Ngantuk, Truk Bermuatan Bawang Putih di Grobogan Terguling ke Pinggir Sawah

MuriaNewsCom, GroboganPeristiwa kecelakaan tunggal terjadi di jalan raya Purwodadi-Semarang, tepatnya di sebelah barat jembatan Serang Penawangan, Rabu (17/1/2018). Sebuah kendaraan truk keluar dari bahu jalan dan terguling di pinggir sawah.

Kecelakaan yang menimpa truk dengan nopol BD 8722 KF di dekat pasar Semangka itu terjadi sekitar pukul 15.30 WIB. Truk warna merah itu bermuatan bawang putih.

Informasi yang didapat menyatakan, saat itu, truk yang dikemudikan Sutrisno itu sedang melaju dari arah barat menuju arah Purwodadi. Saat sampai di lokasi, tiba-tiba kendaraan itu terlihat keluar dari bahu jalan dan akhirnya terguling di pinggir sawah.

”Kondisi jalan tadi sedang sepi. Saya lhat truk itu mendadak keluar dari bahu jalan dengan sendirinya dan akhirnya terguling,” kata Herman, salah seorang pengendara yang kebetulan sempat melihat kejadian itu.

Tidak lama setelah kejadian, sejumlah anggota Satlantas langsung tiba dilokasi. Kebetulan, mereka saat itu sedang dalam perjalanan melintasi jalan Purwodadi-Semarang untuk melakukan patroli.

”Sopirnya juga tidak mengalami luka dan tadi kita bantu keluar dari kendaraan. Muatan yang ada dalam kendaraan untuk sementara kita pindahkan ke lokasi aman. Ini, kita lagi proses evakuasi truk yang terguling,” kata Kanit Turjawali Satlantas Polres Grobogan Ipda Afandi di lokasi.

Dijelaskan, kendaraan tersebut berangkat dari Jakarta untuk mengantarkan bawang putih ke Sragen. ”Kemungkinan, sopirnya ngantuk sehingga tidak bisa menguasai kendaraan dengan baik. Kami mengimbau pada pengendara untuk beristirahat kalau merasa lelah atau mengantuk,” katanya.

Editor: Supriyadi

Intensitas Hujan Tinggi, Petani Bawang Merah di Grobogan Ketar-Ketir

Petani bawang merah sedang melangsungkan panen meski kondisi cuaca yang kurang menguntungkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Masih tingginya curah hujan membuat para petani bawang merah dilanda kecemasan. Soalnya, intensitas hujan yang tinggi akan berdampak pada harga jual hasil panen bawang merah.

Berdasarkan keterangan petani, secara umum, kondisi tanaman bawang merah yang ditanam menjelang akhir tahun ini dinilai cukup bagus. Dari awal hingga menjelang panen, tidak ada serangan hama pada tanaman.

”Kondisi tanaman rata-rata sangat bagus. Serangan hama kali ini masih wajar, tidak seperti beberapa waktu lalu,” kata Sucipto, petani bawang merah di Desa Sugihan, Kecamatan Toroh, Selasa (5/12/2017).

Kekhawatiran petani terjadi ketika memasuki masa panen. Tingginya curah hujan menjadikan tanah sawah menjadi lembek. Kondisi itu berdampak dengan banyaknya tanah yang menempel pada umbi bawang merah
ketika dipanen.

”Hasil panen tidak bisa menarik. Soalnya, umbi bawang merah terlihat kotor karena banyak tanah menempel saat proses pencabutan dari tanah,” katanya.

Kondisi umbi bawang merah yang kotor sebenarnya bisa diatasi dengan penjemuran selama dua sampai tiga hari. Namun, tindakan ini tidak bisa dilakukan karena dalam beberapa minggu terakhir praktis jarang ada cuaca panas.

”Umbi bawang merah yang dipanen sebenarnya maksimal hasilnya. Sayangnya, banyak tanah yang menempel. Dengan kondisi seperti ini, harga jualnya jadi turun jadi Rp 10 ribu per kilonya. Saat belum banyak hujan, harga bawang merah bisa sampai Rp 20 ribu,” cetusnya.

Panen bawang merah idealnya dilakukan pada usia 60 hari. Dengan kondisi cuaca yang banyak hujan, sebagian petani sempat menunda panen hingga usia tanaman mencapai 65-70 hari. Penundaan panen dilakukan karena mereka berharap ada cuaca panas pada saat itu. Namun, cuaca panas ternyata tidak kunjung muncul sehingga petani mau tidak mau harus segera memanen bawang merahnya.

”Panen bawang merah kalau lebih dari 70 hari sudah tidak bagus hasilnya. Jadi, mau tidak mau harus kita panen meski kondisi cuaca banyak hujan,” cetus Susanto, petani di Kecamatan Godong.

Editor: Supriyadi

Begini Latar Belakang Kades Penawangan Pemasang Ratusan Lampu Sebagai Pengusir Hama

Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo di areal tanaman bawang merahnya yang dipenuhi ratusan lampu penerangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ide pemasangan lampu penerangan di lahan sawah milik Kades Penawangan Tri Joko Purnomo ternyata berawal dari hal yang dianggap cukup sepele. Sekitar sebulan lalu, Joko sempat membawa pulang sebagian hasil panen bawang merahnya yang terserang ulat.

Hasil panen kemudian dijemur di halaman rumah untuk mengeringkan daun bawang merah. Sebagian hasil panen itu terdapat serangga dan telur yang menempel pada daun bawang merah. Hal itu diketahui saat Joko mencoba mengamati kondisi tanaman yang dibawa pulang tersebut.

Saat malam harinya, di ruang tamu rumah Joko mendadak banyak serangga beterbangan di dekat lampu penerangan. Tidak berselang lama, ada beberapa kelelawar yang masuk ke dalam rumah dan memakan serangga-serangga tersebut. Setelah tidak ada mangsa lagi, kelelawar itu kemudian pergi dari rumahnya dan berkeliaran di alam bebas.

“Selama ini, hampir tidak ada kelelawar yang masuk rumah meski pintunya terbuka lebar. Dari peristiwa inilah, kemudian muncul ide memasang lampu penerangan di sawah,” jelas Joko.

Meski sudah ada ide, namun pemasangan lampu tidak langsung dikerjakan. Soalnya, Joko butuh mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu.

Baca Juga: Hebat!! Kades di Grobogan Ini Sukses Manfaatkan Lampu Listrik untuk Berantas Hama di Bawang Merah

Termasuk diantaranya mencari informasi soal kelelawar yang biasa makan serangga. Hal itu perlu dilakukan karena selama ini yang dia tahu baru sebatas jenis kelelawar pemakan buah atau biasa disebut codot oleh orang Jawa.

Dari keterangan yang didapat jenis kelelawar itu ada tiga macam. Selain codot, ada yang disebut Lowo yang makan serangga dan jenis penghisap darah atau biasa disebut Kalong.

Setelah ditelusuri, populasi Lowo itu banyak terdapat di sekitar lahan bawang merahnya. Yakni, dikolong jembatan sungai Serang yang jaraknya tidak sampai 1 km disebelah timur areal sawahnya.

Usai mengumpulkan informasi, Joko kemudian mantap memasang lampu penerangan di areal sawah. Berbagai kebutuhan dipersiapkan untuk merealisasikan idenya. Seperti, membeli kabel, fiting, lampu, dan menyiapkan tiang bambu. Selain itu, satu unit mesin genset miliknya juga disiapkan untuk menyuplai arus listriknya.

Sekitar 20 hari lalu, ratusan lampu mulai dipasang. Lampu dipasang diketinggian 2,5 meter dari tanah. Posisi lampu dipasang cukup tinggi untuk memudahkan kelelawar menyambar mangsa.

Untuk pemasangan lampu penerangan di lahan hampir 5 hektar itu, Joko menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta. Biaya itu sudah termasuk ongkos tukang khusus yang memasang jaringan instalasi listrik.

“Investasi awal memang terlihat cukup besar. Tetapi, kalau dihitung ketemunya murah. Soalnya, instalasi ini bisa dipakai dalam jangka panjang. Tidak hanya sekali pakai saja,” cetusnya.

Setelah 20 hari dipasangi lampu, serangga yang singgah pada tanaman bawang merah mulai berkurang. Kondisi ini, berimbas dengan berkurangnya frekuensi penyemprotan insektisida pada tanaman yang menjadikan biaya perawatan turun.

Sejak dipasang lampu, penyemprotan tanaman hanya dilakukan 2 kali dalam seminggu. Sebelumnya, dalam sehari, penyemprotan bisa dilakukan dua kali.

Soal biaya operasional dinilai Joko tidak terlalu besar. Setiap hari, lampu dinyalakan selama 12 jam, mulai pukul 17.30 sampai 05.30. Dalam sehari, ongkos yang dikeluarkan sekitar Rp 40 ribu untuk beli solar mesin genset.

Joko mengaku, metode menekan hama bawang merah dengan lampu penerangan sudah mulai diadopsi beberapa petani lainnya. Bahkan, petani dari Kecamatan Klambu juga mulai memasang lampu penerangan karena hasilnya dinilai cukup bagus.

Editor: Supriyadi

Hebat!! Kades di Grobogan Ini Sukses Manfaatkan Lampu Listrik untuk Berantas Hama di Bawang Merah

Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo di areal tanaman bawang merahnya yang dipenuhi ratusan lampu penerangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganPemandangan cukup unik terlihat di areal sawah yang ada di Desa/Kecamatan Penawangan sejak beberapa hari lalu. Hal ini terkait adanya ratusan lampu listrik yang terpasang di areal persawahan tersebut.

Banyaknya lampu di areal sawah yang dibawahnya terdapat hamparan tanaman bawang merah itu sempat menarik perhatian pengendara yang melintasi jalan raya Purwodadi-Semarang. Lokasi sawah yang ada lampunya itu memang hanya berjarak sekitar 50 meter dari jalan raya.

Saat lampu dinyalakan menjelang petang, pancaran lampu neon di hamparan sawah terlihat seperti kunang-kunang.

Lahan bawang merah yang dipasangi lampu itu milik Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo. Hamparan bawang merah itu luasnya sekitar 5 hektare.

Jumlah lampu yang terpasang hampir 300 titik. Lampu dipasang di antara tiang bambu yang berfungsi sebagai tempat menautkan kabel listrik.

Lampu di areal sawah itu dipasang rapi dengan jarak hampir seragam. Kira-kira, tiap jarak lima meter dipasangi satu titik lampu.

”Pemasangan lampu ini merupakan eksperimen untuk menekan hama ulat yang menyerang bawang merah. Setelah dipasang lampu, dampaknya cukup bagus,” kata Joko, saat ditemui MuriaNewsCom di areal sawahnya, Jumat (22/9/2017).

Pemasangan lampu itu memang tidak berdampak secara langsung untuk menekan hama ulat. Tetapi fungsinya sebagai penarik perhatian atau pemancing buat serangga supaya keluar dari tanaman bawang merah.

Keluarnya serangga yang jadi penghasil ulat itulah diikuti dengan datangnya banyak kelelawar di areal sawah. Binatang malam inilah yang akhirnya memangsa serangga yang keluar mendekati sorot lampu tersebut.

Munculnya kelelawar memang terlihat tidak lama setelah lampu dinyalakan. Setelah suasana gelap, jumlah kelelawar yang beterbangan di areal sawah makin banyak. Beberapa kelelawar terlihat bermanuver untuk memangsa serangga yang keluar dari sarangnya mendekati sorot lampu.

”Kelelawar ini jenis pemakan serangga. Bukan jenis codot atau kelelawar yang makanannya buah-buahan. Kelelawar jenis ini merupakan salah satu predator alami serangga,” jelas Ketua Kelompok Tani Niaga Tani yang tanaman bawang merahnya sempat jadi juara nasional dalam Pekan Nasional KTNA di Aceh beberapa waktu lalu itu.

Joko menjelaskan, serangga yang bersarang pada tanaman bawang merah karena butuh tempat untuk bertelur. Telur itu menempel pada daun dan setelah menetas jadi ulat-ulat kecil. Ulat inilah yang kemudian memakan daun bawang merah usia muda.

Untuk membasmi ulat tersebut tidak mudah. Ketika serangan mengganas, butuh beberapa kali penyemprotan insektisida dalam satu hari. Itupun, terkadang hasilnya belum bisa maksimal.

“Jika tidak dikendalikan, dalam semalam, hama ulat ini bisa menghabiskan tanaman bawang merah. Hama ulat inilah yang jadi salah satu momok petani bawang merah,” kata Joko.

Guna menekan serangan hama, salah satu solusinya adalah mencegah agar serangga jangan sampai bertelur. Sebelum memakai lampu, berbagai motode untuk mengurangi serangga sudah pernah dicoba. Namun, sejauh ini hasilnya dinilai kurang maksimal dibandingkan setelah menggunakan lampu.

Menurut Joko, tanaman bawang merah di lahan sawahnya usaianya tidak seragam. Paling tua berusia 40 hari. Ada sebagian lahan yang ursia tanamannya sekitar 15 hari. Kemudian, beberapa lahan lainnya baru ditanami bawang merah beberapa hari lalu.

Setelah dipasang lampu, serangan hama ulat turun drastis dibandingkan sebelum dikasih penerangan tersebut. Kondisi ini bisa terjadi karena sudah banyak serangga yang dimakan predator alami sehingga tidak sampai bertelur pada tanaman.

“Sebenarnya, ada predator alami lagi yang memangsa serangga, yakni katak. Tetapi, sekarang populasi katak sawah sudah kurang karena diburu orang,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah di Kudus Anjlok

Sejumlah petani di Kabupaten memanen cabai di sawahnya, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Harga cabai rawit dan bawang putih di Kabupaten Kudus, Jumat (11/8/2017) turun drastis. Turunnya harga dua komoditas tersebut lantaran stok yang melimpah sementara daya beli masyarakat masih sama.

Petugas pengumpul data pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Noor Rokhis mengatakan, anjloknya harga dua komoditas tersebut terlihat jelas di tiga pasar tradisional. Untuk cabai rawit rata-rata turun antara Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.

”Di Pasar Bitingan, harga cabai rawit mengalami penurunan dari Rp 17 ribu menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Kemudian di Pasar Kliwon dari Rp 20 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Sedangkan di Pasar Jember harganya dari Rp 18 ribu jadi Rp 15 ribu per kilogram,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, untuk bumbu dapur jenis bawang, harganya juga mengalami penurunan. Untuk bawang merah yang semula Rp 22 ribu, kini turun menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan untuk bawang putih, harganya yang pernah melambung hingga Rp 31 ribu  kini hanya Rp 30 ribu per kilogram.

Sedang, untuk komoditas lainnya masih cenderung stabil. Seperti telur ayam negeri yang harganya masih Rp 20 ribu per kilogram, gula pasir Rp 12 ribu per kilogram, dan daging sapi KW 1 seharga Rp 110 ribu per kilogram.

“Harganya berkembang tiap hari, namun perkembangan masih fluktuatif, tergantung stok dagangan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Petani Bawang Merah Grobogan Dibikin Melek Metode Soil Block

Petani bawang merah dari Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu mendapat pembelajaran cara membuat persemaian biji menggunakan soil block, Kamis (27/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Inovasi untuk mempermudah pembuatan benih bawang merah melalui sistem true seed shallot (TSS) atau tanam biji dikenalkan pada petani di Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu, Grobogan, Kamis (27/7/2017). Yakni, melalui metode persemaian biji menggunakan soil block.

Pengenalan metode melalui kegiatan temu lapang ini diberikan tim ahli dari Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah yang dipimpin Profesor Agus Hermawan. Hadir pula dalam kesempatan itu, Sekretaris Dinas Pertanian Grobogan Ahmad Zulfa Kamal dan sejumlah pegawai di bidang hortikultura.

TSS merupakan cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah.

Pada penanaman bawang merah sistem TSS, biji disemai di lahan dan butuh areal cukup luas. Dengan metode soil block, biji bawang merah cukup ditempatkan pada media tertentu yang dipadatkan dan membentuk media padat.

Saat proses pembuatan soil block, di tengah media sudah otomatis terdapat lubang untuk menaruh biji bawang merah yang akan disemai. Melalui metode ini, memungkinkan petani untuk menghasilkan bibit bawang merah dengan perakaran yang bagus dan bisa tumbuh dengan baik ketika nantinya dipindah tanam ke lahan.

Dengan metode ini, petani tidak perlu butuh lahan luas untuk membuat bibit lewat TSS. Tetapi, bisa memanfaatkan lahan kosong atau pekarangan rumah dengan diberi peneduh.

Selain dikenalkan, tim ahli juga mengajari langsung para petani cara membuat soil block. Kemudian, pihak BPTP Jateng juga memberikan peralatan untuk membuat soil block bagi petani. Diharapkan, nantinya petani dari Desa Kandangrejo bisa menjadi penangkar benih TSS lewat metode soil block tersebut.

Profesor Agus Hermawan menyatakan, tujuan temu lapang tersebut di antaranya adalah untuk menyebarluaskan inovasi pengembangan produksi umbi benih bawang merah asal biji (TSS). Yakni, melalui metode tanam benih langsung (tabela) dan pindah tanam dari media soil block pada petani.

“Melalui kegiatan ini juga bertujuan untuk mempercepat alih inovasi pengembangan produksi umbi benih bawang merah asal biji (TSS). Pada tahun 2017 ini, BPTP Jateng bekerjasama dengan Dinas Pertanian Grobogan serta petani kooperatif  membuat demplot percontohan di Kandangrejo,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, sejauh ini, penamanan bawang merah dengan TSS sudah cukup familiar dengan petani. Setidaknya, petani di tiga kecamatan sudah berhasil membudidayakan bawang merah dengan TSS. Yakni, Kecamatan Klambu, Tanggungharjo, dan Penawangan

 

Editor : Akrom Hazami