Kuota Ditambah 20 Persen, Penggunaan Solar Hingga Lebaran Diprediksi Akan Sisa

Petugas di salah satu SPBU di Kudus tengah melayani konsumen. (MuriaNewsCom)

Petugas di salah satu SPBU di Kudus tengah melayani konsumen. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jelang puasa dan lebaran, penggunaan BBM jenis solar diprediksi bakal meningkat drastis. Untuk itu, pemerintah bakal menambah kuota BBM Bersubsidi sebesar 20 persen.

Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Sofyan Dhuhri mengatakan, penambahan BBM jenis solar akan dilakukan mulai awal puasa. Sebab dipastikan pemakaian akan bertambah meski tidak sampai akhir bulan.

”Biasanya mendekati lebaran kendaraan besar sudah tidak boleh melintas. Sehingga penggunaan solar juga berkurang pada hari mendekati lebaran,” katanya kepada MuriaNewsCom

Namun, lanjutnya, untuk kendaraan umum tetap diperbolehkan beroperasi. Sehingga penggunaan solar juga masih ada, hingga lebaran nanti.

Ia menyebutkan, saat ini penggunaan solar di Kudus memang berada di angka 4,64 juta liter tiap bulan. Jumlah tersebut ditambah dengan 20 persen sehingga menjadi 5,6 jutaan liter selama puasa nanti

”Jumlah itu akan cukup memenuhi kebutuhan solar. Ditambahkan 20 persen, karena solar masih subsidi, sehingga penambahan dibatasi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dinas Dagsar Pastikan Kuota BBM Hingga Lebaran di Kudus Tercukupi

Seorang pengendara sedang membeli BBM di salah satu SPBU di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pengendara sedang membeli BBM di salah satu SPBU di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom,  Kudus – Kuota BBM jenis Premium, Pertamax, dan Pertalite selama puasa hingga lebaran dipastikan akan tercukupi. Ini lantaran, pihak SPBU dipersilahkan meminta jenis BBM non subsidi langsung ke Pertamina.

Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Sofyan Dhuhri mengungkapkan, selama ini setiap puasa hingga lebaran selalu terjadi penambahan kebutuhan. Sehingga, tiap tahun pula dilakukan penambahan 20 persen pasokan untuk jenis tersebut.

Namun, kebijakan tersebut tidak dilakukan tahun ini. Khusus untuk jenis BBM tersebut tidak dilakukan penambahan dalam jumlah pasti. Melainkan, tiap SPBU diperbolehkan meminta sesuai dengan kebutuhan SPBU masing masing.

“Jadi berapapun kebutuhan SPBU, bisa langsung dimintakan kepada Pertamina. Meskipun kebutuhan mencapai dua kali lipat sekaligus juga bakal dipenuhi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kebijakan itu dilakukan, lantaran pemerintah tidak lagi mensubsidi BBM jenis tersebut. Sehingga, berapapun kebutuhan akan diberikan lantaran tidak ada perhitungan pemakaian.

”Tidak adanya subsidi untuk BBM jenis Premium, Pertalite dan Pertamax juga berdampak pada jatah BBM di Kudus. Dengan pencabutan subsidi maka kuota BBM Selama setahun tidak diketahui,” ujarnya.

Menurut catatan, selama 2016 ini penyaluran BBM bervariatif tiap bulan. Seperti Premium misalnya, rata rata dalam tiap bulan disalurkan sejumlah 6, 2 juta liter tiap bulan di semua SPBU di Kudus.

Sedangkan untuk Pertalite, penyaluran tiap bulan rata rata di angka 456 ribu liter. Sedangkan Pertamax masing tunggu dengan penyaluran wisata. 1,1 juta liter tiap bulan.

Editor: Supriyadi

2 Pekan Sekali, Harga BBM Dikaji Ulang

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Turunnya harga BBM jenis premium dan solar, besar kemungkinan pasti terjadi. Sebab setiap dua pekan sekali, harga BBM memang selalu dievaluasi.

Hal itu diungkapkan Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Sofyan Dhuhri. Menurutnya, evaluasi dari Pertamina terkait harga BBM selalu dilakukan secara rutin. Sehingga besar kemungkinan dua pekan sekali harga BBM akan turun.

“Evaluasi bukan hanya untuk BBM bersubsidi saja, melainkan pula untuk nonsubsidi seperti Pertalite, Pertamax dan Pertamax Dex juga ikut dievaluasi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Evaluasi dilakukan berdasarkan harga minyak mentah dunia. Jika harganya turun, maka hargaa di Indonesia juga turun. Namun jika harganya naik, maka di Indonesia juga bakalan naik.

Mengenai kabar turunnya BBM jenis bensin dan solar. Pihak pemkab membenarkan info itu. Namun sama halnya dari Pertamina, pelaksanaan kepastian juga menunggu kembali dari pemerintah pusat.
“Rencananya begitu, akan turun. Namun kepastianya juga masih menunggu kembali. Kami tunggu pengumuman dari atasan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, surat edaran biasanya agak terlambat datang ke pemkab. Namun dari pihak SPBU, biasanya lebih dulu mendapatkan surat edaran.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Hore 1 April, Harga BBM Premium dan Solar Turun 

Pemilik SPBU Ahmad Yani Kudus Siap Bertanggung Jawab Atas Kerusakan Mesin

SPBU di Jalan Ahmad Yani Kudus. Pihak SPBU siap untuk bertanggung jawab atas kerusakan mesin akibat adanya pertamax yang tercampur air (MuriaNewsCom/Merie)

SPBU di Jalan Ahmad Yani Kudus. Pihak SPBU siap untuk bertanggung jawab atas kerusakan mesin akibat adanya pertamax yang tercampur air (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Ditemukannya mesin mobil dinas milik pejabat yang rusak usai mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax di SPBU Jalan Ahmad Yani Kudus, disikapi serius Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus.

Dinas sendiri sudah memerintahkan agar pemilik SPBU segera menguras dan memperbaiki tangki pertamax. Karena diduga pertamax di SPBU tersebut tercampur air hujan.

“Kita memang meminta pemilik SPBU agar memperbaiki kerusakan tersebut. Karena sudah merugikan konsumen. Kita tidak ingin kejadian ini terulang kembali,” jelas Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus Sudiharti, Selasa (12/1/2016).

Pemilik SPBU sendiri, Joko Santoso mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui jika pertamax yang dijualnya bermasalah. “Saya baru tahu setelah ditelepon kepala dinas,” ujarnya.

Joko menjelaskan, bahwa diduga tangki pertamax di SPBU miliknya kemasukan air hujan. “Itu diketahui setelah anak buah saya memeriksanya,” katanya.

Persoalan ini, menurut Joko, merupakan kesalahan dari anak buahnya. Karena teledor tidak mengecek persoalan tangki ataupun isinya dengan cermat. “Ya, memang kesalahan anak buah saya itu, dan selama ini juga tidak ada yang komplain masalah ini,” tegasnya.

Namun, joko menegaskan bahwa pihaknya siap bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul, akibat dari peristiwa tersebut.

“Saya siap bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Nanti kalau memang ada yang komplain atau minta pertanggungjawaban, kami siap bertanggung penuh,” tegasnya.

Sebagaimana diberitakan, beberapa kendaraan dinas milik pejabat di lingkungan Pemkab Kudus, mengalami kerusakan akibat mengisi pertamax di SPBU tersebut. Selain kepala dinas, juga ada mobil dinas milik Asisten 2 Sekda Kudus Budi Rahmat.

Bahkan Budi merupakan orang yang pertama kali komplain terkait hal ini. Selain itu, beberapa orang juga mengajukan komplain yang sama ke dinas. (MERIE)

Ditemukan, Mobil Dinas Pejabat di Kudus Rusak Akibat BBM Tercampur Air

SPBU di Jalan Ahmad Yani. Sejumlah pihak komplain adanya bahan bakar pertamax yang tercampur air saat membeli di tempat tersebut (MuriaNewsCom/Merie)

SPBU di Jalan Ahmad Yani. Sejumlah pihak komplain adanya bahan bakar pertamax yang tercampur air saat membeli di tempat tersebut (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus mendapat komplain dari sejumlah pihak, terkait dengan bahan bakar minyak (BBM) yang dijual di SPBU di Jalan Ahmad Yani.

Salah satu komplain datang dari Asisten 2 Sekda Kudus Budi Rahmat, yang mengaku mesin mobil dinasnya rusak, usai membeli BBM jenis pertamax di SPBU tersebut. BBM pertamax di sana diduga tercampur air, hingga merusak mesin mobil.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus Sudiharti, Selasa (12/1/2016). Bahkan, siang tadi dinas sampai harus melakukan pengecekan ke SPBU tersebut.

“Memang benar bahwa ada komplain atau keluhan yang masuk ke dinas kami, terkait hal itu. Salah satunya datang dari Pak Asisten 2, Pak Budi Rahmat, yang menjelaskan bahwa mesin mobil dinasnya rusak setelah membeli pertamax di SPBU Jalan Ahmad Yani ini,” katanya.

Sebagaimana kebanyakan para pemilik mobil dinas di lingkungan Pemkab Kudus, SPBU di Jalan Ahmad Yani tersebut memang sering menjadi lokasi pengisian BBM bagi kendaraan dinas mereka.

Bahkan, bukan hanya asisten 2 saja yang mendapati mesin mobilnya rusak akibat mengisi pertamax di sana. Tapi mobil dinas milik Sudiharti sendiri juga mengalami hal yang sama.

“Begitu pas Senin (11/1/2016) saya dikomplain Pak Asisten 2, saya juga ngecek mobil dinas saya. Ternyata kata anak saya juga bahan bakarnya tercampur air. Makanya langsung dikuras bahan bakarnya oleh anak saya,” paparnya.

Selain itu, ada dua orang lainnya yang juga mengeluhkan hal yang sama. Sehingga Sudiharti langsung menelepon pemilik SPBU. “Dan pemiliknya juga langsung menguras tangki pertamax. Dan hari ini kita pastikan bahwa semua memang sudah bersih dan normal lagi,” tuturnya. (MERIE)