Maling Kotak Amal di Makam Ronggo Kusumo Ngemplak Pati Diburu Polisi

Rekaman CCTV yang diamankan polisi menunjukkan maling tengah mendekati kotak amal, sebelum membawanya kabur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati tengah memburu maling kotak amal di makam Kiai Cilik, kompleks makam Syeh Ronggo Kusumo, Ngemplak, Margoyoso yang sempat terekam CCTV pada Senin (7/8/2017) lalu.

Rekaman berdurasi sekitar 78 detik tersebut menunjukkan, seorang maling terlihat memantau kondisi di sekitar sebelum melancarkan aksi dengan menggondol kotak amal. Beberapa kali maling terlihat mondar-mandir.

“Pelaku tunggal terlihat jelas memantau situasi di sekitarnya. Setelah kondisinya dipastikan kosong, pelaku membawa kotak amal yang berada di teras,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Kamis (10/8/2017).

Saat ini, pihaknya mengamankan rekaman CCTV tersebut untuk keperluan penyelidikan. Polisi juga sudah meminta keterangan dari berbagai saksi untuk melakukan perburuan pelaku.

“Kotak amal yang berhasil dibawanya kemudian dibuang di areal persawahan kawasan Desa Margoyoso, setelah uangnya diambil. Kami akan segera menangani kasus ini,” tuturnya.

Akibat pencurian tersebut, pengelola makam diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 4 juta. Sementara pelaku akan dijerat dengan Pasal 363 KUHPidana tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan.

Editor : Ali Muntoha

Sebulan Blanko SIM di Pati Kosong, Ribuan Pemohon Diberi Surat Jalan

Seorang pemohon tengah mengikuti ujian SIM di Satlantas Polres Pati, Kamis (10/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sudah sebulan ini blanko surat izin mengemudi (SIM) di Satlantas Polres Pati kosong. Hal itu disebabkan belum adanya distribusi material SIM dari Korlantas Polri. 

Sejak mengalami kekosongan blanko pada 13 Juli 2017, jumlah pemohon SIM di Pati sudah mencapai 5.751 orang. Pemohon sebagian besar membuat SIM baru maupun perpanjangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak Satlantas memberikan surat jalan kepada ribuan pemohon. Surat itu bisa ditunjukkan kepada petugas saat ada pemeriksaan dalam operasi lalu lintas.

“Surat itu bersifat sementara. Nanti kalau ketersediaan blanko dari Korlantas Polri sudah turun, pemohon bisa mengambil SIM di Satlantas dengan menunjukkan surat tanda bukti SIM sementara,” ujar Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari, Kamis (10/8/2017).

Dalam sehari, Satlantas menerima sekitar 300 permohonan pembuatan SIM baru maupun perpanjangan SIM. Mereka tetap dilayani seperti biasanya, dari jam 08.00 WIB sampai 15.00 WIB.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lokasi ujian SIM, sejumlah pemohon terlihat sedang berkendara di lintasan uji SIM yang disediakan. Mereka yang lolos ujian mendapatkan tanda bukti SIM sementara hingga ketersedian material SIM dari Korlantas Polri turun.

Kanit Regident Satlantas Polres Pati Iptu Komang Kharisma menambahkan, format tanda bukti SIM sementara sudah ditentukan Korlantas. Ada beberapa kode yang disematkan dalam surat tersebut, sehingga tidak bisa dipalsukan.

“Kami sudah melakukan pendataan kepada ribuan pemohon yang saat ini memegang tanda bukti SIM sementara. Kalau SIM sudah jadi, kami akan memberikan pemberitahuan via telepon atau SMS,” tutur Iptu Komang.

Adapun prosedur untuk mengambil SIM, cukup menunjukkan tanda bukti SIM sementara setelah ada pemberitahuan dari pihak Satlantas. Dia berharap, material SIM dari Korlantas segera turun agar ribuan pemohon di Pati bisa segera memiliki SIM.

Editor : Ali Muntoha

Salam Perpisahan dari Budiyono Jelang Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Pati 2017-2022

Wabup Pati 2012-2017 Budiyono saat memberikan sambutan dalam agenda pelepasan di kediamannya, Desa Pasucen, Trangkil, Rabu (9/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Pati terpilih Haryanto dan Saiful Arifin dijadwalkan akan berlangsung di Kota Semarang, Senin (22/8/2017) mendatang.

Wakil Bupati Pati periode sebelumnya, Budiyono mengucapkan salam perpisahan dari kediamannya di Desa Pasucen, Trangkil, Rabu (9/8/2017). Sejumlah pejabat hadir dalam agenda pelepasan tersebut.

Salah satunya, Bupati Pati Haryanto, Mantan Bupati Pati Tasiman, Mantan Sekda Pati Desmon Hastiono, pejabat Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), dan tamu undangan lainnya.

“Apabila kami sekeluarga selama berkumpul mengabdikan diri, ada hal yang mungkin kurang berkenan, sungguh pada kesempatan yang baik ini, kami mohon maaf,” ucap Budiyono.

Dia berharap, agenda pelepasan tersebut membawa berkah dan kebahagiaan keluarga besar Budiyono. Ucapan terima kasih dan permohonan maaf juga kerap dilontarkan Wabup Pati 2012-2017 itu.

Pesan dia kepada para tamu untuk selalu menjaga persaudaraan dan tali silaturahmi. Kendati ia sudah tidak bertugas di pemerintahan, silaturahmi diharapkan tetap terjalin dengan baik.

“Kami sungguh berharap, persaudaraan dan silaturahmi tetap kita jaga dan terbangun dengan baik, meski sudah berpisah dalam agenda tugas masing-masing, karena tanggung jawab masing-masing. Namun, dalam hati kita tetap tertaut ikatan kekeluargaan,” pungkasnya yang diakhiri salam khas umat Nahdliyin.

Editor : Ali Muntoha

Bahan Baku Langka, Produsen Garam di Pati Terpaksa Impor

Seorang pekerja tengah mengemas produksi garam di kawasan Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah produsen garam di Kabupaten Pati terpaksa memilih untuk impor bahan baku garam di tengah kondisi garam yang langka. Pasalnya, produsen butuh produksi garam konsumsi sebanyak 50 ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara pasokan bahan baku garam dari petani lokal diakui sangat terbatas. Tak ada pilihan lain, beberapa produsen akhirnya memutuskan untuk mengimpor bahan baku garam.

Sri Lestari, salah satu produsen garam asal Batangan membenarkan kondisi tersebut. Cuaca yang kurang mendukung disebut-sebut menjadi penyebab kelangkaan garam lokal.

“Cuaca kurang mendukung, akhirnya para petani belum bisa menghasilkan garam secara maksimal. Stok garam yang langka berpengaruh pada harga garam di pasaran yang melonjak tinggi,” tuturnya, Rabu (9/8/2017).

Kendati demikian, Sri tetap memprioritaskan penggunaan bahan baku garam yang dipasok dari petani. Berhubung jumlahnya tidak memenuhi jumlah permintaan pasar, ia mencampurnya dengan garam impor.

Impor bahan baku garam akan dilakukan selama pasokan dari petani lokal belum mencukupi untuk kebutuhan pasar. Bila kondisinya sudah normal, dia akan menghentikan impor.

“Bahan baku garam dari petani lokal berkisar Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per kilogram, sedangkan impor cuma Rp 2.250. Meski begitu, kami tetap memprioritaskan pasokan dari petani lokal,” ucap Sri.

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pati, garam beryodium yang semula Rp 6 ribu menjadi Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Sementara pedagang kelontong menjualnya kepada warga sekitar Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu.

Kusni, salah satu pedagang kelontong mengaku tidak mau membeli garam, lantaran mahal. Sebab, pembeli dari masyarakat kecil sempat kaget dengan harga yang melambung tinggi.

“Saya belinya dari distributor Rp 10 ribu, tidak bisa ditawar lagi. Harga segitu, saya jual lagi ke masyarakat Rp 11 ribu. Tapi sebagian besar memilih kemasan garam ukuran kecil dengan harga Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani dari Berbagai Daerah Ikuti Pelatihan Koperasi Tani di Pati

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) memberikan pelatihan koperasi kepada para petani Indonesia di Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan petani dari berbagai kota di Indonesia mengikuti pelatihan Koperasi Petani Indonesia di Sekretariat Serikat Petani (SPI) Jawa Tengah, Gembong, Pati.

Pelatihan tersebut untuk membekali para petani dalam membangun gerakan Koperasi Petani Indonesia (KPI). Pembentukan koperasi tani dianggap perlu untuk menyejahterakan para petani yang saat ini banyak dimanfaatkan korporasi.

“Upaya pembentukan koperasi petani menjadi bagian dari perjuangan untuk melaksanakan reforma agraria. Sebab, dunia pertanian saat ini dikuasai korporasi yang jauh dari nilai-nilai kesejahteraan petani,” ujar Ketua Umum SPI Henry Saragih, Selasa (8/8/2017).

Aktivis petani yang pernah menjadi koordinator petani dan buruh internasional, La Via Campesina ini menuturkan, petani butuh kelembagaan ekonomi yang bisa mengakomodasi kebutuhan dan kesejahteraan petani. Satu-satunya lembaga ekonomi yang memenuhi kebutuhan itu adalah koperasi.

Ada empat tahap yang harus ditempuh agar petani mampu sejahtera. Pertama, alat produksi harus dikelola petani, mulai dari benih, pupuk, obat-obatan, alat-alat pertanian, termasuk tenaga kerja dan modal.

Kedua, cara berproduksi petani harus melalui mekanisme agroekologi. Itu yang disebut dengan revolusi hijau. Ketiga, koperasi patani harus bisa melakukan pemasaran produk pertanian untuk kebutuhan diri sendiri dan masyarakat.

Keempat, koperasi mesti menguasai kapital. Jika keempat tahap itu berhasil dikuasai, koperasi menjadi lembaga yang dapat menyejahterakan para petani.

Namun, Henry mengaku bila melawan korporasi dalam dunia pertanian bukan hal yang mudah. Sebab, korporasi selama ini terlanjur mengakar kuat mengatur dunia pertanian dari alat produksi hingga distribusi produk.

Editor : Ali Muntoha

Pencuri Motor Mio di Indomaret Juwana Dibekuk Polisi

Polisi berhasil mengamankan sepeda motor Mio yang dicuri maling di kawasan Indomaret Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati berhasil membekuk pencuri sepeda motor Mio milik Rachmatun Nafiah, warga Bakaran Kulon, Juwana, yang hilang di kawasan Indomaret, Jalan Kemasan, Desa Kudukeras, Juwana, Selasa (20/10/2015) lalu.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Galih Wisnu Pradipta mengatakan, pelaku berinisial SDC (27) alias Paemo, warga Tegalombo, Dukuhseti, Pati, tertangkap dalam Operasi Jaran Candi 2017. “Modus pencurian yang dilakukan menggunakan kunci T pada malam hari,” kata AKP Galih, Selasa (8/8/2017).

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti sepeda motor Mio yang berada di kawasan Donorejo, Jepara. Sementara pelaku saat ini ditahan di Mapolres Pati untuk penyidikan lebih lanjut.

Tersangka merupakan spesialis pencuri sepeda motor yang kerap beroperasi di sejumlah tempat. Dia menggunakan beberapa peralatan seperti kunci T yang digunakan untuk merusak kunci motor.

Hal itu yang membuat sepeda motor sasaran yang sudah dikunci ganda masih bisa dibobolnya. Dia memanfaatkan momentum pada malam hari dengan kondisi yang sepi.

“Kami sarankan kepada pemilik sepeda motor, meski sudah dikunci setang ganda, sebaiknya jangan lupa untuk selalu diawasi atau ditempatkan di lokasi yang cukup terjangkau oleh pengamatan orang,” pesan AKP Galih.

Editor : Ali Muntoha

Sejarawan Sebut Hari Jadi Pati Sebetulnya Baru ke-499

Taman Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hari Jadi Kabupaten Pati yang diperingati setiap 7 Agustus dimulai dari 1323. Dengan begitu, usia Pati diperkirakan sudah 694 tahun.

Hal itu didasarkan pada kesepakatan bersama melalui sebuah forum yang melibatkan guru, dosen, hingga konsultan. Bukan tanpa alasan, penetapan itu mendasarkan pada prasasti Tuhanaru di Mojokerto yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Dalam prasasti tersebut tertulis kata “Arya Pati-Pati Pukapat” yang ditafsirkan sebagai pisowanan agung penguasa Kadipaten Pati ke Kerajaan Majapahit. Dari sana, Pati disebut-sebut sudah eksis dari 1323.

Namun, ada pendapat lain yang menyebut eksistensi Pati sebagai sebuah daerah baru dimulai pada 1518. Hal itu didasarkan pada catatan sejarawan Belanda de Graaf yang menyebut nama “Kayu Bralit” sebagai Bupati Pati pertama.

“Kalau sejarawan Belanda mencatat Bupati Pati pertama pada 1518, artinya usia Pati sekarang ini baru ke-499. Ini sezaman dengan Kerajaan Demak, peradabannya satu tingkat masih muda dari Majapahit, kendati wilayah Pati dulu mungkin sudah ada,” kata pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Terkait tafsir “Arya Pati-Pati Pukapat” pada prasasti Tuhanaru, dia menyebutnya bukan kunjungan penguasa dari Pati ke Keraton Majapahit. Arya Pati-Pati Pukapat, menurut dia, ditafsirkan sebagai nama patih di Majapahit.

Pasalnya, tidak ada korelasi antara “teks” dan “zaman” yang menunjukkan kata itu berarti pisowanan agung penguasa Pati ke Majapahit. Hanya saja, dia membenarkan bila penguasa Pati merupakan trah Majapahit dari Dinasti Giri Kedaton.

Baca juga : Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Giri Kedaton sendiri lebih dikenal dengan nama Blambangan, karena saat itu Majapahit pecah menjadi dua. Salah satunya di Kedaton Wetan Majapahit. Kondisi tersebut terjadi pada sekitar abad ke-16, jauh sesudah 1323.

Editor : Ali Muntoha

Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Patung Raden Tombronegoro yang berada di depan Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejarah Kabupaten Pati selama ini menginduk pada Babad Pati dan Babad Tanah Jawi. Babad Pati ditulis oleh seorang pujangga pada abad ke-20.

Sementara Babad Tanah Jawi dibuat kalangan keraton yang disebut-sebut bernuansa “Mataram-sentris”. Artinya, sejarah dibuat untuk legitimasi kekuasaan Mataram yang saat ini bertransformasi menjadi Kesunanan Surakarta dan Yogyakarta.

Babad Pati menyebut, penguasa pertama adalah Raden Kembangjoyo, kemudian dilanjutkan Tondonegoro dan Tombronegoro. Selanjutnya, kekuasaan diserahkan kepada para pembesar seperti Ki Ageng Plangitan, Ki Ageng Rogowongso dan kawan-kawan, karena Tombronegoro tidak punya keturunan.

Namun, sejumlah pegiat sejarah di Pati meragukan kisah tersebut sebagai sebuah sejarah. Sebab, sejarawan Belanda yang kerap menulis sejarah Jawa, Johannes de Graaf mencatat, bupati Pati pertama adalah Kayu Bralit.

Kayu Bralit adalah nama lain dari Jati Kusumo yang disebut de Graaf menjadi penguasa pertama Pati pada 1518. Ia merupakan putra dari Puspo Kusumo yang sebetulnya lebih awal bergelar Kayu Bralit.

“Bupati Pati pertama sebetulnya Puspo Kusumo. Dia Kayu Bralit pertama yang gugur mendampingi Pati Unus melawan kedatangan Portugis. Namun, de Graaf mencatat Kayu Bralit adalah putranya, Jati Kusumo,” ujar pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Penguasa Pati pertama merupakan trah dari Majapahit yang kemudian bersilang trah “Ngerang”. Dari sana, lahir tokoh legendaris bernama Umar Nurul Yaqin yang kerap didengar masyarakat Pati sebagai sebutan Ki Ageng Penjawi.

Dia punya dua anak, yaitu Waskita Jawi dan Siddieq Nurul Yaqin yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Raden Wasis Joyokusumo. Waskita Jawi diperistri Panembahan Senopati, pendiri Mataram yang kemudian melahirkan raja-raja di Jawa seperti Raden Mas Jolang dan Sultan Agung.

Sementara sejarah Wasis Joyokusumo seolah ditelan bumi dan penuh dengan misteri, pascakekalahannya dalam perang saudara melawan kakak iparnya sendiri, Panembahan Senopati.  Karena itu, beberapa sejarawan mempertanyakan siapa sosok Tondonegoro dan Tombronegoro yang tak pernah tercatat dalam sejarah.

Editor : Ali Muntoha

Kandang di Panggungroyom Pati Terbakar, 25 Ribu Ekor Ayam Hangus Terpanggang

Petugas kepolisian melakukan pendataan di kawasan kandang ayam yang terbakar di Desa Panggungroyom, Wedarijaksa, Jumat (4/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kandang ayam milik Suyono (58) dan Wasito (56), warga Desa Panggungroyom RT 5 RW 1, Desa Wedarijaksa, Pati dilalap si jago merah, Jumat (4/8/2017) subuh.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Sujono, salah satu saksi mengungkapkan, pada pukul 04.00 WIB, dia terbangun karena mendengar suara letupan yang berasal dari kandang ayam. Dia kemudian memeriksa sumber suara letupan tersebut.

“Waktu saya cek, kandangnya sudah terbakar. Hanya dalam waktu sebentar, api semakin membesar dan menjalar dengan cepat. Dua kandang lainnya ikut terbakar,” ucap Sujono.

Pemadam kebakaran dari PG Trangkil diterjunkan untuk memadamkan api. Tapi, tiga kandang berukuran 40×30 meter yang terdapat 25 ribu ekor bibit ayam pedaging tidak berhasil diselamatkan.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum mengatakan, sumber api diduga berasal dari tungku penghangat ayam yang tertiup angin. Percikan api yang terbawa angin mengenai plastik kandang bambu.

Pakan ternak ayam dalam jumlah yang tidak sedikit juga ikut terbakar. Satu unit genset dan kompor minyak ikut ludes dilalap api.

Editor : Ali Muntoha