Anak yang Bunuh Ibu Kandung di Getasrabi Kudus Terancam Dibebaskan, Ini Alasannya

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning saat memberikan keterangan terkait kasus pembunuhan ibu kandung di Desa Getasrabi, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus pembunuhan ibu kandung yang dilakukan seorang anak di Dukuh Kebangsan, RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Selasa (28/11/2017) bisa dibebaskan.

Ini lantaran pelaku terindikasi mengalami gangguan jiwa. Hanya saja, petugas masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui ihwal penyakit tersebut.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, berdasarkan peraturan, orang yang memiliki gangguan jiwa, kasusnya dapat diberhentikan. Ini lantaran mereka tak memiliki kesadaran (benar atau salah) atas tindakan yang dilakukan.

”Namun untuk memastikan apakah pelaku memang memiliki penyakit  jiwa atau tidak membutuhkan pemeriksaan yang lengkap dan bertahap. Jadi tidak mudah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/11/2017).

Menurut dia, yang berhak memutuskan apakah pelaku mengidap penyakit jiwa adalah dokter jiwa. Untuk itu, Anshori dijadwalkan bakal diperiksa langsung oleh dekter jiwa RSUD Kudus untuk memastikan.

”Jika memang benar memiliki penyakit jiwa, maka bisa dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk diobati,” ujarnya. 

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Saat ini penanganan masih dilakukan, dengan melakukan sejumlah observasi lapangan. Hasilnya, tanda adanya gangguan jiwa memang muncul dari Anshori (30). Hal ini dikuatkan dengan keterangan kakak kandung pelaku.

Dari keterangan sang kakak, Anshori sudah mengidap gangguan jiwa sejak 2009 lalu. Hanya, ia selalu rutin berobat tentang kondisi jiwanya. Bahkan obat dari dokter juga selalu diminum agar kondisinya tak semakin parah.

Namun, proses itu berhenti pada 2016 karena faktor ekonomi. Akibatnya, Anshori sering uring-uringan dan puncaknya adalah perbuatan pembunuhan yang dilakukan kepada ibu kandungnya sendiri.

“Selama pemeriksaan selama ini, pelaku juga kerap membenturkan kepalanya ke dinding,” imbuhnya

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Kapolres berharap, tetangga dapat lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Sehingga, jika ada warga yang memiliki penyakit atau gangguan jiwa, dapat segera dilaporkan ke pemerintah desa, untuk segera ditangani.

“Jangan sampai kasus semacam ini terulang kembali. Jadi penanganan dini dapat dilakukan,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Ratusan Narapidana di Lapas Pati Dapat Remisi Hari Kemerdekaan, 3 Orang Dibebaskan

Pelaksana Harian Bupati Pati Suharyono menyerahkan remisi secara simbolik kepada perwakilan narapidana, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 184 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pati mendapatkan remisi hari kemerdekaan. Remisi itu diberikan dalam upacara penyerahan remisi umum narapidana, Kamis (17/8/2017).

Kepala Lapas Kelas II Pati Irwan Silais mengatakan, ada 184 narapidana yang mendapatkan remisi umum pertama. Mereka mendapatkan pengurangan masa tahanan sebagian.

Sementara tiga orang mendapatkan remisi umum kedua, sehingga dibebaskan. Untuk remisi tambahan dari donor darah sebanyak 31 orang.

“Remisi donor darah ini setengah dari remisi umum pertama. Jadi, kalau misalnya remisi umum pertama dapat dua bulan, maka yang remisi donor darah ini dapat sebulan,” ujar Irwan.

Dari ratusan narapidana yang mendapatkan remisi hari kemerdekaan, remisi terbanyak mendapat tujuh bulan 15 hari, sedangkan remisi paling rendah satu bulan. Di Lapas Pati, ada dua orang narapidana korupsi dari Rembang.

Kedua narapidana korupsi tersebut tidak mendapatkan remisi hari kemerdekaan. “Kalau narapidana korupsi itu wewenangnya pusat. Beda dengan narapidana umum yang masih wewenang tingkat Jawa Tengah,” imbuhnya.

Saat ini, Lapas Pati dihuni lebih dari 300 narapidana. Tahanan sebanyak 117 orang, narapidana 258 orang, tahanan kasus narkotika 12 orang, narapidana kasus narkotika 61 orang, narapidana kasus korupsi dua orang, dan narapidana kasus terorisme satu orang.

Editor: Supriyadi