Dhuh! Puluhan Siswa di Karimunjawa Tak Bisa Sekolah Karena BBM Habis

MuriaNewsCom, Jepara – Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Karimunjawa habis, puluhan siswa sekolah tak bisa masuk sekolah. Hal itu lantaran, tidak berfungsinya moda transportasi seperti sepeda motor akibat tak terisi oleh bahan bakar.

Hal itu dialami oleh sebuah sekolah tingkat SMP MTS Safinatyul Huda. Alwiyah, wakil kepala sekolah di tempat tersebut mengaku tidak hanya siswa yang terhambat kegiatan belajarnya, tercatat ada enam guru yang tak bisa melaksanakan kewajiban mengajar.

“Siswa yang tak masuk sekolah ada 35 anak, sementara gurunya ada enam. Adapun jumlah murid di sekolah kami ada 112, sejak Senin (29/1/2018) ada banyak siswa yang tak bisa berangkat akibat tak tersedia bahan bakar pada kendaraan yang biasa dipakai sebagai sarana ke sekolah,” ujarnya, Selasa (30/1/2018).

Baca: Pasokan BBM di Karimunjawa Habis, Aktifitas Belajar Siswa Terhenti

Dirinya menyebut, kebanyakan dari mereka yang tak bersekolah hari ini merupakan siswa dari Pulau Kemujan. Dari rumah ke sekolahan, jarak yang ditempuh adalah 15 kilometer. Menurutnya, kesulitan bahan bakar sudah terjadi sejak akhir pekan lalu.

Pasokan bahan bakar di kendaraan pribadi kian menipis. Sedangkan, persediaan BBM di SPBU tak kunjung terisi karena cuaca buruk sehingga kapal pengangkut tak berani menuju Karimunjawa.

Dirinya menuturkan, kondisi bisa saja bertambah buruk ketika pasokan BBM tak kunjung datang. “Hari ini saya masih bisa berangkat ke sekolah, namun kalau tidak kunjung ada pasokan BBM, bisa saja saya tidak berangkat,” keluhnya.

Menurut Sekretaris Kecamatan Karimunjawa, Nor Sholeh Eko Prasetyawan pasokan BBM terakhir ke pulau tersebut adalah 13 Januari 2018.

“Kami sedang mencari solusi agar anak-anak sekolah dapat kembali beraktifitas. Satu diantaranya adalah menyiagakan mobil pemerintah yang menggunakan solar untuk mengantarkan ke sekolah. Kami sedang mencari formulasinya dengan Muspika,” ungkap Sholeh.

Editor: Supriyadi

Pasokan BBM di Karimunjawa Habis, Aktivitas Belajar Siswa Terhenti

MuriaNewsCom, Jepara – Persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Karimunjawa habis. Hal itu karena kapal pengangkut BBM dari Semarang terkendala cuaca buruk.

Praktis, kendaraan yang menggunakan BBM jenis pertalite dan premium tak bisa difungsikan karena kehabisan bahan bakar. Nur Sholeh Eko Prasetyawan Sekretaris Kecamatan Karimunjawa mengatakan, kondisi tersebut banyak memengaruhi aktifitas warga.

“Kendaraan saya sendiri pasokan BBM nya kritis. Namun untuk mobilisasi ke kantor masih bisa wong jaraknya dekat dari rumah saya. Namun bagi warga masyarakat, hal ini sangat memengaruhi. Terutama mereka murid yang hendak pergi ke sekolah jadi tidak bisa,” kata Sholeh, Selasa (30/1/2018).

Dikatakannya, saat ini banyak anak-anak sekolah yang tidak bisa masuk. Oleh karenanya musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Karimunjawa tengah mencari formula agar siswa dapat kembali melakukan aktifitas belajar.

Ia menyebut keluhan sudah muncul dari pihak sekolah yang mengatakan murid-muridnya tak bisa masuk sekolah karena akses kendaraan pribadi yang terhenti.

“Kami sedang mencari solusi agar siswa dapat kembali bersekolah. Ini kami sedang mendata mobil bertenaga solar yang kira-kira masih bisa digunakan untuk mengantar anak sekolah. Lantaran untuk saat ini, yang masih tersisa adalah solar,” kata dia.

Ia menyebut, paling lambat besok sudah ada mobil yang mobile berkeliling untuk menjemput siswa yang tak bisa masuk sekolah, karena alasan ketiadaan BBM.

Menurutnya, kondisi ketiadaan BBM lebih dikarenakan faktor cuaca. Sholeh menyebut, kapal pengangkut BBM dari Semarang, sebenarnya sudah siap mengantarkan pasokan bahan bakar.

Namun, karena ombak tinggi dan angin kencang, pelayaran mustahil dilakukan karena alasan keamanan. Adapun pasokan BBM terakhir kali ke Karimunjawa adalah 13 Januari lalu. Apalagi, cuaca ekstrim di Karimunjawa sudah terjadi 10 hari belakangan.

“Kami belum tahu sampai kapan ini akan berlangsung. Tahun 2014 kemarin cuaca sangat ekstrim, namun tahun berikutnya tidak. Kami tidak tahu apakah hal ini merupakan siklus empat tahunan atau 10 tahunan,” urainya.

Editor: Supriyadi

Pacu Potensi Maritim, BBM Nelayan Pati Bakal Dikonversi ke Gas

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (tiga dari kanan) saat melihat bantuan konversi BBG untuk nelayan dari Kementerian ESDM. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati menjadi salah satu daerah dengan potensi maritim terbesar di Indonesia. Hal itu yang membuat Pemkab Pati terus mengembangkannya sebagai upaya untuk memajukan Pati.

Salah satu bentuk upaya untuk melejitkan potensi maritim, nelayan mendapatkan bantuan berupa paket konversi bahan bakar minyak (BBM) menuju bahan bakar gas (BBG). Paket itu berupa satu mesin, dua tabung gas, dan satu baling-baling perahu.

“Konversi dari BBM ke BBG akan mengubah kebiasaan penggunaan mesin. Manfaatnya bisa langsung dirasakan, karena pemakaian bahan bakar menjadi lebih efisien,” ujar Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Jumat (17/11/2017).

Nelayan di Pati sendiri mendapatkan bantuan sebanyak 345 paket dari pengusulan Pemkab Pati ke pemerintah pusat sebanyak 704 paket. Nelayan yang belum mendapatkan bantuan paket konversi BBG akan diusahakan mendapatkan pada tahun depan.

Bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut diprioritaskan untuk nelayan kecil dengan kriteria perahu di bawah 5 GT. Di Indonesia, ada 17 ribu paket konversi yang bersumber dari dana APBN.

“Pati memiliki bonus geografi maritim yang bagus. Potensi ini sebetulnya sudah lama diperhitungkan dalam skala nasional. Saat ini, Pemkab Pati terus kita pacu supaya bisa lebih berkembang,” tuturnya.

Secara terpisah, perwakilan dari Kementerian ESDM, Sugiarto menjelaskan, bantuan konversi diberikan kepada nelayan yang masih menggunakan bahan bakar bensin.

“Jika dibandingkan, nelayan rata-rata memakai tiga liter bensin untuk melaut. Untuk penggunaan BBG, satu tabung bisa dipakai untuk tiga hari,” kata Sugiarto.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pati Edy Martanto menuturkan, jumlah 704 usulan penerima bantuan baru terealisasi 345 paket disebabkan 459 paket yang diusulkan memakai BBM solar.

Sementara sampai saat ini, Kementerian ESDM masih belum punya teknologi tersertifikasi untuk alat konversi solar ke BBG. Namun, dia berharap pemerintah sudah memiliki teknologi konversi BBM solar ke BBG tahun depan.

Editor: Supriyadi

Akun Medsos Diretas untuk Penipuan, Anggota DPRD Pati Lapor Polisi

Wakil Ketua III DPRD Pati Joni Kurnianto melapor kepada polisi terkait dengan akun medsos yang diretas, Kamis (31/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Akun media sosial Wakil Ketua III DPRD Pati Joni Kurnianto diretas hacker. Ironisnya, akun BlackBerry Messenger (BBM) dan Facebook tersebut lantas digunakan untuk penipuan.

Modusnya, pelaku mengirim pesan kepada rekan-rekan Joni di akun medsos untuk meminta bantuan uang dengan cara transfer ke rekening. Merasa dirugikan, Joni melaporkan peretasan akun medsos tersebut kepada polisi, Kamis (31/8/2017).

“Saat ini akun itu sudah bisa diambil lagi. Namun, saya tetap menuntut agar pelaku segera ditangkap karena sudah meresahkan dan mencemarkan nama baik,” ungkap Joni.

Salah satu yang menjadi sasaran penipuan tersebut adalah Yusra. Dia diminta untuk mengirim uang ke nomor rekening Bank Mandiri 1520016304665 atas nama Hj Muh Ali senilai Rp 2,5 juta.

Dalam chat tersebut, Yusra sempat akan melakukan transfer dalam waktu 15 menit. Namun, aksi itu berhasil digagalkan setelah Joni melakukan klarifikasi bila akunnya diretas.

Hal yang sama menimpa Anang Kurniawan. Namun, Anang menolaknya karena saldo di rekening habis untuk modal  sehingga belum bisa membantu. Meski begitu, pelaku masih meminta transfer Rp 800 ribu saja.

Joni berharap kepada polisi agar pelaku segera ditangkap untuk diproses secara hukum. Pasalnya, aksi yang dilakukan pelaku merugikan banyak orang.

Editor: Supriyadi

Dinilai Ilegal, Pertamini di Jepara Akan Dibina

pertamini-e

Warga melayani pembeli BBM di SPBU Pertamini di Jepara, Sabtu.(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Keberadaan penjual Bahan Bakar Minyak (BBM) ecer dengan peralatan layaknya di pom bensin, biasa dikenal sebagai Pertamini, di Kabupaten Jepara sudah menjamur. Semakin lama justru semakin banyak, sehingga hal itu membuat Pemerintah Kabupaten Jepara menyorotinya.

Pemkab Jepara menilai penjualan BBM dalam bentuk Pertamini tersebut ilegal. Sebab tidak ada perizinan resmi, dan tidak ada standarisasi baik keamanan maupun yang lainnya. Rencananya, para penjual akan dilakukan pembinaan.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disindag) Jepara, Yoso Suwarno melalui Kabid Perdagangan, Florentina Kurniawati. Menurutnya, pihaknya segera melakukan pembinaan ke pemilik usaha Pertamini. Sebab, usaha kreatif masyarakat itu dinilai ilegal.

“Dalam pertemuan dengan pihak Pertamina baru-baru ini, PT Pertamina secara tegas memang tak mengakui keberadaan Pertamini itu. Penindakan keberadaan Pertamini diserahkan ke kebijakan lokal pemkab, namun sebelum melakukan tindakan, kami akan melakukan pembinaan,” ujar Florentina kepada MuriaNewsCom.

Ia mengaku selama ini pihaknya tak pernah mengeluarkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) maupun Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Terlebih, alat penuangan BBM (alat ukur) pada Pertamini dinilai tak terstandar. Dengan begitu, pembelian BBM dimungkinkan tak sesuai dengan takaran yang dibeli konsumen.

Selain itu, standar keamanan dari Pertamini pun tak ada. Padahal, BBM yang dijual mudah terbakar. ‘’Sementara ini, kita akan datang ke usaha-usaha Pertamini di Jepara. Kita akan lakukan pembinaan,’’tegasnya.

Dia menandaskan, sementara ini tidak akan dilakukan pelarangan Pertamini. Sebab, pihaknya memertimbangkan sejumlah hal. Salah satunya kenyataan bahwa Pertamini merupakan usaha masyarakat dan juga membantu warga yang jauh dari SPBU bisa mendapatkan BBM.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto mengatakan, pihaknya juga masih belum mengetahui secara jelas bagaimana aturan mengenai Pertamini tersebut. Justru ia mengaku penasaran dan akan segera menanyakannya kepada pihak Pertamina.

“Ya, memang penjual BBM yang melabeli namanya sebagai Pertamini itu sudah banyak di Jepara. Tetapi saya belum mengetahui itu sebenarnya diperbolehkan atau tidak,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Agen Penyalur Minyak dan Solar Segera Berdiri di Karimunjawa Jepara

Sales Eksekutif Retail (SER) Pertamina Jateng, Edwin Sabri RI. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sales Eksekutif Retail (SER) Pertamina Jateng, Edwin Sabri RI. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Persoalan energi terutama Bahan Bakar Minyak (BBM) di Karimunjawa sedikit demi sedikit terurai. Setelah masalah distribusi teratasi, kini pembentukan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Karimunjawa segera direalisasikan.

Sales Eksekutif Retail (SER) Pertamina Jateng, Edwin Sabri RI mengatakan, APMS yang dibentuk guna mengatasi harga BBM di pulau terluar Jepara itu rencananya dapat beroperasi pada pertengahan Oktober ini. “APMS mulai operasi pertengahan Oktober. APMS tersebut diperkirakan bisa menampung 80 hingga 100 ton bensin dan solar,” ujar Edwin kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dengan adanya APMS tersebut nantinya diharapkan dapat menuntaskan persoalan BBM di wilayah Karimunjawa. Terutama berkait dengan stok dan masalah harga.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto menjelaskan, APMS itu nantinya akan melayani 13 pengecer. Lokasinya tersebar di kawasan Karimunjawa. APMS dibentuk untuk menormalkan harga BBM di Karimunajawa agar sama dengan daerah lain.

“Selama ini harga BBM tinggi karena beban pengangkutan masih ditanggung agen. Kalau sudah ada APMS tidak ada alasan harga BBM masih mahal karena pengangkutannya sudah di tanggung Pertamina,” katanya.

Namum, terkait pembentukan APMS tersebut, pihaknya belum mendapatkan informasi secara detail. Sebab, pembangunannya ditangani langsung oleh Pertamina dan pihak swasta. Pihaknya hanya melakukan pemantauan saja.

“Sebenarnya yang mengajukan untuk pembuatan APMS tersebut ada dua. Yaitu perusda dan pihak swasta atas nama Gagang. Hanya saja yang disetujui hanya satu yaitu dari swasta,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

SPBU di Jepara Mulai Tak Jual Bensin Premium Per November

Narasumber dalam rapat kordinasi lintas sektoral di salah satu rumah makan di Jepara, Sales Eksekutif Retail (SER) PT Pertamina Wilayah III Edwin Shabriy (kanan). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sales Eksekutif Retail (SER) PT Pertamina Wilayah III Edwin Shabriy (kanan) menjadi narasumber dalam rapat kordinasi lintas sektoral di salah satu rumah makan di Jepara, (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Menindaklanjuti rencana pembatasan bahan bakal minyak (BBM) jenis premium atau bensin, Pemkab Jepara bersama PT Pertamina dan pengusaha minyak menggelar rapat. Hasilnya disepakati bahwa Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Jepara mulai tak menjual bensin pada November mendatang.

Rapat kordinasi itu juga berusaha mengambil jalan tengah dari sejumlah permasalan yang timbul dalam teknis pelaksanaan sebagai imbas dari Perpres Nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.

“Ini berbeda dengan daerah lain seperti Demak dan Rembang yang sudah menghapus penjualan bensin. Tujuannya agar masyarakat memberikan waktu,” kata Sales Eksekutif Retail (SER) PT Pertamina Wilayah III Edwin Shabriy, saat rapat di salah  satu rumah makan di Jepara, Kamis (6/10/2016).

Ia menjelaskan, rapat kordinasi itu sekaligus juga sosialisasi agar didapati kesepahaman antara semua pihak. Baik pengelola SPBU maupun SKPD terkait yang mewakili masyarakat. Di Demak dan Rembang, saat ini semua SPBU tak lagi menjual premium per 1 Oktober kemarin. Di Jepara diharapkan segera mengikuti namun harus disesuaikan dengan kondisi daerah. “Premium nanti dihilangkan dan alternatif bahan bakar yang direkomendasikan yakni pertalite. Solar tidak dihapus tapi ada alternatif yakni dexlite,” terangnya.

Disinggung mengenai bahan bakar nonsubsidi yang dipengaruhi harga minyak dunia, Edwin mengaku PT Pertamina sudah mengkaji hal itu. Dari hasil kajian, harga minyak dunia dalam kondisi stabil. Yakni di kisaran 41 sampai 44 dolar AS per barel. Selain itu, Pertamina juga tetap menjaga rentan harga antara pertalite dengan premium.

Kepala Bidang Perdagangan Florentina Kurniawati meminta agar pengusaha SPBU tak tergesa-gesa menghapuskan premium. Sehingga waktu yang paling realistis untuk memulai yakni awal November. Itu juga sekaligus memberikan kesempatan pihak SPBU untuk mengosongkan sisa stok premium serta mencoba mengurai masalah yang terjadi akibat pemberlakuan Pepres itu.

Sejumlah permasalahan yang mengemuka di antaranya mengenai tera ulang atau kalibrasi terhadap SPBU. Saat ini, kalibrasi diserahkan ke daerah namun masih terbentur peralatan, keterbatasan, anggaran dan legislasi berupa Perda SOTK dan retribusi khusus yang memuat soal kalibrasi. “Kita ada SDM tapi tak punya peralatan. Sehingga untuk SPBU yang menginginkan agar kita lakukan kalibrasi, kita belum bisa,” tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, Florentina mengaku akan menyampaikan hasil rakor ini ke pimpinan. Direncanakan pula pertemuan antara pihak SPBU, SKPD terkait serta kepolisian mengenai kebijakan ini.

Editor : Akrom Hazami

1 Oktober 2016, Penjual Bensin Ecer di Jepara Tak Boleh Jual Premium

Warga mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Mulai 1 Oktober 2016, program pembatasan penggunaan premium berupa Premium Dry oleh Pertamina diberlakukan. Selain dilakukan dengan pengurangan nozzle di seluruh SPBU, pembatasan dilakukan dengan larangan pembelian premium menggunakan jeriken.

“Ini juga yang diterapkan pada seluruh SPBU di Jepara. Sebelumnya, SPBU telah mengurangi nozzle premium di 21 SPBU. Sementara larangan membeli premium menggunakan jeriken diberlakukan mulai 1 Oktober 2016. Sehingga para pengecer yang biasa membeli premium menggunakan jeriken harus beralih ke Pertalite atau Pertamax,” ujar Kordinator SPBU Jepara, Winarso kepada MuriaNewsCom, Kamis (29/9/20160.

Pihaknya mengaku telah mengirim tembusan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Desperindag) Jepara pada Senin (25/9/2016) lalu. Disperindag mendukung program Premium Dry berupa pelarangan pembelian premium menggunakan jeriken. “Kalau masih ada yang mau mengisi premium dengan jeriken kami alihkan ke Pertalite atau Pertamax,” katanya.

Guna memantapkan program tersebut, pengelola SPBU melakukan pertemuan di salah satu hotel yang berdekatan dengan SPBU Bulu. Pertemuan dihadiri pengawas yang terdiri dari perwakilan seluruh SPBU Jepara. Sebelumnya pihaknya telah melakukan sosialisasi ke masyarakat yang biasa membeli premium dengan drigen. Sosialisasi dengan pengenalan pertalite atau pertamax.

Sehingga, meski program Premium Dry belum dimulai, banyak pengecer yang sudah mulai beralih. Ini dibuktikan dengan menurunnya komsusi premium dan meningkatnya pengguna pertamax dan pertalite. Misalnya, pertalite yang semula hanya di bawah 2.000 liter perhari, sekarang sudah di atas 2.000 liter.

Editor : Akrom Hazami

Pertamax dan Pertalite Laris, Pengecer Bakal Dilarang Jual Premium

Warga membeli BBM jenis pertamax di SPBU Bulu, Jepara Kota, Kabupaten Jepara, Senin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di Kabupaten Jepara diklaim laris manis. Dari catatan pihak pengelola SPBU, penjualan meningkat hingga 50 persen.

“Kondisi berbeda dialami BBM bersubsidi yakni jenis premium yang semakin menurun. Jika sebelumnya dalam sepekan mampu menjual 16 ribu liter premium, kali ini hanya mampu menjual 8 ribu liter saja,” ujar koordinator pengelola SPBU di Kabupaten Jepara, Winarso kepada MuriaNewsCom, Senin (19/9/2016).

Menurutnya, sebanyak 21 SPBU yang ada di Jepara, saat ini sudah mengurangi nozzle premium. Itu lantaran, permintaan BBM jenis premium mulai ada penurunan. Rata-rata setiap SPBU tinggal mengoperasikan dua nozzle premium saja.

“Untuk nozzle BBM jenis pertamax dan pertalite ditambah. Itu bisa dilihat dan dapat diartikan kalau masyarakat memang semakin banyak yang memilih BBM nonsubsidi,” terangnya.

Lebih lanjut Winarso mengemukakan, saat ini konsumsi pertamax setiap pekan di setiap SPBU di Jepara rata-rata mencapai 24 ribu liter. Sementara, konsumsi pertalite mencapai 16 ribu liter setiap pekan.

Dia menambahkan bahwa pertamina mulai mensosialisasikan program premium dry. Nantinya para penjual ecer dilarang menjual BBM premium. Layanan penjualan BBM bersubsidi itu tidak boleh menggunakan delijen.

“Tapi kami masih menunggu persetujuan dari Pemkab Jepara. Kami akan menghadap Pemkab Jepara untuk membahas hal itu,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Hafal Teks Proklamasi dan UUD, Gratis BBM Pertalite di Jepara

bbm

Siswa mendapatkan BBM Pertalite gratis di salah satu SPBU di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang digratiskan di Jepara diserbu pelajar. Ya program gratis dalam rangka peringatan hari kemerdekaan RI ke-71 dari Pertamina.

Pertalite tersebut digratiskan bagi yang hafal teks proklamasi dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dari pagi hingga sore hari tadi sudah ada belasan pelajar yang menyerbu SPBU Bulu, Kecamatan Kota Jepara.

Pelajar yang datang ke SPBU Bulu meliputi tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga Mahasiswa. Setelah mengafal teks proklamas dan pembukaan UUD di depan petugas SPBU mereka langsung mendapat pertalite gratis mulai satu sampai tiga liter.

Uniknya, dari belasan pelajar yang memanfaatkan program tersebut, hanya empat siswa yang mendapat tiga liter. Tiga dari siswa SMA, satu siswa SD. Sementara sisanya, meliputi siswa SMA dan Mahasiswa hanya mendapat satu hingga dua liter.

”Satu liter bagi pelajar yang hanya hafal teks proklamasi dan dua liter bagi pelajar yang hafal pembukaan UUD 1945. Jika hafal keduanya mereka mendapat tiga liter,” kata Supervisor SPBU Bulu, Winarso, Rabu (17/8/2016)

Menurutnya, mayoritas yang datang untuk mendapat pertalite gratis dari pelajar tingkat SMA. Hanya satu orang siswa SD dan mendapat tiga liter. Selain itu, ada satu orang dari mahasiswa.

”Siswa SD yang dapat tiga liter menghafal dengan lancar teks proklamasi dan pembukaan UUD. Dia tiba-tiba datang ke kantor SPBU dan bertanya terkait program pertalite gratis. Akhirnya kami persilahkan dia untuk menghafal di depan petugas,” jelasnya.

Ia menambahkan, program tersebut hanya diselenggarakan selama sehari. Mulai pukul 06.00 hingga pukul 18.00. Selain untuk menyambut kemerdekaan HUT RI, program tersebut bertujuan untuk lebih mengenalkan Bahan Bakar Keekonomian (BBK) seperti Pertalite.

”Pertamina membuat program ini agar masyarakat lebih kenal dengan BBK khususnya pertalite,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Distribusi BBM ke Karimunjawa Jepara Kini Aman

karimunjawa

Sebuah kapal melaju menuju Karimunjawa, Jepara. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sempat terjadi gejolak pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Kecamatan Karimunjawa, Jepara. Setelah sebelumnya terjadi kebakaran kapal berisi BBM di beberapa daerah. Sehingga berbuntut pelarangan penggunaan kapal biasa untuk mengangkut BBM.

Kini Pemkab Jepara memastikan pendistribusian BBM ke wilayah terluar Kabupaten Jepara itu aman. Pendistribusian BBM dapat dilakukan seperti biasa yakni menggunakan kapal kayu. Hanya, kapal tersebut didesain dan diperuntukkan khusus pengangkutan BBM. Kepastian itu didapatkan setelah Pemkab Jepara datang mengadu ke Dirjen Perhubungan Laut.

“Awalnya pendistribusian BBM diharapkan menggunakan kapal khusus dari Pertamina. Tetapi ternyata Pertamina tidak punya. Kemudian kami sepakat membawa masalah ini ke Dirjen Perhubungan Laut, dan akhirnya kami mendapatkan dispensasi,” ujar Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara Eriza Rudi Yulianto kepada MuriaNewsCom Senin (8/8/2016).

Menurutnya, dispensasi itu berupa diberikan izin kapal kayu mengangkut BBM ke Karimunjawa. Dengan catatan memenuhi batas minimal syarat kapal yang diperbolehkan mengangkut BBM. Itu seperti yang selama ini dilakukan oleh daerah lain, yang memiliki wilayah pulau-pulau.

“Kita di Indonesia ini kan Negara kepulauan. Jadi banyak juga pulau yang sudah berpenghuni dan pendistribusian BBM menggunakan kapal kayu. Jadi tidak ada masalah asal kapal itu khusus untuk mengangkut BBM, bukan mengangkut penumpang atau barang-barang lainnya,” terangnya.

Ia menambahkan, lantaran persoalan distribusi ini sudah tidak ada masalah. Menurut dia, yang menjadi pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana harga BBM di Karimunjawa tidak jauh berbeda dengan harga pada umumnya.

“Diharapkan tahun ini rencana menyamakan harga BBM di Karimunjawa dengan di daratan Jepara bisa terealisasi. Sebab, pengurusan APMS sudah dalam proses. Kalau APMS sudah beroperasi maka biaya pengangkutan BBM menjadi tanggung jawab Pertamina, tidak lagi dibebankan kepada konsumen atau warga,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Tugas Perusda Jepara Jika Sudah Jadi Agen Distribusi BBM dan Elpiji ke Karimunjawa

ilustrasi BBM jenis solar dijual eceran. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Ilustrasi BBM jenis solar dijual eceran. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara bakal menunjuk Perusahaan Daerah (Perusda) Aneka Usaha Jepara untuk menjadi agen distribusi BBM dan Elpiji ke Karimunjawa. Ada beberapa tugas Perusda tersebut jika sudah resmi menjadi agen tersebut.

Kabag Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto menjelaskan, beberapa tugas agen yang nanti ditunjuk atau dibentuk, yakni membuat tangki penampungan BBM dan mengurusi soal elpigi. Tangki yang dibuat minimal harus bisa menampung jumlah total kebutuhan premium dan solar warga Karimunjawa.

”Minimal, sesuai kebutuhan. Jika lebih malah lebih baik,” kata Eriza kepada MuriaNewsCom, Senin (2/5/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, kebutuhan BBM di Karimunjawa yakni sebanyak 144 ribu liter solar/bulan, dan Rp 59 ribu liter premium/bulan. Untuk Elpiji bersubsidi 3 kilogram, warga Karimunjawa membutuhkan pasokan sebanyak 4.380 tabung dan 301 tabung untuk Elpiji ukuran 12 kilogram tiap bulannya.

Dalam pendistribusian Elpiji di Karimunjawa, Eriza menjelaskan secara detail, pemilik pangkalan mengajukan ijin ke desa, pemerintah kecamatan Karimujawa dan Polsek setempat. Di tingkat Pemkab, pengambilan premium harus mendapatkan rekomendasi dari Dishubkominfo. Sedangkan solar harus mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan.

”Karena solar terkait dengan kebutuhan nelayan. Sedangkan dari Disindag, sebagai instansi penentu jumlah kuota,” tandas Eriza.

Khusus elpiji, pihaknya saat ini juga tengah dihadapkan pada rencana pemerintah pusat menarik subsidi. Jika diberlakukan, maka semua Elpiji bakal menjadi barang bebas, termasuk di Karimunjawa. Sementara ini, pihaknya baru melakukan pembicaraan soal ini di tingkat agen, termasuk agen Elpiji yang selama ini melakukan distribusi ke Karimunjawa.

Dalam jangka waktu enam bulan tersebut, hingga agen terbentuk, pengangkutan BBM dan Elpiji akan dilakukan dengan menggunakan kapal kayu sebagaimana sebelumnya. Itu juga sesuai dengan instruksi Gubernur Jawa Tengah.

Editor: Supriyadi

 

 

Perusda Jepara Dapat Proyek Jadi Agen Distribusi BBM ke Karimunjawa

Puluhan kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM di salah satu SPBU di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Puluhan kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM di salah satu SPBU di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Berdasarkan pertemuan dan rapat dengan pihak-pihak terkait di Semarang, termasuk dengan pihak PT Pertamina. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara akan menunjuk Perusahaan Daerah (Perusda) Aneka Usaha Jepara menjadi agen distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) baik jenis premium, solar maupun minyak ke Karimunjawa.

Agen tersebut bakal dibentuk sebagai salah satu solusi  persoalan distribusi BBM ke wilayah terluar Kabupaten Jepara tersebut. Sebab, selama ini persoalan distribusi kebutuhan BBM terhadap 10 ribu warga Karimunjawa tak kunjung terselesaikan.

Hal itu seperti yang disampaikan Kabag Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto. Menurut dia, dengan mempertimbangan beban biaya pengangkutan, Pertamina menginginkan BBM yang diangkut harus dalam jumlah yang cukup besar dan untuk keperluan yang cukup panjang.

“Mengenai biaya nanti juga akan ditanggung oleh Pertamina. Jika hanya sedikit, maka Pertamina enggan sebab keuntungan tak sebanding dengan biaya angkut,” terang Eriza kepada MuriaNewsCom, Senin (2/5/2016).

Lebih lanjut Eriza menerangkan, mengenai teknis pengangkutan BBM ke Karimunjawa kedepan, dia belum bisa memastikan apakah dengan kapal pengangkut BBM milik Pertamina atau menyewa (carter) kapal. Sebab menurut Eriza, persoalan itu sudah ada dalam ranah internal dari PT Pertamina.

“Itu menjadi ranah Pertamina, bukan ranah kami soal itu,” katanya.

Yang jelas, lanjutnya, Pemkab diberikan tenggang waktu selama enam untuk menunjuk atau membentuk agen distribusi tersebut. Rencananya, memang Perusda Aneka Usaha yang merupakan perusahaan milik Pemkab yang akan ditunjuk sebagai agen tersebut.

Editor: Supriyadi

Harga BBM di Karimunjawa Sempat Capai Rp 13 Ribu per Liter

bbm

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Setelah peristiwa kebakaran kapal Mangrove Jaya 01 yang memuat bahan bakar minyak (BBM), distribusi BBM ke Karimunjawa sempat terhenti. Bahkan mengakibatkan krisis BBM di wilayah terluar Kabupaten Jepara tersebut.

Dampak dari kelangkaan itulah, harga BBM di Karimujawa melambung tinggi. Bahkan hingga mencapai Rp 13 ribu per liter.

Pemkab Jepara melalui Sekretaris Camat Karimunjawa Budi Kristanto menyatakan, krisis BBM di Karimunjawa mulai teratasi. Lantaran pada Selasa (12/4/2016) tadi telah didistribusikan sebanyak 20 ribu liter BBM.

”Ya, tadi sudah didistribusikan 10 ribu liter BBM jenis premium dan 10 ribu liter jenis solar,” kata Budi kepada MuriaNewsCom, Selasa, (12/4/2016).

Namun, distribusi yang dilakukan tadi masih menggunakan kapal kayu Jasa Samudera. Sebab kebijakan distribusi BBM menggunakan kapal Siginjai, baru diambil tadi setelah distribusi menggunakan kapal kayu sampai di Karimunjawa.

Budi mengatakan, 20 ribu liter BBM tersebut diprediksi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan BBM selama sepekan di Karimunjawa. Untuk itu, distribusi selanjutnya bakal menggunakan kapal Siginjai.

Selama ini di Karimunjawa mendapatkan pasokn BBM dari daratan Jepara. Distribusi kapal juga menggunakan kapal kayu. Setelah terjadi kebakaran hebat yang terjadi pada kapal Mangrove Jaya 01 beberapa waktu lalu, kini Pemkab Jepara mengambil kebijakan lain.

Pemkab Jepara mengeluarkan kebijakan bahwa distribusi BBM ke Karimunjawa tak akan lagi menggunakan kapal kayu, tetapi bakal menggunakan kapal Siginjai.

Kebijakan itu diambil berdasarkan hasil rapat yang dilakukan oleh Pemkab Jepara bersama instansi terkait pada Selasa (12/4/2016). Rapat dilaksanakan di ruang rapat wakil bupati.

Editor: Merie

Karimunjawa Krisis BBM, Harga Tembus Rp 13 Ribu per Liter

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peristiwa terbakarnya Kapal Mangrove Jaya 01 yang mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tabung gas beberapa waktu lalu, menjadikan distribusi BBM ke Karimunjawa dievaluasi. Kapal yang tidak memenuhi standar pengangkut BBM pun dilarang mengangkut BBM lagi. Akibatnya, di wilayah terluar Kabupaten Jepara itu krisis BBM.

Krisis BBM tersebut membuat harga BBM di Karimunjawa melambung tinggi, dan tembus di harga Rp 13 ribu per liter. Harga tersebut mulai terjadi setelah peristiwa kebakaran kapal yang terjadi di Dermaga Kartini beberapa waktu lalu.

“BBM di Karimunjawa menjadi langka dan masyarakat menjadi kesulitan untuk mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun ada penjual BBM di Karimunjawa,mereka menjual dengan harga yang sangat tinggi mencapai Rp 13.000 per liternya,” ujar salah seorang warga Karimunjawa, Djati Utomo, Selasa (12/4/2016).

Menurutnya, normalnya sebelum ada insiden kebakaran Kapal Mangrove Jaya 01 dan pasokan BBM masih lancar. Para penjual BBM di Karimunjawa menjual BBM jenis premium dalam kisaran Rp 9. 000 per liternya.

“Sebelum ada kelangkaan, harga standarnya cuma Rp 9.000 per liter.Namun semenjak tidak ada pasokan BBM ke Karimunjawa harga menjadi mahal,” katanya .

Meskipun harga mahal, Djati mengaku tetap membelinya . Karena untuk kebutuhan sehari- hari seperti untuk mengisi bahan bakar kendaraan maupun genset untuk kebutuhan listrik. Mengingat listrik di Karimunjawa hingga kini listrik belum bisa menyala 24 jam.

“Harapan kami kepada pemerintah ya pasokan BBM ke Karimunjawa bisa kembali normal, agar masyarakat tidak terlalu terbebani dengan langkanya BBM di Karimunjawa,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Mau Pertamax atau Pertalite? Perhatikan Hal Berikut

Masyarakat mengantre membeli BBM di salah satu SPBU di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Masyarakat mengantre membeli BBM di salah satu SPBU di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Masyarakat saat ini masih ada yang bingung ketika memilih bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraannya, Premium atau Pertamax, dan ditambah dengan Pertalite.

Nah, kali ini tak perlu bingung lagi karena salah satu pemilik pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bulu Jepara, Nano berbagi informasi mengenai ketiga jenis BBM tersebut.

Menurut Nano, ketiga jenis BBM tersebut memiliki segmentasi pembeli tertentu. Barang kali saat ini masih ada yang bingung ketika memilih di antara ketiga jenis BBM tersebut, apalagi seiring dengan turunnya harga BBM yang tiap jenis berbeda harga turunnya.

“Dilihat dari segi harga, jelas Pertamax lebih mahal, kemudian disusul Pertalite dan Premium. Hal ini wajar karena oktan dari masing-masing berbeda dan yang tertinggi adalah Pertamax dengan oktan 92, Pertalite 90 dan Premium 88,” kata Nano kepada MuriaNewsCom, Kamis (7/1/2016).

Lebih lanjut Nano menjelaskan, keberadaan Pertalite sesungguhnya menjadi alternatif pilihan baru bagi masyarakat. Ibaratnya, Pertalite adalah campuran antara Premium dengan Pertamax. Oktannya berada di tengah-tengah antara Pertamax dan Premium.

“Mahalnya harga dan tingginya oktan pada Pertamax tentu saja berdampak pada pembakaran mesin saat dikendarai. Dengan oktan yang tinggi, maka pembakaran mesin menjadi lebih cepat sehingga bisa lebih hemat,” kata Nano.

Dia mencontohkan, hematnya menggunakan Pertamax dapat dirasakan ketika dalam perjalanan jauh. Dari pengalamannya saat pergi ke Semarang dari Jepara, dengan premium dua liter habis, namun ketika menggunakan Pertamax cukup satu liter saja.

“Itu membuktikan jika saat jarak jauh Pertamax lebih irit,” ucapnya.

Dia menambahkan, rekomendasi dari dirinya kepada masyarakat adalah lebih baik menggunakan jenis BBM yang memiliki oktan yang tinggi. Sebab, selain bisa lebih hemat juga lebih ramah di mesin kendaraan. Lebih-lebih untuk kendaraan keluaran baru yang menggunakan injection. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Harga BBM Resmi Turun, tapi Tarif Angkutan di Rembang Tak Turun

SPBU di Rembang mulai memberlakukan penurunan harga sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat, Selasa (5/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

SPBU di Rembang mulai memberlakukan penurunan harga sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat, Selasa (5/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Meski secara resmi pemerintah mengumumkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) per tanggal 5 Januari 2015. Namun, tarif angkutan di Rembang dipastikan tidak akan mengalami penurunan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Rembang, Senin (5/12/2015). Dishubkominfo Rembang menyatakan menolak mengoreksi tarif angkutan meski harga premium dan solar sudah turun.

Kepala Dishubkominfo Rembang Suyono menjelaskan, penurunan harga solar dan premium tidak signifikan. Sehingga pihaknya kasihan pada awak angkutan jika harus menurunkan tarif.

“Penurunan harga BBM kali ini tidak ada pengaruhnya untuk angkutan. Kalau saya, tidak akan saya turunkan. Karena kasihan kehidupan para sopir angkutan kita,” ujarnya.

Suyono menambahkan, hingga saat ini belum juga ada petunjuk dari pemerintah pusat terkait penurunan tarif angkutan. “Belum ada petunjuk dari pusat. Nanti kalau ada petunjuk akan kami sesuaikan dan kami akan kaji agar sesuai dengan keadaan lokal,” imbuhnya. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Harga Pertamax dan Pertalite Ikut Turun?

Ilustrasi BBM turun

Ilustrasi BBM turun

 

KUDUS – Turunnya harga BBM bersubsidi, bakal dimulai pada Selasa (05/01/2016). Namun, tersebar kabar kalau jenis BBM yang turun bukan hanya yang disubsidi saja, melainkan pula jenis BBM nonsubsidi.

Humas Pertamina MOR IV Robert Marchelino Verieza Dumatubun mengatakan, untuk keputusan turunnya BBM nonsubsidi, baru dapat diketahui mendekati 5 Januari. Sehingga untuk sekarang masih belum dapat memberikan penjelasan.

”Kalau nonsubsidi untuk wilayah Jawa, ini biasanya H-1 ya, jadi kalau 5 Januari turun maka 4 Januari kami dapat. Jadi kami juga masih menunggu edaran secara resmi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, Kasi Perdagangan dalam negeri pada Dinas Dagsar Sofyan Dhuhri mengatakan, pihaknya juga belum menerima edaran mengenai turunnya harga BBM nonsubsidi. Sehingga mengenai keterangan pastinya juga belum tahu.

”Sejauh ini baru Premium dan Solar saja. Untuk jenis Pertamax dan Pertalite, biasanya kalaupun ada perubahan itu tiap dua pekan sekali. Hal itu tergantung pada harga minyak dunia,” jelasnya.
Dia menambahkan, mengenai kabar sudah diketahui. Hanya pihaknya masih belum mengkroscek langsung ke tiap SPBU. Sehingga kepastian juga belum diketahui.

Hingga kini, beredar kabar kalau harga BBM Pertamax dan Pertalite juga mengalami penurunan. Hanya kabar itu masih belum pasti lantaran masih menunggu secara resmi. (FAISOL HADI/TITIS W)

Besok, Harga Premium dan Solar di Kudus Turun

Petugas di salah satu SPBU di Kudus tengah melayani konsumen. Dipastikan pada Selasa (05/01/2016) harga premium dan solar di Kudus turun. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas di salah satu SPBU di Kudus tengah melayani konsumen. Dipastikan pada Selasa (05/01/2016) harga premium dan solar di Kudus turun. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Jenis Premium dan Solar, dipastikan bakal turun pada 5 Januari besok. Turunnya harga BBM Bersubsidi itu, sesuai dengan arahan dan ketetapan dari pemerintah pusat.

Humas Pertamina MOR IV Robert Marchelino Verieza Dumatubun mengatakan, harga BBM turun berlaku mulai 5 Januari 2016, harga baru itu sesuai ketetapan dan arahan dari Pemerintah. Penurunan harga di angka Rp 150 per liter pada tiap SPBU.

”Iya sesuai arahan, mulai 5 Januari, harga BBM bersubsidi akan turun. Untuk Premium, harganya menjadi Rp 7.150 dari harga awal Rp 7.300. Sedangkan Solar juga mengalami penurunan harga menjadi Rp 5.950 untuk satu liternya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Di Kudus, harga baru itu juga otomatis bakal berlaku. Bahkan tembusan ke pemerintah daerah juga sudah diberikan terkait dengan harga terbayar BBM bersubsidi itu.

”Iya di Kudus juga pasti turun. Pemberitahuan sudah kami terima. Namun jenis yang turun, hingga saat ini hanya Premium dan Solar saja,” kata Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Sofyan Dhuhri .

Menurutnya, masyarakat dapat menikmati tarif baru pada Selasa (05/01/2016) jam 00.00 WIB. Harga baru akan ditetapkan pada semua SPBU di Kudus. (FAISOL HADI/TITIS W)