Angin Kencang Bercampur Hujan Tumbangkan Sejumlah Pohon Tua di Kudus

Pengendara melintas di kawasan Wergu, Kudus, yang terjebak pohon tumbang, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan bercampur angin kencang melanda Kudus, Kamis (30/11/2017) siang. Hal itu berakibat sejumlah pohon tua tumbang dan merusak fasilitas umum seperti tempat sampah. 

Seperti yang terjadi di kawasan Wergu Kulon, Kecamatan Kota. Pohon tumbang melintang di tengah jalan.

Arifin, salah seorang pengendara di lokasi, mengatakan pohon tumbang terjadi sekitar  pukul 11.30 WIB. Saat angin kencang terjadi.  Mulanya, dahan dan ranting berjatuhan. Menyusul kemudian, pohon pun tumbang.

“Saat kejadian tak ada warga yang di bawahnya. Saat itu kondisi jalan sedang sepi,” katanya.

Berdasarkan pantauan, pohon tumbang juga terjadi di wilayah jalan lingkar selatan dan jalan kawasan UMK. “Pohon tumbang sebelah kampus UMK, melintang di jalan sehingga antre saat lewat,” tulis salah seorang warga, Mukhkis.

Editor : Akrom Hazami

5 Warga Wonogiri Tewas Akibat Banjir dan Longsor 

Longsor yang terjadi di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Wonogiri. (Facebook)

MuriaNewsCom, Wonogiri – Bencana alam melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Seperti di Kabupaten Wonogiri. Bencana alam berupa tanah longsor dan banjir terjadi. Ada lima orang meninggal dunia akibat bencana yang terjadi.

“Data terakhir malam ini, kami berhasil mengevakuasi lima jenazah di tiga lokasi yang berbeda. Dua jenazah di Ngelo, Kecamatan Tirtomoyo, satu jenazah di Nglencung, Kecamatan Tirtomoyo, dan dua jenazah di Batu Sari, Kecamatan Manyaran,” ungkap Ketua Divisi Operasi Tim SAR Wonogiri, Ashari Mursito Wisnu, yang dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (29/11/2017) malam dikutip dari Kompas.com.

Menurut hasil identifikasi tim, kata Wisnu, dua korban tanah longsor di Ngelo bernama Suyanti (65) dan Sriwanti (45). Sementara korban tanah longsor di Nglencung bernama Wagiyah (95).

Untuk dua jenazah yang dievakuasi karena hanyut terseret arus banjir di Desa Batu Sari, Kecamatan Manyaran, bernama Painem (50) dan Aditya (18).

Saat ini kelima jenazah yang berhasil dievakuasi sudah diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.

Wisnu menambahkan, saat ini tim SAR Wonogiri berjaga di beberapa titik lantaran hujan masih terus mengguyur kota gaplek tersebut. “Saat ini kami standby di Tirtomoyo, Pracimantoro, Giriwoyo, Baturetno, dan posko induk,” jelas Wisnu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan, selain ada warga yang meninggal dunia, juga ribuan warga mengungsi sejak kemarin. Posko pengungsian berada di masing-masing desa terdampak, kantor kecamatan dan kantor BPBD.

“Pengungsi mulai berkurang, karena banjir mulai surut. Tapi kalau yang rumahnya roboh masih harus mengungsi. Ada juga banjir luweng, masih ada yang mengungsi,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan logistik, telah didistribusikan. Termasuk juga di setiap posko juga telah didirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga.

Selain itu pula, salah satu rumah milik Lamto, warga Dusun Joho, Desa Sambiharjo, Kecamatan Paranggupito, juga amblas bagian bawahnya. Tepatnya di bagian bawah dapur selebar 3 meter.

Kejadian bermula saat banjir dengan ketinggian 2 meter menggenangi wilayah tersebut pada Selasa (28/11/2017). Akibat banjir, 5 keluarga langsung dievakuasi ke tempat yang lebih aman.Adapun rumah yang menjadi korban banjir adalah milik Pardi, Tarno, Soiman, Lamto, dan Tukino. Semuanya berada di Dusun Joho.

Editor : Akrom Hazami

 

Di Suwidak Banjarnegara, Tanah Bergerak Rusak Jalan dan Lahan Kebun

Pergerakan tanah di Desa Suwidak, Banjarnegara, masih saja terjadi. (TWITTER)

MuriaNewsCom, Banjarnegara – Pemerintah Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara mengeluhkan dampak yang timbul akibat dari tanah gerak di wilayah setempat.

Tercatat sampai sekarang, akibat tanah bergerak berakibat tertutupnya akses jalan di 4 dusun desa setempat. Selain juga, tanah bergerak berdampak pada rusaknya lahan kebun salak 7 hektare.

“Warga harus memutar jalan dengan jarak 2 kilometer (km). Terutama untuk warga yang hendak ke balai desa atau pergi sekolah,” kata Kepala Desa Suwidak, Rip Santosa.

Sebelum bencana tanah gerak terjadi, warga hanya menempuh jarak sekitar 600 meter saja.  Bencana terjadi sejak 10 hari ke belakang. Mulanya tanah gerak 51 sentimeter. Sekarang sudah 55 meter.

Menurutnya, tanah di desa itu memang labil. Maka tidak heran jika tiap hujan turun berakibat tanah menjadi gerak. Dia meminta warga untuk waspada.

Editor : Akrom Hazami

Angin Kencang Landa Banyumas, Belasan Rumah Rusak

Pohon tumbang timpa rumah hingga rusak setelah adanya angin kencang di Banyumas. (Facebook)

MuriaNewsCom, Banyumas – Bencana angin kencang melanda sejumlah titik di Banyumas, Kamis (12/10/2017) sore. Akibatnya ada sekitar 19 rumah rusak. Saat ini, penanganan terus dilakukan agar warga yang jadi korban bisa segera tinggal normal.

Data yang muncul dari beberapa sumber, rumah rusak berada di lima desa dari dua kecamatan. Di Kecamatan Cilongok terjadi di Desa Pageraji tercatat ada 8 rumah rusak berat, dan Desa Langgongsari dengan 4 rumah rusak berat. Lainnya di Desa Karangkemiri 4 rumah, Desa Babakan 1 rumah, Desa Singasari 2 rumah.

Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan peristiwa angin kencang di Kabupaten Banyumas termasuk angin puting beliung. Mengingat sifatnya yang lokal.

Adapun angin puting beliung terjadi dalam radius beberapa kilometer saja sehingga bersifat lokal, sedangkan angin kencang bisa lebih luas lagi.

“Selama ini, potensi angin puting beliung terjadi pada siang menjelang sore hari namun kadang terjadi pada malam hari seperti di Banyumas. Angin puting beliung berpotensi terjadi jika kondisi cuaca pada pagi hingga siang hari terlihat cerah dan terasa panas namun pada siang menjelang sore terlihat mendung karena adanya awan Cumulonimbus yang tinggi menjulang, berbentuk seperti bunga kol, dan berwarna hitam.

Salah satu warga yang rumahnya rusak di Pageraji, Fitria (31) mengatakan saat ini rumahnya rata dengan tanah akibat terhempas angin kencang. Rumahnya berbahan bambu itu, jadi mudah terhempasan angin kencang. “Saat kejadian itu, seperti ada gemuruh kencang. Rumah saya langsung roboh,” kata Fitria.

Editor : Akrom Hazami

Asyik Ngobrol, Rumah Ambrol Tertimpa Longsor di Japan Kudus

Warga gotong royong melakukan pembenahan di rumah yang kena longsor di Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian longsor kembali menerjang wilayah Kudus, Selasa (7/3/2017). Kali ini longsor terjadi di Desa Japan, Kecamatan Dawe. Longsor mengakibatkan dinding rumah jebol.

Kejadian longsor membuat kaget penghuni rumah, yang mana saat itu sedang asyik ngobrol. Tiba-tiba suara gemuruh datang, hingga berakibat dindingnya jebol.

Kapolsek Dawe AKP Sunar mengatakan, longsor terjadi sekitar pukul 20.30 WIB. Rumah warga yang terkena longsor, adalah Abdul Rokim (47) warga Desa Japan RT 2 RW 2, Dawe, Kudus. Longsoran membuat rumah bagian tengah milik Rokim.

“Jebolnya cukup parah. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter pada dinding ruang tengah rumahnya. Jebolnya tembok tertahan dengan adanya jendela di ruang tersebut,” kata Sunar di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Menurutnya, saat kejadian longsor, istri, Sri Sunarsih (40) bersama anaknya Abas Nor Aini (19) sedang asyik ngobrol di ruang tamu rumahnya. Saat itu cuaca sedang hujan deras  dan mereka dikagetkan dengan dinding jebol tersebut.

“Akhirnya mereka mendatangi sumber suara gemuruh. Dan mereka kaget melihat dindingnya jebol,” ujarnya.

Dikatakan, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Namun kerugian mencapai jutaan rupiah. “Kerugian akibat dinding yang jebol cukup banyak. Sekitar Rp 3 juta rupiah. Kalau korban jiwa nihil. Semuanya selamat,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Rp 200 Juta Disiapkan untuk Perbaikan Akibat Longsor Rahtawu Kudus

Warga melintas di pinggir jalan yang longsor di Desa Rahtawu, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintas di pinggir jalan yang longsor di Desa Rahtawu, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Dinas PUPR Kudus Sam’ani Intakoris, bakal menangani longsoran di kawasan Rahtawu secepatnya. Untuk mengerjakannya, sedikitnya Rp 200 juta dipastikan habis guna menangani akibat longsoran.

Hal itu dikatakan saat meninjau lokasi longsor di Rahtawu, Gebog, Rabu (8/2/2017). Dikatakan, setelah dikalkulasi panjang dan dalamnya longsoran, perbaikan membutuhkan biaya Rp 200 jutaan. “Kami akan membuat penanganan longsorannya. Pembangunan tanggul sepanjang 25 meteran dengan kedalaman mencapai enam hingga tujuh meter agar lebih kokoh,” katanya usai meninjau lokasi longsor.

Menurutnya, anggaran tersebut tak ada dalam APBD murni 2017. Namun melihat kondisi yang benar-benar membutuhkan, maka penanganan harus disegerakan. Untuk itu, pihaknya akan mengalokasikan anggaran dari pemeliharaan rutin.

Dalam memperbaiki nantinya, kata dia, tak semua menggunakan cor. Namun juga sebagian memanfaatkan potensi alam di sana dengan penguat dari batu alam. Hal itu diperbolehkan lantaran batu digunakan untuk kepentingan desa dan tak dibawa keluar.  “Dalam pemanfaatan kami juga membayar tenaganya untuk membawa batu dari sungai ke jalan. Jadi tidak gratis atau cuma-cuma. Dan ini boleh,” ujarnya.

Pihaknya menhimbau kepada pengguna jalan agar lebih hati-hati saat melintas. Melihat kondisi longsor yang memakan badan jalan hingga satu meter, membuat jalan tak lagi kokoh. Sehingga bagi kendaraan besar diupayakan tak melintas dulu, kecuali truk engkel dan sejenisnya. Dia memperkirakan longsor karena gempuran air hujan atau air dari kawasan atas. Air langsung masuk ke tanah.

Editor : Akrom Hazami

Rumah Warga Tertimpa Pohon Tumbang di Mijen Kudus

Petugas memotong pohon yang tumbang di Mijen, Kaliwungu, Kudus, Selasa. (ISTIMEWA)

Petugas memotong pohon yang tumbang di Mijen, Kaliwungu, Kudus, Selasa. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pohon tumbang terjadi di Kudus, Selasa (7/2/2017) . Pohon yang tumbang terjadi di sejumlah titik saat hujan lebat. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun kerugian yang didera mencapai jutaan rupiah.

Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan mengatakan, sejumlah pohon yang tumbang seperti terjadi di Desa Mijen, Kaliwungu. Pohon yang tumbang jenis pohon randu, yang menimpa rumah warga. “Informasi demikian, pohon menimpa atap rumah warga. Akibatnya mengalami kerusakan cukup parah karena atapnya roboh,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Pihaknya tak tahu persis kerugian yang dialami. Namun ditaksir kerugian mencapai jutaan rupiah. Hal itu melihat atap beserta genting yang ambruk akibat tertimpa pohon. Saat ini, tim BPBD dan relawan sudah mengevakuasi pohon tumbang tersebut.

Selain itu, pohon jenis randu, juga roboh diterjang angin saat hujan deras di Jalan Mbah Rogomoyo, Desa Kaliwungu, Kudus. Pohon tumbang sekitar pukul 12.00 WIB tadi. Pohon yang tumbang sudah dipotong dan dipinggirkan.

Muhdi, warga setempat mengatakan pihaknya kurang tahu persis kejadian robohnya pohon randu. Sekitar pukul 12.30 WIB tadi dia sudah melihat pohon melintang di tengah jalan. Dia memperkirakan tumbangnya sekitar pukul 12.00 WIB. “Kurang tahu persis kejadian tadi. Tapi saat itu memang hujan sangat deras. Bahkan hujan juga disertai angin,” ungkap dia.

Pohon tersebut berdiameter sekitar setengah meter. Dengan usia pohon yang sudah tua. Saat pohon tumbang, tak ada warga jadi korban. Hanya, pohon menimpa kabel listrik yang masih menyala. Tapi kabel tidak sampai terputus.

Editor : Akrom Hazami

Kita yang Menunggu Bencana Akibat Gundulnya Hutan Kendeng

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

BENCANA alam benar-benar mengancam. Di musim hujan seperti sekarang, ancaman tersebut nyata dan terasa dekat. Mulai dari longsor, banjir bandang, dan angin kencang. Yang terbaru adalah banjir bandang  di Wonosoco, Undaan, Kudus, Jumat (20/1/2017). Banjir bandang mengakibatkan satu orang warga terseret arus. Korban tersebut akhirnya ditemukan tewas dua hari kemudian. Korban merupakan salah satu warga kecamatan tersebut yang sedang menikmati keindahan Wonosoco. Tapi tiba-tiba banjir bandang datang dan menghanyutkannya.

Miris, di kota yang telah belajar akibat banjir besar Januari 2014, ternyata bencana kembali terjadi. Lingkungan alam yang seharusnya dipedulikan dengan baik, seolah kembali dilupakan. Pascabanjir 2014, masing-masing telah bertekad menjaga alam, di mana mereka berada. Hasilnya, bencana alam skala besar tak lagi melanda. Kini, ancaman itu datang lagi. Di antara pemicunya yang tampak adalah gundulnya hutan di pegunungan Kendeng. Termasuk di ataranya adalah hutan yang ada di Wonosoco.

Dari data yang ada, wilayah hutan lindung milik Perhutani di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus mencapai 365,2 hektare. Hutan lindung itu masuk wilayah Perhutani BPKPH Penganten. Dengan jumlah lahan hutannya, total sekitar 2.334,3 hektare. Tidak sedikit dari jumlah lahan Perhutani yang rusak. Bahkan di Wonosoco saja, dari total lahan 365,2 hektare, yang rusak mencapai 70 persen.

Kondisi memprihatinkan itu di antaranya akibat ditanami tanaman semusim seperti halnya jagung. Tanaman semusim itu sangat menguntungkan penggarap, tapi merugikan lingkungan dan ekosistem hutan. Yang jelas, tanaman semusim tak mampu menyerap air. Maka saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air tak terserap. Air pun akan menjadi banjir bandang. 

Sebenarnya, tanaman yang diperbolehkan ditanam di area hutan adalah tanaman buah yang memiliki jenis pohon keras, semisal mangga. Penggarap lahan juga diperbolehkan menanam empon-empon: jahe, kencur, dan kunyit.  Syaratnya mereka tak merusak tanaman keras yang telah ada. Perhutani setempat juga fokus memelihara trembesi yang ditanam tahun lalu. Tapi belakangan, beberapa kali menanam, pohonnya rusak terus. Dahannya atau bahkan batang pohon banyak yang dipotong demi tanaman semusim.

Perhutani juga telah giat melakukan Operasi Penyelamatan Gunung Kendeng. Salah satu hasilnya adalah ditemukan 10 petani tanaman semusim, beberapa hari lalu. Mereka bukan warga Undaan, melainkan warga Sukolilo Pati. Mereka diminta untuk menandatangani surat pernyataan. Surat berbunyi untuk tak menggunakan lahan guna melakukan tanaman semusim. Patroli kerap dilakukan juga untuk kampanye penyelamatan wilayah Kendeng. Sasarannya adalah pembalakan hutan dan juga alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan pertanian semusim. Selain itu, cara patroli dianggap mampu membuat jera perusak hutan.

Selain berpatroli, juga dilakukan kegiatan pemasangan papan peringatan di sejumlah titik hutan. Jumlah papan peringatan ada 40 papan, dengan tulisan larangan penggarapan lahan, larangan penebangan pohon dan juga larangan pengrusakan tegakan.

Upaya Perhutani giat menjaga hutan memang tampak hasilnya. Yakni selama 2016, banjir bandang tak terjadi di Wonosoco. Tapi awal 2017, justru itu terjadi lagi. Dan ironisnya, ada warga yang jadi korban jiwa.

Kini kondisi hutan di pegunungan itu sudah memprihatinkan. Pengawasan dan patroli sudah sering dilakukan. Tapi jumlah petugas yang kurang dari 20 orang, membuat kewalahan. Jumlah petugas yang tak sebanding dengan luas lahan hutan, jelas menjadi kendala serius. Karenanya, dibutuhkan kesadaran masyarakat dan bantuan pihak terkait lainnya.

Mari bersama menjaga hutan Kendeng. Pihak terkait dan warga seyogyanya menjaga bersama keberlangsungan hutan. Jangan hanya mementingkan urusan perut yang justru malah mengorbankan kepentingan umum. Mari berpikir jauh ke depan.

Kini, hujan yang terus turun saat ini memang jadi ancaman bencana. Tapi tekad untuk memperbaiki hutan, tetap harus digelorakan semenjak sekarang. Setidaknya, pelestarian hutan yang dilakukan sekarang akan membuat anak cucu kita tak lagi terancam bencana alam. Mari!  (*)

4 Kecamatan di Kudus Ini Rawan Longsor

Warga kerja bakti saat usai bencana longsor yang terjadi di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga kerja bakti saat usai bencana longsor yang terjadi di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bencana yang terjadi di Kudus nyaris menimpa semua kecamatan yang ada. Namun dari sembilan kecamatan terdapat empat kecamatan yang memiliki potensi bencana yakni longsor, dan sisanya adalah potensi banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan menyebutkan, keempat wilayah rawan longsor tersebut meliputi Kecamatan Gebog, Dawe, Undaan dan Jekulo.

Paling mengancam adalah longsor, dan jika lebih spesifik, Peta paling rawan yaitu Desa Rahtawu, Menawan, Jurang dan Desa Kedungsari (Gebog), serta Desa Soco, Ternadi, Japan, Kuwukan, Puyoh, Colo, Dukuh Waringin, Cranggang dan Kajar Kecamatan Dawe. Desa- desa tersebut berada di kawasan lereng Pegunungan Muria,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (7/1/2017).

Sebenarnya total desa yang rawan longsor ada 17 desa. Selain kawasan lereng gunung Muria, wilayah lain yakni kawasan hutan pegunungan Kendeng di Desa Wonosoco Undaan, serta sekitar hutan Patiayam di Desa Terban, Godoharum dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo.

Selain longsor, Kudus juga memiliki wilayah rawan genangan air karena lokasi tanah yang rendah. Totalnya ada sekitar 40 desa dan 39 lahan persawahan rawan banjir dan genangan. Yakni Kecamatan Mejobo, Jekulo, Jati, Undaan dan Kaliwungu.

Camat Undaan Kudus Catur Widiyatno mengakui, dari 16 desa di wilayahnya, delapan desa di antaranya rawan banjir, baik terhadap areal persawahan maupun permukiman. “Daerah rawan banjir yaitu Desa Wates, Ngemplak, Undaan Lor, Karangrowo, Larikrejo, Kutuk, Berugenjang dan Wonosoco. Kami harus komunikasi secara intensif dengan melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Angin Kencang, Bencana Paling Menonjol di Kudus pada 2016 

Seorang petani menerobos banjir yang menimpa Wonosoco, Undaan, Kabupaten Kudus, 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang petani menerobos banjir yang menimpa Wonosoco, Undaan, Kabupaten Kudus, 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Selama 2016, Kudus termasuk wilayah yang banyak terjadi bencana. Bencana paling besar dalam 2016, didominasi oleh bencana angin kencang. Bencana itu semakin mencuat pada akhir 2016 lalu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan bencana angin kencang beberapa kali mengamuk di Kudus. Dampaknya, sebagian rumah warga rusak parah.

“Berdasarkan data BPBD Kudus, sepanjang 2016 telah terjadi 73 kejadian bencana. Paling menonjol adalah peristiwa angin kencang yang sampai merobohkan dan merusak rumah warga sebanyak 35 kasus,”katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (7/1/2016).

Menurutnya, angin kencang tersebut terjadi di sejumlah titik, seperti di kawasan pegunungan Muria, hingga perbatasan Kudus Jepara turut wilayah Kecamatan Kaliwungu. Biasanya, angin kencang yang melanda disertai dengan hujan yang lebat.

Selain angin, bencana yang tak kalah heboh adalah  kebakaran. Tercatat 21 kasus kebakaran selama 2016. Kemudian bencana longsor 12 kasus di kawasan dataran tinggi, dan terakhir bencana banjir lima kasus. 

Kejadian paling banyak memang pada penghujung tahun. Dalam kejadian sebulan terakhir tercatat 11 kasus. Masing- masing angin kencang atau puting beliung tiga kali, banjir dua kali serta longsor empat kali.

BPBD Kabupaten Kudus semakin intensif terus melakukan pemantauan terhadap daerah rawan bencana, menyusul adanya sejumlah kejadian dalam beberapa pekan terakhir selama musim hujan.  “Kudus termasuk wilayah yang diwaspadai, cukup banyak bencana yang sudah terjadi. Jadi harus selalu siaga,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Nenek Hampir jadi Korban saat Atap Rumahnya Roboh di Gebog Kudus

rumah-roboh-1

Munsriyah saat menatap kondisi rumahnya yang sudah roboh di Deas Klumpit, Kabupaten Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cuaca buruk yang terjadi di wilayah Kudus, Jumat (6/1/2017) pagi mengakibatkan satu rumah di Dukuh Ngaringan, Desa Klumpit, RT 4 RW 6, Kudus, rusak. Diduga, atap rumah milik Munsriyah (60) itu tidak kuat menahan derasnya hujan yang disertai angin.

Informasi yang dihimpun, rumah itu ditinggali oleh Munsriyah seorang diri. Ketika atap rumahnya hampir ambruk sekitar pukul 10.00 WIB, Munsriyah tampak terjebak di rumahnya bersama tetangga. Ia tidak sempat keluar rumah saat itu. Kondisi hujan sangat lebat dan lama.

Namun tiba-tiba dia mendengar suara yang mencurigakan dari atap rumah. Tetangganya itu segera meminta dia untuk cepat keluar dari rumah. “Ada suara krek-krek dari dalam rumah. Tetangga saya menarik saya keluar karena takut ada apa-apa dengan bangunan rumah saya ini,” ujarnya.

Benar saja,  tidak membutuhkan waktu yang lama, tiba-tiba atapnya malah roboh. Suara yang sangat keras disertai hujan membuatnya takut sehingga tidak berani mendekat ke rumah untuk beberapa saat.

Setelah itu, tetangganya pada datang untuk melihat bunyi gaduh dari atap rumah. Dengan hati-hati dia dibantu tetangga mengevakuasi barang yang masih dapat diselamatkan dari dalam dapur dan kamarnya.

“Ya kondisinya sekarang semacam ini. Sudah hancur atapnya karena ambruk saat hujan tadi pagi,” ungkap dia yang seorang jasa penitipan anak (momong) tetangganya.

Rencananya, dia bakal menempati rumah kosong yang berada di samping rumahnya. Sebab dianggap itu lokasi yang aman untuk ditempati nantinya. Ditambahkan, sebenarnya dia juga memiliki beberapa anak dan cucu. Hanya saja semuanya sudah menikah dan berumah tangga di luar desanya. Dan dia memilih tetap tinggal di rumahnya.

“Rumah ini sudah tua, sejak saya kecil dulu sudah ada rumah ini. Jadi ya memang kondisinya sudah lapuk. Apalagi atapnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Waspada Banjir, Warga Undaan Kudus Bangun Talut

Warga tampak melintas di jalan yang terendam banjir di Wonosoco, Undaan, Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Warga tampak melintas di jalan yang terendam banjir di Wonosoco, Undaan, Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, Setiyo Budi mengatakan, pihak desa selalu berupaya mengurangi kemungkinan terjadinya banjir.

Kerja bakti yang dilakukan meliputi lingkungan RT. Dalam kesempatan kerja bakti, warga diingatkan untuk mewaspadai banjir.

“Kami juga sudah membangun talut sungai desa sepanjang 40 meter dan tinggi 3 meter. Selain itu menambah lebar badan sungai sepanjang sekitar 100 meter,” katanya kepada MuriaNewsCom di Wonosoco, Kamis (8/12/2016).

Ke depan, pihaknya ingin membuat sodetan sungai dengan membangun gorong- gorong sepanjang 50 meter. Karena pada 2017 nanti akan dialokasikan dana sekitar Rp 150 juta untuk pembangunan gorong- gorong tersebut.

Camat Undaan Kudus Catur Widiyatno, mengatakan, pemerintah kecamatan selama ini selalu mengingatkan kepada seluruh warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana.

“Di antaranya kami berharap mereka melakukan antisipasi bencana sejak dini, jangan sampai bencana itu datang lagi,” katanya.

Dari 16 desa di wilayah Undaan, delapan desa tergolong rawan  banjir, yaitu Desa Wates, Ngemplak, Undaan Lor, Karangrowo, Larikrejo, Kutuk, Berugenjang serta Desa Wonosoco. Untuk antisipasi pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh kepala desa.

“Kami selalu sosialisasikan ke warga tentang perlunya menjaga lingkungan. Dimulai hal terkecil, seperti tidak membuang sampah di selokan. Jika warga melihat hal yang dirasa mencurigakan seperti tanggul retak dapat segera dikabari pihak kami di kecamatan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami