Kopeng Jadi Tempat Transaksi Narkoba Kelas Kakap, Sabu Dijual Dalam Bentuk Permen

MuriaNewsCom, Semarang – Kawasan wisata Kopeng, di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, ternyata sering menjadi tempat transaksi narkoba kelas kakap. Pelaku pun menggunakan modus baru, untuk menghindari kecurigaan.

Ini dibuktikan dengan pengungkapan yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, yang menangkap pengedar sabu kelas kakap. Barang bukti yang diamankan pun cukup banyak, yakni sabu seberat 1,1 kilogram.

Pelaku yang ditangkap bernama Eko Rianto (32), warga Boyolali. Modusnya menyembunyikan sabu di dalam bungkus permen. Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru mengatakan, untuk menangkap pelaku, tim sempat sulit mendeteksi karena ia tinggal di kamar kos yang lokasinya di sebuah rumah yang berada di antara kebun di Taman Wisata Kopeng.

“Tersangka ER alias John sengaja mencari lokasi yang tersembunyi di antara kebun tanaman bunga, agar aktivitasnya tidak terpantau,” kata Agus, Selasa (6/2/2018).

Saat dilakukan penggerebekan di kamar kos, petugas menemukan satu paket besar sabu seberat 1 kg yang dikemas dalam kemasan teh China berwarna hijau.

“Dari hasil pengledahan di rumah kos tersangka, diketahui barang bukti 1,1 kg sabu tersebut merupakan sisa dari 4 kg sabu yang dia simpan. Sisanya sebanyak 3,9 kg sudah diedarkan selama sebulan terakhir,” terangnya.

Selain kemasan besar, tim BNNP Jateng juga mendapati sejumlah sabu yang dikemas plastik klip bening. Kemudian ada juga yang dikamuflase menggunakan bungkus permen. Menurut dia, ini merupakan modus baru, di mana paket sabu dikemas dalam bentuk permen.

“Dimasukkan bungkus permen kemudian dipanasi untuk direkatkan. Ini yang ditemukan jumlahnya ada 19 bungkus permen. Satu permen sekitar 1 gram,” tandas Agus.

Dalam peredarannya Eko menyasar tempat wisata di pedesaan antara lain di Klero, Tingkir, Tengaran, Getasan, dan Bawen atau yang masuk wilayah Kabupaten Semarang, Boyolali, dan Salatiga.

Selain Jawa Tengah, Eko juga mengirim sabu ke Jakarta dan Halmahera via pos. Dari pengakuan Eko, dia dikendalikan seseorang yang mengaku bernama Jiun lewat telepon seluler.

“Pengakuan ER, dia dikendalikan Jiun salah satu narapidana di Gracia Jogja (Lapas Narkotika dekat RS Gracia Yogyakarta),” kata Agus.

Eko sendiri mengaku baru enam bulan menjalankan aksinya. Ia juga mengaku punya bos, yang menugasinya mengedarkan sabu. Setiap menjual 1 kg sabu, ia mendapatkan komisi Rp 10 juta.

Ia bertugas mengambil sabu sesuai arahan bos yang bernama Jiun kemudian mengemas dalam paket kecil termasuk ke bungkus permen kemudian mengedarkannya. “Baru 6 bulan. Semua saya yang melakukan. Kenal Jiun dikenalkan sama teman,” akunya.

Editor : Ali Muntoha

Karutan Purworejo Ngaku Dititipi Uang Sancai, Tapi Bantah jadi Jaringan Narkoba

MuriaNewsCom, Semarang – Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Purworejo Cahyono Adhi Satriyanto (42), ditangkap BNN dan BNNP Jateng karena diduga mengendalikan peredaran narkoba oleh jaringan Kristian Jaya Kusuma alias Sancai.

Kini Kementerian Hukum dan HAM mencopot jabatan Cahyono dan menggantinya dengan pelaksana tugas (plt). Eko Bekti Susanto, ditugaskan sebagai Plt Kepala Rutan Purworejo, mulai Rabu (17/1/2018) hari ini.

Cahyono ditengarai menerima kucuran dana dari Sancai untuk memuluskan peredaran narkoba di Rutan Purworejo. Diketahui Cahyono mulai mengenal Sancai sejak Cahyono bertugas sebagai Kepala Rutan Narkoba Nusa Kambangan.

Saat diperiksa Kanwil Kemenkumham Jateng, Cahyono membantah menjadi jaringan narkoba. Meski demikian, ia tak membantah jika pernah menerima uang dari Sancai.

Namun uang itu diakuinya bukan untuk memuluskan aksi jaringan Sancai mengedarkan narkoba di penjara.

“Menurut pengakuannya ya, dia tidak terlibat jaringan narkoba. Memfasilitasi tidak, hasil pemeriksaan tadi dia pernah dikasih uang. Besaraannya cuma sedikit, sejuta (rupiah),” kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah, Djoni Priyatno kepada wartawan.

Pengakuan Cahyono, uang yang diberikan Sancai itu merupakan uang titipan koperasi. Pemberian uang ini juga saat Cahyono masih menjabat sebagai Kepala Lapas Narkotika Nusakambangan. Saat itu Sancai ditahan di penjara ini, sebelum dipindah ke Lapas Pekalongan.

“Kadang-kadang, uang istilahnya mau bayar di koperasi melalui dia. Kalau penitipan di koperesi dibenarkan, kalau melalui pegawai ini nanti didalami, menurut aturan tidak boleh,” jelasnya.

Baca : Kendalikan Narkoba di Penjara, Kepala Rutan Purworejo Ditangkap BNN

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Jateng, Ibnu Chuldun memastikan Cahyono sudah tak terdaftar lagi sebagai pegawai di Rutan Purworejo.

“Ini satu bukti kesungguhan Menkumham untuk melakukan langkah tegas terkait zero narkoba, zero toleran, termasuk pungli di seluruh jajaran,” katanya, Rabu (17/1/2018).

Untuk mengisi kekosongan setelah Cahyono ditangkap, pihaknya telah menunjuk Eko Bekti Susanto sebagai plt kepala. Eko merupakan Kepala Balai Pemasyarakatan Klaten, dan tugasnya merangkap sebagai Plt Kepala Rutan Purworejo.

Menurut dia, penunjukan ini penting karena sangat mendesak. Karena ada pelayanan dan administrasi yang harus diselesaikan kepala rutan.

“Hal ini menjadi penting karena kebutuhan organisasi, institusi, karena Rutan Purworejo harus berproses memberi pelayanan dan administrasi termasuk fasilitatif keuangan dan sebagainya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Kendalikan Narkoba di Penjara, Kepala Rutan Purworejo Ditangkap BNN

MuriaNewsCom, Semarang – Kepala rumah tahanan (rutan) Purworejo, Cahyono Adhi Satriyanto (42), ditangkap petugas gabungan BNN dan BNN Provinsi Jateng. Cahyono diketahui sebagai pengendali narkoba di lapas yang dipimpinnya.

Mantan kepala Lapas Narkotika Nusakambangan ini diduga memberikan akses kepada jaringan Kristian Jaya Kusuma alias Sancai untuk mengedarkan narkoba di lapas.

Penangkapan ini dibenarkan oleh Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng, AKBP Suprinarto. Menurut dia, Cahyono ditangkap Senin (15/1/2018) kemarin. “Iya benar, ada penangkapan itu. Ini kerja tim gabungan kami dengan pusat,” katanya kepada wartawan.

Dia mengatakan, penangkapan dilakukan sekitar pukul 13.00 WIB di Purworejo. Dalam penangkapan tersebut, terdapat barang bukti hasil pembelian CAS yang diduga selama ini diterima dari Sancai.

Meski demikian, ia belum mau merinci seperti apa keterlibatan Cahyono dengan kelompok Sancai. Namun ia diduga menerima aliran dana dari Sancai. “Menerima aliran dana, ini masih pemeriksaan. Kita belum bisa memberikan banyak keterangan,” ujar Suprinarto.

Cahyono baru sekitar 3 bulan menjabat sebagai karutan Purworejo yakni sejak Oktober 2017. Sebelumnya ia mendapat amanat sebagai kalapas narkotika Nusakambangan Cilacap.

Keterlibatannya dengan kelompok Sancai cukup mengejutkan. Pasalnya, Sancai merupakan narapidana kasus narkoba kelas kakap asal Kalimantan yang sudah lama lihai mengendalikan narkoba jenis sabu.

Jaringan Sancai berulang kali ditangkap dari hasil pengembangan pihak BNN. Meski ditahan di Lapas Kota Pekalongan, namun Sancai masih bisa dengan leluasa mengendalikan narkoba.

Baca : Dedi, Mantan Pembunuh yang Selipkan Sabu 800 Gram di Wedges Terancam Hukuman Mati

Kasus bisnis narkotika oleh Kristian Jaya Kusuma ini sendiri sempat menyeret salah seorang oknum anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah atas dugaan suap. Oknum polisi berinisial KW ditangkap petugas BNN atas dugaan suap terhadap salah seorang perwira BNN Jawa Tengah berkaitan dengan perkara Kristian.

Kasus oknum berpangkat AKP itu sendiri sekarang ditangani Bidang Propam Polda Jawa Tengah. “Kelanjutannya masih dalam penyidikan BNN di pusat ya. Ada kaitanya dengan KW karena satu jaringan si Sancai,” terangnya.

Sebelumnya, BNN juga menangkap kurir bernama Dedi Setiawan yang ditangkap di Jalan Setia Budi Semarang karena mengendalikan dua perempuan pembawa narkoba jenis sabu seberat 800 gram. Dalam pengakuannya, kurir Dedi merupakan jaringan Sancai.

Editor : Ali Muntoha

Dedi, Mantan Pembunuh yang Selipkan Sabu 800 Gram di Wedges Terancam Hukuman Mati

Dua pelaku pengedar sabu yang salah satunya berambut gondrong diamankan BNNP Jateng. (Foto : iNews TV)

MuriaNewsCom, Semarang – Dua pengedar sabu, Dedi Kenia S dan Cristian Jawa Kusuma alias Sancai terancam hukuman mati. Mereka tertangkap dengan barang bukti sabu sebesar 811,90 gram senilai Rp 800 juta.

Dedi sendiri ditangkap petugas di kawasan patung kuda Undip, Tembalang. Saat ditangkap petugas menemukan 800 gram sabu yang disembunyikan di dalam dua pasangan wedges (sandal wanita).

tersangka merupakan residivis kasus pembunuhan yang baru saja menyelesaikan masa hukuman selama 22 tahun penjara di LP Kedungpane Semarang. Sementara Dedi merupakan tahanan narkoba di LP Pekalongan, yang diketahui sebagai bosnya Dedi.

Keduanya merupakan jaringan peredaran narkoba Semarang-Pekalongan. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Kamis (7/12/2017) memusnahkan barang bukti sabu hasil sitaan dua pengedar itu dimusnahkan.

Jumlah sabu yang dimusnkan seberat 75,01 gram, sementara sisanya digunakan sebagai bukti dalam persidangan. Proses pemusnahan dilakukan dengan memasukkan sabu ke dalam ember, yang berisi air, solar dan deterjen dan kemudian diaduk.

“Sisa sabu yang diamankan seberat 60,88 gram kami sisihkan untuk pembuktian di persidangan. Total nilai sabu yang diamankan sekitar Rp 800 juta,” kata Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo.

Dalam proses pemusanahan itu juga dihadiri perwakilan Kejaksaan Tinggi, BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, dan Labfor Mabes Polri.

Baca : Pria Kekar Gondrong Bertato Ini Bawa Wedges, Eh di Dalamnya Ada Narkoba

Kedua tersangka dalam kasus narkoba ini juga didatangkan untuk menyaksikan pemusnahan. Mereka masih menjalani proses hukum dengan jeratan pasal pasal 114 ayat (2) sub Pasal 112 ayat (2) sub Pasal 132 (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Dengan jeratan pasal yang diberitakan kepada dua tersangka, mereka terancam dengan hukuman mati.

“Ancaman hukumannya mati. Sementara untuk Sancai akan ditambah pasal 144 tentang pengulangan perbuatan tindak pidana narkotika selama masa penahanan dengan pemberatan hukuman berupa penambahan sepertiga dari hukuman biasa,” terang Tri Agus.

Editor : Ali Muntoha

Sepekan Polisi dan BNN Sanggongi Pabrik Pil PCC di Solo, Mereka Tunggu Ini Sebelum Gerebek

Polisi menjaga rumah yang digunakan sebagai pabrik pil PCC di Solo setelah digerebek tim gabungan BNNP Jateng dan Polda Jateng. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Solo – Tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Jateng selain menggerebek pabrik pil PCC di Kota Semarang, Minggu (3/12/2017) kemarin juga menggerebek rumah mewah di  Jalan Setia Budi Nomor66, Kampung Cinderejo Lor RT 001 /RW 004, Gilingan, Banjarsari, Solo.

Pabrik pil PCC berkedok rumah kontrakan itu ternyata sudah lima bulan diintai tim dari BNN. Karena pabrik ini juga memproduksi cukup banyak pil terlarang. Dari hasil penggerebekan kemarin, menurut Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso (Buwas), petugas mengamankan tiga juta pil PCC.

Selama setahun berproduksi, pabrik itu menurut Buwas telah memproduksi puluhan juta pil PCC yang diedarkan ke sejumlah daerah di Indonesia.

“Kami melihat dari barang bukti buku catatan produksi pabrik dari Januari-awal Desember telah memproduksi 50 juta pil PCC,” kata Buwas, di lokasi pabrik, Senin (4/12/2017).

Buwas mengatakan kasus ini terbongkar dari hasil pantauan intelijen baik Polresta Solo, Polda Jateng, BNNP Jateng, dan BNN selama lima bulan.

“Memerlukan waktu sekitar 5 bulan untuk menemukan pabriknya. Sebelumnya sudah menemukan beberapa tempat peredaran pil PCC di Kalimantan, termasuk Sulawesi dan Jakarta. Di situ kita dalami asal usul dari mana supply PCC ini. Akhirnya kita temukan pabriknya di Semarang dan Solo ini,” ujarnya.

Ia menyebut, BNN sebenarnya sudah mengetahui lokasi pabrik sepekan lalu. Namun tim gabungan dari BNNP dan kepolisian memilih melakukan pengintaian selama sepekan. Baru setelah pabrik itu beroperasi, tim gabungan langsung bergerak.

“Sebenarnya sudah kita temukan seminggu lalu tempat ini. Tapi kita belum yakin saat itu sedang produksi, karena kita kan butuh bukti. Polisi setempat dengan BNNP Jateng baru kemarin meyakini mereka produksi,” terangnya.

Baca : Pabrik Pil PCC dan Dextro di Semarang Hasilkan Rp 2,7 Miliar Per Bulan

Selain itu, Buwas juga menduga ada keterlibatan oknum yang membackingi pabrik tersebut. BNN masih menelusuri oknum itu dari institusi mana.

“Kami melihat dari barang yang dihasilkan pelaku di pabrik pembuatan pil PCC di Solo omzet mencapai Rp 2,7 miliar,” kata dia.

Selain menggerebek pabrik ini, tim gabungan juga menggeledah dua rumah yang digunakan sebagai gudang di daerah Langenharjo dan Kelurahan Gayam, Sukoharjo. Tim menangkap tujuh orang dari tiga tempat tersebut.

Mereka yakni Wildan, Jaja Isworo, Heri Dwimanto, Maryanto, Susilo, Suwardi dan Abid. Mereka dikendalikan oleh jaringan Sri Anggoro alias Ronggo.

Editor : Ali Muntoha

EDAN! Ganja 10 Kg dari Aceh Dikirim ke Semarang Lewat Kantor Pos

Barang bukti ganja yang berhasil diamankan. (Beritajateng.net)

MuriaNewsCom, Semarang – Tim Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah berhasil menggalkan pengiriman ganja dari Aceh seberat 10 kilogram. Tak hanya mengamankan barang bukti ganja, dan dua pengedar juga berhasil diamankan.

Yang membuat cukup tercengang, ganja itu dikirim dari Aceh melalui Kantor Pos. Tim BNNP Jateng yang mendeteksi masuknya narkoba itu langsung bertindak cepat.

Kantor Pos Pleburan yang menjadi tempat pengiriman langsung didatangi petugas. Sekitar 10 kilogram ganja bisa diamankan sebelum diambil. Selain itu, dua tersangka pengedar berinisial S dan R juga berhasil dibekuk.

Kabid Brantas BNNP Jateng, AKBP Suprinanto mengatakan, penangkapan ini dilakukan pada Selasa (10/10/2017) di Kantor Pos Pleburan. Keduanya ditangkap sesaat sebelum mengambil paket ganja tersebut.

“Mereka kami tangkap saat berada di Kantor Pos, berikut barang bukti Ganja Kering yang dikirim dari Aceh,” katanya kepada wartawan.

Modus yang digunakan yakni membungkas ganja dengan dicampur kopi. Untuk mengelabuhi petugas, jaringan narkoba ini mengirimkan ganja tidak langsung dari Aceh, melainkan dari Sumatera Utara.

Kini kedua tersangka berinisial S dan R diamankan di Kantor BNNP Jateng berikut barang bukti Ganja seberat 10 kilogram lebih.

Di sisi lain, Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Rabu (11/10/2017) memusnahkan barang bukti narkoba, mulai dari sabu, ganja, maupun pil koplo. Kajari Semarang Dwi Samudji menyebut, barang-barang yang dimusnahkan tersebut antara lain 830 gram sabu, ribuan butir pil koplo, lebih dari 1 kg ganja.

Selain itu terdapat ratusan alat hisap yang bisa digunakan untuk pengguna narkoba. Menurut dia, pemusnahan tersebut juga dilakukan terhadap sejumlah barang bukti hasil tindak pidana lain, seperti uang palsu, senjata api rakitan, serta senjata api replika.

“Setelah berkekuatan hukum tetap akan langsung kami musnahkan agar tidak memenuhi tempat penyimpanan,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Tiba-tiba Mata dan Urine Penghuni Lapas Wanita Semarang Diperiksa Petugas BNN, Ini yang Mereka Cari

Petugas BNN Provinsi Jateng saat melakukan razia di Lapas Wanita Semarang, malam tadi. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Ratusan narapidana di Lapas Wanita Kelas II A Semarang (LP Bulu) kaget saat malam-malam didatangi petugas dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Selasa (3/10/2017) malam.

Para petugas ini melakukan razia dan memeriksa satu persatu seluruh penghuni lapas. Merkea mencari kemungkinan adanya peredaran obat-obatan terlarang di dalam lapas.

Para penghuni juga diperiksa pupil matanya dan dilakukan tes urine untuk memastikan mereka tak mengonsumsi narkoba.

Meski demikian, dalam pemeriksaan itu tak ditemukan adanya penghuni lapas yang terindikasi menggunakan obat terlarang.

”Kami lakukan tes pupil mata kepada semua warga binaan, kemudian mana yang perlu diperdalam kita lakukan tes urine. Untuk sementara ini mereka clear dan clean,” kata Kabid Pemberantasan BNNP Jateng, Suprinarto.

Razia ini merupakan bagian dari Operasi Bersinar. Operasi serupa akan dilakukan di lapas-lapas yang lain. Tak hanya lapas, sejumlah rumah kos juga menjadi sasaran operasi ini.

Kalapas Wanita Kelas II A Semarang, Astriati mengatakan pihaknya sangat mendukung pelaksanaan operasi oleh BNNP dalam mewujudkan penghuni lapas terbebas dari narkoba.

Selain penggeledahan, petugas lapas juga melakukan pemeriksaan secara ketat para pengunjung lapas yang masuk, termasuk barang bawaannya.

“Di dalam lapas penghuni juga bebas halinar (hanphone, pungutan liar dan narkoba). Kita menerapkan itu, bahkan barang milik petugas lapas sendiri termasuk HP juga wajib harus disimpan di porter,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dikira Konsumsi Narkoba, Pemandu Karaoke di Semarang Ini Ternyata Pakai Obat Gigi

Petugas BNNP Jateng tengah memeriksa urine pegawai karaoke di Kota Semarang. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah gencar melakukan tindak pencegahan peredaran narkoba di provinsi. Salah satu sasarannya, yakni menggelar razia di tempat-tempat hiburan malam dan karaoke, yang disinyalir sebagai salah satu lokasi peredaran barang haram ini.

Sejumlah tempat karaoke di Kota Semarang dirazia, Selasa (26/9/2017) petang kemarin. Hasilnya negatif, namun ada satu orang yang diperiksa yang sempat diduga mengonsumsi narkoba.

Ini terjadi ketika petugas melakukan razia dan tes urine kepada pemandu karaoke dan seluruh pegawai di Eleven Karaoke and Spa yang beralamat di Jalan Puri Anjasmoro, Kota Semarang.

Dari 90 orang yang dites urine, ada satu yang diketahui hasilnya positif. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata tanda positif itu muncul dari obat sakit gigi yang dikonsumsi.

Kabid Pemberantasan Narkotika BNNP Jawa Tengah, Sprinarto menyebut, setelah dilakukan pemeriksaan obat sakit itu dikonsumsi berdasarkan resep dokter.

“Ada 90 orang yang diperiksa. pemeriksaan dimulai dari owner, manager, staff  dan pemandu karoke.  ada satu orang kedapatan mengandung amfetamin, namun itu karena dia mengonsumsi obat sakit gigi sama obat engsel kaki, jadi dia menggunakan sesuai dengan resep dokter,” ujar Suprinarto.

Selain di Eleven Karaoke and Spa, petugas juga melakukan operasi di Forbes yang berada di Gayamsari. Di tempat tersebut petugas juga melakukan tes urin kepada 71 orang pegawai, dan semuanya dinyatakan negatif narkoba.

Pada tahun 2017 ini BNNP Jateng telah melakukan operasi serupa sebanyak 16 kali, dan 8 di antaranya dilakukan di Kota Semarang. Hal ini lantaran peredaran narkoba di Kota Semarang cukup tinggi. Untuk sasaran operasi tidak hanya di tempat hiburan namun juga di tempat-tempat kos.

“Kalau luar kota ya seperti Solo, Demak, Kudus, Pekalongan, dan untuk luar kota mungkin pekan yang akan datang kita akan ke Karimunjawa,” terangnya.

Sementara itu, General Manager Eleven Karaoke, Nurul Fitriyana, menegaskan pihaknya sangat ketat menerapkan kebijakan, terutama mengenai penyalahgunaan narkoba. Sanksi tegas akan diberikan jika ada karyawan yang membawa atau mengonsumsi narkoba.

“Sanksinya bisa dipecat. Saya juga ingin menerangkan bahwa pegawai kami yang sebelumnya dikatakan menggunakan narkoba itu tidak benar. Ia mengkonsumsi obat sakit gigi, ada surat keterangan dokternya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Gimana Dampaknya Jika Hakim Mengadili Kasus Sambil Teler? Begini Antisipasi PN Semarang

Petugas melakukan pendataan urine milik PNS Kudus saat tes berlangsung di kantor setda setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Semarang – Hakim kerap dianggap sebagai perwakilan Tuhan di dunia, yang mempunyai kuasa untuk memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang, dan menggangjarnya dengan hukuman.

Lantas bagaimana jika sang hakim mengadili saat terpengaruh minuman keras atau obat-obatan terlarang?. Tentu keputusan yang dihasilkan bisa saja tidak adil dan merugikan banyak pihak.

Oleh karenanya, lembaga peradilan kini tengah gencar-gencarnya mengadakan upaya antisipasi, agar jangan sampai ada hakim yang mengadili sambil teler.

Seperti yang dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Senin (25/9/2017) yang bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jateng, memeriksa seluruh hakim di lembaga tersebut.

Seluruh hakim di PN Semarang diperiksa urinenya, untuk mengetahui para hakim ini terpengaruh obat-obatan terlarang atau tidak. Tak hanya hakim, seluruh pegawai PN juga menjalani pemeriksaan serupa.

Sebelum diperiksa urinenya, para hakim serta pegawai PN dikumpulkan di ruang sidang utama untuk memperoleh penjelasan dari petugas BNN. Usai memperoleh penjelasan, satu per satu hakim serta pegawai pengadilan diminta memberikan sampel urinenya.

“Sesuai instruksi MA, seluruh pengadilan harus menuntaskan tes urine yang dilakukan bersama BNN hingga akhir tahun ini,” kata Juru bicara PN Semarang M Saenal, dikutip dari Antarajateng.com.

Menurut dia, sebagai penegak hukum, hakim dan seluruh perangkat penunjangnya harus bersih. Hasil tes urine ini selanjutnya akan disampaikan langsung ke MA.

Saenal belum bisa mengungkapkan sanksi yang diberikan jika ditemukan hasil positif dari tes urine tersebut. “Semua kami serahkan ke MA,” tambahnya.

Kepala Seksi Pencegahan BNN Jawa Tengah Jamaluddin Ma`ruf mengatakan ada 153 hakim dan pegawai PN yang dites pada hari ini. Menurut dia, hasil pemeriksaan tidak bisa langsung diketahui hari ini juga. Ia menjelaskan hasil nantinya akan langsung disampaikan kepada pimpinan PN.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Gram Sabu yang Akan Diedarkan di Pati dan Sragen Dimusnahkan

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Barang bukti kasus penyalahgunaan narkoba berupa sabu seberat 300 gram dimusnahkan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Jumat (15/9/2017) dimusnahkan.

Sabu itu diamankan petugas dari berbagai pelaku di wilayah Kabupaten Pati dan Sragen. Pemusnahan dengan mencampur sabu dengan deterjen dan air itu, sesuai dengan aturan UU Nomor 35 Tahun 35 tentang Narkotika.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengatakan, barang bukti sabu itu diamankan dari dua tersangka. Yakni Awiyanto (48) yang diamankan di halte Jalan Raya Kaligawe, Semarang, dan Moh Fauzi (25), warga Jalan Bedas Utara, Dadapsari, Semarang Utara.

Dua orang ini merupakan jaringan. Dari tangan Awiyanto ditemukan sabu seberat 25 gram yang sebelumnya diletakkan oleh Moh Fauzi. Sementara dari rumah Moh Fauzi petugas mengamankan sabu seberat 275 gram.

”Total sebenarnya 300 gran. Yang 25 gram rencanaya akan diberikan kepada tersangka Awiyanto,” katanya.

Pengembangan kasus ini tak selesai dengan penangkapan dua tersangka ini saja. Dari pengakuan tersangka diketahui nama Sigit Laksono (25), warga Dukuhseti, Kabupaten Pati.

Sigit merupakan seorang narapidana yang ditahan di LP Kelas II A Sragen. Setelah berkoordinasi dengan Kanwil Kemenkumham Jateng, Sigit akhirnya juga diamankan dan diinterogasi di BNNP Jateng.

“Sigit Laksono merupakan orang yang menyuruh tersangka Awiyarno mengambil sabu seberat 25 yang nantinya akan diedarkan ke wilayah Pati Sragen,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Agus Imakudin Diduga juga jadi Pengedar Sabu

ai e

Agus Imakudin (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah tak mau puas, dengan hanya menetapkan Ketua Komisi C DPRD Kudus Agus Imakudin sebagai pengguna sabu.

Lembaga pemberantas narkoba itu, tengah menelusuri peran Agus Imakudin, yang diduga juga berperan sebagai pengedar.

Berdasarkan informasi yang didapatkan MuriaNewsCom, Agus Imakudin sering menawarkan sabu ke beberapa rekannya di Kudus. Termasuk pula ke kalangan DPRD Kudus.

Kepala BNNP Jateng Kombes Tri Agus Heru mengaku juga mendapatkan informasi seperti itu. Saat ini, pihaknya tengah melakukan penyelidikan tetang informasi tersebut.

“Kami akan tindak lanjuti. Kami akan lakukan penelusuran. Jaringan Agus akan kami bidik,” kata Tri dihubungi wartawan.

Jika nanti BNNP menemukan barang bukti mengarah pada keterlibatan Agus jadi pengedar, BNNP akan mengubah statusnya. Yang semula pengguna, menjadi pengedar.

Diketahui, saat ini Agus ditetapkan sebagai tersangka, serta sebagai pengguna. Hal itu tak lepas dari barang bukti yang dibawa Agus Imakudin saat geledah, kurang dari 1 gram.  BNNP pun merehabilitasinya,

BNNP menetapkan tiga tersangka. Diketahui, Agus Imakudin sebagai pengguna dikenakan pasal 127, Nur Ade Erwansyah sebagai perantara dikenakan pasal 112 ayat (1) juncto pasal 114 ayat (1), dan Farasanti sebagai pengedar. Sedangkan VR atau NN masih berstatus sebagai saksi. Pasal tersebut sesuai dengan Undang Undang no 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Ketua Komisi C Ditangkap BNNP, Ketua DPRD Kudus : Kemarin Masih Ikut Paripurna 

 

 

Ketua Komisi C Ditangkap BNNP, Ketua DPRD Kudus : Kemarin Masih Ikut Paripurna

Agus Imakudin, Ketua Komisi C DPRD Kudus (MuriaNewsCom)

Agus Imakudin, Ketua Komisi C DPRD Kudus (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus –  Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng menangkap Ketua Komisi C DPRD Kudus, Agus Imakudin di Kawasan Puri Anjasmoro Senin (25/7/2016) sore.

Penangkapan politisi PDI Perjuangan oleh BNNP itu, karena diduga terlibat penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Menurut informasi, saat penangkapan Agus sedang bersama wanita dekatnya, yakni VR.

Penangkapan Agus Imakudin dikuatkan dengan beredarnya informasi di media sosial path yang diunggah oleh seseorang yang bernama Kunarto : yang isinya “Masih Anget. Barusan kita tangkap Ketua Komisi C DPRD Kudus Agus Imakhudin di Puri Anjasmoro Semarang dengan BB narkotika jenis sabu. Selamat rekan2.

Terkait dengan penangkapan Ketua Komisi C DPRD Kudus tersebut, Ketua DPRD Kudus Mas’an menyampaikan jika dirinya sebagai pimpinan dewan, untuk sampai saat ini belum mengambil sikap. “Saya no comment dulu lah. Nanti kalau sudah jelas, saya kabari,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Namun demikian, dirinya menyatakan, jika yang bersangkutan, yakni Agus Imakudin pada Senin siang kemarin masih mengikuti sidang paripurna. “Ya kemarin masih ikut paripurna dia,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Agus Imakudin sebelumnya sempat dikabarkan digerebek Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah, pada Sabtu (4/6/2016) di Perumahan Tamansari Majapahit, Pedurungan Semarang, Blok B2 nomor 11, Kota Semarang. Saat itu, Agus digerebek bersama seorang perempuan berinisial VR tersebut.

Namun ketika itu, saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Kepala Subdirektorat II Dit Resnarkoba Polda Jawa Tengah, AKBP Carto Nuryanto mengatakan jika tidak ada apa-apa.“Gak ada masalah apa-apa. Kok ini malah jadi polemik. Saya masih di Dir (Dir Res Narkoba),” katanya singkat.

Editor : Kholistiono