Bulog Pati Wajibkan Karyawannya Beli Bawang Merah dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Bulog Pati menginstruksikan kepada seluruh karyawan wajib membeli bawang merah dari kalangan petani. Itu dilakukan sebagai langkah partisipasi Bulog atas murahnya harga bawang merah.

Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati Rindo Saputra mengatakan, partisipasi semacam itu dilakukan untuk membantu petani menjual bawang merah. Cara seperti itu dapat membantu sambil menunggu usulan penyerapan bawang merah petani.

“Seluruh karyawan kami sudah kami instruksikan membeli bawang merah dari petani. Dan saat ini masih berlangsung,” katanya saat ditemui.

Baca: Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

Menurut dia, tiap karyawan diharuskan untuk membeli bawang sejumlah dua kilogram. Tiap kilo, mereka diharuskan membayar sebanyak Rp 15 ribu. Harga tersebut dianggap pas untuk memenuhi kebutuhan bawang karyawan.

Disebutkan, jumlah karyawan Bulog memang tak banyak. Tercatat, karyawan hanya 46 orang saja. Kendati demikian, diharapkan akan membantu petani meski sedikit.

“Kalau ada yang mau membeli lebih dari itu kami persilakan. Namun minimal adalah lima kilogram,” ungkap dia.

Sebelumnya, aksi serupa juga dilakukan Pemkab Pati untuk membeli bawang merah petani. Bedanya, tiap PNS Pati harus membeli sebanyak dua kilogram.

Editor: Supriyadi

Harga Anjlok, Bulog Pati Usulkan Pembelian Bawang dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Harga bawang merah yang anjlok di kalangan petani di Bumi Mina Tani membuat Perum Bulog Subdivre II Pati bergerak cepat. Salah satunya memberikan usulan ke Bulog Pusat untuk melakukan pembelian. Tujuannya, supaya petani tak terlalu rugi dan bisa melakukan tanam kembali.

Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati Rindo Saputra mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan pembahasan internal terkait langkah tersebut. Dalam waktu dekat, usulan tersebut akan diberikan ke tingkat Jateng dan pusat.

“Sebenarnya untuk kebijakan membeli atau menyerap merupakan kewenangan dari pusat. Jika pusat menginstruksikan membeli maka kami akan beli. Makanya kami usulkan,” katanya, Jumat (19/1/2018).

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Menurut dia, upaya membeli bawang petani merupakan upaya membantu petani. Terlebih saat harganya anjlok seperti sekarang ini, petani sangat membutuhkan uluran tangan untuk menekan kerugian.

Namun, kata dia, pihak Bulog tidak bisa membeli secara keseluruhan bawang milik petani. Karena, Bulog sendiri memiliki masalah penyimpanan bawang. Lain halnya untuk beras, yang banyak memiliki gudang.

“Kalaupun membeli bawang maka kami harus menyimpan di PT Pura Kudus. Di sana terdapat alat untuk menyimpan dalam jumlah besar. Jika tidak, maka bawang merah hanya bertahan beberapa pekan saja,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya mengaku masih memiliki cadangan bawang merah sebanyak 18 ton. Semuanya disimpan di gudang milik PT Pura Kudus.

Editor: Supriyadi

Wabup Pati Heran Harga Bawang di Petani dan di Pasar Terpaut Rp 13 Ribu

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Bupati Pati Saiful Arifin heran dengan perbedaan harga bawang merah di tingkatan petani dan pedagang. Itu karena, keduanya memiliki perbandingan harga yang fantastis, yakni mencapai kisaran Rp 13 ribu.

“Jika di petani, harga Bawang Merah kisaran Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribuan. Padahal di tingkat pedagang harganya mencapai Rp 18 ribu. Ini ada apa?,” Katanya kepada petani Bawang Merah saat audiensi, Senin (16/1/2018).

Baca: Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

Menurut dia, terpahutnya harga yang begitu tinggi membuat Pemkab Pati penasaran apakah ada campur tangan mafia ataukah tidak. Karenanya ia bersedia mendampingi petani untuk menstabilkan harga bawang merah. Bahkab keseriusanya itu dilakukan dengan melayangkan surat kepada presiden terkait tuntutan dari petani bawang merah.

“Komunikasi dengan pemerintah pusat dibutuhkan untuk solusi jangka panjang. Jangan sampai kejadian semacam ini terulang kembali,” ungkapnya.

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Dia menambahkan, di Indonesia dibutuhkan aturan soal harga bawang merah. Tujuannya supaya saat harga anjlok masih terkendali, dan saat harga tinggi juga dapat terkontrol.

Hanya, ia mengakui anjloknya harga bawang merah terjadi dalam skala nasional. Itu terjadi bukan disebabkan adanya impor bawang. Melainkan, petani bawang merah belakangan sangatlah banyak dan panen raya. Itu berdampak pada turun harga bawang.

Editor: Supriyadi

Baca: Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Bupati (Wabup) Pati Saiful Arifin menginstruksikan kepada seluruh PNS wajib membeli bawang merah dari petani Pati. Itu dilakukan sebagai langkah Pemkab Pati atas murahnya harga bawang merah.

“Kami dari Pemkab Pati sudah memutuskan, mengambil kebijakan agar semua PNS di Pati membeli bawang merah dari petani Pati,” katanya kepada petani Bawang Merah saat audiensi, Senin (16/1/2018).

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Didampingi pejabat di lingkungan Pemkab Pati, Safin kembali menegaskan, setiap PNS diharuskan untuk membeli bawang sejumlah dua kilogram. Tiap kilo, PNS di Pati diharuskan membayar sejumlah Rp 15 ribu. Harga tersebut dianggap terjangkau untuk para PNS. Apalagi TPP para PNS di Pati juga cukup tinggi.

Disebutkan, jumlah PNS di Pati hingga kini mencapai jumlah 11.100 PNS. Meski dengan jumlah belasan ribu PNS tak cukup membeli seluruh bawang petani, namun itu merupakan upaya dalam membantu petani bawang.

“Ini merupakan gerakan solidaritas dari pemerintah.  Jadi silakan lokasinya ditentukan dan dikomunikasikan dengan petani, nanti bisa diatur,” imbuh dia.

Editor: Supriyadi

Baca: Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani bawang merah pati yang tergabung dalam Paguyuban Petani Bawang Merah Pati (PPBMP) menggelar aksi di Alun-alun Pati, Senin (16/1/2018). Mereka menuntut pemerintah menyetabilkan harga bawang yang semakin anjlok di pasaran.

Ribuan petani bawang tiba menggunakan kendaraan roda empat jenis truk dan mobil pribadi. Lengkap dengan sejumlah bendera merah-putih dan sejumlah poster bertuliskan tentang keluhan petani.

Seperti halnya tulisan “Iki Brambang dudu kotang, tapi ko mlorot terus. Nandur bawang tukule utang” dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula sejumlah tulisan lain soal menderitanya petani karena bawang harganya anjlok.

Selain pamflet bertuliskan keluh kesah harga, para pengunjukrasa juga melakukan teatrikal pocong. Teatrikal tersebut dilakukan sebagai bentuk keprihatinan harga bawang merah yang terus turun.

Suparlan, koordinator aksi mengatakan, aksi ini terpaksa diselenggarakan karena petani bawang selalu menderita. Dengan harga yang selalu turun, maka petani sangat sengsara. Untuk itu aksi ini dilakukan.

“Kami meminta pemerintah dapat membantu kami agar harga kembali stabil,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Kakek 73 Tahun Tewas Tengkurap di Tengah Sawah di Desa Pojok Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang petani ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di tengah areal sawah di Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon, Kamis (11/1/2018). Petani yang tergeletak dalam posisi tengkurap di pematang sawah itu diketahui bernama Karno, warga Pojok yang tinggal di Dusun Kasian RT 03, RW 07.

Saat ditemukan, petani berusia 73 tahun itu mengenakan celana warna hitam dan kaos abu-abu. Didekat tubuh korban masih terdapat cangkul miliknya yang diduga kuat digunakan untuk melakukan aktivitas sebelum meninggal.

Informasi yang didapat menyebutkan, kakek tersebut diketahui tewas di tengah sawahnya sendiri sekitar pukul 06.00 WIB. Peristiwa itu awalnya diketahui oleh beberapa petani yang saat itu hendak menuju sawahnya.

Saat diperiksa, Karno ternyata sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Beberapa petani kemudian melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian. Tidak lama kemudian, istri korban bernama Susanti (60) sudah tiba dilokasi kejadian.

Saat itu, Sutiyem kebetulan memang sedang mencari keberadaan suaminya. Ceritanya, sejak malam sekitar pukul 19.00 WIB, Karno pamit mau ke sawah untuk menangani hawa bawang merah yang biasanya menyerang pada malam hari.

Namun, hingga selepas Subuh, ia tidak kunjung pulang ke rumah hingga akhirnya dicari sampai ke areal sawah. Selama ini, korban memang seringkali berada disawah semalaman ketika musim tanam bawang merah.

Kapolsek Pulokulon AKP Juhari menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bersama tim Inafis Polres Grobogan dan Puskesmas setempat, tidak ditemukan tanda penganiayaan. Diduga korban meninggal karena penyakit darah tingginya kambuh.

”Dari keterangan pihak keluarga, korban memang menerita penyakit darah tinggi sejak beberapa tahun terakhir. Setelah diperiksa, jenazah kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Begini Perjuangan Petani di Penawangan Grobogan Selamatkan Bawang Merah dari Banjir

MuriaNewsCom, GroboganPemandangan yang cukup bikin trenyuh terlihat di areal sawah di Desa/Kecamatan Penawangan. Sejumlah petani terlihat berjibaku memanen bawang merah.

Tindakan itu dilakukan karena diareal sawah sudah tergenang air cukup tinggi dan hampir merendam tanaman bawang merah. Lokasi sawah yang terdapat tanaman bawang merah berada di sekitar 400 meter disebelah barat sungai Serang.

“Air yang menggenangi areal sawah ini berasal dari luapan sungai Serang. Dalam beberapa hari terakhir, debit air sungai naik terus hingga menjangkau areal sawah disekitarnya. Terutama di kawasan sebelah barat sungai yang lokasinya agak rendah,” jelas Petugas Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian wilayah Penawangan Bambang Sunarto, Sabtu (30/12/2017).

Untuk memanen bawang merah yang hampir terendam butuh perjuangan dan kehati-hatian. Setelah dicabut dari tanah, bawang merah dimasukkan dalam kantong rajut dan kemudian dibungkus ke dalam plastik besar serta ditutup rapat.

Hal ini untuk mencegah agar tidak ada air masuk dalam plastik yang bisa menyebabkan bawang merah jadi rusak. Selanjutnya, petani mendorong kantong plastik berisi bawang merah menyusuri air menuju ke pinggir sawah. Ketinggian air diareal sawah hampir setinggi dada.

Menurut Bambang, total areal bawang merah dilokasi tersebut sekitar 0,5 hektare. Sebenarnya, bawang merah itu belum waktunya dipanen karena masih berumur sekitar 53 hari.

“Idealnya, panen masih seminggu lagi. Tetapi, terpaksa dipanen lebih dini karena jika terendam air justru malah busuk. Kalau tanaman jagung masih kuat bertahan meski terendam beberapa hari,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, banjir yang terjadi sejak Kamis lalu menyebabkan ratusan hektare areal sawah terendam. Sebagian besar, areal sawah yang kebanjiran terdapat tanaman padi umur 20-60 hari.

Dijelaskan, dari pendataan sementara, sawah yang tergenang di Kecamatan Karangrayung seluas 29 hektare. Kemudian, Kecamatan Penawangan 243 hektare, Godong 26 hektare, dan Tegowanu 193 hektare.

Editor: Supriyadi

Harga Bawang Merah Merangkak Naik, Petani di Pati Justru Mengeluh

Salah seorang buruh tani tengah memisahkan bawang merah yang bercampur lumpur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Menjelang Natal dan Tahun Baru, harga sembako di pasaran merangkak naik. Begitu juga harga bawang merah yang sudah mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per kilogram di pasar tradisional.

Kendati demikian, petani bawang merah di Pati justru justru mengeluh. Pasalnya, bawang merah yang mereka jual kepada tengkulak hanya dihargai Rp 7 ribu per kilogram.

Padahal, tengkulak semestinya membelinya dengan harga dari Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Kondisi itu yang dikeluhkan Ngatawi, salah satu petani di Desa Pagerharjo, Wedarijaksa.

“Operasional yang digunakan untuk menanam bawang merah banyak memakan biaya, sehingga harga segitu sudah pasti petani rugi,” ungkapnya, Jumat (22/12/2017).

Untuk bisa menutup biaya operasional bawang merah, harga bawang merah yang dibeli tengkulak paling tidak Rp 12 ribu per kilogram. Sementara untuk bisa untung, tengkulak setidaknya membelinya seharga Rp 15 ribu per kilogram.

Menurut dia, tengkulak memanfaatkan kondisi cuaca buruk yang sering hujan dengan membeli harga murah. Sebab, bila tidak segera dijual, bawang merah akan cepat membusuk.

Sementara petani tidak memiliki fasilitas pengering bawang merah. Akibatnya, mau tidak mau, petani harus segera menjual bawang merah setelah dipanen dengan harga yang ditetapkan tengkulak.

Dia berharap, pemerintah bisa ikut memberikan solusi terkait persoalan tersebut. Dia ingin harga yang dijual dari petani ke tengkulak setidaknya bisa menutup biaya operasional bawang merah.

Editor : Ali Muntoha

Seorang Petani di Grobogan Tewas Mendadak saat Panen Bawang Merah

Polisi sedang melakukan pemeriksaan pada seorang petani yang meninggal mendadak saat panen bawang merah disawahnya, Selasa (12/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana areal persawahan di Desa Putat, Kecamatan Purwodadi sempat geger, Selasa (12/12/2017). Hal ini terjadi setelah ada salah seorang petani yang meninggal dunia di areal sawah ketika sedang memanen bawang merah.

Petani yang meninggal diketahui bernama Ahmadi, warga Desa Menduran, Kecamatan Brati. Petani berusia 60 tahun ini meninggal ketika panen dilahan sawahnya sendiri sekitar pukul 10.30 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, sekitar pukul 08.00 WIB, korban sudah berada disawah bersama istrinya. Tidak lama kemudian, keduanya mulai melakukan aktivitas panen bawang merah.

Saat sibuk panen, Ahmadi tiba-tiba mengeluh pusing. Setelah itu, ia terlihat ambruk dihamparan tanaman bawang merahnya.

”Ketika melihat suaminya ambruk, istrinya kemudian berteriak minta tolong. Kami yang ada disekitarnya bergegas kesana. Setelah kita periksa, ternyata sudah meninggal. Kemudian, korban kita angkat ke perkampungan terdekat,” kata Sunar (45), salah satu petani yang sempat menyaksikan peristiwa itu.

Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya peristiwa petani yang meninggal mendadak disawahnya tersebut. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban.

”Dari keterangan saksi, sebelum berangkat ke sawah, korban sempat berobat dulu. Kemungkinan, korban mengalami serangan jantung saat panen bawang merah tadi. Setelah kita periksa, pihak keluarga sudah bisa menerima dan jenazah sudah kita antarkan ke rumah duka untuk dimakamkan,” jelasnya. 

Editor: Supriyadi

Harga Anjlok, Petani Bawang Merah di Pati Merugi

Sejumlah petani tengah memanen bawang merah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani bawang merah di Pati mengeluh akibat harga bawang merah anjlok. Tak tanggung-tanggung, harga bawang merah tersebut anjlok hingga seratus persen.

Dampaknya, para petani bawang merah merugi hingga puluhan juta rupiah. Hal itu diungkapkan seorang petani bawang merah, Edy Subiono.

“Tahun ini, petani merasakan dampak kerugian yang luar biasa. Padahal, tahun lalu kita masih merasakan untung dengan harga Rp 20 ribu dan bisa menyisakan bawang merah untuk bibit,” ungkap Edy, Selasa (24/10/2017).

Tahun ini, dia hanya menjual hasil panen bawang merah seharga Rp 10 ribu per kilogram. Artinya, harga jual bawang merah dari petani anjlok hingga seratus persen.

Dengan harga jual tersebut, dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 6 juta sekali tanam. Pasalnya, modal yang harus dikeluarkan untuk operasional bertani sekitar Rp 16 juta utuk dua petak sawah.

Biaya itu belum termasuk sewa lahan sawah, karena dia tidak memiliki lahan sendiri. Sementara pada panen pertama, dia hanya bisa mengembalikan modal operasional tanam.

“Kalau harga stabil, banyak bawang merah dari Bima, NTB masuk ke Pati. Kondisi itu yang menyebabkan hasil petani dari bercocok tanam bawang merah mengalami penurunan yang drastis,” imbuhnya.

Dia berharap, pemerintah bisa ikut memberikan solusi supaya harga bawang merah yang anjlok bisa stabil kembali. Dengan demikian, kesejahteraan petani bisa terjamin untuk memasok produksi pangan nasional.

Editor: Supriyadi

Hebat!! Kades di Grobogan Ini Sukses Manfaatkan Lampu Listrik untuk Berantas Hama di Bawang Merah

Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo di areal tanaman bawang merahnya yang dipenuhi ratusan lampu penerangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganPemandangan cukup unik terlihat di areal sawah yang ada di Desa/Kecamatan Penawangan sejak beberapa hari lalu. Hal ini terkait adanya ratusan lampu listrik yang terpasang di areal persawahan tersebut.

Banyaknya lampu di areal sawah yang dibawahnya terdapat hamparan tanaman bawang merah itu sempat menarik perhatian pengendara yang melintasi jalan raya Purwodadi-Semarang. Lokasi sawah yang ada lampunya itu memang hanya berjarak sekitar 50 meter dari jalan raya.

Saat lampu dinyalakan menjelang petang, pancaran lampu neon di hamparan sawah terlihat seperti kunang-kunang.

Lahan bawang merah yang dipasangi lampu itu milik Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo. Hamparan bawang merah itu luasnya sekitar 5 hektare.

Jumlah lampu yang terpasang hampir 300 titik. Lampu dipasang di antara tiang bambu yang berfungsi sebagai tempat menautkan kabel listrik.

Lampu di areal sawah itu dipasang rapi dengan jarak hampir seragam. Kira-kira, tiap jarak lima meter dipasangi satu titik lampu.

”Pemasangan lampu ini merupakan eksperimen untuk menekan hama ulat yang menyerang bawang merah. Setelah dipasang lampu, dampaknya cukup bagus,” kata Joko, saat ditemui MuriaNewsCom di areal sawahnya, Jumat (22/9/2017).

Pemasangan lampu itu memang tidak berdampak secara langsung untuk menekan hama ulat. Tetapi fungsinya sebagai penarik perhatian atau pemancing buat serangga supaya keluar dari tanaman bawang merah.

Keluarnya serangga yang jadi penghasil ulat itulah diikuti dengan datangnya banyak kelelawar di areal sawah. Binatang malam inilah yang akhirnya memangsa serangga yang keluar mendekati sorot lampu tersebut.

Munculnya kelelawar memang terlihat tidak lama setelah lampu dinyalakan. Setelah suasana gelap, jumlah kelelawar yang beterbangan di areal sawah makin banyak. Beberapa kelelawar terlihat bermanuver untuk memangsa serangga yang keluar dari sarangnya mendekati sorot lampu.

”Kelelawar ini jenis pemakan serangga. Bukan jenis codot atau kelelawar yang makanannya buah-buahan. Kelelawar jenis ini merupakan salah satu predator alami serangga,” jelas Ketua Kelompok Tani Niaga Tani yang tanaman bawang merahnya sempat jadi juara nasional dalam Pekan Nasional KTNA di Aceh beberapa waktu lalu itu.

Joko menjelaskan, serangga yang bersarang pada tanaman bawang merah karena butuh tempat untuk bertelur. Telur itu menempel pada daun dan setelah menetas jadi ulat-ulat kecil. Ulat inilah yang kemudian memakan daun bawang merah usia muda.

Untuk membasmi ulat tersebut tidak mudah. Ketika serangan mengganas, butuh beberapa kali penyemprotan insektisida dalam satu hari. Itupun, terkadang hasilnya belum bisa maksimal.

“Jika tidak dikendalikan, dalam semalam, hama ulat ini bisa menghabiskan tanaman bawang merah. Hama ulat inilah yang jadi salah satu momok petani bawang merah,” kata Joko.

Guna menekan serangan hama, salah satu solusinya adalah mencegah agar serangga jangan sampai bertelur. Sebelum memakai lampu, berbagai motode untuk mengurangi serangga sudah pernah dicoba. Namun, sejauh ini hasilnya dinilai kurang maksimal dibandingkan setelah menggunakan lampu.

Menurut Joko, tanaman bawang merah di lahan sawahnya usaianya tidak seragam. Paling tua berusia 40 hari. Ada sebagian lahan yang ursia tanamannya sekitar 15 hari. Kemudian, beberapa lahan lainnya baru ditanami bawang merah beberapa hari lalu.

Setelah dipasang lampu, serangan hama ulat turun drastis dibandingkan sebelum dikasih penerangan tersebut. Kondisi ini bisa terjadi karena sudah banyak serangga yang dimakan predator alami sehingga tidak sampai bertelur pada tanaman.

“Sebenarnya, ada predator alami lagi yang memangsa serangga, yakni katak. Tetapi, sekarang populasi katak sawah sudah kurang karena diburu orang,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Sebentar Lagi, Grobogan Bakal Jadi Sentra Perbenihan Bawang Merah Nasional

Dari kiri : Kepala Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah Prihasto Setyanto, Kepala Dispertan TPH Edhie Sudaryanto, Bupati Sri Sumarni dan Asisten II Dasuki menunjukkan bawang merah yang dibudidayakan lewat teknologi TSS. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dari kiri : Kepala Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah Prihasto Setyanto, Kepala Dispertan TPH Edhie Sudaryanto, Bupati Sri Sumarni dan Asisten II Dasuki menunjukkan bawang merah yang dibudidayakan lewat teknologi TSS. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Tidak lama lagi, Kabupaten Grobogan bakal dijadikan pusat perbenihan bawang merah skala nasional. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah Prihasto Setyanto saat menghadiri acara temu lapang inovasi teknologi perbenihan bawang merah di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Sabtu (10/12/2016).

Acara temu lapang yang dilangsungkan di areal pengembangan bawang merah BPTP di Desa Penawangan juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni. Hadir pula, Asisten II Dasuki, Kepala Dipertan TPH Edhie Sudaryanto, dan anggota Komisi A DPRD Grobogan Sri Setyowati.

Menurut Prihasto, dipilihnya Grobogan sebagai sentra perbenihan bawang merah bukan tanpa alasan. Salah satu pertimbangannya, petani di Grobogan sejauh ini sudah berhasil menorehkan hasil yang boleh dibilang sensasional karena bisa mengembangkan komoditas bawang merah melalui sistem true seed of shallot (TSS). Yakni, cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah.

Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen sebelumnya.“Uji coba penanaman bawang merah memakai metode TSS sudah dilakukan di beberapa daerah. Namun, hasil terbaik didapat dari petani di Grobogan dan keberhasilan ini pantas mendapat apresiasi tinggi,” ungkapnya.

Dijelaskan, hasil panen bawang merah melalui metode TSS yang lazim disebut umbi mini itu nantinya tidak dijual untuk konsumsi. Tetapi, digunakan sebagai benih untuk ditanam lagi di areal yang lebih luas. 

“Umbi mini yang dihasilkan dari TSS ini kualitasnya masih murni dan belum terkontaminasi banyak penyakit. Makanya, hasilnya dipakai untuk benih unggul. Setelah ditanam kedua kalinya, hasilnya baru digunakan untuk konsumsi,” jelasnya.

Penanaman model TSS itu merupakan sebuah langkah terobosan untuk menjaga produksi bawang merah secara nasional. Upaya itu dilakukan lantaran di daerah sentra bawang merah, seperti Kabupaten Brebes sudah mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini lantaran umbi bawang merah yang dijadikan benih petani banyak mengandung penyakit.

“Kalau benihnya sudah ada penyakit maka ketika tumbuh tidak bisa maksimal lantaran rentan hama pada tanaman. Untuk itu, petani akhirnya terpaksa menggunakan pestisida berlebihan untuk menekan hama penyakit,” terang Prihasto.

Masih dikatakannya, selama ini, pihaknya sudah beberapa kali memberikan pembinaan dan pelatihan pada petani di Grobogan untuk mengembangkan bawang merah lewat TSS.

Kali, ini, pihaknya juga membuat areal pengembangan sekitar 1 hektare, dengan inovasi teknologi terbaru yang dipadukan dengan cara pengendalian hama terpadu dan ramah lingkungan.

“Media penamanam untuk membuat perkecambangan biji bawang merah kita pakai limbah khusus yang bisa dibuat dengan mudah dan biayanya murah. Setelah kecambah tumbuh hingga usia 30-40 hari, bisa langsung dipindahkan ke lahan bersama media tanamnya,” jelasnya. 

Sementara itu, Bupati Sri Sumarni merasa bangga dengan dipilihnya Grobogan sebagai salah satu sentra perbenihan bawang merah nasional. Menurutnya, sejauh ini, sebagian petani di beberapa kecamatan memang mulai melirik komoditas bawang merah sebagai selingan tanaman jagung, kedelai dan padi.

“Areal bawang merah di sini sekitar 700 hektare yang tersebar di beberapa kecamatan. Kalau nantinya jadi sentra perbenihan bawang merah tentu merupakan kebanggaan kita bersama,” katanya.

Editor : Kholistiono

Hadapi Ramadan, Petani Pati Harapkan Harga Bawang Merah Stabil

bawang 2

Sejumlah petani Desa Bangsalrejo tengah menanam bawang merah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Desa Bangsalrejo, Kecamatan Wedarijaksa berharap agar harga bawang merah bisa stabil, menjelang Ramadan yang kurang beberapa hari lagi. Pasalnya, saat ini harga bawang merah anjlok di angka Rp 22 ribu per kilogram.

“Hari ini, kami mulai menanam lagi setelah panen dengan harga yang tidak memuaskan. Kami tidak putus asa, kami berharap harga bawang merah kembali stabil jelang Ramadan sampai Lebaran nanti,” ujar Marsudi, petani bawang merah asal Desa Bangsalrejo, Rabu (18/5/2016).

Ia mengatakan, hasil panen yang bagus saat harga melambung sangat jarang terjadi. Rata-rata, kata dia, momentum panen biasanya disertai dengan harga yang turun drastis.

Kendati begitu, Marsudi tidak terlalu mempersoalkan anjloknya harga bawang merah di tengah panen raya, selama pupuk tidak langka dan harga pupuk tidak melambung tinggi. “Harga bawang merah anjlok saat panen raya bukan jadi persoalan bila harga pupuk tidak tinggi dan ketersediannya tidak langka,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa membuat kebijakan atau terobosan agar harga bawang merah tetap stabil. Kalau tidak begitu, rakyat yang menjadi petani bawang merah dipastikan selalu merugi.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Harga Sayur di Jepara Cenderung Stabil

Pemkab melakukan monitoring pasar diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pemkab melakukan monitoring pasar diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Berbeda dengan harga bawang merah yang melambung tinggi di musim hujan tahun ini. Harga sayur mayor di sejumlah pasar di Kabupaten Jepara cenderung stabil.

Dari hasil pantauan tim monitoring Pemerintah Kabuaten (Pemkab) Jepara di sejumlah pasar, untuk sayur bayam, kangkung, tomat dan lainnya, masih normal. Begitu juga dengan harga telur di pasaran masih normal sekitar Rp 20 ribu per kilogram hingga Rp 22 ribu per kilogram.

”Beda dengan bawang merah dan cabai merah kriting. Harga sayur cenderung stabil, belum ada kenaikan harga,” ujar Zaenal Arifin, salah satu anggota tim monitoring Pemkab jepara kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Lebih lanjut dia membeberkan, untuk sayur memang barang yang dijual di pasar-pasar yang ada di Kabupaten Jepara masih banyak yang dari lokal sendiri. Hal ini berbeda dengan bawang merah yang diperoleh dari kota lain yaitu Demak, Purwodadi dan beberapa pasar di Juwana Pati. Sehingga, distribusi dari petani ke pedagang pasar juga mengalami kendala tranportasi saat hujan.

”Permainan harga memang biasanya menyerang komoditas seperti bawang dan cabai. Untuk sayur potensi naik sangat kecil,” katanya.

Dia menambahkan, kegiatan monitoring dilaksanakan sejak Selasa (15/12/2015) lalu di wilayah Jepara bagian utara. Yaitu, pasar Tangggulasi Donorojo, Keling, Bangsri dan Mlonggo. Kemudian hari kedua (16/12/2015) tim masuk di pasar Mayong, Welahan, Kalinyamatan, dan Pecangaan. Sedangkan hari Kamis (17/12/2015) tim menyasar di wilayah pasar Jepara kota, Tahunan, Bugel, Bedung, dan Batealit. (WAHYU KZ/TITIS W)

Di Jepara Harga Bawang Merah Tembus Rp 35 Ribu per Kilogram

Operasi atau monitoring pasar yang dilaksanakan Pemkab Jepara diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Operasi atau monitoring pasar yang dilaksanakan Pemkab Jepara diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Curah hujan yang cukup tinggi selama beberapa hari di wilayah Kabupaten Jepara, menyebabkan beberapa komoditas pasar mengalami kenaikan harga. Salah satunya bawang merah yang harganya melambung tinggi.

Dari hasil monitoring Pemkab Jepara selama tiga hari terakhir ini. Sebelumnya harga bawang merah basah hanya sekitar Rp 25 ribu per kilogram, saat ini sudah menembus angka hingga Rp 35 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut diduga karena faktor cuaca.

”Selain faktor cuaca, hal ini juga disinyalir adanya ulah perusahaan besar yang memborong komoditas bawang merah sehingga langka di pasaran,” ujar Zaenal Arifin, salah satu tim monitoring pasar dari Pemkab Jepara kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurut dia, kenaikan harga bawang merah tersebut hampir merata di sejumlah pasar di Kabupaten Jepara. Terutama yang disambangi dalam kegiatan monitoring tersebut. Mekipun demikian, stok bawang merah di pasaran masih tersedia cukup banyak, seperti yang ada di pasar Mayong, Welahan, dan Kalinyamatan.

”Kegiatan monitoring ini dilaksanakan sejak Selasa (15/12/2015) lalu di wilayah Jepara bagian utara. Yaitu, pasar Tangggulasi Donorojo, Keling, Bangsri, dan Mlonggo. Kemudian hari kedua (16/12/2015) tim masuk di pasar Mayong, Welahan, Kalinyamatan, dan Pecangaan. Sedangkan hari Kamis (17/12/2015) tim menyasar di wilayah pasar Jepara Kota, Tahunan, Bugel, Bedung, dan Batealit,” paparnya.

Dia menambahkan, selain bawang merah, kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah kriting. Harga biasanya atau sebelumnya yang berkisar Rp 18 ribu per kilogram, saat ini sudah sekitar Rp 22 ribu per kilogram. (WAHYU KZ/TITIS W)

Petani Brebes Siap Tampung Umbi Mini dari Grobogan

Petani bawang Brebes siap tampung umbi mini dari Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petani bawang Brebes siap tampung umbi mini dari Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Keberhasilan menanam bawang merah dengan biji (TSS) di Grobogan ternyata mendapat perhatian dari banyak pihak. Beberapa hari sebelum panen hari ini, Kepala Dinas Pertanian Brebes berkunjung ke lokasi penanaman bersama perwakilan petani bawang merah.

”Kadinas Pertanian dari Brebes sekitar tiga hari lalu memang datang kesini untuk melihat keberhasilan penanaman bawang merah dengan biji. Mereka merasa penasaran, karena saat uji coba penanaman bawang merah dengan biji di Brebes tidak bisa berhasil,” kata Ketua Kelompok Tani Margo Soto Mulyono.

Selain berbagai pengalaman, rombongan dari Brebes itu juga menyatakan siap menampung umbi mini yang dihasilkan kelompok tani. Berapapun produksi yang dihasilkan, petani bawang merah Brebes siap membeli. Sebab, dengan adanya umbi mini itu mereka lebih mudah melakukan penanaman dibandingkan melalui biji.

Mulyono menambahkan, salah satu keberhasilan dalam penanaman bawang merah model TSS itu disebabkan petani selama ini sudah mahir dalam masalah pembenihan. Sebab, selama bertahun-tahun mereka terbiasa melakukan persemaian biji tembakau yang tingkat kesulitannya hampir sama dengan penanaman bawang merah dengan biji. (DANI AGUS/TITIS W)

BPTP Jateng Siap Bantu Jadikan Grobogan Sentra Umbi Mini

TPH Grobogan akan lari kencang untuk mengembangkan bawang merah TSS dengan membuat sentra perbenihan umbi mini dahulu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

TPH Grobogan akan lari kencang untuk mengembangkan bawang merah TSS dengan membuat sentra perbenihan umbi mini dahulu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Keinginan Kepala Dipertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto untuk menjadikan Grobogan menjadi sentra umbi mini bawang merah, mendapat dukungan dari Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng Moh Ismail Wahab. Lanjutkan membaca

Grobogan Bakal Jadi Sentra Perbenihan Umbi Mini Bawang Merah

TPH Grobogan akan lari kencang untuk mengembangkan bawang merah TSS dengan membuat sentra perbenihan umbi mini dahulu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

TPH Grobogan akan lari kencang untuk mengembangkan bawang merah TSS dengan membuat sentra perbenihan umbi mini dahulu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Keberhasilan mengembangkan bawang merah melalui biji atau (TSS) langsung direspon cepat oleh Kepala Dipertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto. Rencananya, Kabupaten Grobogan dijadikan sentra perbenihan umbi mini bawang merah.

”Kita akan lari kencang untuk mengembangkan bawang merah ini dengan membuat sentra perbenihan umbi mini dulu. Beberapa tahun lagi, kemungkinan baru kita kembangkan penanaman bawang merah untuk kebutuhan konsumsi secara lebih luas,” tegasnya.

Edhie menjelaskan, bawang merah yang berhasil ditanam dan dikelola kelompok tani Margo Soto Desa Brabo itu memang baru menghasilkan umbi mini. Yakni, butiran bawang merahnya ukurannya kecil karena jarak tanamnya rapat. Nantinya, hasil panen ini dikembangkan lagi menjadi benih dengan cakupan areal penanaman yang lebih luas.

”Bawang merah yang dipanen ini sudah bisa dikonsumsi, tetapi sayang sekali kalau dimakan karena tingkat kemurniannya masih sangat tinggi. Untuk keperluan konsumsi sebaiknya dari hasil penanaman generasi ketiga atau keempat,” jelasnya.

Edhie menambahkan, penanaman bawang merah menggunakan biji dengan penerapan teknologi dari BPTP itu baru dilakukan dalam demplot seluas 4 x 25 meter. Ada tiga varietas bawang yang ditanam dengan biji. Yakni, varietas Tuktuk, Bima, dan Trisula yang ditanam sekitar bulan Mei lalu.

Dari panen yang dilakukan hasilnya cukup bagus. Dimana, rata-rata produksi bawang merah ketiga varietas itu adalah 5 kg per meter persegi. (DANI AGUS/TITIS W).

Dipertan TPH Sukses Budidayakan Bawang Merah dengan TSS

Moh Ismail Wahab Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng menunjukkan hasil panen bawang merah Dipertan TPH Grobogan di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Kamis (30/7/2015). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Moh Ismail Wahab Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng menunjukkan hasil panen bawang merah Dipertan TPH Grobogan di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Kamis (30/7/2015). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortulkutura (Dipertan TPH) Grobogan menorehkan hasil yang boleh dibilang sensasional. Karena berhasil mengembangkan komoditas bawang merah melalui sistem true shallot seed (TSS). Yakni, cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah.

”Uji coba penanaman bawang merah memakai metode TSS sudah dilakukan beberapa kali. Namun, baru di Grobogan ini yang berhasil dengan baik dan keberhasilan ini pantas mendapat apresiasi tinggi,” ungkap Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng Moh Ismail Wahab saat menghadiri panen bawang merah di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, siang tadi.

Penanaman model TSS itu merupakan sebuah langkah terobosan untuk menjaga produksi bawang merah secara nasional. Upaya itu dilakukan lantaran di daerah sentra bawang merah, seperti Kabupaten Brebes sudah mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini lantaran umbi bawang merah yang dijadikan benih petani banyak mengandung penyakit.

”Kalau benihnya sudah ada penyakit, maka ketika tumbuh tidak bisa maksimal lantaran rentan hama pada tanaman. Untuk itu, petani akhirnya terpaksa menggunakan pestisida berlebihan untuk menekan hama penyakit,” jelas Wahab didampingi Kepala Dipertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto. (DANI AGUS/TITIS W).