Sekda Grobogan Imbau PNS Salurkan Zakat Lewat Baznas

MuriaNewsCom, Grobogan – Sekda Grobogan Moh Sumarsono mengimbau para PNS supaya menyalurkan zakatnya melalui lembaga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Hal itu disampaikan Sumarsono saat menghadiri acara pelantikan pengurus Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di berbagai SKPD yang dilangsungkan di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Rabu (31/1/2018).

”Jumlah PNS yang menyalurkan zakat lewat Baznas memang mulai meningkat. Saya mengimbau kalau bisa zakat PNS bisa disalurkan lewat Baznas. Sejauh ini, saya juga menyalurkan zakat lewat Baznas. Setiap bulan, gaji saya otomatis langsung dipotong zakatnya,” cetusnya.

Ia menilai, kinerja Baznas selama ini sudah cukup bagus. Meski baru ada pada tahun 2015 lalu namun jumlah zakat dan infak uang yang dikelola sudah mencapai Rp 2 miliar per tahun.

Ia juga mengapresiasi banyaknya program pendistribusian zakat yang sudah dilakukan Baznas sejauh ini. Seperti, rehab rumah tidak layak huni, bantuan panti asuhan, dan layanan ambulans gratis.

Sekda menegaskan, Pemkab Grobogan akan terus mendorong supaya kinerja Baznas bisa terus meningkat. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah mengalokasikan bantuan hibah Baznas senilai Rp 100 juta pada tahun lalu. Sedangkan pada tahun anggaran 2018 dinaikkan sebesar Rp 200 juta.

Editor: Supriyadi

Zakat PNS Pemprov Kini Juga Disalurkan untuk Kesejahteraan Penyandang Cacat

Para penyandang disabilitas yang akan mendapatkan bantuan tangan dan kaki palsu menjalani proses pengukuran (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Semarang – Badan Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jateng, kini juga mengalokasikan zakat dari pegawai Pemprov Jateng untuk pengentasan kemiskinan. Jika sebelumnya hanya dikonsentrasikan untuk bantuan pondok pesantren, zakat itu kini juga disalurkan untuk penyandang disabilitas.

Ketua Baznas Provinsi Jateng, KH Ahmad Darodji mengatakan, para penyandang cacat yang mendapat saluran zakat ini hanya yang masuk kategori miskin. Oleh karenanya, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jateng.

Menurut dia, selain mengalokasikan zakat berupa konsumtif, zakat juga akan diberikan dengan cara produktif. Yaitu, memberikan pelatihan wirausaha bagi para penyadang disabilitas miskin.

“Nanti akan kita beri pelatihan keterampilan wirausaha sesuai keinginannya. Harapannya mereka bisa produktif,” katanya.

Selain disabilitas kategori miskin, Baznas juga akan menggencarkan alokasi zakat untuk para guru madrasah diniyah (madin) dan guru TPQ (tempat pendidikan alquran) yang disabilitas. Sebab, banyak guru mengaji yang disabilitas.

“Mereka kategori sabilillah dan termasuk yang berhak menerima zakat. Jadi kita inginnya zakat bisa masuk ke semua segmen,” ujarnya.

Ia menegaskan, khusus untuk guru Madin dan TPQ, tidak hanya yang disabilitas. Mengingat selama ini honorarium untuk guru mengaji masih minim. Namun pemberiannya tidak rutin tiap bulan, itupun tidak bersamaan se Jateng tapi diberikan secara bergilir di tiap kabupaten/kota.

“Uangnya ada, tapi yang harus diberi kan jumlahnya banyak. Maka nanti bergilir,” terangnya.

Darodji menambahkan, zakat yang dikumpulkan Baznas Jateng berasal dari zakat para aparatur sipil negara (ASN) Pemprov Jateng. Tiap bulan, terkumpul rata-rata Rp 2,5 miliar. Kesadaran ASN dalam membayarkan zakat makin meningkat.

Selasa (28/11/2017) lalu, Baznas juga melakukan penyerahan zakat dalam rangka pentasharufan mustahik asnaf fakir miskin dan sabilillah, di Masjid Agung Jawa Tengah.

Dalam acara tersebut, diserahkan zakat untuk pembangunan masjid, musala, pondok pesantren, lembaga keagamaan senilai Rp 2.247.100.000. Untuk perbaikan 20 unit rumah tidak layak huni (RTLH) senilai Rp 200.000.000.

Kemudian untuk usaha ekonomi produktif bagi fakir miskin berupa pelatihan pertukangan bangunan bersertifikat, senilai Rp 60.000.000. Selanjutnya pemberian bantuan kursi roda untuk kaum difabel senilai Rp 70.000.000.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, warga miskin yang tidak tercover dalam alokasi APBD maka sumber Baznas ini bisa dimanfaatkan. Sehingga tak perlu berdebat panjang dengan DPRD, namun masyarakat bisa mendapatkannya dengan cepat.

“Sebab, bagaimanapun di antara rizki kita sebagian kecil ada hak orang lain yang membutuhkan,” kata Ganjar.

Editor : Ali Muntoha

Zakat dari PNS Jateng Digunakan untuk Entaskan Kemiskinan

Seorang warga miskin tengah memulung sampah untuk dijual kembali ke pengepul. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Dana zakat dari para aparatur sipil negara (ASN) atau PNS yang masuk ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah akan diutamakan untuk pengentasan kemiskinan di provinsi ini.

Sebanyak 60 persen dana zakat akan disalurkan untuk pengentasan kemiskinan. Hal ini dikatakan Ketua Baznas Provinsi Jateng KH Ahmad Darodji. Menurut dia, Baznas kabupaten/kota di Jawa Tengah telah sepakat mengenai hal ini.

”Ini hasil rapat kerja pimpinan Baznas Provinsi Jateng dan Baznas kabupaten/kota se-Jateng dengan pemerintah daerah yang digelar pada 2-3 Oktober 2017,” katanya.

Menurut dia, 60 persen dana zakat dari ASN maupun orang kaya yang masuk, akan digunakan untuk penanggulangan kemiskinan. Fakir miskin yang dimaksud terbagi menjadi dua, yaitu warga miskin yang sudah tidak produktif atau sudah tidak mungkin bekerja serta warga miskin yang masih bisa produktif.

“Bagi fakir miskin yang sudah tidak produktif, dialokasikan 20 persen dari 60 persen tersebut. Berupa pemberian santunan, jaminan kesehatan, dan beasiswa. Sedangkan yang masih bisa produktif, dialokasikan 40 persen dari 60 persen tersebut,” ujarnya.

Bagi fakir miskin yang masih produktif akan adakan pelatihan-pelatihan keterampilan, diberikan peralatan kerja, sejumlah tambahan suntikan modal, dan pendamping yang memonitor dan mengevaluasi mereka agar kerja tetap jalan.

Gubenur Jateng Ganjar Pranowo menyebut, potensi zakat yang dikumpulkan Baznas sangat besar. Ia menyebut Baznas merupakan partner penanggulangan kemiskinan yang memiliki potensi sangat besar. Sebab, dana zakat yang diperoleh langsung dapat segera disalurkan kepada warga yang terindikasi miskin.

“Baznas ini kalau saya lihat potensinya nggilani, gedhe banget. Saya merasa ini partner saya karena tidak banyak cerewet tapi langsung eksekusi,” katanya.

Baca : Penghasilan Warga Miskin di Jateng Rata-rata Rp 333 Ribu Per Bulan

Menurutnya, selama ini Baznas sangat membantu penurunan kemiskinan, salah satunya dengan program bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH). Program tersebut mampu menjadi stimulan masyarakat untuk menumbuhkan spirit gotong royong karena mereka juga ikut membantu dengan mengumpulkan dana swadaya untuk perbaikan RTLH di sekitarnya.

Melihat besarnya potensi tersebut, Ganjar mendorong agar seluruh kabupaten/ kota di Jawa Tengah segera membentuk Baznas. Sehingga dana zakat yang dikumpulkan dapat langsung digunakan untuk persoalan-persoalan kemiskinan.

Saat ini, ada beberapa daerah yang belum membentuk zakat. Di antaranya Kabupaten Blora, Kabupaten Magelang dan Pemalang.

Untuk Blora, pengurus Baznas tinggal menunggu dilantik, di Magelang masih menunggu rekomendasi dari Baznas pusat. Sedangkan di Pemalang baru tahap seleksi pengurus.

“Ini merupakan salah satu kekuatan umat Islam yang bisa ditunjukan dengan cara yang baik dan dahsyat. Maka saya selalu mendorong untuk segera dibentuk. Kalau perlu saya surati,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Baznas Dinilai Bisa jadi Ujung Tombak Pengurangan Angka Kemiskinan

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang -Target pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi. Untuk Kabupaten Rembang sendiri, hingga saat ini terhitung masih menempati urutan 5 besar dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah sebagai kabupaten termiskin.

Untuk itu, perlu ditunjang seluruh potensi yang ada. Salah satu potensi yang kini diharapkan oleh pemerintah untuk dapat berkiprah banyak dalam upaya pengentasan kemiskinan adalah Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Baznas diharapkan menjadi ujung tombak untuk mengurangi kemiskinan. Apalagi, jika Baznas dipercaya masyarakat menjadi organisasi yang kredibel dalam memfasilitasi dalam penyaluran amal, khususnya zakat.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan,potensi zakat untuk membantu mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Rembang sangat besar. Pada 2017 ini, zakat itu akan diupayakan secara maksimal untuk membantu mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Rembang.

“Jika jumlah ASN di Rembang sekarang ini sekitar 8.200 orang dan semua disisihkan 2,5 persennya untuk dana sumbangan Baznas maka yang terkumpul cukup banyak. Belum lagi jika bisa bergerak ke instansi lain seperti BUMN,BUMD dan instansi vertikal lainnya seperti kejaksaan dan pengadilan,”ujarnya.

Bahkan, katanya, bupati siap untuk memberikan teladan dalam hal ini. “Nanti dimulai dari gaji saya. Jika gaji saya perbulan Rp.6,2juta,maka 2,5 persennya sudah lumayan. Saya hitung jika 8 ribu lebih rata-rata gaji ASN Rp 3 juta, 2,5 persennya juga lumayan. Ini jika kita kelola dengan baik dan tepat sasaran, maka kemiskinan akan berkurang signifikan,” ujarnya.

Dia melanjutkan, dari hitung-hitungan jumlah ASN 8 ribu orang dikali gaji rata-rata Rp 3 juta, maka sudah Rp 24 miliar. Jika dibagi 2,5 persennya, maka terkumpul kurang lebih Rp 640 juta dana yang terkumpul dalam satu bulannya.

Hal itu dinilai sangat membantu pemkab dalam menurunkan angka kemiskinan. Apalagi dirinya bersama Wakil Bupati Bayu Andriyanto di dalam RPJMD mentarget dari angka 19 persen menjadi 11 persen.

Kepada pimpinan Baznas, bupati meminta selalu berkoordinasi dengan instansi pemerintah dengan organisasi Islam yang ada. Tujuannya apa yang menjadi tugasnya bisa berjalan dengan baik.  “Baznas juga harus lepas dari kepentingan politik praktis. Agar tidak dipertanyakan tentang kredibilitasnya.” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pelajar dan Mahasiswa di Jepara Diminta Sisihkan Uang Saku untuk Pelaku Ekonomi Kecil

baznas

Baznas Kabupaten Jepara membagikan kupon PPS. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pelajar dan mahasiswa di Jepara diminta secara bersama-sama menyisihkan uang saku untuk pelaku ekonomi kecil dan kaum duafa. Penyisihan secara serentak itu dilakukan mulai Senin hingga Sabtu (22 – 27 Agustus). Kegiatan ini dilakukan melalui program Pekan Peduli Sosial (PPS) dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Jepara.

Ketua Baznas Kabupaten Jepara Ali Irfan Muhtar mengatakan, secara serentak penyisihan uang saku akan dilakukan. Pihaknya menargetkan uang saku yang disisihkan mencapai Rp Rp 1,3 miliar.

“PPS adalah upaya Baznas Kabupaten Jepara menggugah kesadaran pelajar dan mahasiswa di Jepara agar memiliki kepekaan membantu sesama,” ujar Ali yang juga mantan Wakil Bupati Jepara, Kamis (18/8/2016).

Menurutnya, dalam rentang waktu selama sepekan yang disediakan tersebut, pelajar dan mahasiswa diminta menyisihkan uang saku yang dianggap jumlahnya terhitung tak seberapa. Setiap hari mereka diminta menyisihkan Rp. 500 untuk pelajar PAUD hingga SD, Rp 1000 untuk pelajar SLTP dan SLTA, dan Rp 2000  bagi mahasiswa.“Kalau satu kabupaten hasilnya banyak. Bisa Rp1,3 miliar,” ucapnya.

Labih lanjut ia mengemukakan, berapapun hasil yang diperoleh di setiap sekolah, separuhnya akan langsung disumbangkan kepada pelajar tak mampu di sekolahan tersebut. Seperempatnya digunakan Baznas Kabupaten Jepara untuk membantu panti-panti asuhan yang ada di Jepara.

“Dari PPS tahun sebelumnya yang terhimpun Rp 400 juta saja, kami bisa membantu panti asuhan di Jepara masing-masing Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Kalau target Rp 1,3 miliar tercapai pasti akan lebih bermanfaat untuk anak-anak panti asuhan itu,” lanjut Ali.

Hasil penghimpunan lainnya, dialokasikan untuk mengembangkan usaha pelaku ekonomi kecil. Unit Pengumpul Zakat (UPZ), unit pelaksana Baznas di tingkat kecamatan, memiliki data pelaku ekonomi kecil yang membutuhkan bantuan.

Ketua Panitia PPS Lukito Sudi Asmara menyebut, kupon PPS telah didistribusikan ke sekolah dan madrasah di kabupaten Jepara. Distribusi dilakukan melalui Kelompok Kerja Madrasah (KKM) di semua tingkatan, musyawarah kerja kepala sekolah, hingga UPT Dinas Dikpora di setiap kecamatan.

Editor : Akrom Hazami