Dua Rumah di Truwolu Grobogan Ludes Terbakar, 1 Sapi Ikut Terpanggang

Kebakaran menimpa rumah dua warga di Dusun Ngasem, Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan, Grobogan, Minggu (3/12/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran terjadi di Dusun Ngasem, Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan, Minggu (3/12/2017) malam.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 19.15 WIB itu mengakibatkan rumah dua warga setempat ludes berikut barang berharga yang ada di dalamnya. Dua rumah yang terbakar milik Giyono (45), dan Wahid (38) yang tinggal di wilayah RT 03, RW 05.

Informasi yang didapat menyebutkan, sumber api berasal dari rumah Giyono. Kebakaran diketahui saat Giyono hendak membuat wedang untuk mertuanya Masuri (65), warga Bandungsari, Kecamatan Ngaringan yang bertandang ke rumahnya.

Ceritanya, saat berjalan menuju ke dapur, Giyono melihat salah satu ruangan kamar bagian bekalang sudah dilalap api pada bagian atapnya. Melihat rumahnya terbakar, Giyono kemudian segera berteriak minta tolong dan menyuruh anggota keluarganya untuk keluar rumah.

Melihat jeritan minta tolong, puluhan warga segera berdatangan ke lokasi dan berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, upaya pemadaman ini tidak berhasil karena hembusan angin kencang dan tebatasnya persediaan air.

Banyaknya barang mudah terbakar menyebabkan kobaran api makin cepat membesar dan melalap tiga bangunan rumah milik Giyono. Tidak hanya itu, kobaran si jago merah juga sempat menjalar pada rumah Wahid yang ada di sampingnya.

Kebakaran akhirnya bisa dipadamkan setelah dua armada damkar tiba di lokasi. Meski demikian, upaya pemadaman itu butuh waktu hampir tiga jam.

“Dalam musibah kebakaran itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Untuk kerugian material lebih dari Rp 150 juta. Ada, satu ekor sapi yang ikut mati terbakar. Kebakaran diperkirakan dari konsleting listrik,” kata Camat Ngaringan Teguh Harjokusumo.

Editor : Ali Muntoha

2 Ribu Ton Kedelai Lokal Mulai Dipersiapkan untuk Pembuatan Tempe Raksasa di Grobogan

Puluhan panitia mulai melakukan pengolahan bahan baku untuk pembuatan tempe raksasa, Senin (27/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganRencana Pemkab Grobogan untuk membuat sebuah tempe raksasa mulai dilakukan sejak beberapa hari lalu. Setelah dilakukan tahapan penyortiran, kedelai yang digunakan untuk pembuatan tempe mulai dimasak di Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Senin (27/11/2017).

”Tempe yang kita buat ukurannya 7 x 10 meter. Untuk pembuatan tempe sebesar ini butuh bahan baku kedelai sekitar 2 ton. Bahan baku yang kita gunakan seluruhnya adalah kedelai lokal. Pembuatan tempe raksasa tersebut akan dicatatkan dalam rekor MURI,” ungkap Kabag Perekonomian Pemkab Grobogan Pradana Setyawan.

Pembuatan tempe sengaja dipilih dengan bahan baku kedelai lokal yang saat ini sedang dikembangkan Pemkab Grobogan. Penggunaan bahan kedelai lokal ini salah satu tujuannya untuk mengurangi ketergantungan dengan barang impor.

Menurutnya, persiapan pembuatan tempe raksasa memang harus dilakukan beberapa hari sebelumnya. Soalnya, tahapan pembuatan tempe itu butuh waktu beberapa hari. Mulai dari penyortiran, pemasakan, peragian serta menempatkan kedelai yang sudah dimasak pada lokasi pembuatan di ruang rapat paripurna II DPRD Grobogan.

”Untuk pembuatan tempenya ada di ruang rapat paripurna II DPRD Grobogan. Namun, proses persiapan bahan bakunya dilakukan di RKG dan kantor Dinas Pertanian,” jelasnya.

Ia menjelaskan, pembuatan tempe terbesar akan dilangsungkan bersamaan dengan penyelenggaraan Pameran Ekonomi Kreatif Grobogan selama 4 hari. Yakni, dari 30 november hingga 3 Desember mendatang di alun-alun Purwodadi.

Dalam pameran nanti akan ditiampilkan produk ekonomi kreatif yang ada di Grobogan. Produk ekonomi kreatif akan mencakup 16 sub sektor yang ditepatkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

”Tempe raksasa nanti kita targetkan sudah jadi pas acara pembukaan pameran,” imbuhnya.  

Editor: Supriyadi

Banjir Bandang di Penawangan dan Karangrayung Grobogan, Ratusan Rumah Tergenang

Banjir bandang sempat melanda Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung dan menyebabkan ratusan rumah warga kebanjiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir bandang melanda dua desa di wilayah Kecamatan Penawangan dan Karangrayung, Grobogan, Minggu malam hingga Senin (27/11/2017) dinihari. Banjir bandang ini disebabkan meluapnya sungai, akibat hujan deras yang mengguyur sejak Minggu siang hingga malam.

Meski hanya berlangsung beberapa jam saja, namun air luapan sungai sempat menggenangi rumah penduduk. Selain itu, puluhan hektare areal sawah dilaporkan tergenang air.

Banjir bandang di Kecamatan Karangrayung terjadi di Desa Sumberejosari. Wilayah yang terkena dampak banjir ada di Dusun Mendung, Karanglo, dan Pandean.

“Sekitar 200 rumah yang sempat kemasukan air dengan ketinggian 10-40 cm. Menjelang Subuh, air yang masuk ke rumah penduduk mulai surut,” kata Camat Karangrayung Hardimin, Senin (27/11/2017).

Menurutnya, banjir tersebut disebabkan tingginya curah hujan di kawasan Pegunungan Kendeng bagian selatan. Hal itu menjadikan Sungai Jajar tidak bisa menampung volume air, sehingga meluap ke persawahan dan permukiman penduduk.

Dalam waktu hampir bersamaan, banjir juga melanda Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan yang wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Karangrayung. Banjir yang disebabkan jebolnya tanggul Sungai Tracak mengakibatkan lebih dari 100 rumah penduduk kemasukan air.

Editor : Ali Muntoha

Api Pawon Hanguskan Rumah Pembuat Kerupuk Karak di Pakis Grobogan

Warga bergotong royong memadamkan api yang membakar rumah pembuat krupuk di Desa Pakis, Grobogan, semalam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Dusun Ngrao Selatan, Desa Pakis, Kecamatan Kradenan, Grobogan, yang biasa tenang mendadak jadi gempar, Kamis (23/11/2017) malam. Hal ini terjadi menyusul adanya peristiwa kebakaran yang menimpa salah satu rumah warga sekitar pukul 21.00 WIB.

Rumah yang terbakar diketahui milik Sono (60), warga RT 01, RW 04. Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, pemilik rumah sedang sibuk menggoreng kerupuk karak.

Aktivitas penggorengan biasa dilakukan menggunakan pawon (tungku tradisional) dengan bahan bakar kayu dan ranting kering.

Saat sibuk menggoreng kerupuk, pemilik rumah tidak menyadari jika nyala api menjalar pada tumpukan kayu kering yang ada di dekat pawon. Api yang membakar tumpukan kayu kering akhirnya menjalar hingga dinding rumah hingga menimbulkan kobaran api cukup besar.

Melihat kondisi itu, pemilik rumah sudah berupaya menyiram api dengan air. Namun, api yang sudah terlanjur membesar itu gagal dipadamkan. Selanjutnya, pemilik rumah berteriak minta pertolongan warga.

Tidak lama kemudian, puluhan warga sudah tiba di lokasi dan segera melakukan upaya pemadaman. Setelah berupaya sekitar 30 menit, kebakaran itu akhirnya berhasil dipadamkam.

Kades Pakis Priyono menyatakan, dalam peristiwa itu hanya rumah bagian belakang saja yang mengalami kerusakan. Sementara rumah bagian depan masih aman, karena warga berhasil memadamkan api dengan cepat.

“Pemilik rumah memang usahanya bikin kerupuk karak. Di dekat pawon tadi memang ada banyak tumpukan kayu kering. Kerugian akibat kebakaran sekitar Rp 10 juta,” katanya. 

Editor : Ali Muntoha

Warga Pulokulon Grobogan Harapkan Pembangunan Jembatan Gantung

Warga Pulokulon, Grobogan melintas di atas jembatan berbahan dasar bambu yang dibuat salah satu warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pembuatan jembatan penyeberangan sederhana melintasi sungai Lusi yang diprakarsai Mbah Marno mendapat apresiasi dari banyak orang. Soalnya, banyak warga yang merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan bamboo sepanjang 25 meter tersebut.

Meski konstruksinya sangat sederhana, namun adanya jembatan itu bisa menghemat waktu. Yakni, bagi warga dari Kecamatan Pulokulon yang akan melakukan aktivitas ke Kecamatan Wirosari atau sebaliknya.

Tanpa melewati jembatan itu, warga harus memutar arah lewat jalur yang ada jembatan permanen melintasi sungai Lusi. Kalau memilih lewat jalur itu butuh tambahan waktu sampai 30 menit.

“Kalau lewat jembatan ini bisa potong kompas. Waku tempuh menuju Wirosari jadi dekat. Terus terang, saya sangat salut dengan kreatifitas Mbah Marno untuk bikin jembatan ini. Jembatannya memang sedehana tapi manfaatnya luar biasa,” kata Humas Kwarran Pulokulon Andi Patria yang menemani wartawan ke lokasi penyeberangan unik tersebut, Jumat (13/10/2017).

Baca: Mbah Marno, Warga Pulokulon Grobogan Pemilik Jembatan Antarkecamatan

Meski terbantu dengan hasil karya Mbah Marno, namun warga berharap agar dilokasi tersebut dibangunkan jembatan gantung. Harapan ini dilontarkan karena jalur tersebut memang dinilai sangat strategis dan menjadi akses terdekat antar kecamatan.

“Jalur ini memang sangat strategis dan jadi pilihan warga. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengguna jembatan tiap hari. Baik yang pakai motor, sepeda atau jalan kaki. Ada ratusan orang yang memanfaatkan dan kebanyakan adalah warga Pulokulon yang jadi karyawan pabrik di Wirosari dan anak sekolah,” kata Mbah Marno, pemilik jembatan penyeberangan tersebut.

Padatnya arus kendaraan yang melewati jembatan itu memang masuk akal. Soalnya, jembatan itu menjadi akses alternatif antar kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Wirosari.

Pada sisi selatan jembatan masuk wilayah Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. Sedangkan diseberang sungai masuk wilayah Dusun Bugel, Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari.

Jika nantinya dibangun jembatan gantung, Mbah Marno tidak merasa keberatan meski sumber mata pencahariannya bisa terancam. Bahkan, pria 64 tahun itu malah menyatakan dukungannya.

“Kalau dibangun jembatan gantung disisni saya rasa malah bagus. Jadi, makin banyak yang bisa memanfaatkan. Dari penilaian saya, dititik ini paling pas dibangun jembatan gantung,” katanya. 

Editor: Supriyadi

3 Jabatan Kepala SKPD di Grobogan Dilelang Terbuka. Ini Posisinya

Sekda Grobogan Moh Sumarsono saat melangsungkan sosialisasi PP No 11 tahun 2017 tentang manajemen PNS dan seleksi terbuka pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama, Kamis (12/10/2017).(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemkab Grobogan kembali menggelar seleksi terbuka atau lelang jabatan untuk posisi tiga kepala SKPD. Yakni, Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik).

Lelang jabatan dilakukan karena saat ini, posisi kadinas definitif pada dua instansi, yakni BPPKAD dan DLH tersebut masih kosong dan hanya dijabat oleh seorang pelaksana tugas. Sedangkan jabatan Kadisdik masih ada pejabat definitifnya, yakni Pudji Albachrun tetapi sebentar lagi akan memasuki masa pensiun.

“Pak Pudjo per 1 Desember nanti sudah purna tugas. Untuk itu, calon penggantinya kita lakukan sekalian dengan pengisian kepala BPPKAD dan DLH,” ungkap Sekda Grobogan Moh Sumarsono saat melangsungkan sosialisasi PP No 11 tahun 2017 tentang manajemen PNS dan seleksi terbuka pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama, Kamis (12/10/2017).

Lelang jabatan diawali dengan tahap pengumuman 12-13 Oktober. Kemudian dilanjutkan tahapan pendaftaran untuk tiga jabatan kepala SKPD yang dibuka mulai 13-27 Oktober.

“Posisi jabatan eselon II ini hanya diperuntuhkan ASN di lingkungan Pemkab Grobogan. Bagi ASN yang sudah memenuhi ketentuan, silakan mendaftar. Semua syaratnya bisa dilihat di website resmi kami. Bisa daftar langsung atau via email,” katanya.

Dijelaskan, untuk seleksi terbuka sudah terbentuk panitia seleksi (Pansel). Panitia seleksi terdiri atas Kantor Regional I Badan Kepagawaian Nasional (BKN) Yogyakarta, akademisi dari Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat, dan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jateng.

Editor: Supriyadi

Pasutri Asal Kenteng Grobogan Ini Meraih Sukses Setelah Ikut Program Transmigrasi. Begini Kisahnya

Abdullah dan Siti Inayah, pasutri asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan yang meraih sukses setelah ikut program transmigrasi. (istimewa)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga selama ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah mengikuti program transmigrasi ke luar Jawa.

Seperti yang dilakukan Abdullah (45) dan Siti Inayah (44), pasangan suami istri asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan. Meski sama-sama punya titel sarjana agama, pasutri yang saat itu sudah punya satu anak berusia dua bulan tersebut punya tekad tinggi untuk ikut program transmigrasi.

Setelah mendaftar, Abdullah dan keluarganya akhirnya mendapat kesempatan berangkat transmigrasi pada tahun 1999. Bersama rombongan lainnya, Abdullah ditempatkan di daerah terpencil di Desa Togomulyo, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali (sekarang masuk wilayah Morowali Utara), Provinsi Sulawesi Tengah. Di lokasi penempatan, para transmigran mendapat jatah tanah garapan seluas 2 hektar dan rumah tinggal.

Setelah berupaya keras mengolah lahan garapan selama beberapa tahun, Abdullah akhirnya mendapat kesempatan diterima jadi PNS Kementerian Agama Kabupaten Morowali Utara tahun 2003. Bahkan, Abdullah yang saat ini menjabat sebagai pengawas tersebut juga mendapat kesempatan kuliah S2 di UIN Jogjakarta tahun 2009 dan lulus dua tahun kemudian.

Abdullah asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan yang meraih sukses setelah ikut program transmigrasi. (istimewa)

Kesempatan menjadi PNS juga diraih istrinya, Siti Inayah. Pada tahun 2006, Siti diterima jadi guru agama dan saat ini mengajar di SMKN 2 Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara.

Meski sudah jadi PNS, namun keduanya tetap menggeluti lahan pertanian dan peternakan. Saat ini, keduanya mengelola tanaman kakau atau coklat dan kelapa sawit. Selain itu, mereka juga masih memelihara sapi dan kambing.

“Beberapa waktu lalu, saya dan kepala dinas sempat mengunjungi Pak Abdullah saat melihat calon lokasi transmigrasi di Kabupaten Morowali Utara. Mereka berdua patut dijadikan motivator bagi calon transmigran lainnya. Yakni, mau bekerja keras ketika sudah sampai di lokasi penempatan,” kata Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnaknertrans Grobogan Hadi Purmiyanto, Rabu (11/10/2017).

Selama tinggal di lokasi transmigrasi, pasangan Abdullah dan Siti Inayah dikaruniai dua anak lagi, laki-laki dan perempuan. Saat ini, putra pertama yang dulu diajak transmigrasi sudah kuliah semester tiga di Unida Gontor. Putra keduanya sekolah kelas III di SMA Gontor, dan putri bungsunya sekolah kelas I di SMP Gontor.

Siti Inayah asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan yang meraih sukses setelah ikut program transmigrasi. (istimewa)

Hadi menyatakan, Meski tidak segencar beberapa tahun lalu namun minat warga Grobogan orang untuk mengubah kondisi perekonomian lewat  program transmigrasi masih cukup tinggi. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih banyaknya orang yang ingin ikut program tersebut.

”Ya, program transmigrasi ini memang masih cukup banyak peminatnya. Setiap tahun masih banyak orang yang mendaftar program ini dan  untuk saat ini sudah ada puluhan KK yang mendaftarkan diri,” jelasnya.

Program trasmigrasi ini mulai dikenalkan sekitar tahun 1970 lalu. Sejak tahun 1970 sampai sekarang setidaknya sudah lebih dari 7.000 KK yang ikut transmigrasi. Adapun daerah tujuan transmigrasi ini kebanyakan tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. 

Editor: Supriyadi

Kepala Desa di Grobogan Diperingatkan Jangan Kongkalikong dalam Menyusun APBDes

Para Kades dan Ketua BPD yang ada di Grobogan sedang mengikuti sosialisasi Peraturan Bupati No 31 tahun 2017 tentang pedoman penyusunan APBDes 2018. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah penyataan tegas dilontarkan Sekda Grobogan Moh Sumarsono saat membuka sosialisasi Peraturan Bupati No 31 tahun 2017 tentang pedoman penyusunan APBDes 2018 yang dilangsungkan di gedung Riptaloka, Rabu (11/10/2017).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan agar kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) agar tidak kongkalikong dalam menyusun APBDes.

”Dalam pembahasan penyusunan anggaran harus mengutamakan kepentingan masyarakat. Hindari kongkalikong saat menyusun APBDes,” tegasnya.

Selain itu, Sumarsono juga meminta agar pihak desa diminta menyusun APBDes 2017 sesuai tahapan yang sudah ditentukan. Yakni, sebelum tahun 2017 berakhir, penyusunan APBDes untuk tahun anggaran 2018 harus sudah beres.

”Setelah sosialisasi, segera persiapkan penyusunan APBDes 2018. Hal ini hendaknya betul-betul diperhatikan,” katanya.

Menurut Sumarsono, jika APBDes sudah selesai ditetapkan pada akhir tahun maka akan membawa banyak kemudahan. Khususnya dalam melaksanakan pembangunan desa. Soalnya, begitu masuk tahun anggaran baru maka bisa langsung melaksanakan program yang sudah ditetapkan dalam APBDes tersebut.

Dalam penyusunan APBDes, pihak desa juga diminta untuk menrubah mindset money follow function dan money follow organization menjadi money follow   programme. Yaitu , dengan   cara   memastikan  alokasi anggaran disalurkan untuk program   yang  benar-benar bermanfaat dan berdampak langsung bagi masyarakat. Sementara itu,

Sumarsono menambahkan, selain soal waktu penyusunan APBDes, ada hal-hal lain yang perlu jadi perhatian. Yakni, penyusunan APBDes harus sinkron dengan kebijakan pemerintah daerah.

Dalam hal ini, program pembangunan harus jadi prioritas utama. Kemudian, bidang lainnya juga perlu mendapat porsi lebih. Seperti bidang pembinaan kemasyarakatan.

”Dari evaluasi selama ini, penggunaan APBDes memang paling besar disalurkan pada bidang pembangunan. Untuk alokasi bidang lainnya, selisihnya jauh sekali. Oleh sebab itu, melalui sosialisasi ini, para Kades dan Ketua BPD bisa lebih memahami seputar penyusunan APBDes,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Bendahara Pengeluaran di Grobogan Mulai Didorong Terapkan Transaksi Non Tunai

Para bendahana pengeluaran SKPD hingga tingkat desa mendapat sosialisasi transaksi keuangan non tunai di gedung Riptaloka, Senin (9/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para bendahana pengeluaran SKPD hingga tingkat desa diminta milai menerapkan taransaksi keuangan secara non tunai. Hal itu terungkap dalam sosialisasi pada para pendahara dan pejabat pengelola keuangan yang dilangsungkan di gedung Riptaloka, Senin (9/10/2017).

Sosialisasi itu dilakukan terkait adanya kebijakan transaksi pembelanjaan secara nontunai sesuai dengan surat edaran Kemendagri No. 910/1867/SJ tertanggal 17 April lalu. Pembelanjaan non tunai ini juga bertujuan untuk mengurangi risiko penyelewengan penggunaan anggaran.

Kabid Perbendaharaan Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Djasman menyatakan, pelaksanaan transaksi non tunai akan dilakukan secara bertahap. BPPKAD memberikan pembatasan, transaksi Rp 5 juta harus dilakukan secara non-tunai. Sementara, transaksi di bawah Rp 5 juta masih dapat dilakukan secara tunai.

’’Pelaksanaannya kita lakukan bertahap dulu supaya bendahara tidak kaget dengan perubahan ini.  Pemberlakuan secara efektif mulai 1 Januari 2018,” jelasnya.

Ia mengatakan pembayaran non-tunai dilakukan untuk memudahkan transaksi. Selain itu, melalui transaksi non-tunai akan membantu bendahara terhindar dari risiko kesalahan pembukuan dan penyalahgunaan anggaran.

’’Surat edaran sudah turun 17 April lalu. Sesuai surat edarat itu, pemerintah daerah diminta mengimplementasikan transaksi non tunai pada 1 Januari 2018 nanti. Dalam sosialisasi ini kita juga melibatkan pihak Bank Jateng,’’ katanya. 

Editor: Supriyadi

Bupati dan Kapolres Grobogan Jalin Kerjasama dalam Penerimaan Anggota Polri

Bupati Grobogan Sri Sumarni dan Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano melangsungkan penandatanganan naskah kerjasama atau MoU berkaitan dengan penerimaan anggota Polri yang dilangsungkan di ruang wapat wakil bupati, Rabu (4/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni dan Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano melangsungkan penandatanganan naskah kerjasama atau MoU berkaitan dengan penerimaan anggota Polri.

Acara penandatanganan tersebut dilangsungkan di ruang wapat wakil bupati, Rabu (4/10/2017). Semua Camat dan Kapolsek terlihat hadir dalam acara tersebut.

Bentuk kerjasama itu dilakukan dengan cara memberikan bekal pelatihan pada warga yang berminat untuk mengikuti seleksi penerimaan anggota Polri. Baik penerimaan taruna Akpol, bintara, maupun tamtama.

Kapolres menyatakan, dengan kerjasama ini akan dibuka ruang pada putra-putri di daerah untuk dibina potensinya. Diharapkan setelah dapat pembinaan, mereka bisa bersaing saat seleksi anggota Polri yang sesungguhnya.

Dijelaskan, melalui kerjasama ini pihaknya akan memilih, menjaring, melatih, dan menyeleksi bibit-bibit unggul yang ada di Grobogan. Selama proses pelatihan, calon yang akan ikut seleksi akan mendapat serangkaian pelatihan. Muali pelatihan fisik, akademik, psikologi, mental hingga kepribadian.

Sementara itu, Bupati Sri Sumarni menyatakan, pihaknya sangat mendukung upaya Polres Grobogan untuk mendapatkan bibit-bibit unggul calon anggota Polri tersebut. Dengan kerjasama itu diharapkan putra-putri dari Grobogan bisa punya kesempatan lebih besar untuk menembus ketatnya persaingan seleksi penerimaan anggota Polri.

“Saya menambut baik kerjasama ini. Saya juga mengintruksikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar bisa mendukung kerja sama yang telah disepakati hari ini,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Gara-gara Kambing Ribut, Pemilik Rumah di Tambirejo Grobogan Ini Selamat dari Kebakaran

Bangunan kandang kambing milik Sulastri Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, ludes terbakar Jumat (22/9/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran terjadi di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Grobogan, Jumat (22/9/2017) dinihari.

Kebakaran yang menimpa rumah Sulastri (50), warga yang tinggal di Dusun Pucang Selatan RT 05, RW 04 ini menyisakan cerita yang cukup menarik.

Saat api berkobar sekitar pukul 02.45 WIB, Sulastri dan dua anaknya berhasil selamat dari amukan api. Tiga penghuni rumah yang sebelumnya tidur lelap langsung terbangun gara-gara belasan ekor kambing di kandang belakang ribut tidak karuan.

Suara kambing berisik itulah yang membuat pemilik rumah terbangun, dan segera mengecek ke kandang. Saat itulah, ia tahu kalau kandang kambingnya sudah terbakar.

Melihat kejadian itu, Sulastri segera membangunkan kedua anaknya, agar segera keluar rumah sambil berteriak minta tolong.

Mendengar teriakan itu, puluhan warga segera berdatangan dan berupaya memadamkan api dengan alat seadanya. Salah seorang warga segera mengubungi kantor Damkar Grobogan untuk meminta bantuan.

Perjuangan warga dibantu petugas damkar untuk menjinakkan api, akhirnya berhasil dilakukan satu jam kemudian. Berkat kesigapan warga dan petugas damkar, bangunan rumah utama bisa diselamatkan dari amukan api.

Meski demikian, bangunan rumah bagian belakang yang digunakan untuk kandang seluruhnya terlalap api. Selain itu, belasan ekor kambing yang ada di dalamnya ikut mati terpanggang.

“Jumlah kambing yang mati terbakar ada 13 ekor. Untuk penghuni rumah berhasil selamat karena sempat terbangun saat api membakar kandang. Tafsir kerugian sekita Rp 25 juta,” kata Kades Tambirejo YR Puspitanianto.

Menurutnya, kebakaran itu kemungkinan dipicu dari api bediang yang menjalar ke tumpukan pakan kering. Sebelum kejadian, pemilik rumah memang sempat menyalakan bediang untuk mengusir nyamuk.

Editor : Ali Muntoha

Bapak-Anak di Teguhan Grobogan Tak Berdaya Melihat 2 Rumahnya Hangus Terbakar

Dua rumah di Desa Teguhan, Grobogan, terbakar hingga tak tersisa, Rabu (13/9/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Desa Teguhan, Kecamatan Grobogan yang biasanya tenang mendadak jadi hiruk-pikuk, Rabu (13/9/2017) malam. Peristiwa kebakaran rumah di wilayah RT 02, RW 02 menjadi penyebab gegernya warga sekampung.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB itu menimpa dua rumah. Masing-masing, milik Mutaalim (60), dan anaknya Zaenuri (30).

Informasi yang didapat menyebutkan, saat kejadian rumah tersebut dalam kondisi ramai orang. Sebelum kejadian, Mutaalim masih ngobrol di teras rumah dengan dua tetangganya Suwardi dan Nawijan yang datang bertamu.

Tak lama kemudian, terlihat kobaran api yang cukup besar dari rumah belakang bagian atas. Ketiga orang yang ada di teras kemudian berupaya memadamkan api sambil berteriak minta tolong warga sekitar.

Puluhan warga selanjutnya berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, upaya ini tidak bisa berhasil, karena kobaran api cepat sekali membesar.

Terbatasnya persediaan air ditambah banyaknya barang mudah terbakar, serta hembusan angin kencang menyebabkan amukan si jago merah sulit ditaklukkan.

Baca : Bau Belerang, Semburan Air di Desa Karanggeneng Grobogan Bikin Takut Warga

Setelah melalap habis rumah Mutaalim, kobaran api juga merembet ke rumah anaknya yang letaknya di sebelah timurnya. Hanya dalam tempo singkat, rumah dari kayu jati sudah tersulut api. Amuk kebakaran akhirnya bisa diatasi setelah tiga armada damkar tiba di lokasi kejadian.

Plh Kapolsek Grobogan AKP Sumardi menyatakan, pemicu kebakaran diduga dari hubungan arus pendek listrik (korsleting). Menurutnya, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah tersebut.

“Seluruh bangunan rumah yang berbahan kayu jati habis terbakar berikut barang berharga di dalam rumah. Perkiraan kerugian material diperkirakan sekitar Rp 300 juta,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Jemaah Haji Grobogan Meninggal di Pesawat dalam Perjalanan Pulang

Jemaah haji asal Grobogan berpelukan dengan keluarganya saat tiba di pendapa Kabupaten Grobogan, Selasa (12/9/2017) pagi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kabar duka mengiringi kedatangan jemaah haji asal Kabupaten Grobogan yang tergabung kloter 17, Selasa (12/9/2017). Hal ini terkait dengan meninggalnya salah seorang jemaah haji yang tergabung dalam kloter tersebut.

Jemaah yang meninggal bernama Moch Roni Kerto Warsito, dengan alamat Jalan Gunung Sindoro, Purwodadi. Jemaah berusia 63 tahun itu meninggal dunia dalam pesawat yang mengangkut kepulangan rombongan kloter 17.

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali mengungkapkan, dari laporan yang diterima, Moch Roni meninggal dunia pada Senin (11/9/2017) malam sekitar pukul 20.15. Saat itu, posisi pesawat yang membawa rombongan jemaah haji kloter 17 masih berada di wilayah udara India.

“Pesawat mendarat di Adisumarmo, Selasa dinihari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan dan serah terima dari petugas, jenazah jemaah kita yang wafat dibawa dengan mobil ambulans langsung menuju rumah duka,” jelasnya.

Menurut Hambali, dari 345 jemaah kloter 17, ada satu jemaah yang tidak bisa ikut pulang bersama rombongan. Yakni, jemaah atas nama Astohar bin Syahar, karena sakit dan masih menjalani perawatan medis di RS King Abdul Aziz Makkah.

Sementara itu, rombongan jemaah haji kloter 17 tiba di halaman pendapa kabupaten sekitar pukul 07.10 WIB. Suasana kedatangan diiringi isak tangis keluarga para jemaah yang sudah menunggu sejak subuh.

Bupati Grobogan Sri Sumarni memimpin langsung penyambutan jemaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci tersebut. Tampak pula, Kajari Grobogan Edi Handojo dan perwakilan FKPD lainnya serta sejumlah pejabat terkait.

Alhamdulillah, kepulangan jemaah bisa berjalan lancar hingga sampai di Grobogan. Saya doakan semoga semuanya mendapat predikat haji mabrur. Saya menyampaikan duka cita kepada jemaah yang wafat, semoga amal ibadahnya diterima Allah dan keluarganya diberikan ketabahan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Penumpang Teriak Histeris, Bus Laju Prima Terguling di Tanggul Sungai Tuntang Grobogan

Bus Laju Prima jurusan Purwodadi-Jakarta terguling saat menghindari tabrakan dengan truk tak dikenal. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus Laju Prima dengan truk tak dikenal terjadi di Desa/Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jumat (8/9/2017).

Meski tidak ada korban jiwa, namun kecelakaan yang terjadi menjelang subuh itu sempat menyita perhatian warga dan pengguna jalan raya Purwodadi-Semarang.

Informasi yang didapat menyebutkan, pagi itu bus jurusan Purwodadi-Jakarta tersebut melaju dengan kecepatan cukup tinggi dari arah barat. Sesampai di sebelah barat jembatan Tuntang, ada sebuah truk dari arah berlawanan yang melaju sangat kencang dan mengambil posisi terlalu ke kanan.

Melihat kondisi itu, sopir bus berupaya menepi untuk menghindari tabrakan. Meski sudah minggir, namun bodi bus bernomor polisi B 7071 IZ masih sempat tersenggol bak truk.

Akibat senggolan ini, laju bus yang dikemudikan Nurfatoni (30), warga Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan itu sempat oleng dan akhirnya terguling di tanggul.

Tidak lama setelah kejadian, warga sekitar langsung berdatangan ke lokasi, karena mendengar suara benturan keras saat bus terguling.

Baca : Dirlantas Polda Jateng Nyatakan Tak Ada Rem Blong saat Bus Indonesia Terguling di Kudus

Puluhan warga selanjutnya berupaya mengeluarkan sejumlah penumpang yang ada dalam bus tersebut. Beberapa penumpang yang mengalami luka dilarikan ke Puskesmas Gubug. Beberapa di antara mereka juga berteriak-teriak histeris karena takut.

Selain membantu menolong penumpang, beberapa warga juga sempat mengejar truk yang sebelumnya sempat bersenggolan dengan bus tersebut. Namun, upaya pengejaran tidak berhasil karena truk sudah keburu kabur jauh.

Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa menyatakan, dalam bus tersebut masih ada 17 penumpang. Setelah mengalami kecelakaan, ada empat penumpang yang mengalami luka-luka dan sempat dibawa ke puskesmas.

“Empat penumpang hanya mengalami luka ringan. Setelah ditangani di puskesmas, mereka sudah boleh pulang,” jelasnya.

Menurut Panji, kecelakaan terjadi akibat bodi bus tersenggol truk yang melaju dari arah berlawanan dengan mengambil posisi terlalu ke kanan. Sebelum terjadi kecelakaan, sopir bus sudah berupaya minggir untuk menghindari tabrakan.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Bus Indonesia Guling di Kudus, Banyak Korban Berjatuhan

 

Sejam Penuh Bupati Sri Sumarni Nyanyi Lagu Perjuangan Bersama Ribuan Pelajar

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama pejabat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dalam acara bertajuk Grobogan Gumbregah, Rabu (6/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni berserta pimpinan FKPD menghadiri acara bertajuk ‘Grobogan Gumbregah’ yang dilangsungkan di Alun-alun Purwodadi, Rabu (6/9/2017). Hadir pula para pejabat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Acara yang diprakarsai Kodim 0717/Purwodadi itu melibatkan ribuan pelajar dari berbagai SMP dan SMA. Dalam kesempatan itu, ada acara menyanyikan lagu-lagu perjuangan selama satu jam penuh. Bupati dan pejabat yang hadir terlihat ikut bersemangat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan para pelajar.

Acara Grobogan Gumbregah juga dimeriahkan dengan pertunjukkan drama kolosal yang mengangkat kisah perjuangan dalam mengusir penjajah.

Drama kolosal yang dimainkan mengangkat kisah perjuangan pahlawan wanita Nyi Ageng Serang, saat bahu membahu bersama masyarakat mengusir penjajah Belanda. Beberapa adegan pertempuran diperagakan dalam drama kolosal yang juga melibatkan para mahasiswa dan pelajar tersebut.

Bupati Grobogan Sri Sumarni mengapresiasi adanya acara menyanyikan lagu perjuangan dalam kegiatan Grobogan Gumbregah tersebut. Menurutnya, dengan menyanyikan lagu perjuangan dinilai akan bisa menumbuhkan kembali semangat nasionalisme pada generasi muda.

Ia juga sangat senang dengan adanya yang pertunjukkan drama kolosal dalam acara tersebut. Kebetulan, sosok yang diangkat dalam tema tersebut merupakan pahlawan kelahiran Grobogan. Yakni, Nyi Ageng Serang yang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi.

“Saya berharap lewat acara ini bisa menumbuhkan semangat nasionalisme dan masyarakat dapat meneladani pengorbanan dan perjuangan pahlawan bangsa,” kata Sri Sumarni.

Editor : Ali Muntoha

Hutan Jati Gundih di Pinggir Kampung Terbakar, Warga jadi Tak Berani Salat di Masjid

Kobaran api membakar areal hutan jati di RPH Kedungtawing, BKPH Juworo, KPH Gundih Minggu (3/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran kembali terjadi di kawasan hutan jati Perhutani KPH Gundih, Grobogan, Minggu (2/9/2017) dari siang hingga malam hari. Beberapa hari sebelumnya, sempat terjadi kebakaran kawasan hutan jati seluas empat hektare di RPH Gaji, BKPH Monggot.

Dari pantauan di lapangan, lokasi kebakaran ada di beberapa titik. Pada siang hari, areal hutan yang terbakar terlihat di pinggir jalan raya menuju waduk Kedungombo.

Kebakaran ini sempat mengganggu pengendara yang melintas dari kedua arah, karena munculnya asap di jalan raya. Pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, kebakaran di lokasi ini sudah padam dengan sendirinya.

Menjelang Magrib, kebakaran di wilayah hutan kembali muncul di lokasi lainnya. Yakni, di kawasan hutan jati di belakang Dusun Kedungtawing, Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Grobogan.

Kebakaran di areal ini lebih besar dan arealnya lebih luas dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Dari jalan raya, kobaran api yang membakar dedaunan dan ranting di bawah pohon jati terlihat jelas. Padahal, jarak lokasi kebakaran dengan jalan raya itu cukup jauh, sekitar 700 meter.

Warga melintas di pinggir areal hutan jati yang terbakar, Minggu (3/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Munculnya kebakaran di belakang perkampungan sempat membuat warga di Dusun Kedungtawing cemas. Bahkan, beberapa warga terpaksa tidak berani ke masjid untuk salat Magrib berjamaah, karena khawatir kebakaran di areal hutan merembet ke perkampungan.

“Saya tadi tidak berangkat ke masjid setelah melihat hutan di belakang sana terbakar. Rumah saya paling dekat dengan lokasi kebakaran sehingga agak khawatir,” kata Albani (45), warga setempat.

Baca juga : Putung Rokok Diduga Sebagai Biang Kebakaran Hutan Gundih Grobogan

Lokasi kebakaran hutan hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah penduduk paling pinggir. Areal hutan yang terbakar dengan perkampungan dipisahkan sungai kecil yang kondisinya kering tidak berair. Sepanjang sungai kering banyak rumpunan bambu.

Kekhawatiran warga akhirnya mereda. Warga merasa tenang setelah beberapa mobil damkar disiagakan di dusun tersebut.

“Begitu dapat laporan, kita minta bantuan damkar untuk standby. Lokasi kebakaran memang tidak begitu jauh dari perkampungan sehingga sebagian warga merasa khawatir,” kata Camat Geyer Aries Ponco.

Sementara itu, Wakil Administratur KPH Gundih Kuspriyadi mengatakan, lokasi kebakaran areal hutan itu berada di RPH Kedungtawing, BKPH Juworo. Menurutnya, kebakaran di lokasi itu sudah bisa ditangani petugas.

“Belum diketahui luas area hutan yang terbakar. Musim kemarau memang rawan kebakaran di areal hutan. Dampak kebakaran hanya pada tanaman. Untuk pohon jati masih tetap hidup meski sempat terkena api,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Grobogan Minta CSR Perusahaan Juga untuk Bangun Infrastruktur

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan bantuan paket gizi untuk siswa SD di Kecamatan Godong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar perusahaan yang ada di wilayahnya bisa menyisihkan sebagian dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pembangunan infrastruktur.

Hal itu disampaikan Sri Sumarni saat menghadiri acara Japfa4Kids yang diselenggarakan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk unit Grobogan, yang dilangsungkan di obyek wisata Api Abadi Mrapen, Rabu (30/8/2017).

Menurut Sri, upaya yang dilakukan PT Japfa sejauh ini dinilai sudah cukup bagus. Yakni, berkomiten terhadap dunia pendidikan dan penambahan gizi siswa SD dari alokasi dana CSR.

Meski demikian, ia berharap agar sebagian dana CRS bisa disalurkan untuk pekerjaan fisik. Misalnya, mendukung perbaikan jalan kampung, membuat taman bermain anak-anak dan bedah rumah tidak layak huni.

“Harapan saya, dana CSR perusahaan bisa disalurkan untuk kegiatan fisik. Terutama, di wilayah tempat perusahaan itu berdiri. Jika ini dilakukan maka ada manfaat langsung yang akan dirasakan masyarakat di sekitar perusahaan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dilakukan pula acara penyerahan berbagai bantuan pada sekolah dan siswa. Antara lain, paket gizi, pelengkapan P3K, alat pengukur tinggi dan berat badan. Selain itu, acara juga dimeriahkan gebyar budaya, lomba masak, lomba catur dan pemeriksaan kesehatan.

Editor : Ali Muntoha

Dibantu Jualan Bule Cantik, Jamu Warga Tarub Grobogan ini Ludes dalam Hitungan Menit

Joana Marcao, bule asal Portugal ikut jualan jamu di Desa Tarub Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana perempatan Jalan Purwodadi-Blora menuju arah Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Selasa (29/8/2017) mendadak heboh.

Penyebabnya, ada perempuan bule yang mendadak menawarkan jamu gendong pada orang yang ada di sekitar lokasi itu.

Hadirnya bule berparas cantik ini tak ayal sempat bikin kaget dan mengundang daya tarik orang untuk membeli jamu. Hasilnya, hanya dalam tempo lima menit dagangan yang dijajakan sudah ludes dibeli orang.

Munculnya penjual jamu yang tidak disangka-sangka juga dimanfaatkan warga setempat untuk foto bareng. Bahkan, sebagian warga sempat saling berebut untuk bisa foto dengan penjual jamu istimewa tersebut.

Penjual jamu cantik ini memang asli orang luar negeri. Namanya, Joana Marcao yang berasal dari Portugal. Perempuan ini sudah berada di Desa Tarub sejak pertengahan Agustus lalu, dalam kapasitasnya sebagai relawan lembaga sosial internasional yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.

Selama berada di Desa Tarub, sudah banyak aktivitas yang dilakukan Joana bersama masyarakat. Salah satunya adalah membantu jualan jamu gendong yang biasa dikerjakan Mariman (35), warga Desa Tarub yang sudah hampir 10 tahun jadi penjual jamu keliling.

“Mbak Joana ini minta izin ikut bantu jualan jamu gendong. Setelah dibantu jualan, dagangan saya laris manis. Dalam hitungan menit saja sudah ludes. Padahal, biasanya baru habis setelah keliling seharian,” katanya.

Kepala Desa Tarub Ali Maskuri menyatakan, jumlah relawan yang ada di desanya ada dua orang. Selain Joana, ada Kozumoto yang berasal dari Jepang. Keduanya akan bertugas jadi relawan hingga akhir bulan Agustus ini.

Beberapa hari lalu, kedua relawan itu juga sempat menyaksikan pagelaran wayang kulit di Balai Desa Tarub. Saat sesi goro-goro atau guyonan, Joana bahkan sempat didaulat untuk menyanyi sebuah lagu Jawa bertitel ‘Suwe Ora Jamu’. Saat menyanyi, para penonton sempat dibuat tertawa karena logat Joana yang belum begitu fasih berbahasa Jawa itu terdengar lucu.

“Selain nyanyi Suwe Ora Jamu, Mbak Joana juga pingin ikut bantu Pak Mariman jualan jamu keliling. Saat Mbak Joana bantu jualan jamu memang suasanya jadi heboh dan meriah,” katanya, Selasa (29/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Jadi Tuan Rumah Popnas Gulat, Ini yang Disiapkan Pemerintah Grobogan

Panitia Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) cabang olahraga gulat menggelar rapat persiapan yang dimpimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sekretaris Daerah (Sekda) Grobogan Moh Sumarsono meminta agar penyelenggaraan even Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) cabang olahraga gulat bulan September 2017 mendatang bisa sukses dan berjalan lancar. Hal itu disampaikan Sumarsono saat memimpin rapat dengan panitia Popnas, Selasa (29/8/2017).

Menurutnya, beberapa waktu lalu sudah diputuskan kalau Grobogan akan jadi tuan rumah Popnas untuk cabor gulat. Even Popnas akan dilaksanakan pada 13-20 September 2017 di GOR Simpanglima Purwodadi.

“Sebagai tuan rumah, banyak tugas berat yang harus kita lakukan. Oleh sebab itu, semua panitia harus saling berkoordinasi dengan baik supaya even Popnas gulat bisa sukses,” katanya.

Rapat membahas kesiapan Popnas gulat juga dihadiri Ketua KONI Grobogan Fatchur Rachman. Hadir pula Kepala Disporabudpar Grobogan Karsono.

Panitia Popnas juga melibatkan berbagai dinas dan instansi terkait lainnya. Seperti dari TNI, POLRI, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Bappeda hingga BPPKAD.

Sumarsono menyatakan, mengingat even tersebut skala nasional maka persiapannya harus dilakukan lebih cermat. Sebab, jumlah personel yang terlibat dalam Popnas itu cukup banyak karena hampir seluruh provinsi ambil bagian. Selain atlet dan ofisial juga akan terlibat instruktur pertandingan.

Sumarsono yang kebetulan juga menjabat jadi Ketua Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Grobogan itu menyatakan, pihaknya merasa bangga karena dipercaya jadi tuan rumah Popnas gulat. Sebab, dengan adanya even ini secara tidak langsung akan bisa menarik animo masyarakat untuk menekuni olahraga gulat.

Di sisi lain, dengan ditunjuk jadi tuan rumah maka ada beberapa konsekuensi yang harus dilakukan. Antara lain, mempersiapkan kelengkapan sarana dan prasarana pendukung di lokasi pertandingan.

Editor : Ali Muntoha

Lebih Banyak Cewek yang Daftar Duta Wisata Grobogan, Cowoknya ke Mana?

Pemilihan Duta Wisata Grobogan 2016 lalu. Tahun ini jumlah pendaftar antara Mas dan Mbak Grobogan justru tak seimbang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ajang pemilihan Duta Wisata Grobogan 2017 tampaknya bakal sedikit berbeda dari sebelumnya. Karena, pendaftar untuk kategori Mas Grobogan jumlahnya lebih kecil dibandingkan peminat kategori Mbak Grobogan.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus 2017 lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar.

Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

“Untuk tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya. Tahun sebelumnya, jumlah pendaftar pria dan wanita ini berimbang,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat, Selasa (29/8/2017).

Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja.

Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien.

“Kalau pesertanya terlalu banyak, acaranya baru selesai hingga lewat tengah malam. Oleh sebab itu, jumlah pesertanya kita batasi hanya 30 orang saja. Untuk grand final pemilihan duta wisata akan dilangsungkan 9 September 2017 di pendapa,” kata Jamiat.

Editor : Ali Muntoha

4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Beginilah penampakan kobaran api yang membakar kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran menimpa kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. Meski tidak ada korban jiwa. namun kebakaran ini sempat membuat panik warga dan pengendara yang melintas di jalur Purwodadi-Solo.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui selepas Magrib, sekitar pukul 18.15 WIB. Banyaknya dedaunan dan ranting kering menyebabkan kobaran api cepat membesar.

Beberapa warga yang melihat ada kebakaran di wilayah hutan langsung menghubungi kantor pemadam. Sekitar 30 menit kemudian, tiga mobil damkar sudah tiba di lokasi kejadian.

Aksi pemadaman berlangsung hampir dua jam lamanya. Dalam pemadaman ini, petugas damkar juga mendapat dukungan dari anggota Koramil dan Polsek Geyer serta puluhan warga sekitar kawasan hutan.

“Ada puluhan warga yang ikut membantu memadamkan api. Upaya pemadaman juga didukung dari TNI dan Polisi,” kata Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi kebakaran tersebut.

Petugas pemadam kebakaran dibantu warga mencoba menjinakkan api yang membakar hutan Perhutani di Gundih, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saat pemadaman dilakukan, arus lalu lintas dari kedua arah sempat tersendat karena kendaraan harus berjalan pelan dan bergantian.

Sebelum kebakaran dipadamkan, para pengendara sempat terganggu kepulan asap. Hal ini terjadi karena lokasi kebakaran hanya berjarak beberapa meter di sebelah timur jalan Purwodadi-Solo km 16.

Camat Geyer Aries Ponco ketika dimintai komentarnya menyatakan, kebakaran terjadi di petak 103 B yang masuk wilayah Desa/Kecamatan Geyer. Berdasarkan perkiraan sementara, luas areal hutan yang terbakar sekitar 4 hektare.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa itu. Untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Kalau ingin dapat informasi lebih lanjut bisa dikoordinasikan dengan pihak KPH Gundih,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Nah…Sekarang Mobil Sudah Tak Bisa Lagi Keluyuran di Lapangan Alun-alun Purwodadi

Dua pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup Grobogan sedang memperkuat tiang penyangga portal di pintu masuk Alun-alun Purwodadi sisi utara. (MuriaNewsCom/Dhani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan- Sorotan terhadap banyaknya kendaraan bermotor yang masuk ke dalam lapangan Alun-alun Purwodadi langsung disikapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan.

Guna mencegah masuknya kendaraan, pihak DLH akhirnya membuatkan portal permanen di pintu masuk sebelah utara.

Kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara yang ada di seberang kantor DPRD Grobogan. Sebelumnya, di pintu ini sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Dari pantauan di lapangan, terlihat masih ada dua orang yang sedang memperkuat tiang penyangga portal dengan semen. Portal yang dipasang terbuat dari pipa besi.

Di atas pipa besi yang posisinya melintang diberi gerigi cukup tajam. Gerigi tajam ini dipasang supaya pipa besi tidak dipakai duduk orang.

Sekretaris DLH Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, pemasangan portal dilakukan supaya sepeda motor maupun mobil tidak masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Akses masuk ke dalam alun-alun lewatnya pintu utara. Akhirnya, kita pasang portal supaya kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya, Selasa (22/8/2017).

Baca juga : Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Sebelumnya, banyaknya kendaraan yang bebas keluar masuk alun-alun sempat mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Grobogan. Anggota dewan meminta agar hal itu segera disikapi dengan tegas, karena semua kendaraan bermotor sudah disiapkan lahan parkir di sekeliling alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Edi sedang menata paralon untuk irigasi sprinkler yang dibangunnya menggunakan dana hingga Rp 80 juta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sistem irigasi sprinkler yang dibuat petani muda asal Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Edi Sukamto, diklaim mempunyai keunggulan tersendiri. Selain memangkas biaya produksi hingga separuh, ada banyak keuntungan yang lain.

Edi menyebut, keuntungan lain dengan irigasi ini adalah kondisi tanah bisa terjaga dengan baik. Soalnya, tanah tidak menjadi padat, karena sering dinjak-injak banyak orang saat proses penyiraman dan perawatan, seperti saat proses manual.

Meski banyak keuntungan, namun tidak semua petani melengkapi sawahnya dengan irigasi sprinkler. Salah satu kendalanya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Untuk membangun jaringan irigasi itu, Edi mengaku sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 80 juta buat beli paralon, perlengkapan lainnya dan biaya pemasangan.

Uang sebanyak ini, paling banyak digunakan untuk membeli paralon atau pipa plastik berbagai ukuran. Jumlah paralon yang dipasang sekitar 2.500 batang.

Biaya pembuatan irigasi masih bisa bertambah untuk membeli mesin sedot dan selang plastik. Kebetulan, Edi sudah sebelumnya sudah memiliki peralatan ini, sehingga tidak butuh budjet baru untuk membeli.

“Kalau dilihat sepintas, biaya pembuatan irigasi memang terbilang sangat mahal. Tetapi kalau dikalkulasi sebenarnya malah murah. Soalnya, jaringan irigasi ini bisa digunakan minimal 5 tahun. Yang berat adalah ongkos bikin pertama,” katanya, sebelum mengajak jalan-jalan mengelilingi areal sawahnya.

Baca juga : Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Pembuatan irigasi sprinkler itu sudah dilakukan awal tahun 2017 lalu. Saat itu, air yang keluar dari irigasi digunakan untuk menyiram tanaman bawang merah. Setelah panen bawang merah, areal sawah ganti ditanami cabai.

Edi mengaku, selama menggunakan irigasi tersebut, belum menemukan kendala serius. Hanya saja, salah satu hal yang dinilai cukup berat adalah proses pengambilan air baku. Soalnya, air baku harus diambil dari Sungai Serang yang lokasinya berjarak sekitar 2 km dari sawahnya.

Pengambilan air dari sungai dilakukan dengan mesin sedot dan airnya dialirkan lewat selang besar menuju pipa besar yang berfungsi sebagai transmisi. Setelah itu, air dibagi lewat jaringan yang sudah tersedia di lahan sawahnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Edi tengah memeriksa jaringan paralon dalam irigasi modern sprinkler di ladangnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemanfaatan teknologi untuk membuat sebuah sistim irigasi mulai dilakukan petani di Grobogan. Salah satu pelakunya adalah Edi Sukamto, petani di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Meski harus mengeluarkan puluhan juta rupiah, namun hasil yang didapatkan cukup luar biasa.

Untuk memudahkan budidaya tanamannya, petani berusia 37 tahun itu membangun sistim irigasi yang dikenal dengan nama sprinkler. Irigasi sprinkler merupakan suatu metode irigasi yang fleksibel.

“Irigasi sprinkler tidak hanya digunakan untuk menyiram tanaman saja. Tetapi juga dapat dipakai untuk pemupukan dan pengobatan. Irigasi sprinkler juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban tanah dan mengontrol kondisi iklim sesuai dengan kondisi tanaman,” ujar Edi saat ditemui di lokasi sawahnya yang berada di sebelah selatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Purwodadi itu.

Areal sawah Edi luasnya sekitar 4 hektare. Saat ini, lahan sawahnya dipenuhi tanaman cabai yang berusia sekitar 2 bulan.

Pada areal sawahnya terpasang banyak sekali paralon plastik berbagai ukuran. Selain dipasang menyusuri lahan, banyak juga pipa yang dipasang dengan posisi berdiri dan di atasnya diberi kran khusus.

Fungsi kran ini untuk menyemprotkan air pada tanaman di sekitarnya. Saat proses penyiraman, airnya keluar berputar dari kran dan bentuknya seperti curah hujan.

Baca juga : Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Selain memudahkan proses penyiraman dan perawatan, dengan irigasi berbasis teknologi ini bisa menghemat biaya dibandingkan menggunakan penyiraman manual. Penghematan biaya dikalkulasi bisa sampai 50 persen, karena tidak butuh banyak tenaga kerja.

“Sebelum pakai irigasi sprinkler saya butuh 30 tenaga kerja khusus untuk menyiram tanaman. Dengan tenaga sebanyak ini, butuh waktu penyiraman sampai 2 hari. Sekarang, tenaga kerjanya hanya beberapa orang saja untuk mengawasi kerja sprinkler saat menyentorkan air dan mengoperasikan mesin sedot,” jelas Edi.

Editor : Ali Muntoha

Baliho di Gedung DPRD Grobogan Ini Bikin Orang Mesam-mesem

Seorang warga tengah melihat baliho berisi gambar karikatur pimpinan DPRD Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah baliho besar berukuran sekitar 3 x 4 meter yang ada di depan ruang paripurna DPRD Grobogan sempat jadi perhatian banyak orang.

Perhatian ditunjukan pada gambar karikatur empat orang pimpinan dan sekretaris DPRD dalam baliho berisikan ucapan dirgahayu kemerdekaan itu.

Dalam karikatur tersebut, kelima pejabat itu sama-sama memakai kopiah. Namun, gambarnya hanya dicroping di bagian wajah saja. Sementara, bagian di bawahnya berupa gambar karikatur yang modelnya berlainan.

Penampilan Wakil Ketua DPRD Wasono Nugroho dalam karikatur digambarkan memakai jas panjang warna hijau, seperti yang biasa digunakan Presiden Soekarno dan Jenderal Sudirman.

Di sebelah kirinya adalah karikatur Ketua DPRD Agus Siswanto yang penampilannya memakai jas warna merah dan celana jins hitam. Selanjutnya, adalah karikatur Wakil Ketua DPRD HM Nurwibowo yang berpenampilan layaknya seorang anggota Paskibraka.

Paling lucu adalah karikatur dari Wakil Ketua DPRD Anang Prasetyo. Penampilan politisi Partai Gerindra itu digambarkan layaknya pejuang dengan mengenakan kaos lengan pendek merah putih dan celana pendek putih serta mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kaki.

Sebuah pita merah putih diikatkan di kopiahnya dan di balik badannya terselip sebuah bambu runcing.

Karikatur paling ujung kanan adalah Sekretaris DPRD Pangkat Joko Widodo. Penampilan Pangkat mirip seperti anggota defile pembawa bendera merah putih.

Informasi yang didapat menyebutkan, baliho itu sudah dipasang cukup lama. Yakni, sekitar pekan pertama bulan Agustus. Meski banyak yang melihat namun kebanyakan tidak begitu memperhatikan karikatur itu dengan cermat.

“Saya beberapa kali lewat sini dan sempat melirik baliho itu. Tapi baru tahu sekarang kalau ada karikaturnya para pimpinan DPRD. Saya rasa baliho ini cukup kreatif,” kata Arif, salah seorang warga yang ditemui di depan kantor DPRD, Sabtu (19/8/2017).

Editor : Ali Muntoha