Belasan Tim Ahli BPSMP Sangiran Lakukan Penelitian di Desa Banjarejo

MuriaNewsCom, GroboganTim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran kembali datang ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kamis (8/3/2018). Kedatangan tim sebanyak belasan orang ini bertujuan untuk melangsungkan penelitian lanjutan.

”Menjelang magrib tadi, sebagian tim dari BPSMP sudah tiba di Banjarejo. Tim lainnya rencananya akan datang Jumat besok,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, begitu sampai di Banjarejo, rombongan dari Sangiran itu langsung menuju ke rumahnya. Soalnya, semua koleksi benda purbakala yang ditemukan selama beberapa tahun terakhir kebetulan disimpan di rumahnya.

Penelitian yang dilakukan tim ahli BPSPM kali ini merupakan lanjutan kegiatan serupa pada tahun 2016 dan 2017 lalu. Rencananya, kegiatan penelitian akan dilangsungkan selama dua pekan, hingga 19 Maret mendatang.

Taufik mengaku sangat lega sekaligus gembira dengan datangnya para pakar purbakala dari BPSMP Sangiran yang akan melangsungkan penelitian lanjutan. Dengan kegiatan itu, setidaknya akan bisa mengungkap lebih banyak lagi misteri yang ada didesanya.

”Masyarakat Banjarejo sudah menantikan kedatangan ahli purbakala yang akan melangsungkan penelitian di sini. Mudah-mudahan, pelaksanaan penelitian nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir yang ada di bumi Banjarejo ini,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Fosil Kepala Banteng Purba Ditemukan di Lokasi Museum Lapangan Banjarejo Grobogan

Benda purbakala berwujud kepala banteng purba ditemukan di lokasi pembangunan museum lapangan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil purbakala kembali ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja. Yakni, saat para pekerja melakukan penggalian tanah untuk fondasi museum lapangan di Dusun Kuwojo.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, fosil yang ditemukan berupa kepala banteng purba dengan kondisi cukup bagus. Artinya, sebagian besar bagian tubuhnya masih ada.

Fosil tersebut ditemukan pekerja saat akan menggali tanah untuk fondasi cakar ayam di sisi timur laut. Saat menggali pada kedalaman sekitar 1 meter, cangkul yang dipakai salah satu pekerja mengenai benda keras.

”Pekerja itu kemudian melaporkan pada anggota komunitas peduli fosil yang ikut memonitor pembangunan museum lapangan. Setelah dicek, benda keras itu ternyata potongan fosil hewan purba,” katanya, Sabtu (4/11/2017).

Setelah ada potongan fosil yang muncul, aktivitas penggalian dilanjutkan secara manual dengan tangan. Akhirnya, beberapa potongan fosil lain berhasil didapat dilokasi tersebut.

Setelah ditata, bentuk fosil merupakan potongan tubuh banteng bagian kepala. Potongan fosil juga terdapat bagian tanduknya. Ukuran fosil antar ujung tanduk panjangnya sekitar 1 meter. Kemudian tinggi bagian mulut hingga kepala sekitar 45 cm.

”Tahun lalu, sudah pernah ditemukan fosil kepala banteng yang bentuknya seperti ini. Namun, penemuan terbaru ini ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan yang dulu. Penemuan fosil baru ini sudah kita koordinasikan dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Pembangunan Museum Lapangan di Banjarejo Grobogan Dimulai

Proses pembangunan museum lapangan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mulai dilakukan. (MUriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah selesai dibuat penelitian ilmiah, tahapan pendirian museum lapangan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akhirnya mulai dikerjakan. Musem lapangan ini ditempatkan di penemuan fosil beberapa spesies hewan purba di areal sawah Dusun Kuwojo.

“Pembangunan museum sudah dilakukan sejak beberapa hari lalu. Rencana, selesai dalam satu bulan kedepan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Senin (30/10/2017).

Pembangunan museum lapangan konstruksinya masih sederhana. Hanya berupa fondasi, tiang penyangga dan atap. Ukuran museum lapangan 18 x 14 meter.

Pembangunan museum lapangan alokasi dananya Rp 200 juta yang bersumber dari APBD Grobogan. Selain itu, Pemkab Grobogan juga sudah mengalokasikan anggaran untuk ganti rugi lahan yang digunakan untuk museum lapangan.

“Jadi, diatas lokasi penggalian akan dibuatkan semacam rumah-rumahan. Bahannya dari baja ringan dengan atap dari seng. Tinggi bangunan sekitar 4 meter,” jelasnya.

Sebelum dibangun, di lokasi penemuan itu sebelumnya sudah dilakukan proses penelitian, dokumentasi hingga pengangkatan fosil dilakukan tim ahli purbakala dari beberapa instansi.

Setelah itu, pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran juga sudah membuatkan replika fosil. Replika fosil nanti akan ditempatkan persis sesuai kondisi awal.

Editor: Supriyadi

Biar Benda Purbakala Tak Terbengkalai, Komisi B DPRD Kudus Minta Pemkab Susun Rippda

Sejumlah fosil binatang purba dipajang di Museum Patiayam, Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak pihak mengeluhkan kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian benda purbakala di Kabupaten Kudus. Hal ini dikarenakan, Kudus belum mempunyai sumberdaya manusia (SDM) profesional di bidang arkeologi, serta tak adanya anggaran untuk membeli benda cagar budaya yang dikuasai pribadi.

Salah satu andalan purbakala di wilayah Kudus adalah situs Patiayam. Namun karena tak adanya tenaga tenaga arkeolog, sehingga proses penelitian maupun konservasi harus bergantung dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.

Ketua Komisi B DPRD Kudus, Muhtamat menyebut, berbagai permasalahan tentang pengembangan pariwisata dan benda purbakala, bisa diminimalisasi jika pemerintah setempat mempunyai Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripda). Di dalam rippda itu seharusnya juga mencakup tentang penganggaran dan upayta pengembangan situs Patiayam.

Muhtamat mengaku sudah sangat sering mengingatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten untuk segera menyusun rippda tersebut. ”Kami terus mendorong Pemkab Kudus agar segera memiliki Rippda, agar dukungan penganggaran juga bisa lebih terarah,’’ katanya Jumat (14/4/2017).

Muhtamat mendorong upaya pelestarian benda bersejarah ataupun purbakala terus dioptimalkan. Masalah tenaga arkeolog bisa diatasi dengan merekrut tenaga dengan keahlian khusus tersebut.

Selain itu dengan adanya rippda juga bisa dipetakan benda cagar budaya mana saja yang perlu diselamatkan, dengan menyiapkan penganggaran.

Sementara itu, Kasi Sejarah dan Peninggalan Purbakala Disbudpar Kudus, Sutiyono mengakui banyak kendala yang ditemui dalam upaya pelestarian benda-benda purbakala. Salah satunya masalah tenaga arkeolog, yang harus bergantung dengan BPSMP Sangiran.

”Karena belum memiliki arkeolog, kami bergantung pada tenaga arkeolog BPSMP Sangiran. Saat ini pun ada 12 orang dari BPSMP Sangiran yang melakukan penelitian di situs Patiayam,” ujarnya.

Di areal situs Patiayam seluas 2.000 hektare lebih, banyak fosil yang sering ditemukan masyarakat di situs Patiayam. Hanya saja untuk tahap konservasi, harus menunggu tim arkeolog dari Sangiran.

”Pemkab Kudus sudah menata Museum Patiayam yang kini sudah jadi dua lantai. Lantai atas akan dijadikan bengkel untuk penelitian, identifikasi, hingga konservasi fosil temuan’’ terangnya.

Masalah lain yang cukup membuat pihaknya pusing adalah, menyusutnya jumlah bangunan cagar budaya, berupa rumah adat ataupun rumah bersejarah. Pasalnya, bangunan itu tercatat sebagai aset pribadi warga. Risiko penjualan atas aset tersebut sangat memungkinkan.

Pihaknya pernah mengusulkan anggaran untuk pembelian bangunan bersejarah, namun sejauh ini belum ada dukungan dari pengambil kebijakan penganggaran.

”Di Kudus tercatat ada 98 bangunan cagar budaya yang telah terdaftar di BPCB Jawa Tengah. Hanya kami belum menginventarisasi kembali karena keterbatasan tenaga dan dukungan anggaran,’’ pungkasnya. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Mulai 3 Mei, Koleksi Fosil Banjarejo Akan Dipajang di Benteng Vastenburg Solo

Aneka koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan disertakan dalam pameran di Benteng Vastenburg Solo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Aneka koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan disertakan dalam pameran di Benteng Vastenburg Solo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Mulai besok, Selasa (3/5/2016) ratusan koleksi benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan ditaruh di Benteng Vastenbur Solo.

Namun, jangan salah koleksi benda bersejarah ini tidak akan ditaruh di benteng peninggalan Belanda untuk selamanya. Tetapi hanya sepekan saja, mulai 3-9 Mei nanti.

”Ceritanya, selama sepekan nanti ada kegiatan pameran arsip dan perpustakaan se Jawa Tengah di Benteng Vastenburg. Kita diminta ikut berpartisipasi disitu sebagai wakil dari Kabupaten Grobogan. Tema pamerannya Jawa Tengah Membaca,” terang Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, ada banyak koleksi fosil yang akan dibawa dalam pameran nanti. Hal itu dilakukan supaya masyarakat luas bisa tahu dan mengenal besarnya potensi benda purbakala yang ada di Banjarejo.

”Fosil dari sekitar 12 spesies hewan purba yang ditemukan akan kita bawa dalam pameran. Seperti, fosil gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, menjangan, hiu dan hewan laut lainya,” jelasnya.

Terkait dengan pemeran tersebut, Taufik mengaku sudah menggalang dukungan dan koordinasi dengan beberapa pihak. Seperti dengan anggota komunitas pecinta fosil, dan Bupati Grobogan Sri Sumarni yang juga memberikan dukungan penuh dibawanya koleksi fosil Banjarejo dalam pameran tersebut.

”Selain itu, kami juga koordinasi dengan BPSMP Sangiran terkait keikutsertaan dalam pameran dan arsip se Jawa Tengah ini. Pihak BPSMP juga ikut memberikan suport pada kami dalam pameran ini. Mohon doanya agar pameran nanti berjalan lancar,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Ratusan Koleksi Benda Purbakala di Desa Banjarejo ’Diobrak-abrik’ Orang

Tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran mulai melakukan proses penelitian fosil di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran mulai melakukan proses penelitian fosil di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang disimpan di rumah Kades Ahmad Taufik, Rabu (16/3/2016) diobrak-abrik orang. Dimana, koleksi benda purbakala berupa potongan fosil hewan purba yang sebelumnya ditata rapi di dalam rumah, jadi berpindah tempat. Yakni, disebar berserakan di teras rumah.

Jangan salah. Ditempatkannya ratusan fosil di teras itu bukan untuk dirusak. Tetapi, memang sengaja dilakukan oleh para petugas Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang memang tengah melangsungkan penelitian di situ.

”Sejak pagi tadi, sebagian fosil yang ada di dalam kita pindahkan ke teras rumah. Sengaja kita taruh di situ untuk memudahkan proses penelitian karena tempatnya lebih lapang,” kata Taufik.

Menurutnya, selain mengambil gambar, beberapa petugas juga melakukan proses konservasi fosil hewan purba berusia ribuan tahun yang ditemukan di wilayah Banjarejo dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa potongan fosil juga dipilah-pilah berdasarkan bagian tubuh maupun jenis hewannya.

”Koleksi fosil ini jumlahnya sekitar 400 termasuk potongan kecil. Fosil paling besar adalah tulang kepala kerbau raksasa. Adapun jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan jumlahya sekitar 11 binatang. Untuk lebih lengkapnya, nanti setelah proses penelitian selesai akan jelas semuanya,” sambung Taufik.

Seperti diberitakan, sebanyak 20 orang ahli purbakala dari BPSMP Sangiran mulai tiba di Desa Banjarejo Selasa (15/3/2016). Ahli purbakala itu dibagi menjadi tiga tim kecil yang melakukan tugas berbeda.

”Jadi, personel yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada, ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Mereka melangsungkan penelitian selama dua pekan,” jelas Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini yang Ingin Dibuktikan Terkait Pengumpulan Benda Purbakala yang Ditemukan di Banjarejo

Benda-benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Benda-benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain koleksi berupa cincin, Taufik juga punya koleksi beberapa foto beragam perhiasan emas yang sempat ditemukan warga di areal sawah. Namun, sangat disayangkan barang berharga itu sudah lenyap karena dijual pada pihak luar.

“Kalau melihat gambarnya, perhiasan yang ditemukan bentuknya cukup indah. Ini membuktikan kalau peradaban zaman dulu yang ada disini sudah cukup maju dan masyarakatnya hidup berkecukupan,” imbuhnya.

Selain itu, beberapa benda penemuan lainnya sekarang ini sudah berhasil diamankan. Seperti, puluhan koin dari tembaga yang ada tulisan huruf Cina. Diduga, koin yang ada lubang ditengahnya ini adalah mata uang yang digunakan pada zaman itu.

Kemudian, ada juga sejumlah peralatan dari batu yang berhasil ditemukan. Disamping itu, beberapa fosil yang diduga potongan tubuh binatang purba juga berhasil diamankan.

Ia menambahkan, tujuannya mengumpulkan benda-benda itu, ada beberapa hal. Yakni, untuk membuktikan bahwa di desanya memang banyak tersimpan benda-benda kuno dan bersejarah.

Selain itu, dengan adanya benda itu akan memudahkan pihak lain yang nantinya mungkin akan melakukan penelitian lebih lanjut di desanya. Yang paling penting lagi adalah untuk membuktikan kebenaran sejarah mengenai adanya Kerajaan Medang Kamulan di Desa Banjarejo.

Editor : Kholistiono

Baca Juga : Meski Hanya Gambar, Benda Purbakala yang Ditemukan di Banjarejo Grobogan Terus Dikumpulkan

 

Meski Hanya Gambar, Benda Purbakala yang Ditemukan di Banjarejo Grobogan Terus Dikumpulkan

Cincin yang ditemukan warga di Desa Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Cincin yang ditemukan warga di Desa Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain membuat laporan pada instansi terkait, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik juga sudah membuat upaya untuk menguatkan adanya bekas Kerajaan Medang Kamulan di desanya. Caranya, dengan mengumpulkan benda-benda kuno yang sempat ditemukan warganya.

“Selama 10 tahun terakhir, ada banyak benda kuno yang berhasil ditemukan warga sini. Sayangnya, sebagian besar benda bersejarah itu sudah dijual. Untuk itu, agar tidak hilang semua, benda kuno yang masih disimpan warga saya kumpulkan sebisanya. Bahkan, sekadar foto bendanya juga tidak masalah, karena ini juga bermanfaat untuk referensi penelitian,” kata Taufik.

Ia menjelaskan, sejauh ini, upaya yang dilakukan sudah membuahkan hasil. Sejumlah warga dengan sukarela bersedia menyerahkan benda kuno yang masih disimpan.

Termasuk dua buah cincin yang ditemukan warganya akhir Januari lalu. Belum diketahui kandungan logam yang ada di cincin tersebut. Apakah ada kadar emasnya atau terbuat dari bahan lain. Soalnya, Taufik belum sempat menguji kadar logam dua cincin yang ditemukan di areal sawah di Dusun Medang tersebut.

Editor : Kholistiono

Temuan Benda Purbakala di Banjarejo Grobogan Butuh Tempat Penyimpanan

f-benda purbakala (e)

Puluhan koleksi benda purbakala untuk sementara ditempatkan di meja besar (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kebutuhan akan tempat penyimpanan benda kuno dan bersejarah yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus tampaknya sudah mendesak dilakukan.

Hal ini seiring makin banyaknya benda yang ditemukan warga dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.Baik benda purbakala berupa fosil hewan purba maupun benda cagar budaya peninggalan masa lampau pada zaman kerajaan. Saat ini, benda-benda tersebut disimpan di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

“Jumlah benda penemuan sampai saat ini belum saya hitung, mas. Kemungkinan, ada sekitar 300 an, termasuk dengan potongan benda yang ukurannya kecil-kecil. Saat ini, koleksi paling banyak adalah benda purbakala,” cetus Ahmad Taufik.

Menurutnya, seiring makin banyaknya barang yang ditemukan, pihaknya sebenarnya sudah mulai merapikan hasil temuan yang didapat selama ini. Caranya, dengan menyediakan etalase kaca untuk menyimpan dan memajang benda bersejarah tersebut di rumahnya.

Namun, etalase yang ada ternyata tidak bisa menampung semua koleksi tersebut. Akibatnya, meja besar yang ada di ruang tamu terpaksa dijadikan buat menaruh koleksi untuk sementara waktu.

“Ada dua etalase yang saya beli untuk menampung koleksi. Etalase ini, sifatnya sementara, karena rencanananya akan dapat bantuan tata ruang pamer dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Langkah ini kita lakukan sebagai tindaklanjut dari sosialisasi yang dilakukan BPSMP disini beberapa minggu lalu,” jelas Taufik.

Dua etalase yang ada tersebut diisi barang berbeda. Satu etalase untuk menyimpan benda purbakala, seperti fosil tulang hewan purba. Satu tempat lagi untuk menyimpan benda cagar budaya, seperti arca, uang logam kuno, peralatan dari batu zaman dulu.

Dengan ditaruh pada tempat khusus, hal tersebut akan memudahkan pengunjung kalau ingin melihat koleksi yang ada.

Selain itu, dengan ditempatkan disitu akan menjaga keamanan dan risiko kerusakan. Sebab, ketika ada di dalam etalase, maka benda itu tidak akan sering terpegang tangan orang banyak. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)