Hari Pahlawan, Polisi dan TNI Pati Bedah Rumah Janda Miskin di Bogotanjung

Polisi, TNI dan relawan melakukan peletakan batu pertama pada program bedah rumah di Desa Bogotanjung, Gabus, Jumat (10/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati, Kodim 0718/Pati bersama relawan Kabupaten Pati memanfaatkan momentum Hari Pahlawan untuk membedah rumah seorang janda miskin di Desa Bogotanjung, Gabus, Pati, Jumat (10/11/2017).

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, rumah milik janda tidak mampu bernama Ahsiyah (47) sangat memprihatinkan. Setiap hari, ia bersama putrinya yang berusia sepuluh tahun tidur di tanah beralaskan kasur sederhana.

Rumah kecil berdinding anyaman bambu dan berlantaikan tanah itu semakin parah saat diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Pascabencana tersebut, rumah Ahsiyah semakin tidak layak.

“Kami menggandeng berbagai pihak untuk melakukan survei. Rumah Bu Ahsiyah memang layak untuk dibantu, akhirnya kami agendakan program bedah rumah,” ujar AKBP Maulana.

Menurutnya, agenda sosial dan kemanusiaan perlu digalakkan untuk memperingati Hari Pahlawan. Semangat dan perjuangan para pahlawan mesti diresapi untuk membantu sesama.

“Kita ini generasi bangsa. Para pilar bangsa ini, kita isi dengan melanjutkan perjuangan para pendahulu dengan kebaikan. Kita, Polri, TNI dan relawan sama-sama bersatu untuk mengasah hati membantu sesama yang membutuhkan,” imbuhnya.

Ahsiyah sempat meneteskan air mata saat dimintai keterangan wartawan. Dia tidak mengira bila rumahnya dibedah dan dibangun berdindingkan tembok.

Karena itu, Hari Pahlawan membawa berkah tersendiri bagi Ahsiyah. Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang sudah membantu.

Selain Kapolres, sejumlah pihak yang hadir dalam bedah rumah tersebut, antara lain Kasdim 0718/Pati Mayor Inf Solihin, Kabag Ops Kompol Sundoyo, Kasat Sabhara AKP Sugino, kepala desa setempat Wartono, dan relawan Kabupaten Pati.

Editor: Supriyadi

Dibuatkan Rumah Baru, Pasutri Asal Bawu Jepara Ini Tak Lagi Was-was Tertimpa Atap

Pasangan Sanimun dan Rasmi berada di rumah barunya, yang dibuat secara gotong royong oleh Komunitas Jepara Rescue. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sanimun (75) dan Rasmi (70) pasangan suami istri warga Desa Bawu, RT 16/RW 3, Kecamatan Batealit-Jepara kini dapat tidur pulas. Mereka tak lagi khawatir tertimpa atap rumah yang keropos, karena keduanya kini telah dibuatkan rumah baru, oleh komunitas relawan Jepara Rescue. 

Meskipun sangat sederhana, rumah yang terbuat dari rangkaian besi  ringan dan bertembok papan fibercement, sudah membuat pasangan itu berbahagia. 

Namung saged maturnuwun, alhamdulillah wong didamelke griya ngeten niki (Hanya bisa mengucapkan terimakasih, alhamdulillah sudah dibuatkan rumah seperti ini),” ujar Rasmi, Sabtu lalu. 

Saat malam tiba, keduanya tak perlu lagi mengungsi ke rumah anaknya karena was-was tertimpa atap. Bahkan, kini rumah barunya bisa ditempati oleh keduanya dan seorang cucunya. 

Rumah baru pasangan itu, terletak tak jauh dari rumah lawasnya yang berlubang pada bagian atap. Kepada MuriaNewsCom, ia bercerita, gubuk yang dulunya ditinggali sebenarnya adalah sebuah dapur. Dulu keduanya menempati sebuah rumah dari papan kayu yang lebih kokoh. 

Proses pembuatan rumah milik Sanimun dan Rasmi dilakukan relawan bersama warga. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Namun, semenjak putri bungsunya menikah, keduanya lebih memilih untuk menghadiahkan rumah tersebut kepada anaknya tersebut. Sementara keduanya pindah ke bangunan dapur yang berada di belakang rumahnya. 

Sekitar bulan Agustus tahun ini atau tiga bulan lalu, musibah menimpa pasangan tersebut. Atap dapur yang dijadikan peraduan, roboh. Kabar tersebut kemudian terdengar oleh seorang relawan Jepara Rescue yang kebetulan menjabat pengurus Rukun Tetangga (RT) setempat. Lalu pada akhir bulan Agustus, serombongan relawan pun datang ke kediaman mereka untuk membuatkan rumah baru. 

Ahmad Muhlisin, Ketua Relawan Jepara Rescue menyebut setelah mendengar laporan tersebut pihaknya lantas berinisiatif untuk membantu. Setelah beberapa saat menggalang dana dari anggota komunitas dan beberapa perusahaan akhirnya terkumpulah dana sebesar lebih kurang Rp 10 juta. 

Lalu pada hari Rabu (30/8/2017), gotong royong pun dilakukan untuk membuatkan rumah baru bagi Sanimun dan Rasmi. Dalam kurun waktu sehari, rumah berpondasi 4×10 meter itu selesai dibangun. 

Menurut Muhlisin yang akrab dipanggil Bondan itu, rumah milik pasangan tersebut sudah pernah diusulkan dlam pembenahan RTLH. Namun sayang, hingga kini belum ada realisasi. 

Potret rumah lawas milik Sanimun dan Rasmi. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

“Pembangunan rumah sederhana untuk Mbah Sanimun dilakukan dalam jangka sehari, melibatkan 180 personel relawan kami yang kebanyakan telah ahli dibidang pembangunan, baik dalam las ataupun rancang bangun,” ujarnya. 

Sementara itu, Petinggi (Kades) Bawu Afif Rokhani berterimakasih atas bantuan relawan tersebut. Ia menyebut aksi tersebut ikut mengurangi jumlah RTLH yang ada diwilayahnya. Selain itu, hal tersebut merupakan bentuk kegotongroyongan dalam mengatasi musibah. 

Ia menyebut, di wilayahnya ada sekitar 500 rumah tak layak huni. Namun demikian, 200 diantaranya telah tersentuh pembenahan RTLH bantuan dari pemerintah kabupaten. Kedepan, ia berencana untuk mengajukan bantuan rehab RTLH ke Pemprov Jateng. 

“Aksi yang dilakukan ini merupakan bentuk nyata bantuan kepada warga kami yang terkena musibah,” tutup Afif. 

Editor: Supriyadi

Bantuan Bedah Rumah Justru Bikin Mumet Warga Miskin, Begini Reaksi Pemkab Jepara

Satu keluarga di Jepara tengah bercengkerama di teras rumah reot. Pemkab Jepara tiap tahun selalu menganggarkan bantuan untuk bedah rumah tak layak huni. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara tiap tahun mengalokasi anggaran untuk melakukan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH). Hanya saja, sering ditemukan bantuan itu justru membuat warga pemilik rumah tak layak itu menjadi lebih pusing.

Pasalnya, bantuan bedah rumah itu diberikan dalam bentuk material bahan bangunan. Sehingga pemilik rumah harus mencari uang tombokan untuk proses pembangunannya.

Di beberapa daerah bahkan calon penerima bantuan ini mengundurkan diri, lantaran tak mampu mencari tombokan uang untuk pembangunan rumah tersebut.

Menanggapi hal ini, Pemkab Jepara menyatakan tengah mengevaluasi pemberian bantuan bedah rumah tak layak huni itu.

“Kita terus mengevaluasi, sebab sebelumnya bantuan yang diberikan berupa bahan bangunan, akan tetapi penerima justru tak bisa memanfaatkan karena terbentur biaya pembangunan,” ujar Wakil Bupati Dian Kristiandi, Sabtu (16/9/2017). 

Ia mengungkapkan, program tersebut selalu ada setiap tahun. Pada 2018 mendatang Pemkab Jepara telah mengalokasikan anggaran untuk membantu warga membenahi RTLH.

Total ada sekitar 2.000 unit rumah yang akan dibantu dengan nilai masing-masing sebesar Rp 15 juta. 

Selain efektivitas penyaluran, Dian juga akan melakukan penyelarasan bantuan serupa yang berasal dari anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah pusat. Hal itu agar bantuan dapat didistribusikan secara merata dan adil bagi masyarakat. 

Tahun depan, lanjut Dian, pemerintah pusat berencana memberikan bantuan kepada RTLH di wilayah Jepara. Total bantuan yang direncanakan adalah 400 unit.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Pemprov Jateng apakah ada bantuan untuk rumah tak layak huni. Jika ada, maka kami akan menyinkronkannya dengan bantuan yang berasal dari anggaran pemerintah kabupaten Jepara dan pemerintah pusat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Warga Bangsri Jepara Urunan Perbaiki Rumah Mbah Temu Yang Hampir Roboh

Warga Desa Bangsri, Jepara, bergotong royong memperbaiki rumah janda tua secara swadaya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak tega melihat rumah Mbah Temu (74) hampir roboh, warga Rukun Warga 12, Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara, urunan merenovasi rumah janda tua itu. 

Haryanto warga setempat mengungkapkan, kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya rembug warga. Dengan iuran secara sukarela, mereka lantas mengumpulkan sumbangan sebagai modal untuk memperbaiki rumah kayu berukuran 5×7 meter itu.

Menurutnya, Mbah Temu merupakan seorang janda tua miskin yang memiliki tiga anak. Dua anaknya yang juga miskin, kini merantau ke luar daerah. Sementara anaknya yang terakhir tinggal bersamanya, hanya saja ia tak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Ia (Mbah Temu) rumahnya telah lapuk termakan usia. Lalu kami dari warga sekitar berinisiatif dan beriuran secara swadaya untuk melakukan perbaikan rumahnya,” ujarnya, Senin (14/8/2017). 

Haryanto menyebut, untuk memperbaiki rumah Mbah Temu membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Rencananya, rumah berdinding kayu itu akan direnovasi menjadi rumah tembok.

Untuk perbaikannya, warga mengerjakannya secara bergotong royong. “Alhamdulilah banyak warga yang membantu program ini. Warga akan mengerjakan perbaikan secara bahu membahu bersama-sama untuk memperbaiki rumah Mbah Temu,” ucapnya. 

Selain rumah Mbah Temu, rencananya warga akan memperbaiki rumah warga tak mampu lainnya. Haryanto menyebut, ada dua rumah warga yang akan diperbaiki. 

“Kami rencananya akan memperbaiki tiga rumah warga yang akan dibangun. Mereka semua adalah warga tak mampu di lingkungan kami,” tutur dia.

Sementara itu Mbah Temu mengaku hanya bisa terharu atas inisiatif warga memperbaiki rumahnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Semoga lebih bermanfaat ketika nanti jadi,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha

Sunani Kaget Rumahnya Jadi Mewah Setelah Dibangun Kodim 0733 Semarang

Sunani (kiri) berbincang dengan personel TNI Kodim 0733 BS Semarang usai rumahnya direhab dalam program TMMD Reguler Ke-99 TA 2017.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Sunani (67) warga Kalisegoro RT 01 RW I tak menyangka rumahnya yang sebelumnya reyot dan tak layak huni, pada Rabu (2/8/2017) sudah berubah menjadi megah setelah direhab dalam Program TNI Manunggal Membangun Desa Reguler Ke-99 TA 2017.

Kodim 0733 BS Semarang selaku pelaksana TMMD Reguler di wilayah Kota Semarang pada kegiatan ini berhasil merehab 20 Rumah Tak Layak Huni (RTLH) warga Kalisegoro. 

Pasiter Kodim 0733 BS Semarang mewakili Dandim 0733 BS Semarang Letkol Inf M Taufiq Zega mengatakan bahwa rehab RTLH termasuk over prestasi. Pasalnya yang sebelumnya bangunan rumah dindingnya setengah bata dan setengah kayu, namun pada pelaksanaannya justru dibuat dinding bata semua.

Selain itu lantainya pun tidak plesteran semen, melainkan pasangan keramik. “Pada masing-masing rumah juga kita buatkan teras dari baja ringan”, ungkap Kapten Inf Suradi.

Sunani yang menerima penyerahan rumah bercat hijau tersebut mengaku kaget dan bahagia, karena rumahnya justru dibuat dengan dinding tembok. padahal sebelumnya merupakan pasangan papan dan sudah banyak yang rapuh.

“Kula nggih sagetipun matur sembah nuwun dateng bapak-bapak tentara. Mugi-mugi Gusti Allah ingkang paring piwales (Saya bisanya bilang terima kasih kepada bapak tentara, semoga Allah yang membalas)”, ungkap Sunani.

 

Tiap Tahun, Ada 3 Ribu Rumah Tak Layak Huni di Rembang yang Bakal Dibedah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang menargetkan bakal membedah rumah tidak layak huni untuk setiap tahunnya sebanyak 3 ribu unit. Berdasarkan data dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapermades) Jawa Tengah di tahun 2015, jumlah total rumah tidak layak huni di Kota Garam ini mencapai 23 ribu unit.

“Per tahunnya nanti ada 3 ribu rumah ditata. Apalagi tahun 2017 ini, kita ada bantuan dari Kementerian Perumahan untuk bedah 1.000 unit rumah tidak layak huni. Sedangkan  dari anggaran Pemprov Jawa Tengah, ada 870 rumah dan Pemkab Rembang sendiri menyasar 1.100 rumah,” kata Bupati Rembang Abdul Hafidz.

Dia melanjutkan, jika hal ini berjalan secara maksimal setiap tahunnya, maka sampai 5 tahun pemerintahan ke depan, mengenai masalah rumah tidak layak huni di Rembang dapat dituntaskan.

Ia juga mengungkapkan, bahwa kegiatan bedah rumah juga bisa dijadikan sebagai upaya untuk menurunkan angka kemiskinan di Rembang. “Perbaikan rumah tidak layak huni juga sebagai prioritas. Sehingga menjadi salah satu langkah percepatan menurunkan angka kemiskinan. Sebab saat ini wilayah Rembang masih dilanda kemiskjnan dengan prosentase sekitar 19 persen. Dan mudah-mudahan dengan bedah rumah ini bisa menurunkan angka kemiskinan di kisaran titik 11 persen,” ungkapnya.

Ia mengakui, bahwa menurunkan ke angka 11 persen memang sangat berat. Namun, pihaknya akan terus berupaya untuk bisa mewujudkan itu. “Memang berat, tapi bagaimanapun harus dijalankan. Mengingat sudah ditetapkan dalam peraturan daerah. Selain itu Rembang juga mempunyai banyak potensi yang akan dioptimalkan. Kami optimis bisa mewujudkan kegiatan bedah rumah yang akan ditargetkan sebanyak 3 ribu rumah tiap tahunnya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Wow, Tiap Tahun, Permohonan Bantaun Renovasi Rumah di Jepara Meningkat

Pasutri di Desa Karanggondang Jepara yang tinggal di sebuah gubug tak layak huni (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pasutri di Desa Karanggondang Jepara yang tinggal di sebuah gubug tak layak huni (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara memiliki program renovasi rumah tidak layak huni yang ditangani oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) setempat. Dari data yang ada, setiap tahun pengajuan bantuan renovasi tersebut meningkat.

Kepala Dinsosnakertrans Jepara M Zahid melalui Kasi Rehabilitasi Sosial Joko Setyowanto mengatakan, tahun ini sampai awal Mei ini yang sudah mengajukan untuk realisasi tahun depan sudah ada 600 lebih. Sedangkan tahun lalu ada 985. Sedangkan tahun 2014 lalu yang mengajukan ada sekitar 554, serta tahun 2013 lalu ada sekitar 436.

”Itu tersebar di seluruh wilayah di Kabupaten Jepara. Paling banyak ada di Kecamatan Mlonggo dibanding Kecamatan lainnya,” ujar Joko kepada MuriaNewsCom, Jumat (13/5/2016).

Menurut dia, , masing-masing rumah mendapatkan bantuan sebesar Rp 5 juta. Dana tersebut diperuntukkan bagi meraka yang memang rumahnya tidak layak huni dan tergolong warga miskin. Namun, diakuinya dana tersebut tidak seberapa karena memang tujuannya hanya sebagai stimulus dan bantuan saja.

”Programnya bukan bedah rumah, tetapi renovasi rumah tidak layak huni. Dana itu bisa dijadikan stimulus dan tambahan semacam subsidi bagi yang tidak mampu,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, sejumlah persyaratan harus dipenuhi oleh pihak pemohon. Misalnya membuat proposal yang diketahui oleh Petinggi dan Camat, membuat rencana anggaran, surat keterangan miskin, dan foto copy identitas lengkap baik KTP maupun Kartu Keluarga (KK).

”Juga mencantumkan foto rumahnya. Kalau untur survey diserahkan kepada Kecamatan masing-masing. Sebab, segitu banyak tenaga kami tidak cukup kalau melakukan survey satu persatu secara langsung,” katanya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Asyik, 985 Rumah Tak Layak Huni di Jepara Bakal Diberi Bantuan

 

Taruna Akmil Bakal Dilibatkan dalam Program Bedah Rumah Pemkab Grobogan

Kepala Bapermas Grobogan Sanyoto menyampaikan sosialisasi bantuan sosial pemugaran perumahan penduduk miskin di aula kantornya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Bapermas Grobogan Sanyoto menyampaikan sosialisasi bantuan sosial pemugaran perumahan penduduk miskin di aula kantornya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Serangkaian kegiatan bakal dilakukan para taruna Akademi Militer (Akmil) Magelang saat melangsungkan praja bakti di Grobogan mulai 29 Februari hingga 5 Maret mendatang. Salah satunya adalah membantu kegiatan pemugaran rumah penduduk miskin yang dibiayai melalui dana APBD Grobogan tahun 2016.

”Tahun ini, kita alokasikan ada 55 rumah yang dapat bansos pemugaran. Tiap rumah dapat bantuan Rp 7 juta yang dipakai untuk membeli bahan bangunan. Nanti tenaga pemugaran rumah dilakukan masyarakat setempat dengan dibantu para taruna Akmil. Dengan begini diharapkan menggugah semangat gotong royong dari masyarakat itu sendiri,” kata Kepala Bapermas Grobogan Sanyoto saat menggelar sosialisasi program pemugaran rumah di kantornya.

Dijelaskan, 55 rumah yang akan dipugar itu terletak pada 11 desa di 4 kecamatan. Yakni, Kelurahan Kuripan, Kelurahan Purwodadi, Desa Pulorejo, dan Kedungrejo di Kecamatan Purwodadi. Kemudian, Desa Tunggu, Wolo, Kluwan, dan Curut di Kecamatan Penawangan.

Selanjutnya, Desa Harjowinangun, Kecamatan Godong dan Desa Krangganharjo, dan Tunggak di Kecamatan Toroh. Tiap desa ada alokasi pemugaran 5 rumah warga miskin.

Sanyoto menambahkan, bantuan yang diberikan nantinya disalurkan melalui rekening kelompok masyarakat (Pokmas). Untuk itu, ia berharap agar masing-masing desa yang ditunjuk tadi segera menyiapkan proposalnya.

”Kegiatan praja bakti taruna Akmil akan dimulai sebentar lagi. Untuk itu, pihak desa kami minta untuk segera membuat proposalnya agar bantuan pemugaram rumah ini bisa segera tersalurkan,” imbuh Kabag Tata Pemerintahan itu.

Baca juga : Program Bedah Rumah Pemkab Kudus untuk Gugah Semangat Gotong Royong

Pemkab Rembang Wacanakan Gerakan Massal Bedah Rumah

Editor : Titis Ayu Winarni

Pemkab Rembang Wacanakan Gerakan Massal Bedah Rumah

Bupati Rembang Abdul Hafidz berkunjung di rumah milik Sutini warga Desa Kulutan Kecamatan Gunem. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

Bupati Rembang Abdul Hafidz berkunjung di rumah milik Sutini warga Desa Kulutan Kecamatan Gunem. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

REMBANG – Berdasarkan data yang diterima Bupati Rembang dari Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) setempat, ada 164 ribu kepala keluarga (KK), hanya 136 ribu diantaranya telah memiliki rumah. Hal ini berarti bahwa satu rumah dihuni oleh 2 sampai 3 KK. Menurut Bupati, dari 136 ribu itu sekitar 76 persen tergolong rumah yang tidak layak huni. Lanjutkan membaca

Bupati Rembang Tinjau Rumah Tak Layak Huni Milik Sutini

Bupati Rembang Abdul Hafidz berkunjung di rumah milik Sutini warga Desa Kulutan Kecamatan Gunem. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

Bupati Rembang Abdul Hafidz berkunjung di rumah milik Sutini warga Desa Kulutan Kecamatan Gunem. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

REMBANG – Seusai sholat tarawih berjamaah di Desa Kulutan,Kecamatan Gunem, Jum’at (4/7/2015) malam, Bupati Rembang, Abdul Hafidz bersama beberapa Kepala SKPD mengunjungi rumah yang tergolong tidak layak huni di desa setempat. Lanjutkan membaca