Penyaluran Bansos Rastra di Grobogan untuk Bulan April Diajukan

MuriaNewsCom, Grobogan – Penyaluran bantuan sosial beras sejahtera (Bansos Rastra) di Grobogan untuk alokasi bulan April diajukan. Hal itu disampaikan Kepala Dinsos Grobogan Andung Sutiyoso saat melakukan pemeriksaan kualitas beras untuk program rastra di Gudang Bulog 104 Purwodadi, Selasa (27/3/2018).

Menurut Andung, pada penyaluran bansos rastra untuk alokasi bulan Januari-Maret dilakukan sesuai bulannya. Namun, khusus penyaluran bulan April dilakukan pada akhir Maret hingga awal April.

“Penyaluran alokasi bansos rastra bulan April rencananya kita lakukan mulai Rabu besok sampai 6 April. Hal ini kita lakukan berkaitan dengan adanya instruksi dari Bulog pusat agar penyaluran bansos rastra bulan April diajukan waktunya,” imbuh Andung didampingi Kabid Sosial Kurniawan.

Disinggung soal kualitas beras yang akan disalurkan pada penerima, Andung menyatakan, cukup bagus. Menurutnya, jika ada penerima yang berasnya ternyata tidak bagus maka pihak bulog akan menggantinya.

“Kami sudah berkomitmen dengan bulog untuk langsung mengganti beras apabila kualitasnya tidak sesuai ketentuan. Kami beri toleransi waktu 2 x 24 jam untuk mengganti berasnya. Jika beras yang diterima kurang bagus maka cepat laporkan,” tegasnya.

Menurut Andung, jumlah penerima Bansos rastra se-kabupaten ada 124.178 keluarga penerima manfaat (KPM). Porgram bansos rastramerupakan peralihan dari bantuan Raskin.

Selain perubahan nama, jumlah beras yang diterima KPM juga berubah. Yakni, dari semula 15 Kg beras dengan harga penebusan Rp 1.600 per kilo, menjadi 10 kg per KPM secara gratis.

Dalam waktu dekat, penyaluran beras rastra akan diganti dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Kementerian Sosial. Dijelaskan, BPNT adalah bantuan pangan dari pemerintah yang diberikan kepada KPM setiap bulannya.

Mekanisme penggunaan BPNT melalui akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di e-Warong atau pedagang bahan pangan yang bekerjasama dengan Bank yang ditunjuk. Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran serta memberikan nutrisi yang lebih seimbang kepada KPM secara tepat sasaran dan tepat waktu.

“Untuk program BPNT ini sudah kita sosialisasikan pada camat dan kepala desa beberapa hari lalu. Mengenai pelaksanaan BPNT masih menunggu surat resminya dari Kementerian Sosial,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Serapan Beras Oleh Bulog di Kudus Masih Nihil

MuriaNewsCom, Kudus – Serapan beras oleh Bulog di Kabupaten Kudus pada MT I masih nihil. Hingga Selasa (6/3/2018) pagi, baru ada kerjasama serap dari mitra kepada Bulog sebesar 50 ton.

Hal itu diakui oleh Kepala Perum Bulog Subdivre Pati, Muhammad Taufiq saat mengunjungi sebuah gudang di Desa Wates, Kecamatan Undaan. Bersamanya, Komandan Kodim 0722 Kudus Letkol Inf. Sentot Dwi Purnomo dan pemilik gudang beras Yudho Prasetyo.

“Hari ini mitra baru membuka kontrak beras sebanyak 50 ton.Mitra lain kabarnya akan buka kontrak, tapi kita tunggu saja. Kalau untuk se Divre Pati kontraknya 3.500 ton beras, realisasinya 1.500 ton beras. Sudah (menyerap beras) semua (eks karisidenan Pati) yang belum Kudus,” kata Taufiq.

Menurutnya, angka penyerapan beras sebesar 1.5000 ton termasuk tinggi, jika dibandingkan dengan wilayah lain di Jateng. Menurutnya, untuk penyerapan beras di Kudus bergantung pada mitra.

“Kalau untuk itu (kontrak) yang mengadakan itu mitra tidak ada besarannya, nanti terserah mereka,” tambahnya.

Yudho Prasetyo pemilik gudang beras menuturkan, stok gabah di Kabupaten Kudus telah habis. Selain karena diserbu pedagang-pedagang asal Jawa Barat, harga jual gabah juga meningkat dari semula Rp 5.000 per kilogram menjadi Rp 5.500 per kilogram.

Sementara itu, Dandim 0722 Kudus Letkol Inf. Sentot Dwi Purnomo menyebut akan meningkatkan sinergitas antar lembaga untuk meningkatkan serapan gabah petani.

“Pertama harus ada sinergitas. Kalau tidak maka panen itu akan surplus tapi serapan kurang. Maka dari itu harapannya, agar pada MT (Musim Tanam) II hasilnya lebih berlipat-lipat dari yang ada sekarang,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Gelar Operasi Pasar di Pecangaan, Dua Ton Beras Ludes Dalam Satu Jam

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Urusan Logistik (Bulog) menggelontor Pasar Pecangaan dengan dua ton beras. Dalam kurun waktu satu jam, beras kualitas medium langsung tandas dibeli warga.

Hal tersebut dilakukan Bulog bersama Pemkab Jepara dalam operasi pasar, guna menstabilkan harga beras, Rabu (7/2/2018).

Kepala Gudang Bulog Jepara Ahmad mengatakan, beberapa saat lalu harga beras kualitas medium dapat mencapai Rp 11 ribu perkilogram. Dalam operasi pasar tersebut, beras dijual dengan harga Rp 8.400 perkilogram, lebih rendah dari harga pasaran yakni, Rp 9.300 per kilogram.

“Operasi pasar ini merupakan rangkaian yang dilakukan Bulog dan Pemkab Jepara guna menstabilkan harga beras. Ada tiga pasar yang menjadi sasaran, yakni Pasar Bangsri, Pasar Jepara Dua dan terakhir di Pasar Pecangaan. Kegiatan sudah dilakukan sejak hari Senin (5/2/2018), sampai dengan hari ini,” ungkapnya.

Dirinya merinci, ada lima ton beras kualitas medium yang digelontorkan di tiga pasar itu. Untuk Pasar Bangsri dan Jepara Dua masing-masing dijatah 1,5 ton beras. Sementara dua ton sisanya, digelontorkan untk Pasar Pecangaan.

Menurutnya, dengan operasi pasar yang dilakukan oleh pemkab dan Bulog berharap dapat menekan harga beras. “Kedepan harga beras akan semakin turun, mengingat bantuan beras sejahtea (Rastra) sejumlah 770.360 kilogram akan segera didistribusikan Senin pekan depan,” tuturnya.

Editor: Supriyadi

Salurkan Bansos Beras, Bupati Grobogan: Jangan Ada Beras Berkutu!

MuriaNewsCom, GroboganPemkab Grobogan mulai menyalurkan bantuan sosial beras sejahtera (Bansos Rastra) kepada warga yang berhak menerima. Peluncuran bantuan perdana dilakukan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni di ruang rapat wakil bupati, Selasa (30/1/2018).

Acara ini juga dihadiri sejumlah pejabat terkait. Antara lain, Sekda Grobogan Moh Sumarsono, Kepala Bappeda Anang Armunanto, Kepala Dinsos Andung Sutiyoso, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Muhammad Hidayat, perwakilan dari Polres Grobogan dan Perum Bulog Sub Divre Semarang.

Dalam kesempatan itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar bantuan bansos rastra benar-benar disalurkan tepat sasaran. Artinya, penerima bantuan adalah kepala keluarga yang memang berhak menerima, alias keluarga kurang mampu. Ia juga menekankan agar bantuan beras yang diberikan diperhatikan kualitasnya.

”Saya minta beras yang disalurkan diperhatikan kualitasnya. Jangan sampai ada beras berkutu yang diberikan dalam program Bansos Rastra ini,” tegasnya.

Sekeretaris Daerah Grobogan Moh Sumarsono menyatakan, jumlah penerima Bansos rastra se-kabupaten ada 124.178 keluarga penerima manfaat (KPM). Program ini akan disalurkan pada kurun waktu Januari dan Februari.

”Bansos Rastra hanya disalurkan dalam dua bulan ini. Mulai Maret bentuknya jadi bantuan pangan non tunai,” jelasnya.

Porgram bansos rastra merupakan peralihan dari bantuan Raskin. Selain perubahan nama, jumlah beras yang diterima KPM juga berubah. Yakni, dari semula 15 Kg beras dengan harga penebusan Rp 1.600 per kilo, menjadi 10 kg per KPM secara gratis.

Editor: Supriyadi

Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus 

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, Selasa (23/1/2018). Dalam kesempatan itu, ia didampingi oleh Bupati Kudus Musthofa dan jajaran terkait.

“Ini adalah panenkedua setelah kita melakukan panen raya di Demak. Luasan lahannya cukup luas, semoga produksi ini bisa menjadi stok (di Bulog). Harga gabah sudah mulai menurun karena wilayah-wilayah di Indonesia sudah mulai panen. Kita jaga terus harga pembelian pemerintah (HPP) agar jangan sampai merugikan petani,” ucap Amran.

Sementara itu Bupati Kudus Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar setop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Dalam kesempatan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

Adapun, luas hamparan sawah di Desa Berugenjang ‎adalah 516 hektar, dengan provitas atau hasil produksi 7-8 ton per hektar. Sedangkan varietas padi yang ditanam adalah ciherang.

Editor: Supriyadi

Petani Undaan Lor Kudus Tolak Rencana Pemerintah Impor Beras

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus menolak rencana pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri. Hal itu dinilai akan semakin merugikan petani.

Khoiron (45) seorang petani di desa itu mengaku, saat ini sawah di kampungnya sedang panen. Meskipun belum serentak, namun harga akan semakin turun jika musim panen raya tiba.

Saat ini menurutnya, harga gabah di saat panen (di Desa Undaan Lor) dihargai Rp 580 ribu per kwintal. Hal itu juga diamini oleh Ketua Gapoktan Tani Mulyo Undaan Lor, Rohwan.

“Kami menolak jika ada impor beras. Soalnya hal itu akan merugikan petani,” katanya.

Menurutnya, luas lahan sawah di Undaan Lor 450 hektare. Satu hektare sawah diperkirakan dapat menghasilkan 8 ton gabah setiap kali panen.

Dikatakannya, pada akhir Januari 2018 diperkirakan desa ini akan panen raya. Hal itu otomatis menurunkan harga gabah. Dengan rencana pemerintah hendak mengimpor beras, dikhawatirkan harganya semakin anjlok.

“Nanti kalau panen raya harganya (gabah) bisa turun sampai Rp 240 ribu per kwintal. Kalau ada impor beras ya merugikan petani. Apalagi dari penebas (tengkulak) takut membeli, soalnya menanti harganya turun,” urainya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Undaan Lor Edi Pranoto mengaku tak setuju akan rencana impor beras.

“Kami dari desa tak setuju dengan rencana impor beras. Karena hal itu resahkan warga kami yang berprofesi sebagai petani,” ujarnya.

Menurutnya, untuk MT (Musim Tanam) I 2018 yang seharusnya berlangsung Oktober (2017)-Januari (2018), untuk Desa Undaan Lor maju di Bulan September 2017. Oleh karenanya, panen bisa dilakukan pada bulan Januari‎.

Editor: Supriyadi

Ribuan Petani Jakenan Kidul Pati Penen Raya

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati, melakukan panen raya, Kamis (11/1/2017). Panen raya dilaksanakan oleh kelompok tani, Kodim Pati, Polsek Margorejo, dan pejabat dari OPD Pemkab Pati.

Ketua P3A Sumber Makmur Desa Jambean Kidul, Kamelan mengatakan, penen raya dilaksanakan di lahan persawahan seluas 200an hektare. Jumlah tersebut baru separuh dari jumlah lahan yang dimiliki kelompok tani Sember Makmur

“Sebenarnya lahan pertanian di sini mencapai 400an hektare lebih. Namun yang sudah tua dan siap panen baru sekitar 200an hektare,” katanya kepada MuriaNewsCom usai pelaksanaan panen raya.

Ia menyebutkan, pelaksanaan panen raya kali ini dilakukan dengan cara dua cara. Pertama menggunakan mesin panen combine dan kedua menggunakan alat jenis blower.

Untuk combine, kata dia, digunakan untuk lahan yang tidak berlumpur dan lahan lapang. Sisanya menggunakan alat blower. Khususnya untuk lahan pertanian yang sulit dijangkau.

Penyuluh pertanian Desa Jambean Kidul, Halim menambahkan jumlah persis lahan pertanian yang ada di Desa Jambean Kidul mencapai 421 hektare. Dengan luasan tersebut, merupakan wilayah pertanian yang sangat luas, khususnya di tingkat kecamatan.

“Di sini ada tujuh kelompok tani. Dan panen raya dilaksanakan disini selain luas, karena disini merupakan wilayah Pati yang panen lebih awal ketimbang wilayah lainya, ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Sidak ke Pasar, Satgas Pangan Jepara Temukan Harga Beras Lebihi HET

MuriaNewsCom, Jepara – ‎Satuan tugas (Satgas) pangan Jepara kembali melakukan inspeksi mendadak (Sidak). Hasilnya, petugas menemukan pedagang yang menjual beras melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan yakni Rp 9.350, untuk jenis medium di Pasar Jepara Satu, Senin (8/1/2018).

Mendapati hal itu, pihak Reskrim Polres Jepara tak lantas memberikan tindakan tegas.‎ Untuk tahap awal, pedagang nakal hanya diberikan imbauan dan pengarahan.

“Kami baru sebatas memberikan peringatan dulu. Nanti kalau masyarakat tahu, juga lama kelamaan akan beralih pada beras yang dijual sesuai HET,” kata Kasareskrim Polres Jepara AKP Suharto.

Dirinya menerangkan, harga beras medium melebihi HET sebesar Rp 10 ribu, diketahui baru saja digiling. Sementara untuk beras medium yang sudah lama di pasaran, dijual lebih rendah daripada harga Rp 9.350.

Kepolisan menyarankan agar masyarakat membeli beras sesuai dengan harga yang telah ditentukan. Ia menyebut, sasaran pemantauan pasar kali ini untuk memantau ada atau tidaknya permainan harga dari pedagang nakal.

“Iya kami menemukan beras medium baru (digiling) dijual dengan harga Rp 10 ribu. Itu melebihi HET yang seharusnya Rp 9.350. Sementara untuk beras medium yang sudah lama menjadi stok di pasar, dijual dengan harga lebih rendah dari HET, sekitar Rp 9 ribu,” jelas Suharto.

Ahmad Muzajjad, Kepala Gudang Bulog Jepara menyatakan, persediaan beras di Bumi Kartini masih aman untuk tiga bulan ke depan. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi pedagang untuk menaikan harga.

“Saat ini stok kami ada 1.850 ton, itu masih cukup untuk tiga bulan ke depan. Kita tak kekurangan pasokan, sehingga tak ada alasan untuk menaikan harga beras,” urainya.

Editor: Supriyadi

Pembuat Beras Analog Asal Grobogan Ini Bangga Produknya Dibeli Presiden Jokowi, Begini Ceritanya

Ambarwati (tengah) pembuat Rasteja dari Desa Klampok, Kecamatan Godong saat dapat kesempatan bertemu Presiden Jokowi di Semarang, Sabtu (23/12/2017) (istimewa)

MuriaNewsCom, GroboganSebuah momen istimewa berhasil didapat Ambarwati, salah satu pelaku UMKM dari Desa Klampok, Kecamatan Godong, Sabtu (23/12/2017). Yakni, bisa bertatap muka langsung dan berfoto bersama dengan Presiden Joko Widodo.

Lebih bangga lagi, Jokowi juga berkenan membeli produk beras analog dari bahan ketela dan jagung (Rasteja) yang dibuatnya selama ini.  

”Waduh, senang sekali dan bangga bisa bertemu Bapak Presiden. Ini momen luar biasa sekali,” kata Ambarwati saat dihubungi lewat ponselnya.

Baca: Beraksi di ATM Pom Bensin, Sindikat Pembobol ATM asal Palembang Diringkus Polres Jepara

Pertemuan Ambarwati dengan Jokowi itu berlangsung dalam acara penyerahan sertifikat untuk rakyat secara serentak di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang siang tadi. Dalam acara itu juga diadakan pameran produk unggulan UMKM dari kabupaten/kota di Jawa Tengah.

“Jadi saya diminta pihak BPN Grobogan untuk ikut mengisi stan pameran UMKM. Selain saya, ada dua UMKM lain dari Grobogan yang ikut. Yakni, pembuat sale pisang dan telur asin,” jelas Ambar.

Menurutnya, selain Rasteja, ada beberapa produk lagi yang dibawa. Antara lain, nasi jagung instan, emping jagung dan singkong goreng crispi. Selama acara, Jokowi tidak ada agenda mengunjungi stand pameran UMKM.

Pasca acara penyerahan sertifikat Ambarwati berupaya untuk bisa bertemu dengan Jokowi sekedar buat mengenalkan Rasteja. Upaya untuk mendekati presiden butuh perjuangan karena pengamanan yang cukup ketat dan banyaknya orang yang hadir.

Baca: Dosen Pembimbing Skripsi Jokowi Ternyata Asli Grobogan, Rumahnya Sangat Sederhana

”Singkatnya, saya akhirnya dapat kesempatan untuk bisa menghadap Pak Presiden. Saya cerita soal Rasteja dan beliau (Presiden) sangat terkesan dan akhirnya membeli satu produk kemasan 1 kg yang saya bawa tadi. Senang sekali rasanya dapat kesempatan itu,” jelasnya dengan nada penuh semangat.

Amba mengatakan, dalam pembuatan rasteja dan aneka makanan ringan yang dilakukan selama ini, didapat dari bimbingan dan pengarahan dari Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Grobogan dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sementara itu, Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan DKP Grobogan Heru Prajadi mengaku bangga karena produk rasteja mendapat apresiasi dari Presiden Jokowi. Menurutnya, Ambarwati selama ini merupakan pengelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Maju Jaya Desa Klampok yang menjadi binaan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Grobogan. KUB ini bidang usahanya berkaitan dengan pangan dengan jenus produk yang dibuat berupa makanan siap saji dari bahan jagung dan ketela.

Baca: Ini Sosok Agus Maarif, Ustaz Ganteng Asli Pati yang Baca Alquran di Pernikahan Anak Jokowi

Menurutnya, selama ini pihaknya sudah melakukan pembinaan dan pengembangan pada pelaku UMKM yang mengarah pada hasil pertanian muapun peternakan. Dalam pengembangan, Pemerintah Grobogan telah menjalin kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Wujudnya melalui pembuatan techno park  (TP).

Adanya TP di Grobogan dirasa sangat diperlukan. Dengan program ini membawa dampak positif. Sebab, pihak BPPT itu membantu penyediaan peralatan khususnya pasca produksi hingga pemasaran.

”Program ini sangat bagus sekali dan memang sangat kita butuhkan. Melalui program ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya petani dan pelaku UMKM,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Jepara Siapkan 30 Ton Beras untuk Nelayan Saat Musim Baratan

Salah seorang pekerja  menata stok beras . Jepara menyiapkan 30 ton beras untuk bantu nelayan selama musim baratan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara menggelontorkan 30 ton beras kepada nelayan. Jatah tersebut diberikan kepada nelayan agar selama musim baratan nelayan dapat mencukupi kebutuhan makanan pokok.

“Jumlah bantuan beras itu, nantinya akan diberikan kepada nelayan melalui Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara, yang kemudian disetorkan kepada desa lalu penerima,” ujar Sujimo, Kabid Ketahanan Pangan DKPP Jepara, Kamis (21/12/2017).

Menurutnya, pemberian jatah sebesar itu diberikan sesuai dengan stok yang dipunyai oleh DKPP. Sujimo mengatakan, cadangan beras pemerintah sekitar 34 ton lebih, dibagi-bagi antara jatah untuk nelayan dan warga Karimunjawa.

Dikatakannya, untuk warga Karimunjawa telah diberi bantuan beras sebanyak 8 ton. Menurutnya hal itu sesuai dengan permintaan dari pemerintah kecamatan setempat. 

Disinggung mengenai kecukupan jatah bagi nelayan, Sujimo mengatakan pihaknya telah memberikan seluruh stok yang ada di Gudang DKPP.

“Terkait kecukupan, seandainya nanti memang diperlukan tambahan bisa dimintakan lagi lewat bupati,” ujarnya. 

Ditanya mengenai kemungkinan ‎Pemkab Jepara meminta tambahan dari Bulog, Sujimo mengatakan hal itu harus berdasarkan situasi khusus.

“Permintaan cadangan beras bisa dari provinsi. Sedangkan kalau meminta dari Bulog, sepengetahuan saya harus ada situasi tertentu. Contohnya darurat kebencanaan,” tuturnya. 

Editor : Ali Muntoha

Musim Baratan, Beras Cadangan di Karimunjawa Mulai Dibagikan

Petugas memeriksa ketersediaan beras, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Musim baratan (angin kencang dan gelombang tinggi) mulai berembus di perairan Jepara. Hal itu memengaruhi sediaan logistik di Pulau Karimunjawa. Kini stok beras cadangan sudah mulai didistribusikan. 

Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Kecamatan Karimunjawa Nor Sholeh. Menurutnya, pihaknya memiliki pasokan sebanyak delapan ton beras. 

“Sudah mulai didistribusikan ke desa-desa yang ada diwilayah Karimunjawa. Kemarin untuk Desa Parang dan Kemujan sudah diambil,” ujarnya, Senin (18/12/2017).

Dirinya merinci, sediaan sebanyak 8 ton beras itu masing-masing untuk Desa Karimun sebanyak 3 ton, Desa Kemujan 2,5 ton, Desa Parang 1,5 ton dan Desa Nyamuk 1 ton. Selain untuk pulau-pulau tersebut, sebagian jatah untuk Karimunjawa juga didistribusikan untuk warga yang ada di Pulau Genting. 

Sholeh mengatakan, musim baratan biasanya berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Dimulai pada akhir Desember sampai akhir Februari atau awal Maret. Namun demikian, pada tahun 2017 baratan  datang lebih awal, pada awal Desember. 

“Kami khawatir durasi baratan akan berlangsung lebih lama dari tahun sebelumnya. Tinggi gelombang bisa mencapai empat meter di bulan-bulan Januari,” tuturnya. 

Editor: Supriyadi

Merangkak Naik, Harga Beras di Kudus Tembus Rp 11.500 per Kilogram

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti (tenga) bersama Kasatreskrim AKP Kurniawan Daili (kanan) saat mengecek harga beras di Pasar Bitingan Jumat (15/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus beserta Polres Kudus melakukan pengecekan harga komoditas di Pasar Bitingan, Jumat (15/12/2017). Dalam pengecekan tersebut, harga beras terus naik hingga tembus Rp 11.500.

Zahroh (50) pedagang Beras di Pasar Bitingan mengungkap, naiknya harga beras dimulai dua pekan lalu. Untuk jenis Beras Wanviy,  harga awal Rp 10.300 naik menjadi Rp 10.800. Sedang harga Beras SSA, dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.500.

“Semenjak harga naik pembelinya berkurang. Misalnya saja dari pengecer yang tiap hari membeli 100 kilogram, kini menjadi dua hari sekali belinya,” katanya kepada petugas saat memantau harga.

Dia mengatakan, beras yang diambilnya itu, didapat dari penggilingan padi di wilayah Kudus dan Demak. Dia memperkirakan harga akan terus naik, mengingat panen masih lama.

“Harganya akan turun saat panen, namun ini masih pemupukan kedua. Jadi masih cukup lama,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Sudiharti mengatakan, kenaikan beras masih dianggap wajar. Namun, pihaknya mendorong agar kenaikannya tidak terlampau tinggi, sehingga masyarakat tidak resah.

“Pedagang mengambil keuntungan sekitar Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram. Nomonal tersebut merupakan nominal minimal yang diambil untuk mendapatkan untung,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Kabag Perekonomian: Dapat Raskin Kualitas Buruk, Kembalikan ke Balaidesa

Seorang warga tengah mengecek beras berkutu yang didistribusikan untuk masyarakat melalui program raskin, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kualitas Raskin yang dibagikan kepada masyarakat Kudus, tak melulu memiliki kualitas yang baik. Untuk itu, Pemkab Kudus meminta kepada masyarakat saat mendapati kualitas buruk tak usah menerimanya.

Kabag Perekonomian Pemkab Kudus Dwi Agung Hartono menyebutkan, pihaknya sudah memberikan peringatan kepada masyarakat mengenai hal itu. Peringatan diberikan agar masyarakat dapat meneliti terlebih dahulu Raskin yang diterimanya.

Baca: Lemari Pendingin Mayat RSUD Soewondo Pati Meledak

“Saat kualitas buruk, maka dapat langsung menukarkan ke balai desa setempat. Nantinya, pihak pemdes yang akan menukarkan dengan beras yang kualitasnya baik,” katanya.

Menurut dia, pihak pemdes juga tak usah khawatir saat warga menukarkan beras tersebut. karena pemdes juga dapat ganti beras yang kualitasnya buruk itu dari Bulog. Nantinya, Bulog lah yang akan menggantikan beras kualitas buruk tersebut.

Baca: Ini Penyebab Lemari Pendingin Jenazah RSUD Soewondo Meledak

Dia menjelaskan, pengalaman tersebut pernah terjadi di beberapa desa di Kudus. Seperti di Kecamatan Jati, yang sejumlah desa pernah mendapatkan kualitas beras yang buruk oleh sejumlah masyarakat. Beras tersebut, ditukarkan ke desa, untuk digantikan dengan yang baru.

“Dari satu desa hanya beberapa saja yang tak baik, karena saat tiba dan di cek,  berasnya sudah baik. Namun pengecekan hanya dilakukan dengan cara sampling saja,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Para Jenderal TNI dan Polri Datangi Produsen Beras di Pati, Ada Apa?

Kunjungan Mayjend TNI Bambang Suharyanto dan Irjen Pol Eko Hardi di UD Wahyu Abadi, Sembaturagung, Jakenan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dua jenderal dari Mabes TNI dan Mabes Polri mendatangi Kabupaten Pati. Lokasi yang dituju para jenderal itu yakni produsen beras, yang selama ini menjadi mitra Bulog.

Kedua jenderal itu yakni Staf Kasad dari Tim Khusus Pangan Mayjend TNI Bambang Suharyanto dan Irjen Pol Eko Hadi Sutejo dari Analisis Kebijakan Utama Bidang Jianstra Slog Polri. Kedatangan mereka ternyata terkait dengan program untuk ketahanan pangan nasional.

Kunjungan dipusatkan di salah satu mitra Bulog, UD Wahyu Abadi di Sembaturagung, Jakenan, Pati. Staf khusus Kementerian Pertanian Sam Harodian turut hadir dalam kesempatan tersebut.

“Kunjungan dilakukan untuk memastikan stok beras yang tersimpan di gudang UD Wahyu Abadi sebagai salah satu mitra Bulog. Pati diharapkan bisa ikut menyukseskan program swasembada pangan nasional,” ujar Dandim Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Rabu (20/9/2017).

Sementara Mayjend TNI Bambang ingin memastikan jika serapan gabah yang masuk ke Bulog sudah memenuhi target atau belum. Dia juga ingin memastikan apakah upaya pemerintah dalam mendampingi petani sudah tepat sasaran atau tidak.

“Kami ingin tahu kendala dan solusi yang dihadapi antara petani dan rekanan Bulog,” jelas Mayjend Bambang.

Dia menegaskan, petani mesti ikut memberikan kontribusi dalam menyukseskan program swasembada pangan. Selain itu, mitra Bulog harus berkelanjutan dalam bekerja sama dengan Bulog.

Pasalnya, dalam beberapa kasus, banyak mitra Bulog yang enggan menjual beras ke Bulog lantaran harganya murah. Sementara saat harga naik, mereka beramai-ramai menjadi mitra Bulog.

Editor : Ali Muntoha

Hendak Ambil Beras, Warga Desa Mangunrejo Grobogan ini Kaget Lihat Suaminya Gantung Diri

Polisi memeriksa korban gantung diri yang dilakukan warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi lagi di Grobogan, Jumat (25/8/2017). Seorang warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Suwardi, seorang kakek berusia 70 tahun.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, korban masih sempat ngobrol dengan istrinya Saliyem (65) di dalam rumah. Kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, Saliyem pamit mau ngarit atau mencari rumput ke sawah.

Sekitar dua jam kemudian, Suliyem pulang karena sudah dapat sekeranjang rumput buat pakan ternaknya. Setelah menaruh rumput dan cuci tangan, ia bermaksud mengambil beras di dalam kamar lantaran mau memasak nasi buat makan siang.

Saat masuk kamar penyimpanan beras, Suliyem sontak kaget. Sebab, di dalam kamar itu, ia mendapati tubuh Suwardi sudah tergantung di bawah belandar dengan leher terjerat tali.

Melihat kenyataan itu, Saliyem selanjutnya lari keluar rumah sambil berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Pulokulon AKP Juhari menyatakan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Pulokulon dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Meski Produksi Beras Capai 96 Persen, Pemkab Jepara Tetap Harus Waspada

Meski Produksi Beras Capai 96 Persen, Pemkab Jepara Tetap Harus Waspada

Meski Produksi Beras Capai 96 Persen, Pemkab Jepara Tetap Harus Waspada

 

JEPARA – Target produksi pangan jenis beras tahun 2015 di Kabupaten Jepara sebesar 270.706 ton. Sampai di penghujung bulan Oktober lalu telah mencapai 261.380 ton atau 96 persen dari total target. Meski begitu, Pemkab Jepara harus tetap waspada agar target terpenuhi dan bahkan bisa surplus seperti tahun lalu yaitu sekitar 3.381 ton.

Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, jika melihat adanya panen raya di beberapa hari ke depan, maka target tersebut diperkirakan dapat terpenuhi bahkan akan surplus kembali. Namun semua pihak terutama Dinas/Instansi terkait diharapkan tetap waspada, mengingat hasil pertanian ini sangat tergantung alam dan iklim.

”Meskipun sudah 96 persen target dicapai, tapi harus tetap waspada, karena sekarang sudah memasuki musim hujan. Resiko gagal panen bisa saja terjadi,” kata Subroto yang juga menjabat sebagai ketua dewan ketahanan pangan Jepara.

Menurutnya, disisi lain perlu dan mendesak adanya berbagai upaya diversifikasi pangan untuk mengantispasi penyusutan lahan yang berimbas pada turunnya produksi bahan pangan, utamanya PAJALE (padi, jagung dan kedelai). Meski saat ini target ketiga komoditas pangan PAJALE, khususnya padi dan jagung meningkat. Namun produksi kedelai tahun 2015 terjadi penurunan. Tercatat produksi jagung pada tahun 2014 hanya 46.057 ton meningkat pada tahun 2015 menjadi 52.163 ton.

Sementara produksi kedelai mengalami penurunan dan harus terus ditingkatkan, yaitu dari 54 ton tahun 2014 menurun menjadi 12 ton pada tahun 2015. Khusus mendukung dalam program diversifikasi pangan, Pemkab Jepara juga mengeluarkan Istruksi Bupati No 2 Tahun 2009 tentang penggunaan makanan lokal dalam pertemuan-pertemuan, pemanfaatan dan pemberdayaan pekarangan rumah dengan Konsep Rumah Pangan Lestari serta program restocking sungai-sungai.

”Harapannya melalui berbagai kegiatan ini dapat mempertahankan ketersediaan pangan lokal dan kelestarian alam untuk kehidupan anak cucu mendatang,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jurus Ampuh Supaya Tak Boros Beras

Ilustrasi Beras

Ilustrasi Beras

 

GROBOGAN – Mahalnya harga beras seperti yang terjadi beberapa waktu lalu sebaiknya tidak perlu membuat risau masyarakat. Sebab, pada kenyataannya masih banyak sumber pangan lainnya yang bisa dijadikan alternatif.

“Mulai sekarang, ketergantungan terhadap beras ini harus bisa kurangi. Caranya, dengan sering mengonsumsi bahan pangan nonberas,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Grobogan Muhammad Hidayat.

Menurut Hidayat, di luar beras masih banyak bahan pangan yang bisa diolah menjadi makanan bergizi dan lezat. Misalnya, dari singkong, jagung, ubi, buah-buahan dan sayuran. Namun sejauh ini, bahan pangan yang mudah sekali ditemukan itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Dalam beberapa tahun ini, kami sudah beberapa kali menggelar lomba cipta menu masakan dari bahan nonberas. Dengan diolah dan dikemas sedemikian rupa, hasilnya ternyata cukup mengagumkan,” kata mantan Kabag Perekonomian itu.

Terkait dengan kondisi itu, Hidayat menyatakan, perlu dilakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat luas. Utamanya masyarakat pedesaan. Mereka harus kembali diajarkan untuk memanfaatkan bahan pangan yang tersedia melimpah di daerahnya.

”Kalau masyarakat sudah bisa mengolah bahan pangan ini dengan baik maka setidaknya bisa mengurangi ketergantungan akan beras,” imbuhnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)