Ayo Gabung Jadi Reseller Muntira

acne-series-e

MuriaNewsCom, Kudus – Ingin berbisnis dengan mudah,murah dan tetap terlihat cantik serta tahu bagaimana memelihara kecantikan wajah dan tubuhnya? Gabung aja dalam reseller Muntira Skin Care. Di bawah bendera PT Muntira Kosmeditama yang sudah terstandarisasi dari BPOM dan bersertifikat halal dari MUI ini membuka kesempatan bagi masyarakat yang berminat berbisnis kecantikan dengan menjadi reseller produk Muntira.

Caranya pun mudah, hanya tinggal registrasi Rp 50 ribu sudah mendapatkan katalog dan brosur produk . Selanjutnya melakukan pembelian perdana minimal Rp 1 juta dan berikutnya tanpa minimal transaksi. Hanya mulai menjual dan mendapatkan keuntungan.
lifting-series-e

Selain itu, mendapatkan diskon 20%, bonus perekrutan downline dan bonus akhir tahun. Apabila bertransaksi minimal Rp 6 juta per bulan bisa mendapat free ongkir untuk pulau Jawa. Dalam reseller Muntira juga terdapat jenjang downline mulai dari early bronze, bronze, silverie, goldie dan diamonia. Tiap jenjang downline mempunyai ketentuan dan keuntungan tersendiri. Atau lebih jelasnya bisa langsung datang ke Klinik Muntira Skin Care di Jalan Sunan Kudus No. 223 Kudus Telp. 0291-439010 Hp. 085726335924 Pin BBM 5D005CA4.

whitening-series-e

Keuntungan Menjadi Reseller Muntira :

  1. Sistem mudah dipelajari
  2. Hasil menguntungkan
  3. Tidak memerlukan modal besar
  4. Mendapatkan bonus bila mencapai target
  5. Mendapatkan member card reseller MUNTIRA
  6. Semakin tampil cantik setiap saat

 

Editor : Akrom Hazami

Jadi PNS Nyambi Bisnis Jilbab? Kenapa Tidak

Ahmad Muthohar saat menunjukkan jilbab yang akan ia tawarkan ke beberapa toko yang ada di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Ahmad Muthohar saat menunjukkan jilbab yang akan ia tawarkan ke beberapa toko yang ada di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Bisa jadi, sebagian pegawai negeri sipil (PNS) gengsi untuk nyambi berbisnis, apalagi bisnis tersebut harus dilakoni di lapangan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Belum lagi, bisnis itu berhubungan dengan wanita, namun, harus dilakukan oleh laki-laki.

Namun, berbeda halnya dengan Ahmad Muthohar (31), PNS asal Demak yang bertugas di Pemkab Blora ini, selain sebagai PNS juga menekuni bisnis jilbab. Pekerjaan sampingan ini, sudah dilakukan sejak setahun terakhir ini.

Biasanya, dia melakoni pekerjaanya itu usai bertugas pada jam kerja. Sore hari, dirinya berkeliling di pasar untuk menawarkan jilbab di toko-toko. “Bukan hanya di toko saja, terkadang saya juga menawarkan jilbab tersebut kepada rekan-rekan kerja,” katanya.

Ketertarikannya untuk nyambi berbisnis jilbab tersebut, karena melihat keponakannya yang terbilang sukses berjualan jilbab melalui online.

Ia katakan, secara perlahan, kini, katanya sudah ada beberapa toko yang di Blora yang mau menampung dagangannya tersebut. “Yang pastinya, pekerjaan sampingan saya ini juga untuk mengasah bakat bisnis saya. Selain itu, tentunya saya juga harus bisa mengatur waktu dengan pekerjaan saya di kantor,” ujar PNS di Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora tersebut.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Ini Kelebihan Gurihnya Kopi Santan yang Hanya Ditemui di Blora

Bangun Bisnis dari Nol, Wanita Asal Pati Ini Sukses Jadi Jutawan dari Bisnis Stik

Kusmianingsih menakar bumbu untuk membuat stik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kusmianingsih menakar bumbu untuk membuat stik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tak ada yang menyangka, Kusmianingsih (37), warga Desa Margorejo, Kecamatan Margorejo, Pati justru sukses menjadi jutawan dari bisnis stik. Kondisi keluarga yang sempat berantakan dan membuatnya menjadi “single parent” tak membuatnya putus asa.

Dari kondisi yang terpuruk, wanita yang akrab disapa “Mbak Ning” ini justru mampu menyulapnya menjadi kekuatan untuk bertahan hidup, bahkan membawanya menjadi jutawan.

“Setelah jadi single parent sejak tiga tahun yang lalu, saya tidak mau menggantungkan hidup pada orang lain. Saya harus bisa menghidupi, menafkahi dan menyekolahkan kedua anak saya,” ujar Mbak Ning kepada MuriaNewsCom.

Sebelumnya, ia mengaku sudah berulang kali mencoba buka usaha toko baju, toko alat rumah tangga, hingga jualan nasi uduk di teras rumah. “Semuanya berhenti di tengah jalan. Kurang hoki, mungkin,” tuturnya.

Sampai pada titik kebingungannya, Mbak Ning kemudian memiliki ide untuk mengembangkan bisnis dari sebuah hobi. Terdesak untuk menghidupi keduanya anaknya juga memicu Mbak Ning untuk segera berkarya dan menyulapnya menjadi pundi-pundi rupiah.

Berbekal dengan hobi memasak dan desakan ekonomi, Mbak Ning mencoba untuk membuat stik dan menjualnya kepada tetangga. Namun, penjualan stik rupanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”Stik yang saya jual seperti yang umumnya dijual. Hasilnya nihil. Banyak yang kurang minat,” ceritanya.

Akhirnya, ia memutar otak bagaimana agar stik buatannya itu laku. Setelah merenung, diskusi dengan teman, hingga mencari ide di internet, Mbak Ning berhasil menciptakan stik dengan beragam rasa, mulai dari stik lombok, brokoli, waluh, udang kering atau ebi, bayam merah, sawi dan beragam sayuran lainnya.

Dari kreasi itu, stik buatan Mbak Ning yang tak biasa itu akhirnya berhasil dijual di pasaran. Bahkan, pesanan berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia setelah ia coba posting di facebook.

Sebulan saja, Mbak Ning bisa mengantongi omzet hingga Rp 30 juta per bulan. Sementara itu, penghasilan bersih rata-rata setiap bulannya mencapai lebih dari Rp 15 juta.

“Bisnis itu dari hati. Kalau sudah hobi, kita bekerja menjadi suka, tanpa ada tekanan. Kondisi ekonomi kadang membuat kita semakin terpacu. Tapi, kerja keras, kesabaran dan doa itu yang paling penting,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Bisnis Bibit Jambu di Pati Prospeknya Luar Biasa, Ini Buktinya!

Bisnis Bibit Jambu (e)

Abdul Kalim, petani jambu asal Desa Kuryokalangan tengah menghidupkan pompa air untuk menyirami bibit jambu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Begitu bisnis yang dilakoni Abdul Kalim, petani jambu asal Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus.

Tak hanya budidaya jambu, Kalim juga membuat sepetak lahan untuk mengembangkan bibit dan dijual kepada petani jambu dari berbagai daerah. Beragam jenis bibit jambu unggulan pun ia tanam, mulai jambu citra, jambu madu, dan banyak lagi lainnya.

”Dalam bisnis, jika permintaan banyak dan ketersediaan sedikit pasti menjanjikan. Di Pati, bibit jambu yang disukai pasaran masih minim. Ini menjadi peluang yang menjanjikan. Hanya butuh keterampilan cangkok tanaman dan ketelitian, kita bisa kembangkan bisnis ini,” ujar Kalim kepada MuriaNewsCom, Sabtu (31/10/2015).

Ia mengatakan, satu bibit jambu ia hargai dengan murah. Ukuran 60 hingga 70 cm saja, ia hanya mematok Rp 20 ribu saja.

Salah satu keuntungan yang luar biasa, kata dia, ketika ada petani jambu yang membuka lahan baru dan membutuhkan ratusan bibit jambu cangkokan. ”Per seratus bibit jambu saja, kita sudah bisa mengantongi Rp 2 juta,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Berbisnis MLM Harus Pantang Menyerah

Henry Ong, melakukan praktek kelebihan terhadap produk air minumnya untuk meyakinan calon pembeli. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Henry Ong, melakukan praktek kelebihan terhadap produk air minumnya untuk meyakinan calon pembeli. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

KUDUS – Sebagai orang yang pernah malang melintang di dunia bisnis MLM ini, Henry Ong menyarankan masyarakat untuk memilih bisnis MLM yang sesuai dengan bidangnya. Henry sendiri memilih produk air mineral sebagai bisnis MLM yang dilakoninya, karena memberi banyak manfaat bagi orang lain. Lanjutkan membaca

Perluas Jaringan dengan Berbisnis MLM

Henry Ong, melakukan praktek kelebihan terhadap produk air minumnya untuk meyakinan calon pembeli. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Henry Ong, melakukan praktek kelebihan terhadap produk air minumnya untuk meyakinan calon pembeli. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

KUDUS – Henry Ong, leadership bisnis MLM air mineral mengatakan bisnis MLM yang paling berkembang yakni di luar negeri. Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang cenderung antipati dengan bisnis Multi Level Marketing. Lanjutkan membaca