Puluhan Rumah di Desa Sumberagung Grobogan Diterjang Banjir Bandang

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir bandang melanda Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan, Senin (26/2/2018). Banjir yang menerjang sekitar pukul 16.30 WIB itu menyebabkan puluhan rumah di beberapa dusun terendam air selama beberapa jam.

Dari rumah yang terkena banjir bandang, sedikitnya ada lima rumah yang rusak parah. Hal ini terjadi karena air yang masuk rumah tingginya mencapai 1 meter.

Rumah yang terendam cukup tinggi mengakibatkan barang didalamnya sebagian hanyut terbawa air. Antara lain, jagung hasil panen, pakaian hingga uang tunai Rp 10 juta.

”Ada tiga dusun yang terkena dampak banjir bandang. Jumlah rumah yang sempat kemasukan air ada puluhan. Ini, saya masih dilapangan untuk melakukan pendataan. Banjir disebabkan turunnya hujan deras sejak siang hingga sore,” kata Kades Sumberagung Rusno.

Selain rumah rusak, dampak banjir bandang juga menyebabkan akses jalan menuju Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari longsor. Jalan yang longsor ada tiga titik sehingga tidak bisa dilalui untuk akses kendaraan roda empat.

Editor: Supriyadi

Pabrik Tahu di Genengadal Grobogan Roboh Diterjang Angin, 3 Pekerja Terluka 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah pabrik tahu di Dusun Geneng,  Desa Genengadal,  Kecamatan Toroh roboh, Senin (26/2/2018). Bangunan pabrik roboh akibat terjangan angin sekitar pukul 15.00 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, robohnya bangunan bersamaan dengan turunnya hujan deras di wilayah tersebut sejak pukul 13.00 wib.  Tidak lama berselang, hujan deras diiringi hembusan angin kencang.

Posisi pabrik tahu kebetulan berada cukup jauh dari perkampungan. Angin kencang yang berhembus hanya menimpa pabrik tahu tersebut dan tidak sampai menerjang pemukiman.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Meski demikian, ada tiga pekerja yang dilaporkan mengalami luka akibat tertimpa kayu.

Kades Genengadal Pamuji menyatakan, rumah yang roboh milik Suparjo yang memang dipakai untuk usaha pembuatN tahu. Saat kejadian, masih ada beberapa orang yang sedang bekerja membuat tahu.

“Tiga pekerja yang sempat tertimpa reruntuhan bangunan hanya mengalami luka ringan. Untuk nilai kerugian masih didata,” katanya.

Editor: Supriyadi

Anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan Dilarang Cuek Saat Ada Bencana

MuriaNewsCom, GroboganAnggota pramuka Kwarcab Grobogan diminta selalu tanggap ketika mendengar maupun melihat ada bencana alam disekitarnya. Khususnya bagi mereka yang tergabung dalam Unit Bantu Pertolongan Pramuka (Ubaloka).

Pernyataan ini ditegaskan Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono saat memantau kegiatan Gladi Tangguh Ubaloka di Bumi Perkemahan Kalacakra Waduk Sanggeh, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kamis (15/2/2018).

”Pramuka harus punya jiwa penolong dan tabah serta tanggap terhadap segala macam bencana khususnya yang terjadi di Kabupaten Grobogan. Kalau melihat bencana alam maka pramuka tidak boleh berpangku tangan apalagi sampai bersikap cuek,” tegasnya.

Menurut Lulun, untuk bisa berbuat sesuatu ketika terjadi bencana maka anggota Ubaloka terlebih dahulu akan mendapat pembekalan khusus. Dengan mengikuti pelatihan, mereka nantinya keahlian sehingga bisa membantu menangani bencana alam yang terjadi.

Pelaksanaan gladi tangguh akan dilangsungkan selama sepekan. Selama kegiatan berlangsung, peserta gladi akan mendapatkan beragam materi yang terkait penanganan bencana.

Salah seorang istruktur pelatihan Parjiyo menambahkan, peserta gladi sebanyak 60 orang. Peserta ini berasal dari unsur Pramuka Penegak dan Pandega dari berbagai utusan Gugusdepan SLTA dan Satuan Karya di Kwarcab Grobogan. Para peserta ini merupakan peserta yang terseleksi dan lolos mengikuti kegiatan Pra Gladi Tangguh yang diselenggarkan beberapa bulan lalu.

Dalam kegiatan itu, peserta mendapat serangkaian pelatihan. Antara lain, materi  pembinaan fisik dan mental, pertolongan pertama pada gawat darurat, pembuatan dapur umum, pemadaman kebakaran, teknik pencarian dan evakuasi korban di darat dan penyelamatan air atau water rescue.

”Untuk instruktur pelatihan melibatkan dinas instansi terkait dengan materi yang disampaikan. Seperti dari PMI, Kodim 0717 Purwodadi, BPBD dan Orari,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Bahu Jalan Longsor, Pengendara di Jalan Kuwu – Sragen Diminta Hati-hati

MuriaNewsCom,Grobogan – Bagi pengendara yang melintasi jalan raya Kuwu-Sragen diimbau untuk berhati-hati. Hal ini terkait adanya bahu jalan longsor yang terjadi di ruas jalan tersebut. Tepatnya, ditanjakan kawasan hutan yang masuk wilayah Desa Bago, Kecamatan Kradenan, Grobogan.

Informasi adanya bahu jalan milik provinsi yang letaknya pada posisi tikungan itu terjadi sejak beberapa hari lalu. Awalnya, longsoran itu masih agak jauh dari jalan raya. Namun, akibat guyuran hujan deras, longsoran makin melebar hingga memakan hampir separuh jalan berlapis aspal tersebut.

Sejumlah warga, bahkan sempat mengunggah kondisi bahu jalan yang longsor agar menjadi perhatian para pengguna jalan. Warga juga berharap agar longsornya bahu jalan segera ditangani instansi terkait karena kondisinya cukup membahayakan pengguna jalan raya.

Kepala BPT Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya Pemprov Jateng Wilayah Purwodadi Barkah Widiharsono membenarkan adanya bahu jalan longsor di ruas jalan menuju wilayah Sragen tersebut. Menurutnya, pihaknya sudah melakukan penanganan bahu jalan longsor tersebut mulai hari ini.

”Hari ini, petugas kami sudah mulai melakukan penanganan bahu jalan longsor. Penanganan butuh waktu beberapa hari,” kata Barkah saat ditemui dikantornya, Senin (12/2/2018).

Menurutnya, longsor di ruas jalan tersebut disebabkan adanya talud sungai yang terkikis air. Untuk penanganan longsor akan diuruk dengan material dan dipasang bronjong penahan.

Barkah menambahkan, pada tahun anggaran 2018 ini, pihaknya akan melakukan perbaikan pada ruas jalan tersebut. Rencananya, jalan yang diperbaiki panjangnya sekitar 1 km dengan alokasi anggaran berkisar Rp 6-8 miliar.

Editor: Supriyadi

Hujan Deras, Sungai di Desa Sengon Bugel Jepara Meluap

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan berdurasi lama menyebabkan aliran sungai di Desa Sengon Bugel, Kecamatan Mayong meluap hingga ke jalan raya, Senin (5/2/2018) sore. Praktis hal itu menyebabkan antrean kendaraan cukup panjang, sekitar satu kilometer lebih.

Sugiharto (30) warga Pecangaan Kulon mengaku lebih memilih berbalik arah ketimbang meneruskan perjalanan. Ia takut kalau-kalau motornya mati dan ia harus mendorong kendaraannya.

“Saya pilih balik saja, memutar lewat Rajegwesi kemudian ke Batealit dan ke Pecangaan, daripada mesinnya mati,” katanya.

Pantauan MuriaNewsCom, air dari Sungai Bugel meluap sekitar 30 centimeter lebih. Jika lebih mendekati sungai, maka kedalamannya pun semakin bertambah. Beberapa motorpun ada yang terlihat mati mesin karenanya.

Bagi yang nekat menyebrang, mereka sebenarnya bisa menyewa gethek yang disewakan oleh warga sekitar. Namun jumlahnya yang tak banyak, mengakibatkan mereka harus mengantre.

Para pengguna jalan terjebak macet akibat luapan air sungai saat hujan deras. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Satria (30) warga sekitar menyebut, genangan air di wilayah tersebut sudah lazim terjadi jika hujan dengan intensitas yang lama. Namun demikian, setelah hujan berhenti, air kemudian berangsur-angsur surut.

Dari pengamatan lapangan, jalanan yang tergenang air bukan hanya di satu titik. Dari sepanjang jalan Nalumsari hingga Sengon Bugel, setidaknya terdapat tiga titik genangan. Pertama di ruas sebelum Pasar Mayong, kedua di depan Polsek Mayong dan di sekitar jembatan kecil Sengon Bugel.

Untuk mengurai kemacetan, Satlantas Polres Jepara menurunkan personel. Iptu Suyitno KBO Lantas Jepara menyebut, di titik depan Mapolsek Mayong kemacetan dikarenakan sungai kecil di sekitar tempat itu tak mampu menampung air hujan.

“Hujan dari tadi pagi hingga kini, menyebabkan sungai meluap. Kebetulan lokasi ini adalah cekungan jadi menyebabkan genangan air. Ketinggiannya mencapai 20-30 centimeter,” ujarnya.

Selain karena banjir, kemacetan juga ditimbulkan oleh karyawan pabrik yang sedang pulang dari tempat kerja. Sementara itu, banjir juga sempat menggenangi RSU PKU Muhammadiyah Mayong. Namun tak lama setelahnya, air lantas surut.

Editor: Supriyadi

Luka Ringan, Siswa SMK Fadlun Nafis Jepara Rawat Jalan

MuriaNewsCom, Jepara – Sepuluh siswa SMK Fadlun Nafis Bangsri, Jepara yang dirawat di Puskesmas Bangsri, setelah terkena material atap ruang sekolah yang ambruk diperbolehkan pulang, Senin (22/1/2018). Itu dilakukan lantaran kesepuluh siswa hanya mengalami luka ringan.

Sukarbiyoso orang tua dari Wawan Hendriyanto (18), siswa SMK Fadlun Nafis mengatakan, kejadian nahas yang terjadi sekitar pukul 10.20 WIB itu membuat anaknya menderita luka di punggung. Namun, siswa kelas dua itu sudah diperbolehkan pulang.

“Tadi di Puskesmas Bangsri saya tanya harus rawat inap gak. Ternyata boleh pulang karena lukanya tidak begitu parah,” katanya.

Baca: Angin Lisus Robohkan Atap SMK Fadlun Nafis Jepara, 10 Siswa Luka-luka

Meski begitu, anaknya meruipakan pasien yang terakhir kali pulang kerumah, dibandingkan teman-temannya. Sebelumnya, putranya itu sempat dirawat cukup serius.

Sementara itu, Petugas Puskesmas Bangsri Solikin menuturkan, berdasarkan catatan pasien, memang ada 10 siswa SMK Fadlun Nafis yang sempat dirawat. Namun pada Senin siang, kesemuanya sudah dipulangkan.

“Mereka masuk pukul 11.00. Berdasarkan catatan yang ada luka-luka yang diderita berupa lecet-lecet ditangan, punggung dan ada tiga siswa yang mengalami luka robek di kepala. Tidak ada yang dirujuk ke Rumah Sakit, mereka semua sudah dipulangkan ke rumah masing-masing,” urainya.

Diberitakan sebelumnya, atap baja ringan SMK Fadlun Nafia yang terletak di Desa Bangsri, RT 1 RW 1, Kecamatan Bangsri Roboh, terkena angin lisus. Atap tersebut menaungi dua ruang kelas, laboratorium, dan ruang organisasi sekoah. Peristiwa itu terjadi pada Senin (22/1/2018), pukul 10.20 WIB.

Editor: Supriyadi

Rumah Warga Banyutowo Pati Roboh Diterjang Angin Kencang

Warga dan polisi mengevakuasi puing-puing rumah warga Dukuhseti yang roboh diterjang angin kencang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah salah satu warga Desa Dukuhseti RT 3 RW 1, Kecamatan Dukuhseti, roboh setelah diterjang angin kencang, Selasa (19/12/2017).

Pemilik rumah, Wadinah, selamat dari insiden tersebut. Dia melarikan diri dan berhasil keluar rumah, sesaat setelah muncul tanda-tanda rumah akan roboh.

Sumijan, salah satu saksi mengatakan, rumah Wadinah roboh saat hujan deras dan angin kencang menerpa. “Suara patahan-patahan kayu terdengar sebelum rumah roboh,” ungkap Sumijan.

Rumah Wadinah sendiri terbuat dari kayu beralaskan plester semen dengan atap genteng berukuran 12 meter, lebar tujuh meter dan tinggi 3,5 meter.

Belum diketahui kerugian material akibat rumah roboh tersebut. Namun, pihaknya menaksir kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Rencananya, pemilik rumah akan bertempat tinggal di rumah saudara. Pasalnya, rumah kayu tersebut roboh total dan tidak bisa dihuni kembali.

Petugas kepolisian dan warga setempat terlihat melakukan evakuasi pada puing-puing rumah Wadinah. Sementara upaya pembangunan rumah kembali belum direncanakan.

Editor: Supriyadi

Dandim 0719/Jepara Perintahkan Koramil Petakan Daerah Rawan Bencana

Dandim 0719/Jepara Letkol (Czi) Fachrudi Hidayat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Komandan Kodim (Dandim) 0719/Jepara Letkol (Czi) Fachrudi Hidayat perintahkan jajaran Koramil untuk petakan daerah rawan bencana di Bumi Kartini. Hal itu untuk mempersiapkan penanganan jika terjadi bencana sedini mungkin. 

Menurutnya, di tengah musim hujan kawasan Jepara rentan terjadi bencana banjir, gelombang ombak laut tinggi dan longsor. Hal itu mengingat kondisi geografis sebagian wilayah yang berada di pesisir dan beberapa diantaranya berada di lereng pegunungan Muria. 

“Jajaran Koramil kami perintahkan untuk memetakan titik mana saja yang rawan bencana. Hal itu dimulai hari ini hingga waktu kedepan. Sehingga kami bisa menentukan prioritas mana yang menjadi pusat perbantuan Kodim 0719,” jelas Fachrudi yang menggantikan Dandim sebelumnya Letkol (Inf) Ahmad Basuki, Senin (11/12/2017). 

Menurutnya, personel Kodim Jepara telah siap untuk berpartisipasi dalam penanggulangan bencana, baik pra, saat terjadinya bencana dan pasca. Lebih lanjut, personelnya siap ditempatkan baik di pengungsian, membantu droping logistik hingga proses rehabilitasi. 

“Secara kualitas maupun kuantitas personel dan peralatan kita sudah siap,” tegas Letkol Fachrudi. 

Editor: Supriyadi

Cuaca Buruk, Status Grobogan Jadi Siaga Darurat Bencana

Bupati Grobogan Sri Sumarni (dua dari kanan) beserta jajaran pimpinan FKPD dan pejabat terkait sedang mengecek peralatan yang digunakan dalam penanganan bencana, Kamis (7/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta warganya supaya bersikap waspada terhadap kemungkinan munculnya bencana alam. Baik berupa banjir, tanah longsor atau angin topan. Seruan itu disampaikan Sri Sumarni dalam apel siaga bencana di alun-alun Purwodadi, Kamis (7/12/2017).

”Saya minta warga supaya waspada. Namun, jangan sampai panik atau dicekam ketakutan yang berlebihan,” ujarnya.

Acara apel siaga bencana juga dihadiri sejumlah pimpinan FKPD Grobogan. Antara lain, Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, dan Kajari Edi Handojo. Hadir pula Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Menurut Sri, dalam sebagai antisipasi dalam menghadapi ancaman bencana di musim hujan, pada tanggal 1 Nopember 2017 lalu telah ditetapkan status siaga darurat bencana. Status tersebut akan berlaku selama 92 hari, hingga 31 Januari 2018.

”Penetapan status siaga darurat bencana ini kita lakukan berdasarkan informasi dari BMKG pusat. Yakni, masih adanya ancaman hujan dengan intensitas tinggi disertai angin hingga akhir Januari 2018 mendatang,” jelas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Ia menyatakan, berdasarkan peta geografis, Kabupaten Grobogan memang cukup rentan bencana. Sebab, letaknya berada di daerah cekungan perbukitan (lembah). Yakni, perbukitan Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan.

Meski demikian, Pemkab akan berupaya untuk meminimalkan terjadinya bencana alam di wilayahnya. Sejauh ini, sudah cukup banyak langkah yang diambil dalam kaitannya dengan penanganan bencana tersebut. Misalnya, pembuatan embung, reboisasi, normalisasi sungai dan perbaikan tanggul.

Disamping meminta warga untuk waspada, Sri meminta kepada pihak BPBD untuk lebih sigap dalam penanganan bencana. Upaya monitoring kondisi lapangan perlu terus dilakukan setiap saat. Harapannya, jika terjadi bencana bisa meminimalisir korban, baik jiwa maupun harta benda.

”Datangnya bencana alam ini tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Untuk itu, sikap waspada selalu kita lakukan agar bisa mempercepat upaya penanganan. Tidak lupa, koordinasi dengan instansi terkait lainnya juga rutin diperlukan,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Dandim 0719/Jepara Instruksikan TNI Siaga Hadapi Bencana di Musim Hujan

Komandan Komando Distrik Militer 0719/Jepara Letkol (inf) Ahmad Basuki ketika memeriksa kesiapan prajuritnya dalam menghadapi bencana sertaan musim penghujan di Jepara, Senin (4/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghadapi bencana sertaan di musim hujan, Komandan Kodim 0719/Jepara Letkol (inf) Ahmad Basuki instruksikan semua anggota TNI di Kota Ukir bersiaga penuh. Selain kesiapan personel, pihaknya juga menyiagakan armada evakuasi seperti Landing Craft Rubber (LCR-Kapal Karet) dan KMC Komando.

“Untuk memantapkan kesiagaan, pagi ini kami melakukan apel kesiapan penanggulangan bencana. Di Jepara kita ada tiga bencana yang patut diwaspadai, yakni abrasi air laut, banjir dan tanah longsor,” ujar Ahmad Basuki, seusai apel di halaman Makodim Jepara, Senin (4/12/2017). 

Ia mengungkapkan, kekuatan Kodim Jepara untuk membantu penanganan kebencanaan sudah siap diterjunkan. Dandim 0719 itu juga menyebut, pihaknya memiliki 12 LCR berkapasitas mesin mulai dari 15 PK (Paar de Kraft-Tenaga Kuda). Adapula kapal berbahan alumunium dan KMC Komando yang diawaki 50 personel dapat menempuh Pulau Karimunjawa dalam tempo satu jam, dengan kecepatan 27 knot.

Untuk personel, pihaknya menyiagakan 300 prajurit yang disiagakan untuk dapat membantu penanganan bencana, sewaktu-waktu. “Ketika ada bencana Danramil (Komandan Rayon Militer) kami perintahkan turun untuk memonitor dan membantu masyarakat,” tegasnya. 

Terakhir, ia mengingatkan warga Jepara untuk senantiasa berwaspada. Pada awal bulan Desember, bencana abrasi air laut telah terjadi dan mengakibatkan beberapa rumah di Kelurahan Ujung Batu dan Demaan terkena imbas. 

“Banjir juga perlu diwaspadai, mengingat ini siklus empat tahunan. Tahun 2014 sudah pernah terjadi banjir besar. Tahun 2018 harus lebih siaga. Disamping itu, tanah longsor juga perlu diperhatikan, seperti di daerah Tempur. Kami imbau warga berhati-hati melewati daerah tebing yang rawan longsor,” tutup Ahmad Basuki. 

Editor: Supriyadi

BPBD Kudus Minta Pemdes Alokasikan Dana Desa untuk Penanganan Bencana

Petugas BPBD Kudus mengecek kondisi perahu di kantor BPBD setempat, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan meminta, agar pemdes di Kudus dapat mengalokasikan dana desa untuk penanganan bencana. Apalagi, jumlah dana desa sangatlah besar.

“Bedasarkan aturan diperbolehkan. Khususnya wilayah yang menjadi langganan bencana seperti banjir, dapat melakukan penanganan dengan dana desa,” katanya Rabu (29/11/2017).

Menurut dia, penanganan yang dimaksud bukanlah membenahi tanggul dan sungai. Karena itu merupakan wilayah BBWS. Namun jika sebatas kerja bakti, itu diperbolehkan karena menjaga lingkungan.

Dia mencontohkan, untuk bencana banjir misalnya. Langkah yang dilakukan, dapat ditangani dengan membendung kampung atau wilayah yang rawan banjir. Agar air tak memasuki permukiman.

“Menghadapi banjir itu ada dua hal. Pertama menahannya dengan tanggul, sedang yang kedua adalah meninggikan pemukiman,” ungkap dia.

Saat ini, lanjut dia, petugas dari BPBD dsn relawan sudah siaga dengan ancaman bencana. Namun, pihaknya menekankan kalau yang mampu menolong pertama jika ada bencana, adalah dirinya sendiri dan lingkungannya.

“Setelah dirinya dan keluarga, barulah tetangga, saudara dan tim penanganan bencana. Bagaimanapun yang lebih tahu adalah masyarakat sekitar. Jadi masyarakat harus paham dengan sekitar,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Tiga Desa di Jepara Berada di Lereng Gunung Muria Ini Rawan Bencana

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Tiga desa di kawasan Lereng Gunung Muria bagian barat, rentan ancaman banjir bandang dan longsor. Ketiganya adalah Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, dan Desa Tempur, serta Desa Damarwulan yang berada di Kecamatan Keling. 

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno, Selasa (14/11/2017). Menurutnya, ancaman itu seiring wilayah Jepara yang telah memasuki musim penghujan.

Selain itu, perubahan perilaku dalam pemanfaatan alam juga ditengarai sebagai penyebab tiga desa tersebut terancam longsor dan banjir bandang setiap musim hujan datang. Menurutnya, saat ini tumbuhan yang banyak ditanam adalah sengon dan jabon.

Dikatakan Lulus, pepohonan seperti sengon dan jabon tidak mengikat tanah dengan kuat. Karena, batang pohon tersebut seringkali dipotong untuk kemudian dijual.

Hal itu tidak seperti pohon kopi, yang sebelumnya banyak tertanam di wilayah tersebut. Oleh karenanya, ia meminta warga untuk waspada terutama mendekati puncak musim hujan.

“Sesuai prakiraan dari BMKG, hujan lebat akan mulai terjadi pada bulan Desember 2017 hingga Februari 2018. Curah hujan bisa mencapai 300 mililiter perdetik,” katanya.

Oleh karenanya, pihaknya telah menempuh berbagai cara untuk mengurangi risiko bencana. Di antaranya membentuk komunitas pengurangan risiko bencana dan pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya longsor di sejumlah titik.

Editor : Ali Muntoha

Digembleng Pelatihan, Anggota Pramuka Peduli Grobogan Siap Diperbantukan Atasi Bencana

Puluhan anggota baru pramuka peduli Kwarcab Grobogan mendapat pelatihan pendirian tenda pengungsi di Alun-alun. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para anggota baru Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan saat ini sudah siap dikerahkan guna membantu penanggulangan bencana. Soalnya, anggota baru ini sudah dibekali dengan serangkaian pelatihan selama beberapa hari.

“Pelatihan anggota baru pramuka peduli kita langsungkan selama tiga hari. Setelah dapat pelatihan, anggota baru ini siap mendukung dan diperbantukan untuk mengatasi bencana,” kata Ketua Kwarcab Grobogan Icek Baskoro, Sabtu (4/11/2017).

Menurutnya, ada beberapa materi yang disampaikan pada anggota pramuka peduli tersebut. Untuk narasumber pelatihan berasal dari beberapa instansi. Seperti, BPBD dan Polres Grobogan serta dari Kwarda Jawa Tengah.

Sementara itu, Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Surono menambahkan, jumlah anggota baru yang mendapat pelatihan sebanyak 56 orang. Mereka ini berasal dari , Satuan Karya Pramuka dan Gugus depan SLTA se-Kabupaten Grobogan.

Dalam pelatihan itu, para peserta mendapatkan pembekalan tentang dapur umum dan 

manajemen bencana, pelatihan pendirian tenda bencana dari pihak BPBD. Kemudian, ada materi pelatihan pengaturan arus lalu lintas yang disampaikan instruktur dari Satlantas Polres Grobogan.

“Bekal pelatihan yang kita berikan pada adik-adik pramuka peduli sudah lumayan banyak. Sehingga, mereka nantinya bisa kita kerahkan untuk membantu penanganan bencana. Adik-adik ini juga bisa membantu mengatur lalu lintas pada hari-hari besar seperti lebaran,” imbuhnya. (NAK)

Editor: Supriyadi

Ganjar Kembangkan Ilmu Titen Tanggulangi Bencana di Jateng

Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta masyarakat untuk lebih tanggap terhadap bencana, seiring datangnya musim hujan. Terlebih di Jawa Tengah kerawanan bencana sangat tinggi, mulai dari banjir, longsor hingga angin lisus.

Menurut dia, meskipun program penanggulangan bencana sudah intensif dilakukan, masyarakat tetap harus waspada akan perubahan kondisi yang terjadi di lingkungannya masing-masing.

“Kita punya kearifan lokal namanya ’ilmu titen’. Misalnya kalau hujan turun lebih dari dua jam, maka siap-siap mengungsi karena biasanya banjir besar akan datang. Longsor juga bisa diamati dari retakan tanah di bukit atau dataran tinggi,” katanya.

Ilmu titen, imbuh Ganjar, menarik karena masyarakat mempunyai cara meramal akan terjadinya bencana alam lewat tanda-tanda alam yang tidak ada di negara lain di dunia.

“Tidak kalah menariknya yakni sistem kekerabatan dan gotong royong masyarakat Jateng. Sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk saling membantu dalam penanganan bencana alam,” ujarnya.

Ganjar sendiri sudah menyusun buku berjudul “Disaster Management and Ilmu Titen” pada awal 2016 lalu. Buku itu sebenarnya disusun Ganjar untuk disampaikan di hadapan para pemimpin dunia dalam konferensi perubahan iklim di Belanda.

Sepulang dari Negeri Kincir Angin, Ganjar meminta buku itu disebar ke masyarakat agar ilmu titen kembali digunakan masyarakat dalam penanggulanan bencana.

“Di Jateng sudah dibentuk desa-desa tangguh bencana, ada relawan-relawan yang siap sedia bergerak dan responsif, saya kira kita sudah siap,” terangnya.

Ganjar juga telah mendatangi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng. BPBD diminta segera berkoordinasi dengan seluruh stakeholder untuk mengantisipasi bencana. “Saya sedang siapkan surat edaran kepada bupati dan walikota untuk siaga bencana,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ada Tujuh Titik Rawan Longsor di Jepara, Ini Daftarnya

Warga melintasi jalan di lokasi longsor beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara meminta masyarakat mewaspadai bahaya tanah longsor memasuki musim hujan. Tercatat ada tujuh kecamatan yang rawan yakni, Nalumsari, Batealit, Mayong, Bangsri, Pakisaji, Kembang dan Keling.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayetno mengungkapkan, ancaman longsor kerapkali menghantui wilayah tersebut. Selain faktor cuaca, penyebab bencana tersebut adalah perubahan kontur tanah yang berubah menjadi lahan pertanian.  

“Perubahan kontur tanah menyebabkan longsor kerap melanda saat musim hujan,” kata Lulus, Selasa (10/10/2017).

Dikatakannya, bencana longsor perlu diwaspadai terutama pada daerah yang terletak di sekitar lereng Gunung Muria.

Seperti yang terjadi pada awal tahun 2017, Desa Damarwulan, Kecamatan Keling sempat terisolir karena jalan penghubung menuju luar kampung tertimbun material longsor.  

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau warga yang berada di daerah-daerah tersebut untuk lebih waspada ketika hujan deras turun dalam waktu yang lama. Disamping kewaspadaan, BPBD Jepara juga telah mendorong langkah preventif agar kejadian longsor dapat diminimalisir.

Satu di antaranya adalah dengan menganjurkan penanaman tanaman buah seperti kopi yang dapat “mengikat” tanah. Sehingga kemungkinan terjadinya tanah longsor dapat dikurangi. 

“Di beberapa desa sudah mulai menerapkan penanaman tanaman buah, hal itu kami dorong untuk mengembalikan kontur tanah,” tutup Lulus. 

Editor: Supriyadi

Ngeri, 5 Rumah Warga Desa Pepe Grobogan Ludes Dilalap si Jago Merah

Warga berupaya memadamkan api yang membakar rumah di Dusun Krajan, Desa Pepe, Kecamatan Tegowanu, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kebakaran kembali terjadi di wilayah Grobogan. Musibah terbaru terjadi di Dusun Krajan, Desa Pepe, Kecamatan Tegowanu, Grobogan, Jumat (1/9/2017) malam.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 18.30 WIB itu mengakibatkan lima rumah warga terbakar habis. Rumah yang terbakar masing-masing milik Laminah (70), Prayit (38), Kasnadi (46), Ngateman (65), dan Purwadi (50). Semua korban kebakaran tercatat sebagai warga yang tinggal di wilayah RT 03, RW 01. Bangunan rumah yang ludes terbakar hampir semuanya terbuat dari bahan kayu.

BacaPasar Piji Kudus Dilalap Si Jago Merah

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui warga saat pulang dari musala, setelah salat magrib. Warga yang lewat sempat melihat ada kobaran api dari rumah Laminah di bagian belakang. Saat itu, pemilik rumah masih berada di musala.

Ketika warga hendak memeriksa ke rumah tersebut, kobaran api cepat membesar karena angin kencang saat itu. Melihat kejadian, puluhan warga berupaya melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya.

Meski sudah berupaya keras, namun pemadaman gagal dilakukan. Sebaliknya, kobaran api makin susah dikendalikan dan menyambar empat rumah terdekat.

BacaKerugian Kebakaran Pasar Piji Kudus Ditaksir Lebih dari Setengah Miliar

Sekitar 30 menit kemudian, lima mobil damkar tiba di lokasi. Meski sudah banyak armada yang dikerahkan, namun pemadaman masih sulit dilakukan karena banyak barang mudah terbakar di lima rumah tersebut. Setelah berjibaku hampir 3 jam, kobaran api akhirnya bisa dikendalikan.

Kapolsek Tegowanu AKP Bambang Uwarno menyatakan, saat kejadian, kondisi rumah Laminah dalam keadaan kosong. Penghuninya sedang salat magrib di musala. Menurutnya, berdasarkan pemeriksaan sementara, api diperkirakan berasal dari api pawon yang belum dimatikan hingga mengakibatkan kebakaran.

BacaDirlantas Polda Jateng Nyatakan Tak Ada Rem Blong saat Bus Indonesia Terguling di Kudus

Sebelum kejadian, Laminah sempat memasak air menggunakan kayu bakar. Kemudian, ditinggal ke musala untuk salat magrib berjamaah tanpa mematikan api terlebih dahulu. Diperkirakan, api dari kayu bakar itu sempat menjalar tumpukan sekam dekat pawon dan menjalar dinding rumah yang terbuat dari bambu.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 300 juta,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

BPBD Grobogan Siapkan Dana Rp 135 Juta Tangani Kekeringan

Meski sudah masuk musim kemarau namun warga di desa langganan bencana kekeringan masih belum mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. (MuriaNewsCom/Dani Agus)ben

MuriaNewsCom, Grobogan – Memasuki awal musim kemarau, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mulai mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan. Terutama, persiapan untuk melaksanakan drop air bersih ke desa langganan bencana kekeringan.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 135 juta. Dana ini disiapkan untuk melakukan drop air bersih pada masyarakat.

“Saat ini sudah masuk kemarau tetapi belum ada laporan desa yang terkena bencana kekeringan. Meski demikian, upaya penanganan sudah kita siapkan. Kita juga sudah koordinasi dengan PDAM Grobogan untuk persiapan menyalurkan droping air jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” jelasnya.

Menurut Agus, dana untuk penanganan kekeringan tiap tahun selalu disiapkan. Namun, khusus tahun 2016 lalu, dana yang disiapkan praktis tidak terpakai.

Soalnya, tahun lalu curah hujan masih sering turun ketika musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak kesulitan air.

Dijelaskan, dari 280 desa/kelurahan yang ada, hampir separuhnya rawan bencana kekeringan. Sementara dari 19 kecamatan, hanya ada empat kecamatan yang relatif  aman dari bencana kekeringan. Yakni Kecamatan Godong, Gubug, Klambu dan Tegowanu.

Agus menambahkan, pada tahun 2015 jumlah desa yang terkena bencana kekeringan cukup banyak. Jumlahnya mencapai 100 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

Editor : Akrom Hazami

 

Angin Ribut Terjang Desa Mantingan Jepara

 

Angin ribut menerjang salah satu rumah warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017).(Pusdalops BPBD Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Angin ribut menyasar Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017) siang. Akibatnya, sebuah rumah sekaligus warung milik Isfarotun (45) dan penggergajian kayu, roboh. Bukan hanya itu, tercatat ada empat brak (tempat kerja) mebel, mengalami kerusakan terutama dibagian atap. 

Seorang warga, Sofwan mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Ia berujar, angin besar menerjang sekitar seperempat jam. “Anginnya besar itu muser-muser. Lalu bagian brak itu ikut terbawa,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh Mastono. Ia mengaku saat itu dalam kondisi hujan yang deras disertai angin. Ketika kejadian berlangsung, istrinya sedang memasak di dapur. 

“Anginnya besar disertai hujan. Saat itu, istri saya sedang memasak di dapur. Begitu ada angina, ia lantas keluar, namun apinya lupa dimatikan. Baru setelah kejadian rumah roboh api dimatikan.   Beruntung tidak ada korban jiwa,” ujar Tono yang merupakan suami dari Isfarotun.  

Ia menaksir, kerugian yang dideritanya sebesar Rp 30 juta. Saat ini ia belum bisa berbuat banyak atas musibah tersebut, namun ia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah. 

Hingga sore hari, warga terdampak bencana terlihat masih membersihkan puing sisa dari rumah atau brak yang rusak. 

Catatan Pusdalops BPBD Jepara, tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut. Pihaknya pun telah melakukan assesment awal sebagai langkah pertama untuk pengambilan keputusan selanjutnya.

Berdasarkan catatan Pusdalops BPBD Jepara, beberapa bangunan yang ikut terdampak musibah angin di antaranya, brak mebel milik Suliyah (48) RT 21 RW 7, brak mebel milik Makrum (67) RT 4 RW 1, brak mebel milik Anggun Susanto (33) RT  4 RW 1 dan brak mebel milik Miftakhul Imam (46) RT 29 RW 1. Rerata mengalami kerusakan ringan hingga sedang pada atap. (*)

Editor : Kholistiono

Warga Undaan Kudus Kembali Lanjutkan Kerja Bakti Akibat Kerusakan Rumah

Warga memasang genting di salah satu rumah yang rusak kena angin puting beliung di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Kecamatan Undaan Kudus kembali melanjutkan kerja bakti di sejumlah rumah yang rusak karena angin kencang, Selasa (14/3/2017).

Diketahui, bencana angin kencang melanda wilayah setempat, Senin (13/3/2017). Ada tiga desa di Kecamatan Undaan, Kudus, yang dilanda bencana angin puting beliung. Yaitu Desa Glagah Waru, Berugenjang dan juga Kalirejo.

Ada sekitar ratusan unit rumah yang rusak. Dengan tingkat kerusakan mulai sedang sampai berat. Warga telah melakukan kerja bakti sejak kemarin.

Camat Undaan Catur Widiyanto mengatakan, kerja bakti dilakukan oleh masyarakat dan juga dari relawan dan BPBD.

“Masyarakat sudah ada yang kerja bakti lebih dulu dengan fasilitas yang seadanya,” katanya di Kudus.

Pihaknya juga meminta bantuan genting kepada BPPKAD dan BPBD serta personel untuk perbaikan rumah. Selain itu, meminta bantuan logistik.

“Undaan itu kompak membantu. Terutama jika ada desa yang kena bencana, maka wilayah lain yang aman pasti membantu. Itu sudah berjalan cukup lama,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

NU Berharap Adanya Sinergi Penanggulangan Risiko Bencana 

Pertemuan stakeholders Penanggulangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Bencana (PRB-PB) Program Steady LPBI NU. ((ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Sinergi dalam penanggulangan risiko bencana dan penanggulangan bencana sangat penting dilakukan. Dengan begitu, dalam melakukan penanggulangan bencana bisa dilakukan secara efektif dan tepat sasaran.

Hal itu disampaikan Rurit Rudiyanto dari Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (PP LPBI) NU di Ruang Rapat Lantai II Gedung Rektorat Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (4/3/2017).

”Masing-masing seperti TNI dan Polri, punya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan bencana, termasuk LPBI NU juga punya SOP sendiri. Biar tidak jalan sendiri-sendiri, maka harus ada sinergi di lapangan,” ujarnya dalam pertemuan stakeholders Penanggulangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Bencana (PRB-PB) Program Steady LPBI NU.

Dia berpandangan, sinergi ini menjadi penting, karena fakta di lapangan, seringkali ada ‘benturan’ antar masing-masing. ”Pentingnya sinergi ini adalah agar tidak ada benturan. Fakta di lapangan, tak jarang saat bencana yang terjadi tidak besar, relawannya banyak. Sebaliknya, ketika bencana yang terjadi besar, relawannya malah sedikit,” paparnya.

Dalam pertemuan yang dibuka oleh Wakil Ketua PCNU Kudus yang juga Wakil Rektor IV UMK, Subarkah itu, Rurit pun berpesan semua pihak membangun kebersamaan dan saling menguatkan. ”Selain itu, perlu ditingkatkan komitmen dan kesadaran dalam menanggulangi bencana,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Rurit juga menyinggung pentingnya untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan Bencana di Kabupaten Kudus, apalagi di kabupaten ini sudah memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

”Secara nasional, memang sudah ada aturan terkait dengan penanggulangan bencana, hanya saja ini bersifat umum di Indonesia. Perda sendiri dibutuhkan, karena diharapkan aturan tersebut berbasis karakter lokal yang ada,” jelasnya.

Ketua pantia kegiatan, M Khoirul Anam, menyampaikan, tujuan pertemuan ini adalah melakukan komunikasi antar-stakeholders dalam penanganan bencana di Kabupaten Kudus dan mensinergikan kegiatan-kegiatan LPBI NU dalam penanganan bencana.

”Tujuan lain, yaitu membangun komunikasi melalui diskusi-diskusi rutin untuk membahas isu-isu tentang bencana daerah dan menginisiasi pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di Kabupaten Kudus,” katanya.

Subarkah menilai, bahwa Kabupaten Kudus sudah waktunya memiliki Perda Penanggulangan Bencana, karena melihat realitasnya, bencana-bencana sering terjadi di kabupaten ini, baik longsor, banjir, dan yang baru terjadi adalah puting beliung di Desa Honggosoco (Jekulo) dan Desa Kandangmas (Dawe) belum lama ini.

”Adanya Perda Penanggulangan Bencana, maka kerja-kerja penanggulangan bencana akan bisa dilakukan secara maksimal dan terkoordinasi dengan baik. Semoga Perda Penanggulangan Bencana di Kabupaten Kudus bisa secepatnya terwujud,” harapnya.

Sementara itu, pertemuan stakeholders PRB-PB LPBI NU Kabupaten Kudus ini dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain dari BPBD Kudus, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), UMK, TNI, Polri, dan beberapa pimpinan dari industri (perusahaan).

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Pasuruan Kidul Kudus Kebanjiran

Warga berada di salah satu lahan yang terendam banjir di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di salah satu lahan yang terendam banjir di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) lahan pertanian di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus tak bisa digarap. Hal itu disebabkan dengan adanya banjir yang menggenangi lahan pertanian, Selasa (7/2/2017).

Seperti diungkapkan warga setempat, Shodikin. Diungkapkan kalau luas lahan pertanian yang terendam mencapai sekitar 150 Ha. Beruntung, tak semua lahan sedang ditanami pemiliknya. “Di sini kebanyakan baru penyemaian padi, jadi yang merugi ya yang baru mereka para petani yang sudah menyemaikan padinya,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi.

Menurutnya yang juga seorang petani, menuturkan, selain tanaman padi, sejumlah petani ada juga yang menanam buah melon. Melihat situasi lahan yang terendam air,  maka besar kemungkinan melon gagal panen.

Warga khawatir jika genangan tak kunjung surut bakal masuk ke permukiman warga. Sebab arus air yang sangat deras. Terlebih, cuaca hujan saat ini masih terus terjadi. Pihaknya berharap penanganan pemerintah. Karena, tanggul yang membendung Sungai Gelis juga sudah penuh. Itu berpotensi melimpas.

Editor : Akrom Hazami

 

Braakk! Angin Kencang Robohkan Pagar Pengaman Sekeliling Alun-alun Purwodadi

Pengguna jalan melintas di dekat pagar pengaman di sekeliling Alun-alun Purwodadi, Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pengguna jalan melintas di dekat pagar pengaman di sekeliling Alun-alun Purwodadi, Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pengendara yang melintasi kawasan Alun-alun Purwodadi, Rabu (3/1/2017) siang sempat dibikin kaget. Penyebabnya, ada banyak pagar seng pengaman proyek alun-alun yang mendadak roboh saat mereka sedang melintas. Beberapa kendaraan bahkan sempat terkena pagar seng yang roboh ke arah jalan raya tersebut.

“Tidak apa-apa. Untung tadi hanya kena ujung pagar seng saja. Saya tadi kebetulan mengambil jalur agak di tengah jadi sempat nyenggol dikit. Kalau tadi ambil jalur mepet kanan pasti kena lebih parah,” kata pengendara yang mengaku bernama Citra itu.

Dari pantauan di lokasi, pagar seng yang roboh ada beberapa titik. Yakni, di sebelah timur di depan kantor BRI cabang Purwodadi ada dua titik pagar yang roboh.

Kemudian, sisi selatan di depan kantor Setda Grobogan. Sementara di depan Masjid Baitul Makmur atau dis ebelah barat ada dua titik.

Robohnya pagar pengaman setinggi 2 meter itu disebabkan ada hembusan angin kencang, sekitar pukul 13.30 WIB. Saat angin berhembus, kondisi cuaca sebenarnya cukup cerah. Di atas langit kota Purwodadi saat itu hanya terlihat mendung tipis.

Ambruknya pagar pengaman proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi itu tidak hanya mengagetkan pengendara yang melintas. Sejumlah warga yang sedang makan di warung PKL sekitar alun-alun juga sempat dibikin terkejut. Pasalnya, robohnya pagar itu sempat menimbulkan suara cukup keras.

“Suaranya keras banget tadi. Semula saya kira ada kendaraan yang tabrakan. Ternyata pagar seng ambruk kena angin,” kata Robi, salah seorang warga yang saat itu tengah makan siang di warung PKL di sebelah utara alun-alun. 

Editor : Akrom Hazami

Rumah Gebyok di Mojoluhur Pati Terbakar

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwikyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwiknyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah rumah gebyok milik Suwiknyo (55), warga Desa Mojoluhur RT 8 RW 1, Kecamatan Jaken, Pati, terbakar, Rabu (14/12/2016) sekitar pukul 14.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 350 juta, karena rumah bagian depan dan belakang lengkap dengan isinya ikut terbakar.

Dwi Santoso (17), salah satu saksi mengatakan, asap hitam keluar dari rumah bagian belakang. Dia berlari menuju lokasi untuk mematikan sekring listrik dan mencoba menyelamatkan barang berharga.

Namun, api telah menjalar cepat dan melalap bagian atap rumah hingga terdengar suara ledakan yang berasal dari dalam rumah. “Setengah jam kemudian, ada mobil tangki pengisian air minum melintas. Warga menghentikan mobil dan meminta tolong supaya membantu memadamkan kebakaran,” ujar Dwi.

Diduga, kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. Percikan api mengenai bangunan yang terbuat dari kayu itu,  hingga terbakar dan meluas. Selang beberapa lama, tiga unit mobil pemadam kebakaran Pemkab Pati tiba di lokasi.

“Berdasarkan keterangan dari korban, rumah ditinggal dalam kondisi hanya menghidupkan lemari es. Semua peralatan elektronik lainnya tidak dalam keadaan hidup. Berhubung rumah terbuat dari kayu, api menjadi cepat menjalar hingga meludeskan bangunan rumah,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Saat terjadi kebakaran, penghuni tidak berada di rumah sehingga tidak ada antisipasi sebelumnya. Pihaknya mengimbau kepada warga untuk berhati-hati dan waspada terhadap instalasi listrik di rumah, terutama rumah kayu yang mudah terbakar. Pasalnya, korsleting menjadi salah satu penyebab kebakaran yang sering terjadi di Pati.

Editor : Akrom Hazami

 

Bencana Ancam Kudus, Ini yang Dilakukan BPBD

Petugas BPBD Kudus mengecek kondisi perahu di kantor BPBD setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas BPBD Kudus mengecek kondisi perahu di kantor BPBD setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus menyiagakan diri untuk menghadapi ancaman bencana seiring tingginya intensitas hujan beberapa waktu terakhir ini.

Kepala BPBD Kudus Bergas Catursasi Penanggung mengatakan, pihaknya akan mengerahkan 10 relawan yang siaga 24 jam. Mereka akan siaga bergantian di kantor BPBD setempat.

“Jumlah yang siaga di kantor, biasanya bertambah. Sebab jumlah relawan juga sangat banyak. Namun 10 relawan yang pasti selalu siap, bahkan tengah malam sekalipun,” katanya kepada MuriaNewsCom di kantor BPBD setempat, Rabu (7/12/2016).

Menurutnya, selama ini BPBD memang banyak terbantu dengan adanya relawan yang selalu siap. Bahkan, di antara relawan itu memiliki kemampuan yang unggul dan spesialis. Seperti halnya ahli kapal, ahli mesin dan keahlian lainnya.

Jumlah tenaga ahli dari relawan, sekitar 15 personel dari 30 relawan yang terdaftar. Keberadaan relawan sangat membantu mengingat PNS di BPBD hanya 10 orang,  dan dianggap terbatas tanpa adanya relawan.

Sementara antisipasi bencana yang dilakukan saat ini adalah menyiagakan belasan unit perahu, meliputi perahu karet tujuh buah, perahu lipat satu buah dan perahu lainnya.

“Sekarang ini sudah masuk musim hujan. Dan daerah-daerah rawan bencana terus dipantau. Kami sudah lakukan koordinasi di masing-masing kecamatan dan perangkat desa lainya,” ujarnya.

Selain itu, alat seperti tenda darurat juga telah diperbaiki. Bergas mengatakan, semua perlengkapan terus dicek. Kapal-kapal karet yang rusak, seperti karet sobek atau mesin macet, saat ini dalam proses perbaikan.

Sedangkan logistik, dia mengambil kebijakan tahun ini tidak mengadakan. Namun itu tidak mengurangi kebutuhan lantaran dia meyakini provinsi akan memenuhi kebutuhan jika memang nantinya diharapkan butuhkan. 

Editor : Akrom Hazami