Hari Batik Nasional, Firman Kenalkan Batik Pati ke Australia

Anggota Baleg DPR RI Firman Soebagyo mengenalkan batik Pati kepada Dubes RI untuk Canberra, Australia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Firman Soebagyo mengenalkan batik tulis khas Pati saat kunjungan parlemen ke Canberra, Australia. Usai pembahasan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Karantina Kesehatan, Firman mempromosikan hasil kreasi dan budaya orang Pati berupa batik tulis.

“Batik Pati itu saya serahkan kepada Duta Besar RI di Canberra Kristianto Legowo. Saya sudah berpesan supaya batik itu dikenalkan kepada pejabat dan warga Australia,” ujar Firman, Senin (2/10/2017).

Dia menegaskan, Hari Batik Nasional harus dimanfaatkan perajin batik di Pati untuk terus mempromosikan karya batik buatannya. Terlebih, batik khas Pati punya karakter yang kental akan nilai seni dan tradisi.

Salah satu keunikan dari batik Bakaran khas Pati, antara lain motifnya yang klasik dengan ciri remekan. Corak itu, kata Firman, mengingatkan kesan yang melekat pada budaya Majapahit.

Selama ini, batik Indonesia identik dengan Jogja, Solo dan Pekalongan. Padahal, Indonesia kaya akan warisan budaya berupa batik, termasuk Pati.

“Eksistensi batik bakaran khas Pati bukan ”kemarin sore”, tapi sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya saja, batik Pati minim publikasi sehingga yang lebih dikenal dari Solo, Jogja dan Pekalongan saja,” jelas Firman.

Karena itu, sebagai orang asli Pati, Firman selalu membawa Batik Pati saat kunjungan ke luar negeri. Termasuk saat dia memimpin delegasi kerja sama ke Atlanta, Amerika Serikat.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Kabupaten Pati (IKKP) itu juga mengimbau kepada anggotanya untuk tidak bosan mempromosikan batik Pati di manapun berada. Hari Batik Nasional dianggap menjadi momentum penting untuk mengenalkan batik lokal yang sarat akan nilai seni dan budayanya.

Editor : Ali Muntoha

Permintaan Fashion Meningkat, Batik Bumi Saridin Kebanjiran Order

Proses pencoletan warna di rumah produksi batik Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Batik Bumi Saridin khas Kecamatan Kayen mulai diburu pembeli dua bulan mendekati Lebaran. Hal itu disebabkan batik tulis dikerjakan secara manual, sehingga butuh waktu cukup lama bila ingin pesan dalam jumlah yang banyak.

Asih Subekti, pembatik asal Desa Durensawit, Kecamatan Kayen mengatakan, pembeli batik tulis bermotif “Bumi Saridin” masih sebatas dari wilayah kecamatan Kayen. Beberapa pembeli di antaranya dari Kabupaten Pati dan Kudus.

Pasalnya, pemasaran batik Bumi Saridin selama ini hanya mengandalkan unit pengelola kegiatan (UPK) kecamatan, serta ditawarkan dari mulut ke mulut. “Kita belum bisa pasarkan lewat online, karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Tapi, ke depan kita akan coba,” ujar Asih, Selasa (23/5/2017).

Satu lembar kain batik Bumi Saridin dibanderol dari Rp 175 ribu sampai Rp 200 ribu. Perbedaan harga terletak pada proses pembuatan hingga motif yang lebih rumit.

Batik jenis blok lebih murah, karena proses pewarnaannya cukup mudah. Berbeda dengan batik colet, harganya lebih mahal karena butuh waktu yang cukup lama, pewarnaan secara manual dari satu motif ke motif yang lain.

“Kalau buat batik yang ngeblok, kami bisa memproduki delapan sampai sepuluh batik. Berbeda dengan colet, prosesnya cukup lama, sehingga harganya sedikit lebih mahal,” tuturnya.

Dua bulan menjelang Lebaran ini, dia mengaku mendapatkan pesanan lebih banyak ketimbang hari-hari biasa. Pesanan itu berasal dari instansi dan ibu rumah tangga yang akan digunakan untuk memberikan paket Lebaran.

Editor : Kholistiono

Batik Bumi Saridin Mulai Dikembangkan di Durensawit Pati

Sejumlah ibu-ibu tengah mewarnai batik “Bumi Saridin” khas Kayen, Senin (22/5/2017). Batik Bumi Saridin mulai dikembangkan di Desa Durensawit. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Batik bercorak “Bumi Saridin” khas Kecamatan Kayen mulai dikembangkan di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. Pengembangan itu dilakukan untuk melestarikan batik tulis berlatar kisah tokoh legendaris asal Kayen, Saridin.

Ada dua motif yang saat ini tengah dikembangkan. Pertama, motif Bumi Saridin yang memadukan kelapa, jambu dan asem. Kedua, motif Bumi Saridin bercorak lele, duren dan daun jati.

Asih Subekti, pembatik asal Durensawit mengatakan, semua motif dibuat berdasarkan kisah Saridin. Misalnya, buah durian yang sempat menjadi perselisihan antara Saridin dan kakak iparnya, Branjung.

Ikan lele yang mengisahkan kesaktian Saridin saat menjadi santri Sunan Kudus. Buah kelapa digunakan Saridin untuk menjelajah samudera menuju Palembang. “Semua perpaduan motif dirancang khusus dengan kisah Saridin, leluhur kami yang melegenda,” ujar Asih, Senin (22/5/2017).

Dalam tiga minggu, Asih bisa memproduksi seratus batik tulis Bumi Saridin yang dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Selama ini, penjualan masih mengandalkan bantuan unit pengelola kegiatan (UPK) Kecamatan Kayen.

Dia berharap, pengembangan batik tulis Bumi Saridin di Durensawit bisa mengakomodasi kearifan lokal, karena Saridin merupakan warga asli Durensawit. Selain itu, pengembangan batik diharapkan dapat meningkatkan produktivitas wanita, serta mendongkrak perekonomian setempat.

“Saridin itu asli orang Durensawit. Pengembangan batik Bumi Saridin di sini untuk melestarikan kearifan lokal, sekaligus memberdayakan wanita dan peningkatan ekonomi lokal,” pungkas Asih.

Editor : Kholistiono

Pesanan Batik Pati Melonjak Tajam Jelang Lebaran

Sejumlah karyawan Batik Yuliatiwarno tengah menyelesaikan pesanan untuk THR Lebaran 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pesanan batik Bakaran khas Pati melonjak tajam dalam seminggu terakhir. Hal itu disebabkan lantaran banyak perusahaan atau instansi yang memesan untuk keperluan tunjangan hari raya (THR) pada Juni 2017.

Tamzis Al Anas, salah satu pengusaha batik Bakaran asal Langgenharjo, Juwana menuturkan, pesanan dari perusahaan dan instansi melonjak sejak seminggu terakhir. Rata-rata pemesan akan digunakan untuk THR saat Lebaran.

“Kalau batik tulis memang produksinya lebih lama dari batik cap, sehingga kalau mau pesan untuk Lebaran dalam jumlah yang banyak, harus jauh-jauh hari. Sebab, pengerjaannya satu per satu secara manual menggunakan tangan atau handmade,” ungkap Tamzis.

Tak tanggung-tanggung, pemesan batik tulis Bakaran berasal dari berbagai luar daerah, seperti Semarang, Jepara, hingga Jakarta. Mereka pesan dalam jumlah yang banyak, dari seratus potong sampai 500 potong kain batik tulis.

Untuk mengatasi banyaknya pemesan, Tamzis menambah karyawan dari ibu-ibu setempat yang sudah dibekali keterampilan membatik. Pasalnya, mendekati Ramadan nanti, permintaan batik diperkirakan terus mengalami kenaikan.

Satu potong kain batik tulis produksi Tamzis dengan brand “Yuliatiwarno” dibanderol dari Rp 90 ribu hingga Rp 350 ribu. Harga batik dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain warna, tingkat kerumitan motif, dan jenis kain.

Saat ini, motif yang banyak dicari bertema maritim, seperti gambar ikan, udang, dan aneka satwa laut lainnya. Motif maritim diakui sebagai inovasi baru dari pengembangan batik Bakaran yang selama ini dikenal dengan motif klasiknya.

Editor : Kholistiono

Dari Bisnis Batik Bakaran, Yuliati Kembangkan Wisata Industri Batik

 Sejumlah siswa SD tengah belajar membatik dalam agenda wisata industri batik di rumah Yuliati, Desa Langenharjo, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah siswa SD tengah belajar membatik dalam agenda wisata industri batik di rumah Yuliati, Desa Langenharjo, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bisnis memang butuh sentuhan inovasi dan kreativitas. Selain itu, bisnis juga butuh sisi lain yang tak hanya berkutat pada “uang”, tetapi juga pengabdian.

Hal itu yang dilakukan Yuliati, pemilik usaha Yuliati Warno Batik. Dari usaha jualan batik Bakaran melalui online, pameran dan galeri, Yuliati kini mengembangkan wisata industri batik di Desa Langenharjo RT 7 RW 3, Kecamatan Juwana.

Wisata industri diakui sebagai upaya bagi Yuliati untuk mengabdi kepada masyarakat. Dalam wisata industri batik, siapapun diperbolehkan untuk berkunjung dan belajar tanpa dipungut biaya, mulai dari kunjungan pribadi, sekolah, kampus atau instansi lainnya.

“Kalau mau wisata industri batik dengan melihat-lihat, proses membuat batik Bakaran itu bagaimana, dan nanya-nanya, tidak dipungut biaya. Kalau praktik membuat batik langsung, dikenakan biaya,” ujar Yuliati kepada MuriaNewsCom.

Namun, Yuli tidak mematok biaya yang mahal. Praktik membuat batik tulis dengan ukuran sapu tangan sampai pewarnaan hanya dikenakan biaya Rp 5 ribu. Bila dilengkapi dengan figura sebagai pajangan dikenakan Rp 15 ribu.

Sebagian besar pengunjung yang datang ke tempat Yuli adalah anak-anak sekolah, mahasiswa yang sedang melakukan riset, kunjungan dari organisasi kemahasiswaan, dan lain sebagainya. Bahkan, rombongan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pernah mengadakan wisata industri batik di rumah Yuli.

“Rata-rata pengunjung praktik membuat batik sapu tangan. Sebab, prosesnya cepat dan bisa langsung jadi. Beda kalau kain panjang yang akan dijadikan baju, prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Misi kami hanya ingin mengajarkan generasi penerus bangsa untuk mencintai dan melestarikan batik sebagai warisan budaya leluhur Indonesia untuk dunia,” pungkasnya.

 Editor : Kholistiono

Gara-gara Batik Bakaran, Pengusaha Muda Asal Juwana Ini Keliling Dunia

 

 Yuliatiwarno bersama dengan suaminya, Tamzis Al Anas berpose di depan galeri batik di ruang tamunya, Senin (25/7/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)


Yuliatiwarno bersama dengan suaminya, Tamzis Al Anas berpose di depan galeri batik di ruang tamunya, Senin (25/7/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Yuliatiwarno, pengusaha muda asal Desa Langenharjo RT 7 RW 3, Kecamatan Juwana sempat keliling dunia gara-gara produk Batik Bakaran yang ia geluti. Salah satu negara yang pernah ia kunjungi, antara lain Malaysia (2010), Singapura (2011), Cina (2013), dan Vietnam (2015).

Tak sekadar berkunjung, Yuli mengikuti pameran batik internasional di sana. Alhasil, Batik Bakaran yang ia pamerkan ludes diborong pembeli. “Saat pameran di Cina, batiknya habis diborong orang Afrika karena waktu itu Nelson Mandela suka memakai batik,” ungkap Yuli, Senin (25/7/2016).

Sebelum pameran di luar negeri, Yuli biasanya mempelajari warna kesukaan di negeri tersebut. Setelah itu, ia memproduksi batik tulis sesuai dengan warna kesukaan di negara yang akan melakukan pameran.

Di Cina, misalnya. Sebagian besar penduduknya suka warna kuning dan merah. Benar saja, produk batik buatan Yuli yang berwarna merah dan kuning habis dibeli warga sana.

Selain aktif mengikuti pameran di luar negeri, Yuli mengaku sering mengikuti pameran yang digelar di berbagai daerah di Indonesia. Batik tulis khas Bakaran yang ia jual berkisar di harga Rp 100 ribu sampai Rp 2 juta.

Dalam waktu dekat, Yuli bersama dengan suaminya, Tamzis Al Anas akan berangkat ke Amerika dan Eropa dengan tujuan yang sama. Yakni, jualan batik dalam sebuah pameran internasional, sekaligus mengenalkan Batik Bakaran khas Pati sebagai salah satu produk kebanggaan Indonesia.

Editor : Kholistiono

 

Jualan Batik Bakaran, Yuliati Raup Omzet Rp 200 Juta per Bulan

Yuliatiwarno bersama suaminya, Tamzis Al Anas, pengusaha muda bidang UMKM batik yang mampu meraup omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Yuliatiwarno bersama suaminya, Tamzis Al Anas, pengusaha muda bidang UMKM batik yang mampu meraup omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 MuriaNewsCom, Pati – Yuliatiwarno, warga Desa Langenharjo RT 7 RW 3 yang saat ini menekuni usaha Batik Bakaran khas Pati mampu meraup omzet rata-rata Rp 150 juta hingga Rp 200 juta setiap bulannya. Hal itu diakui Yuli saat disambangi MuriaNewsCom di kediamannya.

Usaha UMKM bidang batik tulis itu ditekuni bersama dengan suaminya, Tamzis Al Anas. Awalnya, keduanya merintis usaha batik kecil-kecilan pada 2007. “Saya tertarik dengan dunia batik sejak masih kuliah. Modal Rp 500 ribu untuk dijual secara online. Ternyata permintaan makin banyak. Ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, sekaligus kesempatan untuk melestarikan budaya pesisiran Juwana,” kata Yuli.

Kesuksesan sebagai pengusaha muda, mulai terlihat jelas ketika keduanya menikah dan fokus memproduksi batik sendiri. Dengan gencarnya promosi di internet, pesanan berdatangan dari pemesan luar kota hingga luar Jawa.

Saat ini, Yuli memiliki sekitar 30 tenaga kerja yang diambil dari tetangga sekitarnya hingga tetangga kecamatan, seperti Juwana dan Wedarijaksa. Sebagian besar karyawan berasal dari kalangan ibu-ibu.

Pesanan dari instansi pemerintahan dan swasta pun acapkali membeludak. Dengan ketekunan dan kesabaran, Yuli yang masih berusia 30 tahun ini menjadi pengusaha muda dengan omzet rata-rata Rp 200 juta setiap bulan.

 Editor : Kholistiono

Batik Bumi Saridin Khas Kayen Pati Bakal Dipatenkan

batik saridin (e)

Bupati Pati Haryanto menunjukkan Batik Bumi Saridin karya warga Kayen yang akan segera dipatenkan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pesona Batik Bumi Saridin khas Kecamatan Kayen ternyata tak hanya dikagumi di Pati sendiri, tetapi juga bersinar di luar daerah seperti Kudus. Sejumlah warga Kudus yang berbatasan dengan wilayah Pati selatan beberapa kali memesan batik tersebut untuk digunakan sebagai seragam.

Melihat potensi tersebut, Bupati Pati Haryanto mendorong warganya segera mematenkan Batik Bumi Saridin, sebagai karya emas warga Kayen. “Batik khas Kayen sudah mulai dilirik luar daerah. Motifnya bercerita tentang kisah Syeh Jangkung. Karena itu, kami meminta agar segera dipatenkan,” ujar Haryanto, Selasa (3/5/2016).

Haryanto mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan biaya yang diperlukan untuk mematenkan produk. Pasalnya, biaya mematenkan produk bisa dikatakan terjangkau. Terlebih, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sudah diminta untuk membantu warga yang ingin punya hak paten.

Selain itu, Haryanto juga akan membantu pemasaran Batik Bumi Saridin melalui Pasar Pragola. Pasar tersebut sejak awal didesain untuk menampung produk unggulan Pati yang menjadi “karya emas” warga Pati.

Dengan begitu, pembeli Batik Bumi Saridin juga bisa melakukan transaksi di Pasar Pragola. Sementara itu, perajin batik Batik Bumi Saridin cukup menyetok produknya di Pasar Pragola.

Saat ini, Batik Bumi Saridin seri kedua menghadirkan motif yang kaya akan perpaduan ikan lele, durian dan daun jati. Ketiga motif itu terinspirasi dari kisah Saridin, mulai dari daun jati sebagai kendaraan Saridin menuju Turki, ikan lele hasil sabda Saridin dari setiap air yang ada, hingga pohon durian milik Saridin.

Sebelumnya, Batik Bumi Saridin seri pertama menggunakan motif buah asem, jambu dan kelapa. Ketiga motif itu juga erat kaitannya dengan kisah Saridin. Salah satunya, ketika Saridin mengarungi samudera dengan dua buah kelapa.

Angin segar yang dihembuskan dari Haryanto membuat sejumlah perempuan UPK Syeh Jangkung bernapas lega. Sebab, mereka sudah mendapatkan pelatihan membatik sebelumnya dan siap untuk berkarya melalui batik-batik buatannya.

Camat Kayen, Jabir menyambut positif langkah Bupati Pati Haryanto yang peduli pada pemberdayaan masyarakat melalui potensi lokal. “Pelatihan membatik itu keterampilan. Dengan keterampilan itu, warga bisa bekerja dan berkarya sehingga menghasilkan pendapatan,” ungkap Jabir.

Jabir menilai, Batik Bumi Saridin punya prospek yang cukup bagus. Pasalnya, sosok Syeh Jangkung yang begitu legendaris menjadi dasar untuk membuat motif-motif batik khas Kayen.

Senada dengan itu, Ketua UPK Syeh Jangkung Sutono mengatakan, pelatihan membatik diharapkan bisa menggerakkan masyarakat untuk berinovasi membuat batik yang digali dari potensi yang ada di Kayen. “Pak Bupati berjanji akan memberlakukan Batik Bumi Saridin untuk seragam PNS di Kayen pada Jumat. Kami optimistis Batik Bumi Saridin bisa berkembang pesat,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Omzet Batik Kelapa Kopyor Buatan Warga Dukuhseti Pati Tembus Rp 7 Juta Per Bulan

Sejumlah pekerja tengah mencolet warna pada batik kelapa kopyor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pekerja tengah mencolet warna pada batik kelapa kopyor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Batik motif kelapa kopyor yang saat ini menjadi ikon Kecamatan Dukuhseti, Pati semakin diminati pasaran. Kendati baru dibuat pada awal Januari 2015, tetapi batik buatan Ida Qomariyah (46), warga Desa Kenanti, Kecamatan Dukuhseti ini sudah terjual 30 hingga 60 lembar batik setiap bulan.

Sementara itu, satu lembar batik dihargai mulai dari Rp 130 ribu hingga Rp 600 ribu. ”Yang memengaruhi mahal tidaknya batik tergantung pada jenis kain dan kerumitan motif, termasuk kualitas warna. Semakin rumit motifnya, semakin baik kualitas kain dan warnanya, maka makin mahal harganya,” kata Ida kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia belum bisa memastikan omzet yang diperoleh setiap bulannya. ”Ya, kalau rata-rata setiap bulan berhasil menjual 60 lembar dengan harga Rp 130 ribu per lembar, omzet bisa mencapai Rp 7,8 juta per bulan,” imbuhnya.

Belum lagi, kata dia, jika ada pesanan dari sebuah instansi dalam jumlah yang besar, penghasilan bisa berlipat ganda. Karena itu, selain memasarkan batik motif kelapa kopyor kepada tetangga dan melalui media sosial, ia rencananya akan menawarkan kepada sejumlah instansi.

Satu keunikan dan nilai lebih dari batik buatan Ida. Tak sekadar menawarkan motif kelapa kopyor, semua batik buatan Ida juga dibuat dengan cara tulis. Sehingga memberikan satu karya batik dengan nilai seni yang tinggi. (LISMANTO/TITIS W)

Tak Sengaja Buat Motif Kelapa Kopyor, Batik Warga Dukuhseti Ini Diminati Pasar Kanada

a menunjukkan batik motif kelapa kopyor khas Dukuhseti buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

a menunjukkan batik motif kelapa kopyor khas Dukuhseti buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ida Qomariyah, warga Desa Kenanti, Kecamatan Dukuhseti, Pati tak sengaja menciptakan batik dengan motif kelapa kopyor yang menjadi keunikan lokal khas Dukuhseti. Kendati begitu, batik motif khas kelapa kopyor buatan Ida diminati pasar di luar negeri, yakni Kanada, Amerika Utara.

Awalnya, Ida menjadi salah satu penitia dalam kegiatan pelatihan membatik di kampungnya pada 2014. Dalam kegiatan tersebut, minat warga sangat sedikit lantaran disibukkan banyak hal. Akibat minim peserta, Ida yang semula menjadi panitia akhirnya ikut menjadi peserta.

Pada awal 2015, ada lomba membuat motif batik pada telapak meja tingkat Kecamatan Dukuhseti. “Setelah mendapatkan bekal dari pelatihan, saya ikut lomba. Panitia lomba minta motif batik harus diambil dari sesuatu yang khas dari Dukuhseti. Akhirnya, saya iseng memilih motif kelapa kopyor,” tutur Ida kepada MuriaNewsCom, Sabtu (28/11/2015).

Dari lomba tersebut, Ida mencoba untuk memasarkan produk-produk batik motif kelapa kopyor pada teman-temannya. Dari Dukuhseti, peminatnya sampai pada sejumlah daerah di Indonesia.

“Pesanan dari teman-teman di Pati sendiri ada. Pesanan dari luar pulau juga ada. Terakhir, ada saudara yang bekerja di Kanada. Saya tawari, ternyata di sana banyak yang berminat. Mungkin ini rezeki saya agar menggeluti dunia batik,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Polemik Pengadaan Batik Bakaran Mulai Ada Titik Terang

Sejumlah perajin tengah membuat motif pada selembar kain batik tulis khas Desa Bakaran. (MuriaNewsCom/Lismanto

Sejumlah perajin tengah membuat motif pada selembar kain batik tulis khas Desa Bakaran. (MuriaNewsCom/Lismanto

 

PATI – Kendati proyek pengadaan batik Bakaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati kepada perajin Batik Bakaran sempat tersendat, tapi saat ini sudah mulai ada titik terang. Setidaknya 500 lembar kain batik yang dulunya sempat tersendat dan belum diambil pihak pemenang tender, saat ini sudah diselesaikan.

Bahkan, penyelesaian pembayaran 1.400 lembar kain batik juga ada kejelasan. “Saat ini, ada sekitar 4.000 lembar batik lagi yang akan kami buat untuk memenuhi pesanan batik dari Dinas Pendidikan. Rencananya, kami akan selesaikan hingga Desember 2015 mendatang,” ujar Bukhori, perajin batik Bakaran kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Ia mengatakan, pengadaan batik Bakaran saat ini ditangani sekitar sepuluh perajin yang tergabung dalam Asosiasi Batik Bakaran Canting Mas. Mereka tersebar di Desa Bakaran Wetan dan Kulon.

Dalam realisasinya, batik yang dipesan dari pemkab bermotif “Mina Tani” yang menggambarkan kondisi geografis, potensi dan budaya di Kabupaten Pati. Yakni, sebagai petani dan nelayan. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Perajin Batik Bakaran Pati Ketagihan Pesanan dari Pemerintah

Sejumlah perajin tengah membuat motif batik Bakaran, Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah perajin tengah membuat motif batik Bakaran, Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah perajin yang mendapatkan proyek pengadaan batik Bakaran untuk kalangan pegawai negeri sipil (PNS), terutama guru berharap agar tidak berhenti di tengah jalan. Karena, pembuatan batik tulis Bakaran membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Jika pesanan itu tidak diambil, mereka terancam gulung tikar karena modal yang ia gunakan untuk memproduksi batik habis. Hal ini dikeluhkan Bukhari, perajin Batik Bakaran bermerek “Canting Mas”.

“Kami benar-benar berharap, pengadaan batik Bakaran terus berlanjut dan pencairan anggaran lancar. Jangan sampai perajin sudah memproduksi batik, tetapi ada masalah di tengah jalan yang berpotensi merugikan perajin,” ujarnya.

Ia mengatakan, proyek pengadaan kain batik Bakaran dari pemerintah kabupaten (Pemkab) sempat tersendat beberapa waktu lalu. Akibatnya, batik yang sudah terlanjur dibuat menumpuk karena tak kunjung diambil pemenang tender. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Mengintip Pembuatan Batik di Desa Bakaran, Sentra Batik Terbesar di Pati

Seorang perajin di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana tengah membatik dengan cara tulis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang perajin di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana tengah membatik dengan cara tulis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jauh sebelum UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia untuk dunia, Desa Bakaran, Kecamatan Juwana, sudah lama menjadi sentra pembuatan batik terbesar di Kabupaten Pati.

Itu berlangsung sangat lama, dari generasi ke generasi. Konsepnya pun sama, yakni mempertahankan eksistensi batik dengan cara “tulis”.

”Kalau sudah berkunjung ke Desa Bakaran untuk berburu batik, tidak ada namanya batik cap atau printing. Semua batik bakaran dikerjakan secara teliti dan manual menggunakan tangan para perajin,” ujar Tini Bukhari, salah satu perajin batik bakaran yang dikenal dengan merek “Batik Tjokro”.

Masing-masing rumah, lanjutnya, biasanya memiliki sejumlah perajin yang memberdayakan kalangan ibu-ibu, bahkan nenek-nenek untuk terus berkarya dengan membatik.

”Di keluarga kami, membuat batik sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Saat ini, kami generasi kelima dari leluhur kami yang sudah lama membatik di Desa Bakaran,” imbuhnya.

Untuk membuat batik tulis, kata dia, sebetulnya mudah tapi dibutuhkan keahlian, ketelitian dan kesabaran. ”Pertama, buat pola batik. Selanjutnya, membatik pola pada kain, mewarnai, dan terakhir melorod atau memisahkan lilin dari kain,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Hai Barack Obama, Batik Bakaran Pati Menunggumu!

Seorang pembatik di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana tengah membatik. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Seorang pembatik di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana tengah membatik. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Mata dunia tertuju pada Indonesia saat bicara soal Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2015. Karena UNESCO sudah sejak tujuh tahun yang lalu menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi dari Indonesia untuk dunia.

Di Kabupaten Pati, bicara soal batik, mata kita tertuju pada sebuah desa di Kecamatan Juwana bernama “Bakaran”. Di sana, sentra batik tulis tradisional masih eksis dari zaman leluhur hingga sekarang dan terus berkembang.

Di tengah-tengah, kenaikan dolar Amerika terhadap rupiah sekalipun, batik bakaran tahan banting dan terus menjadi produk yang diminati pasar nasional. “Sampai sekarang, produksi masih normal, tidak ada kendala,” ujar Tini Bukhari, perajin batik bakaran berlabel “Tjokro” ini.

Sementara itu, Pujayanti, penggemar batik bakaran berharap agar Presiden Amerika Barack Obama yang sempat memakai batik bisa melirik batik khas Pati ini. “Obama sempat menjadi perhatian, saat mengenakan batik dalam acara East Asia Summit Indonesia 2011,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Jumat (2/10/2015).

Jika dilihat dari segi kualitas, kata dia, batik bakaran punya seni batik bernuansa tradisional yang tak kalah dengan batik-batik terbaik di Indonesia. “Itu benar-benar bagus dan menarik. Saya hanya mau bilang: Hai Barack Obama, batik bakaran is waiting you,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Betapa Hebatnya Kualitas Batik Asal Pati Ini

Seorang ibu tengah bekerja sebagai pembatik di rumah produksi batik bakaran. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Seorang ibu tengah bekerja sebagai pembatik di rumah produksi batik bakaran. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sejak ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia dari Indonesia, batik yang hampir punah ditelan peralihan zaman kembali meraih hati masyarakat. Batik yang semula dianggap kuno dan “ndeso”, kini dipakai hampir semua pejabat, pengusaha, artis, hingga tokoh internasional Nelson Mandela.

Salah satu sentra batik yang saat ini terus mengalami kegairahan pasar, di antaranya sentra batik di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana, Pati. Kampung ini dikenal sebagai penghasil batik tulis terbesar di Kabupaten Pati.

Satu-satunya keunikan dari batik bakaran, semua perajinnya hanya mengenal batik tulis sehingga benar-benar mempertahankan kemewahan lokal. “Tidak ada perajin batik di Desa Bakaran yang membatik dengan cara printing atau cap. Semuanya dikerjakan dengan sistem tulis atau lukis secara manual,” ujar pembatik Bakaran Bu Tini kepada MuriaNewsCom, Selasa (25/8/2015).

Keunikan itulah yang membuat batik bakaran selalu mendapatkan ruang di hati pembelinya. Yang lebih menarik, perajin batik biasanya diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kalau pak Tjokro itu generasi kelima dari pembuat batik bakaran bermerek Tjokro. Ilmu membatik dari warisan lelulur itulah yang menjadi nilai tersendiri bagi produk batik di Desa Bakaran,” tuturnya.

Di Desa Bakaran sendiri, ada puluhan pembatik yang dikerjakan di rumah masing-masing. Semua dikerjakan secara manual dengan mengedepankan tradisi. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Perajin Batik Bakaran Pati Tetap Oke Meski Rupiah Melemah

Sejumlah perajin batik bakaran tengah beraktivitas, Selasa (25/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO

Sejumlah perajin batik bakaran tengah beraktivitas, Selasa (25/8/2015). (MuriaNewsCom/LISMANTO

 

PATI – Mata uang rupiah semakin melemah hingga pada puncaknya sampai Rp 14 ribu per dolar Amerika. Hal ini menyebabkan kepanikan yang luar biasa bagi masyarakat.

Nama Presiden Jokowi pun acapkali dicatut dan dituduh sebagai biang di balik menguatnya dolar Amerika atas rupiah hingga tembus Rp 14 ribu. Kendati begitu, melemahnya rupiah tak memengaruhi produksi batik tulis di kawasan Desa Bakaran, Kecamatan Juwana, Pati.

Bu Tini, misalnya. Perajin batik bakaran yang dikenal dengan “Batik Tjokro” ini mengaku produksi batik setiap harinya masih normal, lantaran pemesan juga masih seperti biasanya.

“Setiap hari, produksinya antara 30 lembar hingga 50 lembar. Paling sedikit itu 30 lembar. Semua batik bakaran itu dikerjakan dengan cara tulis,” ujarnya saat ditemui MuriaNewsCom di tempat pembuatan batik, Selasa (25/8/2015).

Meski demikian, ia berharap agar rupiah kembali menguat. Dengan begitu, ia tidak lagi khawatir dengan adanya kemungkinan buruk yang sampai pada mengancam eksistensi parajin batik lokal. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kecamatan Kayen Rintis Batik Bumi Saridin

Bupati Pati Haryanto mencoba melihat Batik Bumi Saridin, Selasa (26/5/2015). Saat ini, pemerintah Kecamatan Kayen tengah merintis Batik Bumi Saridin. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Pemerintah Kecamatan Kayen saat ini merintis batik lokal khas Kayen yang akan diberi nama “Batik Bumi Saridin”. Hal tersebut diharapkan bisa mengangkat perekonomian warga setempat melalui kearifan lokal yang dimiliki.

Lanjutkan membaca