Ibu Pembuang Bayi di Sidorekso Ternyata Pegawai Puskesmas

MuriaNewsCom, Kudus – Bayi yang ditemukan di belakang Puskesmas Sidorekso, ternyata anak dari pekerja di fasilitas tersebut. Hal itu didasari atas beberapa kejanggalan yang ditemui pada saat kejadian.

Sutejo Kepala Puskesmas Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu menceritakan awal mula, kejadian penemuan bayi tersebut. Sebelum penemuan bayi, seorang pegawainya berinisial DWO minta izin meninggalkan rapat untuk pergi ke toilet.

“Tapi dia di toilet itu lama sekali lebih dari satu jam. Temannya yang mau menggunakan kamar mandi pun tak bisa, karena didalamnya DWO bilang masih buang air besar. Setelah pintu toilet dibuka, ternyata masih ada bercak darah disekitarnya. Namun ia bilang haidnya lagi banyak,” ungkap dia, Jumat (2/3/2018) siang.

Baca Juga: Petugas Kebersihan Temukan Bayi Perempuan di Belakang Puskesmas Sidorekso

Sutejo mengaku tak ada kecurigaan saat DWO mengatakan hal itu. Karena, status DWO masih lajang dan belum menikah.

“Kami kemudian mengantarkannya pulang, karena tubuhnya lemas. Namun di tengah jalan kemudian kita rujuk ke rumah sakit (RSUD Loekmono Hadi) untuk mendapatkan perawatan,” tambahnya.

Setelah penemuan bayi pada Kamis sore, kecurigaan pun mengarah kepada sosok DWO. “Waktu di rumah sakit, kita datang bersama kepolisian dan disana ia mengaku bayi yang ditemukan di Puskemas adalah bayinya,” tutur Sutejo.

Sebelumnya diberitakan, sesosok bayi perempuan dibelakang Puskesmas Sidorekso, pada Kamis (1/3/2018) sekitar pukul 16.30 WIB.

Editor: Supriyadi

Petugas Kebersihan Temukan Bayi Perempuan di Belakang Puskesmas Sidorekso

MuriaNewsCom, Kudus – Sesosok bayi ditemukan di halaman belakang Puskesmas Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Diduga, bayi berjenis kelamin perempuan itu, dibuang oleh sang ibu yang sempat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan tersebut.

Saksi mata kejadian itu Kusrin (66), mengatakan penemuan bayi itu terjadi pada Kamis sore (1/3/2018) sekitar pukul 16.30 WIB. Namun sebelumnya ia sudah mendengar suara tangisan bayi, sejak Kamis siang sekitar pukul 11.30 WIB.

“Saya di sini tugasnya sebagai petugas kebersihan, merangkap penjaga parkir. Nah kemarin itu, ketika saya bersih-bersih di belakang, saya dengar ada tangisan bayi. Keras, asalnya dari sekitar kamar mandi. Saya kira suaranya berasal dari ruang bersalin, maka saya abaikan dan menyelesaikan tugas saya,” ujarnya Jumat (2/3/2018) pagi.

Setelah bersih-bersih, ia lantas pulang ke rumahnya. Pada Kamis sore sekitar pukul15.00 WIB ia melaksanakan tugas membersihkan sampah. Begitu ia akan membuang sampah, ia dan rekannya Khumaedi melihat sesosok bayi tergolek lemah di lantai semen.

“Ya Allah, saya langsung mengipasi bayi itu. Ketika saya temukan pada pukul 16.30 WIB, tangisannya sudah lemah dan posisinya miring ke arah selatan. Setelahnya bayi tersebut dibawa ke ruang perawatan,” ceritanya.

Dirinya menduga, bayi tersebut dibuang oleh sang ibu yang melahirkan didalam kamar mandi karyawan puskesmas. “Saat ditemukan si bayi tersebut dalam keadaan sehat, tidak ada luka, dan tali pusatnya telah diputuskan. Mungkin dengan cara diputus paksa, wong kelihatannya tidak rapih bekas potongannya. Sementara itu, di leher bayi terdapat celana dalam,” tambahnya.

Sebelum kejadian penemuan bayi, Kusrin bercerita ada pasien yang mengalami pendarahan. Namun si pasien tersebut tak mengakui sedang hamil dan tidak tampak hamil, dan yang bersangkutan diketahui masih belum bersuami.

“Tapi dia (pasien) sempat berada di kamar mandi cukup lama. Sekitar dua jam. Setelah diperiksa, berat bayi sekitar 2,9 kilogram,” tuturnya.

Kapolsek Kaliwungu AKP Dwi Jati Usodo membenarkan hal itu. Menurutnya, bayi tersebut kini berada di RSUD Loekmono Hadi Kudus untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Editor: Supriyadi

Wanita Diduga Gila Bikin Geger di Puri Pati Karena Bawa Bayi

Beberapa warga mencoba meminta balita yang dibawa ibu-ibu yang diduga gila di kawasan Puri, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu yang diduga terkena gangguan jiwa sempat menggegerkan warga di kawasan Puri, Kecamatan Pati, Sabtu (16/12/2017).

Pasalnya, wanita tersebut membawa bayi yang masih berusia tiga pekan. Tampilannya kusut dan rambutnya gimbal.

Wanita itu membawa kartu identitas bernama Nur Wahyuniati. Di kartu identitas, dia lahir di Rembang dan berdomisili di Jatibarang, Brebes.

Krisbiyanto, salah satu warga mengatakan, perempuan itu terlihat linglung setelah turun dari bus di kawasan halte Puri. Dia sempat berbicara sendiri tentang dunia gaib.

Warga yang panik mencoba merayu dan mengamankan bayi tersebut. Namun, perempuan itu justru marah dan menyebut bayi yang dibawanya merupakan anaknya sendiri.

Petugas kepolisian yang mendapatkan informasi dari warga mencoba untuk mengamankannya ke Mapolsek Pati. Polisi khawatir bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada diri bayi.

“Kami mencoba untuk membawa ke mapolsek untuk penanganan lebih lanjut dan menghubungi petugas di mana ibu itu berdomisili,” kata Kanit SPKT Polsek Pati Aiptu Puryanto.

Ibu tersebut sempat dibawa ke warung untuk diberi makan. Dia juga sempat menyebut bila ingin pulang ke rumahnya di Sumbersari, Kragan, Rembang.

Editor : Ali Muntoha

Bayi Ditemukan Terbungkus Kain Kafan di Parit di Wilayah Muntilan

Warga melihat bekas kain putih yang dipakai untuk membungkus bayi di Muntilan, Magelang. (Facebook)

MuriaNewsCom, Magelang – Geger, warga menemukan bungkusan kain berwarna putih di parit yang terletak di Dusun Tambakan, RT 01 Rw 05, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Karena mencurigakan, warga membuka bungkusan. Ternyata isinya bayi dalam kondisi meninggal dunia.

Warga melaporkan penemuan bayi ke Polsek Muntilan. Tak lama kemudian, polisi tiba di lokasi kejadian. Petugas mengumpulkan sejumlah saksi, serta menghimpun keterangan.

Kapolsek Muntilan AKP Mudiyanto mengatakan, polisi mendapatkan laporan warga soal penemuan bayi. Kali pertama, bayi ditemukan petugas kebersihan yang sedang menyapu di dekat lokasi. “Bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki,” kata Mudiyanto.

Polisi menduga, pembuang bayi adalah orang tuanya. Serta kemungkinan besar bukan berasal dari warga dalam kota. Mengingat bayi dibuang di pinggir jalan. Meski demikian, pemeriksaan kasus tetap dilakukan.

Di antaranya, polisi melakukan pendataan orang hamil di wilayah setempat. Termasuk mendata bidan dan mencari info yang baru membantu kelahiran.

Pihaknya juga berkomunikasi dengan RSUD Muntilan. Bayi mengalami luka di bagian kepala. Bayi diperkirakan lahir prematur 6-7 bulan. “Beratnya 1,2 kilogram dan panjang 40 cm,” terangnya lebih lanjut.

Dia memprediksi bayi dibuang tadi malam. Dengan kondisi tali pusar telah dipotong. Pelaku pembuang bayi diperkirakan juga siap memakamkan bayi karena telah dibungus kain kafan..

Editor : Akrom Hazami

 

Bupati dan Santri Dukung Kasus Bayi Dugaan Malpraktik RSUD Kajen Pekalongan

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Pekalongan – Puluhan santri di Kabupaten Pekalongan memperingati Hari Santri Nasional dengan cara yang tidak biasa, Senin (23/10/2017). Yakni, dengan menggelar kepedulian terhadap nasib bayi Adiyatma Serkan Altaya.

Diketahui, bayi tersebut mengalami kehilangan sekat hidung usai dirawat di RSUD Kajen Pekalongan. Mereka menggelar aksi berupa penggalangan Koin Peduli Erkan di halaman kantor bupati, kantor dinas kesehatan, dan kantor DPRD Kabupaten Pekalongan. 

Nantinya, uang hasil dari aksi peduli hari pertama ini rencananya akan dikumpulkan terlebih dahulu. Hingga nanti pada puncak aksi Jumat (27/10) mendatang, akan diberikan langsung ke pihak keluarga guna pengobatan kelanjutan bayi Adiyatma. 

Baca : Bayi Dugaan Malpraktik RSUD Kajen Pekalongan, Adiyatma, Terabaikan

Mereka membawa tulisan di spanduk ‘Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017 Resolusi Jihad, Peduli Nasib Adiyatma Erkan Altaya, Bayi santri Kedungwuni yang mengalami cacat hidung diduga akibat kelalaian oknum dokter RSUD Kajen’.

“Keluarga dari bayi itu adalah keluarga santri. Jadi anak santri. Kami pun melakukan ini sebagai bentuk kepedulian,” kata salah seorang peserta aksi, Faturokhman (18) dilansir detik.com.

Kuasa hukum keluarga bayi Adiyatma, M Yusuf, apa yang dilakukan santri merupakan bentuk kepedulian. Keluarga masih kecewa dengan surat yang ditandatangani Direktur RSUD Kajen, yakni dr Dwi Ari Gunawan. Surat berisi bahwa persoalan bayi Adiyatma telah selesai. “Karena dianggap selesai sepihak oleh RSUD Kajen inilah, dukungan dari berbagai warga dan kalangan ke pihak keluarga pasien berdatangan,”kata Yusuf.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengaku siap menyelesaikan masalah. “Ini akan saya selesaikan, kebetulan dokter siapa, ya Dwi Arinya (direktur RSUD Kajen), lagi ada izin ikuti workshop. Kalau sudah selesai workshop, akan saya panggil dan duduk bersama semua pihak,” ujar Asip kepada wartawan di kantornya.

Editor : Akrom Hazami

Bayi Dugaan Malpraktik RSUD Kajen Pekalongan, Adiyatma, Terabaikan

Adiyatma Serkan Altaya dalam gendongan saat ini belum mendapatkan penanganan di Pekalongan. (Capture Youtube)

MuriaNewsCom, Pekalongan – Bayi enam bulan, Adiyatma Serkan Altaya, yang merupakan korban dugaan malpraktik RSUD Kajen Pekalongan, kian tak jelas kondisi penanganannya. Sebab RSUD Kajen tak memberikan kejelasan perihal penanganan.

Sebelumnya, Adiyatma dirawat selama 31 hari. Anak dari pasangan Karimah dan Ubaidiah, warga Kedungwuni Barat, Kabupaten Pekalongan itu mendapat penanganan medis setelah ibunya mengalami pecah ketuban dini, saat usia kandungannya 23 minggu pada awal April 2017 lalu.

Korban melalui persalinan normal namun saat itu tidak ada tangisan dan hasil diagnosa diketahui korban mengalami anemia, infeksi sistemik dan asfiksia (kesulitan bernafas) berat.

BacaSaling Ejek di Facebook, Dua Pemuda Wegil Pati Duel dan Tertusuk Pisau

Petugas RSUD Kajen lalu memasang alat bantu nafas C-Pap. Alat bantu nafas ini baru dilepas setelah 15 hari. Saat alat dilepas, ibu bayi Karimah menemukan di dalam lubang hidung anaknya tak tampak lagi sekat seperti umumnya. Atau nekrose (hilangnya kulit dan jaringan penunjang) di sekitar sekat hidung.

Mendapati hal ini, orang tua bayi minta pertanggungjawaban RSUD Kajen. Mediasi kedua belah pihak telah dilakukan setelah keluarga korban mensomasi RSUD Kajen. Dalam surat pernyataan dari RSUD Kajen itu rupanya ada yang dianggap janggal oleh pihak keluarga korban.

Surat yang ditandatangani oleh Direktur RSUD Kajen, Dwi Ari Nugroho per tanggal 17 Oktober 2017 itu terdapat tiga poin. Satu poinnya dianggap memberatkan pihak keluarga yang berbunyi pihak rumah sakit bersedia mendampingi keluarga untuk melakukan rekonstruksi atau pemulihan bayi yang mengalami erosi septum hidung.

“Kami keberatan atas kalimat itu, hanya bersedia mendampingi. Saat mediasi pihak rumah sakit bersedia bertanggung jawab penuh, bukan hanya mendampingi tapi biayanya tidak ada,” kata kuasa hukum keluarga korban, M Yusuf.

Sesuai rencana, Rabu (18/10/2017) bayi malang ini akan dibawa ke RSUD Karyadi Kota Semarang untuk menjalani proses rekonstruksi pemulihan namun tidak jadi lantaran pihak keluarga khawatir atas bunyi pernyataan dari pihak RSUD Kajen.

BacaTilep Uang Ratusan Juta, Calo CPNS di Grobogan Ditangkap Polisi

“Maksud isi surat itu apa, hanya mendampingi? Keluarga korban ingin RSUD Kajen bertanggung jawab penuh sesuai hasil mediasi pada Senin (16/10/2017) kemarin. Bukan sekadar mendampingi. Saya tanya ke pihak rumah sakit maksud dari kata mendampingi itu apa tapi belum ada kejelasan,” kata Yusuf.

Direktur RSUD Kajen, Dwi Ari Nugroho, melalui pesan singkat kepada wartawan mengatakan, sesuai hasil audiensi, korban akan diberangkatkan ke Kota Semarang namun batal.

“Sesuai kesepakatan harusnya hari ini berangkat ke semarang tetapi keluarga menolak. Keluarga dan pengacara menghendaki audiensi dengan Dewan dan pengumpulan koin,” jelas Dwi

Saat ini, kondisi bayi, kata Karimah, sedang mengalami demam. Bayinya tak mendapatkan penanaganan lanjutan karena RSUD Kajen hanya mendampingi saja. “RSUD Kajen hanya bersedia mendampingi, tidak ada kejelasan pertanggung jawaban.Sekarang anak saya malah sakit demam,” ungkap Karimah.

Keluarga korban, Lukman, mengatakan, pihaknya meminta RSUD Kajen bertanggung jawab penuh terhadap kesembuhan dan pemulihan Adiyatma. “Harapannya tanggung jawab penuh pengobatan dan perawatan,” kata Lukman.

Lukman menuturkan, sejak RSUD Kajen mengeluarkan surat pernyataan bersedia mendampingi korban di rumah sakit di Kota Semarang, belum ada titik terang. “Kami kembalikan suratnya. Tidak ada pernyataan di isinya yang menerangkan siap bertanggung jawab, hanya mendampingi,” ungkapnya.

Pihak keluarga korban pun berencana mengadakan aksi penggalangan koin peduli Adiyatma. “Rencananya warga, gabungan LSM dan LBH Pekalongan akan aksi galang koin untuk Adiyatma,” pungkas Lukman.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Muda Bungkus Mayat Bayinya Pakai Seragam Pramuka di Purworejo

Foto Ilustrasi

MuriaNewsCom, Purworejo  –  Akhirnya pembuang bayi yang ditemukan di saluran irigasi Desa Binangun, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo , terungkap. Pelaku itu RN,  (22) warga desa setempat, yang merupakan  orangtua dari bayi malang tersebut.  

RN diamankan, saat sedang berada di rumahnya beberapa hari setelah adanya penemuan bayi yang menggegerkan warga, 7 Oktober 2017. RN diamankan  oleh Unit Reskrim Polsek Butuh Polres Purworejo dalam kondisi lemas karena diduga  habis melahirkan dan tanpa adanya penanganan medis.

Kapolres Purworejo AKBP Teguh Tri Prasetya, saat konferensi pers yang digelar di Mapolres Purworejo dengan awak media, Kamis (12/10/2017) mengatakan pihaknya telah mengamankan seorang perempuan, yang diduga menjadi pelaku tindak pidana pembuangan bayi tersebut.

“Setelah penemuan bayi yang cukup menghebohkan Kota Purworejo itu, kami langsung memerintahkan anggotanya, untuk melakukan penyelidikan,” kata Teguh.

Baca : Bayi Terbungkus Kresek Ditemukan di Saluran Irigasi Purworejo

Dari TKP, petugas mendapatkan petunjuk dari sampah yang berada di sekitar lokasi penemuan mayat bayi malang tersebut. “Di antara tumpukan sampah tersebut diketahui ada sebuah baju seragam pramuka yang terdapat nama serta identitas sekolah yang belakangan diketahui milik MA, yang merupakan adik tersangka RN,” terangnya.

Petugas yang mendatangi rumah tersangka langsung curiga melihat ada perempuan yang lemas dengan tanda- tanda setelah melahirkan. Di depan petugas kemudian RN mengaku bahwa telah melahirkan seorang bayi secara diam- diam di dalam kamarnya tanpa diketahui siapapun.

Ia yang  mmemproses sendiri persalinannya sampai kemudian bayi itu lahir. Tak berapa lama setelah lahir, RN kemudian membekap bayinya sendiri hingga tewas dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah ember.

Malam hari sekitar pukul 02.00 WIB, RN kemudian membungkus bayinya dengan plastik hitam dan membuangnya ke saluran irigasi Desa Binangun sebelum akhirnya ditemukan warga.

Atas perbuatannya, pelaku diancam dengan Pasal 80 Ayat 3 undang –Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 Tahun Penjara.

Editor : Akrom Hazami

 

Dinkes Klaim Angka Kematian Ibu di Jepara Menurun

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melihat aktivitas ibu hamil di rumah sakit. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Kesehatan Jepara mengklaim angka kematian ibu (AKI) akibat proses melahirkan turun. Meskipun demikian, hingga awal bulan Oktober tahun 2017 tercatat sudah ada sembilan kasus kematian ibu dengan risiko tinggi. 

“Pada tahun 2016 tercatat kematian ibu tercatat ada 14 kasus. Hal itu menempatkan Jepara berada di posisi ketiga dalam daftar jumlah AKI terendah di Provinsi Jawa Tengah,” ujar Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati, Jumat (6/10/2017). 

Meskipun mengalami penurunan, dengan sembilan kasus sampai bulan Oktober 2017, akan tetapi jumlah itu bisa jadi meningkat. Namun demikian, Dinkes Jepara mengaku akan berusaha keras dalam menekan jumlah AKI hingga tiga bulan kedepan. 

Satu di antara banyak upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan untuk menekan AKI adalah dengan membangun Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), di Kelurahan Bulu. Tempat tersebut merupakan sarana rujukan awal bagi mereka yang hendak melahirkan, namun jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.  

“Diharapkan jumlah kematian ibu semakin berkurang dan tidak terjadi lagi dalam kurun waktu tiga bulan mendatang, dan diwaktu yang akan datang,” katanya. 

Sementara itu Bupati Jepara Ahmad Marzuqi berharap fasilitas tersebut dapat berfungsi maksimal sesuai fungsinya. Ia menyebut, masih banyak wilayah di Bumi Kartini yang mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan di pusat kabupaten. 

“Dengan adanya fasilitas RTK ini, maka akan sangat membantu masyarakat Jepara yang jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan,” tuturnya. 

Adapun, fasilitas tersebut mulai dibangun pada 2016 dengan bantuan provinsi (Banprov). Selesai dibangun pada bulan Juni 2017, RTK terdiri dari empat kamar tidur dengan ruang dapur dan petugas.

Editor: Supriyadi

TEGA, Bayi Dibuang di Kompleks RSUD Brebes, Begini Kondisinya

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Brebes –  Karyawan RSUD Brebes geger pada Selasa (19/9/2017). Sebab ditemukan mayat bayi di kompleks RSUD. Dengan jenis kelaminnya adalah perempuan. Saat ini, jenazah bayi telah dibawa ke ruang kamar jenazah RSUD.

Direktur RSUD Brebes, Oo Suprana memperkirakan jika bayi diperkirakan sudah meninggal tiga jam sebelum ditemukan.”Panjang bayi 42 cm dan lingkar kepala 27 cm, diduga bayi ini lahir prematur,” kata Oo Suprana.

Bayi kali pertama ditemukan oleh Karno (49), seorang pekerja pembangunan RSUD Brebes. Kepada wartawan, Karno menuturkan jika bayi ditemukannya dengan tali pusar dan plasenta di tubuh bayi. Dengan tubuh miring.

“Waktu lagi jalan mau ambil kayu buat biki profil, saya lihat ada bayi di situ. Terus saya ngomong ke teman, katanya dia tidak tega melihatnya. Habis itu saya laporan sama petugas sini,” ujar kata Karno.

Sejumlah warga melaporkan penemuan bayi ke polisi. Penelusuran polisi, bercak darah ditemukan di kompleks RSUD dan di halaman samping SD Negeri 1 Brebes. SD itu berada di samping ruang IGD.

Polisi masih melakukan penelusuran kasus tersbut. Polisi menemukan ada luka memar di bagian kepala bayi. Diduga akibat pukulan benda tumpul. Diperkirakan bayi yang meninggal tersebut dilahirkan secara prematur dengan usia kandungan 36 minggu.

Editor : Akrom Hazami

Berat Badan Hanya 900 Gram, Bayi Prematur di Kudus Jalani Perawatan Intensif di Ruang PICU

Bayi prematur berbobot 900 gram menjalani perawatan intensif di ruang PICU RSUD Kudus, Senin (18/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang bayi laki-laki di Kudus lahir prematur, dengan bobot hanya 900 gram atau kurang dari satu kilogram. Karena kondisi itu, bayi mungil tersebut harus diberikan perawatan intensif oleh pihak rumah sakit.

Sri Karmini, Kepala Ruang PICU NICU RSUD Kudus mengatakan, bayi tersebut merupakan anak Qismaroh, warga Kecamatan Gebog. Meski prematur, namun bayi lahir melalui proses persalinan normal seperti bayi pada umumnya. 

”Bayi tersebut lahir normal pada bidan di Desa Padurenan, Gebog. Namun saat lahir, usia kandungan masih muda, yakni baru berumur 27 pekan,” katanya kepada wartawan Senin (18/9/2017).

Baca Juga: Asyifan Maulana, Bayi Berusia 2 Hari Asal Kudus yang Didiagnosa Alami Bocor Jantung

Karena kondisi tersebut, bidan langsung merujuk bayi ke RSUD Kudus Minggu (17/9/2017) pagi. Dengan didampingi sanak saudara, bayi mungil tersebut sampai di RSUD sekitar pukul 09.00 WIB.

”Saat ini bayi masih dalam perawatan. Paru-parunya masih belum berkembang sempurna karena memang masih kecil sekali. Jadi kami bantu kasih oksigen dan infus,” ujarnya.

Tentang kondisi bayi secara detail, pihaknya tak bisa menjawab lantaran itu kewenangan dokter. Sedang dokter sedang tak berada di rumah sakit saat awak media sedang melakukan peliputan.

Ia menambahkan, kasus bayi prematur di Kudus memang masih jarang dijumpai. Namun pihak RSUD tetap memberi pelayanan yang prima kepada bayi tersebut.

”Soal pengobatan, rencana akan menggunakan JKD (Jaminan Kesehatan Daerah,red),” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Bayi Dibuang di Jepara jadi Rebutan Pasangan Adopsi

Perawat menggendong bayi yang dibuang, di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Perawat menggendong bayi yang dibuang, di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Bayi cantik yang dibuang di depan teras rumah warga di Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, Jepara menyita perhatian publik. Bahkan, banyak warga yang ingin mengadopsi bayi tak berdosa itu.

Salah satu warga yang ingin mengadopsi bayi cantik itu, yakni Taufiq Sabda, warga RT 4 RW 4 Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan,Jepara. Dia mengaku siap mengadopsi bayi cantik tersebut, jika tidak ada yang mau mengakui sebagai orang tuanya.

“Ini sebagai bentuk keprihatinan dan kemanusiaan. Kalau memang orang tua kandung tidak menginginkan bayinya, saya siap untuk mengadopsi,” katanya, Rabu (16/12/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, dirinya sudah menghubungi pihak puskesmas dan pihak terkait atas niatannya tersebut. Jika nantinya, memang tidak ada yang mengakui sebagai orang tuanya, ia siap mengadopsi bayi perempuan itu.

Sementara itu, Kapolsek Mlonggo AKP Maryono mengatakan kasus penemuan bayi saat ini sudah dilimpahkan ke unit Perlidungan Perempuan dan Anak (PPA) Mapolres Jepara. Terkait dengan siapa saja yang menginginkan untuk melakukan adopsi, bisa datang atau menghubungi langsung ke unit perlindungan anak.

Sedangkan untuk keberadaan orang tua sang bayi masih dalam pemeriksaan kepolisian. Pihaknya berharap, pelaku atau orang tua yang mencoba menelantarkan anak kandungnya itu bisa segera mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Kami sudah meminta semua Babinkantibmas untuk mengerahkan anggotanya mendata perempuan yang belakangan diketahui hamil. Kami berharap segera ditemukan siapa orang tua terutama ibu dari bayi ini,” terangnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Polisi Kudus Siapkan Hukuman Setimpal bagi Ibu Pembuang Bayi

Wakapolres Kudus KOmpol Yunaldi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Wakapolres Kudus KOmpol Yunaldi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS –  Polres Kudus telah menyiapkan hukuman setimpal bagi ibu pembuang bayi di Desa Jurang, Kudus. Sang ibu dapat dikenakan ancaman kasus karena menelantarkan anak.

“Proses hukum kami, pasti kan juga tetap berjalan. Sampai tuntas,” kata Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya proses hukum tidak dapat dilepaskan meskipun nantinya bayi akan ada yang mau mengadopsi. Bahkan dia menyatakan akan banyak pihak yang bersedia mengadopsi. “Kalau yang mau mengadopsi saya yakin banyak,” ungkap Yunaldi.

Menurutnya, pihak kepolisian berharap orang tua bayi, khususnya ibu yang melahirkan, untuk segera mengambil anaknya. Hal itu dilakukan agar bayi juga mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Ibu Kejam masih Biarkan Bayinya di RSUD Kudus Usai Dibuang

Bayi malang yang masih dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bayi malang yang masih dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bayi malang yang ditemukan di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus, Rabu (9/9/2015) lalu, hingga kini masih belum jelas siapa orang tuanya.

Pihak RSUD dr Loekmono Hadi Kudus berharap  sang ibu segera menemui petugas  rumah sakit guna mengambil bayi. Atau jika tidak, bayi bakal diberikan kepada orang tua asuh yang hendak mengadopsi.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus dokter Aziz Achyar mengatakan, bayi diharapkan dapat diambil oleh pihak keluarganya. Sampai kini belum ada satu keluargapun yang menghubungi rumah sakit untuk mengadopsi bayi tersebut.

“Kami masih menunggu keluarga mengambil bayi ini. Jika tidak datang juga, maka bayi bisa diadopsi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, kondisi bayi sudah semakin membaik. Meski demikian, evaluasi yang dilakukan pihak rumah sakit masih dilaksanakan, sehingga bayi masih berada di dalam ruangan khusus.

“Masih kita pantau terus kondisinya. Namun melihat grafiknya menunjukan semakin bagus. Kami masih tunggu, siapa yang mau mengadopsi, tentunya dengan izin dari polres Kudus,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Ibu dari Bayi yang Dibuang di Gebog, Diduga Memiliki Penyakit Menular

Bayi jenis kelamin yang ditemukan warga di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus tadi malam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bayi jenis kelamin yang ditemukan warga di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus tadi malam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Hingga saat ini, bayi yang diketemukan warga di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus, belum diketahui siapa orangtuanya. Namun, pihak RSUD dr Loekmono Hadi Kudus menduga, jika ibu dari bayi tersebut memiliki penyakit menular.

Abdul Hakim, dokter spesialis anak di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus menyatakan, jika pihaknya sudah melakukan uji laboratorium, dan hasilnya menunjukkan jika bayi tersebut memiliki penyakit yang butuh penanganan serius.

“Ini baru dugaan. Namun dari hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa bayi memiliki penyakit. Sehingga harus ditangani secara pasti,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, melihat penyakit yang ada pada bayi, diduga diperoleh dari ibu kandungnya. Sebab penyakit tersebut dibawa saat masih dalam kandungan dan juga, selama di dalam kandungan bayi kurang perawatan dari ibunya.

”Bayi yang ditemukan warga ini, diduga dilahirkan dalam kondisi kandungan yang sudah tua atau melebihi masa kandungan sewajarnya. Sehingga kulit bayi terlihat keriput dan memiliki kuku yang panjang,” katanya.

Dia menduga, persalinan bayi tersebut dibantu dukun bayi. Kemudian, persalinannya juga dengan lancar dan normal, sebab tidak ada tanda tanda gangguan saat melahirkan.”Kita akan cek selama satu dua hari. Kita lihat kondisi bayi apakah siap dipindahkan atau tidak,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Sadis! Bayi Perempuan Ini Dibuang di Jurang Kudus

Bayi jenis kelamin yang ditemukan warga di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus tadi malam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bayi jenis kelamin yang ditemukan warga di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus tadi malam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS  – Petugas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus semalam dikejutkan dengan adanya pihak kepolisian yang mengantarkan bayi ke rumah sakit. Bayi ini ditemukan warga di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus.

Humas RSUD Kudus Laili mengatakan, ketika bayi yang berjenis kelamin perempuan ini sampai di rumah sakit, kondisinya sudah membutuhkan penanganan serius.

“Bayi ini ditemukan warga, lalu dilaporkan ke kepolisian. Kemudian, petugas membawanya ke rumah sakit, kira-kira pukul 22.50 WIB sampai disini. Kemudian, kita langsung tangani, karena kondisinya memang harus segera memerlukan penangananan. Bayi ini panjangnya 44 cm dengan berat 200 gram,” ujarnya.

Dia mengatakan, jika kondisi bayi saat itu membutuhkan cairan yang cukup banyak, karena kondisinya sangat lemas.

Hingga kini, pihak rumah sakit masih merawat bayi dalam ruangan khusus. Kondisi terakhir, bayi sudah dapat menangis keras, berbeda dengan kondisi awal ditemukan yang diam dan lemas. “Kalau kabarnya itu ditemukan jam 21.00 WIB,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)