hanya bahannya minta semuanya dari kulit ikan pari,” kata Wawan.

Wawan memperlihatkan tas jinjing berukuran kecil. Model tas jinjing yang tersedia di showroom Zalfa Leather milik Wawan tersebut, merupakan kombinasi kulit ikan pari dan kulit sapi dengan warna merah dan hitam. Kulit ikan pari berwarna merah dan kulit sapi berwarna hitam.  “Yang kita buat untuk Ibu Jokowi full kulit pari. Harganya Rp 1 jutaan,” jelasnya.

Tas pesanan Iriana Jokowi tersebut kini sedang dikerjakan. Wawan meminta waktu satu minggu untuk mengerjakannya, terhitung sejak Jumat (15/9) lalu.

“Sebenarnya Ibu Iriana Jokowi tidak membatasi kapan tas itu harus jadi. Setelah tasnya jadi, saya disuruh telepon. Saya sudah ditinggali nomor teleponnya,” ucap Wawan.

Iriana datang langsung ke rumah Wawan di Dukuh Sambon RT 08/02 Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali pada hari Jumat (15/9) lalu.

Editor : Akrom Hazami

Mobil Jip Nyungsep Gara-gara Sopir Nyetir Sambil Main HP di Boyolali

Warga melihat kendaraan yang nyungsep di Kabupaten Boyolali. (Facebook)

MuriaNewsCom, Boyolali – Nasib apes dialami Dedi Yulianto (27) warga Dukuh/Desa Ringin Arum RT 02/01, Kecamatan Tegal Rejo, Kabupaten Kendal. Karena kecerobohannya berkemudi sembari main ponsel (HP), mobil jip Suzuki Katana H 7442 BF nyungsep di selokan sedalam 5 meter.

Kecelakaan tunggal yang dialami Dedi terjadi di Jalan Raya Solo-Semarang, tepatnya di wilayah Desa Winong, Kecamatan/Kabupaten Boyolali, Sabtu (9/9/2017).

Info yang dihimpun, Dedi melakukan perjalan dari Sukoharjo menuju Kendal. Jalan yang berliku membuatnya lelah. Di tengah perjalanan, Dedi teringat belum menunaikan salat zuhur.

Dedi pun menepikan kendaraan. Lantas dia menunaikan salat. Dedi juga memanfaatkan waktu selama masjid dengan istirahat. Setelah dirasa cukup, Dedi melanjutkan perjalanan.

Kasat Lantas Polres Boyolali, AKP Marlin Supu Payu mengatakan, keterangan Dedi kepada polisi serta hasil penyelidikan sementara, Dedi nyetir sambil mengoperasikan ponsel.

“Dedi nyopir sendirian dengan main HP. Saat itu, sopir hendak masuk ke jalur utama. Terlebih dulu, sopir melihat ke arah kanan sambil menunggu arus lalu lintas kosong sembari melaju pelan-pelan. Serta sopir tidak melihat ke arah setir,” kata Marlin.

Dedi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lambat di pinggir jalan sebelum masuk jalur utama. Rupanya, Dedi juga tak memerhatikan roda mobilnya yang sudah berada di bibir parit. Mobil pun terperosok hingga guling sedalam 5 meter.

Dalam kondisi itu, Dedi tidak mengalami luka-luka. Kejadian itu mencuri perhatian warga. Mereka berduyun-duyun melihat mobil yang celaka itu.

Editor : Akrom Hazami

2 Pembobol Toko Modern di Pati, Kudus, dan Grobogan Tertangkap di Boyolali, 3 masih Diburu

Kapolres Boyolali AKBP Aries Andhi saat memeriksa para pelaku pembobol toko di mapolres setempat. (Humas Polres Boyolali)

MuriaNewsCom, Boyolali – Satuan Reskrim Polres Boyolali terus memburu sejumlah anggota komplotan pembobol toko modern di wilayah itu. Hal itu merupakan rentetan aksi polisi usai menangkap dua anggota kelompok spesialis pembobol toko modern.

Setelah ditelusuri, ternyata komplotan tersebut sudah melakukan belasan pembobolan supermarket di berbagai kota di Jawa Tengah. Berdasar ‎informasi yang dihimpun, Selasa (5/9/2017), dua pelaku dibekuk yakni AJM (44), warga Desa Soko, Kecamatan Miri, Sragen, serta ST (27), warga Desa Klayan, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon, Jabar.

Baca : Kebakaran Depan Rumah Dinas Gubernur, Mobil Mewah Hangus di Dalam Garasi 

Pada Kamis dini hari pekan lalu, keduanya bersama tiga pelaku lain mencoba membobol sebuah toko modern di Desa Penggung, Boyolali Kota. Namun saat sedang memindahkan barang curian ke dalam mobil, keduanya ketahuan petugas yang sedang patroli.

Kelima pelaku langsung kabur ke ladang warga di belakang toko modern meninggalkan mobil dan barang curiannya. Selang beberapa jam, polisi berhasil ‎membekuk dua dari lima pelaku. Sedang tiga pelaku lain yang identitasnya sudah dikantongi saat ini masih diburu petugas.

Baca : Temui Mantan Panglima TNI, Safin Ngadu Soal Ini

Kapolres Boyolali AKBP Aries Andhi menjelaskan, usai diperiksa, diketahui jika pembobolan toko modern di Desa Penggung‎ adalah upaya keempat mereka. Setelah tiga upaya pembobolan di wilayah Boyolali di malam sama, gagal. Mereka gagal karena terpergoki warga lebih dulu. Upaya pembobolan keempat kalinya pun berhasil digagalkan petugas patroli.

Dari pengakuan para tersangka pula, mereka sudah melakukan pembobolan sedikitnya 10 toko modern di berbagai wilayah di Jateng, yakni di Kudus dan Pati masing-masing tiga kali, Grobogan dua kali, dan di Jepara ‎dan Demak masing-masing satu kali. “Tersangka Agus kita tangkap di rumahnya. Sedang tiga pelaku lain masih kita kejar,” kata Aries.

Selain para tersangka, lanjutnya, polisi juga mengamankan berbagai barang bukti, di antaranya barang hasil curian, gunting besi, berbagai macam kunci, hingga mobil yang digunakan untuk tindak kejahatan.

Sementara salah satu tersangka, Agus, mengaku dari berbagai pembobolan yang ia lakukan, ia sudah mengantongi sekitar Rp 6 juta dari uang bagi hasil kejahatan. “Dapat Rp 6 juta. Saya bertugas sebagai pembawa barang untuk nantinya diambil oleh pengepul,” kata Agus kepada polisi.

Editor : Akrom Hazami

Pemuda Boyolali Ini Nekat Bawa Kabur Uang Kurban Sebesar Rp 1 Miliar, Begini Nasibnya Sekarang

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Solo – WDP (25), warga Kampung Turi, Kelurahan Cemani, Grogol, Solo, ini terbilang nekat. Ia berani menipu puluhan warga dan membawa kabur uang pesanan untuk membeli hewan kurban.

Tak tanggung-tanggung, uang yang dibawa kabur mencapai Rp 1 miliar. Namun petualangannya di dunia tipu-tipu tak berlangsung lama, ia telah dicokok polisi dan dijebloskan ke sel tahanan.

Kapolresta Surakarta AKBP Ribut Hari Wibowo, Senin (4/9/2017) mengatakan, pihaknya bergerak setelah mendapatkan laporan warga. Ia menyebut sementara ada 32 korban yang berhasil dikelaubi pelaku.

Pelaku dibekuk depan Pasar Ampel, Boyolali, Minggu (3/9/2017). Saat dibekuk, pelaku tak berkutik dan digelandang untuk mencari barang bukti. “Kerugian dari para korban ditaksir mencapai Rp 1 miliar. Kasusnya terus kami kembangkan,” katanya.

Modus yang digunakan yakni, pelaku menerima pesanan dan uang pembelian hewan kurban sapi dari warga atau kelompok petani. Namun hewan kurban itu tak pernah dikirimkan kepada para korbannya. Justru hewan tersebut dijual kembali dengan harga yang lebih murah kepada pembeli lain.

”Pengakuannya (pelaku), uang hasil menjual hewan kurban itu digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara tersangka mengaku ada tiga kelompok yang menjaid korban penipuan tersebut. Yakni petani asal Wonogiri, investor dan warga masyarakat yang membeli hewan ternak untuk kurban.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat yang merasa ditipu kasus hewan kurban ini untuk segera melapor ke Polresta Surakarta.

Sementara dari hasil penangkapan pelaku, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya uang tunai sebesar Rp 217 juta, dan buku tabungan BCA. Polisi juga mengamankan nota jual beli sapi dan dua buah HP.

Kini pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi telah menetapkannya sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 372/ 378 KUHP, tentang Penipuan. Dengan jeratan pasal ini, tersangka terancam hukuman enam tahun penjara.

Editor : Ali Muntoha

Peternak Banyuanyar Boyolali Terapkan Sistem Cerdas Kelola Peternakannya, dan Hasilnya Wow

Sejumlah binatang ternak sapi di Boyolali. (beritaboyolalikita)

MuriaNewsCom, Boyolali – Peternak memang dituntut cerdas dalam mengembangkan sistem peternakannya. Supaya hasilnya bisa lebih menguntungkan dan efektivitas pengeluaran juga bisa dilakukan.

Hal itu kini dilakoni peternak di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Mereka mengembangkan sistem peternakan terintegrasi. Artinya, mereka mengelola berbagai faktor dalam beternak secara mandiri.

Baca : Pasar Piji Kudus Dilalap Si Jago Merah

Seperti kebutuhan pangan ternak dan pengelolaan produk hasil ternak. Di konsep tersebut, warga mengintegrasi seluruh mata rantai peternakan.  “Itu bagian dari konsep Green Smart Village. Semuanya dikelola dari dan untuk warga,” kata Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, Jumat (1/9/2017).

Warga juga memanfaatkan hasil ternak berupa susu untuk diolah menjadi produk olahan seperti yoghurt dan es krim. Mereka juga mengelola produk olahan susu itu dari energi biogas yang diolah dari kotoran ternak.

Baca : Sapi Kurban Tercebur Sumur Sedalam 12 Meter di Semarang

Pihaknya terus konsen mengembangkan sistem yang terintegrasi tersebut dengan melibatkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng dan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali.

Adapun hasil produknya, yakni yoghurt, sudah dicek oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Kelompok ternak di Desa Banyuanyar memperoleh juara I peternakan sapi perah tingkat Jawa Tengah (Jateng) tahun 2016 lalu,” kata Komar.

Editor : Akrom Hazami

Monyet Liar Ditembak Mati Usai Serang Nenek di Karanggede Boyolali

Warga melihat monyet yang ditangkap warga di Desa Sendang, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali. (Facebook)

MuriaNewsCom, Boyolali – Warga Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, berang dengan ulah monyet. Sebab, monyet telah menyerang nenek, Wagiyem (7) warga Dukuh Gunungsari, Desa Karangkepoh, Kamis (24/8/2017) pagi. Akibat serangan monyet, Wagiyem mengalami luka di beberapa bagian tubuh. Hal itu membuatnya dilarikan ke RS Karima Utama Kartasura.

Warga pun ramai-ramai memburu monyet tersebut. Warga bersama Polsek Karanggede, Koramil, Perbakin serta komunitas penembak, ikut serta memburu monyet. Setelah beberapa lama melakukan perburuan, monyet pun muncul. Warga melihat monyet di salah satu rumah warga. Aksi kejar monyet pun berlangsung panas.

Para pemburu melihat monyet di kolong tempat tidur salah satu rumah warga. Akhirnya, mereka bisa menangkap monyet setelah sebelumya berhasil menembak monyet. Akibat tembakan itu, monyet langsung mati. Warga, kemudian, membawa monyet dari rumah tersebut. Warga terpaksa menembak monyet karena tak ingin ada warga yang terkena serangan monyet lagi. 

Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Surakarta, BKSDA Jateng, Titi Sudaryanti, dikonfirmasi membenarkan bahwa seekor monyet yang menyerang warga di Karanggede, sudah tertangkap.

“Iya. Petugas sedang meluncur ke Karanggede. Satu ekor (yang tertangkap), mati,” kata Titi dikutip dari detik.com.

Kepala Desa (Kades) Sendang, Sukimin, mengatakan, warga berhasil tangkap monyet sekitar pukul 14.00 WIB. Monyet ditangkap dalam kondisi mati ditembak. Mereka tidak mau mengambil riosiko jika harus menangkap hidup-hidup, karena monyet itu ganas dan sudah sering menyerang warga. “Monyetnya mati, ditembak menggunakan senapan gas,” jelas dia.

Warga sejumlah desa di Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali sejak beberapa bulan lalu memang telah diresahkan dengan kemunculan monyet liar yang serang menyerang dan melukai warga. Monyet itu telah melukai belasan warga di sejumlah desa, antara lain warga Desa Sendang, Desa Bangkok, Desa Dologan di Kecamatan Karanggede dan beberapa warga Kecamatan Kemusu.

Editor : Akrom Hazami

Boyolali Antisipasi Antraks pada Hewan Kurban 

Hewan ternak disiapkan untuk kurban di Hari Raya Idul Adha yang tiba beberapa hari lagi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Boyolali – Mengantisipasi antraks, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali memantau hewan ternak warga di daerah endemis antraks di Desa Karangmojo, Kecamatan Klego dan Kecamatan Ampel.

Kabid Usaha Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Uspet Kesmavet), Disnakan Boyolali, Widodo mengatakan, pihaknya terus memantau daerah endemis antraks. Setidaknya, pihak dinas melakukannya tiga bulan sekali. 

“Daerah endemis antraks dipantau terus. Setiap tiga bulan sekali petugas selalu datang ke sana dan melakukan vaksin ke hewan ternak milik warga,”ungkapnya dikutip dari detik.com

Pihaknya juga menyiapkan hewan kurban sehat dengan intensif memantau dengan membentuk tim, untuk mengawasi penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha. Pihaknya membentuk tiga tim untuk memantau di 21 lokasi penyembelihan di wilayah Boyolali Kota. Sedangkan untuk wilayah kecamatan lainnya diserahkan ke masing-masing Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

Selain itu, juga akan melangsungkan patroli ke masjid yang jadi lokasi penyembelihan hewan kurban. Tim tersebut juga memeriksa daging usai disembelih. Gunanya memantau kondisi daging, apakah sehat atau sebaliknya. 

Seperti cacing hati, yang biasa ditemukan pada hewan yang sekilas tampak sehat. Hati yang mengandung cacing itu menurut dia, masih bisa dikonsumsi. Asalkan cacingnya sedikit. Namun cacing-cacing itu harus dihilangkan terlebih dulu. Selain itu juga harus dimasak benar-benar matang. 

Sebelum Idul Adha, dinas juga akan melakukan sosialisasi kepada para takmir masjid. Sosialisasi meliputi tanda-tanda hewan sehat, teknik penyembelihan yang benar, teknik merebahkan hewan dan cara penanganan daging.

Editor : Akrom Hazami 

Populasi Sapi di Boyolali Tertinggi Se-Jawa Tengah

Warga melakukan ternak sapinya, beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Boyolali – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali menyatakan saat ini jumlah populasi sapi di Boyolali tertinggi se-Jawa Tengah. Boyolali masih di puncak dengan diikuti Rembang, Blora, dan Purwodadi.

“Selama ini jumlah populasi sapi per wilayah yang dihitung hanya sapi potongnya saja. Sedangkan sapi perahnya tak masuk hitungan,” kata Kasi Perbibitan Ternak Disnakkan Boyolali, Sugiyarto, Jumat (18/7/2017) dikutip dari krjogja.com.

Menurutnya, saat ini, populasi sapi potong di Boyolal‎i ada 85 ribu ekor, sedang jumlah sapi perah mencapai 80 ribu ekor. Apabila populasi sapi perah dihitung, maka jumlah populasi sapi di Boyolali mencapai 160-an ribu ekor. Selain itu, Boyolali juga menjadi barometer transaksi pasaran sapi di Jateng. Dengan pasar ternak Sunggingan Boyolali yang menjadi pasar hewan terbesar di Jateng.

Sedangkan untuk menjaga populasi sapi tetap tinggi, pihaknya mengimbau para pemilik sapi tak memotong sapi betina yang masih produktif. Namun untuk transaksi sapi yang dijual ke luar Boyolali, pihaknya tak bisa melarang sebab itu hak pemilik sapi. Ada berbagai model pedagang sapi, yakni ‎pedagang sapi, baik perah maupun potong, yang menjual anaknya, pedagang yang membeli sejak kecil yang dijual saat siap kawin, pedagang yang jual beli sapi bunting dan sebagainya.

“Tak ada regulasi larangan transaksi sapi bunting. Yang penting jangan memotong sapi betina produktif atau sedang bunting sebab sekarang upaya meningkatkan populasi sapi sedang gencar-gencarnya digalakkan,” tambahnya.

Dia menambahkan, salah satu program peningkatan populasi sapi yang dilakukan yakni Program Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab)‎ yang digalakkan secara nasional.Untuk Boyolali ditarget sebanyak 50.062 ekor sapi perah maupun sapi potong akan dibuntingi dengan inseminasi buatan (IB). Dalam program ini, sapi yang diinseminasi seluruhnya gratis. Tak ada biaya apapun yang ditarik dari pemilik ternak.

“Sudah dilakukan sejak April lalu dan sampai bulan juni sudah 24.768 ekor sapi yang sudah diinjeksi IB,” ‎pungkas Sugiyarto.

Editor : Akrom Hazami

150 Pelaku IKM di Kudus Timba Ilmu ke Boyolali

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus mengajak 150 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) ke Boyolali. Ratusan pelaku usaha tersebut ditujukan untuk belajar lebih serius tentang pengembangan produk.

Kabid Industri Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Koesnaeni mengatakan, Boyolali merupakan kabupaten yang memiliki pengembangan usaha cukup bagus. Karena itu pelaku usaha diharapkan bisa menimba ilmu untuk membuat usahanya laris manis.

”Rencananya selain pelatihan, para pelaku usaha akan melakukan kunjungan sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Misalkan, pengusaha tahu ya mereka kunjungannya ke IKM yang mengolah tahu. Begitupun yang lainnya,” katanya

Ia mengatakan, acara nimba ilmu ke Boyolali ini, merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan Dinas. Sebelum diajak ke sana, peserta dilatih terlebih dahulu guna mendapatkan bekal, barulah diajak studi lanjut.

”Pelatihan dimulai Senin (9/5) sampai kemarin. Para pelaku diberikan materi teori mulai Senin (9/5) sampai Rabu (11/5),” ungkapnya.

Ia mengakui, dengan adanya kunjungan IKM ke Boyolali untuk mengetahui kreasi dan inovasi pengusaha di sana. Sehingga, peserta pelatihan memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

Harapannya, dengan adanya studi banding mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Yang nantinya akan membuat produk semakin menarik dan berkembang.

Editor: Supriyadi