Puluhan Rumah di Desa Gedangan Jepara Masih Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan rumah di Desa Gedangan, Kecamatan Welahan masih tergenang banjir, meskipun curah hujan cenderung berkurang, Selasa (20/2/2018). Pantauan terakhir, pada Senin (19/2/2018) malam, ketinggian air di tempat tersebut mencapai 70 sentimeter.

Pujo Prasetyo Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara mengatakan, ada 49 rumah warga di RT 1 RW 2 dan RT 3 RW 1 terendam. Menurutnya, ketinggian air bervariasi, mulai 30 sentimeter, dan terdalam 70 sentimeter.

“Ini sudah mulai surut, mudah-mudahan banjir segera menyusut seiring cuaca yang cerah. Genangan air sudah terjadi sejak Minggu (11/2/2018),” ujarnya, Selasa siang.

Menurutnya, penyebab banjir diduga karena tak optimalnya pintu air Sungai Welahan Drainage (SWD) I. Pintu tersebut merupakan penyekat antara Sungai Serang dan SWD I.

Namun, karena adanya kerusakan di pintu air, sehingga air masih dapat menerobos di antara celah pintu air. “Pintunya masih berfungsi, namun karena pintunya keropos sehingga menyisakan lubang. Dari lubang tersebut air dapat masuk ke Sungai Serang dan akhirnya menggenangi pemukiman warga,” kata Pujo.

Ia menyebut, pemerintah desa setempat sebenarnya punya niatan memperbaiki kerusakan tersebut. Namun apa daya, mereka tak punya kewenangan, karena pintu air tersebut merupakan wewenang Pemkab Jepara.

“Sampai saat ini, penduduk masih bertahan di rumah masing-masing, tidak ada yang mengungsi,” terang Pujo.

Editor : Supriyadi

Sekda Kudus Dukung LPBI NU Deteksi Dini Bencana Banjir

Sekda Kudus Noor Yasin saat memberikan materi tentang deteksi bencana banjir. (LPBI NU Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Lembaga Penangulangan Bencana dan Perubahan iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengadakan workshop penyusunan sistem peringatan dini bencana banjir di Kabupaten Kudus. 

Kegiatan tersebut dihadiri beberapa organisasi perangkat daerah. Di antarnya BPBD Kudus, Diskominfo,  Dinas Sosial,  Dinas Kesehatan,  Dinas Kesbagpol, PSDA, PMI, ORARI,  RAPI, pramuka, dan 2 desa yang menjadi pailot projek Desa Sambung dan Desa Karangrowo.

Gufron, Ketua LPBI NU Kudus mengatakan, kegiatan tersebut untuk membangun sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam penyusunan sistem peringatan dini. Dengan begitu, bencana banjir bisa diantisipasi.

”Ini untuk kepentingan Kudus. Karena itu, semuanya harus bersinergi,” katanya.

Sementara itu, Sekertaris Daerah (Sekda) Kudus memberikan apresiasi kepada LPBI NU yang menginisiasi kegiatan deteksi dini bencana banjir dengan kemasan workshop penyusunan sistem peringatan dini banjir tingkat kabupaten.

Letak Geografis kudus, lanjutnya, yang sering kali terkena bencana banjir saat musim penghujan. Hal itu menjadi perhatian untuk deteksi dini banjir. Apalagi saat ini gencar-gencarnya pembangunan insfrastruktur jalan di berbagai wilayah, menjadikan beberapa titik menjadi banjir seperti kejadian banjir tahun 2014.

”Maka dari itu dengan adanya kegiatan deteksi dini, kita bisa mengurangi resiko bencana banjir,” terangnya. 

Ia mencontohkan, pemerintah sudah melakukan relokasi warga Desa Menawan yang rawan longsor, tepatnya Dukuh Kambangan menuju ke tempat yang aman. Saat ini, prosesnya juga  tinggal menyelesaikan kelengkapan administrasi.

” Berkaca dari itu, kami harap kegiatan deteksi dini bisa membuat masyarakat melek dan menjaga lingkungan agar tidak terkena bencana, baik longsor,  banjir dan kebakaran,” harapnya.

Editor: Supriyadi

Grobogan masih Aman dari Banjir

Kondisi Sungai Lusi di Purwodadi debit airnya masih minim sehingga belum menimbulkan ancaman banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi Sungai Lusi di Purwodadi debit airnya masih minim sehingga belum menimbulkan ancaman banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski hujan deras sudah sering mengguyur wilayah Grobogan namun sejauh ini elevasi sungai di kawasan itu masih cukup aman. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pengairan Grobogan Subiyono ketika dimintai tanggapannya seputar kondisi sungai saat ini.

“Curah hujan memang sudah lumayan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Namun, dari hasil monitoring yang kita lakukan, kondisi sungai debitnya masih minim. Jadi, untuk bahaya banjir masih cukup jauh kalau melihat debit yang ada sekarang ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, meski kondisinya belum mengkhawatirkan namun bukan berarti pihak BPBD bersikap santai. Tetapi, kewaspadaan terus dilakukan oleh petugas penangulangan bencana yang diminta selalu siaga penuh setiap harinya. Hal itu dilakukan karena bencana itu datangnya tiba-tiba.

Selain itu, pihaknya saat ini juga sudah menyiapkan peralatan evakuasi bencana banjir yang dimiliki. Seperti, tenda pleton, tenda pengungsi, tenda regu, tenda keluarga, lima perahu karet, pelampung, genset dan logistik.

“Berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya ada sembilan kecamatan yang masuk wilayah rawan bencana  banjir. Yaitu Kecamatan Purwodadi, Ngaringan, Klambu, Brati, Grobogan, Gubug, Tegowanu, Kedungjati dan Godong. Kesembilan kecamatan tersebut rentan banjir karena dilewati tujuh sungai besar. Yaitu Glugu, Lusi, Senthe, Serang, Tuntang, KB-I dan Jragung,” katanya.

Selain menyiapkan peralatan, lanjut Agus, pihaknya juga memonitor kondisi tanggul di sejumlah sungai besar. Hal itu dilakukan karena penyebab banjir selama ini adalah jebolnya tanggul ketika elevasi sungai tersebut melebihi ambang batas. Selain itu, kondisi tekstur tanah di Grobogan yang relatif labil menyebabkan kondisi tanggul yang sebelumnya kering bisa longsor setelah terguyur hujan deras.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Banjir di Wilayah Kota, Warga Kudus Harap Saluran Air Cepat Diselesaikan

Kondisi jalan yang tergenang air usai hujan siang tadi di kawasan Kecamatan Kota Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi jalan yang tergenang air usai hujan siang tadi di kawasan Kecamatan Kota Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu warga Mlati Lor, Kecamatan Kota, Ahsin (45) mengatakan, pembangunan saluran air ini harus dipercepat. Supaya disaat ada hujan seperti saat ini, Senin (21/3/2016) bisa langsung mengalir airnya.

”Musim hujan saat ini memang tidak bisa diprediksi. Setidaknya pembangunan saluran ini bisa dipercepat agar bisa langsung berfungsi. Kalau bisa diperdalam lagi kedalamannya,” tuturnya.

Dia menuturkan, pihak pemerintah kini memang tengah melakukan pengerjaan saluran air yang berada di Jalan Pramuka, yakni di Mlati Norowito. Pihaknyanya pun berharap kedepannya saluran tersebut dapat mengalirkan air hujan dengan baik dan tidak meluber hingga menggenangi jalan warga.

Hal serupa diiyakan warga Mlati Kidul, Subiyanto (55) dia mengungkapkan, sebagai warga juga harus bersabar, karena pembangunan saluran air tersebut baru dimulai. ”Mudah-mudahan saluran ini bisa bermanfaat, dan dapat dibangun dengan baik,” tuturnya.

Ia pun mengaku heran, kini jalanan di Kudus terutama di kawasan perkotaan sering banjir tiap kali hujan. ”Beda kalau banjirnya berada di tepi sungai itu bisa dimaklumi. Tapi inikan di kota. Saya tadi juga baru melintasi alun-alun, ada genangan airnya cukup tinggi,” tegasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Banjir juga Landa Mlati Norowito Kudus

Warga berada di salah satu ruas jalan di Mlati Norowito, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga berada di salah satu ruas jalan di Mlati Norowito, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat yang menguyur Kudus, Senin (21/3/2016), sekitar dua jam lamanya, membuat sejumlah wilayah, banjir.

Peristiwa banjir, meski singkat, namun cukup menghambat aktivitas warga. Ya, banjir tersebut juga terjadi di wilayah pusat kota. Misalnya saja di Desa Mlati Norowito, Kota. Di wilayah itu, banjir menggenangi permukiman.

“Hujan tadi terjadi sekitar pukul 12.30 WIB hingga 14.30 WIB, dan wilayah Mlati Norowito, khususnya gang 3 ini terendam air. Baik itu yang berada di jalan kampung, atau juga pelataran warga,” kata Kastubi, salah satu warga Mlati Norowito.

Dari pantauan MuriaNewsCom, genangan air tersebut berada di sebagian wilayah Mlati Norowito, Jalan Menur, perempatan Bejagan, Mlati Kidul, dan Mlati Lor.

“Untuk ketingian sendiri dari sebetis orang dewasa hingga sepaha orang dewasa. Selain itu, penyebab dari genangan air ini kemungkinan disebabkan saluran air dan sungai kecil yang berada di tengah permukiman, dipenuhi sampah,” ujarnya.

Dia menambahkan, selain sampah, saluran air juga semakin dangkal. Sehingga setiap kali hujan lebat dalam waktu yang lama, maka wilayah itu akan terendam banjir.

Editor : Akrom Hazami

Banjir, Kecamatan Jati Kudus Butuh Perbaikan Drainase Segera

Banjir yang terjadi siang tadi Senin (21/3/2016) usai hujan lebat di Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Banjir yang terjadi siang tadi Senin (21/3/2016) usai hujan lebat di Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Beberapa daerah di Kecamatan Jati, selalu menjadi langganan banjir ketika hujan tiba. Seperti halnya hujan deras siang tadi Senin (21/3/2016), sampai mengakibatkan banjir di daerah sekitar Kecamatan Jati.

Camat Jati Harso Widodo mengatakan, banjir yang menerjang daerahnya, memang disebabkan dari cuaca hujan yang tinggi. Namun, selain itu, banjir dapat terjadi lantaran tidak siapnya saluran air yang ada di sana.

”Banjir yang ada di sini setinggi 40 cm. Bahkan beberapa sampai masuk pemukiman warga dengan arus yang cukup tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, banjir yang menimpa Jati berada di Desa Jati Wetan dan Tanjung Karang. Hal itu disebabkan oleh saluran gorong-gorong proliman yang tidak normal. Akibatnya, aliran airnya tidak bisa lancar sehingga airnya membeludak hingga pemukiman warga.

”Sebenarnya kalau arus nya di proliman lancar, tidak akan terjadi bencana seperti itu. Namun karena tidak begitu lancar, karena sampah dan lainnya, maka banjir terjadi. Makanya di sini butuh sekali normalisasi dan penanganan segera,” imbuhnya.

Terkait hal tersebut, pihak kecamatan sudah beberapa kali mengusulkan adanya normalisasi. Usulan dilakukan tiap tahun. Yaitu, pada 2014 dan 2015 kemarin. Dia berharap dapat segera direspon untuk kemudian dibenahi agar masyarakat tidak lagi was was dengan banjir.

”Kalau normalisasi yang dibutuhkan itu, mulai dari pembongkaran, kemudian dikeruk untuk di dalamkan, kemudian juga dilebarkan. Sekian itu, arus menuju sungai juga harus ditinggikan untuk menampung lebih banyak air,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siaga Bencana di Blora, Meniru Jepang

Apel bersama siap siaga bencana oleh Pemkab Blora, sebagai leading BPBD Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Apel bersama siap siaga bencana oleh Pemkab Blora, sebagai leading BPBD Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Blora, dengan segala potensi bencana yang mengancam. Tentunya membuat stakeholder di Blora bersiap sebelum terjadi bencana sebagai upaya preventif. Pj Bupati Blora mengungkapkan, di Jepang siaga bencana sudah menjadi budaya. Seperti yang diinginkan oleh Pj Bupati, di Blora pun demikian.

”Siaga bencana harus menjadi budaya,” kata Ihwan Sudrajat saat memimpin apel bersama siaga bencana depan kantor dindukcapil Jalan Sudarman Blora, Jumat (5/2/2016).

Baca juga : Tagana Blora Siaga Hadapi Bencana Banjir

Ihwan mengungkapkan wujud kesiapan menghadapi bencana merupakan hal yang sangat diperlukan bagi masyarakat Blora. Mengingat Blora dengan potensi bencana seperti banjir bandang, puting beliung, dan tanah longsor. Bukan tidak mungkin, bencana tersebut akan menghantui warga Blora saat musim rawan atau musim hujan saat ini.

Sebagai upaya nyata pemkab dalam mengatasi dan persiapan menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Dikukuhkanlah relawan Surosentiko yang diharapkan bisa menjadi pelopor kesiapsiagaan menghadapi bencana di wilayah Blora.

”Saya harap hal ini bisa terus dilaksanakan dan membudaya. Tidak hanya relawan, tapi semuanya merupakan pelopor kesiapsiagaan menghadapi dan mengantisipasi bencana,” kata Ihwan.

Baca juga :

Musim Hujan Tiba, BPBD Blora Sosialisasi Hadapi Bencana Pada Warga

Blora masih Diintai Bencana

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Imbauan BPBD Grobogan Kepada Kades untuk Antisipasi Bencana Banjir

Warga Desa Kemloko memperbaiki tanggul yang longsor dibantu sejumlah anggota Polsek Godong dan Koramil Godong (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga Desa Kemloko memperbaiki tanggul yang longsor dibantu sejumlah anggota Polsek Godong dan Koramil Godong (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyaknya sungai yang melintas di wilayah Grobogan membuat daerah ini rawan bencana banjir pada saat musim hujan seperti sekarang. Terkait dengan kondisi tersebut, Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono meminta para kepala desa agar ikut membantu mencegah terjadinya bencana banjir.

Salah satu caranya adalah ikut memonitor kondisi tanggul sungai yang ada di wilayahnya masing-masing. Jika menemukan ada tanggul yang kondisinya membahayakan supaya segera lapor, sehingga bisa langsung ditangani.

“Mengingat keterbatasan personel, kita tidak bisa memantau kondisi tanggul setiap saat. Untuk itu, pihak desa khususnya kades, saya minta bantuannya untuk membantu memonitor tanggul sungai,” kata Agus.

Dikatakan, selain curah hujan yang sangat tinggi, faktor penyebab banjir juga terjadi akibat tanggul sungai jebol. Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Gubug dan Tegowanu tahun lalu.

“Oleh sebab itu, jika dilakukan penanganan cepat, maka kerusakan tanggul tidak akan semakin parah. Dengan demikian, kalau kondisi sungai penuh maka airnya tidak akan keluar menerjang sawah atau perkampungan,” imbuhnya.

Sementara itu, sebagian warga sudah berupaya sendiri untuk memperbaiki tanggul yang melintas di desanya. Seperti yang dilakukan warga Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Selasa (26/1/2016) dengan bergotong royong memperbaiki tanggul sungai.

Selain warga setempat, perbaikan tanggul yang longsor juga dibantu sejumlah anggota Polsek Godong dan Koramil Godong.

Editor : Kholistiono