Karutan Purworejo Ngaku Dititipi Uang Sancai, Tapi Bantah jadi Jaringan Narkoba

MuriaNewsCom, Semarang – Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Purworejo Cahyono Adhi Satriyanto (42), ditangkap BNN dan BNNP Jateng karena diduga mengendalikan peredaran narkoba oleh jaringan Kristian Jaya Kusuma alias Sancai.

Kini Kementerian Hukum dan HAM mencopot jabatan Cahyono dan menggantinya dengan pelaksana tugas (plt). Eko Bekti Susanto, ditugaskan sebagai Plt Kepala Rutan Purworejo, mulai Rabu (17/1/2018) hari ini.

Cahyono ditengarai menerima kucuran dana dari Sancai untuk memuluskan peredaran narkoba di Rutan Purworejo. Diketahui Cahyono mulai mengenal Sancai sejak Cahyono bertugas sebagai Kepala Rutan Narkoba Nusa Kambangan.

Saat diperiksa Kanwil Kemenkumham Jateng, Cahyono membantah menjadi jaringan narkoba. Meski demikian, ia tak membantah jika pernah menerima uang dari Sancai.

Namun uang itu diakuinya bukan untuk memuluskan aksi jaringan Sancai mengedarkan narkoba di penjara.

“Menurut pengakuannya ya, dia tidak terlibat jaringan narkoba. Memfasilitasi tidak, hasil pemeriksaan tadi dia pernah dikasih uang. Besaraannya cuma sedikit, sejuta (rupiah),” kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah, Djoni Priyatno kepada wartawan.

Pengakuan Cahyono, uang yang diberikan Sancai itu merupakan uang titipan koperasi. Pemberian uang ini juga saat Cahyono masih menjabat sebagai Kepala Lapas Narkotika Nusakambangan. Saat itu Sancai ditahan di penjara ini, sebelum dipindah ke Lapas Pekalongan.

“Kadang-kadang, uang istilahnya mau bayar di koperasi melalui dia. Kalau penitipan di koperesi dibenarkan, kalau melalui pegawai ini nanti didalami, menurut aturan tidak boleh,” jelasnya.

Baca : Kendalikan Narkoba di Penjara, Kepala Rutan Purworejo Ditangkap BNN

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Jateng, Ibnu Chuldun memastikan Cahyono sudah tak terdaftar lagi sebagai pegawai di Rutan Purworejo.

“Ini satu bukti kesungguhan Menkumham untuk melakukan langkah tegas terkait zero narkoba, zero toleran, termasuk pungli di seluruh jajaran,” katanya, Rabu (17/1/2018).

Untuk mengisi kekosongan setelah Cahyono ditangkap, pihaknya telah menunjuk Eko Bekti Susanto sebagai plt kepala. Eko merupakan Kepala Balai Pemasyarakatan Klaten, dan tugasnya merangkap sebagai Plt Kepala Rutan Purworejo.

Menurut dia, penunjukan ini penting karena sangat mendesak. Karena ada pelayanan dan administrasi yang harus diselesaikan kepala rutan.

“Hal ini menjadi penting karena kebutuhan organisasi, institusi, karena Rutan Purworejo harus berproses memberi pelayanan dan administrasi termasuk fasilitatif keuangan dan sebagainya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Kendalikan Narkoba di Penjara, Kepala Rutan Purworejo Ditangkap BNN

MuriaNewsCom, Semarang – Kepala rumah tahanan (rutan) Purworejo, Cahyono Adhi Satriyanto (42), ditangkap petugas gabungan BNN dan BNN Provinsi Jateng. Cahyono diketahui sebagai pengendali narkoba di lapas yang dipimpinnya.

Mantan kepala Lapas Narkotika Nusakambangan ini diduga memberikan akses kepada jaringan Kristian Jaya Kusuma alias Sancai untuk mengedarkan narkoba di lapas.

Penangkapan ini dibenarkan oleh Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng, AKBP Suprinarto. Menurut dia, Cahyono ditangkap Senin (15/1/2018) kemarin. “Iya benar, ada penangkapan itu. Ini kerja tim gabungan kami dengan pusat,” katanya kepada wartawan.

Dia mengatakan, penangkapan dilakukan sekitar pukul 13.00 WIB di Purworejo. Dalam penangkapan tersebut, terdapat barang bukti hasil pembelian CAS yang diduga selama ini diterima dari Sancai.

Meski demikian, ia belum mau merinci seperti apa keterlibatan Cahyono dengan kelompok Sancai. Namun ia diduga menerima aliran dana dari Sancai. “Menerima aliran dana, ini masih pemeriksaan. Kita belum bisa memberikan banyak keterangan,” ujar Suprinarto.

Cahyono baru sekitar 3 bulan menjabat sebagai karutan Purworejo yakni sejak Oktober 2017. Sebelumnya ia mendapat amanat sebagai kalapas narkotika Nusakambangan Cilacap.

Keterlibatannya dengan kelompok Sancai cukup mengejutkan. Pasalnya, Sancai merupakan narapidana kasus narkoba kelas kakap asal Kalimantan yang sudah lama lihai mengendalikan narkoba jenis sabu.

Jaringan Sancai berulang kali ditangkap dari hasil pengembangan pihak BNN. Meski ditahan di Lapas Kota Pekalongan, namun Sancai masih bisa dengan leluasa mengendalikan narkoba.

Baca : Dedi, Mantan Pembunuh yang Selipkan Sabu 800 Gram di Wedges Terancam Hukuman Mati

Kasus bisnis narkotika oleh Kristian Jaya Kusuma ini sendiri sempat menyeret salah seorang oknum anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah atas dugaan suap. Oknum polisi berinisial KW ditangkap petugas BNN atas dugaan suap terhadap salah seorang perwira BNN Jawa Tengah berkaitan dengan perkara Kristian.

Kasus oknum berpangkat AKP itu sendiri sekarang ditangani Bidang Propam Polda Jawa Tengah. “Kelanjutannya masih dalam penyidikan BNN di pusat ya. Ada kaitanya dengan KW karena satu jaringan si Sancai,” terangnya.

Sebelumnya, BNN juga menangkap kurir bernama Dedi Setiawan yang ditangkap di Jalan Setia Budi Semarang karena mengendalikan dua perempuan pembawa narkoba jenis sabu seberat 800 gram. Dalam pengakuannya, kurir Dedi merupakan jaringan Sancai.

Editor : Ali Muntoha

Berantas Narkoba, Puluhan Tentara Kodim Kudus/0722 Dites Urine

Petugas dari BNN melakukan pengecekan urine tentara Kodim Kudus/0722. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan anggota Kodim Kudus/0722 dites urine dadakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jateng, Senin (11/12/2017). Tes urine tersebut, dilakukan guna mengetahui apakah ada anggota Kodim Kudus yang mengkonsumsi narkoba.

Dandim Kudus 0722 Letkol Inf Sentot Dwi Purnomo mengatakan, acara tes urine dilaksanakan secara rutin oleh Kodim Kudus. Pelaksanaan dilakukan tiga bulan sekali.

“Tes urine ini merupakan kali keempat tahun ini,  ini berlangsung lancar dan tertib seperti pelaksanaan sebelumya,” katanya kepada MuriaNewsCom di Makodim Kudus.

Menurut dia, tujuan dilaksanakan tes urin adalah mengetahui anggota mengkonsumsi barang yang terlarang atau tidak. Sebagai seorang tentara, mengkonsumsi barang tersebut tidak diperbolehkan.

Dikatakan Dandim Kudus, tes yang dilaksanakan tak hanya melulu untuk para anggota saja. Namun, beberapa kali tes juga dilakukan juga untuk seluruh anggota keluarga. Itu pernah dilakukan pada triwulan ketiga tahun ini.

Sementara, Kasi Pemberdayaan Masyarakat pada BNN Yustina Martin Catur E, menyebutkan jumlah yang di tes urine mencakup seluruh petugas kodim. Hingga jam 09.00 WIB, jumlah anggota yang dites urin mencapai jumlah 52 petugas.

Editor: Supriyadi

Dedi, Mantan Pembunuh yang Selipkan Sabu 800 Gram di Wedges Terancam Hukuman Mati

Dua pelaku pengedar sabu yang salah satunya berambut gondrong diamankan BNNP Jateng. (Foto : iNews TV)

MuriaNewsCom, Semarang – Dua pengedar sabu, Dedi Kenia S dan Cristian Jawa Kusuma alias Sancai terancam hukuman mati. Mereka tertangkap dengan barang bukti sabu sebesar 811,90 gram senilai Rp 800 juta.

Dedi sendiri ditangkap petugas di kawasan patung kuda Undip, Tembalang. Saat ditangkap petugas menemukan 800 gram sabu yang disembunyikan di dalam dua pasangan wedges (sandal wanita).

tersangka merupakan residivis kasus pembunuhan yang baru saja menyelesaikan masa hukuman selama 22 tahun penjara di LP Kedungpane Semarang. Sementara Dedi merupakan tahanan narkoba di LP Pekalongan, yang diketahui sebagai bosnya Dedi.

Keduanya merupakan jaringan peredaran narkoba Semarang-Pekalongan. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Kamis (7/12/2017) memusnahkan barang bukti sabu hasil sitaan dua pengedar itu dimusnahkan.

Jumlah sabu yang dimusnkan seberat 75,01 gram, sementara sisanya digunakan sebagai bukti dalam persidangan. Proses pemusnahan dilakukan dengan memasukkan sabu ke dalam ember, yang berisi air, solar dan deterjen dan kemudian diaduk.

“Sisa sabu yang diamankan seberat 60,88 gram kami sisihkan untuk pembuktian di persidangan. Total nilai sabu yang diamankan sekitar Rp 800 juta,” kata Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo.

Dalam proses pemusanahan itu juga dihadiri perwakilan Kejaksaan Tinggi, BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, dan Labfor Mabes Polri.

Baca : Pria Kekar Gondrong Bertato Ini Bawa Wedges, Eh di Dalamnya Ada Narkoba

Kedua tersangka dalam kasus narkoba ini juga didatangkan untuk menyaksikan pemusnahan. Mereka masih menjalani proses hukum dengan jeratan pasal pasal 114 ayat (2) sub Pasal 112 ayat (2) sub Pasal 132 (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Dengan jeratan pasal yang diberitakan kepada dua tersangka, mereka terancam dengan hukuman mati.

“Ancaman hukumannya mati. Sementara untuk Sancai akan ditambah pasal 144 tentang pengulangan perbuatan tindak pidana narkotika selama masa penahanan dengan pemberatan hukuman berupa penambahan sepertiga dari hukuman biasa,” terang Tri Agus.

Editor : Ali Muntoha

Sepekan Polisi dan BNN Sanggongi Pabrik Pil PCC di Solo, Mereka Tunggu Ini Sebelum Gerebek

Polisi menjaga rumah yang digunakan sebagai pabrik pil PCC di Solo setelah digerebek tim gabungan BNNP Jateng dan Polda Jateng. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Solo – Tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Jateng selain menggerebek pabrik pil PCC di Kota Semarang, Minggu (3/12/2017) kemarin juga menggerebek rumah mewah di  Jalan Setia Budi Nomor66, Kampung Cinderejo Lor RT 001 /RW 004, Gilingan, Banjarsari, Solo.

Pabrik pil PCC berkedok rumah kontrakan itu ternyata sudah lima bulan diintai tim dari BNN. Karena pabrik ini juga memproduksi cukup banyak pil terlarang. Dari hasil penggerebekan kemarin, menurut Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso (Buwas), petugas mengamankan tiga juta pil PCC.

Selama setahun berproduksi, pabrik itu menurut Buwas telah memproduksi puluhan juta pil PCC yang diedarkan ke sejumlah daerah di Indonesia.

“Kami melihat dari barang bukti buku catatan produksi pabrik dari Januari-awal Desember telah memproduksi 50 juta pil PCC,” kata Buwas, di lokasi pabrik, Senin (4/12/2017).

Buwas mengatakan kasus ini terbongkar dari hasil pantauan intelijen baik Polresta Solo, Polda Jateng, BNNP Jateng, dan BNN selama lima bulan.

“Memerlukan waktu sekitar 5 bulan untuk menemukan pabriknya. Sebelumnya sudah menemukan beberapa tempat peredaran pil PCC di Kalimantan, termasuk Sulawesi dan Jakarta. Di situ kita dalami asal usul dari mana supply PCC ini. Akhirnya kita temukan pabriknya di Semarang dan Solo ini,” ujarnya.

Ia menyebut, BNN sebenarnya sudah mengetahui lokasi pabrik sepekan lalu. Namun tim gabungan dari BNNP dan kepolisian memilih melakukan pengintaian selama sepekan. Baru setelah pabrik itu beroperasi, tim gabungan langsung bergerak.

“Sebenarnya sudah kita temukan seminggu lalu tempat ini. Tapi kita belum yakin saat itu sedang produksi, karena kita kan butuh bukti. Polisi setempat dengan BNNP Jateng baru kemarin meyakini mereka produksi,” terangnya.

Baca : Pabrik Pil PCC dan Dextro di Semarang Hasilkan Rp 2,7 Miliar Per Bulan

Selain itu, Buwas juga menduga ada keterlibatan oknum yang membackingi pabrik tersebut. BNN masih menelusuri oknum itu dari institusi mana.

“Kami melihat dari barang yang dihasilkan pelaku di pabrik pembuatan pil PCC di Solo omzet mencapai Rp 2,7 miliar,” kata dia.

Selain menggerebek pabrik ini, tim gabungan juga menggeledah dua rumah yang digunakan sebagai gudang di daerah Langenharjo dan Kelurahan Gayam, Sukoharjo. Tim menangkap tujuh orang dari tiga tempat tersebut.

Mereka yakni Wildan, Jaja Isworo, Heri Dwimanto, Maryanto, Susilo, Suwardi dan Abid. Mereka dikendalikan oleh jaringan Sri Anggoro alias Ronggo.

Editor : Ali Muntoha

Buwas Siap Nyalon Gubernur Jateng, Tapi Ada Syaratnya

Spanduk dukungan terhadap Budi Waseso tersebar di sejumlah titik di Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Berhembusnya kabar akan majunya Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso (Buwas), dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 kian santer. Terlebih spanduk berisi foto Buwas juga sudah terpasang di sejumlah titik.

Buwas sendiri mengaku siap jika harus ikut berkompetisi dalam pilgub. Hanya saja, ia menyebut akan merampungkan tugas-tugasnya terlebih dahulu sebagai abdi Negara.

Hal ini dikatakan Buwas, dalam jumpa pers pengerebekan pabrik pil PCC di Kota Semarang, Senin (4/12/2017).

“Saya ini kan abdi negara. Saya punya tanggung jawab kepada negara. Nanti dulu, saya selesaikan tugas sebagai abdi negara. Mungkin tahun depan selesai,” beber mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri itu.

Pria kelahiran Pati ini juga mengaku jika dirinya saat ini belum melakukan komunikasi dengan partai-partai politik yang siap mengusungnya maju pada Pilkada atau Pilgub Jateng 2018. “Belum. Kita lihat saja nanti,” ujarnya.

Ditanya tentang spanduk yang tersebar di sejumlah daerah, Buwas mengaku tidak tahu menahu. Ia juga menyebut, tak tahu pihak mana yang memasang spanduk tersebut.

“Saya malah belum tahu ada spanduk itu. Siapa yang memasang dan menginginkan saya maju belum tahu. Apa benar rakyat Jateng atau lainnya?” terangnya.

Di sejumlah daerah spanduk dukungan terhadap Buwas sudah mulai banyak terpasang. Di antaranya di Kota Semarang, maupun di Karanganyar.

Di Kota Semarang lokasi pemasangan spanduk ada di pagar dekat traffic light di Jalan Gajahmada Semarang. Tidak ada logo partai di spanduk tersebut namun tertulis di pojok kanan atas, “Relawan Jateng Gemilang”.

Di sisi kiri spanduk terpampang foto Buwas dan namanya dengan keterangan sebagai Calon Gubernur Jateng 2018. Tagline dipasang besar dengan bunyi, “Jateng Gemilang”.

Ungkapan dukungan dipasang di bagian tengah yaitu, “Rakyat Jateng Memanggil Putra Daerahnya. Buwas Datang Masa Depan Cemerlang”. Kemudian di sisi bawah ditulis, “Cerdas, Tegas, Berintegritas”. Ada 2 logo yang terpampang yaitu logo Stop Narkoba dan logo lingkaran bertuliskan Buwas for Jateng.

“Itu beredar saya baru tahu. Jujur saja ini tidak tahu siapa yang inginkan itu. Apa masyarakat Jateng umumnya, tidak tahu juga. Saya masih mengabdi di BNN, belum selesai,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pabrik Pil PCC dan Dextro di Semarang Hasilkan Rp 2,7 Miliar Per Bulan

Mesin yang digunakan untuk memroduksi pil PCC di sebuah rumah di Jalan Halmahera, Semarang, yang digerebek BNN. (istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BBN) dan Polda Jawa Tengah, menggerebek pabrik pembuat pil Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC) di Jalan Halmahera Nomor 27, Karangtempel, Semarang Timur, Kota Semarang, Minggu (3/12/2017). Pabrik yang berada di dalam rumah mewah ini mampu memproduksi 9 juta butir per hari.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso (Buwas) dalam jumpa pers di lokasi penggerebekan, Senin (4/12/2017) menyebut, selain memproduksi pil PCC pabrik itu juga memproduksi pil dextro. Pihaknya telah mengamankan jutaan butir pil siap edar.

“Sudah diamankan 13 juta butir. Per hari produksinya mencapai 9 juta butir pil. Sudah 11 tersangka diamankan,” katanya.

Joni, dalang atau pemilik pabrik itu diperkirakan mampu mengantongi keuntungan sampai miliaran rupiah dalam penjualan pil ilegal tersebut.

“Pendapatanya mencapai Rp 2,7 miliar per bulan. Ini tidak mungkin jika hanya per orangan, sudah ada penerima dan sudah ada agennya di daerah-daerah,” ujar Buwas.

Ia menegaskan akan melakukan pengembangan lebih lanjut karena selain barang bukti pil pihaknya juga mendapatkan catatan agen-agen penerima lengkap dengan besaran pesanan yang diminta.

“Ini ada yang namanya Aril, ada yang sudah haji juga ni namanya, pesab 20 dus padahal satu dus ada 20 ribu butir bayangkan masak mau dimakan sendiri,” jelas Buwas.

 

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso menunjukkan pil PCC yang telah diproduksi. (Foto : detik.com)

Saat diamankan, tersangka Joni juga menyimpan satu pucuk pistol. Meski pistol itu berisi peluru karet, namun menurut Buwas, sangat bisa diubah menggunakan peluru tajam.

Kepemilikan senjata ini juga akan ditelusuri Polda Jateng. Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mengatakan, pihaknya akan menelusuri izin pistol tersebut. “Soal pistol, kami akan menelusuri ke pihak-pihak terkait,” kata Irjen Pol Condro.

Baca : Sepekan Polisi dan BNN Sanggongi Pabrik Pil PCC di Solo, Mereka Tunggu Ini Sebelum Gerebek

Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Brigjen Irwanto mengatakan, pil ini diproduksi untuk dikirim dan diedarkan di Kalimantan Tengah. Di Semarang ada dua lokasi, di Halmahera untuk pabrik, dan di Jalan Medoho Raya sebagai gudang.

Sementara 11 orang yang diamankan terdiri dari, 8 orang karyawan yang diamankan di TKP Jalan Halmahera, dan 2 orang karyawan diamankan di TKP gudang di Jalan Medoho Raya. Sedangkan satu orang bernama Joni yang diduga sebagai pemiliknya.

“Pengungkapan ini berkaitan pengembangan di Tasikmalaya dengan tersangka bernama Ronggo dari Tasikmalaya,” tambahnya.

Dari penyelidikan sementara petugas, pil tersebut diedarkan di wilayah luar Jawa, seperti Kalimantan dan Sumatera melalui jasa paket. Hingga saat ini petugas gabungan BNN dan Polda Jawa Tengah masih menyelidiki terkait kasus ini.

Editor : Ali Muntoha

Pria Kekar Gondrong Bertato Ini Bawa Wedges, Eh di Dalamnya Ada Narkoba

Dua pelaku pengedar sabu yang salah satunya berambut gondrong diamankan BNNP Jateng. (Foto : iNews TV)

MuriaNewsCom, Semarang – Ada-ada saja cara yang digunakan jaringan narkotika untuk mengedarkan barang haram tersebut. Bahkan wedges (sepatu wanita) yang biasa diburu kaum hawa untuk mempercantik penampilannya juga menjadi sarana untuk mengedarkan narkoba jenis sabu.

Di Semarang, seorang pria tinggi kekar dan berambut gondrong dan bertato di kaki, dicurigai Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Tengah saat menenteng dua pasang wedges itu di kawasan patung kuda Undip Tembalang, Semarang. Benar saja di dalam sepatu-sepatu cantik itu ternyata terdapat beberapa paket sabu.

Tak main-main, jumlahnya mencapai 800 gram. Di setiap sepatu terdapat 200 gram bubuk putih ini. Sabu tersebut dimasukkan di dalam wedges dengan cara melubangi alas sandal. Dan memang terbukti cara ini sempat tak terdeteksi di metal detector maupun X-ray di bandara.

“Pengungkapan ini bermula saat BNN Jateng menerima laporan akan terjadi transaksi narkoba di kawasan Patung Kuda Universitas Diponegoro Semarang. Kami langsung menerjunkan anggota menuju lokasi untuk penyelidikan,” kata Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru, Jumat (17/11/2017).

Di lokasi tersebut petugas mendapati seorang pria tinggi besar dengan gerak-gerik mencurigakan. Petugas bergegas mengamankan pria yang mengendarai sepeda motor matic Honda Vario itu sebelum kabur. Saat digeledah, petugas mendapati dua pasang wedges yang disembunyikan dalam kantung plastik.

“Setelah diminta membuka salah satu alas sandal tersebut di dalamnya terdapat serbuk putih diduga narkotika jenis sabu seberat 200 gram. Kemudian tiga sandal lainnya juga dibuka dan ternyata bersisi sabu masing-masing 200 gram, sehingga total beratnya 800 gram,” ujarnya.

Tersangka diketahui bernama Dedi, warga Jalan Urip Sumoharjo, Susukan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Ternyata barang haram itu berasal dari Malaysia, kemudian dibawa ke Aceh hingga ke Semarang

Menurut Tri Agus Heru, sandal tersebut sebelumnya dipakai dua wanita asal Aceh. Mereka terbang dan transit di Jakarta baru kemudian ke Semarang. ”Dalam pemeriksaan di gate, mereka lolos karena alas kaki kan tidak dilepas untuk deteksi X-ray,” terangnya.

Dari pemeriksaan awal, tersangka sempat mengaku diperintah oleh pemilik akun BBM bernama “Antara Ada dan Tiada” di telepon selulernya. Pengakuannya, pemilik akun itu merupakan narapidana penghuni LP Karang Intan, Kalimantan Selatan, bernama Suriani Effendy.

Namun setelah dilakukan pengecekan dengan Kemenkumham, ternyata tidak ada nama Suriani Effendi di LP tersebut.

Dari pemeriksaan lebih lanjut diketahui bisnis narkotika tersebut dikendalikan oleh Cristian Jaya Kusuma, napi LP Pekalongan. Petugas kemudian menangkap Cristian dan mengamankan barang bukti alat komunikasi.

“Sempat berusaha mengelabuhi petugas. Akan tetapi, akhirnya bisa diungkap,” katanya.

Setelah dilakukan pendalaman, akhirnya juga diketahui jika tersangka merupakan residivis kasus pembunuhan yang baru saja menyelesaikan masa hukuman selama 22 tahun penjara di LP Kedungpane Semarang.

Hingga kini BNN Jateng masih mengembangkan kasus ini. Tersangka dijerat dengan pasal 114 (2) sub 112 (2) sub 132 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Editor : Ali Muntoha

Jadi ‘Gudang Narkoba’, Jepara Ternyata Belum Miliki BNNK

Ratusan kilogram sabu jasil penggerebekan gudang di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara menjadi daerah dengan peredaran narkoba cukup besar. Bahkan di daerah ini, pada awal tahun 2016 lalu sempat ditemukan gudang yang berisi ratusan kilogram sabu yang diselundupkan jaringan narkoba internasional dari luar negeri.

Bahkan saat itu Kepala BNN Komjen Budi Waseso sampai turun langsung ke Jepara saat proses penggerebekan gudang yang berada di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, Jepara, itu.

Meski peredaran narkoba cukup tinggi, namun ternyata di Jepara hingga kini belum berdiri Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK). Padahal daerah lain di sekitarnya seperti Kabupaten Pati, sudah lama mempunyai BNNK.

Dengan kondisi ini, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menginginkan agar BNNK segara ada di wilayahnya. Pihaknya mengupayakan agar tahun 2018 mendatang BNNK sudah beroperasi.

Ia menyebut telah melakukan komunikasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Hal itu terkait kesiapan terkait lokasi kantor. 

“Kami sudah berkomunikasi dengan BNN. Nanti akan kami ajukan proposal, terkait lokasi gedung untuk kantor BNN sudah kami persiapkan,” ujarnya, Kamis (5/10/2017). 

Baca : Gudang di Jepara Digerebek BNN, Simpan Ratusan Kilogram Sabu

Marzuqi berkeinginan agar BNNK segera dibentuk di Jepara.  

“Kalau kami berharap semakin cepat semakin baik. Dimungkinkan tahun depan 2018. Karena beberapa kali kan kita mengalami ujian (kasus narkoba) kita digunakan sebagai tempat singgah. Nah kalau sudah begitu kita tak boleh saling menyalahkan namun harus bergerak bersama untuk memberantas narkoba,” tuturnya. 

Terpisah, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono mengaku sangat setuju jika di Jepara dibentuk BNNK. Ia bahkan berjanji akan membantu komunikasi dengan BNN.

“Setuju kalau di Jepara ada BNNK. Bukan hanya di Jepara seharusnya di semua daerah ada, sehingga intensitas (penanganan) fokus pada peredaran narkoba. Namun pengusulannya itu berada di Pak Bupati Jepara (Pemkab), nanti saya ikut membantu (komunikasi dengan BNN),” tuturnya, usai Ground Breaking Mapolsek Welahan, kemarin.

Selain pembangunan BNNK, Kapolda Jateng juga meminta masyarakat Jepara untuk turut berpartisipasi dalam pemberantasan narkoba. Hal itu dengan melaporkan segala kejanggalan yang ada diwilayah terutama pantai. 

“Masyarakat juga harus ikut peduli dengan kawasan pantai, perairan dimana dijadikan sebagai akses masuk (pengedar narkoba) ke Jepara,” tutup Condro.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Sabu Temuan BNN di Jepara Berkualitas Tinggi

Ratusan Gram Sabu yang Akan Diedarkan di Pati dan Sragen Dimusnahkan

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Barang bukti kasus penyalahgunaan narkoba berupa sabu seberat 300 gram dimusnahkan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Jumat (15/9/2017) dimusnahkan.

Sabu itu diamankan petugas dari berbagai pelaku di wilayah Kabupaten Pati dan Sragen. Pemusnahan dengan mencampur sabu dengan deterjen dan air itu, sesuai dengan aturan UU Nomor 35 Tahun 35 tentang Narkotika.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengatakan, barang bukti sabu itu diamankan dari dua tersangka. Yakni Awiyanto (48) yang diamankan di halte Jalan Raya Kaligawe, Semarang, dan Moh Fauzi (25), warga Jalan Bedas Utara, Dadapsari, Semarang Utara.

Dua orang ini merupakan jaringan. Dari tangan Awiyanto ditemukan sabu seberat 25 gram yang sebelumnya diletakkan oleh Moh Fauzi. Sementara dari rumah Moh Fauzi petugas mengamankan sabu seberat 275 gram.

”Total sebenarnya 300 gran. Yang 25 gram rencanaya akan diberikan kepada tersangka Awiyanto,” katanya.

Pengembangan kasus ini tak selesai dengan penangkapan dua tersangka ini saja. Dari pengakuan tersangka diketahui nama Sigit Laksono (25), warga Dukuhseti, Kabupaten Pati.

Sigit merupakan seorang narapidana yang ditahan di LP Kelas II A Sragen. Setelah berkoordinasi dengan Kanwil Kemenkumham Jateng, Sigit akhirnya juga diamankan dan diinterogasi di BNNP Jateng.

“Sigit Laksono merupakan orang yang menyuruh tersangka Awiyarno mengambil sabu seberat 25 yang nantinya akan diedarkan ke wilayah Pati Sragen,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Sempat Ditawar Rp 20 Juta, Buaya Milik Warga Pati Ini Akhirnya Jadi “Satpam” Lapas Narkotika

Buaya milik Wara Tri Buwana yang akan dikirim ke Lapas Khusus Narkotika. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Buaya milik Wara Tri Buwana yang akan dikirim ke Lapas Khusus Narkotika. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Buaya piaraan milik Wara Tri Buwana, warga Desa Jembulwunut, Kecamatan Gunungwungkal, Pati akhirnya diserahkan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN), Sabtu (21/11/2015).

Buaya tersebut nantinya bersama ribuan ekor buaya lainnya ikut menjadi “satpam” untuk menjaga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) khusus bagi narapidana narkotika di sebuah pulau yang akan diputuskan Kementerian Hukum dan HAM.

”Buaya ini sempat ditawar Rp 20 juta. Tapi, tidak saya kasih. Soalnya, itu binatang kesayangan saya. Tapi, demi ikut mendukung program Bapak Budi Waseso, saya serahkan binatang kesayangan saya itu ke BNN untuk menjaga Lapas khusus narapidana narkotika,” ujar Wara saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pati Budiyono mengaku terkejut dengan sikap Wara yang rela hati melepas binatang buaya kesayangannya untuk mendukung program BNN. ”Empat belas tahun bersama hewan piaraan tentu bukan hal yang mudah untuk melepasnya. Karena itu, kami sangat mengapresiasi Ibu Wara,” katanya.

Ia menambahkan, penyebaran narkotika di Indonesia sudah mencapai level kritis. Karena itu, upaya tersebut diharapkan bisa mendukung program pemerintah dalam memberantas narkotika.

”Penyalahgunaan narkotika di Indonesia sudah keterlaluan. Sedikitnya 40 warga Indonesia meninggal dunia setiap hari karena penyalahgunaan narkoba. Jelas, penyalahgunaan narkoba menjadi pembunuh paling membahayakan yang harus diperangi,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Buaya Milik Warga Pati Ini Diserahkan BNN untuk Jaga Terpidana Narkotika

Penyerahan buaya secara simbolik dari dari Wara kepada Kapala Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pati Budiyono. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Penyerahan buaya secara simbolik dari dari Wara kepada Kapala Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pati Budiyono. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Buaya piaraan milik Wara Tri Buwana, warga Desa Jembulwunut, Kecamatan Gunungwungkal, Pati diserahkan ke Badan Narkotika Nasional (BNN) di Yayasan Zamzam Sangga Buwana, Sabtu (21/11/2015). Buaya itu diserahkan kepada Kepala Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pati Budiyono yang digunakan sebagai penjaga terpidana narkotika.

”Buaya ini nantinya dimanfaatkan untuk menunjang program BNN dalam penyediaan fasilitas lembaga pemasyarakatan (LP) khusus terpidana narkotika. Buaya ini jadi salah satu penjaga terpidana narkotika,” ujar Budiyono kepada MuriaNewsCom.

Usai diserahkan BNK, buaya itu diserahkan BNN tiga bulan mendatang. ”Penyerahan buaya sudah kami terima. Kami akan mengirimkan surat pemberitahuan secepatnya kepada BNN,” imbuhnya.

Ia mengatakan, pemanfaatan binatang buas tersebut diharapkan bisa membantu program BNN dalam mengamankan narapidana narkotika. ”Buaya air yang diserahkan ini berjenis kelamin betina dengan usia 14 tahun. Kami berharap bisa membantu dalam pengamanan narapidana narkotika,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)