Pemuda di Pati Tewas Terbenam di Sawah Bersama Motornya

Petugas kepolisian melakukan olah TKP di areal persawahan Desa Karangwage, Trangkil, Pati, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pemuda bernama Agus Supartono (17), warga Tanjungrejo RT 20 RW 5, Margoyoso, Pati, ditemukan meninggal dunia di areal persawahan Desa Karangwage, Trangkil, Pati, Rabu (16/8/2017).

Korban ditemukan dalam keadaan telungkup bersama dengan sepeda motornya, Jupiter Z bernopol K 6661 BH. Adapun kepala korban dalam posisi terbenam ke dalam lumpur sawah.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim medis, korban meninggal dunia delapan jam sejak ditemukan pada pukul 06.30 WIB. Korban mengalami pendarahan pada hidung dengan kondisi lidah menjulur dan tergigit.

“Korban meninggal dunia karena terbenam dalam lumpur dan mengalami afiksasi. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban,” ungkap salah satu tim medis, dr Wahyu Setyawarni.

Pihak kepolisian yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) menyimpulkan, korban mengalami kecelakaan. Saat terjatuh, posisi kepala terendam lumpur sehingga tidak bisa bernapas.

Sejumlah barang milik korban yang ditemukan di TKP, antara lain uang tunai Rp 100 ribu, telepon seluler warna hitam, sepeda motor, dan sandal merek Carvil. Penemuan mayat tersebut sempat menjadi tontonan warga setempat.

Editor : Ali Muntoha

Penipu dari Iran yang Hipnotis Karyawan Konter HP di Juwana Tak Bisa Bahasa Inggris, Begini Reaksi Polisi

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menjelaskan penangkapan empat WNA asal Iran, Selasa (15/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati mengonsultasikan penangkapan empat warga Iran ke Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Jakarta. Empat warga Iran itu ditangkap karena diduga melakukan tindak pidana penipuan di kawasan Juwana, Pati.

Saat ini, petugas masih terkendala saat akan melakukan proses penyidikan. Pasalnya, empat dari WNA yang ditangkap, hanya satu yang bisa menguasai bahasa Inggris. Sementara tiga WNA lainnya hanya berbahasa Persia.

“Kami terkendala bahasa juga. Dari empat yang kami amankan, hanya satu yang bisa bahasa Inggris. Bahasa Arab pun tidak bisa,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Selasa (15/8/2017).

Meski demikian, dua dari empat WNA sudah terbukti melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Selain uang dan handphone curian yang menjadi alat bukti, polisi mengantongi rekaman CCTV yang menunjukkan aksi mereka.

Bukti CCTV tersebut yang akan didalami untuk proses penyidikan lebih lanjut. Hanya saja, polisi masih menunggu koordinasi dengan pihak Kedubes Iran di Jakarta.

Terkait dengan adanya dugaan jaringan, Kompol Sundoyo menepisnya. Sebab, keempatnya tidak terindikasi adanya sebuah jaringan untuk melakukan penipuan.

“Dikatakan jaringan, tidak. Dikatakan individu ya tidak. Anehnya, mereka yang hanya berbekal bahasa Inggris dan Persia, kok bisa berkomunikasi dengan warga Juwana. Ini yang kami sedang dalami,” kata Kompol Sundoyo.

Baca juga : Menghipnotis Karyawan Toko HP di Pati, 4 Warga Iran Dibekuk di Polisi

Sebelumnya diberitakan, empat WNA asal Iran ditangkap petugas Polsek Juwana yang bekerja sama dengan Polres Rembang. Keempatnya ditangkap karena diduga melakukan penipuan di dua konter HP di Juwana dengan menggasak uang dan handphone.

Keempat WNA tersebut masih diamankan di Mapolres Pati untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Sementara kendaraan yang digunakan untuk mobilisasi, Avanza B 1904 PIA terlihat terparkir di depan Ruang Satrekrim.

Editor : Ali Muntoha

HUT Jateng ke-67, Pemkab Pati Diminta Tak Pelit Layani Masyarakat

Pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Pati sedang mengikuti upacara HUT Jateng ke-67, Selasa (15/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Pemkab Pati melaksanakan kegiatan upacara untuk memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah yang ke-67 di halaman Pendapa Kabupaten Pati, Selasa (15/8/2017).

Upacara tersebut dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD Pati, dan Organisasi Perangkat Derah (OPD). Mereka terlihat khidmat saat mengikuti upacara bendera.

“Di sini hanya upacara yang dihadiri pejabat Pati saja. Sebab, upacara HUT Pemrov Jateng kali ini dipusatkan di Jepara. Alhamdulillah berjalan lancar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Pati Haryono.

Dalam HUT kali ini, pemkab di seluruh Jawa Tengah mendapatkan tugas dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk mengutamakan pelayanan masyarakat yang lebih mudah, murah dan ramah. Sebab, tugas pemerintah memang melayani masyarakat dengan baik.

“Yang dilihat masyarakat itu layanannya. Soal infrastruktur dan yang ada fisik-fisiknya itu gampang kalau ada duitnya. Maka, problemnya saat ini bagaimana melayani masyarakat sesuai deklarasi revolusi mental,” tuturnya membacakan amanat Ganjar.

Ganjar juga menekankan kepada setiap pemda untuk melakukan pembenahan di bidang pendidikan dan kesehatan. Pasalnya, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan pemda terkait dengan masalah di bidang pendidikan dan kesehatan.

Tak hanya itu, pemda bersama dengan aparat dan masyarakat diminta untuk benar-benar melawan radikalisme-terorisme. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai upaya, salah satunya deteksi dini terhadap paham radikal yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan pembangunan masyarakat.

Editor : Ali Muntoha

Pemprov Klaim Pabrik di Pati Bisa Kendalikan Harga Garam

Seorang petani garam sedang mengumpulkan garam dari lahan yang ada di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung-Jepara. Pemprov Jateng bakal membangun pabrik garam besar di Pati. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang- Pemprov Jateng akan mulai membangun pabrik garam berkapasitas 40 ribu ton di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati, Oktober 2017 mendatang. Pabrik ini nantinya akan menghasilkan garam dengan kualitas unggul, serta mampu mengendalikan harga garam, sehingga tak merugikan petani.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumberdaya Alam Setda Pemprov Jateng, Peni Rahayu, mengatakan, pabrik garam ini nantinya akan menghasilkan garam kualitas baik untuk kebutuhan konsumsi industri. Setidaknya kadar yodium garam atau Natrium Chlorida (NaCl) mencapai angka 96.

“Saat ini garam rakyat yang ada rata-rata NaCl-nya baru 86. Maka nanti menggunakan teknologi tertentu agar NaCl bisa lebih tinggi,” katanya.

Teknologi yang dibuat BPPT, saat ini masih diperhitungkan biayanya. Karena untuk mengalirkan air laut butuh lahan sangat luas.

Meskipun semakin luas area lahan untuk perlintasan air lautnya, maka kualitas garam makin bersih dan kadar NaCl makin tinggi. “Jadi nanti garamnya benar-benar putih,” ujarnya.

Pada dasarnya, imbuh Peni, adanya pabrik garam ini adalah untuk mengendalikan harga ketika ada panen raya agar harga tidak anjlok karena dipermainkan tengkulak. Nantinya, petani garam menjual produksinya ke pabrik milik pemerintah dengan harga yang ditetapkan.

“Ke depan harapan kita ada penetapan harga garam misalnya harga pembelian pemerintah (HPP) seperti pada beras,” jelasnya.

Baca juga : Pati Akan Dibangun Pabrik Garam Besar, Ganjar Minta Oktober Mulai Digenjot

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta agar pabrik garam di Pati ini digenjot pembangunannya.

Ia menyebut, studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) rencana pembangunan pabrik garam kapasitas besar di Jateng telah tuntas. Pemprov menargetkan, Oktober tahun ini harus sudah mulai dibangun.

“Saya sudah meminta Oktober tahun ini diground breaking (peletakan batu pertama) agar lebih cepat, kalau itu bisa dilaksanakan maka intervensi Pemprov Jateng akan segera dimulai,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Pati Akan Dibangun Pabrik Garam Besar, Ganjar Minta Oktober Mulai Digenjot

Petani di Jepara tengah memanen garam. Pemprov Jateng akan mulai membangun pabrik garam besar di Pati pada Oktober 2017 mendatang. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah bakal membangun pabrik garam dengan kapasitas besar di Kabupaten Pati. Rencananya, pabrik dengan kapasitas produksi mencapai 40 ribu ton itu bakal dibangun di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan persiapan untuk pembangunan pabrik garam itu telah siap. Mulai dari studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) telah tuntas, sehingga pembangunan bisa segera digenjot.

“Saya sudah meminta Oktober tahun ini di-ground breaking (peletakan batu pertama) agar lebih cepat, kalau itu bisa dilaksanakan maka intervensi Pemprov Jateng akan segera dimulai,” katanya, Senin (14/8/2017).

Untuk pembangunan pabrik garam itu telah disiapkan lahan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dan desa setempat. Ia menyebut, pemerintah desa setempat juga bersedia mendukung penyediaan lahan milik kas desa Raci seluas 700 hektare.

“Bahkan desa tetangga, juga bersiap mendukung penyediaan lahan,” ujarnya.

Secara nasional, kebutuhan garam industri secara nasional mencapai 2 juta ton. Sedangkan pabrik garam kapasitas besar di Jateng ini nantinya mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton. Sehingga setidaknya dapat membantu kebutuhan garam industri nasional.

Dari hasil koordinasi dengan pihak petambak garam, lanjutnya, para petambak siap dengan penerapan teknologi geomembrane atau ulir. Namun petani garam membutuhkan kepastian harga.

“Karena selama ini mereka menjualnya ke tengkulak, maka yang seperti ini mesti diselesaikan,” katanya.

Selain itu, para petambak berharap ada  gudang untuk stok garam. Terkait hal ini, Pemkab Demak juga bersedia menyediakan lahan. Menurutnya, gudang garam ini penting yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk intervensi dari pemprov melalui resi gudang.

“Kalau pabrik sudah jadi, harapan saya ada contoh yang bisa ditiru,” ujarnya.

Terkait supply bahan baku produksi, nantinya para petambak akan setor ke pabrik, kemudian pabrik akan mengolah dan menjualnya. Petambak juga meminta agar mereka bisa menjual ke pabrik secara langsung, tidak melalui perantara.

Sementara untuk kontinyuitas persediaan bahan baku, Ganjar juga meminta pada Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) untuk menyuntikan teknologi yang tepat supaya bisa berkelanjutan. Sejumlah daerah yang memiliki ‘air tua’ atau kadarnya bagus untuk garam yakni di Pati, Demak, Brebes, Jepara, dan Rebang.

“Apalagi ini ada momentum bagus, kondisi cuaca rasanya sudah masuk kemarau, maka ini potensi yang segera harus dilakukan,” kata Ganjar.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Diminta Tertibkan Truk Tebu di Jalan Ronggokusumo Pati

Truk tebu yang terguling di kawasan Jalan Ronggokusumo, Kajen, Margoyoso, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati diminta untuk menertibkan truk tebu yang melintas di Jalan Ronggokusumo, Kajen, Margoyoso, Pati.

Kawasan jalan tersebut terbilang padat lalu lintas. Ada banyak sekolah dan pusat perbelanjaan di sana, sehingga kerap dijadikan lalu lalang para siswa dan penduduk.

“Jalan Ronggokusumo tidak layak dilewati truk tebu. Selama ini warga sudah banyak yang mengeluhkan, tapi polisi dan dinas terkait tidak tanggap terhadap masalah tersebut,” ujar warga setempat, Sunarto, Senin (14/8/2017).

Dalam sejumlah kasus, truk tebu yang melintas di jalan tersebut menabrak kabel hingga tebu yang jatuh berceceran. Terakhir, truk tebu terguling di jalan yang menghubungkan Jalan Pati-Tayu dan Jalan Juwana-Tayu tersebut.

Praktis, jalan kecil yang menjadi akses dengan padat penduduk tersebut macet. Karena itu, dia meminta kepada polisi dan dinas terkait untuk tegas mengatur truk tebu.

“Ini kan kawasan padat penduduk, banyak lembaga pendidikan dan pusat perbelanjaan. Ada jalan lain yang bisa dilalui, tapi kenapa sopir truk tebu memilih untuk lewat sini,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dishub Pati Tri Haryama mengaku akan meninjau lokasi tersebut. Pihaknya akan berkomunikasi dengan para pihak untuk melakukan penertiban.

“Kami akan tinjau terlebih dahulu. Setelah itu, nanti akan saya komunikasikan dengan para pihak,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Menghipnotis Karyawan Toko HP di Pati, 4 Warga Iran Dibekuk di Polisi

Kawanan penipu berkewarganegaraan Iran yang ditangkap polisi karena menipu di kawasan Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Empat warga kenegaraan Iran terpaksa harus dibekuk petugas kepolisian, setelah melakukan penipuan dengan cara hipnotis di sejumlah toko handphone di kawasan Juwana, Pati.

Mereka adalah Bizan (52), Farhad (26), Farzad (31) dan Zhaleh (49). Keempatnya dibekuk petugas saat berada di Hotel Fave Rembang.

Satu dari empat komplotan penipu tersebut merupakan perempuan. Mereka menggasak sejumlah barang berharga seperti handphone, setelah berhasil menghipnotis karyawan yang menjaga toko.

“Modus operandi yang dilakukan dengan cara membuat karyawan toko tidak sadarkan diri. Metode yang dilakukan hipnotis. Setelah karyawan tidak sadarkan diri, barang-barang dibawa kabur,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Senin (14/8/2017).

Korban pertama adalah Adi Sulistya, pemilik konter HP Pusat Phone di Desa Pajeksan, Juwana dengan kerugian ditaksir sekitar Rp 5 juta. Sementara korban kedua, Kasmijah pemilik konter di kawasan Pasar Porda Juwana yang mengalami kerugian hingga Rp 16 juta.

Adi Sulistya membeberkan, awalnya kasus tersebut terungkap setelah ia mendapatkan telepon dari Nurika, salah satu karyawannya. Nurika mengaku tidak sadarkan diri, setelah berbincang dengan komplotan penipu tersebut.

Setelah sadar, barang-barang yang ia jual raib. “Setelah mendapatkan informasi itu, saya langsung melapor polisi,” tuturnya.

Pihak kepolisian yang berhasil menangkap kawanan penipu juga mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit mobil Avanza B 1904 PIA yang digunakan pelaku dan uang Rp 17,3 juta yang diduga hasil tindak kejahatan.

Editor : Ali Muntoha

Bagi-bagi Nasi Besek Bertuah jadi Tradisi Unik Sedekah Bumi di Wedusan Pati

Pembagian nasi besek kepada salah satu pedagang dalam festival budaya di Desa Wedusan, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Wedusan merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Pati yang berada di Kecamatan Dukuhseti, berada di kawasan hutan kaki Pegunungan Muria dan laut utara Jawa.

Pada bulan Apit dalam kalender Jawa, sebagaimana tradisi orang Jawa pada umumnya, desa tersebut mengadakan sedekah bumi. Namun, masing-masing desa ternyata punya keunikan sendiri dalam merayakan sedekah bumi.

Di Wedusan, ada tradisi bagi-bagi nasi besek kepada puluhan pedagang yang berjualan di sepanjang areal pentas seni wayang dan ketoprak. Nasi itu dibagikan setelah didoakan bersama di balai desa setempat.

Solikul Huda, salah satu panitia yang membagikan nasi besek mengungkapkan, tradisi itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Konsep sedekah menjadi spirit utama dalam agenda bagi-bagi nasi besek.

“Ini sudah menjadi tradisi, seolah agenda wajib. Nasi besek isinya cuma nasi, ayam, telur dan aneka lauk-pauk. Yang membuatnya istimewa karena sudah didoakan, sehingga dipercaya akan membawa berkah,” kata Huda.

Mutmainah, salah satu pedagang yang berjualan di festival budaya Desa Wedusan mengatakan, nasi itu diakui membawa berkah tersendiri. Karenanya, sebagian dari nasi besek itu dikeringkan dan dijadikan sebagai pelaris dagangan.

Para penjual sebagian besar datang dari luar daerah. Mereka berdatangan untuk mencari rezeki dengan berjualan, sekaligus mendapatkan nasi besek yang dipercaya memeliki tuah untuk pelarisan.

Editor : Ali Muntoha

Camat Wedarijaksa Diminta Tegas Tangani Persoalan Sampah

Seorang pesepeda tengah melintas di kawasan jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa yang dipenuhi dengan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Camat Wedarijaksa diminta tegas menangani persoalan sampah yang menumpuk di kawasan pinggir jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa, Pati.

Pasalnya, kawasan tersebut kerap menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Akibatnya, polusi udara yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan penduduk setempat dan pengguna jalan.

Ahmadi, warga Asempapan, Trangkil mengatakan, tempat tersebut awalnya hanya digunakan untuk membuang sampah satu-dua bungkus. Namun, sudah setahun ini, kawasan tersebut penuh dengan sampah yang menggunung.

“Pengelolaan sampah masih belum maksimal, terutama di desa-desa. Belum ada kesadaran dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, baik pemdes atau pemkab,” kata Ahmadi, Jumat (11/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur persoalan sampah. Jika tidak, warga setempat menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang baunya hingga masuk ke sejumlah rumah warga.

Tegas yang dimaksud bisa berupa fasilitasi maupun pemberian sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebab, tak jauh dari lokasi tersebut terdapat tempat pembuangan sampah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

“Mungkin di tingkat kecamatan harus dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, biar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dinantikan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Pastikan yang Bakal Mengaspal di Pati Bukan Taksi Online

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Beredar rumor yang menyebutkan, Pati akan memiliki taksi online yang siap mengaspal dalam waktu dekat. Namun, rumor itu ditepis Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati Heru Suyanta.

“Tepatnya bukan taksi online ya, tapi taksi reguler, umum. Ada delapan unit taksi yang sudah diajukan pengusaha kepada kami,” ujar Heru kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/8/2017).

Taksi tersebut akan mangkal di sejumlah titik di kawasan Pati Kota, dengan operasional di seluruh daerah di Jawa Tengah. Salah satu yang diperbolehkan Dishub untuk mangkal, antara lain hotel, rumah sakit, dan tempat strategis yang tidak bersinggungan dengan angkutan umum.

Syarat itu diberlakukan agar tidak terjadi bentrok dengan angkutan umum. Kendati beda segmen, tetapi pihaknya perlu mempertegas aturan tersebut supaya keberadaan taksi dan angkutan umum bisa berjalan bersamaan.

“Surat perintah izin operasional (SPIO) sudah turun, tinggal kelengkapan lain ada yang belum. Mungkin sedang proses,” katanya.

Heru membocorkan, taksi yang akan beroperasi di Pati menggunakan mobil Avanza. Untuk melengkapi syarat, dua kursi di bagian belakang Avanza harus dihilangkan agar seperti taksi pada umumnya.

Sejumlah syarat seperti desain dan cat khusus, lampu dan atribut yang menunjukkan mobil tersebut sebuah taksi juga harus dipenuhi pemohon. Seperti angkutan pada umumnya, taksi yang akan mengaspal di Pati menggunakan pelat kuning.

Editor : Ali Muntoha

Maling Kotak Amal di Makam Ronggo Kusumo Ngemplak Pati Diburu Polisi

Rekaman CCTV yang diamankan polisi menunjukkan maling tengah mendekati kotak amal, sebelum membawanya kabur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati tengah memburu maling kotak amal di makam Kiai Cilik, kompleks makam Syeh Ronggo Kusumo, Ngemplak, Margoyoso yang sempat terekam CCTV pada Senin (7/8/2017) lalu.

Rekaman berdurasi sekitar 78 detik tersebut menunjukkan, seorang maling terlihat memantau kondisi di sekitar sebelum melancarkan aksi dengan menggondol kotak amal. Beberapa kali maling terlihat mondar-mandir.

“Pelaku tunggal terlihat jelas memantau situasi di sekitarnya. Setelah kondisinya dipastikan kosong, pelaku membawa kotak amal yang berada di teras,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Kamis (10/8/2017).

Saat ini, pihaknya mengamankan rekaman CCTV tersebut untuk keperluan penyelidikan. Polisi juga sudah meminta keterangan dari berbagai saksi untuk melakukan perburuan pelaku.

“Kotak amal yang berhasil dibawanya kemudian dibuang di areal persawahan kawasan Desa Margoyoso, setelah uangnya diambil. Kami akan segera menangani kasus ini,” tuturnya.

Akibat pencurian tersebut, pengelola makam diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 4 juta. Sementara pelaku akan dijerat dengan Pasal 363 KUHPidana tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan.

Editor : Ali Muntoha

Sebulan Blanko SIM di Pati Kosong, Ribuan Pemohon Diberi Surat Jalan

Seorang pemohon tengah mengikuti ujian SIM di Satlantas Polres Pati, Kamis (10/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sudah sebulan ini blanko surat izin mengemudi (SIM) di Satlantas Polres Pati kosong. Hal itu disebabkan belum adanya distribusi material SIM dari Korlantas Polri. 

Sejak mengalami kekosongan blanko pada 13 Juli 2017, jumlah pemohon SIM di Pati sudah mencapai 5.751 orang. Pemohon sebagian besar membuat SIM baru maupun perpanjangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak Satlantas memberikan surat jalan kepada ribuan pemohon. Surat itu bisa ditunjukkan kepada petugas saat ada pemeriksaan dalam operasi lalu lintas.

“Surat itu bersifat sementara. Nanti kalau ketersediaan blanko dari Korlantas Polri sudah turun, pemohon bisa mengambil SIM di Satlantas dengan menunjukkan surat tanda bukti SIM sementara,” ujar Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari, Kamis (10/8/2017).

Dalam sehari, Satlantas menerima sekitar 300 permohonan pembuatan SIM baru maupun perpanjangan SIM. Mereka tetap dilayani seperti biasanya, dari jam 08.00 WIB sampai 15.00 WIB.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lokasi ujian SIM, sejumlah pemohon terlihat sedang berkendara di lintasan uji SIM yang disediakan. Mereka yang lolos ujian mendapatkan tanda bukti SIM sementara hingga ketersedian material SIM dari Korlantas Polri turun.

Kanit Regident Satlantas Polres Pati Iptu Komang Kharisma menambahkan, format tanda bukti SIM sementara sudah ditentukan Korlantas. Ada beberapa kode yang disematkan dalam surat tersebut, sehingga tidak bisa dipalsukan.

“Kami sudah melakukan pendataan kepada ribuan pemohon yang saat ini memegang tanda bukti SIM sementara. Kalau SIM sudah jadi, kami akan memberikan pemberitahuan via telepon atau SMS,” tutur Iptu Komang.

Adapun prosedur untuk mengambil SIM, cukup menunjukkan tanda bukti SIM sementara setelah ada pemberitahuan dari pihak Satlantas. Dia berharap, material SIM dari Korlantas segera turun agar ribuan pemohon di Pati bisa segera memiliki SIM.

Editor : Ali Muntoha

Salam Perpisahan dari Budiyono Jelang Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Pati 2017-2022

Wabup Pati 2012-2017 Budiyono saat memberikan sambutan dalam agenda pelepasan di kediamannya, Desa Pasucen, Trangkil, Rabu (9/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Pati terpilih Haryanto dan Saiful Arifin dijadwalkan akan berlangsung di Kota Semarang, Senin (22/8/2017) mendatang.

Wakil Bupati Pati periode sebelumnya, Budiyono mengucapkan salam perpisahan dari kediamannya di Desa Pasucen, Trangkil, Rabu (9/8/2017). Sejumlah pejabat hadir dalam agenda pelepasan tersebut.

Salah satunya, Bupati Pati Haryanto, Mantan Bupati Pati Tasiman, Mantan Sekda Pati Desmon Hastiono, pejabat Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), dan tamu undangan lainnya.

“Apabila kami sekeluarga selama berkumpul mengabdikan diri, ada hal yang mungkin kurang berkenan, sungguh pada kesempatan yang baik ini, kami mohon maaf,” ucap Budiyono.

Dia berharap, agenda pelepasan tersebut membawa berkah dan kebahagiaan keluarga besar Budiyono. Ucapan terima kasih dan permohonan maaf juga kerap dilontarkan Wabup Pati 2012-2017 itu.

Pesan dia kepada para tamu untuk selalu menjaga persaudaraan dan tali silaturahmi. Kendati ia sudah tidak bertugas di pemerintahan, silaturahmi diharapkan tetap terjalin dengan baik.

“Kami sungguh berharap, persaudaraan dan silaturahmi tetap kita jaga dan terbangun dengan baik, meski sudah berpisah dalam agenda tugas masing-masing, karena tanggung jawab masing-masing. Namun, dalam hati kita tetap tertaut ikatan kekeluargaan,” pungkasnya yang diakhiri salam khas umat Nahdliyin.

Editor : Ali Muntoha

Bahan Baku Langka, Produsen Garam di Pati Terpaksa Impor

Seorang pekerja tengah mengemas produksi garam di kawasan Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah produsen garam di Kabupaten Pati terpaksa memilih untuk impor bahan baku garam di tengah kondisi garam yang langka. Pasalnya, produsen butuh produksi garam konsumsi sebanyak 50 ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara pasokan bahan baku garam dari petani lokal diakui sangat terbatas. Tak ada pilihan lain, beberapa produsen akhirnya memutuskan untuk mengimpor bahan baku garam.

Sri Lestari, salah satu produsen garam asal Batangan membenarkan kondisi tersebut. Cuaca yang kurang mendukung disebut-sebut menjadi penyebab kelangkaan garam lokal.

“Cuaca kurang mendukung, akhirnya para petani belum bisa menghasilkan garam secara maksimal. Stok garam yang langka berpengaruh pada harga garam di pasaran yang melonjak tinggi,” tuturnya, Rabu (9/8/2017).

Kendati demikian, Sri tetap memprioritaskan penggunaan bahan baku garam yang dipasok dari petani. Berhubung jumlahnya tidak memenuhi jumlah permintaan pasar, ia mencampurnya dengan garam impor.

Impor bahan baku garam akan dilakukan selama pasokan dari petani lokal belum mencukupi untuk kebutuhan pasar. Bila kondisinya sudah normal, dia akan menghentikan impor.

“Bahan baku garam dari petani lokal berkisar Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per kilogram, sedangkan impor cuma Rp 2.250. Meski begitu, kami tetap memprioritaskan pasokan dari petani lokal,” ucap Sri.

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pati, garam beryodium yang semula Rp 6 ribu menjadi Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Sementara pedagang kelontong menjualnya kepada warga sekitar Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu.

Kusni, salah satu pedagang kelontong mengaku tidak mau membeli garam, lantaran mahal. Sebab, pembeli dari masyarakat kecil sempat kaget dengan harga yang melambung tinggi.

“Saya belinya dari distributor Rp 10 ribu, tidak bisa ditawar lagi. Harga segitu, saya jual lagi ke masyarakat Rp 11 ribu. Tapi sebagian besar memilih kemasan garam ukuran kecil dengan harga Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani dari Berbagai Daerah Ikuti Pelatihan Koperasi Tani di Pati

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) memberikan pelatihan koperasi kepada para petani Indonesia di Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan petani dari berbagai kota di Indonesia mengikuti pelatihan Koperasi Petani Indonesia di Sekretariat Serikat Petani (SPI) Jawa Tengah, Gembong, Pati.

Pelatihan tersebut untuk membekali para petani dalam membangun gerakan Koperasi Petani Indonesia (KPI). Pembentukan koperasi tani dianggap perlu untuk menyejahterakan para petani yang saat ini banyak dimanfaatkan korporasi.

“Upaya pembentukan koperasi petani menjadi bagian dari perjuangan untuk melaksanakan reforma agraria. Sebab, dunia pertanian saat ini dikuasai korporasi yang jauh dari nilai-nilai kesejahteraan petani,” ujar Ketua Umum SPI Henry Saragih, Selasa (8/8/2017).

Aktivis petani yang pernah menjadi koordinator petani dan buruh internasional, La Via Campesina ini menuturkan, petani butuh kelembagaan ekonomi yang bisa mengakomodasi kebutuhan dan kesejahteraan petani. Satu-satunya lembaga ekonomi yang memenuhi kebutuhan itu adalah koperasi.

Ada empat tahap yang harus ditempuh agar petani mampu sejahtera. Pertama, alat produksi harus dikelola petani, mulai dari benih, pupuk, obat-obatan, alat-alat pertanian, termasuk tenaga kerja dan modal.

Kedua, cara berproduksi petani harus melalui mekanisme agroekologi. Itu yang disebut dengan revolusi hijau. Ketiga, koperasi patani harus bisa melakukan pemasaran produk pertanian untuk kebutuhan diri sendiri dan masyarakat.

Keempat, koperasi mesti menguasai kapital. Jika keempat tahap itu berhasil dikuasai, koperasi menjadi lembaga yang dapat menyejahterakan para petani.

Namun, Henry mengaku bila melawan korporasi dalam dunia pertanian bukan hal yang mudah. Sebab, korporasi selama ini terlanjur mengakar kuat mengatur dunia pertanian dari alat produksi hingga distribusi produk.

Editor : Ali Muntoha

Pencuri Motor Mio di Indomaret Juwana Dibekuk Polisi

Polisi berhasil mengamankan sepeda motor Mio yang dicuri maling di kawasan Indomaret Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati berhasil membekuk pencuri sepeda motor Mio milik Rachmatun Nafiah, warga Bakaran Kulon, Juwana, yang hilang di kawasan Indomaret, Jalan Kemasan, Desa Kudukeras, Juwana, Selasa (20/10/2015) lalu.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Galih Wisnu Pradipta mengatakan, pelaku berinisial SDC (27) alias Paemo, warga Tegalombo, Dukuhseti, Pati, tertangkap dalam Operasi Jaran Candi 2017. “Modus pencurian yang dilakukan menggunakan kunci T pada malam hari,” kata AKP Galih, Selasa (8/8/2017).

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti sepeda motor Mio yang berada di kawasan Donorejo, Jepara. Sementara pelaku saat ini ditahan di Mapolres Pati untuk penyidikan lebih lanjut.

Tersangka merupakan spesialis pencuri sepeda motor yang kerap beroperasi di sejumlah tempat. Dia menggunakan beberapa peralatan seperti kunci T yang digunakan untuk merusak kunci motor.

Hal itu yang membuat sepeda motor sasaran yang sudah dikunci ganda masih bisa dibobolnya. Dia memanfaatkan momentum pada malam hari dengan kondisi yang sepi.

“Kami sarankan kepada pemilik sepeda motor, meski sudah dikunci setang ganda, sebaiknya jangan lupa untuk selalu diawasi atau ditempatkan di lokasi yang cukup terjangkau oleh pengamatan orang,” pesan AKP Galih.

Editor : Ali Muntoha

Sejarawan Sebut Hari Jadi Pati Sebetulnya Baru ke-499

Taman Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hari Jadi Kabupaten Pati yang diperingati setiap 7 Agustus dimulai dari 1323. Dengan begitu, usia Pati diperkirakan sudah 694 tahun.

Hal itu didasarkan pada kesepakatan bersama melalui sebuah forum yang melibatkan guru, dosen, hingga konsultan. Bukan tanpa alasan, penetapan itu mendasarkan pada prasasti Tuhanaru di Mojokerto yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Dalam prasasti tersebut tertulis kata “Arya Pati-Pati Pukapat” yang ditafsirkan sebagai pisowanan agung penguasa Kadipaten Pati ke Kerajaan Majapahit. Dari sana, Pati disebut-sebut sudah eksis dari 1323.

Namun, ada pendapat lain yang menyebut eksistensi Pati sebagai sebuah daerah baru dimulai pada 1518. Hal itu didasarkan pada catatan sejarawan Belanda de Graaf yang menyebut nama “Kayu Bralit” sebagai Bupati Pati pertama.

“Kalau sejarawan Belanda mencatat Bupati Pati pertama pada 1518, artinya usia Pati sekarang ini baru ke-499. Ini sezaman dengan Kerajaan Demak, peradabannya satu tingkat masih muda dari Majapahit, kendati wilayah Pati dulu mungkin sudah ada,” kata pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Terkait tafsir “Arya Pati-Pati Pukapat” pada prasasti Tuhanaru, dia menyebutnya bukan kunjungan penguasa dari Pati ke Keraton Majapahit. Arya Pati-Pati Pukapat, menurut dia, ditafsirkan sebagai nama patih di Majapahit.

Pasalnya, tidak ada korelasi antara “teks” dan “zaman” yang menunjukkan kata itu berarti pisowanan agung penguasa Pati ke Majapahit. Hanya saja, dia membenarkan bila penguasa Pati merupakan trah Majapahit dari Dinasti Giri Kedaton.

Baca juga : Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Giri Kedaton sendiri lebih dikenal dengan nama Blambangan, karena saat itu Majapahit pecah menjadi dua. Salah satunya di Kedaton Wetan Majapahit. Kondisi tersebut terjadi pada sekitar abad ke-16, jauh sesudah 1323.

Editor : Ali Muntoha

Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Patung Raden Tombronegoro yang berada di depan Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejarah Kabupaten Pati selama ini menginduk pada Babad Pati dan Babad Tanah Jawi. Babad Pati ditulis oleh seorang pujangga pada abad ke-20.

Sementara Babad Tanah Jawi dibuat kalangan keraton yang disebut-sebut bernuansa “Mataram-sentris”. Artinya, sejarah dibuat untuk legitimasi kekuasaan Mataram yang saat ini bertransformasi menjadi Kesunanan Surakarta dan Yogyakarta.

Babad Pati menyebut, penguasa pertama adalah Raden Kembangjoyo, kemudian dilanjutkan Tondonegoro dan Tombronegoro. Selanjutnya, kekuasaan diserahkan kepada para pembesar seperti Ki Ageng Plangitan, Ki Ageng Rogowongso dan kawan-kawan, karena Tombronegoro tidak punya keturunan.

Namun, sejumlah pegiat sejarah di Pati meragukan kisah tersebut sebagai sebuah sejarah. Sebab, sejarawan Belanda yang kerap menulis sejarah Jawa, Johannes de Graaf mencatat, bupati Pati pertama adalah Kayu Bralit.

Kayu Bralit adalah nama lain dari Jati Kusumo yang disebut de Graaf menjadi penguasa pertama Pati pada 1518. Ia merupakan putra dari Puspo Kusumo yang sebetulnya lebih awal bergelar Kayu Bralit.

“Bupati Pati pertama sebetulnya Puspo Kusumo. Dia Kayu Bralit pertama yang gugur mendampingi Pati Unus melawan kedatangan Portugis. Namun, de Graaf mencatat Kayu Bralit adalah putranya, Jati Kusumo,” ujar pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Penguasa Pati pertama merupakan trah dari Majapahit yang kemudian bersilang trah “Ngerang”. Dari sana, lahir tokoh legendaris bernama Umar Nurul Yaqin yang kerap didengar masyarakat Pati sebagai sebutan Ki Ageng Penjawi.

Dia punya dua anak, yaitu Waskita Jawi dan Siddieq Nurul Yaqin yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Raden Wasis Joyokusumo. Waskita Jawi diperistri Panembahan Senopati, pendiri Mataram yang kemudian melahirkan raja-raja di Jawa seperti Raden Mas Jolang dan Sultan Agung.

Sementara sejarah Wasis Joyokusumo seolah ditelan bumi dan penuh dengan misteri, pascakekalahannya dalam perang saudara melawan kakak iparnya sendiri, Panembahan Senopati.  Karena itu, beberapa sejarawan mempertanyakan siapa sosok Tondonegoro dan Tombronegoro yang tak pernah tercatat dalam sejarah.

Editor : Ali Muntoha

Kandang di Panggungroyom Pati Terbakar, 25 Ribu Ekor Ayam Hangus Terpanggang

Petugas kepolisian melakukan pendataan di kawasan kandang ayam yang terbakar di Desa Panggungroyom, Wedarijaksa, Jumat (4/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kandang ayam milik Suyono (58) dan Wasito (56), warga Desa Panggungroyom RT 5 RW 1, Desa Wedarijaksa, Pati dilalap si jago merah, Jumat (4/8/2017) subuh.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Sujono, salah satu saksi mengungkapkan, pada pukul 04.00 WIB, dia terbangun karena mendengar suara letupan yang berasal dari kandang ayam. Dia kemudian memeriksa sumber suara letupan tersebut.

“Waktu saya cek, kandangnya sudah terbakar. Hanya dalam waktu sebentar, api semakin membesar dan menjalar dengan cepat. Dua kandang lainnya ikut terbakar,” ucap Sujono.

Pemadam kebakaran dari PG Trangkil diterjunkan untuk memadamkan api. Tapi, tiga kandang berukuran 40×30 meter yang terdapat 25 ribu ekor bibit ayam pedaging tidak berhasil diselamatkan.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum mengatakan, sumber api diduga berasal dari tungku penghangat ayam yang tertiup angin. Percikan api yang terbawa angin mengenai plastik kandang bambu.

Pakan ternak ayam dalam jumlah yang tidak sedikit juga ikut terbakar. Satu unit genset dan kompor minyak ikut ludes dilalap api.

Editor : Ali Muntoha